Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Agustus, 2008

Ada yang mengirimkan email ini kepada saya, yang saya tidak tahu mula pertama siapa yang merangkai kisah orang-orang yang sangat inspirasional ini. Karena begitu terkesannya saya, cerita ini saya share kepada anda  teriring do’a semoga yang telah meringkaskan cerita ini mendapat pahala karenanya

—————————————————– 

Selalu  ada 1001 alasan untuk menyerah, namun orang” yg berhasil adalah orang” yg tidak  memutuskan untuk menyerah. Dia selalu bisa menemukan sebuah alasan untuk tidak  menyerah…

NANCY MATTHEWS EDISON  (1810-1871)
   


Suatu hari,  seorang bocah berusia 4 tahun, agak tuli dan bodoh di sekolah, pulang ke  rumahnya membawa secarik kertas dari gurunya. ibunya membaca kertas tersebut, ”  Tommy, anak ibu, sangat bodoh. kami minta ibu untuk mengeluarkannya dari  sekolah.”
 


Sang  ibu terhenyak membaca surat ini, namun ia segera membuat tekad yang teguh, ”  anak saya Tommy, bukan anak bodoh. saya sendiri yang akan mendidik dan mengajar  dia.”
 


Tommy  bertumbuh menjadi Thomas Alva Edison, salah satu penemu terbesar di dunia. dia  hanya bersekolah sekitar 3 bulan, dan secara fisik agak tuli, namun itu semua  ternyata bukan penghalang untuk terus maju.
 


Tak  banyak orang mengenal siapa Nancy Mattews, namun bila kita mendengar nama  Edison, kita langsung tahu bahwa dialah penemu paling berpengaruh dalam sejarah.  Thomas Alva Edison menjadi seorang penemu dengan 1.093 paten penemuan atas  namanya. siapa yang sebelumnya menyangka bahwa bocah tuli yang bodoh sampai”  diminta keluar dari sekolah, akhirnya bisa menjadi seorang genius? jawabannya  adalah ibunya!
 


Ya,  Nancy Edison, ibu dari Thomas Alva Edison, tidak menyerah begitu saja dengan  pendapat pihak sekolah terhadap anaknya. Nancy yang memutuskan untuk menjadi  guru pribadi bagi pendidikan Edison dirumah, telah menjadikan puteranya menjadi  orang yang percaya bahwa dirinya berarti. Nancy yang memulihkan kepercayaan diri  Edison , dan hal itu mungkin sangat berat baginya. namun ia tidak sekalipun  membiarkan keterbatasan membuatnya berhenti.


JOANNE KATHLEEN ROWLING  
 


Sejak kecil,  Rowling memang sudah memiliki kegemaran menulis. bahkan di usia 6 tahun, ia  sudah mengarang sebuah cerita berjudul Rabbit. ia juga memiliki kegemaran tanpa  malu” menunjukan karyanya kepada teman” dan orangtuanya. kebiasaan ini terus  dipelihara hingga ia dewasa. daya imajinasi yang tinggi itu pula yang kemudian  melambungkan namanya di dunia.
 


Akan  tetapi, dalam kehidupan nyata, Rowling seperti tak henti didera masalah. Keadaan  yang miskin, yang bahkan membuat ia masuk dalam kategori pihak yang berhak  memperoleh santunan orang miskin dari pemerintah Inggris, itu masih ia alami  ketika Rowling menulis seri Harry Potter yang pertama. Ditambah dengan  perceraian yang ia alami, kondisi yang serba sulit itu justru semakin memacu  dirinya untuk segera menulis dan menuntaskan kisah penyihir cilik bernama Harry  Potter yang idenya ia dapat saat sedang berada dalam sebuah kereta api. Tahun  1995, dengan susah payah, karena tak memiliki uang untuk memfotocopy naskahnya,  Rowling terpaksa menyalin naskahnya itu dengan mengetik ulang menggunakan sebuah  mesin ketik manual.
 


Naskah yang akhirnya selesai dengan perjuangan susah  payah itu tidak lantas langsung diterima dan meledak di pasaran. Berbagai  penolakan dari pihak penerbit harus ia alami terlebih dahulu. Diantaranya,  adalah karena semula ia mengirim naskah dengan memakai nama aslinya, Joanne  Rowling. Pandangan meremehkan penulis wanita yang masih kuat membelenggu para  penerbit dan kalangan perbukuan menyebabkan ia menyiasati dengan menyamarkan  namanya menjadi JK Rowling. Memakai dua huruf konsonan dengan harapan ia akan  sama sukses dengan penulis cerita anak favoritnya CS Lewis.
 


Akhirnya keberhasilan pun tiba. Harry Potter luar  biasa meledak dipasaran. Semua itu tentu saja adalah hasil dari sikap pantang  menyerah dan kerja keras yang luar biasa. tak ada kesuksedan yang dibayar dengan  harga murah.


STEVE JOBS  
 


Tahun 1976,  bersama rekannya Steve Wozniak, Jobs yang baru berusia 21 tahun mulai mendirikan  Apple Computer Co. di garasi milik keluarganya. Dengan susah payah mengumpulkan  modal yang diperoleh dengan menjual barang-barang mereka yang paling berharga,  usaha itu pun dimulai. Komputer pertama mereka, Apple 1 berhasil mereka jual  sebanyak 50 unit kepada sebuah toko lokal. Dalam beberapa tahun, usaha mereka  cukup berkembang pesat sehingga tahun 1983, Jobs menggaet John Sculley dari  Pepsi Cola untuk memimpin perusahaan itu. Sampai sejauh itu, Apple Computer  menuai kesuksesan dan makin menancapkan pengaruhnya dalam industri komputer  terlebih dengan diluncurkannya Macintosh. Namun, pada tahun 1985, setelah  konflik dengan Sculley, perusahaan memutuskan memberhentikan pendiri mereka,  yaitu Steve Jobs sendiri.
 


Setelah menjual sahamnya, Jobs yang mengalami  kesedihan luar biasa banyak menghabiskan waktu dengan bersepeda dan berpergian  ke Eropa. Namun, tak lama setelah itu, pemecatan tersebut rupanya justru membawa  semangat baru bagi dirinya.
Ia pun memulai usaha baru yaitu perusahaan komputer  NeXT dan perusahaan animasi Pixar. NeXT yang sebenarnya sangat maju dalam hal  teknologinya ternyata tidak membawa hasil yang baik secara komersil. Akan  tetapi, Pixar adalah sebuah kisah sukses lain berkat tangan dinginnya. Melalui  Pixar, Jobs membawa trend baru dalam dunia film animasi seiring dengan  diluncurkannya film produksinya Toy Story dan selanjutnya Finding Nemo dan The  Incredibles.  


Sepeninggal Jobs dan semakin kuatnya dominasi IBM dan  Microsoft membuat Apple kalah bersaing dan nyaris terpuruk.
Maka, tahun 1997,  Jobs dipanggil kembali untuk mengisi posisi pimpinan sementara. Dengan  mengaplikasi teknoligi yang dirancang di NeXT, kali ini Apple kembali bangkit  dengan berbagai produk berteknologi maju macam MacOS X, IMac dan salah satu yang  fenomenal yaitu iPod.  


Kisah  sukses Steve Jobs mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada kesuksesan yang  instan. penolakan dan kegagalan seringkali mewarnai perjalanan hidup kita, tapi  jangan biarkan semua itu membuat kita berhenti.


OPRAH  WINFREY
 



Bermodal  keberanian “Menjadi Diri Sendiri”, Oprah menjadi presenter paling populer di  Amerika dan menjadi wanita selebritis terkaya versi majalah Forbes, dengan  kekayaan lebih dari US $ 1 Milyar. Copy acara “The Oprah Winfrey Show” telah  diputar di hampir seluruh penjuru bumi ini.
 


TAHUKAH ANDA?


Lahir di  Mississisipi dari pasangan Afro-Amerika dengan nama Oprah Gail Winfrey. Ayahnya  mantan serdadu yang kemudian menjadi tukang cukur, sedang ibunya seorang  pembantu rumah tangga. Karena keduanya berpisah maka Oprah kecil pun diasuh oleh  neneknya di lingkungan yang kumuh dan sangat miskin. Luarbiasanya, di usia 3  tahun Oprah telah dapat membaca Injil dengan keras.
 


“Membaca adalah gerai untuk mengenal dunia” katanya  dalam suatu wawancaranya.
 


Pada  usia 9 tahun, Oprah mengalami pelecehan sexual, dia diperkosa oleh saudara  sepupu ibunya beserta teman-temannya dan terjadi berulang kali. Di usia 13 tahun  Oprah harus menerima kenyataan hamil dan melahirkan, namun bayinya meninggal dua  minggu setelah dilahirkan.


Setelah kejadian itu, Oprah lari ke rumah  ayahnya di Nashville. Ayahnya mendidik dengan sangat keras dan disiplin tinggi.  Dia diwajibkan membaca buku dan membuat ringkasannya setiap pekan. Walaupun  tertekan berat, namun kelak disadari bahwa didikan keras inilah yang  menjadikannya sebagai wanita yang tegar, percaya diri dan berdisiplin tinggi.  
 


Prestasinya sebagai siswi teladan di SMA membawanya  terpilih menjadi wakil siswi yang diundang ke Gedung Putih. Beasiswa pun di  dapat saat memasuki jenjang perguruan tinggi. Oprah pernah memenangkan kontes  kecantikan, dan saat itulah pertama kali dia menjadi sorotan publik..  
 


Karirnya dimulai sebagai penyiar radio lokal saat di  bangku SMA. Karir di dunia TV di bangun diusia 19 tahun. Dia menjadi wanita  negro pertama dan termuda sebagai pembaca berita stasiun TV lokal tersebut.  
Oprah memulai debut talkshow TVnya dalam acara People Are Talking. Dan  keputusannya untuk pindah ke Chicago lah yang akhirnya membawa Oprah ke puncak  karirnya. The Oprah Winfrey Show menjadi acara talkshow dengan rating tertinggi  berskala nasional yang pernah ada dalam sejarah pertelevisian di Amerika.  Sungguh luar biasa!  


Latar  belakang kehidupannya yang miskin, rawan kejahatan dan diskriminatif mengusik  hatinya untuk berupaya membantu sesama. Tayangan acaranya di telivisi selalu  sarat dengan nilai kemanusiaan, moralitas dan pendidikan. Oprah sadar, bila dia  bisa mengajak seluruh pemirsa telivisi, maka bersama, akan mudah mewujudkan  segala impiannya demi membantu mereka yang tertindas.
 


Oprah  juga dikenal dengan kedermawanannya. Berbagai yayasan telah disantuni, antara  lain, rumah sakit dan lembaga riset penderita AIDs, berbagai sekolah, penderita  ketergantungan, penderita cacat dan banyak lagi.
 


Dan  yang terakhir, pada 2 januari 2007 lalu, Oprah menghadiri peresmian sekolah  khusus anak-anak perempuan di kota Henley-on-Klip, di luar Johannesburg, Afrika  selatan, yang didirikannya bersama dengan pemirsa acara televisinya. Oprah  menyisihkan 20 juta pounsterling ( 1 pons kira2 rp. 17.000,- )atau 340 milyiar  rupiah dari kekayaannya. “Dengan memberi pendidikan yang baik bagi anak2  perempuan ini, kita akan memulai mengubah bangsa ini” ujarnya berharap.  
 


Kisah  Oprah Winfrey ialah kisah seorang anak manusia yang tidak mau meratapi nasib.  Dia berjuang keras untuk keberhasilan hidupnya, dan dia berhasil. Dia punya  mental baja dan mampu mengubah nasib, dari kehidupan nestapa menjadi manusia  sukses yang punya karakter. Semangat perjuangannya pantas kita teladani!  


7UP
  


Tentu kamu  mengenal 7up. Merk softdrink rasa jeruk nipis ini terbilang cukup populer di  penjuru dunia. Dibalik ketenaran merk 7up rupanya ada kisah yang sangat menarik  untuk kita pelajari tentang arti “pantang menyerah”.
 


Awal  mulanya perusahaan ini mengambil nama 3up sebagai merek sodanya. Namun  sayangnya, usaha ini gagal. Kemudian si pendiri kembali memperjuangkan bisnisnya  dan mengganti namanya dengan 4up. Malangnya, produk ini pun bernasib sama dengan  sebelumnnya. Selanjutnya dia berusaha bangkit lagi dan mengganti lagi namanya  menjadi 5up. Gagal lagi. Kecintaanya pada soda membuatnya tak menyerah dan  berusaha lagi dengan nama baru 6up. Produk ini pun gagal dan dia pun menyerah.  
 


Beberapa tahun kemudian, orang lain muncul dan  membuat soda dengan nama 7up dan mendapat sukses besar!
Mungkin kita tidak tahu  kapan usaha kita akan membuahkan hasil, tapi suatu saat nanti pastilah waktu itu  akan tiba. Justru karena kita ga tahu kapan waktu keberhasilan kita, maka jangan  pernah kita menghentikan usaha kita dan memutuskan untuk menyerah. 3up gagal,  buatlah 4up! 4up gagal, dirikan 5up! bahkan meski harus muncul 6up, 7up, 8up,  atau 100up sekalipun, jangan pernah berhenti sampai jerih payah kita membuahkan  hasil.

Percayalah bahwa Tuhan menghargai usaha kita. keberhasilan tidak  datang pada orang yang malas berjuang dan gampang menyerah. Tunjukan kualitas  iman kita melalui ketekunan kita dalam berjuang! TETAP SEMANGAT!  


MARK ZUCKERBERG  (FACEBOOK)
 



Pernah  mendengar situs jaringan pertemanan Friendster? Konon, melalui situs tersebut,  banyak orang-orang yang lama tak bersua, bisa kembali bersatu, reunian, dan  bahkan berjodoh. Karena itulah, situs pertemanan itu beberapa waktu lalu sempat  sangat popular. Karena itu, tak heran jika setelah era suksesnya Friendster,  berbagai situs jaringan pertemanan bermunculan. Salah satunya adalah Facebook.  
 


Facebook ini sebenarnya dibuat sebagai situs jaringan  pertemanan terbatas pada kalangan kampus pembuatnya, yakni Mark Zuckerberg.  
Mahasiswa Harvard University tersebut-kala itu-mencoba membuat satu program yang  bisa menghubungkan teman-teman satu kampusnya. Karena itulah, nama situs yang  digagas oleh Mark adalah Facebook. Nama ini ia ambil dari buku Facebook, yaitu  buku yang biasanya berisi daftar anggota komunitas dalam satu kampus. Pada  sejumlah college dan sekolah preparatory di Amerika Serikat, buku ini diberikan  kepada mahasiswa atau staf fakultas yang baru agar bisa lebih mengenal orang  lain di kampus bersangkutan.  


Pada  sekitar tahun 2004, Mark yang memang hobi mengotak-atik program pembuatan  website berhasil menulis kode orisinal Facebook dari kamar asramanya. Untuk  membuat situs ini, ia hanya butuh waktu sekitar dua mingguan. Pria kelahiran Mei  1984 itu lantas mengumumkan situsnya dan menarik rekan-rekannya untuk bergabung.  Hanya dalam jangka waktu relatif singkat-sekitar dua minggu-Facebook telah mampu  menjaring dua per tiga lebih mahasiswa Harvard sebagai anggota tetap.  
 


Mendapati Facebook mampu menjadi magnet yang kuat  untuk menarik banyak orang bergabung, ia memutuskan mengikuti jejak  seniornya-Bill Gates-memilih drop out untuk menyeriusi situsnya itu. Bersama  tiga rekannya-andre McCollum, Dustin Moskovitz, dan Chris Hughes-Mark kemudian  membuka keanggotaan Facebook untuk umum.
 


Mark  ternyata tak sekadar nekad. Ia punya banyak alasan untuk lebih memilih  menyeriusi Facebook. Mark dan rekannya berhasil membuat Facebook jadi situs  jaringan pertemanan yang segera melambung namanya, mengikuti tren Friendster  yang juga berkembang kala itu. Namun, agar punya nilai lebih, Mark pun mengolah  Facebook dengan berbagai fitur tambahan. Dan, sepertinya kelebihan fitur inilah  yang membuat Facebook makin digemari. Bayangkan, Ada 9.373 aplikasi yang terbagi  dalam 22 kategori yang bisa dipakai untuk menyemarakkan halaman Facebook, mulai  chat, game, pesan instan, sampai urusan politik dan berbagai hal lainnya.  Hebatnya lagi, sifat keanggotaan situs ini sangat terbuka. Jadi, data yang  dibuat tiap orang lebih jelas dibandingkan situs pertemanan lainnya. Hal ini  yang membuat orang makin nyaman dengan Facebook untuk mencari teman, baik yang  sudah dikenal ataupun mencari kenalan baru di berbagai belahan dunia.  
 


Sejak  kemunculan Facebook tahun 2004 silam, anggota terus berkembang pesat. Prosentase  kenaikannya melebihi seniornya, Friendster. Situs itu tercatat sudah dikunjungi  60 juta orang dan bahkan Mark Zuckerberg berani menargetkan pada tahun 2008 ini,  angka tersebut akan mencapai 200 juta anggota.
 


Dengan berbagai keunggulan dan jumlah peminat yang  luar biasa, Facebook menjadi ‘barang dagangan’ yang sangat laku. Tak heran,  raksasa software Microsoft pun tertarik meminangnya. Dan, konon, untuk memiliki  saham hanya 1,6 persen saja, Microsoft harus mengeluarkan dana tak kurang dari  US$ 240 juta. Ini berarti nilai kapitalisasi saham Facebook bisa mencapai US$15  miliar! Tak heran, Mark kemudian dinobatkan sebagai miliarder termuda dalam  sejarah yang memulai dari keringatnya sendiri.
 


Niat  Mark Zuckerberg untuk sekadar’menyatukan’ komunitas kampusnya dalam sebuah  jaringan ternyata berdampak besar. Hal ini telah mengantar pria yang baru  berusia 23 tahun ini menjadi miliarder termuda dalam sejarah. Sungguh, kejelian  melihat peluang dan niatan baiknya ternyata mampu digabungkan menjadi sebuah  nilai tambah yang luar biasa. Ini menjadi contoh bagi kita, bahwa niat baik  ditambah perjuangan dan ketekunan dalam menggarap peluang akan melahirkan  kesempatan yang dapat mengubah hidup makin bermakna.


TIADA KETEKUNAN YANG  TIDAK MEMBAWA HASIL…


BILL GATES & PAUL  ALLEN
 



Kisah Maestro Microsoft Bill Gates  and Paul Allen
 


William Henry Gates III atau lebih terkenal dengan  sebutan Bill Gates, lahir di Seatle , Washington pada tanggal 28 Oktober 1955.  Ayah Bill, Bill Gates Jr., bekerja di sebuah firma hukum sebagai seorang  pengacara dan ibunya, Mary, adalah seorang mantan guru. Bill adalah anak kedua  dari tiga bersaudara. Sejak kecil Bill mempunyai hobi “hiking”, bahkan hingga  kini pun kegiatan ini masih sering dilakukannya bila ia sedang  “berpikir”.


Bill kecil mampu dengan mudah melewati masa sekolah dasar  dengan nilai sangat memuaskan, terutama dalam pelajaran IPA dan Matematika.  Mengetahui hal ini orang tua Bill, kemudian menyekolahkannya di sebuah sekolah  swasta yang terkenal dengan pembinaan akademik yang baik, bernama ” LAKESIDE “.  Pada saat itu, Lakeside baru saja membeli sebuah komputer, dan dalam waktu  seminggu, Bill Gates, Paul Allen dan beberapa siswa lainnya (sebagian besar  nantinya menjadi programmer pertama MICROSOFT) sudah menghabiskan semua jam  pelajaran komputer untuk satu tahun.
 


Kemampuan komputer Bill Gates sudah diakui sejak dia  masih bersekolah di Lakeside . Dimulai dengan meng”hack” komputer sekolah,  mengubah jadwal, dan penempatan siswa. Tahun 1968, Bill Gates, Paul Allen, dan  dua hackers lainnya disewa oleh Computer Center Corp. untuk menjadi tester  sistem keamanan perusahaan tersebut. Sebagai balasan, mereka diberikan kebebasan  untuk menggunakan komputer perusahaan. Menurut Bill saat itu lah mereka  benar-benar dapat “memasuki” komputer. Dan disinilah mereka mulai mengembangkan  kemampuan menuju pembentukan Microsoft, 7 tahun kemudian.
 


Selanjutnya kemampuan Bill Gates semakin terasah.  Pembuatan program sistem pembayaran untuk Information Science Inc, merupakan  bisnis pertamanya. Kemudian bersama Paul Ellen mendirikan perusahaan pertama  mereka yang disebut Traf-O-Data. Mereka membuat sebuah komputer kecil yang mampu  mengukur aliran lalu lintas. Bekerja sebagai debugger di perusahaan kontrkator  pertahanan TRW, dan sebagai penanggungjawab komputerisasi jadwal sekolah,  melengkapi pengalaman Bill Gates.
 


Musim  gugur 1973, Bill Gates berangkat menuju Harvard University dan terdaftar sebagai  siswa fakultas hukum. Bill mampu dengan baik mengikuti kuliah, namun sama  seperti ketika di SMA, perhatiannya segera beralih ke komputer. Selama di  Harvard, hubungannya dengan Allen tetap dekat. Bill dikenal sebagai seorang  jenius di Harvard. Bahkan salah seorang guru Bill mengatakan bahwa Bill adalah  programmer yang luar biasa jenius, namun seorang manusia yang menyebalkan.  
 


Desember 1974, saat hendak mengunjungi Bill Gates,  Paul Allen membaca artikel majalah Popular Electronics dengan judul “World`s  First Microcomputer Kit to Rival Commercial Models”. Artikel ini memuat tentang  komputer mikro pertama Altair 9090. Allen kemudian berdiskusi dengan Bill Gates.  Mereka menyadari bahwa era “komputer rumah” akan segera hadir dan meledak,  membuat keberadaan software untuk komputer – komputer tersebut sangat  dibutuhkan. Dan ini merupakan kesempatan besar bagi mereka.
 


Kemudian dalam beberapa hari, Gates menghubungi  perusahaan pembuat Altair, MITS (Micro Instrumentation and Telemetry Systems).  
Dia mengatakan bahwa dia dan Allen, telah membuat BASIC yang dapat digunakan  pada Altair. Tentu saja ini adalah bohong. Bahkan mereka sama sekali belum  menulis satu baris kode pun. MITS, yang tidak mengetahui hal ini, sangat  tertarik pada BASIC. Dalam waktu 8 minggu BASIC telah siap. Allen menuju MITS  untuk mempresentasikan BASIC. Dan walaupun, ini adalah kali pertama bagi Allen  dalam mengoperasikan Altair, ternyata BASIC dapat bekerja dengan sempurna.  Setahun kemudian Bill Gates meninggalkan Harvard dan mendirikan Microsoft.   



Kisah Bill Gates Meninggalkan Harvard  Demi Mengejar Impian
 


Ketika ia bosan dengan Harvard, Gates melamar  pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan komputer di daerah Boston .. Gates  mendorong Paul Allen untuk mencoba melamar sebagai pembuat program di Honey-well  agar keduanya dapat melanjutkan impian mereka untuk mendirikan sebuah perusahaan  perangkat lunak.
 


Pada  suatu hari di bulan Desember yang beku, Paul Allen melihat sampul depan majalah  Popular Mechanics, terbitan Januari 1975, yaitu gambar komputer mikro rakitan  baru yang revolusioner MITS Altair 8080 (Komputer kecil ini menjadi cikal bakal  PC di kemudian hari). Kemudian Allen menemui Gates dan membujuknya bahwa mereka  harus mengembangkan sebuah bahasa untuk mesin kecil sederhana itu.
Allen terus  mengatakan, Yuk kita dirikan sebuah perusahaan. Yuk kita lakukan.   


Kami  sadar bahwa revolusi itu bisa terjadi tanpa kami. Setelah kami membaca artikel  itu, tak diragukan lagi dimana kami akan memfokuskan hidup kami.  


Kedua sahabat  itu bergegas ke sebuah komputer Harvard untuk menulis sebuah adaptasi dari  program bahasa BASIC. Gates dan Allen percaya bahwa komputer kecil itu dapat  melakukan keajaiban. Dari sana pula mereka  mempunyai mimpi, tersedianya sebuah komputer di setiap meja tulis dan  di setiap rumah tangga.
 


Semangat Allen dan Gates tidak percuma. Berawal dari  komputer kecil itulah yang menjadi mode dari segala macam komputansi. Dan  sekarang bisa Anda lihat bahwa PC telah benar-benar menjadi alat jaman  informasi. Dan hampir setiap orang mengenal Bill Gates sebagai orang terkaya di  dunia saat ini.
 


HIRONOBU  SAKAGUCHI
 



Hironobu  Sakaguchi (1962) dulu menjabat Direktur Perencanaan dan Pengembangan untuk  Square Co., Ltd. Ia adalah pencipta seri permainan Final Fantasy. Pada tahun  1991 ia diberi kehormatan menjabat Wakil Presiden Eksekutif dan tak lama  berselang ditunjuk menjadi Presiden Square USA, Inc. Pada tahun 2001, ia  mendirikan he Mistwalker, yang mulai beroperasi tiga tahun kemudian.  
 


Sakaguchi bersama-sama Masafumi Miyamoto mendirikan  Square pada tahun 1983. Permainan-permainan pertama mereka sangat tidak sukses.  Ia lalu memutuskan untuk menciptakan pekerjaan terakhirnya dalam industri  permainan dengan seluruh sisa uang Square, dan menamakannya Final Fantasy.  Permainan ini, di luar perkiraannya sendiri, ternyata melejit, dan ia  membatalkan rencana pensiunnya. Ia kemudian memulai kelanjutan permainan ini dan  saat ini telah dibuat Tiga belas permainan Final Fantasy. Setelah enam permainan  pertama dipasarkan, ia lebih berperan sebagai produser eksektuif untuk seri ini  dan juga banyak permainan Square lainnya.
 


Sakaguchi memiliki karir yang panjang dalam industri  permainan dengan penjualan lebih dari 80 juta unit permainan video di seluruh  dunia. Sakaguchi mengambil lompatan dari permainan ke film saat ia mengambil  peran sebagai sutradara film dalam Final Fantasy: The Spirits Within, sebuah  film animasi yang didasari dari seri permainan terkenalnya Final Fantasy. Akan  tetapi, film ini ternyata gagal dan menjadi salah satu film yang paling merugi  dalam sejarah perfilman, dengan kerugian lebih dari 120 juta USD yang berujung  dengan ditutupnya Square Pictures. Sakaguchi lalu diturunkan dari posisi  eksekutif Square. Kejadian ini juga mengurangi keuangan Square dan akhirnya  membawa Square bergabung dengan saingannya Enix, menjadi Square Enix. Sakaguchi  lalu mengundurkan diri dari Square dan mendirikan Mistwalker dengan dukungan  finansial dari Microsoft Game Studios.
 


Pada  tahun 2001, Sakaguchi menjadi orang ketiga yang masuk dalam Academy of  Interactive Arts and Science’ Hall of Fame. Pada bulan Februari 2005 diumumkan  bahwa perusahaan Sakaguchi, Mistwalker, akan bekerja sama dengan Microsoft Game  Studios untuk memproduksi dua permainan role-playing game untuk Xbox 360.  
 


Pelajaran berharga: Dari awal karier, beliau banyak  mengalami kegagalan, namun beliau tidak pernah menyerah hingga akhirnya  menciptakan seri “Final Fantasy” yang sangat di nantikan kehadirannya, bahkan di  puncak kariernya beliau kembali menghadapi kegagalan melalui proyek  kontroversialnya (Final Fantasy : Spirit Whitin) yang mengakibatkan penurunan  jabatan dan penutupan “Square Pictures” hingga akhirnya pengunduran dirinya dari  Square.
 


Namun  itu bukan akhir dari beliau, tapi menjadi loncatan bagi dia untuk kembali  bangkit.  

 

Iklan

Read Full Post »

Dua Hati

Oleh: Fira Bestari

Lima belas tahun sudah bahtera rumah tangga kami kayuh dengan susah payah. Bangunan rumah tangga yang kami dirikan di atas fondasi cinta yang rapuh. Pernikahan yang berlangsung dengan satu pertanyaan yang tak pernah dapat aku temukan jawabnya: akukah bagian dari tulang rusuk lelaki yang saat ini menjadi suamiku itu? Sungguh berat menjadi wanita di negeri ini. Wanita yang tak berhak memilih. Wanita yang tak dapat menentukan siapa calon suami yang kelak akan mewarnai gelaran panjang sisa hidupnya. Wanita yang hanya dapat menjawab ya atau tidak bagi laki-laki yang datang menghampiri. Dan yang selalu mengunjungiku mengapa bukan lelaki yang sebenarnya aku maui?

Wanita dipaksa berubah ketika usia merambat senja. Cinta bukan lagi kebutuhan hati yang harus dituruti. Pengertian dan logika lah yang lebih dominan menentukan, sambil terus berharap bahwa cinta akan timbul di hilir perjalanan biduk rumah tangga. Waktu terus melaju, memburuku untuk menetapkan pilihan: menjadi perawan tua atau menikah dengan laki-laki yang tidak aku cintai?

Setelah berkali-kali kandas dalam membina pengertian dan berusaha merajut cinta sekuat tenaga, akhirnya aku melangsungkan pernikahan ini. Itupun setelah aku ketahui bahwa pria yang aku ingini telah tertambat di dermaga hati wanita lain. Pria yang senantiasa di hati, mencengkeram, mengeram, bagai peluru yang bersarang di dasar hatiku yang terdalam tak akan pernah aku miliki.

Dia telah melangsungkan pernikahannya sembilan bulan lalu. Pernikahan yang hanya aku ketahui dari seorang teman dekat wanitaku, yang aku tahu diapun menaruh hati pada laki-laki itu. Kami bersahabat karib sejak SMU sekaligus bersaing dalam dua hal: prestasi sekolah dan prestasi merebut hati lelaki itu. Kami berdua sama-sama gagal. Sama-sama kalap.

Aku kalap, bagai orang tenggelam di pusaran sungai garang. Menggapai-gapai apa saja yang dapat kuraih untuk menyelamatkan jiwaku. Merengkuh siapa saja yang bersedia menjadi shelter, tempat aku berteduh. Menerima simpati setiap lelaki yang menawarkan sebidang hati dan janji. Berganti-ganti, tapi tak ada seorangpun yang sanggup menggantikan pesona dan karismanya di hatiku.

Waktu terus berpacu, sampai kemudian kuterima lamaran lelaki yang kini jadi suamiku ini tanpa berfikir panjang. Kuterima lamaran lelaki ini setelah kandas dalam pertunangan dengan lelaki sebelumnya. Pertunangan yang meninggalkan jiwa dan hati yang hampa. Hati wanita yang kosong, amat mudah dimasuki dan dirasuki bisikan dan bujuk rayu lelaki yang menawarkan segunung harapan. Di hati yang hampa itulah, lelaki yang saat ini jadi suamiku itu mendaratkan diri.

“Hati-hati Mas selama di luar negeri…” kataku datar, ada kegelisahan di hati, yang aku tak tahu apa penyebabnya.

“Mama ingin oleh-oleh apa?” tanya suamiku hangat. Kehangatan yang tak lagi bermakna bagiku setelah kudapati dia menduakan hatiku dengan teman sekantornya dua tahun yang lalu. Sebuah episod yang amat menyayat hatiku. Sebuah pergulatan batin yang panjang. Sebuah pengkhianatan wanita atas kesetiaan wanita lain bagi lelaki yang telah sah menjadi suaminya. Wanita yang merebut separo dari bilik dan serambi jantung-hati suamiku. Perebutan tahta yang bermula dari tugas kantor keluar negeri semacam ini. Hatiku yang tak terbekali cinta yang cukup dalam kepadanya semakin membeku, manakala aku harus melepasnya di air port, seperti dua tahun yang lalu. Bagiku, air port adalah asal mula setiap prahara.

“Kok melamun, ayolah jangan menangis, Papa kan cuma 1 bulan. Sebulan nggak lama kan?…takut kangen ya?”  gurau suamiku sambil mengusap buliran bening air mata yang mulai menetes satu-satu dari kedua bola mataku. Air mata yang jatuh tanpa kuketahui apa sebabnya. Air mata yang menetes tanpa kuketahui untuk apa.

Semuanya terbayang kembali. Kejadian dua tahun lalu itu bagai film flash back menjejali memori hati dan pikiranku. Membiaskan bayang yang teramat jelas di kedua pelupuk mataku. Menari-nari tanpa henti. Mengaduk-aduk dadaku yang semakin sesak. Semuanya  bermula dari airport ini.

 

Ah, betapa waktu, karir dan materi selalu berhasil mengubah seorang lelaki.  Semenjak bekerja di lembaga bentukan pemerintah untuk mengatasi krisis ekonomi ini, kehidupan kami mendadak sontak berubah. Segala peluh dan kesah yang tiap hari harus kami gulati di ganasnya kehidupan Jakarta tak lagi tersisa. Segalanya menjadi mudah, segalanya menjadi murah. Dan aku yang bersusah payah beriring bersamanya sejak menempati rumah kontrakan kami yang bocor dan sering tergenang banjir, sungguh sakit mendapati adanya wanita lain yang dengan mudahnya mendarat empuk di pangkuannya ketika sofa kami tak lagi tergenang air dan rumah kami tak lagi harus melewati gang berliku itu.

“Apakah Mas mencintainya?!!” sergapku dengan nada tinggi

“Ma’afkan aku Ma, aku khilaf”jawabnya tanpa menoleh ke arahku sedikitpun .Ingin aku menatap bola matanya. Ingin aku lihat mata kejujuran tepat di pupilnya. Namun selalu saja dia melengos, menunduk, memandang kejauhan atau bahkan memejamkan kedua matanya. Mata sang jendela jiwa. Mata tak akan pernah berdusta. Agaknya tahu benar suamiku akan hal itu, sehingga dia tak sekalipun mau beradu pandang denganku.

“Betapa mudahnya permintaan maaf itu keluar dari mulutmu Mas, betapa teganya …..” tak kuat aku menahan tangis hatiku. Kupaksa kaki tetap tegak berdiri. Hanya satu jawaban yang ingin aku ketahui dari mulutnya

“Apakah Mas mencintainya?!”

“Apakah Mas mencintainya?!”

“Apakah Mas mencintainya?!”

desakku dengan histeris yang tak tertahankan.

“Iya….” jawab suamiku enteng sambil membalikkan badannya, merebahkan diri di atas kasur dan tak lama kemudian tidur mendengkur.

Walau lirih terucap, jawaban itu bagai halilintar di siang bolong. Geledeg  menyambar gendang telingaku. Petir membakar hangus, memporakporandakan hatiku. Hancur lebur, remuk redam, hatiku berserakan, yang tak akan pernah lagi bisa menyatu.Tak ada seorang wanita pun di dunia ini yang ikhlas berbagi hati suaminya dengan wanita lain. Tak juga wanita pencari suargaloka. Tak juga aku.

 

*****

Aku termenung di kantin sekolah sambil menunggu anakku pulang sekolah. Tak kusadari sepasang mata telah lama mengawasiku. Perlahan aku menoleh. Getaran yang pernah menggelorakan hatiku di masa remaja kembali menerpa. Lututku lemas, keringat mengucur dari sekujur tubuhku.

Diakah? Sejak kapan dia ada di sini? Bukankah dia kerja di Negara B. Negara tempat pelariannya ketika mengetahui bahwa aku telah bertunangan. Pertunangan yang terpaksa aku lakukan karena lelah menunggu ketidakpastian.

 “Iya, ini aku” katanya kalem, masih seperti dulu. Bahkan kini dengan wibawa yang makin memancar di mata dan setiap gerakannya.

Itulah pertemuanku kembali dengan lelaki yang telah 15 tahun berpisah denganku. Pertemuan kembali dengan pria yang telah mencengkeram singgasana hatiku. Cengkeraman yang tak tergantikan.

“Kubiarkan relung hatiku ini tetap kosong, karena itu adalah tahta untukmu. Hanya untukmu” pengakuannya dalam pertemuan kami yang kedua di Taman Mini.

”Kamu tak pernah mengemukakan hal itu kepadaku.” kataku memendam kecewa, kecewa yang amat dalam menyadari bahwa dia ternyata mencintaiku.

”Itu tak mungkin aku lakukan.” katanya datar dan kelu.

”Mengapa, bukankah engkau lelaki. Lelaki berhak memilih apa yang dimaui dan diinginkan?” kataku tak mengerti.

”Aku tak memiliki keyakinan akan mampu membahagiakanmu.”

”Dari mana kamu bisa berpendapat seperti itu. Bagi wanita, menikah dengan lelaki yang dicintainya adalah bahagia di atas segala-galanya.”

”Itu yang tak kuketahui sejak dulu. Aku pikir, perbedaan sosio ekonomi kita terlalu besar”

”Uuuuhhhh itu kuno, itu hanya ada dalam kisah-kisah sastra klasik dan romantis semacam Romeo and Yulliet atau Kisah Siti Nurbaya.” sergahku

”Iya, itulah pemahaman lelaki. Lelaki yang mengalami inferior komplek seperti aku ini.”

”Lantas kenapa Mas menikah dengan perempuan yang sekarang jadi istrimu itu? Tentu perempuan itu amat sangat Mas cintai kan?” tanyaku mulai terbakar api cemburu dan dendam teramat dalam.

”Aku menikah setelah kuketahui ada cincin melingkar di jari manismu. Pertunanganmu dengan  kakak kelas kuliahku itu.”

”Pertunangan hanyalah sebentuk cincin …”

”Ya, tapi itu tanda ikatan sakral saling kepemilikan yang tak boleh diganggu orang lain.”

”Buktinya aku kan tidak menikah dengan tunanganku itu.”

”Itu yang tak aku ketahui kelanjutannya. Karena setelah itu aku bersusah payah mengungsikan hatiku ke negara lain, agar tak melihatmu bersanding di pelaminan yang megah laksana milik Siti Nurhaliza, tersenyum bahagia dengan lelaki lain di sampingmu. Aku tak akan kuat melihatnya,” sambungnya,”Kamu pasti bahagia bersanding dengannya, kalian telah memiliki segalanya.”

“Mas, adakah yang lebih membuat hati wanita tersiksa, selain berada di antara lelaki yang dicintainya dan lelaki yang memilikinya?”

“Tapi tahukah kamu, apa yang lebih membuat hati lelaki nelangsa, selain tak pernah bisa bersanding dengan wanita pujaan hatinya?”

”Mengapa Mas tak pernah mengatakannya, saat belum ada pagar pembatas yang tak mungkin kita daki lagi ini terpampang di depan kita”

“Aku ini apalah, memandangmu dalam kejauhan pun telah membuat hatiku bahagia. Saat aku tak mampu memilikimu, justru itulah puncak tertinggi kebahagiaanku. Saat cinta sudah dinyatakan, seringkali bahkan menghilangkan maknanya. Bagi lelaki, cinta seringkali merupakan penaklukan. Saat semuanya sudah didapatkan, cinta itu seringkali ikut surut bersamanya. Dan itu yang paling aku takutkan. Aku ingin cintaku padamu tak pernah luntur se miligram pun”.

“Mas, wanita butuh pengakuan, kepastian dan ketegasan. Walaupun kadang sinyal itu bisa ditangkap dari perilaku, namun wanita seringkali tak akan mampu menanggung  kekecewaan. Tak akan sanggup menanggung beban bahwa harapan hati yang selalu disemai dan disiraminya akan terbentur dengan kata ’tidak’ seorang lelaki yang didambakannya ”

”Ooohhh begitukah?” tanyanya dengan sesal yang menggumpal di dada.

”Kusangka,” sambungnya, ”diammu membuat aku harus mengerti bahwa aku harus tahu diri. Aku bukanlah untukmu”

”Mas, aku adalah wanita Jawa. Apalagi yang harus aku lakukan untuk menunjukkan rasa hatiku kepada Mas. Satu kali Mas menolak ajakanku untuk nonton bareng dulu itu, cukup untuk membuat aku harus menarik dan berdiam diri. Mas tak berminat kepadaku.”

”Bukannya aku tak mau diajak nonton bareng waktu itu. Tapi aku berfikir, dengan apa aku membayarnya, pakaian apa yang pantas kukenakan, naik apa kita mesti berangkat bareng, bagaimana aku harus minta ijin kepada orang tua dan kakak laki-lakimu yang jelas-jelas memandang sebelah mata kepadaku?”

”Mas terlalu banyak berfikir dan menghalangi diri sendiri dengan bayangan-bayangan yang belum tentu akan terjadi.”

”Aku realistis saja waktu itu.”

”Bukankah Mas pun memiliki masa depan yang cemerlang, sebagai seorang juara di kelas kita dulu.”

”Masa depan adalah sesuatu yang belum pasti. Apalagi, masa depan tak cukup dijalani dengan kepandaian. Butuh biaya yang waktu itu tak terbayangkan olehku dari mana bisa kudapat sebelum akhirnya ada yang menolongku, sehingga menjadi seperti saat ini. Bahkan sampai saat ini, akupun tak pernah tahu, siapakah penolong yang dermawan itu, karena aku hanya menerima kiriman dari seorang yang menamakan dirinya hamba Allah. Seorang budiman yang tak pernah mau mempublikasikan namanya. Tak pernah berniat unjuk muka di media masa seperti yang biasa dilakukan orang-orang saat ini.”

Pertemuan demi pertemuan akhirnya kami lalui secara sembunyi-sembunyi.

Dunia bagai kembali berbunga.

Gairah yang hampir padam kembali tersulut bagai pemantik api menemukan sejerigen bensin. Membakar kami berdua. Menyalakan masa lalu indah yang tak sempat kami reguk bersama dulu. Teknologi informasi membuat kami mudah membuat janji, mengungkapkan perasaan hati dan melampiaskan dahaga penantian lima belas tahun tanpa basa-basi.

Namun ada satu sisi yang aku lupakan. Rumah tangga membuat dua hati makin lama makin saling mengerti dan mampu mendeteksi setiap perubahan yang terjadi pada pasangannya. Perubahan suasana hati, perubahan perilaku, perubahan kebiasaan, perubahan selera makan, perubahan cara pakaian, dan perubahan jadwal kehidupan sehari-hari. Aku yang tak biasa bersandiwara tak kuasa menutupi perubahan yang terjadi pada diriku, tanpa kusadari. Senyum yang telah lama hilang dari wajahku, hampir saban hari menghiasi kembali bibirku sejak pertemuanku itu. Baju putih dan kelam yang kukenakan sehari-hari berganti dengan rock penuh bunga warna-warni dan celana jeans masa kini. Lagu-lagu sendu mendayu berganti dengan irama klasik dan pop cinta progresif yang optimistik. Hand phone yang dulu lebih sering teronggok diam di sudut meja kamarku, kini bergetar hampir setiap waktu, mengirim SMS yang penuh cinta dan harapan. Namun tak ada awal yang tak berakhir. Tak ada rahasia abadi yang tak tersembul di suatu hari.

Pagi itu awan hitam pekat bergemulung bagai bola bowling menggelinding di angkasa raya. Kilat menyambar-nyambar pertanda hujan deras akan mengguyur Jakarta. Hari yang sendu itu tak menyurutkan keriangan hatiku. Berlama-lama aku berendam di bak mandi sambil bersenandung menyongsong pertemuan yang akan kami lakukan ke sekian kali. Tak kusadari suamiku membaca SMS yang terkirim kemarin sore yang lupa aku hapus. Lelaki memang egois. Seribu kali lelaki boleh berpaling ke hati wanita lain, seribu kali pula dia meminta pasangannya menerimanya kembali, tanpa cela. Tapi satu kali wanita tak memegang janji setianya, akan dianggap sebagai pengkhianatan terbesar yang tak termaafkan dengan seribu bakti dan pengorbannan sesudahnya. Suamiku telah mengetahui siapa lelaki pengirim SMS itu!

Dengan cucuran airmata kukatakan kepadanya bahwa tak mungkin lagi pertemuan ini terjadi tanpa rasa was-was di hati. Aku kenal betul perangai suamiku. Tak akan pernah menyerah sebelum kemauannya terpuaskan. Aku diultimatum untuk tidak keluar rumah selama satu bulan ini. Bergidik aku melihat rahang suamiku menggeretak dan melangkah tergesa di pagi itu. Tak terbayangkan apa yang akan dilakukannya.

Mobil di garasi dipacunya dengan kencang, menderum, memecah kesunyian di pagi buta perumahan kami. Tak tahu apa yang harus kulakukan, seharian aku mondar-mandir di dalam rumah, tak tentu arah. Akhirnya dengan malas kunyalakan monitor komputer di kamarku. Haaaahhh….?! Ada 1 pesan elektronik masuk ke box emailku.

”……selamat jalan wahai belahan jiwaku, maafkan aku yang hanya mampu membuatmu kecewa, luka dan kecewa lagi. Biarlah akau kembali ke sudutku. Sunyi….”

Aku tak mengerti makna dari kalimat itu.

******

Aku berjalan di Tanah Kusir dengan gontai.

Dunia serasa runtuh, rubuh menimpa seluruh sendi-sendi kehidupanku.

Baru sekejap kebahagiaan itu kami nikmati. Kini semuanya telah direnggut kembali. Direnggut dari pelukan dan anganku, selamanya.

Tanah merah terakhir baru saja ditimbunkan ke lobang tempat lelaki itu terbaring. Lelaki yang telah merenggut hatiku. Lelaki yang tak mungkin tergantikan dalam sisa hidupku. Air mata tak henti-hentinya membanjiri kedua belah pipiku.

Satu per satu para pelayat pulang. Meninggalkan makam yang kembali beku dan sendu. Lunglai seluruh lutut dan persendianku. Kurengkuh pusara itu, kupeluk dalam kedamaian dan kubisikan kata cinta dan kesetiaanku hanya untuknya. Kukira semua telah pergi, kutengadahkan wajahku. Kulihat di ujung makam seorang perempuan bersimpuh. Perempuan yang telah menyingkirkan kesempatanku untuk mendampingi lelaki yang sekarang terbujur kaku ini, mendampingi sepanjang hidupnya dalam kebahagiaan.

“Ayo pulang “ kudengar suara yang amat sangat kukenal. Suara yang amat dekat.

Mas Rudy! apa yang dilakukan kakak laki-lakiku di pemakaman ini? Serta merta aku berdiri menyambut kedatangan kakakku satu-satunya itu. Namun, aku salah menduga. Sama sekali salah. Mas Rudy melewatiku, terus melangkah dan meraih pundak perempuan yang masih bersimpuh di ujung makam itu. Mas Rudy mengajak pulang perempuan yang masih bersimpuh di ujung makam lelaki yang telah 15 tahun tertambat di hatiku, tak pernah mau lepas dan berlabuh ke tempat lain ini. Membimbingnya berdiri dan menggandengnya beranjak pergi. Sepintas kulihat kedua tangan mereka yang erat bergandengan. Di pergelangan keduanya, melingkar jam tangan dengan merk yang sama, yang tampaknya memang sengaja dibeli berpasangan. Aku bingung.

Di masa arsenic dengan mudah dicampurkan dalam makanan tanpa ketahuan, di negara yang semuanya serba bisa diatur ini, urutan subjek atau objek sering tak terdefinisikan. Siapakah pelaku yang telah mengubur cintaku ini? Pergi bersamanya dalam keabadian, pergi tak akan pernah kembali.

Bandung, Oktober 2006

Read Full Post »

                                          Rekayasa Ulang Proses Bisnis BULOG

 

Dr. Dermawan Wibisono

 

Terdapat tiga hal utama yang paling diketahui masyarakat tentang Bulog, yaitu pertama bahwa Bulog merupakan tempat yang ‘basah’, oleh karenanya dianggap merupakan lembaga yang banyak terlibat dalam proses melakukan Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN). Kedua, pada suatu masa  yang cukup lama Bulog bertindak sebagai ‘calo’ dalam pengolahan tepung terigu yang dilakukan oleh PT. Bogasari, sehingga turut membesarkan kerajaan bisnis konglomerat tertentu pada waktu itu. Ketiga, Bulog tampak sibuk hanya pada saat menjelang panen padi rakyat dengan aktivitas utama mengotak-atik harga gabah. Selebihnya, tentang bagaimana strategi bisnis Bulog, apa sebenarnya yang menjadi wewenang, tanggung jawab dan kewajibannya, bagaimana efisiensi pengelolaannya, bagaimana penggunaan uang negara, bagaimana bangunan jaringan logistik seluruh nusantara terbina, bisakah menjadi profit center negara atau daerah dan sebagainya tidak banyak diketahui masyarakat. Mayoritas studi yang dilakukan lembaga-lembaga pengkajian yang bertebaran di tanah air terutama hanya menyoroti sisi konsep makro ekonominya dan masalah penggunaan finansialnya. Tulisan ini dimaksudkan untuk memperkaya wacana dari sudut pandang yang berbeda, dengan fokus utama mengkaji kemungkinan penataan kembali proses bisnis Bulog yang berorientasi pada efektivitas dan efisiensi sehingga suatu saat dapat berperan sebagai profit center pemerintah maupun menopang ketahanan pangan masyarakat.

 

 

Keberadaan Badan atau Lembaga pemerintah selama ini selalu dioreientasikan sebagai non profit organisation. Orientasi ini mengandung ‘amanah’ bahwa pengelolaan lembaga nir laba tersebut ‘tidak menjadi masalah’ jika harus merugi. Secara harfiah penterjemahan nir laba menjadi boleh rugi itu telah terpateri lama dan sulit dihilangkan dari praktek-praktek manajemen yang selama ini dilakukan. Konsekuensinya, karena selalu boleh rugi, maka efektivitas dan efisiensi pengelolaan pun tidak pernah mendapatkan perhatian yang seksama. Lembaga atau badan semacam ini boleh berbangga mencapai misinya at all cost. Bulog pun sebagai lembaga yang fungsi utamanya adalah menopang ketahanan kebutuhan pokok masyarakat tidak pernah diaudit performansinya, dan selalu dianggap sukses, dalam ukuran tunggal yaitu selama persediaan yang dimiliki mencukupi kebutuhan masyarakat. Walaupun untuk mencapai hal tersebut harus memberatkan keuangan negara melalui proses importasi, menekan kehidupan para produsen dalam negeri karena inefisiensi mereka, dan sebagainya. Untuk itu diperlukan paradigma baru pengelolaan Bulog. Sebaiknya, budaya pengelolaan birokratis semacam itu sudah bukan jamannya lagi untuk diterapkan. Sudah saatnya Bulog dikelola dengan semangat enterpreneur. Tentu saja dibutuhkan tolok ukur yang berbeda dengan enterpreneur biasa yang selalu berkonotasi dengan finansial term of profit.

 

Kebutuhan pengelolaan sistem baru logistik dan kebutuhan desentralisasi ekonomi yang diharapkan segera diterapkan di Indonesia merupakan momentum yang tepat untuk menata ulang sistem bisnis Bulog secara keseluruhan. Pengelolaan Bulog bisa dianalogikan sebagai holding company dari sebuah perusahaan pusat perkulakan, dengan depot-depot logistiknya sebagai factory outlet. Dengan kerangka seperti itu maka terdapat beberapa konsekuensi sebagai berikut :

 

·         Depot-depot logistik bukan lagi merupakan perpanjangan birokrasi bulog semata tetapi merupakan plant-plant yang spesifik sesui dengan potensi daerah masing-masing. Depot logistik ini dimiliki oleh daerah, dikelola oleh daerah yang berperan sebagai penarik hasil produksi dari daerah yang bersangkutan. Orientasi utamanya bukan hanya sebatas mencukupi kebutuhan daerah itu sendiri, tetapi untuk surplus sehingga mampu mengadakan tukar dagang dengan daerah lain, dengan orientasi jangka panjang untuk ekspor nasional. Jika sudah sampai pada tahap ekspor, maka Bulog berperan di dalamnya untuk mencari pasar di luar negeri

·         Yang dimonitor bulog adalah lalu lintas informasi kebutuhan, supply, keuangan dari satu depo ke depo daerah lain. Dari lalu lintas rantai supply-pasok tersebut Bulog memiliki data base surplus-minusnya suatu daerah  dan berkewajiban untuk menutupnya, jika minus, dari proses impor yang sudah direncanakan dalam jangka panjang.

 

·         Dari lalu lintas perdagangan antar depo tersebut dimungkinkan untuk menerapkan pagu harga yang bersaing, sehingga dimungkinkan persaingan Depot antar daerah seperti dalam mekanisme pasar. Proses ini mirip dengan penjualan Bahan Bakar Minyak manca negara, di mana tiap SPBU dapat menerapkan harga yang berbeda, bahkan di SPBU itu sendiri terjadi perubahan tarif setiap hari, walaupun dalam bilangan cent/ liter. Tentu saja untuk Depot logistik tidak perlu seekstrim itu.

 

·         Kunci dari proses tersebut adalah efisiensi. Termasuk di dalamnya adalah efisinesi pergudangan. Dalam pertimbangan tertentu, tidak perlu depot memiliki gudang-gudang sendiri jika memang dipandang tidak ekonomis. Pengadaan gudang dapat dilakuan oleh pihak lain, atau bahkan diusahakan seminimal mungkin dan tersebar merata di banyak pihak untuk menghindarkan praktek penimbunan. Kuota pengadaan gudang tersebut dibatasi sampai angka tertentu, sebagai fungsi optimasi dari ketersediaan bahan, skala ekonomis, dan resiko penimbunan/ ketergantungan.

Langkah 1: Proses Perencanaan Logistik

 

Langkah pertama dari perencanaan stratejik logistik adalah penentuan visi logistik. Dalam visi tersebut termasuk pengembangan secara sistematis konsensus organisasi yang berkaitan dengan masukan-masukan kunci bagi proses perencanaan logistik termasuk di dalamnya identifikasi potensi dan alternatif pendekatan logistik. Konsensus pencapaian organisasi sebagai landasan umum pola pikir organisasi. Berikutnya, visioning alternatif potensi logistik dan lingkup pengembangan perencanaan yang menyangkut semua pihak dan membuka potensi horisontal perusahaan. Konsensus dan visioning ini merupakan hal yang kritis karena menyangkut banyak pihak yang memiliki dasar dan perspektif berbeda, di mana perbedaan budaya dan praktek manajemen membutuhkan perbedaan kebutuhan dalam distribusi dan pelayanan pelanggan dan pendukung.

 

Langkah 2: Analisis Stratejik Logistik

 

Langkah kedua dalam proses perencanaan logistik adalah melakukan analisis yang dibutuhkan untuk membuat pilihan yang jitu dari sejumlah alternatif logistik potensial. Analisis stratejik seperti yang ditunjukkan dalam piramid di atas menggambarkan kerangka dari analisis stratejik.

 

Langkah 3: Perencanaan Logistik

 

Dalam perencanaan logistik, termasuk di dalamnya adalah mengarahkan analisis stratejik menjadi rencana tindakan dan program-program yang membuat perusahaan mencapai visinya. Sebagai contoh, pembuatan sistem informasi manajemen. Setelah anggaran dialokasikan untuk keperluan suatu program, maka jadwal penyelesaian dibuat dan tanggung jawab penyelesaiannya ditugaskan kepada manajer yang tepat.

           

Kebutuhan peningkatan sistem logistik termasuk di dalamnya meliputi :

 

  1. Peningkatan sistem komunikasi dan teknologi informasi termasuk di dalamnya pengembangan komputer terintegrasi, sistem titik penjualan elektronik, dan perubahan antar data elektronik
  2. Perubahan regulasi
  3. Peningkatan kebutuhan konsumen khususnya standar pelayanan di mana sistem logistik dipandang sebagai sisi kompetitif sebuah produk
  4. Kebutuhan perbaikan  kemampuan finansial terutama untuk berjaga-jaga jika menghadapi tekanan ekonomi
  5. Pengembangan pelaku baru dengan aturan dan saluran distribusi yang baru
  6. Pengurangan persediaan dan ongkos yang berkaitan dengan hal tersebut melalui penentuan depo-depo yang optimal dan mengadopsi konsep Just in Time.

 

Faktor-faktor yang berpengaruh dalam sistem logistik, meliputi :

 

Faktor Eksternal :

 

·         Keandalan moda transportasi

·         Perubahan dan ketersediaan infrastruktur

·         Perubahan regulasi

·         Teknologi informasi

·         Teknologi pemuatan unit

·         Pengaruh lingkungan

·         Trend industri

 

Faktor internal :

 

·         Kelompok produk

·         Membuat atau membeli

·         Sistem penanganan material yang digunakan

·         Profil organisasi

·         Kelompok utama pelanggan

·         Pelayanan pelanggan

·         Sistem informasi

·         Aliran produk

·         Kebutuhan berdasarkan daerah

·         Segmentasi pasar

 

Aspek-aspek yang berpengaruh :

 

Aspek pembelian :

·         Pemasok mana yang sebaiknay digunakan

·         Apa dampak dari penggunaan pemasok alternatif

·         Haruskah pemasok dekat dengan produksi

 

Aspek distribusi :

 

·         Berapa banyak depo, seberapa besar dan di mana harus ditempatkan

·         Produk apa yang mesti distock dalam persediaan

·         Bagaimana sistem distribusi untuk produk yang berbeda

·         Bagaimana area geografis pelayanan dari tiap depot

·         Bagaimana ukuran transportasi yang digunakan

 

Aspek lain :

 

·         Strategi sistem persediaan

·         Membuat atau membeli

·         Pengembalian kontainer, pengepakan produk

 

 

Referensi :

 

  1. Cooper, J., O’Laughlin, K., and Kresge, J., The Challenge of Change, The International Journal of Logistics Management, Vol 3, 2, 1992
  2. Rushton, A and Saw, Richard, A Methodology for Logistics Strategy Planning, The International Journal of Logistics Management, Vol 3, 2, 1992
  3. Guedes, A.P., Saw, R.J., and Waller, A.G., Logistics Strategy Planning : Visual Interactive Modelling and Decision Support, in Cooper, James (ed) Strategy Planning in Logistics and Transportation, Kogan Page limited, 1993.
  4. Christopher, M (1992) Logistics and Supply Chain Management, Pitman, London

Read Full Post »

Kenaikan Gaji, Peningkatan Kinerja dan Pemberantasan Korupsi

 

Oleh: Dr. Dermawan Wibisono

 

 

          Pemerintah tiap periode tertentu selalu mengkaji dan mengambil kebijakan untuk menaikkan gaji Pejabat Tinggi Negara, Pejabat Pemerintahan, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan pemangku jabatan struktural di lingkungan Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan asumsi bahwa kenaikan gaji tersebut akan meningkatkan performansi kerja dan menghilangkan praktek Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Kebijakan tersebut telah mengundang berbagai macam pendapat: pro, abstain maupun kontra. Dan sudah sering  pula mengundang para demonstran untuk berunjuk rasa. Sudah dapat diduga bahwa pihak yang pro dan paling sedikit abstain, adalah pertama, orang-orang yang berpegang pada pendapat bahwa KKN akan hilang dan performansi akan meningkat jika pendapatan orang bertambah. Kedua, tentu saja terutama pihak-pihak yang akan menerima ‘rejeki nomplok’ tersebut, termasuk di dalamnya adalah para anggota dewan terhormat yang apa boleh buat, ‘terpaksa’ bersikap :” Seneng juga sih, walaupun ke masyarakat harus tetap terlihat garang berjuang dan memihak kepentingan rakyat !”. Tulisan ini dimaksudkan untuk menganalisis hypothesis: benarkah kenaikan pendapatan berkorelasi linier dengan penghapusan KKN ?

 

Kerangka kajian

 

Peningkatan performansi kerja dengan cara membangkitkan motivasi individu melalui berbagai macam metode telah lama diteliti oleh para ahli di Amerika Serikat pada akhir tahun 1950-an dan sesudahnya. Uang sebagai sarana pendorong motivasi untuk meningkatkan hasil kerja, pertama kali diperkenalkan oleh Frederick Taylor di lingkungan industri baja untuk level pekerja menengah ke bawah. Konsep tersebut diberlakukan di banyak industri selama beberapa tahun sebelum dikoreksi oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Elton Mayo. Dalam eksperimennya di sebuah perusahaan elektronika, Mayo  mendapatkan hasil bahwa uang bukanlah sarana utama sebagai representasi dari  penghargaan yang akan mengubah perilaku para pegawai dalam perusahaan tersebut. Penelitian tersebut didukung oleh penelitian lain yang dilakukan oleh Georgopoulos dan kawan-kawan. Mereka menyimpulkan bahwa hanya 38% dari responden yang berpendapat bahwa peningkatan performansi merupakan akibat dari peningkatan pendapatan (1957). Oleh karena itu, berdasarkan penelitian tersebut, dapat dikatakan bahwa keterkaitan antara pendapatan dan performansi memiliki korelasi yang sangat rendah.

Perspektif yang mendasari pemberian imbalan uang sebagai pemicu motivasi kerja seperti yang dijabarkan dalam paragraf di atas merupakan implementasi dari Teori X yang dikemukakan oleh McGregor (1957). Teori X menyatakan bahwa manusia pada dasarnya  memiliki kecenderungan untuk bekerja seminimal mungkin, tidak memiliki ambisi, tidak menyukai tanggung jawab, lebih suka diperintah, suka mementingkan diri sendiri, tidak ingin berubah, tidak cerdas, mudah dihasut, dan gampang disuap. Oleh karena itu untuk mengeliminir sifat-sifat tersebut diperlukan pemicu yang berbentuk insentif. Penerapan teori ini pada level tertentu mungkin akan memberikan efek perubahan yang sangat signifikan, terutama jika ditujukan pada level di mana basic needs (kebutuhan dasar) masih menjadi faktor utama penggerak orang bekerja.  Dan kebutuhan dasar tersebut sudah sepatutnya tidak berada pada diri para pejabat tinggi negara, pejabat tinggi pemerintahan, termasuk di dalamnya anggota Dewan Perwakilan Rakyat.

Sebagaimana diketahui bahwa hierarchy kebutuhan manusia, menurut Abraham Maslow, terdiri dari lima tingkatan. Pertama, kebutuhan fisik, berupa kebutuhan pangan, sandang, dan tempat tinggal. Kedua, rasa aman yang berupa kebutuhan akan perlindungan dari bahaya, ancaman dan pembinasaan. Ketiga, kebutuhan sosial yang diwujudkan atas keinginan untuk memiliki, berasosiasi, diterima oleh masyarakat sekitar, memberi dan menerima persahabatan dan cinta. Keempat, kebutuhan penghargaan diri dan reputasi yang berupa kebutuhan untuk percaya diri, tidak tergantung pada orang lain,  berkompeten, berpengetahuan, serta kebutuhan akan status, pengakuan, apresiasi dan penghargaan dari masyarakat luas. Kelima, kebutuhan untuk memenuhi pengejawantahan diri (Self-fulfillment) yang berupa kebutuhan untuk merealisasikan potensinya, pengembangan diri yang berkelanjutan, dan menjadi kreatif dan diakui dalam arti yang lebih luas.

Tiga kebutuhan pertama: fisik, keamanan, dan sosial merupakan kebutuhan yang berjenjang pemenuhannya. Artinya, sebelum kebutuhan minimal level di bawahnya terpenuhi, maka orang tidak akan beranjak ke pemenuhan kebutuhan berikutnya. Dengan kata lain, seseorang yang masih kelaparan, tidak memiliki tempat tinggal, tidak memiliki sandang yang memadai belum akan memperhatikan pemenuhan kebutuhan akan rasa amannya. Dari sisi ini mudah dipahami jika pada saat ini banyak anggota masyarakat yang bersedia untuk mempertaruhkan nyawanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan fisik tersebut.

Kebutuhan keempat dan kelima tidak berlaku linier dan tanpa batas. Kebutuhan akan penghargaan, reputasi dan pengejawantahan diri merupakan kebutuhan level menengah ke atas. Dan kelas menengah ke atas itu termasuk di dalamnya adalah para pejabat tinggi negara, pejabat pemerintahan, anggota parlemen dan para pejabat struktural di level tertentu. Oleh karena itu peningkatan pendapatan yang fantastis pada golongan ini merupakan  treatment yang tidak tepat sasaran. Kebutuhan kelompok ini sudah seharusnya bukan lagi di level fisik, keamanan dan sosial, tetapi lebih tinggi dari itu. Perlu digarisbawahi di sini pada kata seharusnya, artinya sungguh sangat memprihatinkan jika ternyata para pejabat tersebut masih mendasarkan diri pada tiga kebutuhan dasar. Jika kenyataannya memang itu yang ditemui pada pemangku jabatan saat ini, hal tersebut merupakan handicap bagi sikap mental total dalam diri pejabat dan tidak akan pernah terpuaskan. Seperti yang dinyatakan oleh McGregor bahwa man is a wanting animal – as soon as one of his needs is satisfied, another appears in its place. This process is unending. It continuous from birth to death. Jadi orang-orang yang memang tidak pernah beranjak kebutuhannya dari ketiga kebutuhan dasar tersebut tidak akan pernah kenyang selamanya sebanyak apapun yang dia terima.

Jika kita berfikir positif bahwa orang yang diangkat sebagai pejabat sudah beranjak ke level pemenuhan kebutuhan keempat dan kelima, maka perlakuan terhadap mereka lebih tepat jika menggunakan Teori Y. Dengan teori tersebut kita memandang para pejabat tersebut sebagai individu dewasa yang pada dasarnya rajin, cerdas, mengetahui kebutuhan negara, memiliki motivasi dan potensi pengembangan, memiliki kapasitas tanggung jawab yang memadai dan berperilaku bukan sebagai binatang ekonomi ( Rensis Likert, 1955). Artinya, pemberian pendapatan yang tinggi sebagai motivasi utama untuk mencegah KKN justru akan menyinggung nurani. Karena dengan begitu dapat diartikan bahwa jika gaji tidak dinaikkan maka pejabat tersebut sah-sah saja untuk melakukan praktek KKN.

 

Konsekuensi ikutan

 

Konsekuensi logis dari kebijakan peningkatan pendapatan justru di level tertinggi pemerintahan adalah ketersinggungan rasa keadilan mayoritas pegawai di level  bawahnya dan di masyarakat luas. 

 

Timbulnya rasa ketidakadilan bagi level di bawahnya disebabkan oleh lebarnya jurang pendapatan yang mereka terima dibandingkan dengan pendapatan para pejabat tersebut padahal perbedaan kontribusi mereka tidaklah begitu signifikan. Penelitian yang dilakukan oleh J.S Adams (1963) mendukung argumentasi tersebut di atas. Dalam penelitian tersebut dinyatakan bahwa rasa ketidakadilan akan timbul dalam diri siapapun yang menyadari bahwa rasio antara keluaran yang dihasilkannya terhadap pendapatan yang diperolehnya dan rasio keluaran – pendapatan pihak lain dalam organisasi tersebut berada dalam ketidakseimbangan. Oleh karena itu, penting untuk mencari kesetaraan pendapatan terhadap apa yang mereka sumbangkan bagi  organisasi.

Ketidakadilan yang dirasakan masyarakat luas lebih disebabkan oleh diambilnya sudut pandang bahwa para pengelola negara dan pemerintahan menetapkan kebijakan yang menguntungkan sisi mereka sendiri saja. Artinya, masyarakat akan sampai pada kesimpulan :”Kalau begitu, para aparat pemerintahan boleh mensejahterakan dirinya sendiri, mumpung lagi menjabat “. Akan halnya pihak-pihak lain yang ikut menikmati kebijakan tersebut, semacam anggota dewan, hanyalah ubo rampe, sebagai uang dengar dan agar tidak menggugat.

 

Penutup

Dari kajian tersebut di atas, sampailah kita pada kesimpulan bahwa kebijakan peningkatan pendapatan pejabat negara, pejabat pemerintahan, anggota dewan dan pejabat struktural sebaiknya dikaji ulang untuk mendapatkan formulasi yang lebih adil. Hal ini didukung oleh argumentasi, pertama, seperti yang disinyalir oleh banyak kalangan, bahwa kebutuhan riil pejabat negara dan pejabat pemerintahan sejak bangun tidur sampai tidur lagi sudah dipenuhi oleh negara. Kedua, dan ini yang lebih penting, sudah bukan pada tempatnya bagi pejabat untuk berkutat dengan pemenuhan kebutuhan dasar seperti yang dibahas dalam kerangka awal tulisan ini. Artinya, pilih pejabat yang sudah tidak lagi berada dalam pemenuhan kebutuhan tiga zona degradasi terbawah tersebut. Hal ini tidak berarti harus memilih pejabat yang berasal dari lingkungan yang berkecukupan secara materi, tetapi lebih ditujukan pada pemilihan orang-orang yang tidak risau dan tidak silau dengan hal-hal tersebut. Akhir kata, kebijakan peningkatan pendapatan yang fantastis tersebut yang didasari oleh niat baik untuk memberantas KKN dapat dikatakan sebagai perjudian besar. Kita dapat bernasib seperti si Lebai Malang : hutang negara meningkat, ketidakpuasan semakin menggelora dan KKN akan berjalan seperti sediakala. Mudah-mudahan slogan akhir dari lakon babak ini bukanlah : “Maju Tak Gentar Membela Yang Besar !”

Read Full Post »

KEBIJAKAN INDUSTRI INDONESIA ?

 Oleh : Dr. Dermawan Wibisono

 

Proses privatisasi dan penjualan perusahaan-perusahaan Indonesia kepada pihak asing yang saat ini sedang sangat gegap gempita digalakkan dalam rangka mendapatkan dana segar untuk membenahi perekonomian Indonesia hendaknya dilakukan dalam kerangka kajian yang integratif dan komprehensif terhadap masa depan industri Indonesia dalam jangka panjang. Perlu dipilih sektor-sektor apa atau industri mana yang harus tetap menjadi milik Indonesia dan nantinya akan digunakan sebagai pusat keunggulan. Untuk itu pemerintah sewajarnya membuat kebijakan industri di masa depan yang jelas dan transparan sehingga tidak menyebabkan warga negara Indonesia, 5 – 10 tahun ke depan hanya menjadi penonton di negeri sendiri. Kebijakan industri merupakan salah satu kaki terpenting dari ketiga kaki pertumbuhan ekonomi nasional, selain dua kaki yang lain yaitu kebijakan fiskal dan moneter.

Laura D’Andrea Tyson dan John Zysman berpendapat bahwa peningkatan kekuatan kompetitif  industri-industri tertentu yang terutama mempengaruhi perekonomian nasional ditentukan oleh kebijakan yang dikeluarkan oleh negara yang kemudian diterapkan pada level perusahaan.  Oleh karena itu menjadi sangat vital bagi pemerintah untuk mempertimbangkan dan mengembangkan kebijakan  yang menyangkut pembentukan kemampuan perusahaan untuk mendapatkan keuntungan kompetitif (Tyson dan Zysman, 1983). Untuk tujuan itulah, di era Presiden Clinton, ditetapkan kebijakan industri negara yang bertujuan untuk mengamankan keuntungan kompetitif yang dinamis dalam ekonomi global bagi perusahaan-perusahaan Amerika Serikat (C. Johnson, 1984).  Hal ini dipicu oleh adanya  kesadaran baru bahwa kemampuan berkompetisi perusahaan di era globalisasi lebih merupakan masalah strategis yang terorganisir di mana pemerintah bertindak sebagai fasilitator dan bahkan pemimpin bagi industri-industri negaranya masing-masing dan hanya sedikit yang merupakan sumbangan dari produk itu sendiri yang saat ini sudah tidak mengenal batas negara dalam proses produksinya. Oleh karena itu, kebijakan industri dapat berlaku sebagai mekanisme vital yang secara permanen mengubah terminology kompetisi internasional dan mengubah struktur pasar (Thompson, 1989).

Konsep keunggulan komparatif yang dicapai melalui ketersediaan sumber daya alam, rendahnya upah buruh dan berlimpahnya pangsa pasar karena kuantitas konsumen telah lama ditinggalkan. Konsep yang lebih baru yang menyangkut keunggulan komparatif melalui kriteria-kriteria klasik lain semacam kekuatan kreativitas manusia, pengetahuan, tenaga kerja terdidik, bakat organisasi, kemampuan untuk memilih dan kemampuan untuk beradaptasi pun sudah tidak lagi difahami sebagai  sumbangsih dari alam yang tersedia dengan sendirinya, tetapi dapat dicapai melalui kualitas kebijakan publik seperti pendidikan, penelitian yang terorganisasi dan investasi dalam masalah social (C. Johnson, 1984), di samping kebijakan industri negara yang bersangkutan.

Kebijakan industri itu sendiri seharusnya bukan hanya merupakan tanggung jawab Departemen Perdagangan dan Industri semata, tetapi menyangkut lintas departemen dan lintas sektoral. Departemen-departemen di negara-negara maju saat ini bukan lagi hanya sekedar bertindak sebagai regulator saja tetapi juga menjadi fasilitator, dinamisator bahkan kreator-kreator bagi perkembangan seluruh bangsa. Dalam kerangka kebijakan industri nasional, maka job description dari pemerintah, minimal menyangkut hal-hal di bawah ini.

 

  1. Penciptaan dan eksploitasi pasar: terutama yang berhubungan dengan perdagangan antar negara (melalui sikap untuk memproteksi industri dalam negeri dan promosi ekspor) dan melalui kebijakan internal yang menyangkut monopoli, merjer dan mendukung industri-industri yang baru tumbuh.
  2. Kepemilikan industri, manajemen dan demokrasi: kebijakan pada skala sektor publik, hak-hak pekerja dan manajer, penetapan regulasi yang menyangkut kepentingan publik.
  3. Investasi untuk pabrik dan perkakas: yang menyangkut skala modal dan sumber permodalan, pemasok peralatan, distribusi geografis industri dan posisi perusahaan tersebut dalam keseluruhan peta industri.
  4. Struktur industri: mendorong investasi lokal melalui kerjasama dengan perusahaan multinasional dan mencari cara untuk menstimulasi serta memperkuat perusahaan-perusahaan kecil dan menengah.
  5. Industri baru: identifikasi area pertumbuhan yang akan datang dan menyediakan sarana pendukung yang diperlukan khususnya yang menyangkut industri masa depan semacam teknologi informasi, mikro-elektronika, bioteknologi, robot dan energi.
  6. Memfasilitasi proses restrukturisasi bagi industri-industri yang sedang surut maupun jenis-jenis usaha yang menjelang maghrib (sun set industry).
  7. Teknologi baru: mendorong penelitian dan pengembangan, diseminasi pengetahuan teknis dan ikut memperkenalkan produk-produk baru yang dihasilkan.
  8. Pemasok tenaga kerja: pendidikan dan pelatihan, yang menyangkut industri dan skil tertentu yang dapat pula dilakukan melalui pembentukan pola umum silabus untuk tujuan-tujuan khusus

 

Yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah, lalu di bidang industri apa kebijakan harus dikembangkan? Idealnya memang seluruh tatanan industri harus tercakup dalam kebijakan tersebut. Namun jika kita telaah, ternyata begitu beragamnya area industri saat ini yang dapat dijadikan pijakan keunggulan ekonomi bangsa. Untuk bisa unggul dalam semua aspek, adalah merupakan hal yang mustahil. Menyadari hal tersebut, saat ini, banyak negara menetapkan fokus tertentu terutama yang menyangkut pengembangan teknologinya untuk mencapai keunggulan. Sebagai contoh Jepang, diantaranya, menitikberatkan pada elektronik untuk kebutuhan sehari-hari, Amerika Serikat fokus pada teknologi digital, ruang angkasa dan eksplorasi alam, Perancis menaruh perhatian besar terhadap biotechnology dan kehutanan, Inggris memberikan perhatian yang besar pada robot, medis dan bioengineering, Selandia Baru fokus pada pertanian dan peternakan, Singapura fokus pada intelejensi buatan dan pemrosesan informasi, dan Hongkong konsentrasi pada perbankan.

Lalu di bidang industri apakah Indonesia akan mengembangkan diri ?

Pertanyaan sederhana yang membutuhkan kajian kompleks untuk menjawabnya. Hal pertama yang harus dilakukan adalah menata ulang industri Indonesia dengan melakukan pengelompokan berdasarkan kriteria tertentu. Contoh pengelompokan industri adalah seperti yang dilakukan oleh Amerika Serikat  yang tertera pada Standard Industrial Classification of Industrial Activities (Central Statistical Office, 1992). Industri tersebut dikelompokan menjadi sektor-sektor: pertanian dan kehutanan; perikanan; pertambangan;  manufaktur; kelistrikan, gas, air; konstruksi, eceran, hotel dan restoran, transport, penyimpanan dan komunikasi; keuangan; real estate; administrasi publik; pendidikan; kesehatan; pelayanan sosial dan individu, dan seterusnya.

Dari list tersebut, kemudian dikaji masing-masing sumbangannya terhadap berbagai faktor seperti devisa negara, penyerapan tenaga kerja, keterkaitan dengan rantai sektor yang lain, distribusi kewilayahan dan sebagainya. Sebagai contoh, jika fokus diarahkan dalam konteks kebijakan untuk meningkatkan kemampuan kompetisi internasional, kita membutuhkan fokus pada sektor-sektor yang memproduksi secara langsung barang yang dibutuhkan dalam perdagangan internasional dan sektor yang lain menjadi aktor pendukung saja.  Sebagai contoh, Inggris telah lama memfokuskan diri pada industri inti yang berorientasi ekspor. Secara historis inti bisnis terletak pada industri manufaktur. Industri manufaktur secara luas mencakup bidang-bidang: tekstil, perkakas, moda transportasi, permesinan, baja dan logam, industri kimia, dan mineral. Fokus pada pengembangan sektor manufaktur didasari pada alasan bahwa manufaktur merupakan penyumbang ekspor terbesar Inggris yaitu 83.9 % dari keseluruhan ekspor pada tahun 1973 dan menurun menjadi 65.9 % sepuluh tahun kemudian (Foremen-Peck, 1991). Alasan kedua adalah karena industri jasa sulit diekspor dan industri manufaktur merupakan pemicu bagi pengembangan industri jasa melalui aktivitas perdagangannya.

Setelah fokus industri yang akan dikembangkan ditetapkan, maka disusunlah paket-paket kebijakan yang mendukung sektor terpilih tersebut. Paket-paket tersebut dapat terdiri dari banyak hal yang dapat mencakup kebijakan yang berkait langsung dengan industri itu sendiri maupun kebijakan yang tidak secara langsung menyangkut, namun memberikan pengaruh yang signifikan pada jangka waktu tertentu. Dalam lingkup konseptual, pemerintah dituntut untuk menyediakan lingkungan makro ekonomi yang stabil sehingga perusahaan mampu membuat perencanaan jangka panjang dengan penuh keyakinan; menciptakan pasar yang bekerja secara efisien; meningkatkan pendapatan atas pajak yang dapat mendorong perkembangan perusahaan dan memperbaiki nilai-nilai pelayanan dalam sektor publik;  menyediakan kerangka hukum/ aturan main untuk mengurangi ketidakpastian tetapi tidak menghambat inovasi. Sedangkan dalam lingkup teknis, kebijakan tersebut dapat meliputi antara lain :

 

1.    Mendukung peningkatkan pendidikan kejuruan, pelatihan dan program magang yang dimonitor oleh Departemen Perdagangan dan Industri bukan oleh Departemen Pendidikan.

2.    Mendorong inovasi melalui sistem hibah-hibah dana terbatas namun berhasil guna, menjalin hubungan yang lebih baik antara industri dan universitas

3.    Membantu industri kecil melalui perluasan jaringan bisnis

4.    Memperkuat pengembangan industri regional

5.    Peningkatan dana penelitian dan pengembangan

6.    Menetapkan target produktivitas nasional, ekspor dan pangsa pasar pada perdagangan dunia

7.     Mengelola semacam Bank Pengembangan Bisnis yang berfungsi sebagai media  pengembangan industri berprospek

8.      Menyediakan informasi dan mempromosikan praktek-praktek bisnis terbaik di dunia

Read Full Post »

Korelasi Kunjungan Ke Luar Negeri dengan Investasi Modal Asing

Oleh: Dr. D.Wibisono

Dalam kurun waktu lima tahun jabatan di pemerintah pusat dan daerah, seringkali para pemimpin di kedua level pemerintahan tersebut melakukan kunjungan ke luar negeri dengan dalih mendatangkan investasi. Berkaitan dengan lawatan ke manca negara tersebut, pemerintah mengemukakan argumentasi bahwa misi utama kunjungan tersebut di antaranya adalah untuk menarik investor luar negeri agar roda perekonomian yang mandeg dapat kembali segera berputar mengingat terdapat 37 juta pengangguran di Indonesia yang memerlukan alokasi kerja. Dari sisi logika bisnis dapat dimengerti bahwa impian investor akan membanjiri Indonesia dalam waktu segera adalah nonsens sepanjang kondisi domestik sebuah negara tidak menunjukkan kondisi yang kondusif untuk tumbuhnya iklim usaha.  Telah lama para usahawan manca negara berpegang pada kajian terhadap risiko investasi di sebuah negara (country risk and foreign investment) yang dilakukan oleh berbagai lembaga di dunia dalam melakukan investasinya. Oleh karena itu ada baiknya kita mencoba mengkaji hipotesis adanya korelasi yang signifikan antara kunjungan kenegaraan tersebut dengan investasi yang akan ditanamkan di Indonesia. 

1. Country Risk

Semua jenis transaksi bisnis mengandung tingkat risiko tertentu. Pada saat transaksi tersebut melewati batas-batas negara maka konsekuensinya adalah terjadinya tambahan risiko yang tidak dihadapi jika transaksi dilakukan di dalam negeri. Risiko tambahan ini sering disebut sebagai risiko negara (country risk) yang biasanya timbul akibat perbedaan dalam struktur ekonomi, kebijakan, institusi sosial-politis, dan kondisi geografis. Para analist cenderung memisahkan risiko negara menjadi enam kategori seperti tertera di bawah ini (Meldrum, 2000). Beberapa dari kategori tersebut saling tumpang tindih dipengaruhi oleh keterkaitan antara ekonomi dalam negeri dengan sistem politik yang diterapkan dan dengan masyarakat internasional. Walaupun beberapa analist tidak sepakat dengan list kategori ini, ke-enam konsep tersebut populer digunakan dalam pemeringkatan risiko negara yang dilakukan oleh berbagai lembaga di dunia.

1.      Risiko ekonomis (Economic Risk)

2.      Risiko transfer (Transfer Risk )

3.      Risiko nilai tukar (Exchange Rate Risk)

4.      Risiko lokasi (Location or Neighborhood Risk)

5.      Risiko pemerintah yang berkuasa (Sovereign Risk)

6.      Risiko politik (Political Risk)

1.1. Risiko ekonomis (Economic Risk)

Risiko ekonomis merupakan besaran yang signifikan di dalam laju pertumbuhan ekonomi yang menghasilkan perubahan utama dari pengembalian investasi. Risiko ekonomis semakin meningkat jika terdapat kebijakan yang keliru dalam kebijakan dasar ekonomi seperti kebijakan fiskal, moneter, distribusi kesejahteraan, dan hubungan internasional atau akibat dari perubahan yang signifikan dalam keunggulan komparatif suatu negara semacam penyusutan sumber daya alam, surutnya suatu  jenis industri, dan perubahan demografi. Risiko ekonomis sering overlap dengan risiko politis dalam beberapa sistem pengukuran risiko negara untuk investasi karena kedua-duanya berhubungan dengan kebijakan pemerintah.

Risiko ekonomis mengukur besaran tradisional semacam kebijakan fiskal dan moneter seperti yang menyangkut besar dan komposisi anggaran belanja negara, kebijakan pajak, situasi hutang pemerintah dan kedewasaan kebijakan moneter dan finansial itu sendiri.

1.2. Risiko transfer (Transfer Risk )

Risiko transfer timbul akibat dari keputusan yang diambil oleh pemerintah asing untuk membatasi perpindahan modal. Pembatasan-pembatasan dapat menimbulkan kesulitan dalam pengembalian keuntungan, dividen dan modal. Karena sebuah pemerintahan dapat mengubah perpindahan modal setiap waktu, maka risiko transfer diterapkan dalam semua jenis investasi. Risiko transfer biasanya dianalisis sebagai sebuah fungsi dari kemampuan negara untuk menuai mata uang asing. Implikasi dari pengukuran ini adalah bahwa kesulitan menuai mata uang asing akan meningkatkan kemungkinan negara menerapkan beberapa bentuk kontrol terhadap modal yang ditanam. Perhitungan secara kuantitaif dari risiko ini sukar dilakukan karena keputusan untuk membatasi modal mungkin merupakan murni respon dari problem yang lain.  Sebagai contoh, keputusan pemerintah Malaysia untuk mengadakan kontrol modal dan memberlakukan nilai tukar yang tetap di tengah-tengah krisis Asia merupakan solusi politis untuk mengatasi persoalan nilai tukar.

Risiko transfer mengukur antara lain: rasio antara pembayaran hutang terhadap nilai ekspor atau terhadap nilai ekspor ditambah dengan nilai bersih investasi asing; jumlah dan struktur hutang asing terhadap pendapatan; cadangan mata uang asing dibagi dengan berbagai kategori impor, dan mengukur hal-hal yang berkaitan dengan kondisi keuangan saat ini.

1.3 Risiko nilai tukar (Exchange Rate Risk)

Risiko nilai tukar menyangkut perubahan nilai tukar yang tidak diharapkan misalnya semacam perubahan dari sistem nilai tukar tetap menjadi nilai tukar mengambang. Para pengembang teori ekonomi memberikan panduan bahwa analisis terhadap risiko nilai tukar ini dilakukan dalam periode waktu yang lebih panjang (lebih dari dua tahun). Dalam jangka pendek risiko terhadap nilai tukar ini dapat dieliminasi melalui mekanisme hedging dan pengaturan di masa datang.

1.4 Risiko lokasi (Location or Neighborhood Risk)

Risiko lokasi menyangkut di dalamnya efek ikutan yang disebabkan oleh persoalan di dalam sebuah kawasan, dalam rekanan dagang negara, atau di dalam negara-negara yang memilki karakteristik yang serupa. Karakteristik negara yang serupa memiliki kecenderungan untuk menularkan risiko seperti negara-negara Latin di tahun 1980-an dan negara-negara Asia di tahun 1997-1998. Risiko ini merupakan salah satu besaran yang sulit untuk diukur.

Salah satu metode yang termudah adalah dengan memperhitungkan lokasi geografis sebuah negara, mitra dagang, aliansi perdagangan internasional (seperti Eropa bersatu, NAFFA, dsb), ukuran negara, batas negara dan jarak dari negara yang memegang peranan penting dalam ekonomi atau politik di kawasan tersebut.

1.5 Risiko pemerintah yang berkuasa (Sovereign Risk)

Risiko pemerintahan yang berkuasa menyangkut tentang apakah sebuah pemerintahan bersedia atau mampu membayar hutang-hutangnya atau justru cenderung ingin ngemplang hutang tersebut. Risiko pemerintahan yang berkuasa berkaitan erat dengan risiko transfer seperti misalnya sebuah pemerintahan yang kehabisan dana akibat pengembangan yang tidak tepat dalam sistem pembayarannya. Risiko ini juga berkaitan dengan dengan risiko politik dalam hal pemerintah memutuskan tidak menghormati komitmen yang sudah disepakati karena alasan politis.

1.6 Risiko politik (Political Risk)

Risiko politik berkaitan dengan risiko akibat perubahan institusi politik yang menyangkut kontrol pemerintah dan faktor-faktor non ekonomis. Kategori risiko ini menyangkut potensi-potensi konflik internal dan eksternal., hubungan antara berbagai kelompok di dalam sebuah negara, proses pengambilan keputusan dalam pemerintahan, dan sejarah dari negara itu sendiri.

2. Korelasi Lawatan dengan Investasi

Dengan memahami variabel-variabel yang menyangkut tingkat risiko negara dalam investasi usaha di atas, tampak bahwa fokus utama yang menjadi pokok pijakan bagi pengusaha untuk menanamkan modalnya di sebuah negara adalah terutama menyangkut kondisi internal sebuah negara itu sendiri. Kondisi internal tersebut dapat diringkaskan terutama yang berkaitan dengan :

·         Kebijakan-kebijakan dasar pemerintah (kebijakan fiskal, moneter, distribusi kesejahteraan, pajak)

·         Potensi sumber daya alam

·         Kondisi keuangan (pembayaran hutang, pendapatan, ekspor, impor, dan cadangan devisa)

·         Kestabilan nilai tukar mata uang

·         Komitmen pemerintah dalam perjanjian dengan pihak lain

·         Potensi-potensi konflik internal dan eksternal dan hubungan antara berbagai kelompok di dalam sebuah negara

·         Proses pengambilan keputusan dalam pemerintahan

Oleh karena itu, pada tempatnya jika pemerintah memberikan prioritas untuk membenahi kondisi-kondisi dalam negeri yang menyangkut hal-hal riil tersebut di atas. Sedangkan loby-loby luar negeri dapat dilakukan berdasarkan skala prioritas dengan berpegang pada perbaikan kondisi dalam negeri. Para investor adalah binatang ekonomi yang tidak akan tergerak oleh hanya ungkapan-ungkapan manis di bibir, gala dinner, cocktail party, dan berbagai macam agenda celebrity lainnya sementara mereka dapat dengan jelas melihat kondisi lapangan melalui media masa on line, satelit, ‘informasi-informasi’ gelap maupun terang dari berbagai mailing list. Jadi, masih belum puaskah dengan berbagai ‘piknik’ yang telah dilakukan?

Read Full Post »

Title: A hybrid knowledge-based performance measurement system
Author(s): Mohammed Khurshid Khan, Dermawan Wibisono
Journal: Business Process Management Journal
Year: 2008 ,Volume: 14 ,Issue: 2

Page: 129 – 146

DOI: 10.1108/14637150810864899
Publisher: Emerald Group Publishing Limited

BUsiness Process Journal

BUsiness Process Journal


Document Access:

Purchase this document:
Price payable: GBP £13.00
plus handling charge of GBP £1.50 and VAT where applicable.
 

Abstract:

Purpose – This paper aims to present a hybrid knowledge based (KB) – analytic hierarchy process (AHP) – gauging absence of pre-requisite (GAP) analysis of performance measurement system (PMS) expert system (ES) model.
Design/methodology/approach – The KBPMS has been developed using the rule base approach of ESs. Full details are given for the customer perspective (CP). The KBPMS considers five levels of company performance: business perspective, CP, manufacturing competitive priorities perspective, internal process perspective and resource and method availability perspective. CP model of the KBPMS system, and thereafter the complete model is summarised for the different modules. Embedded within the KB is the ability to benchmark the PMS existing in a company to assist in the improvement process.
Findings – The validation of the hybrid KBPMS was confirmed through three real applications in the manufacturing industry sector: aircraft component manufacturing, electronics manufacturing and telecommunication products manufacturing. The results of the validation exercise indicate that the present hybrid KBPMS model is a suitable decision-making tool to assist the practitioners of PMS and provides consistent and detailed prioritised results for actions and improvements.
Research limitations/implications – Future research work could consider a larger sample size and cover a wider range of industry types, including services industry.
Originality/value – This paper presents an original and novel approach (KB/ES coupled with AHP and gap analysis) to designing and benchmarking PMS in a manufacturing environment.

Keywords:

Analytical hierarchy process, Gap analysis, Knowledge management systems, Performance management systems

 

Article Type:

Research paper

 

Article URL:

http://www.emeraldinsight.com/10.1108/14637150810864899

<!–AT Claritas – Rightslink Development Removed following lines of code – LP applying claritas change

Visit our reprints pages or e-mail reprints@emeraldinsight.com if you would like to purchase multiple reprints of this article.

For permission to reproduce or distribute copies of this article please e-mail permissions@emeraldinsight.com.

AT Claritas – END Rightslink Development–>

Top

Read Full Post »

Older Posts »