Yang membuat Sekolah di Inggris Menyenangkan
1. Minat Baca
Salah satu keungulan metode pendidikan di Negara Barat, UK, khususnya yang saya lihat, adalah dalam hal menumbuhkan minat baca sejak dini. Setiap hari
anak-anak SD diminta membawa ‘Story Bag’, tas sekolah yang tipis – hanya
muat untuk satu dua buku saja, yang biasanya seragam warnanya untuk
masing-masing sekolah. Story bag ini akan diisi buku-buku cerita yang dapat
dibawa pulang ke rumah. Anak disarankan membaca cerita itu di rumah, yang
keesokan harinya (atau dua-tiga hari kemudian) mendapat giliran
membacakannya di depan kelas dan si anak akan ditanya juga tentang
karakter-karakter dalam cerita itu. Tiga sasaran sekaligus tercapai.
Pertama, si anak – yang memang dalam usia gemar pada cerita-cerita,
terpuaskan keingintahuannya. Kedua, skill reading dan komprehension mereka
terlatih. Ketiga, membantu meringankan ortu, karena harga buku tersebut
kalau harus membeli sendiri dan hampir dua hari sekali diganti dapat membuat
ortu kolaps keuangannya. Tampaknya ini berbeda dengan di kita, di mana sejak
SD sampai SMA diceritain kalau datuk Maringgih itu jahat sekali karena
memisahkan Siti Nurbaya dari Letnan Mas, sehingga….letnan Mas nggak pernah
naik pangkat jadi mayor apalagi jenderal….eh …enggak ding. Maksudnya,
kita didongengin kisah Siti Nurbaya tanpa sekalipun membaca dari buku
aslinya…..Memang sering ada perpustakaan sekolah, tetapi biasanya anak malah agak takut pinjam, karena ditakut-takuti: kalau robek harus ganti, kalau hilang
nanti orang tuamu dipanggil kesini, …bapakmu disuruh ngadep sama Bu
Guru…yang paling cantiiik….biar ikutan ndredeg!
Di samping story bag ini, juga ada game bag, yang kadang diberikan seminggu sekali. Game bag ini berisi alat peraga – biasanya permainan sederhana, di mana ortu harus mengajari anak sehingga ortu terlibat juga dalam pemahaman
materi sekolah.
2. Kreativitas
Pelajaran prakarya di Indonesia, yang saya rasakan dulu, biasanya merupakan mata pelajaran yang kurang populer dan menyebalkan. Tapi saya lihat di UK, mereka begitu menikmati hal tersebut. Tampaknya mereka menekankan pada kreativitas, orisinalitas dan kegembiraan dalam proses penciptaannya. Jadi
kalau dulu, sewaktu pak guru mengajar prakarya, satu bikin tempat telor,
semua bikin tempat telor. Satu bikin dari tanah liat semua juga begitu. Dan
rata-rata akan ‘menuruti pakem’ yang sudah digariskan, karena penekannya
pada ‘hasil’. Takut dapat nilai jeblog. Mungkin ini perlu diubah, sehingga
sekolah tidak lagi melahirkan robot-robot. Kreativitas memang awalnya
rumusan dari 3N – Niteni, Nirokke dan Nambahi (memperhatikan, meniru dan
menambahi). Tampaknya di kita banyak yang berhenti pada N yang kedua saja.
3. Rumitisasi.
Yang saya pahami, orang bersekolah tinggi-tinggi adalah salah satunya agar
dapat memberikan pemahaman kepada orang lain suatu masalah yang rumit dengan bahasa yang mudah dipahami. Yang saya amati, kecenderungan itu jadi
terbalik. Kebanyakan orang malah membuat masalah yang sederhana tampak jadi
rumit dan sophisticated. Di antaranya dengan meciptakan istilah-istilah yang
membuat orang jadi ‘terperangah’ semacam quantum leap, metal aritmatika,
parent group association…..ya bagus-bagus saja sih, cuman…ya gimana
gitulah…maaf ya nggak nyindir lho.
thanks for sharing pak…rather surprise…karena ternyata sekolah anak saya sedikit banyak ngadopt sekolah-sekolah di Inggris ya….metodanya hampir mirip…saya setuju sekali kalo anak sejak kecil sangat dilatih kreatifitas dan leadership…(preschool) dan ternyata proses perkembangannya lebih banyak/lebih bagus dari yang saya bayangkan….dengan metoda penilaian *tepatnya pengamatan* yang unik per anak, ga disama-samain setiap anak…tidak result oriented…
Wah selamat ticho kalau anaknya dapat sekolah yang seperti itu. Banyak yang berusaha mengadop hal-hal yang baik, yang celakanya banyak pula yang kebablasan (hanya diadop kebebasan individu tanpa batas dan tata kramanya dan SPP nya saja yang dimahalin…padahal di LN, anak sekolah gratis)
iya pak…sekolah global skrg banyak banget…kalo para ortu cuma ingin prestige doang…ga punya visi dan misi yang jelas utk sekolah (baik dunia dan akhirat), spp nya mahalnya minta ampun..tp pas diliat guru2 nya ga konsisten untuk membimbing anak menjadi dirinya sendiri tanpa kebablasan tadi…ada juga kmdn yang ternyata ga ngerti psikologi perkembangan anak, sehingga mungkin si guru pinter luar biasa tp pendekatan ke anak2 usia dini sangat kurang (jd nya ngajarinnya akademis banget, ga fun dan ga active learning)..yang ada si anak malah jadi mogok sekolah karena stress dan tertekan..anak saya sekolah di bandung lo pak…nama sekolahnya cendekia leadership school, btw anak-anak pak Der sekolah dimana?
Anak saya sekolah yang biasa-biasa saja, ada yang di negeri ada yang di swasta (agama, tapi bukan boarding). Saya menekankan pada anak kalau sekolah di TK, SD, SMP, yang penting enjoy, berprestasi karena keinginan sendiri, dan terbentuk karakternya, serta tidak terlalu ngoyo dan ngongso. Jadi pilih yang deket-deket rumah saja.