(5) Mudzdalifah
Setelah semua do’a habis dipanjatkan dan diulang-ulang beribu kali di Padang Arafah, yang kadang-kadang aku berfikir: bukankah Allah itu maha pandai, jangan-jangan saat aku mengulang doa-doaku, Dzat yang Maha Tinggi membatin: tadi do’a itu kan sudah kamu panjatkan wahai haji minimalis.. .yang kreatif dong, diulang-ulang saja, kalimat yang itu-itu saja. Aku kan dah dengar, wah payah kamu, bacaan kok nggak mundhak-mundhak dari dulu to Mr. Qulhu……. Lha wong kamu nggak bilang aja Aku sudah tahu isi hati dan fikiranmu kok, eee…ini ngulang-ngulangnya monoton lagi…bosan dong. Sana belajar lagi yang khusyuk, belajar ngaji yang bener tartil dan tajwidnya, pakai lagu-lagu yang bagus gitu lho..waaahh ngisin-isini tenan kamu itu. Ngisin-isinke guru agamamu di SD Inpres sana. Ah….ya, sejatinya aku memang malu, malu sekali dengan keterbatasan pengetahuan dan kemampuanku ini.
Maghrib menjelang, kami sholat jamak. Bis menjemput dan kami antri dalam antrian yang panjang. Saat antrian panjang terjadi, persis di depanku antrian dipecah jadi dua sehingga aku menjadi yang terdepan di antrian baru dan langsung menuju bis.
Saking bungahnya dan memang sedikit ugal-ugalan, dengan jumawa kita ngeledek teman yang semula persis di depanku tapi jadinya dapat bis belakagan:”… he…he.. . kita duluan ya, sorry nih rejeki tak lari kemana. Emang sih semua tergantung amalnya.” “Awas ya…” sahut teman itu dengan cemburu dan jengkel.
Bis kami melaju dengan kecepatan tinggi menuju Padang Mudzdalifah. Sebuah area padang pasir yang luas, tempat jamaah harus menginap semalam beratap langit
dengan temaram sinar bintang di langit.
Apa yang terjadi?
Bis kami salah mengambil jalur, sehingga berputar kembali ke arah Padang Arafah, jalanan macet total. Dan kami tiba di Padang Mudzdalifah sebagai kontingen terakhir. Astaghfirullah al ‘azim. Kami istighfar, telah berlaku sombong dan melecehkan yang lain.
Balasan tidak menunggu di akhirat kelak. Langsung kontan saat itu juga harus dibayar lunas.
Aku lemas. Pukul 00.00 baru tiba di Padang Mudzdalifah, saat semua orang sudah menghamparkan tikar-tikarnya dan sebagian lain sudah mendengkur.
Pesan teman yang tahun lalu pergi haji bahwa di Mudzdalifah hampir mustahil dapat tidur. Apalagi sekarang musim dingin, suhu kira-kira 5-10 derajad celcius. Kita tidak boleh pakai kaos kaki, selimut, dan penutup kepala. Hanya mengenakan dua lembar kain putih, itupun di dalamnya tak mengenakan apa-apa. Jika kamu tidak menggigil, itu adalah sebuah keajaiban. Ustadz pun berpesan: lepas bagian atas ihram dan gunakan sebagai selimut yang menutupi dari kaki sampai leher. Jangan menutup kepala agar tidak membayar denda. Kedua pesan itu tak lagi dapat kudengar dan kuingat serta tak berlaku buatku. Aku terkapar dalam kelelahan yang amat sangat dan tertidur amat sangat nyenyak. Bahkan suara teman-teman yang bangun pukul 2 dinihari untuk mengambil wudhu dan sholat tahajud tak aku dengar.
Inikah keajaiban?
Wallahu’alam. Yang aku rasakan inilah hukuman bagi kami yang mengejek orang
lain. Untungkah aku dengan tidur nyenyak sementara berjuta orang lain tak dapat tidur? Wallahu alam. Yang jelas aku tak sempat sholat tahajud ketika serta merta kudengar suara hiruk pikuk orang berteriak bercampur dengan derum bis.
“Bangun-bangun, bis terakhir segera berangkat menuju Minna…!”
Aku tergeragap, mengemasi ransel dan alas tidur berlari ke bis dan menjadi orang terakhir yang terangkut ke Minna.
Perjalanan masih panjang, jagalah lidah, perkataan danperbuatan selama di tanah suci.