Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Februari, 2009

The Willingness to Change
 
 
 When I was young & free
  and my imagination had no limits
  I dreamed of changing the WORLD
  
  As I grew older & wiser,
  I discovered the world would not chane,
  so I shortened my sights somewhat
  and decided to change only MY COUNTRY
  
  But it seemed immovable.
  
  As I grew into my twilight years,
  in one las desperate attempt,
  I settled for changing only MY FAMILY,
  those closest to me, but alas,
  they would have none of it.
  
  And now as I lay on my deathbed
  I suddently realised:
  ......................
  "If I had only changed MYSELF first,
  then by example I might have changed MY FAMILY.
  From their inspoiration and encouragement,
  I would then have been able to better MY COUNTRY,
  and who knows, I may have even change THE WORLD".
  ..............................................
  (From house of ideas, 1997)

Iklan

Read Full Post »

Apa arti sebuah nama

Ada yang iseng dan kretif mengirim email ini sekian tahun yang lalu. Rileks buat refreshing:

——————————————

Dibalik nama-nama pria Jawa sesungguhnya terungkap harapan tertentu dari orang tuanya, agar si anak kelak menjadi seperti yang diharapkan.

Contoh:

Agar anak pandai menanam bunga, diberi nama Rosman.
Agar anak pandai memperbaiki mobil, diberi nama Karman.
Agar pandai main golf, Parman.
Agar pandai dalam korespondensi, Suratman.
Agar gagah perkasa, Suparman.
Agar kuat dalam berjalan, Wakiman.
Agar berani bertanya, Asman.
Agar ahli membuat kue, Paiman.
Agar pandai berdagang, Saliman.
Agar pandai melukis, Saniman.
Agar jadi orang kaya, Sugiman,
Agar pandai cari muka nantinya, Yasman.
Agar suka begituan, Pakman.
Agar suka makan toge goreng, Togiman.
Agar selalu ketagihan, Tuman.
Agar suka telanjang, Nudiman.
Agar selalu sibuk terus, Bisiman.
Biar pinter main game, Giman.
Biar bisa sering cuti, Sutiman.
Biar bisa jadi juragan sate, Satiman.
Biar bisa jadi juragan trasi, Tarsiman.
Biar pinter memecahkan problem, Sukarman.
Biar kalau ujian ndak usah mengulang, Herman.
Biar pinter bikin jus, Yusman.
Biar jadi orang berwibawa, Jaiman.
Biar jadi pemain musik, Basman.
Biar awet muda, Boiman.
Biar pinter berperang, Warman.
Biar jadi orang Bali, Nyoman.
Biar jadi orang Sunda, Maman.
Biar lincah seperti monyet, Hanoman.
Biar jadi orang Belanda, Kuman.
Biar tetep tinggal di Yogya, Sleman.
Biar jadi tukang sepatu handal, Soleman.
Biar tetep bisa jalan walau ndak pake mesin, Delman.

Read Full Post »

MIT vs Harvard

Di depan MIT, Cambridge

Di depan MIT, Cambridge

 

Di dalam ruang kelas MIT, Cambridge

Di dalam ruang kelas MIT, Cambridge

John Harvard,Pendiri University of Harvard,Cambridge, USA

John Harvard,Pendiri University of Harvard,Cambridge, USA

KOmpleks Kampus Harvard University

KOmpleks Kampus Harvard University

Read Full Post »

Doa Seorang Slamet

Doa seorang Slamet

Slamet masuk ke toko obat dan membeli sebiji kondom. Dengan riang dia
bilang kepada pemilik toko bahwa sebentar lagi dia akan makan malam di
rumah pacarnya. “Bapak kan tahu sendiri, biasanya setelah itu kan ada
kelanjutannya”, tambah slamet sambil menyeringai. Kondom pun berpindah
tangan.

Baru beberapa langkah ke luar toko, dia kembali masuk. “Saya minta satu
lagi”, katanya. “Adik pacar saya juga cantik. Agak genit pula. Saya rasa
dia juga naksir saya. Siapa tahu malam ini saya mujur…”. Kondom kedua
berpindah
tangan.

Slamet kembali masuk dan minta tambahan satu kondom lagi. “Begini, ibunya
juga tak kalah seksi. Penampilannya jauh lebih muda dari usianya. Dan
kalau duduk di depan saya, dia selalu menyilangkan kaki. Saya yakin dia
juga tak keberatan kalau saya dekati…”.

Dengan berbekal tiga kondom, Slamet datang ke rumah pacarnya sambil tak
putus bersiul. Sajian sudah siap. Pacar Slamet, adik dan ibunya sudah
menunggu. Slamet pun langsung bergabung. Mereka menunggu sang ayah.

Begitu sang ayah masuk ke ruang makan, Slamet langsung memimpin doa sambil
menunduk dalam-dalam. Yang lain-lain ikut menundukkan kepala.

Satu menit berlalu. Slamet makin khusuk berdoa. Dua menit. Slamet terus
komat-kamit — cukup panjang untuk sebuah doa sebelum makan.

Pada menit keempat, pacarnya menyenggol kakinya dan berbisik, “Saya baru
tahu kamu ternyata sangat religius”.

Sambil terus menunduk, Slamet menjawab dengan suara hampir menangis:
“Saya juga baru tahu ayah kamu yang punya toko obat….”

 

Read Full Post »

Over Confidence

Saya tidak tahu persis apa yang membuat Amerika Serikat (AS) berhasil menjadikan warga negaranya begitu percaya diri dan kadang bahkan terkesan  arogan. Jika keberhasilan membuat kepala mendongak itu hanya berlaku bagi warga negaranya sendiri, saya tak akan terlalu ambil peduli. Tetapi keberhasilan itu ditularkan kepada siapa saja yang sempat bermukim, sekolah atau bahkan sekedar mencicipi makanan ala Amerika. Tak kurang dari pegawai di kedubesnya sampai ke level securitynya.

Jika anda akan mencari visa di Kedubes Amerika Serikat,dekat stasun Kereta Api Gambir itu,  sudah pasti anda akan disuruh antri di bawah jembatan layang, lima ratus meter dari gerbang kedubes, padahal trotoar panjang di sisi gedung itu sepi dan nanti juga akan anda lewati sebelum masuk pintu gerbang yang digembok setiap lima orang antrian masuk, dan dibuka lagi saat lima orang berikutnya giliran masuk pula. Saya kasihan melihat security, yang orang Indonesia asli itu, yang terpaksa pasang tampang sangar, padahal kerjanya cuma buka tutup pintu gerbang bercat hitam dengan gulungan kawat berduri di atasnya. Kaya pintu kuil Shaolin. Hitam menyeramkan.

Banyak orang Indonesia yang antri itu menggerutu dengan perlakuan security itu yang bahkan mengundang keheranan seorang ibu-ibu tua dari Filipinayang antri di belakang saya. Mengapa mereka harus kasar dan ketus? kalau terhadap kami yang orang asing tidak masalah, bukankah ini negara anda sendiri. Isin aku, isin tenan….sama orang Filipina itu yang paham benar beda antara tegas dan angkuh.

Orang-orang yang antri itu begitu nelangsa di rumah sendiri, padahal mereka membayar 1,5 juta per orang baik nanti dapat visa atau tidak. Lha orang mau ngasih duit kok ya disengol dan disengaki to ya. Ini di mana letak customer satisfaction yang banyak dibahas di buku teks keluaran Amerika itu. Kalau anda nggak terima dengan perlakuan kurang bersahabat itu, anda boleh juga beradu argumen: “Mas, ngapain kita antri di bawah jembatan, dekat tumpukan sampah, diguyur hujan, kalau toh nanti juga jalan di trotoar sebelah kedubes itu, kenapa nggak di sana saja antrinya. Kayak kedubes Paris yang di London itu lho Mas, yang antriannya begitu panjang  kayak ular sepanjang trotoar yang berbelak-belok..?’

Ditanggung 100% anda akan kalah beradu argumen dengan securitynya itu, karena mereka bawa pistol dan dengan garang mengusir seolah berkata: “jangan dekat-dekat kedubes, wong kamu kudisan gitu kok..!” Dan security itu orang Indonesia asli, yang dari namanya kebanyakan Jawa, yang padahal genetika aslinya mestinya tidak pantas berperilaku begitu kepada sesamanya, sesama orang Indonesia.

Lepas dari security, anda akan masuk ke loket kasir, yang tidak kalah ketus dalam memberi tahu dan memperlakukan orang. Semua digebyah uyah, disamaratakan, dianggap kita semua ini orang pelosok yang tidak berpendidikan, apalagi pernah ke luar negeri. Mereka akan ngasih tahu dengan berteriak-teriak, seolah kuping yang dikasih tahu itu kesumpelan cutton but yang lupa dilepas di pagi hari. “Diisi sejak anda smp, smp nya di mana, sma, sma di mana, namanya apa, jalan apa, kota apa…!” walaaah mau ke LN aja kok ditanya SMP dan SMA nya di mana segala. Apa korelasinya. Lha orang Indonesia itu kalau masih SMP ya kecil-kecil dan nggak punya nyali. Masih kurus kering, itheng thuntheng, kurang gizi kae lho. Beda dengan orang Bule atau Arab yang sudah gagah, sudah berkarakter atau sudah berprinsip: kalau mau jadi teroris ya teroris beneran, kalau mau ngaco ya sembada. Berani bertanggung jawab. Lha anak SMP di Indonesia, sekali dipithing dan dijenggit ujung rambutnya saja sudah teriak-teriak ngadu ke orang tuanya kok. Jadi ya nggak perlu nanya SMP segala. Apalagi kolomnya sempit, kalau sudah diisi S1, S2, S3, Post Doc, pendidikan tambahan, training….wah wis kebak, nyumpel nggak cukup….Untungnya orang Indonesia kebanyakan ya low profile. Wis diterima saja.

Nah ya sudah, itu orang Indonesia yang bekerja di kedubes AS. Lha apalagi yang alumni AS. Wah ya pasti akan lebih nggembelo. Pede abis. Dibanding lulusan Jepang, Australia, atau Inggris sekalipun, lulusan AS ini kebanyakan lho ya, tahu semangkok ya ngomongnya kayak tahu sebakul. Tahu sesendok ya kayak tahu sak dandang. Munjung kae. Tapi bagusnya mereka ini bisa membuat rekan-rekannya optimis, memandang dunia begitu terang, dalam genggaman. Walaupun kenyataannya ya embuh, wong donya bukan punya kita. Punya gusti Allah, ya terserah Gusti Allah saja takdirnya. Nggak perlu sok-sokan akan menentukan arah perputaran dunia. Dan Amerika bangkrut sekarang.

Nah saya sekarang ada di Boston tempat claim universitas terbaik di dunia berada, ada Harvard, ada MIT, ada Babson, ada Boston. Ya banyak.  Kebetulan Harvard mengadakan temu mahasiswa sedunia yang dihadiri 3.000 anak S1 dari seluruh universitas di dunia untuk simulasi sidang umum PBB. Hajatan ini sudah ada sejak 1955 dan sekarang menuai sukses dengan banyaknya peserta itu. Padahal komite pelaksananya ya anak-anak kecil dari Harvard itu yang jumlahnya tak lebih dari 10 orang. Pinter jualan ini memang orang Amerika. Mereka seolah-olah bersidang membicarakan masalah kemiskinan, lingkungan, peburuhan dan segala macam isu yang dialami terutama oleh negara-negara miskin. ‘Bagusnya’ adalah mereka membahas kemiskinan dan kesengsaraan itu dengan dress code formal, jas, dasi, long john, sweater, dan acara akan diakhiri dengan dansa dan minum bir, bagi yang mau. Kontradiksi to?…yo gak apa-apa, lha namanya dagang kok. Dari hajatan semacam ini, anak-anak kecil Harvard itu sudah mendatangkan berapa banyak devisa termasuk menghidupi hotel, toko souvenir dan pedagang fish & chips di sana. Belum lagi bahwa mereka yang hadir ini, merupakan calon-calon diplomat dan pemimpin masa depan negara masing-masing yang secara potensi mumpuni, sehingga dalam mapnya pun serta merta ada penawaran sekolah lanjut ke Harvard. Tentu harus lulus test dan mbayar mahal. Sekali lagi, saluuuut atas kepiawaian dagang dan menjerat bakat-bakat terbaik.

Oleh-olehnya apa dari  Boston?

Boyok pegel, karena harus mengarungi 30 jam perjalanan dan lesson learned, bahwa kemasan seringkali menjadi lebih penting dari produknya, dan kapan ya kita mampu untuk tidak selalu menjadi konsumen saja, tetapi jadi pelakunya. Bagi mahasiswa yang kesana? ya pasti ada.Paling tidak untuk bisa sekedar mengatakan’ ah ternyata kalau kepinteran ya nggak jauh-jauh amat, hanya masalah bahasa dan kepercayaan diri saja sebenarnya’…itu thok, perlu biaya mahal. Dan satu lagi: bagaimana bersikap dewasa, concern pada sesama dan yang utama……tertawa pada timing yang tepat. Selain tentu masalah skill dan knowledge yang harus cepat diupdate, dengan cepat memahami masalah, mendown load hasil riset terkini yang berkaitan dan menyampaikannya sebagai resolusi yang diterima audience, yang walau pura-pura, kalau orang bule serius juga. Maunya semua duduk di depan dan mendahului bicara.

 

 

Read Full Post »