
Novel & Film 3G
Sinopsis:
Apa kata mereka:
“…. seru banget ceritanya! Gak secara langsung ngedikte tapi tetep dapet pelajaran hidup yangg ngena banget... Jadi pengen juga bikin novel yang bisa jadi inspirasi buat mahasiswa ya..he…he…he…“ (Priscilia Audy, mahasiswi FE UNPAD 2007)
“Kala sebagai Rektor ITB saya beranjangsana ke Pesantren Rancabango, Garut
dan dalam kata sambutannya Sang Kiyai, pemimpin PonPes menyampaikan
kalimat singkat yang mengandung pesan dan sindiran halus yaitu ‘Hendaknya
warga kampus dan alumninya itu senantiasa menjunjung dua nilai luhur yaitu kahartos lan karaos bagi masyarakat’. Pesan singkat agar dimengerti dan bermanfaat ini sejatinya adalah manifesto dari tridarma ITB. Saya bahagia menyambut terbitnya Novel Mas Dermawan Wibisono berjudul 3G — Gading Gading Ganesha ini yang jelas sejalan dengan pesan Sang Kiyai pada kita semua. Kain batik hadiah Ibunda tercinta kini bermetafor menjadi sebuah novel 3G. The best is yet to come.” (Kusmayanto Kadiman, Rektor ITB 2001 – 2004, Menteri Riset dan Teknologi, 2004-2009)
”Inovasi dan inspirasi adalah dua hal yang saling berpautan satu sama lain. Tiada inovasi tanpa inspirasi, dan inovasi yang tercipta seharusnya menjadi sumber inspirasi bagi orang-orang cerdas untuk memicu inovasi yang baru. Novel Gading-Gading Ganesha sarat dengan inspirasi yang akan memantik beragam inovasi kreatif yang akan menghadirkan gelora hidup penuh makna bagi siapa saja yang membacanya. Memang tidak gampang untuk merepresentasikan sosok mahasiswa dan alumni ITB. Mereka adalah pribadi-pribadi yang datang dari berbagai latar belakang sosial budaya maupun kehidupan ekonomi. Namun percayalah, satu kesamaan yang mereka miliki adalah bahwa mereka manusia yang kritis dan mandiri, penuh percaya diri (acapkali sangat tinggi), cinta almamater, bangsa dan negara. Semoga kita dapat bercermin dari apa yang ditampilkan dalam Gading-Gading Ganesha.” (Ir.Hatta Radjasa, Ketua Ikatan Alumni ITB 2008 – 2013, Menteri Perhubungan 2004-2006, Menteri Sekretaris Negara 2006-2009)
Novel yang bagus sekali, menyentuh, dengan message yang kuat. Penulis mengangkat periode waktu kehidupan di kampus yang dialaminya, yang walaupun berbeda dengan era sebelum dan sesudahnya, dapat menjadi representasi dari sikap kepekaan/ kepedulian mahasiswa terhadap kondisi nasional maupun global di setiap zamannya. Untuk kekinian dan visi ke depan, merupakan penggalian yang serasa satu irama dengan napas anak bangsa (Budiyati Abiyoga, Produser Film).
Membaca 3G ini seperti merefleksikan perjalanan hidup kita di ITB dengan segala dinamikanya yang membentuk kepribadian alumnus ITB dalam berkiprah di masyarakat. Harapan kita adalah agar karya DR. Dermawan Wibisono ini dapat memberi inspirasi bagi kemajuan civitas academica ITB dalam memajukan ITB dan Republik tercinta (Rinaldi Firmansyah, Direktur Utama PT. Telekomunikasi Indonesia, tbk.)
“Novel 3G mengandung unsur pembelajaran berupa bagaimana toleransi antar
budaya yaitu antara suku Batak, Sunda, Jawa, dan budaya kota besar (Jakarta)
harus dijalankan pada saat kuliah di ITB. Pendidikan karakter juga tercermin
di dalamnya di mana mahasiswa ITB dididik untuk bermartabat, bersaudara,
berbeda pendapat, bersaing…..termasuk bersaing untuk mendapatkan seorang
wanita. Satu hal yang perlu diangkat dari novel 3G bahwa tidak semua lulusan
ITB sukses, kegagalan mungkin terjadi pada siapapun tak terkecuali juga
lulusan ITB, namun lulusan ITB tetap tegar dalam menghadapi kegagalan”.
Prof. Ir. Sofia W. Alisjahbana, M.Sc., Ph.D. (Wakil Rektor Bidang Akademik, Universitas Tarumanagara)
Novel yang menggelitik dari segi humanis & semoga memberikan inspirasi bagi insan ITB bahwa mereka juga manusia biasa yang dapat mengalami pasang surut dalam mengarungi kehidupan & tidak terus terbuai, hidup dalam dunia “awang-awang” pribadi karena ke-ITBannya (Tuning Hendrastuti, alumni UGM & PPM, praktisi SDM)
Novel 3G merupakan mozaik perjalanan hidup enam anak manusia berlatar belakang etnik yang beragam: Slamet (Trenggalek), Fuad (Surabaya), Poltak (Siantar), Gun Gun (Ciamis), Ria (Padang) dan Benny (Jakarta) yang dipersatukan saat keenamnya masuk ITB.
Kisah dimulai dengan keberangkatan masing-masing tokoh dari daerah asalnya dengan berbagai moda. Banyak kejadian lucu yang dialami dan berbagai tempaan fisik dan mental yang dijalani. Aktivitas akademis, seni dan politik praktis membentuk sosok lulusan yang semula culun menjadi teruji dan percaya diri.
Dalam satu masa semuanya menggapai apa yang diinginkan sesuai dengan kadar usahanya setelah jatuh bangun dalam berbagai perjuangan: drop out dari kuliah, tak punya cukup uang untuk sekedar makan, kandas menjadi seorang pengusaha, gagal dalam percintaan, menikah di usia yang tak lagi muda, ditinggal mati orang yang dicintai, sakit saat jauh dari orang tua, konflik batin saat harus mengambil keputusan penting dalam hidup dam karir, dan berbagai godaan dan cobaan saat harus teguh memegang etika dan martabat diri dan institusi. Tak ada hero yang suci di dunia, semua pernah mengalami putaran roda kehidupan, ada kalanya di atas, seringkali di bawah, bahkan ada saatnya harus tergilas roda itu sekalian.
Bertemu lagi bertahun kemudian, mereka menghitung kembali bahwa sudah terlalu banyak nikmat diserap, melewati titik nol atau bahkan minus saat mereka masuk ITB, banyak waktu tersia-siakan oleh kesibukan yang self interest dan ternyata tidak banyak karya nyata dan kontribusi mereka berikan ke masyarakat dan kepada bangsa yang telah mensubsidi sekolah mereka. Timbul kesadaran untuk membangun negeri dengan menjadi pelopor membangun jaringan seluruh alumni dan orang-orang yang sepaham dari berbagai universitas untuk membuat karya nyata, menanggalkan primordialisme baju alumni, dengan satu tekad: kelas menengah adalah agen perubahan di manapun di dunia ini. Perubahan kepemimpinan dunia kepada tokoh-tokoh yang berkarakter semacam Ahmad Dinejad, Barack Obama, Che Guevara, dan kesuksesan Muhammad Yunus dengan Grameen Banknya memberikan inspirasi untuk meretas jalan membangun pengabdian kepada bangsa. Hidup tak dapat diputar ulang, sekali berarti sesudah itu mati!
Biografi Singkat Penulis

PenulisNovel 3G di depan MIT Campus, USA, Feb 2009
Lahir di Semarang, 21 Juli 1965, alumni SMA 3 Semarang tahun 1984, Sarjana-Teknik Industri ITB tahun 1989, Master in Manufacturing Systems Engineering-RMIT Melbourne Australia tahun 1999, dan Doctor in Performance Management-University of Bradford-England tahun 2003. Salah seorang pendiri SBM ITB pada tahun 2003 dan sebagai Ketua Program Study MBA ITB tahun 2006-2008, dan 2008-sekarang.
Novel karyanya yang telah diterbitkan Sang Juara-Misteri Hilangnya Shirley (2008). Yang menunggu penerbitan Lentera Jiwa dan yang di tangan pembaca ini 3G (2009) yang insya Allah akan diangkat ke layar lebar dengan penulis skenario Arya Gunawan dan sutradara Ki Sujiwo Tejo.
Buku akademis karyanya yang telah terbit Riset Bisnis-Panduan Bagi Praktisi & Akademisi (2003), dan Manajemen Kinerja-Konsep, Desain dan Teknik Meningkatkan Daya Saing Perusahaan (2006).
Mas Wibi
Membaca sinopsis paragraf ketiga….tiba2 saja saya merasa terwakili….masuk dalam perjalanan panjang yang diawali 25 tahun yang silam….kecuali aspek DO dan ditinggal mati tentu saja….meskipun konteksnya berbeda, selebihnya adalah benar belaka bagi saya….dan tidak perlu malu untuk mengakuinya….
Satu hal yang masih mengganggu nurani saya adalah sama dengan bagian awal paragraf keempat….memang merasa belum banyak hal berarti yang bisa dilakukan selama ini….ini yang paling pantas untuk membuat malu….
Turut berbahagia dengan upaya dan keberhasilan Mas Wibi memaknai perjalanan 25 tahun dengan novel ini….semoga waktu masih berpihak kepada kita….untuk berbuat lebih baik lagi dalam 25 tahun ke depan….semoga….
salam
http://rbp234.wordpress.com/
Terima kasih mas Riawan,
Ya, novel ini dimaksudkan sebagai cermin bagi banyak orang, tak terikat oleh etnik maupun universitas tempat kuliah. Hampir semuanya mengalami sepotong-sepotong atau beberapa potong peristiwa sekaligus yang digambarkan dalam novel.
Pada dasarnya saya hanya menyediakan framework untuk masing-masing pembaca dan penonton film 3G nantinya agar dapat menempatkan dirinya dalam frame yang tersedia, dan masing-masing dapat mengembara dan menjadi tokoh dalam rangkaian kehidupan pribadinya.
Semua pribadi adalah tokoh dalam kehidupannya
Saya telah menambahkan link ke blog Mas Wibi di dalam blog saya….semoga berkenan….ini hanyalah upaya awal untuk membentuk jejaring maya….semoga dapat bersinergi…terima kasih….
Okey Mas, no problem. Many thanks ya.
Klo ada info post doc program with scholarship, inform me ya.
hmm… baru tau ada novel n film ini, keknya sih menarik
lam kenal n sakses yaa..
Thanks Mas Hastu, ya ini kerja bareng segenap insan ganesha yang diprovokatori Prof. Suhono, dan kita tindak lanjuti rame-rame. Editor novelnya ternyata Mbak Tutuk, Kimia 84 di Mizan.
Selamat Pak Dermawan. Saya benar-benar menantikan membaca karya Bapak. Apalagi ilustrasi cover depannya begitu menggoda…
Terima kasih, insya Allah tanggal 20 Mei 2009 bisa terbit dan ada di toko buku (kata penerbitnya sih)
Assalamualaikum pak,
Selamat atas penerbitan Novelnya. Saya jadi penasaran pengin beli dan baca
good luck to you Sir!
regards,
Aziza
Undergrad SBM 2007
Wa’alaikum salaam wr. wb,
Insya Allah akan terbit tanggal 20 mei atau dah display paling gak awal Juni (kata Mizan penerbitnya sih). Selamat membaca dan semoga bisa menjadi pemicu tuk berprestasi.