MBA-ITB Business Review, edisi Juli 2006
Candle Light
Mediator Yang Cerdik Nan Bijaksana
Gegap gempita Piala Dunia masih membahana ketika tulisan ini dibuat. Negara-negara yang meletakkan sepakbola sebagai ’agama’nya seperti Brazil, Inggris, Argentina, dan Italia masih tetap tak tergoyahkan. Di antara gajah-gajah sepakbola itu, terseliplah semut kecil bernama Trinidad & Tobago. Tidak banyak orang mengenal negara ini kecuali strickernya yang bernama Paulo Wanchop. Dari sebuah negara kelas semut tersebut, Dorson (1975) mengutip hikayat rakyat yang sangat populer, yang saya terjemahkan seperti di bawah ini.
Di sebuah kampung, hiduplah seorang laki-laki yang amat miskin bersama istrinya yang mandul dan ibunya yang sudah tua renta dan buta. Hidup mereka sehari-hari sungguh amat sengsara. Begitu sengsara dan tiada berdayanya mereka, sehingga yang dapat dilakukan hanyalah berdo’a dan berdo’a. Setiap hari laki-laki tersebut bangun pagi-pagi sekali dan pergi ke kuil untuk berdoa agar Tuhan membebaskan mereka dari kesengsaraan itu. Setelah 12 tahun tak kenal lelah selalu memohon kepada-Nya, suatu hari dia mendengar suara gaib dari langit .
” Wahai laki-laki yang saleh, mintalah satu saja apa yang kamu inginkan, niscaya Aku kabulkan?”
“Emm…mmm saya…..saya tidak tahu apa yang harus saya minta”, kata laki-laki itu dengan gagap saking terkejutnya. “ Saya sungguh tidak menduga akan ditanya seperti ini. Bolehkah saya pulang ke rumah sebentar dan bertanya kepada ibu dan istriku ?”
Setelah diijinkan pulang, serta merta larilah lelaki tua itu ke rumah. Yang pertama kali ditemui adalah ibunya. Kepada ibu yang dikasihinya itu, laki-laki tadi menceritakan ihwal janji Tuhan.
“ Anakku, jika kamu minta kepada Tuhan untuk mengembalikan penglihatanku, maka kamu tidak pernah lagi berhutang apapun juga padaku “ kata ibunya penuh harap.
Kemudian laki-laki itu menemui istrinya dan menceritakan janji Tuhan tersebut.
“ Lupakan ibumu, dia sudah tua. Dia akan segera meninggal. Mintalah seorang putra yang akan memelihara kita dan mungkin membawa kesejahteraan bagi kita semua.” Kata istrinya.
Ibu laki-laki tersebut begitu mendengar permintaan menantunya menjadi sangat marah. Dengan serta merta diambilnya sebatang rotan untuk memukul menantunya yang durhaka tersebut.
” Tidak, yang dikabulkan haruslah pandangan mataku !” sergah sang ibu dengan amarah yang meluap.
Sang istri menoleh. Sambil berusaha menangkis pukulan rotan itu, disambarnya rambut sang ibu mertuanya. Dan terjadilah pergulatan yang seru.
Laki-laki itu bingung sejenak dan larilah dia dari rumah tersebut untuk menemui seorang penasihat yang bijak. Penasihat tersebut telah menengahi banyak konflik di desa itu. Di hadapan penasihat tersebut diceritakanlah dilema yang dihadapinya:
“ Ibuku menginginkan penglihatannya kembali, istriku menginginkan anak, dan saya ingin sedikit uang sehingga kami dapat makan setiap hari. Apa yang seharusnya aku pinta ? kebutuhan siapa yang harus dipenuhi pertama kali ?”
Sang penasihat berfikir beberapa saat, kemudian menjawab :
” Ah, temanku, kamu tidak usah memilih salah satu di antara ketiga alternatif tersebut. Ketiga alternatif tersebut hanya berdiri sendiri. Pilihlah alternatif yang bagus, yang bisa memenuhi kebutuhan kalian bertiga. Walaupun hanya satu permintaan yang boleh diajukan kepada Tuhan, mintalah dengan bijak. Besok pagi kamu harus berkata: Ya Tuhan, saya tidak minta apa-apa untuk diriku sendiri, tidak pula untuk istriku sendiri tetapi untuk ibuku yang sudah tua dan buta. Satu keinginannya adalah bahwa sebelum meninggal, beliau ingin melihat cucunya makan dan minum susu serta nasi dari sebuah mangkuk emas !”.
Pada saat ini banyak di antara kita yang masih memerankan diri sebagai istri yang mandul, ibu yang buta dan si tua yang miskin seperti dalam cerita tersebut di atas. Sibuk dengan diri dan keinginan masing-masing. Sungguh rindu kita akan hadirnya mediator yang cerdas dan bijaksana. Lalu siapakah yang harus menjadi mediator? Mestinya anda sekalian, pembaca MBA-ITB Business Review yang dikaruniai modal sedikit lebih banyak dibandingkan kebanyakan masyarakat Indonesia lainnya.
Dermawan Wibisono