Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Mei, 2010

Kolega ysh, Saya hanya ingin sharing bagi semuanya untuk lebih berhati-hati dengan komplotan penjahat bermotor berdasarkan pengalaman yang saya alami kemarin sore, Rabu, 28 April 2010. ———————————-

Saya pulang dari ITB pukul 17.10 diantar sopir menuju ke rumah di Arcamanik. Saat sampai di traffic light pertigaan Gedung Sate-Gasibu, terdengar suara ‘plethak’ dari ban kiri belakang dan ban langsung kempis begitu cepat tidak lebih dari 50 meter. Kami berhenti di depan museum Geologi untuk mengganti ban. Saya dan sopir keluar dari mobil. Waktu menunjukkan pukul 17.30, jalanan ramai, kondisi masih cukup terang. Rinai gerimis mulai turun. Ada pertentangan di hati: saya naik mobil lagi atau menunggu di luar saja. Saya putuskan menunggu di luar mobil, tak tega membiarkan Pak Mamad, sopir SBM yang setia itu mendongkrak ban dan menggantinya dengan tambahan bobot 85 kg di atas mobil kami. Saat sopir mengganti ban, saya berdiri di samping kiri pintu belakang, menelepon istri bahwa saya akan terlambat mengantar anak kontrol ke dokter yang semula booking jam 18.00 di Padasuka, komplek pertokoan yang baru. Kontrol kedua anak saya setelah keduanya, 7 hari diopname karena DBD. Anak-anak yang baik, cakep, santun dengan lagu kesayangan asmaul husna. Saya masih terus berdiri, mengawasi Pak Mamad mengganti ban. Sesaat kemudian saya lihat sebuah Avanza hitam berhenti beberapa meter di depan mobil kami. Saya perhatikan tak ada seorangpun turun dari mobil itu. Mobil diam beberapa saat. Saya pikir apakah pengemudinya sedang melihat peta atau sedang menelepon. Saya tak begitu perhatian lagi ke mobil hitam itu. Dari arah belakang, datang seorang pengendara sepeda motor berplat D menanyakan jalan Cihampelas. Saya mendekat dan menerangkan ke pengendara sepeda motor sambil dalam hati berkata: dengan potongan seperti anak gaul, badan kekar, berjaket kulit coklat kusam, plat motor D, kok nanya jalan Cihampelas? Aneh ini? Saat menjelaskan jalan Cihampelas itu, badan saya menghadap ke arah Gasibu, membelakangi mobil kami dan avanza hitam itu. Pak Mamat yang masih mengganti roda mendengar sayup-sayup pintu mobil kami ditutup: breg. Dia berdiri, tapi tak tampak apa-apa di dalam mobil. dalam waktu bersamaan, setelah saya terangkan arah ke Cihampelas, sang pengendara motor memacu motornya. Saya terus mengawasinya sampai di ujung jalan. Sepeda motor jalan zig-zag dan ngebut. Saya pikir dia akan memutar di depan RM Sate Sinta jika akan ke Cihampelas. Ternyata tidak. Dia terus melaju dan tak saya sadari Avanza hitam juga telah menghilang. Bu Yuhanna, Kabag kami yang rumahnya di Arcamanik melintas dan berhenti, menawarkan tumpangan, jika saya memang tergesa dan penggantian ban masih lama. Pak Mamatr sudah selesai memasang roda, jadi saya bilang terima kasih, saya dengan Pak Mamat saja. Bu Yuhanna melaju pulang dan kami menyusul di belakangnya. Sesampai di rumah, saat akan menurunkan tas, baru saya sadari bahwa tas saya hilang. Tas kulit-hitam berusia 10 tahun yang penuh kenangan, yang dibeli di carboot Halifax saat ambil PhD di UK itu saying good bye beserta seluruh isinya: laptop, external hard disk, paspor seluruh keluarga yang baru dibikin, koreksian 3 bab draft buku, buku-buku tabungan. Setengah jiwa hilang terbawa laptop & external harddisk itu: bahan-bahan pengajaran, draft buku, soft copy novel terbaru, rancangan paper, rancangan cerita film animasi, ….semuanya…..

Di Jalan Diponegoro Bandung, saat masih terang tanah, jalanan ramai, 2 lelaki di dalam mobil, tak menyurutkan niat jahat yang sudah terpatri di hati.

Innalillahi wa ‘inna ilaihi roji’un.

Iklan

Read Full Post »