The Wrong Man in The Nice Place
D. Wibisono
Sejak Dede Jusuf dan Rano Karno sukses menjadi wakil Gubernur Jabar dan Wakil Walikota Tangerang, terjadi eforia di kalangan artis untuk menjadi eksekutif. Tak kurang dari pedangdut Syaiful Jamil, Dewi Persik, Ayu Soraya, juri talkshow dan pemrakarsa Kuis Helmy Yahya, Pemain sinetron Primus Yustisio dan mungkin akan segera disusul dengan deretan artis lain beramai-ramai mencalonkan diri menjadi walikota, bupati, atau gubernur. Walaupun mayoritas masih malu-malu kucing dengan ‘hanya’ menjadi wakilnya.
Fenomena di atas adalah untuk kesekian kalinya, masyarakat Indonesia, termasuk saya, melepas tanggung jawab dan menjerumuskan negara Indonesia ke jurang yang lebih dalam lagi setelah sebelumnya menjebloskan Indonesia ditangani oleh orang-orang yang juga tidak berkompeten selama 32 tahun plus 10 tahun terakhir.
Dulu artis beramai-ramai menjadi vote getter dan kalau beruntung akan menjadi anggota legislatif dengan dalih akan ikut menangani perbaikan sosial budaya: ada Rhoma Irama, Nurul Arifin, (alm) Edy Sud, pelawak Komar, Aji Masaid dan banyak lagi dan toh kondisi sosial budaya kita tak pernah beranjak maju juga, walau saat itu orang merasa menaruh sebuah sektor pada ‘ahlinya’.
Di kalangan profesional pun terjadi alih profesi yang saling silang sengkarut. Para alumni sipil yang piawai lebih suka menjadi ahli perbankan dan politikus, jagoan elektro lebih tertarik menjadi pialang saham dan bermain di perusahaan sekuritas, dokter lebih tertarik menjadi artis dan penyanyi.
Terlepas dari bahwa pilihan profesi dan mengejar rejeki adalah hak azasi individu, kita tampaknya telah menyalahi aturan umum manajemen yang telah sama-sama dipercayai kebenarannya: Put the Right Man in the Right Place on the right Time. Alih-alih kita menerapkan jargon itu, saat ini kita sedang melaksanakan pendekatan put the wrong man in the (ir) ‘own nice place. Jadi ingat sebuah hadits yang kurang lebih menyatakan: Jika segala urusan tidak diserahkan kepada ahlinya, tunggulah kehancurannya…
Oooo…..Kita sedang berjudi untuk masa depan anak cucu kita sendiri.