MBA ITB Business Review, edisi 2010
False Alarm dan Gap
oleh D. Wibisono
Pada subjek Performance Management, dikenal satu istilah yang sungguh simpel untuk dilakukan namun dalam kenyataan keseharian justru banyak orang yang melanggarnya, sehingga kinerja organisasi tempat bekerja tidak beranjak kemana-mana. False alarm! Dalam pengertian yang gampang, false alarms didefinisikan sebagai melakukan aktivitas yang seharusnya tidak perlu dilakukan sehingga terlihat kita sibuk sekali, mengklaim bahwa kita sudah melakukan banyak hal, namun nyatanya apa yang kita lakukan tidak memberikan makna apapun bagi perkembangan organisasi tersebut. Dalam istilah sepak bola, kita terlalu banyak melakukan pergerakan tanpa bola, saat bola di kaki kita ternyata kita tidak melakukan apapun yang bermakna. Nongkrong beradu gosip perihal kehidupan artis, padahal dunia kerja kita sama sekali tidak berkaitan dengan artis dan infotainment. Main kartu semalam suntuk setiap malam padahal kita tidak sedang meniti karir menjadi pemain kartu profesional. Mengomentari perilaku rekan sekerja kita dalam setiap moment padahal kita sedang tidak membangun karir dalam hal pengamatan perikaku rekan kerja untuk meningkatkan kinerja organisasi. Melakukan diskusi, rapat-rapat terbatas, memplot orang sana-sini seolah-olah kita sedang memainkan peranan, bermain catur, berangan-angan bahwa segala sesuatu ada di tangan kita, seperti politikus yang weruh sakdurunge winarah (tahu sebelum sesuatu di masa depan terjadi) padahal tugas kerja kita tidak dalam slot itu. Semua usaha dicurahkan ke segenap hal yang justru bukan menjadi kewajiban dan otoritas kerja kita. Itulah false alarms. Hal sebaliknya justru terjadi, yaitu terjadinya Gap, di mana kita tidak melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Artinya, karena energi dan segala ubo rampe sudah kadung dikerahkan untuk hal-hal di luar otoritas dan tanggung jawab kita, akhirnya apa yang menjadi kewajiban kita, tidak kita lakukan. False alarms dan gap menjadi dua sisi mata uang yang menandai efektif tidaknya orang dalam bekerja, sebelum kita bisa melihat dengan kasat mata apa hasil kerja orang tersebut pada akhirnya. Ibu-ibu akan ditanya: jadi apakah anak-anaknya, baik dalam hal karir profesional maupun etika yang dipegangnya dalam kehidupannya kini, dan di masa depan. Dosen akan ditanya: selain menghasilkan lulusan, apakah karya yang kita tinggalkan saat masa pensiun nanti ataukah kita sibuk dengan ngobyek dan menjadikan ajang akademis ini sebagai wahana politis? Manajer human resources akan ditanya: apakah sudah kita benahi sistem human resources di tempat kita bekerja sehingga fair competitiveness dan kesejahteraan tempat kita berkarya sudah mencerminkan kontribusi karyawan masing-masing. Sebagai pimpinan perusahaan akan dikenang apakah sudah kita hela armada ini menuju kemajuan dan kemaslatahan bagi orang banyak? Sebagai gubernur kita akan mendapati pertanyaan apakah sudah kita fokuskan kemajuan propinsi yang kita kelola, bukan hanya berhenti pada studi banding dan peresmian sana-sini yang kemudian bermasalah setelah masa jabatan berakhir. Semua terus bertanya, dan akhirnya kembali ke diri kita: berapa banyak waktu kita habiskan untuk melakukan false alarms dan gap dalam kehidupan kita? Akhirnya komunitas yang akan menjawabnya dalam batas usia dan bahkan mungkin sesudah jiwa terpisah dari raganya.