(4) Manusia Mubah
Saat sebelum berangkat, rata-rata jamaah diperingatkan dan setengah ditakut-takuti oleh cerita dari buku maupun orang yang telah berangkat lebih dahulu, bahwa di tanah suci semua orang akan ‘diwelehkan’ …. bahasa indonesianya di’welehna‘ ki apa ta? bahwa yang biasa bertengkar akan bertengkar di sana, yang biasa thengil akan dithengili orang, yang biasa marah akan dimarahi orang, yang biasa pelit biasanya akan kehilangan barang di sana, yang biasanya sombong akan banyak mendapat ujian dan kecelakaan di sana. Tampaknya sebagian hal di atas berupa mitos saja, kecuali yang tentang kesombongan.
Menurutku, karena di sana panas begitu teriknya, dingin begitu menggigitnya, semua harus antri dan berdesak-desakkan, makan seadanya, dan ritual benar-benar menguras fisik dan mental (bagi yang haji plus tentunya…maksudnya haji plus….jalan kaki jauh dari penginapan, plus haus dan lapar, plus untel-untelan di penginapan, dsb) maka sudah galibnya orang itu akan keluar sifat aslinya. Coba check ke para pendaki gunung: kalau naik gunung bareng teman-teman, pasti akan keluar sifat asli anggota tim pendaki gunung itu yang egois, individualis, galak, nylekit, mau menang sendiri, atau penolong, perayu, oportunis, melankolis.
Nah sebelum semua sifat asli tersebut keluar dalam ritual 40 hari haji itu, di Padang Arafah inilah semuanya terkubur dalam kepasrahan yang dalam.Sejak sebelum dzuhur sampai dengan maghrib, semuanya tafakur, khusyuk dalam dzikir bersimbah airmata. Karena hakekat haji adalah di Padang Arafah ini. Semua ritual bisa dijalani, tetapi terlambat masuk ke Padang Arafah (misal masuk di Padang Arafah setelah Dzuhur)
maka batal lah hajinya itu dan percumalah semua rangkaian ibadah.
Jadi di Padang Arafah ini, semuanya tercampur antara haru, pasrah, exited, bahagia dan penuh harapan. Harapan akan terkabul seluruh do’a dan dimaafkan seluruh dosanya. Dalam dzikir yang diselingi kutbah singkat, kita tata kembali posisi diri dan kehidupan di masa depan yang membentang jauh sampai ke akhirat. Pak Ustadz bilang bahwa pada dasarnya ibadah kita sangat-sangat tidak cukup untuk mengantar kita masuk syurga bagaimanapun kita khusyuknya sholat wajib dan sunah. Timbangan masih tekor banyak jika kita masih fokus kepada diri kita sendiri saja, sibuk dengan perasaan dan keinginan kita yang belum terpenuhi, sibuk menyalahkan orang lain dan membenarkan diri sendiri, sibuk merasakan diri kita sebagai korban, belum memberikan manfaat bagi komunitas kita, dan tidak berkontribusi apa-apa bagi kebaikan seluruh alam. Belum menjadi rahmatan lil alamin…..maka kita masih menjadi makhluk sia-sia.
Dan aku tersentak, ingat obrolan Emha yang mengklasifikasikan manusia atas manusia wajib, mubah dan haram.
Wajib jika kehadiran kita diingini, dikangeni, diharapkan oleh komunitas dan teman-teman kita.
Mubah jika kehadiran kita tidak memberikan arti apa-apa, ada atau nggak ada, tidak ada pengaruhnya.
Dan haram jika kehadiran kita tidak diinginkan, dibenci, tak termaafkan bahkan dihindari oleh orang-orang di sekitar kita, anak buah kita, sahabat-sahabat kita dan orang-orang yang kita sayangi….Paling tidak mereka akan tersenym manis dan basa-basi menyapa kita dan saat kita berlalu, mereka akan mencibir, menggibah dan merasakan kemerdekaan tiada tara melebihi saat proklamasi 1945.
Perlahan aku buka catatan yang terselip di sabuk putih, titipan do’a dari keluarga dan teman-teman: Dendy, Arttini, Didit, Setiyadi, Umi, Army, Bhanu, Pak Herry, Pak Deddy, Pak Reza, Pak Gatot dan semua teman yang aku minta maaf dan mohon pamit itu. Karena di Padang Arafah ini, langit dibuka oleh sang Khalik untuk membiarkan malaikat turun ke bumi menjemput do’a-do’a yang dipanjatkan 4 juta umat di padang pasir nan gersang yang sesekali ditimpali semeribit angin dari pohon-pohon Soekarno. Pohon yang ditanam atas usul dan sumbangan Presiden Soekarno 40 tahun yang lalu….
Aku berdo’a khusus pula: semoga bisa menjadi orang yang lebih bermakna, dan jika kehadiranku ini hanya menyusahkan dan menambah luka saja… hapuskanlah aku dari memori dan rasa sayangmu itu. Namun jika Allah menunjukkan kebesaran-Nya dengan membukakan pintu maaf di hatimu, terimalah itu sebagai rahmat terbesar dan jangan engkau pungkiri dan tutupi dengan egomu lagi. Kita jalani garis batu takdir yang telah tertulis di langit lazuardi itu. Semuanya telah menjadi ketetapan-Nya. Mungkin kita protes bahwa kita tak mendapatkan apa yang kita mau, tapi itu pasti yang terbaik bagi kita semua. Masa depan ini tidak bisa kita lalui dengan bingkai masa lalu….Maafkan kesalahanku, kebodohanku, ketidakmengertianku, keterbatasanku, kerendahdirianku, kekonyolanku, kenaifanku, kenorakanku, keluguanku, keraguanku, kenakalanku. …dan dosa-dosaku. Aku takut menjadi manusia mubah.
(Bersambung)