Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Desember, 2011

Inspirational Novel

Sebuah kisah pendek yang indah dan menyentuh berjudul “Winter” dari novel “Bambi, a Life in the Woods” tulisan seorang penulis asal Austria bernama Felix Salten. _________________________________________________________________________________________________________________________________________________ The leaves were falling from the great oak at the meadow’s edge. They were falling from all the trees. One branch of the oak reached high above the others and stretched far out over the meadow. Two leaves clung to its very tip. “It isn’t the way it used to be,” said one leaf to the other. “No,” the other leaf answered, “So many of us have fallen off tonight we’re almost the only ones left on our branch.” “You never know who’s going to be next,” said the first leaf. “Even when it was warm and the sun shone, a storm or a cloudburst would come sometimes and many leaves were torn off, though they were still young. You never know who’s going to be next.” “The sun seldom shines now,” sighed the second leaf, “and when it does, it gives us no warmth. We must have warmth again.” “Can it be true,” said the first leaf, “can it really be true that others come to take our places when we’re gone, and after them still others, and more and more?” “It is really true,” whispered the second leaf. “We can’t even begin to imagine it, it’s beyond our powers.” “It makes me very sad,” added the first leaf. They were silent a while. Then the first leaf said quietly to herself, “Why must we fall?” The second leaf asked, “What happens to us when we’ve fallen?” “We sink down.” “What is under us?” The first leaf answered, “I don’t know. Some say one thing, some another, but nobody knows.” The second leaf asked, “Do we feel anything, do we know anything about ourselves when we’re down there?” The first leaf answered, “Who knows? Not one of all those down there has ever come back to tell us about it.” They were silent again. Then the first leaf said tenderly to the other, “Don’t worry so much about it, you’re trembling!” “That’s nothing,” the second leaf answered, “I tremble at the least thing now. I don’t feel so sure of my hold as I used to.” “Let’s not talk anymore about such things,” said the first leaf. The other replied, “No, we’ll let be. But — what else shall we talk about?” She was silent, but went on after a little while. “Which of us will… which of us will go first?” “There’s still plenty of time to worry about that,” the other leaf assured her. “Lets remember how beautiful it was, how wonderful, when the sun came out and shone so warmly that we thought we’d burst with life. Do you remember? And the morning dew and the mild and splendid nights?” “Now the nights are dreadful,” the second leaf complained, “and there is no end to them.” “We shouldn’t complain,” said the first leaf gently. “We’ve outlived many, many others.” “Have I changed much?” asked the second leaf shyly but determinedly. “Not in the least,” the first leaf assured her. “You only think so because I’ve got to be so yellow and ugly. But it’s different in your case.” “You’re fooling me,” the second leaf said. “No, really!” the first leaf exclaimed eagerly, “believe me, you’re as lovely as the day you were born. Here and there may be a little yellow spot, but it’s hardly noticeable and only makes you handsomer, believe me.” “Thanks,” whispered the second leaf, quite touched. I don’t believe you, not altogether, but I thank you because you’re so kind. You’ve always been so kind to me. I’m just beginning to understand how kind you are. “Hush,” said the other leaf, and kept silent herself, for she was too troubled to talk anymore. Then they were both silent. Hours passed. A moist wind blew, cold and hostile through the treetops. “Ah, now,” said the second leaf, “I…” And then her voice broke off. She was torn from her place and spun down. Winter had come

Iklan

Read Full Post »

Kisah Nyata: Ketika Sri Sultan HB IX terkena tilang di Pekalongan Kota batik Pekalongan di pertengahan tahun 1960an menyambut fajar dengan kabut tipis , pukul setengah enam pagi polisi muda Royadin yang belum genap seminggu mendapatkan kenaikan pangkat dari agen polisi kepala menjadi brigadir polisi sudah berdiri di tepi posnya di kawasan Soko dengan gagahnya. Kudapan nasi megono khas pekalongan pagi itu menyegarkan tubuhnya yang gagah berbalut seragam polisi dengan pangkat brigadir. Becak dan delman amat dominan masa itu , persimpangan Soko mulai riuh dengan bunyi kalung kuda yang terangguk angguk mengikuti ayunan cemeti sang kusir. Dari arah selatan dan membelok ke barat sebuah sedan hitam ber plat AB melaju dari arah yang berlawanan dengan arus becak dan delman . Brigadir Royadin memandang dari kejauhan ,sementara sedan hitam itu melaju perlahan menuju kearahnya. Dengan sigap ia menyeberang jalan ditepi posnya, ayunan tangan kedepan dengan posisi membentuk sudut sembilan puluh derajat menghentikan laju sedan hitam itu. Sebuah sedan tahun lima puluhan yang amat jarang berlalu di jalanan pekalongan berhenti dihadapannya. Saat mobil menepi, Brigadir Royadin menghampiri sisi kanan pengemudi dan memberi hormat. “Selamat pagi!” Brigadir Royadin memberi hormat dengan sikap sempurna . “Boleh ditunjukan rebuwes!” Ia meminta surat surat mobil berikut surat ijin mengemudi kepada lelaki di balik kaca , jaman itu surat mobil masih diistilahkan rebuwes. Perlahan , pria berusia sekitar setengah abad menurunkan kaca samping secara penuh. “Ada apa pak polisi ?” Tanya pria itu. Brigadir Royadin tersentak kaget , ia mengenali siapa pria itu . “Ya Allah.sinuwun! ” kejutnya dalam hati. Gugup bukan main namun itu hanya berlangsung sedetik, naluri polisinya tetap menopang tubuh gagahnya dalam sikap sempurna. “Bapak melangar verbodden , tidak boleh lewat sini, ini satu arah !” Ia memandangi pria itu yang tak lain adalah Sultan Jogja, Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Dirinya tak habis pikir , orang sebesar Sultan HB IX mengendarai sendiri mobilnya dari Jogja ke Pekalongan yang jauhnya cukup lumayan, entah tujuannya kemana. Setelah melihat rebuwes , Brigadir Royadin mempersilahkan Sri Sultan untuk mengecek tanda larangan verboden di ujung jalan, namun sultan menolak. “Ya ..saya salah , kamu benar , saya pasti salah !” Sinuwun turun dari sedannya dan menghampiri Brigadir Royadin yang tetap menggengam rebuwes tanpa tahu harus berbuat apa. ” Jadi.?” Sinuwun bertanya , pertanyaan yang singkat namun sulit bagi brigadir Royadin menjawabnya. “Em..emm ..bapak saya tilang , mohon maaf!” Brigadir Royadin heran, sinuwun tak kunjung menggunakan kekuasaannya untuk paling tidak bernegosiasi dengannya, jangankan begitu , mengenalkan dirinya sebagai pejabat Negara dan Rajapun beliau tidak melakukannya. “Baik..brigadir , kamu buatkan surat itu , nanti saya ikuti aturannya, saya harus segera ke Tegal !” Sinuwun meminta Brigadir Royadin untuk segera membuatkan surat tilang. Dengan tangan bergetar ia membuatkan surat tilang, ingin rasanya tidak memberikan surat itu tapi tidak tahu kenapa ia sebagai polisi tidak boleh memandang beda pelanggar kesalahan yang terjadi di depan hidungnya. Yang paling membuatnya sedikit tenang adalah tidak sepatah katapun yang keluar dari mulut sinuwun menyebutkan bahwa dia berhak mendapatkan dispensasi. “Sungguh orang yang besar.!” begitu gumamnya. Surat tilang berpindah tangan , rebuwes saat itu dalam genggamannya dan ia menghormat pada sinuwun sebelum sinuwun kembali memacu Sedan hitamnya menuju ke arah barat, Tegal. Beberapa menit sinuwun melintas di depan stasiun Pekalongan, brigadir royadin menyadari kebodohannya, kekakuannya dan segala macam pikiran berkecamuk. Ingin ia memacu sepeda ontelnya mengejar sedan hitam itu tapi manalah mungkin. Nasi sudah menjadi bubur dan ketetapan hatinya untuk tetap menegakkan peraturan pada siapapun berhasil menghibur dirinya. Saat aplusan di sore hari dan kembali ke markas , Ia menyerahkan rebuwes kepada petugas jaga untuk diproses hukum lebih lanjut.,Ialu kembali kerumah dengan sepeda abu abu tuanya. Saat apel pagi esok harinya , suara amarah meledak di markas polisi Pekalongan, nama Royadin diteriakkan berkali kali dari ruang komisaris. Beberapa polisi tergopoh gopoh menghampirinya dan memintanya menghadap komisaris polisi selaku kepala kantor. “Royadin, apa yang kamu lakukan.. sa’enake dewe.. ora mikir .. iki sing mbok tangkep sopo heh.. ngawur.. ngawur!” Komisaris mengumpat dalam bahasa jawa, ditangannya rebuwes milik sinuwun pindah dari telapak kanan kekiri bolak balik. “Sekarang aku mau tanya , kenapa kamu tidak lepas saja sinuwun..biarkan lewat, wong kamu tahu siapa dia, ngerti nggak kowe sopo sinuwun?” Komisaris tak menurunkan nada bicaranya. “Siap Pak , beliau tidak bilang beliau itu siapa , beliau ngaku salah .. dan memang salah!” Brigadir Royadin menjawab tegas. “Ya tapi kan kamu mestinya ngerti siapa dia .. ojo kaku kak , kok malah mbok tilang.. ngawur .. jan ngawur.. Ini bisa panjang , bisa sampai Menteri!” Derai komisaris. Saat itu kepala polisi dijabat oleh Menteri Kepolisian Negara. Brigadir Royadin pasrah, apapun yang dia lakukan dasarnya adalah posisinya sebagai polisi , yang disumpah untuk menegakkan peraturan pada siapa saja .. memang koppeg(keras kepala) kedengarannya. Kepala polisi Pekalongan berusaha mencari tahu dimana gerangan sinuwun, masih di Tegalkah atau tempat lain? Tujuannya cuma satu, mengembalikan rebuwes. Namun tidak seperti saat ini yang demikian mudahnya bertukar kabar , keberadaa sinuwun tak kunjung diketahui hingga beberapa hari. Pada akhirnya kepala polisi Pekalongan mengutus beberapa petugas ke Jogja untuk mengembalikan rebuwes tanpa mengikut sertakan Brigadir Royadin. Usai mendapat marah, Brigadir Royadin bertugas seperti biasa , satu minggu setelah kejadian penilangan, banyak teman temannya yang mentertawakan bahkan ada isu yang ia dengar dirinya akan dimutasi ke pinggiran kota Pekalongan Selatan. Suatu sore, saat belum habis jam dinas , seorang kurir datang menghampirinya di persimpangan soko yang memintanya untuk segera kembali ke kantor. Sesampai di kantor beberapa polisi menggiringnya keruang komisaris yang saat itu tengah menggengam selembar surat. “Royadin.. minggu depan kamu diminta pindah !” lemas tubuh Royadin, ia membayangkan harus menempuh jalan menanjak dipinggir kota pekalongan setiap hari, karena mutasi ini, karena ketegasan sikapnya dipersimpangan soko . ” Siap pak !” Royadin menjawab datar. “Bersama keluargamu semua, dibawa!” pernyataan komisaris mengejutkan, untuk apa bawa keluarga ketepi Pekalongan Selatan, ini hanya merepotkan diri saja. “Saya sanggup setiap hari pakai sepeda pak komandan, semua keluarga biar tetap di rumah sekarang !” Brigadir Royadin menawar. “Ngawur. Kamu sanggup bersepeda pekalongan – Jogja ? pindahmu itu ke jogja bukan disini, sinuwun yang minta kamu pindah tugas kesana , pangkatmu mau dinaikkan satu tingkat.!” Cetus pak komisaris , disodorkan surat yang ada digengamannya kepada brigadir Royadin. Surat itu berisi permintaan bertuliskan tangan yang intinya : “Mohon dipindahkan brigadir Royadin ke Jogja , sebagai polisi yang tegas saya selaku pemimpin Jogjakarta akan menempatkannya di wilayah Jogjakarta bersama keluarganya dengan meminta kepolisian untuk menaikkan pangkatnya satu tingkat.” Ditanda tangani sri sultan hamengkubuwono IX. Tangan brigadir Royadin bergetar, namun ia segera menemukan jawabannya. Ia tak sangup menolak permntaan orang besar seperti sultan HB IX namun dia juga harus mempertimbangkan seluruh hidupnya di kota pekalongan .Ia cinta pekalongan dan tak ingin meninggalkan kota ini . “Mohon bapak sampaikan ke Sinuwun , saya berterima kasih, saya tidak bisa pindah dari Pekalongan , ini tanah kelahiran saya , rumah saya . Sampaikan hormat saya pada beliau ,dan sampaikan permintaan maaf saya pada beliau atas kelancangan saya !” Brigadir Royadin bergetar , ia tak memahami betapa luasnya hati sinuwun Sultan HB IX , Amarah hanya diperolehnya dari sang komisaris namun penghargaan tinggi justru datang dari orang yang menjadi korban ketegasannya. — Ihsan Nur Hadi (Ihsan) 19007007 – Alumni SBM ITB 2010

Read Full Post »

Rokok…tidak berbahaya?

 

Banyak orang menghawatirkan bahaya rokok,tp stlh diselidiki oleh bbrp pakar dlm bidangnya tryt rokok itu sama sekali tidak berbahaya!  Ada sebuah the untold story yg membuka mata dunia bhw rokok itu tidak berbahaya sama sekali.

Berikut cuplikan-nya
Ada tiga orang pakar. Mereka selalu bersama kemana saja.
Tapi ketiganya memiliki kesukaan beda.
.A. suka main perempuan.
B. suka minum minuman keras
C. suka segala jenis rokok .

Suatu hari mereka pergi ke dukun sakti. Lalu mrk memilih sesuai kegemaran masing-masing.
Si A : ”Aku mau perempuan2 muda dr berbagai bansa+makanan minuman yg cukup. Letakkan dlm gua tertutup dan jangan ganggu aku selama 10 tahun”.dan sekejap mata jadi.
Si B: “Aku mau semua jenis arak dr slrh dunia+bekal makanan yg cukup letakkan dlm gua tertutup dan jangan ganggu aku selama 10 tahun”. Dan sekejap mata jadi.
Si C : ”Aku mau semua jenis rokok dari seluruh dunia+ makanan yg cukup letakkan dlm gua tertutup dan jangan ganggu aku selama 10 tahun”. Dan sekejap mata jadi

10 Tahun Kemudian, dukun sakti membuka pintu gua masing2 sesuai perjanjian.
Ketika pintu Gua I dibuka,keluarlah si A, kurus kering, berdiri pun tidak bisa karena lutut pd goyang hampir lepas, sebab hari-harinya dihabiskan hny memuaskan nafsu dgn perempuan. Beberapa saat kmdn si A pun jatuh ke tanah lalu mati
Pintu Gua II dibuka, maka keluarlah si B, perut buncit dan mata merah krn hari-harinya dihabiskan dg mabuk2an. dia terhuyung dan jatuh ke tanah lalu mati
Pintu III dibuka,keluarlah si C, sehat walafiat bahkan lebih sehat. dari 10 tahun lalu. dia berjalan tegap ke arah dukun itu dan langsung Menabok kepala sang dukun seraya berkata“ Dasar DUKUN GUOBLOOOKK!!! KOREKNYA MANA???!

Catt :ROKOK TIDAK BERBAHAYA BAGI KESEHATAN selama TIDAK ADA KOREKNYA”

Read Full Post »