(8) Lampung Membawa Berkah
Saat di Madinah selama 8 hari, di mana sebagian besar jamaah haji Indonesia mengejar Arba’in, sholat berjamah 5 waktu tanpa putus di Masjid Nabawi Madinah selama 8 hari berturut-turut sehingga genap 40 waktu sholat, merupakan saat yang sedikit lebih rileks dan enjoyble. Selain kota Madinah yang lebih tertata, bersih, teratur, dibandingkan dengan kota Mekah, iklim saat itu juga sangat mendukung, Madinah lebih sejuk dengan penduduk yang tampaknya lebih berpendidikan dan ‘tidak tampak sangar dan garang’.
Mesjid Nabawi yang indah dikelilingi hotel berbintang dengan supermarket, toko, dan mall yang lebih wah dengan kualitas barang yang lebih bagus serta harga yang bersaing dengan harga barang di pasar traditional Mekah, Pasar Seng yang legendaris, yang saat tulisan ini dibuat, kabarnya sudah digusur dan tinggal kenangan.
Empat barang yang dijajakan sambil berbisik-bisik adalah: kadal Mesir, batu hajar jahanam, tongkat Ali dan Madu Yaman, yang keempat-empatnya dijadikan simbol kejantanan ‘kelas’ Arab.
Satu yang mengagetkan adalah ada sahabat yang berpesan bahwa, walaupun kita lelaki, kita tetap wajib berhati-hati untuk jalan seorang diri di tengah kerumunan orang Arab. Karena, demikian pesannya, lelaki Arab bukan saja suka dengan wanita non Arab tetapi juga suka dengan lelaki non Arab (walaupun tentu ini mestinya hanyalah oknum). Ini tampaknya kenapa dulu Allah pernah menghancurkan kota dalam kisah Sodom & Gomoroh, di jaman Nabi Yusuf dulu. Karena begitu banyaknya perilaku sexual menyimpang saat itu. Homo bertebaran di segenap penjuru kota di jaman itu. Jadi lebih baik jaga jarak, sisakan space saat kita tawar menawar atau sedang melihat barang dengan para penjual Arab itu. Karena seringkali, bukan hanya rangkulan yang begitu erat, menjepit leher, tarikan tangan setengah memaksa dengan pipi dilekatkan ke pipi kita dalam waktu lama dan tekanan yang intens (dari samping, bukan dari depan berhadapan seperti saat penerimaan tamu dari negara Arab itu lho) akan menjadi ucapan selamat datang yang mungkin biasa bagi mereka, tapi sungguh risi buat orang seperti saya ini yang tidak terbiasa dengan ritual semacam itu.
Di jeda waktu antar sholat Subuh ke Dzuhur atau Dzuhur ke Ashar, mayoritas jamaah Indonesia biasanya sight seeing ke berbagai mall tersebut. Ada yang betul-betul memborong barang, terutama emas Arab yang kadar kemurniannya 24 karat, ada yang sekedar jalan-jalan, seperti saya ini, yang bersyukur bahwa emas dan sutera diharamkan dalam Islam bagi laki-laki sehingga saya terhibur, karena memang tidak cukup punya uang untuk membeli kedua barang itu. Emas Arab dan sutera Thailand menjadi komoditi primadona para jamaah, terutama dari Indonesia.
Saya sedang mengamati sebuah miniatur pohon kurma berlapis emas yang tingginya tidak lebih dari 30 cm dengan bola-bola kristal sebagai hiasan buahnya, alangkah cantik dan luksnya hiasan itu, ketika seorang ibu,jamaah dari Lampung-Indonesia (terbaca dari badge di jasnya) sendirian, tampaknya kebingungan akan membayar emas yang akan diborongnya, padahal sang penjual tidak mau pakai credit card.
“Ibu mau cari ATM?” tanya saya, mengerti benar bahwa perempuan sebaiknya tidak pergi sendirian apalagi ke ATM dan sebangsanya di Arab ini.
“Ya, Bapak juga mau ke sana?” tanyanya.
“Bareng saya Bu, ” kata saya sambil menuju ke lantai dasar mall itu bersama istri saya.
“Silahkan Bu,” kata saya mempersilahkan beliau ke ATM yang tak berpenutup itu
“Saya tidak mengerti bahasa Inggris dan tulisan Arab”, kata beliau.
“Mari saya bantu, tapi ibu ketik saja nomor PIN nya dulu”
” Bapak saja yang melakukannya,”
“Nanti saya jadi tahu nomor PIN ibu dan transaksi yang akan ibu lakukan” kata saya
“Tidak apa-apa, saya percaya Bapak” katanya yakin.
Akhirnya saya bantu beliau mengambil uang yang menurut saya, buuuanyak banget, untuk memborong emas di Medinah itu.
“Sekarang silahkan Bapak,” katanya mempersilahkan saya pakai ATM itu.
“Enggak Bu, saya enggak mau ambil uang kok.”
“Jadi Bapak tadi turun dari lantai 3 dan jalan jauh-jauh ke sini cuma mau nganter saya?’
Saya mengangguk, karena memang di account saya nggak ada yang bisa diambil kok. Andalannya ya cuma credit card itu….ngisin-isini memang. Tapi ya saya tetep mencoba tersenyum….karena memang nggak ada gunanya njenggureng atau mrengut di tanah suci ini. Senyum kan ibadah.
“Terima kasih,” kata ibu itu sambil meninggalkan saya dan istri yang tak sadar mengelus-elus pergelangan tangannya yang sebiji gelangpun tak melingkar di sana. Kecuali gelang batu yang dibeli 5 real dari pedagang Afrika yang bertebaran di emperan.
“Gelang emas itu nanti akan bikin tanganmu panas dan mungkin gosong karena udara panas di Arab ini, jadinya ada flek hitam di tangan Mama. Kalau gelang batu ini, misal kepepet pager, bisa buat nyambit kirik atau anak anjing bandel yang suka ngganggu kita saat lari pagi di Arcamanik, Bandung nanti….’ kata saya menentramkan hati istri dan terutama hati saya sendiri. Haji minimalis….banget-banget.
Singkat cerita kami kembali ke Indonesia dengan selamat dan mudah-mudahan mabrur. Tiga bulan setelah kondisi fisik beradaptasi kembali dengan alam Bandung yang sejuk permai ini, seorang bekas mahasiswa saya calling di hampir tengah malam. Minta saya memberikan briefing ke jajaran manajemen perihal Malcolm Baldrige yang bagi sebagian besar mereka itu masih misterius, semisterius kadal Mesir dan batu hajar jahanam yang, terbersit juga niat untuk membelinya, jika tidak ingat bahwa tanpa sugesti dan berbagai ramuan itu, anak saya juga sudah empat orang.
Saya menjadi sangat kaget, ketika mendapati bahwa alumni kami yang menjadi lantaran rezki dari Allah itu berada di Lampung, daerah tempat jamaah wanita dulu minta di antar ke ATM. Padahal seumur-umur saya tidak pernah ke Lampung dan tidak pernah terbayang akan pergi ke Lampung karena area jelajah selama ini paling ya Bandung, Semarang, Medan, Balikpapan, Jogjakarta, Padang, dan Jakarta. Karena sejatinya saya ini orang rumahan yang tidak begitu suka jajah praja milang kori, pergi-pergi ke banyak tempat. Entah kebetulan entah tidak, kok ya bisa ngepasi. Jadi ya sudah, alhamdulillah