Feeds:
Pos
Komentar

Archive for November, 2011

Konflik

Menabur Konflik, Menuai Krisis

Oleh: Dermawan Wibisono

Di kalangan suku Yoruba yang hidup di Afrika Barat terdapat sebuah cerita rakyat yang cukup popular, berkisah tentang The Creation of Confusion. Penciptaan kebingungan. Inti cerita tersebut, saya kutip dari bukunya Achebe (1975), adalah sebagai berikut : Di sebuah desa, hiduplah dua orang petani yang bersahabat karib. Mereka berdua, masing-masing memiliki ladang yang terletak berdekatan dan hanya dipisahkan oleh sebuah jalanan berbatu. Manakala sang surya terbit menghangatkan bumi, berangkatlah mereka berendengan ke ladang dengan riang gembira.. Sambil bekerja, mereka selalu asyik mengobrol dan bercanda ria. Sampai kemudian Eshu, dewa takdir yang senang membuat kebingungan, memutuskan untuk memecah kedamaian dan persahabatan di antara mereka. Eshu mengecat separo tubuhnya dengan kapur putih dan di separo yang lain digosoknya dengan batu bara hitam pekat. Kemudian, berjalanlah Eshu dengan lenggak-lenggok bak peragawati memamerkan gaun rancangan mutakhir, melintasi dengan cepat jalanan berbatu yang memisahkan kedua ladang itu. Sesaat setelah sampai pada jarak pendengaran, kedua orang petani yang sedang bekerja itu melompat dari keasyikan mereka pada saat yang bersamaan. Salah seorang diantara mereka berkata : “Apakah kamu tadi melihat seseorang dengan badan yang putih luar biasa melintasi jalan ini ?” Dalam satu tarikan nafas yang sama, petani yang lain berkata : “Apakah kamu tadi melihat seseorang dengan kulit hitan pekat melintasi jalan ini ?” Akhirnya terjadilah pertengkaran di antara keduanya. “Orang tersebut berkulit putih !” kata petani yang satu. “Bukan, dia hitam, apa matamu buta !”sergah petani yang lain. Pertengkaran itu semakin menghebat dan berkelahilah mereka sejadi-jadinya. Akhirnya karena kelelahan dan tidak ada yang menang, mereka kembali ke ladang masing-masing, diam membisu dan murung. Tidak beberapa lama kemudian, Eshu kembali lewat dengan gaya memamerkan diri seperti tadi. Tiba-tiba kedua orang itu kembali bercakap. “Maafkan aku, kamu benar, yang lewat tadi memang putih,” kata petani yang tadinya mengatakan bahwa orang yang lewat itu hitam pekat. Dan dalam waktu yang bersamaan yang lain juga berkata : “Akulah yang salah. Maafkan aku. Ternyata yang lewat itu hitam seperti katamu “. Kemudian kedua orang itu kembali bertengkar. “Saya salah !” “ Bukan, sayalah yang salah !“ Mereka kembali bertengkar dengan hebat sehingga mengundang tetangganya berdatangan. Akhirnya kedua petani itu dibawa ke kantor polisi dan masing-masing mengisahkan ceritanya serta permintaan maafnya yang tidak diterima. Sang polisi berdiri tercenung dan keheranan. Sungguh membingungkan, dua orang berkelahi, kemudian saling minta maaf, dan berkelahi lagi karena tidak mau menerima permintaan maaf temannya. Kemudian Eshu menampakkan diri dan berjalan berkeliling dua kali. Akhirnya Eshu berkata :”Membuat kontroversi dan kebingungan merupakan hiburan yang paling kusenangi untuk mengisi waktu luangku”. Augsburger (1992) menyatakan bahwa konflik merupakan sebuah krisis yang mendorong kita untuk mengenali secara eksplisit bahwa kita hidup dalam multi realitas dan pada saat kita menciptakan konflik maka kita telah membawa suatu hal yang berbeda dan seringkali berlawanan dengan apa yang menjadi pemahaman umum komunitas tempat kita hidup. Untuk itu diperlukan negosiasi ke arah realitas yang umum dipegang oleh komunitas tersebut. Dari keterangan tersebut di atas, jelas dinyatakan bahwa sudut pandang dalam memahami dan memperlakukan konflik adalah sama seperti halnya dalam mengambil jalan demokrasi, yaitu pihak minoritas berusaha untuk memahami pihak mayoritas. Bukan sebaliknya. Oleh karena itu sungguh sangat berbahaya sikap yang diambil oleh salah satu pengurus partai politik dalam mensikapi kebijakan yang diambil presiden, yang dinilai oleh beberapa kalangan sebagai hal yang kontroversial, yang menyatakan :”Bahwa jika Presiden menyatakan langit itu kuning, maka partai kami pun akan menyatakan pula demikian”. Sikap tersebut merupakan perulangan sejarah masa lalu yang menyatakan :”Hitam kata Bung Karno – Hitam pula kata KKO.” Atau yang baru saja sejenak lepas dari ingatan dengan slogan monoloyalitas. Sikap demikian adalah justru sedang menegakkan diktator minoritas yang sangat bertentangan dengan alur fikiran demokrasi maupun pemecahan konflik yang ditimbulkan. Artinya, sikap yang demikian hanyalah sebuah tindakan untuk menyapu kotoran ke bawah karpet. Karpet tampak bersih, namun kotoran tetap tertinggal di sana. Tetap menjadi sumber debu dan penyakit. Demikian pula dengan bibit-bibit konflik yang ditinggalkan, tetap tidak terpecahkan. Konflik merupakan hal yang merusak. Atau setidaknya membawa konsekuensi untuk merusak, terutama jika pihak-pihak yang terlibat merasa tidak puas dengan hasil yang diinginkan pihak lain dan mereka merupakan pihak yang kalah dalam konflik tersebut. Sebaliknya sebuah konflik akan menjadi konstruktif dalam proses dan konsekuensinya jika semua pihak yang terlibat merasa puas dengan hasil yang disepakati dan mereka mendapatkan hasil yang baik dari konflik tersebut. Semakin seimbangnya kepuasan yang dirasakan oleh pihak-pihak yang bersengketa, semakin konstruktiflah konflik tersebut (Deutsch, 1969). Untuk mendapatkan konflik yang konstruktif diperlukan langkah-langkah yang memenuhi karakteristik tertentu, yaitu: 1. Mempertegas batas-batas permasalahan yang menjadi sumber konflik sehingga konflik yang terjadi dapat dinyatakan dan divisualisasikan dengan gamblang. 2. Membatasi konflik hanya pada asal muasal perselisihan dan mencegah melebar pada isu yang lain. 3. Mengarahkan konflik ke arah pemecahan masalah yang kooperatif dan mengendalikan persaingan agar terhindar dari perselisihan yang tidak sehat. Di lain pihak, potensi konflik akan menjadi hal yang destruktif jika terdapat tendensi sebagai berikut : 1. Meluasnya isu, sikap-sikap negatif dan justifikasi yang diambil oleh perseorangan. 2. Semakin samarnya sebab utama terjadinya konflik sehingga terlupakan untuk dipecahkan karena sibuk dengan kasus-kasus ikutan yang sebenarnya hanyalah sebuah konsekuensi sampingan. 3. Terjadinya percepatan ke arah pamer kekuatan, penggunaan praktek kekerasan dan cara-cara penuh muslihat 4. Polarisasi ke arah pendapat yang seragam yang dikendalikan oleh keinginan pemikiran tunggal dan kepemimpinan yang serakah. Dari karakteristik konflik yang konstruktif dan tendensi terjadinya konflik yang destruktif seperti dijabarkan dalam kerangka fikiran di atas dapat ditarik garis analisis bahwa konflik-konflik yang mulai bersemai di masyarakat saat ini cenderung menuju ke arah konflik yang destruktif. Sebagai contoh kasus terbaru yang sudah banyak di bahas adalah pencopotan para menteri dan penetapan para wakil menteri. Terlepas dari analisis terhadap kinerja eks-menteri, rumor-rumor yang melingkupinya, dan kredibilitas serta kapabilitas penggantinya, cara yang ditempuh presiden dalam pencopotan tersebut beserta argumentasi yang diberikan telah menebarkan bibit konflik. Bibit tersebut kemudian disemaikan oleh pihak-pihak parpol pendukung keduanya menjadi isu yang meluas dan akhirnya dipupuk subur oleh berbagai media masa serta sikap-sikap yang diambil oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan tertentu. Lalu bagaimana mencegah konflik tersebut menjadi semakin destruktif dan mengarahkannya menjadi konflik yang konstruktif ? Selain mengacu pada strategi yang menuju ke arah penciptaan karakteristik koflik konstruktif dan menjauhi tendensi konflik destruktif, perlu difahami langkah praktis kedua metode tersebut. Pemecahan konflik yang akan menjurus ke arah proses destruktif biasanya diawali dengan pemberian prioritas pada langkah yang menitikberatkan pada aspek siapa yang memiliki kekuasaan. Jadi penggunaan argumentasi semacam:“ Khan saya yang menjadi Presiden, bukan dia !” Atau seperti :”Ini adalah hak prerogatif saya, dan saya akan menggunakannya. Tidak usah debat dan diskusi. Gitu aja kok repot!” adalah contoh langkah yang menitikberatkan pada pamer kekuasaan tersebut. Setelah pamer kekuasaan maka langkah berikutnya adalah mencari siapa yang benar. Jadi penggunaan jargon:”President can do no wrong !” dan slogan “ Kuning kata presiden, kuning kata saya!” adalah contoh mencari pembenaran yang mengarahkan pada proses destruktif pula. Sedangkan proses konstruktif menitik beratkan pada pencarian terhadap rekonsiliasi kebutuhan dan interest yang lebih luas. Dalam hal ini bukan saja kebutuhan dan interest individu yang terlibat konflik, namun juga perlu diperhatikan kebutuhan dan interest komunitas tempat hidup di mana konflik tersebut terjadi. Setelah dikaji kebutuhan utama tersebut barulah ditelaah dengan cermat untuk mencari pandangan dan argumentasi siapa yang benar. Akhirnya penggunaan kekuasan hanyalah merupakan alternatif terakhir dan digunakan sekecil mungkin dalam mengatasi konflik tersebut. Dengan demikian, potensi krisis lanjutan sebagai konsekuensi logis dari konflik yang ditimbulkan akan dapat dicegah dan dihindari. Untuk itu perlu diambil sikap lembah manah, andap asor (rendah hati dan berlapang dada) seperti kata peribahasa suku Yoruban: “The one who forgiveness gains victory.” Orang yang penuh maaflah sang pemenang. Namun perlu juga dicermati peribahasa Angola berikut ini : The One who throws the stones forgets; The one who is hit remembers forever. Yang melukai akan cepat melupakannya, sedangkan yang terkena lemparan batu akan teringat selamanya. Damailah Indonesia, jayalah SBM

Read Full Post »

MBA-ITB Business Review Vol 6 No. 3 2011

Abundant Mentality

 Dermawan Wibisono

Dalam pembicaraan sehari-hari sering terlontar pertanyaan: bagaimana bangsa Indonesia bisa seperti ini, berebut pada hal yang tak perlu diperebutkan, beramai-ramai memperebutkan jabatan dan setelah didapatkan tidak melakukan apa-apa yang signifikan? Mengapa begitu banyak orang menerapkan filosofi orang yang sedang menaiki tangga, meraih anak tangga di atasnya sambil menginjak anak tangga di bawahnya. Menjilat atasan dan dalam waktu bersamaan melindas bawahan. Panjang diskusi telah dilakukan, seperti menggelar selembar kain untuk mendapatkan tanda-tangan agar masuk guiness book of record. Dari kain panjang itu, secuil di antaranya adalah adanya satu hypothesis yang menarik yaitu karena bangsa Indonesia dihantui oleh scarcity mentality. Mental yang berawal dari serba kekurangan. Mental yang timbul dari sikap yang terancam yang membentuk pola pikir yang hidup sepanjang hayatnya dan akhirnya menentukan perilaku dalam tindak dan keputusan yang diambil. Seorang teman mengamati hal ini pada hewan peliharaannya, seperti Skeener yang mengamati tikus dan Pavlov yang mengamati anjing, pada waktu membuat teori motivasi pada jaman dahulu. Dia memiliki 2 ekor kucing anggora dan seekor kucing kampung yang dipungut dari pinggir jalan. Dua ekor kucing anggora nya setiap hari diberikan susu, makanan, dan dilatih ketrampilan pada jam yang teratur, disuruh duduk manis, dilarang mengganggu saat orang nonton TV dan ke belakang pada saatnya. Kucing anggora yang dipelihara sejak kecil itupun menurut sesuai dengan pakem yang diberikan. Dengan cara yang sama dia lakukan hal itu pada kucing kampung yang didapatnya. Kucing kampung yang dipungut dari pinggir jalan, karena sudah terbiasa dengan survival, sama sekali tidak menurut teori pelatihan dari text book paling eksklusif yang dimiliki. Disela-sela makan, sang kucing malah kabur mengais-ngais sampah. Kukunya di jam-jam tertentu masih menggores-gores sofa, dan tidak kepalang polah-tingkahnya seharian. Tidak menurut aturan sama sekali. Teman saya itu, berpikir keras dan tetap tidak mengetahui jawabnya. Akhirnya dia menyimpulkan berdasarkan filosofi Jawa bahwa terdapat bobot, bibit, dan bebet pada tiap individu kucing yang sudah dari sononya, yang terbawa dalam gen, yang tidak bisa diubah lagi. Teman saya yang lain menolak anggapan itu. Dengan gayanya seperti Aristoteles dia mengatakan bahwa hal tersebut terjadi karena asal-usul dan masa perkembangan yang mempengaruhi sang kucing tersebut. Dia mengatakan bahwa kucing itu biasa survival, mempertahankan hidup dalam lingkungan yang ganas, tidak ada aturan dalam perkembangan usianya, jadilah dia seperti itu. Jadi kesimpulannya adalah pada masa perkembanganya, kucing tersebut sudah kadung terbentuk dengan sikap dan tingkah laku yang kadung telat untuk diubah. Dalam buku psikologi perkembangan yang sempat saya baca dari bukunya dr. Kartono Muhammad, jaman dahulu kala, memang masa kritis perkembangan manusia akan mempengaruhi sikap dan perilakukanya kelak, dia dewasa. Mrs. Hattersley, kepala sekolah anak saya, saat mengambil primary school di Bradford sana, dalam suatu diskusi menyatakan bahwa anak usia 3-10 tahun memiliki kemampuan dua bahasa sekaligus. Artinya anak seusia itu dapat langsung diajari dua bahasa asing dan penguasaannya akan jauh lebih baik dari orang yang berusia lebih tua darinya. Dalam enam bulan, mereka akan sangat fasih mengucapkan bahasa itu, seperti penutur aslinya. Usia 10-17 tahun adalah saat-saat rawan karena memori manusia bekerja dengan maksimal, sehingga apa yang diingat di usia itu, biasanya tak akan terlupakan, dan itulah saat pembentukan karakter akan kuat menancap. Dari analisisnya itu, maka apa yang dialami seorang anak sejak SD sampai SMU, akan berpengaruh pada perilaku dan keputusan yang diambilnya kelak saat dia dewasa. Orang yang terbiasa pada kondisi scarcity, survival, negative competition, iri hati, dengki dan sirik, pada masa perkembangannya, maka seperti itulah yang akan mendasari perilaku dan keputusan yang diambil di usia dewasa kelak. Jadi jangan bayangkan orang-orang seperti ini akan memiliki pikiran jangka panjang, melihat kepentingan banyak orang, emphaty yang hangat, bersuara sama di depan dan di belakang orang yang diajak bicara. Fenomena ini tampaknya yang mendasari, mengapa banyak orang Indonesia memiliki mental scarcity walaupun sudah di level atas suatu komunitas. Mental yang merasa kekurangan, merasa terancam, fokus pada kepentingan dirinya sendiri saja, dan makmimum hanya akan membawa rombongan keluarganya, selain dia akan merekrut orang-orang yang hanya loyal kepadanya sekalipun dari segi kemampuan tidak kualifified. Monolayalitas. Tentu ada sikap dasar yang tidak dapat diubah. Namun salah satu usaha mengeliminir sikap dan perilaku ini adalah dengan mendekatkan anak pada pendidikan agama, seni dan social sciences. Pendidikan agama jelas sangat berpengaruh jika diberikan dengan benar. Orang-orang Eropa Barat yang menjunjung tinggi rasa seni dengan penciptaan bangunan-bangunan yang indah, musik, lukisan, pertunjukan drama yang berkelas, dan sebaginya cukup menjadi bukti mengapa Disney Land di Perancis tidak laku. Hal ini yang mendasari bahwa exited bagi mereka bukanlah berteriak-teriak naik wahana yang menguji mental mereka, yang mereka anggap sebagai rekreasi kelas terendah. Rekreasi bagi mereka adalah bagaimana mereka melihat opera yang halus budi bahasanya dan mengilhami imajinasi mereka ke level yang lebih tinggi. Mengapa setiap orang di stasiun kereta api di Inggris, selalu menenteng buku bacaan yang segera menenggelamkan mereka begitu kereta api berangkat? Mengapa orang Inggris susah payah berpetualang ke Afrika Selatan dan membuat peta-peta pemeliharaan satwa Afrika? Mengapa hanya 3,5 tahun mereka ke Indonesia sudah mampu menemukan bunga Rafflesia Arnoldi yang mendunia? Karena itulah puncak kebahagiaan mereka, mengapresiasi karya yang didasari abundant mentality. Mentalitas dermawan bagi orang lain. Apresiatif terhadap karya orang, tidak banyak melakukan aktivitas seremonial dan perilaku verbal, adalah ujung dari mentalitas dermawan yang dididik sejak mereka kanak-kanak. Rasanya kangen untuk berjalan-jalan kembali ke Buckingham Palace di London, Botanical Garden di Melbourne, dan ke menara Tokyo, untuk bisa merasakan diri sebagai manusia seutuhnya. Manusia yang tidak terforsir oleh hawa nafsu. Ingin menjadi bagian dari dunia dengan abundant mentality yang mengeram di dada dan terekspose dalam sikap dan perilaku. Kapan ya?

Read Full Post »

MBA-ITB Busines Review Vol. 6 N0 2011

Lima Tanda Pemimpin Tak Kompeten

D. Wibisono

Dalam gonjang-ganjing nasional dengan hadirnya kasus Nazarudin, pemalsuan surat di Mahkamah Konsitusi sehingga orang yang tidak berhak jadi anggota legislatif bisa menggantikan posisi orang yang berhak, hiruk pikuk biaya pendidikan nasional mahal yang ditentukan oleh setiap sekolah dari jenjang SD sampai perguruan tinggi bukan oleh pemerintah, tampak tersirat adanya ‘ketidakberdayaan’ kepemimpinan dalam berbagai level kehidupan. Kepemimpinan sudah lama menjadi hot issue dan melahirkan bepuluh provider pelatihan untuk menghasilkan pemimpin yang andal. Namun sampai saat ini tak kunjung kita temui hasilnya, lebih-lebih di level nasional. Apa yang menjadi kendalanya? Pemimpin itu dilahirkan ataukan dilatih?

Pada dasarnya dalam diri manusia terdapat bakat kepemimpinan terpendam yang dapat digali potensinya. Yang jadi masalah adalah seberapa dalam bakat itu terpendam. Apakah bakat yang ada  begitu dalam seperti layaknya sumur dalam dasar samudra ataukah dipermukaan yang tinggal diungkit saja? Hal kedua adalah pada saat digali, akankah bakat itu kemudian menjulang setinggi Himalaya atau hanya sebatas lereng Bojong Koneng. Artinya, seringkali orang yang potensi kepemimpinannya bagus di level manajerial namun tidak klop jika dipaksakan untuk diangkat menjadi direktur, orang yang levelnya kepala desa tidak akan bagus jika dipaksakan menjadi gubernur, orang yang levelnya ketua partai politik tidak akan bagus diangkat jadi presiden, orang yang levelnya menjadi ketua peneliti tidak akan bagus untuk menjadi rektor dan sebagainya. Dalam istilah saat ini, fenomena ini sering dimaknai sebagai ‘memahkotai diri sendiri’ dengan mahkota yang terlalu besar sehingga seperti dapat dianalogikan seperti dalam cerita pewayangan ‘Petruk dadi Ratu’ atau dalam sarkas peribahasa bahasa Jawa sering disamakan dengan istilah ‘kere munggah bale’. Orang yang tidak kompeten memegang jabatan yang terlalu tinggi sehingga hasilnya kacau balau.

Dalam artikel Ten Signs of an Incompetent Leader, Chris Ortiz mengemukakan opininya yang menarik akan 10 tanda-tanda pemimpin yang tidak kompeten,  yang dalam tulisan ini akan dikaji 5 bagian saja. Menurut Ortiz, pemimpin yang buruk adalah pemimpin yang fokus pada kepentingannya sendiri tidak pada kebutuhan profesional yang dibutuhkan oleh  level bawahnya. Biasanya pemimpin yang buruk ini mendapatkan kesulitan untuk mengembangkan organisasi karena mereka kurang memiliki kemampuan teknis manajerial untuk hal tersebut. Pemimpin adalah orang yang anda ikuti dan anda tahu akan kemana organisasi menuju. Jadi kepemimpinan adalah tentang aksi bukan sekedar status symbol atau batu loncatan untuk menggapai hal lain lebih tinggi. Masalahnya adalah bagaiman kita tahu bahwa kita sedang menghadapai individu yang merupakan oknum penunggang jabatan karena seringkali orang seperti ini tampak kelihatan begitu sibuk dalam organisasi dan dibutuhkan di mana-mana serta pandai memoles dirinya sehingga membuat banyak orang jatuh cinta kepadanya. Petunjuk singkat dari Chris Otiz untuk mengenalinya dikupas dalam alinea berikut..

Seorang pemimpin yang tidak kompeten akan:

1. Mendelegasikan pekerjaan daripada menyeimbangkannya.  Artinya semua bawahan langsungnya akan diberikan predikat ‘jenderal’ oleh yang bersangkutan, dalam arti bahwa pekerjaan harus diselesaikan oleh bawahannya itu, tidak perlu panduan, tidak perlu bertanya, tidak perlu arahan tapi jika terjadi kesalahan maka bawahan itulah yang harus menanggung akibatnya dengan menerima kemarahan dan konsekuensi pahit lainnya. Praktik semacam ini akan menimbulkan pekerjaan yang tidak seimbang, ada bagian sangat sibuk, sehingga perlu lembur yang tidak perlu dan ada bagian yang menganggur. Seorang pemimpin yang baik adalah orang yang memperhatikan kemampuan dan kompetensi orang yang bekerja di bawahnya dan menempatkan orang sesuai dengan keahliannya sambil memperkaya potensi setiap orang untuk lebih produktif. Dengan model kepemimpinan yang gagal semacam ini maka kompetensi tidak dilihat, penempatan dilakukan secara acak, detail tidak diperhatikan karena yang menjadi fokus adalah bagi habis pekerjaan kepada orang-orang dibawahnya.

 

2. Cenderung menjawab persoalan menjadi jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’ dari pada mencoba mencari sebab dan menerangkannya lebih jauh. Ini adalah contoh pemimpin dalam krisis, yang tidak mampu berfikir jauh ke depan kecuali hanya beberapa jam ke depan saja. Pemimpin semacam ini cenderung melihat orang yang mencari penjelasan lebih detail, hanya menghabiskan waktu. Oleh karena itu, seringkali pemimpin semacam ini memiliki jawaban yang berbeda di dalam dan di luar ruangan, tergantung dari mood dan kepentingana sesaat yang dibawanya, karena memang pada dasarnya dia tidak memiliki set of argument yang kuat untuk menjelaskan issue yang sedang dihadapi.

3.Tidak memisahkan masalah personal dari masalah profesional yang dihadapi. Mereka cenderung membawa persoalan pribadi ke tempat kerja. Bekerja dengan pemimpin semacam ini bisa menjadi sangat dramatis. Di antaranya akan tercampur penggunaan fasilitas kantor untuk keperlun pribadi dan institusi, dan istri/ suaminya akan turut menjadi atasan bagi bawahannya saat ini yang boleh ikut memerintahkan untuk memenuhi keperluan yang tidak ada hubungannya dengan keperluan kantor. Mereka tidak mampu memisahkan ketidakseimbangan emosi saat memimpin. Mereka tidak akan memberikan perhatian dan arahan bagi anda untuk berhasil, Fokus dari pemimpin semacam ini adalah asal kepentingan pribadinya tidak terganggu. Alih-alih memperbaiki sistem penggajian dan penghargaan secara keseluruhan dalam organisasi, pemimpin semacam ini tidak akan peduli selama gajinya sendiri tidak terganggu atau bahkan naik. Atau yang lebih ektrim lagi adalah pemimpin semacam ini akan antusias memimpin orang-orang di sekitarnya untuk demo dan melakukan mosi tidak percaya jika gajinya dipotong, namun tidak akan peduli dengan gaji yang diterima orang lain.

4. Jika organisasi anda dalam masa krisis, maka selamat mengucapkan selamat tinggal pada inovasi dan kemajuan jika memiliki pemimpin semacam ini. Inovasi dan kemajuan ini juga harus diartikan secara benar, karena konsep yang berubah dengan cepat dan berkali-kali, bisa diartikan bahwa kita bukan inovatif tetapi sebaliknya kita tidak memilki konsep dan pendirian yang kuat. Perubahan yang terlalu sering dalam jangka waktu yang pendek akan mudah tersapu karena tidak dapat diimplementasikan secara solid. Pemimpin yang berorientasi pada aspek inovatif dan kreatif, punya karakter, di antaranya dengan senang hati memiliki bawahan yang lebih pandai yang mau berdebat dan diskusi atas berbagai ide dan konsep. Bukan pemimpin yang senang dengan kualifikasi bawahan yang jauh di bawahnya sehingga mudah disuruh-suruh dan mengikuti apa maunya sang pemimpin saja.

5. Tidak berdiri di belakang bawahan jika gagal. Orientasi pemimpin yang baik adalah tidak hanya menghukum kesalahan karena kegagalan bawahan dan hanya mengambil moment saat tampil dan dilihat banyak orang saja. Biasanya pemimpin gagal semacam ini akan cukup puas jika melihat anak buah harus berdiri dan membuat pengakuan kegagalanya dalam sebuah forum, tidak peduli betapa malunya anak buah tersebut dan berdiri di depan menyematkan tanda penghargaan ketika media masa meliput momen yang dirasanya akan mengangkat nama dan dirinya ke jaringan publikasi.

Jadi, who is a leader? A leader is one who, knows the way, shows the way and goes the way. Tapi hidup memang pilihan, apakah anda ingin menjadi seorang great leader atau menjadi free rider. Sejarah akan mencatat.

Read Full Post »