Inferior Complex, Bagaimana Mengatasinya?
Alhamdulillah saya berkesempatan tinggal di Australia selama 3.5 tahun dan tinggal di Inggris 3.5 tahun juga. Ada banyak berkah dan manfaat yang saya dan keluarga petik selama tinggal di negeri seberang itu. Namun ternyata tanpa kami sadari ada efek negatif yang terjadi pada anak-anak saya. Karena cukup lama (7 tahun) tidak bersosialisasi dengan handai taulan seerat di Indonesia, di mana praktis di sana tidak ada eyang, pak de-bu de, om-tante, sepupu, dan anak-anak tetangga yang ikut memberi warna bagi tumbuhnya anak-anak kami di bawah usia 10 tahun seperti yang biasa terjadi pada keluarga di Indonesia, jadi mereka hanya biasa dengan kami berdua saja, bapak ibunya dan terbiasa dengan interaksi yang terbatas waktu dan keterlibatan emosinya dengan lingkungan sekolah, akibatnya sekembali ke Indonesia anak kami mengalami kesulitan bergaul dalam beberapa waktu. Menangis karena tidak bisa bahasa Indonesia, apalagi bahasa Sunda itu sudah sangat biasa dan berlangsung cukup lama, hampir satu tahun. Tidak berani tampil ke depan, tidak berani kontak dengan orang yang tak dikenal (misalnya belanja ke toko sebelah) – karena memang di sana sama sekali tidak diperbolehkan seorang anak kontak dengan orang tak dikenal, merupakan kendala yang kami hadapi.
Apa akal?
Cukup lama kami mencoba mencari cara, dibilangin sudah terlalu sering, diomelin malah bikin suasana tambah runyam, dikasih insentif uang, takut menjerumuskan mereka menjadi orang yang berjiwa transaksional. Tak terduga sebuah event datang: Lomba memasak keluarga.
Sebuah stasiun radio dengan disponsori produsen chicken nuggets mengadakan lomba masak dengan bintang tamu penyanyi Intan Nur Aini dan pemain sinetron Glen Alynski di Ciwalk – Bandung. Sejatinya saya tidak bisa masak, hanya tukang makan saja. Tapi saat pramuka di SD Inpres dulu rasanya kalo cuma bikin Nasi Goreng Kampung yang merah dan pedes, Mie Rebus Jawa yang kuahnya nyemek, oseng-oseng kacang panjang, tempe goreng, sayur asem, nyeplok telor, goreng ayam, bikin bacem kok ya bisalah, walaupun rasa tidak dijamin, yang penting kenyang. Celakanya yang dilombakan adalah memasak Chicken Nuggets yang saya memakanyapun tidak suka. Tapi ya demi mendidik anak, istri saya mengirim resep ke stasiun radio dengan semangat 45 diiringi lagu “Maju Tak Gentar” dan “Hallo-halo Bandung” sekaligus dengan hitungan 3/4 jatuh pada ketukan ke 4, dan alhamdulillah keluarga kami terpilih di antara 15 finalis dari lebih 100 resep yang masuk dan harus praktek masak beneran selama 30 menit di depan umum, ya di Ciwalk itu.
Setelah di komandoi oleh penyiar radio yang sedikit bencong itu (kenapa ya untuk acara gini mesti selalu ada bencongnya?) dan menyanyikan yel-yel yang kami karang seminggu suntuk dengan koreografinya segala, kami show off bersaing dengan orang-orang yang punya restoran, para koki hotel dan sebagainya.
Alhamdulillahnya kami dapat juara 3 dari 15 kontestan tersebut dan membawa pulang sebuah mesin cuci berkapasitas 7.5 kg. Bukan mesin cucinya itu yang penting, justru anak-anak saya jadi tergugah untuk mulai tampil ke depan.
Tiga bulan kemudian, kami ikut lagi lomba masak di Gasibu, di lapangan depan Gedung Sate itu, dan kali ini, kami juara 1 dan dapat hadiah uang tunai. Walaupun setelah lomba istri saya terkena demam berdarah dan typhus, yang tampaknya digigit nyamuk di Gasibu itu, walhasil uang hadiah lomba malah tekor buat opname selama 5 hari di RS Borromeus. Tampaknya memang banyak ujian mengemban amanah, mendidik empat anak yang ditititipkan olehNya kepada kami itu.
Sejak saat itu, ada perubahan besar pada diri anak-anak saya, mereka tidak lagi menderita inferior complex , rasa rendah diri yang sering tidak ketahuan dari mana ujung pangkalnya itu, dan mulai berani unjuk kebolehan: di antaranya menyabet jura 2 English Story Telling di saat SD dan juara 3 Englis Story Telling sekodya Bandung saat SMP, serta ikut lomba cepat-tepat, pesantren kilat, hafalan asmaul husna, hafalan juz amma.
Buat saya, bukan kemenangan yang menjadi fokus saat mereka ikut lomba. Kalah – menang, buat saya biasa. Yang saya pentingkan adalah mereka melakukan segala aktivitas dengan happy , berkompetisi dengan jujur, semangat perbaikan diri – bukan rivalitas dengan pesaing dan ada ‘api’ di hati mereka untuk to be fair competing and showing their competence. Hanya untuk melatih keberanian dan rasa percaya diri saja sih. Karena suatu saat toh mereka harus hidup mandiri, tak ada lagi orang tua di sisinya yang akan selalu menyuapinya.
Waktu saya tanya, apa yang membuat mereka begitu cepat berubah?
Jawab mereka: Bapaknya yang dosen di ITB saja nggak malu ikut lomba masak di depan umum, yang mungkin bagi banyak orang adalah lomba yang sangat nggak mutu dan kalah gengsi dari lomba robotik atau presentasi paper internasional.
Ini foto lombanya.


Ass Wr Wb
Sy sangat tertarik dgn interaksi kel jenengan
Mohon maaf sebelumnya, sy punya problem di skl, sy punya murid smp dulu waktu kls 7 walasnya steng kmdn kls 8 walasnya sangat tdk memperhatikan, kmdn skrg kls 9 walasnya sy.
Yg sy lihat skrg anak lk2x nya byk berbuat masalah seperti byk tdk mengerjakan tugas, sukanya keluar ke kmr mandi padahal tdk kencing, ngomongnya menyakitkan, bolos bergantian, terlambat naik pagar dll byk skl sederetan pelanggarannya.Mohon solusi/kiatnya.
Trima kasih bantuannya.
Wss Wr Wb