Feeds:
Pos
Komentar

Archive for November, 2009

1. Buku Akademis

 

Riset Bisnis

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2003)

Pengarang: Dr. Dermawan Wibisono

Cocok bagi: Mahasiswa Ekonomi, Manajemen, Bisnis, Teknik Industri dan Praktisi

Manajemen Kinerja: Konsep, Desain dan Teknik Meningkatkan Daya Saing Perusahaan

Penerbit: Erlangga (2006)

Pengarang: Dr.Dermawan Wibisono

Cocok bagi: Praktisi (direktur & manajer) & akademisi (S1,S2,S3, di bidang Manajemen, Bisnis, Ekonomi, Teknik Industri)

2. Fiksi

Sang Juara: Teka-teki Hilangnya Shirley

Penerbit: Zip Book (MQ group) – 2008

Pengarang: Dr. Dermawan Wibisono

Cocok bagi: anak-anak SD, SMP dan orang tua.

Genre: Drama-petualangan

Setting cerita: Inggris

Gading-gading Ganesha (3G): Bahwa Cinta Itu Ada

Penerbit: Ganesha Creative Industri & Mizan (2009)

Cocok bagi: SMU, Mahasiswa, pekerja, ibu rumah tangga

Genre: Drama-Komedi-kejuangan-ketokohan-religi

Setting cerita: Trenggalek, Siantar, Bandung, ITB, Jakarta, Padang, Surabaya, Melbourne

Menggapai Matahari

Menggapai Matahari

Penerbit: Sedang dalam proses evaluasi penerbit untuk terbit 2010

Pengarang: Dr. Dermawan Wibisono

Genre: drama-kejuangan-persahabatan-ketokohan-cinta

Cocok bagi: anak SD,SMP, SMU, Universitas, Pekerja, ibu rumah tangga

Setting: Semarang, London, Surabaya

Iklan

Read Full Post »

Ada dua tulisan menarik dari someone else yang saya sharing di sini untuk diambil hikmahnya

—————————————

PIDATO ANAK 12 TH YANG MEMBUNGKAM PARA PEMIMPIN DUNIA DI PBB

Cerita ini berbicara mengenai seorang anak yg bernama Severn Suzuki, seorang anak yg pada usia 9 tahun telah mendirikan Enviromental Children’s Organization ( ECO ). ECO sendiri adalah sebuah kelompok kecil anak yg mendedikasikan diri untuk belajar dan mengajarkan pada anak” lain mengenai masalah lingkungan. Dan mereka pun diundang menghadiri Konfrensi Lingkungan hidup PBB, dimana pada saat itu Severn yg berusia 12 Tahun memberikan sebuah pidato kuat yg memberikan pengaruh besar ( dan membungkam ) beberapa pemimpin dunia terkemuka. Apa yg disampaikan oleh seorang anak kecil ber-usia 12 tahun hingga bisa membuat RUANG SIDANG PBB hening, lalu saat pidatonya selesai ruang sidang penuh dengan orang terkemuka yg berdiri dan memberikan tepuk tangan yg meriah kepada anak berusia 12 tahun. Inilah Isi pidato tersebut: (Sumber: The Collage Foundation) Halo, nama Saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O – Enviromental Children Organization Kami adalah kelompok dari Kanada yg terdiri dari anak-anak berusia 12 dan 13 tahun, yang mencoba membuat perbedaan: Vanessa Suttie, Morga, Geister, Michelle Quiq dan saya sendiri. Kami menggalang dana untuk bisa datang kesini sejauh 6000 mil untuk memberitahukan pada anda sekalian orang dewasa bahwa anda harus mengubah cara anda, hari ini di sini juga. Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan masa depan bagi diri saya saja. Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum atau rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi semua generasi yg akan datang. Saya berada disini mewakili anak-anak yg kelaparan di seluruh dunia yang tangisannya tidak lagi terdengar. Saya berada disini untuk berbicara bagi binatang-binatang yang sekarat yang tidak terhitung jumlahnya diseluruh planet ini karena kehilangan habitatnya. Kami tidak boleh tidak di dengar. Saya merasa takut untuk berada dibawah sinar matahari karena berlubangnya lapisan OZON. Saya merasa takut untuk bernafas karena saya tidak tahu ada bahan kimia apa yg dibawa oleh udara. Saya sering memancing di Vancouver bersama ayah saya hingga beberapa tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan-ikannya penuh dengan kanker. Dan sekarang kami mendengar bahwa binatang-binatang dan tumbuhan satu persatu mengalami kepunahan tiap harinya – hilang selamanya. Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar binatang-binatang liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan burung dan kupu-kupu. Tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal-hal tersebut bahkan masih ada untuk dilihat oleh anak saya nantinya. Apakah anda sekalian harus khawatir terhadap masalah-masalah kecil ini ketika anda sekalian masih berusia sama serperti saya sekarang? Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua pemecahannya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki semua pemecahannya. Tetapi saya ingin anda sekalian menyadari bahwa anda sekalian juga sama seperti saya! Anda tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita. Anda tidak tahu bagaiman cara mengembalikan ikan-ikan salmon ke sungai asalnya. Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang-binatang yang telah punah. Dan anda tidak dapat mengembalikan hutan-hutan seperti sediakala di tempatnya, yang sekarang hanya berupa padang pasir. Jika anda tidak tahu bagaima cara memperbaikinya. TOLONG BERHENTI MERUSAKNYA! Disini anda adalah delegasi negara-negara anda. Pengusaha, anggota perhimpunan, wartawan atau politisi – tetapi sebenarnya anda adalah ayah dan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan, paman dan bibi – dan anda semua adalah anak dari seseorang. Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua adalah bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih dari 5 milyar, terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi udara, air dan tanah di planet yang sama – perbatasan dan pemerintahan tidak akan mengubah hal tersebut. Saya hanyalah seorang anak kecil namun begitu saya tahu bahwa kita semua menghadapi permasalahan yang sama dan kita seharusnya bersatu untuk tujuan yang sama. Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak ragu untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan. Di negara saya, kami sangat banyak melakukan penyia-nyiaan. Kami membeli sesuatu dan kemudian membuang nya, beli dan kemudian buang. Walaupun begitu tetap saja negara-negara di Utara tidak akan berbagi dengan mereka yang memerlukan. Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk kehilangan sebagian kekayaan kita, kita takut untuk berbagi. Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan dan papan yang berkecukupan – kami memiliki jam tangan, sepeda, komputer dan perlengkapan televisi. Dua hari yang lalu di Brazil sini, kami terkejut ketika kami menghabiskan waktu dengan anak-anak yang hidup di jalanan. Dan salah satu anak tersebut memberitahukan kepada kami: ” Aku berharap aku kaya, dan jika aku kaya, aku akan memberikan anak-anak jalanan makanan, pakaian dan obat-obatan, tempat tinggal, cinta dan kasih sayang ” . Jika seorang anak yang berada dijalanan dan tidak memiliki apapun, bersedia untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih begitu serakah? Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak-anak tersebut berusia sama dengan saya, bahwa tempat kelahiran anda dapat membuat perbedaan yang begitu besar, bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari anak-anak yang hidup di Favellas di Rio; saya bisa saja menjadi anak yang kelaparan di Somalia ; seorang korban perang timur tengah atau pengemis di India . Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa jika semua uang yang dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat kemiskinan dan menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa indah jadinya dunia ini. Di sekolah, bahkan di taman kanak-kanak, anda mengajarkan kami untuk berbuat baik. Anda mengajarkan pada kami untuk tidak berkelahi dengan orang lain, untuk mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang kita timbulkan; untuk tidak menyakiti makhluk hidup lain, untuk berbagi dan tidak tamak. Lalu mengapa anda kemudian melakukan hal yang anda ajarkan pada kami supaya tidak boleh dilakukan tersebut? Jangan lupakan mengapa anda menghadiri konperensi ini, mengapa anda melakukan hal ini – kami adalah anak-anak anda semua. Anda sekalianlah yang memutuskan, dunia seperti apa yang akan kami tinggali. Orang tua seharus nya dapat memberikan kenyamanan pada anak-anak mereka dengan mengatakan, ” Semuanya akan baik-baik saja , ‘kami melakukan yang terbaik yang dapat kami lakukan dan ini bukanlah akhir dari segalanya.” Tetapi saya tidak merasa bahwa anda dapat mengatakan hal tersebut kepada kami lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas anda semua? Ayah saya selalu berkata, “Kamu akan selalu dikenang karena perbuatanmu, bukan oleh kata-katamu” . Jadi, apa yang anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari. Kalian orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami. Saya menantang A N D A , cobalah untuk mewujudkan kata-kata tersebut. Sekian dan terima kasih atas perhatiannya.

*********** Servern Cullis-Suzuki telah membungkam satu ruang sidang Konperensi PBB, membungkam seluruh orang-orang penting dari seluruh dunia hanya dengan pidatonya. Setelah pidatonya selesai serempak seluruh orang yang hadir diruang pidato tersebut berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah kepada anak berusia 12 tahun itu. Dan setelah itu, ketua PBB mengatakan dalam pidatonya: ” Hari ini saya merasa sangatlah malu terhadap diri saya sendiri karena saya baru saja disadarkan betapa pentingnya linkungan dan isinya disekitar kita oleh anak yang hanya berusia 12 tahun, yang maju berdiri di mimbar ini tanpa selembarpun naskah untuk berpidato. Sedangkan saya maju membawa berlembar naskah yang telah dibuat oleh asisten saya kemarin. Saya … tidak kita semua dikalahkan oleh anak yang berusia 12 tahun ” ———— ——— ———— —— ——— *(Copyright from: Moe Joe Free)*

MENCARI SOSOK HOEGENG

Nama Pak Hoegeng kembali menghiasai papan para demonstran dan mengisi sebuah acara TV tentang sosok tokoh seorang polisi. Saat ini memang citra polisi dengan integritasnya sedang dalam cobaan dengan terpaan skandal keadilan yang berskala national bahkan international. Kembali publik mendamabakan figur polisi yang baik. Saya seperti yang dikatakan Cak Leo melakukan : ” Peringatan dalam diam, tiada satu lelap di sini.” Membaca dan menggali tentang sang tokoh yang menjadi panutan ini. Dalam sebuah wawancara sang anak Aditya mengatakan filosofi sang ayah dalam pemberantasan korupsi: ” Bagaimana kamu mandi …? Bersih dari atas dulu baru ke bawah akan bersih semuanya. Tidak bisa berdisin badan dengan cimak-cimik ”.. Itu yang menjadikan keyakian dalam kekuatan melawan korupsi. Hoegeng kemudian menjadi legenda ketika berdinas di Sumut yang menolak mentah-mentah sogokan para cukong judi. Lembaran kehidupannya kemudian dihiasi cerita-cerita indah melawan kejahatan bukan menjadi bagian dari kejahatan dengan menggunakan kekuasaan untuk melindungi. Sebagi orang Jawa asli Pekalongan ia cuman bersandar pada kebijakan masa lampau : ”ojo dumeh …!!!” Kejadian kecil di kehidupan pribadinya sangat mengakar menggambarkan integritas beliau. Sebutlah ketika ia memerintahkan istrinya menutup toko bunga di Cikini ketika ia menjadi Kepala Imigrasi. Menolak permohona istrinya untuk ikut nebeng dinas ke Belanda karena sang istri yang indo, ayahnya masih tinggal di sana. Beliau sungguh mirip negarawan Bung Hatta. Ketika pensiun tak memiliki rumah dan mobil. Ketika diberi mobil hadiah iuran para Kapolda pun, itupun dengan susah menyakinkan bahwa uangnya adalah iuran hasil dari gaji kapolda. Masih lebih senang naik bis mercy atau bajaj sekalipun. Para penanda tangan Petisi 50 menjadi saksi akan kederhanaan jendral bintang 4 ini. Rumahnya yang tak berpengawal suatu kali pernah kemasukan pencuri. Ia berseloroh : “ Malinge iki nekat, wani maling omahe Kapolri …” Kata mutiara yang disukai Hoegeng adalah “ it is nice to be important but it is more important to be nice “ Juga “ When you are doing right no one remember, and when you are doing wrong no one forget.” Itu yang melandasi beliau matian-matian menegakkan cita polisi ketika ia menjabat sebagi Kapolri. Jauh melampui jamannya Hoegeng itu mengerti peranan pers. Panda Nababan sering didatangi di rumah kontrakkan malam-malam untuk diajak berdiskusi. Penyamaran sering beliau lakukan untuk mengerti aspirasi masyarakat akan keinginan seperti apa wajah polisi yang mereka dambakan. Tak bisa dibayangkan masih berbaju Kapolri beliau akan turun ke jalan mengurus lalu lintas. Bukan overacting atau mau memberi teladan bawahannya. Ia sekedar mau menunjukkan menjadi polis adalah panggilan hatinya. Jauh dari wajah angker namun tegas tak kenal kompromi. Jendral Dai Bachtiar menyebutnya dengan sanjungan ” Terlalu prinsip, terlalu tegas, terlalu jujur, terlalu sederhana dan terlalu baik” Tapi bukankah itulah kira-kira yang kita dambakan dari citra seorang polisi? Sayang keteladanan ini tak diikuti oleh yunior-yunior penerusnya di kepolisian. Saya jadi inagt kata-kata Bung Tomo ” … yang lebih menakutkan lagi kalau generasi muda sekarang ini dipaksa menerima keadaan penuh penyelewengan dan kerusakan, mungkin pada kemudian hari Indonesia akan dipimpin oleh generasi penerus yang lebih menyeleweng dan lebih rusak lagi. Detik-detik sekarang ini yang akan menentukan orang-orang angkatan 45 yang berkuasa sekarang ini akan meninggalkan warisan yang indah dan berharga (lahiriah dan rohaniah) atau warisan yang rusak dan kejam. ” Hoegeng mungkin adalah contoh yang ingin Bung Tomo sebutkan sempat melakukannya namun Orde baru yang tergoda gemerlap materi dan kekuasaan lebih kuat mewariskan budaya yang tak menjadi rahasia lagi kini tak mudah kita menghapusnya Di akhir karirnya ada beberapa peritiwa heboh yang memerlukan ketegasan beliau. Hoegeng tetap melakukan tugasnya mengusut tuntas walau rezim orde baru terbiasa menggunakan penjahat laten sebagai tameng untuk rekaya keadilan dan memanipulasi peradilan untuk menyelelamatkan kroni-kroninya. Konon ketika sedang gencar memenjarakan sang penyelundup kakap ini, ketika mau melapor ke Pak Harto Sang Kapolri melihat sang buronan malah sedang bersalaman dengan Suharto. Sejak itu Hoegeng tidak bisa lagi mempercayai Soeharto. Ia merasa bosnya adalah bagian dari masalah ini. Lebih lebih ketika ia bergabung dengan Petisi 50. Ia dicekal datang ke peringatan hari Bayangkara dan cukup lama menunggu ada Kaporli yang berani mendekati beliau lagi Termasuk sahabat dekatnya Prof Soemitro yang tak mampu mengundang di pernikahan anaknya Parbowo karena Pak Harto jelas-jelas tidak ingin menemuinya.. Kedua sahabat ini hanya bisa berpelukan dan menangis walau ada guyonan yang getir juga diucapkan ” Koq Suharto takut sama Hoegeng ya … ?” Ketika saya nulis status di FB : “ Selamat Hari Pahlawan, dimana pahlawanku ? “ Seorang sahabat saya yang bijak mengomentari dengan indah: “ Pahlawan adalah rekonstruksi masa lalu untuk kepentingan masa depan ” Tahukah anda bahwa Ibu Tien adalah Pahlawan Nasional dan Bung Tomo memperoleh gelar Pahlawan baru beberapa tahun yang silam walau namanya tak bisa dilupakan dari buku sejarah anak-anak kita dengan penyemangatannya dan kepemimpinannya terhadap pertempuran heroik 10 nopember 1945 di Surabaya yang kemudian menginpirasi untuk diperingati sebagai hari pahlawan. Saya tak mengerti apakah suatu kali pemerintah akan menghargai Hoegeng sebagai pahlawan seperti perdebatan konyol terhadap Bung Tomo. Namun peringatan dalam diam saya telah menempatkan beliau sebagai seorang pahlawan. Ia telah meninggalkan warisan yang berharga. Namanya lebih panjang dari umurnya. Namanya di kenang lagi oleh para demonstran di Bundaran HI di panas siang bolong Juga lelucon yang diceploskan Gus Dur dan penjuang anti korupsi di tanah air. Kini kita benar-benar mencari sosok Hoegeng, namun …. Setidaknya masih dalam suasana hari pahlawan aku makin mantap menghayati lagu Leo Kristi di bawah ini dan kembali satu tulisan kawan untuk Soie Hok Gie terngiang di telinga : “ Gie, menjadi seorang pejuang itu akan kesepian …. ” Demikian pula Bung Hatta, Bung Tomo dan Hoegeng dan yang lainnya.

Tanah Merah in Memoriam

Aku terpisah dibelahan bumi tertepi

Secarik kabar darimu akan sangat berarti disini

 hanya satu bambu tidur yang dingin

namun selalu saja ada dengungan nyamuk

seakan seperti semangat rakyatku

berdentang dentang merasuk hati

aku tak kan pernah mati Tuhan,

tanahku yang hitam ini milikmu jua

Padamu tanahku

Padamu ayahku

Padamu darahku

Padamu puteraku

(copyright: Setiyadi Suwardi, alumni UGM & ITB, Johnson&Johnson)

Read Full Post »