Feeds:
Pos
Komentar

Archive for September, 2008

FIRASAT

Saya sedang berbincang dengan istri saya selesai berbuka puasa malam itu. Saya katakan kepada istri saya, bahwa seorang senior saya dan sesama pendiri SBM ITB sedang terbaring di rumah sakit karena stroke ringan, kabarnya waktu itu mengatakan demikian. Tiba-tiba putri sulung saya keluar dari kamarnya dan nimbrung, “Papah-Mamah sedang membicarakan siapa? tanyanya. Teman Papah Ibu Nur?”

“Ya, kok kamu mencuri dengar pembicaraan orang tua?”

“Enggak Pah, soalnya kemarin malam saya bermimpi, saya dan Papah ke rumah Ibu Nur, beliau meninggal dunia…” kata anak saya polos.

“Astaghfirullah,……” sejujurnya saya kaget dan ingin sekali tidak percaya dengan apa yang dikatakan putri saya itu sambil terus berharap Ibu Nur akan segera sembuh dan bersama-sama kami lagi menuntaskan agenda reformasi yang masih banyak terbengkalai.

Apa yang dikatakan putri sulung saya itu hanya saya sampaikan kepada seorang kolega, Pak Dwi Larso, saat menguji Projek Akhir seorang mahasiswa MBA bimbingannya. Beliau menanggapi sambil lalu karena percaya bahwa dokter yang menanganinya sangat piawai dan sudah terbukti reputasinya selama ini. Dokter bedah syaraf alumni FK Undip yang menangani Bu Nur adalah kakak kelas Pak Dwi Larso di SMA Loyola dulu, dan kebetulan teman sekelas kakak kandung saya saat kuliah. Jadi saya pun tidak terlalu mengambil hati apa yang disampaikan putri sulung saya itu.

Tepat 9 hari sejak Ibu Nur mengalami koma, karena saat akan dioperasi mengalami kejang sesaat setelah dianestesi, beliau meninggal dunia. Meninggalkan kami, para juniornya yang seperti anak ayam kehilangan induk. Organisasi kehilangan equilibrium. Kehilangan keseimbangan, kehilangan seorang ibu yang dapat menjadi jembatan dan pengerem di saat adu argumentasi kehilangan kendali. kehilangan penyambung lidah para junior ke orang paling senior dalam organisasi. Saya lunglai dan begitu kosong.

Saya ingat apa yang dikatakan putri sulung saya itu. Firasat. Ya sudah dua kali firasat putri sulung saya itu betul-betul kemudian terjadi. Anak-anak, yang jujur, yang sholeh dan sholelah, tampaknya diberkahi kemampuan untuk merasakan apa yang orang tua tak dapat rasakan. Anak lelaki saya pun seringkali memberikan ‘pertanda’ jika akan terjadi segala sesuatu: misalnya saat kami sedang di Inggris, begitu rewelnya dia minta pulang dari sebuah tempat tepat jam 4 sore. Tak biasanya dia begitu rewel. Saat mobil saya start, ternyata mogok. Saya harus berlari sekian ratus meter ke bengkel, yang alhamdulillah hampir tutup saat saya sampai di pintunya dan minta tolong untuk membetulkan mobil itu. Jika saya terlambat sedikit saja, maka tukang bengkel itu sudah tak ada, dan mobil mungkin harus saya tinggal, di tepi hutan kecil, yang 90% mobil itu mungkin tak pernah akan ditemukan lagi karena di daerah itu catatan kriminal pencurian mobil memang sangat tinggi.

Anak-anak, seringkali lebih dapat ‘merasa’ dan ‘menangkap’ petunjuk-Nya dibandingkan dengan ‘orang tua’ yang sudah kadung banyak berbuat dosa dan terkontaminasi dengan berbagai agenda politis. Wallahu Alam

Iklan

Read Full Post »

Cover Depan

Cover Depan

 

Cover Belakang

Cover Belakang

Anda kesulitan menentukan jumlah sampel? Bingung menentukan apakah data yang anda ambil cukup atau tidak untuk diolah secara statistik? Atau justru kembali ke pertanyaan dasar: bagaimana riset bisnis dapat membantu secara akurat pengambilan keputusan anda, perlukah melakukan survey, observasi atau eksperimen? apakah riset yang anda lakukan akan memberikan secara signifikan benefit bagi organisasi anda? dan tentu masih berpuluh pertanyaan menggelayut di kepala anda. Temukan jawabanya di Buku Riset Bisnis ini.

Buku Riset Bisnis: Panduan Bagi Praktisi dan Akademisi ditujukan untuk para praktisi bisnis (oleh karena itu disusun dengan bahasa yang mudah dipahami dan simpel dengan contoh-contoh yang mudah diterapkan) dan akademisi, termasuk mahasiswa untuk membantu penyusunan skripsi, tesis, atau disertasi (oleh karena itu dilengkapi dukungan tools dan teori yang ada dasar ilmiahnya). Buku ini diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, sehingga mudah didapatkan di seantero toko buku tersebut di tanah air.

Selamat mengambil manfaat

Read Full Post »

(6) Sandal Yang Hilang

 

 

Tawaf merupakan ritual haji dengan mengelilingi Ka’bah berlawanan arah dengan jarum jam sebanyak tujuh kali. Saat saya harus melakukannya pertama kali, ada berbagai perasaan bercampur aduk: haru, bahagia, exiting, gempita, nelangsa, cemas dan was-was. Saya memulai tawaf dengan perasaan pasrah dan sikap yang awalnya ingin mengalah. Saya mengambil deretan lingkaran terluar dengan kuda-kuda dan tenaga seadanya, karena kami baru 3 jam lalu tiba di Mekah. Gelombang lautan jamaah dengan do’a membahana bergema ke segenap penjuru angin. Jamaah-jamaah bertubuh besar mulai unjuk gigi dan percaya diri dengan menabrak jamah-jamah kecil, untuk mendekat ke lingkaran dalam menuju jarak terdekat hajar aswad. Saya tak hendak melawan, dorongan arus yang kadang membabi buta sambil tergumam dari bibir mereka do’a dan mengatasnamakan panggilan-Nya. Badan saya yang terdorong ke sana kemari, dengan kepala bergoyang ke kiri dan ke kanan, saya ikuti saja, seperti jurus pendekar mabuk. Badan saya lemaskan, bagai penari gambyong, agar tenaga saya tak tersedot karena melawan otot-otot gempal, hitam dan keras.

 

Brett…. Tas punggung tempat sandal, sajadah dan air minum saya terseret dari punggung, sobek dan memuntahkan semua isinya. Sandal hitam kesayangan yang saya beli dari Toko Ada di Semarang dan sudah 3 tahun tak berganti itu, lenyap. Saya tak hendak mengambilnya, kecuali akan terinjak-injak di tengah jamaah dan bisa jadi akan pulang ke Indonesia tinggal nama.

 

Selesai tawaf, saya shalat sunah di depan Maqom Ibrahim, dan khusuk berdo’a di daerah garis lurus area Multazam, area antara pintu Ka’bah dan sudut Ka’bah. Saya pejamkan mata dan di akhir do’a, saya membayangkan sambil bermohon dalam hati:” Ya Allah, jika memang benar ini adalah Multazam, tempat terkabulnya segala do’a, aku ingin pembuktiannya ya Allah. Sandal kesayanganku hilang, aku ingin sandal itu kembali tanpa aku harus mencarinya, atau gantilah dengan yang lebih baik. Kemarin saya melihat sandal yang bagus sekali di toko Arab yang kami lewati, sandal yang berwarna putih bersih dan begitu nyaman jika dipakai…….” Sejujurnya saya geli saat mengucapkan do’a itu, dan merasa saya ini orang yang pelit dan tidak ikhlas, sandal yang sudah 3 tahun saja kok masih diratapi kehilangannya, minta ganti lagi…….dasar anak bandel, katrok dan celelekan…..

 

Perlahan saya buka mata, dan…….sungguh ajaib: …..

Sepasang sandal putih seperti yang saya bayangkan ada di depan saya, di depan tempat saya bersimpuh, sementara para jamaah sudah agak sepi berlalu lalang. Sandal siapakah ini? Bolehkah saya mengambilnya? Tidakkah termasuk mencuri mengambil barang yang bukan miliknya? Jauh-jauh terbang dari Indonesia ke Mekah, hanya mencuri sandal, betapa ruginya?

 

Saya menoleh ke kiri-ke kanan berkali-kali. Terjadi perang batin: mengambil-tidak-mengambil-tidak-mengambil-tidak. Inikah jawaban Allah atas do’a yang kupanjatkan ataukah aku sedang diuji? Luar biasa takutnya saya, jika ternyata ini hanyalah sebuah ujian. Saya tinggalkan sandal putih itu tanpa menoleh lagi, saya berjalan pulang tanpa alas kaki. Menuju ke Mahtab, penginapan, untuk segera menemui istri yang terbaring sakit flue Arab. Hanya onta yang terhindar dari flue dan batuk di Arab Saudi, konon kabarnya.

 

Di lorong jalan tempat saya mesti menuju ke Mahtab, terjadi pertemuan arus, antara orang yang pulang dan yang akan menuju ke kabah. Lorong jalan yang tidak lebih dari 10 meter lebarnya dengan sisi kiri kanannya penuh dengan toko kaki lima itu penuh sesak, saling dorong. Semrawut tak karuan. Kaki terinjak-injak, baju sobek-sobek saling bergayut, sandal-sandal saling terinjak, bedat dan bertebaran. Jalanan hitam membuat celana, dan baju-baju putih penuh berlumuran debu yang menghitam: campuran debu, oli jalan dan asap kendaraan bermotor.

 

Saya sampai di Mahtab dalam lelah dan banjir keringat. Beberapa kawan jamaah saya temui terduduk di tangga Mahtab dengan celana menghitam sebatas lutut, beberapa baju sobek dan hampir semuanya tak memakai sandal. Mereka memandang saya dengan pandang mata heran: celana putih murahan yang saya beli dari Pasar Baru Bandung dengan baju koko putih dari kain blacu yang saya kenakan, tampak bersih tak terkena noda sedikitpun, kaki sayapun tak sekotor mereka. Tak ada bekas terinjak, kecuali telapak kaki saya saja yang tak terlalu kotor. Tak ada oli menghitam di sana, tak ada Lumpur tanah yang melekat.

 

Saya bersimpuh dalam haru, takjub dan bahagia.

Saya tidak ingin ditunjukkan apa-apa, tak ingin menguji keberadaan-Nya (seperti yang sering dilontarkan sebagian teman-teman saat di Arab Saudi itu) dan tak ingin menantang-Nya. Sudah terlalu sering dan terlalu banyak saya mendapatkan kemudahan dan rahmatNya.

Read Full Post »

Kontradiksi

Hari ini, di koran Kompas, 16 September 2008 diberitakan ada dua puluh satu orang meninggal dunia karena terhimpit saat antri pembagian zakat, sebesar Rp. 20.000, untuk sekedar buka puasa. Sementara itu, di Bandung, Jakarta, Padang, dan banyak kota-kota besar lagi lainnya di Indonesia, banyak keluarga dan anak-anak muda berderet antre memarkir mobilnya untuk berbuka puasa di restoran yang mereka suka. Saat bedug ditabuh dan adzan maghrib berkumandang, anak-anak muda itu berbuka dengan ceria, merokok dengan semena-mena, dan dengan ringan membayar menu makan yang ratusan ribu itu sambil tangan kirinya mengelus-elus rambutnya yang terjurai ke sana kemari tak beraturan laksana orang belum mandi atau yang perempuan membetulkan kaos pendeknya yang memperlihatkan pinggangnya yang tak putih dan bahkan kadang sebagian pantatnya yang terlihat, karena celana dalamnya, yang tidak baru lagi itu,  dan celana jeans belelnya tak cukup mengcovernya. Betul-betul mengurangi selera makan.

Sebuah kontradiksi!

Kontradiksi dalam hati juga saya alami setiap datangnya bulan ramadhan seperti ini.

Perasaan mendua saya alami setiap kali menerima undangan berbuka puasa bersama.  Pertama, sejujurnya saya merasa tidak pada tempatnya berbuka puasa dengan penuh seremonial dengan berbagai hidangan, yang seringkali berlebihan menurut ukuran saya dari sisi menu, maupun harga. Kedua, ada makna yang hilang menyelinap di dada, seolah puasa satu hari itu saya jalani tanpa rasa ikhlas dengan cara melakukan ‘balas dendam’, melahap buka bersama dengan makan yang harus enak, harus banyak. Ketiga, saya takut tidak peka dan jika terus menerus saya lakukan hati ini akan membatu tak lagi memperdulikan perasaan orang-orang yang dengan terpaksa harus antri seperti dalam pembuka tulisan ini.

Perasaan kedua adalah kebutuhan untuk silaturahmi. Sulit sekali menolak undangan buka puasa bersama semacam itu dengan mengungkapkan alasan seperti yang saya rasakan di atas, kecuali kita sanggup dicap sebagai orang yang sok, belagu, nganeh-anehi dan asosial. Padahal yang mengundang adalah teman-teman dekat, kolega kantor, dan apalagi acara dibumbuhi dengan siraman rohani, pembacaan ayat suci, dan pembagian bingkisan untuk anak yatim-piatu.

Rasanya hidup sudah menjadi bagian dari mode. Tanpa kita boleh tahu mengapa harus begitu dan tidak bolehkah jika kita tidak mau mengikutinya.

Lima belas hari telah terlewati, begitu takutnya saya menghitung hari: jangan-jangan saya tidak mendapatkan apa-apa di bulan puasa ini, kecuali lapar dan dahaga sepanjang setengah hari.

 

 

 

Read Full Post »

Ada yang mengirimkan kumpulan humor ini empat tahun lalu, ngak tahu siapa yang ngarang, saya share untuk relaks menunggu buka puasa

———————————————————–

KORAN


Si Tina ( umur 8 tahun ) di suruh ibunya menjaga adiknya yang sedang bermain, karena ibunya sedang memasak. Ketika sedang bermain, si bayi makan koran hampir habis 1 halaman.
Tentu saja si Tina kaget.
Tina :”Ibu si Adik makan koran sampe mau habis !”.
Ibu :”Appaaaa!, dengan kagetnya sambil berlari dan merebut sisa Koran yang ada.
Lalu dengan tenangnya si ibu menjawab.
Ibu :”Nggak apa- apa kok itu koran bekas, kirain koran yang baru ibu beli”

—————————————————————————-

LETAK


Dodo sepulang dari sekolah bercerita pada babenya yang nggak pernah sekolah
“Be..tadi aye dimarahin ama pak guru.”
“Emang loe salah ape Do..”
“Tadi aye kagak bisa jawab pertanyaan pak guru.”
“Emang loe ditanye ape..?”
“Pak guru tanye..dimana letaknya Washington..”
“Mangkenye Do..laen kali kalo’ loe ngeletakin sesuatu jangan ampe lupe letaknye.”

—————————————————————————-

ADA TUTUPNYA


Kejadian ini terjadi pada suatu terminal bis ketika menjelang Lebaran. Kala itu terminal penuh sesak, sehingga untuk berjalan pun sulit. Seorang gadis, dengan susah payah akhirnya dapat mencapai sebuah bis yang masih kosong dan duduk di dalamnya sambil menunggu bis  diberangkatkan. Akan tetapi tiba-tiba si gadis merasa kebelet ingin buang air kecil, karena
terminal penuh sesak, akhirnya si gadis terpaksa pipis di tempat duduk bis tersebut.
Tak lama kemudian datang seorang bapak yang hendak duduk disebelah gadis tersebut. Melihat tempat duduknya basah, maka sang bapak pun bertanya :
Bpk: Maaf mbak . . , mengapa tempat duduk ini basah ?
Gadis: Oh . . maaf, ini . . anu . . , minyak wangi saya tadi tumpah. .,engga ada tutupnya . . . .
Kemudian sang bapak tadi mengeluarkan sapu tangannya dan mulai membersihkan tempat duduk itu. Akan tetapi curiga dengan baunya yang lain, maka diciumnya sapu tangan itu  . . .
Akhirnya sambil tersenyum sang Bapak itu berkata :
” Wah . . . mbak, kalo minyak wangi yang seperti ini sih, saya punya
tutupnya !”

—————————————————————————-

MUSUH


“Lapor, Komandan…tiga orang musuh sudah berhasil saya tembak mati di
tempat.”
“Bagus. Lalu, mana kesepuluh temanmu?”
“Ditembak mati musuh, Komandan!”

—————————————————————————-

TAKSI GELAP


“Pak, tolong saya Pak… saya habis ditodong oleh sopir taksi gelap yang membawa saya dari bandara!
“Seperti apa ciri-ciri wajah sopir itu?”
“Yaah, namanya saja taksi gelap, Pak..mana bisa saya lihat wajahnya Pak.”

—————————————————————————-

KETURUNAN


Pulang sekolah, sambil berlari-lari Romi mendapati ibunya sambil bertanya:
“Bu, Pak Guru tadi bilang, sebenarnya kita ini keturunan monyet. Apa benar begitu, Bu?”
“Enggak tahu juga,” sahut ibunya enggan. “Wong … ibu belum mengenal semua keluarga ayahmu!”

—————————————————————————-

TUSUK GIGI

Seorang majikan marah-marah soalnya tusuk gigi di meja makannya cepet banget habis.
“Bik, apakah Bibik sering mengambil tusuk gigi? Tiap hari kok makin berkurang?!” tanya sang majikan pada pembantunya. Sambil sedikit gemetar si pembantu menjawab, “Wah, bukan saya tuan, wong saya kalau habis pakai tusuk gigi pasti saya kembalikan ke tempatnya lagi.”

—————————————————————————-

BUANG AIR

Di sebuah WC umum tertulis: Buang Air Kecil Rp. 2.000,- ; Buang Air Besar Rp. 1.000,-
“Wah gila, mahal juga kencing di sini. Ah, bilang aja buang air besar. Penjaganya nggak tahu ini, ah,” batin Eko yang lagi kebelet. Setelah selesai, ia keluar dan menghampiri penjaga toilet.
“Bang, buang air besar, Bang,” kata Eko sambil menyodorkan selembar duit ribuan.
“Wah, kurang Bang!” jawab si penjaga toilet.
“Kok bisa? Di situ kan ditulis kalo buang air besar bayarnya cuman seribu perak!”
“Gini Bang, kalo Abang buang air besar pasti dibarengi buang air kecil, tapi kalo buang air kecil nggak mungkin barengan sama buang air besar!”
“Jadi?”
“Ongkosnya 3.000 perak, Bang!”

—————————————————————————-

KAKEK DAN ANAK PUNK


Seorang kakek tengah duduk di bangku taman sambil menikmati indahnya sore hari. Tiba-tiba seorang anak muda bergaya punk duduk di sebelah si kakek. Rambut anak muda itu dicat kuning dan hijau, sementara rambut-rambut yang berdiri dicat oranye dan ungu. Di sekeliling matanya dikasih warna hitam. Kakek-kakek itu bengong menatap si anak punk.

Merasa terganggu oleh tatapan si kakek, si pemuda punk bertanya, “Eh, Kek, kenapa liat-liat? Emangnya dulu waktu muda nggak pernah gila-gilaan ya?!”

Setelah menarik napas dalam, si kakek menjawab, “Tentu saja pernah. Dulu aku pernah mabuk berat, dan ketika mabuk itulah aku memperkosa seekor burung kakatua. Aku lagi bertanya-tanya, jangan-jangan kamu adalah anakku.”

Read Full Post »

Ada yang mengirimkan lesson learned di balik film Kungfu Panda yang ada baiknya saya share kepada anda karena memang isinya sangat baik.

——————————————————————————–

KUNG FU PANDA

 

Po , si Panda jantan, yang sehari-hari bekerja di toko mie ayahnya, memiliki impian untuk menjadi seorang pendekar Kung Fu. Tak disangka, dalam pemilihan Pendekar Naga, Po dinobatkan sebagai Pendekar Naga yangdinanti-nantikan kehadirannya untuk melindungi desa dari balas dendam Tai Lung.

Saat menonton film animasi ini, kita seperti diingatkan tentang beberapa hal:

1.
The secret to be special is you have to believe you’re special.


Po hampir putus asa karena tidak mampu memecahkan rahasia Kitab Naga, yang hanya berupa lembaran kosong. Wejangan dari ayahnya-lah yang akhirnya membuatnya kembali bersemangat dan memandang positif dirinya sendiri. Kalau kita berpikir diri kita adalah spesial, unik, berharga kita pun akan punya daya dorong untuk melakukan hal-hal yang spesial. Kita akan bisa, kalau kita berpikir kita bisa. Seperti kata Master Oogway, You just need to believe

 

2. Teruslah kejar impianmu.


Po , panda gemuk yang untuk bergerak saja susah akhirnya bisa menguasai ilmu Kung Fu. Berapa banyak dari kita yang akhirnya menyerah, gagal mencapai impian karena terhalang oleh pikiran negatif diri kita sendiri? Seperti kata Master Oogway, kemarin adalah sejarah, esok adalah misteri, saat ini adalah anugerah, makanya disebut Present, hadiah. Jangan biarkan diri kita dihalangi oleh kegagalan masa lalu dan ketakutan masa depan. Ayo berjuanglah di masa sekarang yang telah dianugerahkan Tuhan padamu.

 

3. Kamu tidak akan bisa mengembangkan orang lain, sebelum kamu percaya dengan kemampuan orang itu, dan kemampuan dirimu sendiri.


Master ShiFu ogah-ogahan melatih Po. Ia memandang Po tidak berbakat. Kalaupun Po bisa, mana mungkin ia melatih Po dalam waktu sekejap. Kondisi ini berbalik seratus delapan puluh derajat, setelah ShiFu diyakinkan Master Oogway -gurunya- bahwa Po sungguh-sungguh adalah Pendekar Naga dan Shi Fu satu-satunya orang yang mampu melatihnya.

Sebagai guru atau orang tua, hal yang paling harus dihindari adalah memberi label bahwa anak ini tidak punya peluang untuk berubah. Sangatlah mudah bagi kita untuk menganggap orang lain tidak punya masa depan. Kesulitan juga acap kali membuat kita kehilangan percaya diri, bahwa kita masih mampu untuk membimbing mereka.

 

4.Tiap individu belajar dengan cara dan motivasinya sendiri.


Shi Fu akhirnya menemukan bahwa Po baru termotivasi dan bisa mengeluarkan semua kemampuannya, bila terkait dengan makanan. Po tidak bisa menjalani latihan seperti 5 murid jagoannya yang lain.

Demikian juga dengan setiap anak. Kita ingat ada 3 gaya belajar yang kombinasi ketiganya membuat setiap orang punya gaya belajar yang unik. Hal yang menjadi motivasi tiap orang juga berbeda-beda. Ketika kita memaksakan keseragaman proses belajar, dipastikan akan ada anak-anak yang dirugikan.


5. Kebanggaan berlebihan atas anak/murid/diri sendiri bisa membutakan mata kita tentang kondisi sebenarnya, bahkan bisa membawa mereka ke arah yang salah.

Master ShiFu sangat menyayangi Tai Lung, seekor macan tutul, murid pertamanya, yang ia asuh sejak bayi. Ia membentuk Tai Lung sedemikian rupa agar sesuai dengan harapannya. Memberikan impian bahwa Tai Lung akan menjadi Pendekar Naga yang mewarisi ilmu tertinggi. Sayangnya Shi Fu tidak melihat sisi jahat dari Tai Lung dan harus membayar mahal, bahkan nyaris kehilangan nyawanya.

Seringkali kita memiliki image yang keliru tentang diri sendiri/anak/murid kita. Parahnya, ada pula yang dengan sengaja mempertebal tembok kebohongan ini dengan hanya mau mendengar informasi dan konfirmasi dari orang-orang tertentu. Baru-baru ini saya bertemu seorang ibu yang selama 14 tahun masih sibuk membohongi diri bahwa anaknya tidak autis. Ia lebih senang berkonsultasi dengan orang yang tidak ahli di bidang autistik. Mendeskreditkan pandangan ahli-ahli di bidang autistik. Dengan sengaja memilih terapis yang tidak kompeten, agar bisa disetir sesuai keinginannya. Akibatnya proses terapi 11 tahun tidak membuahkan hasil yang signifikan. Ketika kita punya image yang keliru, kita akan melangkah ke arah yang keliru.

 

6. Hidup memang penuh kepahitan, tapi jangan biarkan kepahitan tinggal dalam hatimu.


Setelah dikhianati oleh Tai Lung, Shi Fu tidak pernah lagi menunjukkan kebanggaan dan kasih sayang pada murid-muridnya. Sisi terburuk dari kepahitan adalah kita tidak bisa merasakan kasih sayang dan tidak bisa berbagi kasih sayang.

 

7. Keluarga sangatlah penting.


Di saat merasa terpuruk, Po disambut hangat oleh sang ayah. Berkat ayahnya pula Po dapat memecahkan rahasia Kitab Naga dan menjadi Pendekar nomor satu. Sudahkah kita memberi dukungan pada anggota keluarga kita?

 

Read Full Post »

Samson Kota

Read Full Post »

Older Posts »