Candle Light, MBA ITB Business Review Vol. 4 No. 1 2009
You are not Your Thought
Hingar bingar kampanye calon legislatif telah berlalu. Baliho dan spanduk yang memenuhi sudut-sudut kota telah digulung, dikilo, menjadi alas tempat duduk, tenda-tenda pedagang lesehan, sarung bantal, sprei, korden atau teronggok di tempat sampah.Tulisan pada baliho dan spanduk yang hampir seragam: bersih, anti korupsi, berpihak kepada rakyat, tak lagi memberi makna. Bahkan menurut sementara orang, tulisan itu sudah tidak bermakna sama sekali sejak baliho itu dipasang berdampingan dengan foto diri tergagah atau tercantik yang dimiliki. Apa yang keliru di negeri ini, sehingga sulit sekali orang mempercayai omongan orang lain, walaupun setiap Hari Jum’at sudah diingatkan: janganlah kamu melihat kepada siapa yang bicara tapi lihatlah isi pembicaraanya. Nasihat setiap jum’at itu agaknya terlalu agung dan tak tergapai pikiran di jaman yang serba pragmatis, logis, linier dan selalu mendasarkan diri pada hukum sebab akibat.
Seorang kawan berpesan singkat: sakit-sehatnya diri kita, hanya diri kita yang tahu. Orang lain tak akan tahu jika tidak kita beritahu. Namun baik buruknya diri kita, bukan dari klaim sepihak kita, tetapi justru dari sudut pandang penilaian orang lainlah mestinya kita bercermin. Jadi klaim bahwa para caleg tadi bersih, anti korupsi, berpihak kepada rakyat adalah sebuah klaim yang sia-sia. Seperti halnya kita menyatakan bahwa saya ikhlas, saya demokratis, saya bekerja untuk ibadah, adalah sebuah niatan yang semestinya tidak perlu dinyatakan. Karena begitu dilontarkan justru pihak yang mendengarnya akan dengan serta merta mempertanyakan ‘kemurnian’ pernyataan itu, walau sekedar di dalam hati. Biarlah orang lain yang menilainya. You are not your thought. Anda bukanlah seperti yang anda kira, yang anda pikirkan dan yang anda klaim kepada pihak lain.
Selain tidak satunya kata dengan perbuatan yang mendasari rendahnya budaya trust di Indonesia seperti dijelaskan dalam paragraf di atas, ada satu lagi ‘misteri’ yang banyak melingkupi insan cendekia di negeri ini. ‘Fenomena dokter gigi’ hampir terjadi di banyak segi kehidupan. Dokter gigi tidak bisa melakukan treatment sendiri pada giginya yang sakit, keropos, perlu dicabut atau dioperasi. Harus orang lain yang melakukannya. Demikian pula agaknya kecenderungan para pengampu ilmu di negeri ini. Para ahli di bidang humanis seringkali kesulitan mempraktekkan ilmu yang dikuasainya itu dalam perilaku dan kehidupan sehari-hari-hari, bahkan seringkali bersikap lebih sinis dan mahal akan pujian dibandingkan dengan orang yang tidak mempelajari secara rinci ilmu humanisme itu. Para ahli transportasi dan struktur sulit menerapkan kepakarannya justru di jantung tempat para beliau tinggal. Kota begitu semrawutnya dengan struktur bangunan yang tidak merepresentasikan bahwa di dalam kota, berpuluh ahli di bidang itu setiap hari mengais rizki. Para pengajar sekolah bisnis justru seringkali tidak cukup berhasil dalam real business yang dilakukannya, terlalu banyak menimbang, khawatir dan tidak melakukan apa-apa. Atau ahli Risk Management justru karena paham berbagai metode dan perhitungan risiko itu, sering malah menjadi seorang safety player nomor wahid dalam praktek kehidupannya.
Jadi, ketika lidah tidak terejawantahkan dalam langkah, dan keahlian tidak terwujudkan dalam kehidupan, masihkah kita cukup nyali untuk terus berpromosi dan melakukan agitasi?
Dermawan Wibisono