Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juni, 2013

From: “Farid Gaban” <faridgaban@yahoo.com>
Sender: sinergi-ia-itb@yahoogroups.com
Date: Sun, 23 Jun 2013 02:01:39 -0000
To: <sinergi-ia-itb@yahoogroups.com>
ReplyTo: sinergi-ia-itb@yahoogroups.com
Subject: [sinergi-ia-itb] Berziarah ke Digoel, Penjara tak Bertepi

 

Air hujan yang mengucur dari atap seng seperti tirai menyelimuti gubug itu. Bikin hangat lantai kayu tempat saya merebahkan badan. Tapi saya tak bisa tidur. Berkecamuk pikiran antara masa kini dan lampau.

“Lama tada orang ke sini,” kata Adrianus Sandap, pemuda Papua dari Suku Wambon yang menemani saya.

Laba-laba menganyam jaring di beberapa sudut langit-langit gubug. Tengkorak kepala babi tergantung di dinding. Kering tak lagi berbau. Sementara abu kayu bakar di tungku sudah mengeras bersanding dengan piring dan cawan besi berkarat.

Gubug itu berdiri rapuh di atas bukit pada tepian hulu Sungai Digoel, pedalaman Papua bagian selatan, dekat perbatasan Papua Nugini. Dia dikelilingi belukar dan hutan berpohon tinggi. Tak ada dermaga di sungai, bahkan dari kayu pun. Apalagi papan nama. Jalan mendaki menuju bukit tak lagi jelas. Dari tepi sungai saya harus menembus lantai hutan yang ditumbuhi tanaman perdu dan lumut. Lembab oleh humus yang basah. Penuh lintah dan nyamuk.

Siapa pula mau datang ke situ?

Tanah Tinggi begitu terpencil. Saya pun takkan pernah ke situ jika bukan tergoda oleh makna sejarahnya yang sangat penting bagi kemerdekaan Indonesia. Tanah Tinggi adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah Tanah Merah, atau Boven Digoel. Inilah kamp konsentrasi Hindia Belanda pada 1920-an, tempat banyak tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia diasingkan dan tewas.

***

Boven Digoel menjadi kabupaten tersendiri sejak 2002. Dia bisa dicapai dari Merauke, pojok paling timur Indonesia, dengan tiga cara. Pertama, pesawat kecil Express Air sepekan sekali. Kedua, jalan darat 450 km yang kondisinya sangat buruk. Atau ketiga, naik kapal motor memutar ke Laut Arafura sebelum masuk mulut Sungai Digoel sejauh 500 km ke arah hulu, dua pekan sekali.

Boven Digoel adalah Bahasa Belanda untuk Digoel Udik (hulu).

Masih miris saya mendengar peristiwa 2005 ketika sebuah kapal Merauke-Digoel tenggelam di Laut Arafura, menewaskan 200 lebih penumpangnya. Saya memilih jalan darat. Tapi, meski hanya setara jarak Jakarta-Semarang, perjalanan darat Merauke-Digoel makan waktu dua hari dua malam. Dan sungguh melelahkan.

Perjalanan ke Digoel merupakan bagian dari Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa 2009-2010, petualangan saya keliling Indonesia bersepeda motor. Tapi, saya diingatkan untuk tidak memakai sepeda motor menuju Digoel. Dan beruntung saya mematuhi peringatan itu. Motor bisa terbenam dalam lumpur yang kondisinya lebih ganas dari sekadar ajang olahraga off-road gagah-gagahan.

Ada angkutan umum dari Merauke ke Digoel. Angkutan umum istimewa. Rute ini hanya dilayani oleh jeep-jeep tahan banting, umumnya Daihatsu Hiline dengan four-wheel drive, bergardan ganda serta dilengkapi derek. Mobil-mobil Hiline bekas dari Jawa, nampak dari nomor polisinya, dibawa ke sini untuk menaklukkan medan yang berat.

Satu mobil biasanya diisi delapan penumpang plus sopir. Tarifnya Rp 700 ribu per penumpang. Mahal? Tadinya saya berpikir begitu. Tapi, belakangan saya tahu, itu harga yang pantas, bahkan murah.

Perjalanan keluar dari Merauke lumayan menyenangkan. Mobil kami melintasi jalan aspal bagus sekitar 60 km, melewati Taman Nasional Wasur, salah satu khasanah ekosistem unik yang lebih mirip Australia ketimbang bagian lain Indonesia.

Saya menikmati hutan mangrove dengan rawa-rawa yang ditumbuhi bunga teratai. Banyak pula rumah rayap atau semut, mumasu, yang menjulang di kanan-kiri jalan. Tapi, saya tak beruntung menemukan kanguru liar yang sudah mulai punah.

Hanya sekitar satu jam setelah itu perjuangan berat dimulai. Jalan mulai bercampur tanah lalu lumpur. Mobil harus melintasi banyak kubangan, kadang setinggi atapnya, serta melewati sungai-sungai kecil tanpa jembatan.

Tiap sopir dibantu dua kernet, yang tak pernah masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan mereka bekerja keras mengeringkan kubangan air, memasang patok derek, mendorong mobil, serta menebang pohon untuk membuat anyaman kayu di atas lumpur agar bisa dilalui. Mereka melakukan semua itu bukan untuk kesenangan, melainkan mencari nafkah.

“Saya berhenti sekolah setelah SD,” kata Ben Barnabas, salah satu kernet. Usianya baru belasan. Wajah dan kaosnya belepotan lumpur setelah memasang potongan kayu. Dia mendapatkan Rp 300 ribu untuk satu kali jalan. “Makan dan tidur ditanggung.” Tapi, tidur adalah kemewahan.

Beberapa mobil biasa berjalan beriringan, agar bisa saling membantu dan menderek. Dengan itupun kadang diperlukan waktu berjam-jam untuk keluar dari kubangan lumpur. Ada puluhan kubangan berat hanya untuk mencapai Munting, desa terdekat, pertengahan antara Merauke-Digoel.

Jika gelap terlebih dulu menyergap, sementara mobil tak bisa lepas dari jebakan lumpur, para penumpang, termasuk perempuan dan anak-anak, akan tidur di mobil. Hutan di kedua sisi jalan terlalu berisiko untuk tempat istirahat.

Beruntung kami bisa mencapai Munting meski di tengah malam. Kota kecamatan kecil itu sangat menolong. Ada beberapa warung makan di situ, juga penginapan sangat sederhana: kamar berdipan tanpa kasur dengan tarif Rp 20 ribu. Tapi, itu cukup melegakan mengingat esok harinya masih banyak kubangan lumpur harus dilalui sebelum mencapai Asiki.

Solidaritas antar sopir sangat diuji di sini. Jika satu mobil terjebak kubangan, mobil dari belakang maupun depan seringkali tak bisa lewat. Pada musim penghujan seperti ketika saya lewat, konvoi truk-truk pengangkut barang dan bahan makanan memilih berhenti sama sekali sampai kubangan cukup kering. Sopir dan kernetnya siap dengan tenda serta alat masak untuk persediaan satu atau dua pekan lamanya.

Asiki adalah persinggahan kami kedua. Dia lebih besar dari Munting. Ada kilang pengolahan kayu di situ, dan kebun kelapa sawit, sehingga kota kecil ini cukup ramai oleh pendatang. Tapi, baru tengah malam hari mencapai Asiki, kami hanya menemukan satu penginapan kecil, tanpa air karena pompa listrik rusak. Tak masalah, pikir saya, karena penderitaan segera berakhir.

Esok paginya mobil kami meluncur melintasi jalan yang lumayan bagus untuk mencapai Tanah Merah, ibukota Kabupaten Boven Digoel, sebelum tengah hari.

***

Tanah Merah kota kecil yang sekarat. Satu-satunya pusat keramaian di siang hari adalah pasar tradisional dekat dermaga Sungai Digoel. Para pedagang menjual hasil kebun: sayuran, pepaya, singkong, cabe dan pinang. Ada pula penjual ikan sungai dan lele. Di tenda-tenda darurat, pedagang menawarkan pakaian, alat elektronik, peralatan dapur serta kebutuhan pokok sehari-hari.

Harga kebutuhan pokok, termasuk makanan, relatif mahal karena buruknya transportasi. Ongkos angkutan umum pun mahal, dengan tarif jauh-dekat Rp 5 ribu untuk kota sekecil itu.
Listrik sudah dua hari mati ketika saya datang. Beruntung saya bisa menemukan penginapan yang punya generator sendiri, sekadar untuk bisa mengisi batere telpon seluler dan kamera.

Bahkan es termasuk barang mewah. Masyarakat mengandalkan generator milik pemerintah daerah, yang birokrasinya ruwet dan bupatinya ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi di Jakarta karena terlibat manipulasi anggaran. PLN setempat punya generator, tapi tak lagi berfungsi. Itu generator warisan kolonial Belanda buatan 1930-an.

Kondisi Boven Digoel belum banyak berubah dari 80 tahun lalu, yang kisahnya saya baca dari buku-buku sejarah.

***

Dekat Bandar Udara Boven Digoel patung Bung Hatta itu berdiri tegak dengan telunjuk tangan kanannya menuding tanah. Dia seperti ingin mengatakan: “Saya pernah di sini!” Patung itu membelakangi kompleks bangunan lama yang kini menjadi tangsi polisi, sebelah menyebelah dengan bekas Penjara Digoel.

Penjara itu cukup bersih dan terawat rapi, dikelilingi tembok kawat berduri. Ada dua blok tahanan di situ yang bisa diisi puluhan orang. Tahanan tidur bersama di atas papan kayu. Atap ruangan dialiri setrum listrik. Di pojok ruang ada sekat kecil untuk jamban. Satu WC untuk puluhan orang.

Di satu ruang yang dulu nampaknya gudang, saya melihat sebuah almari reyot berisi piring, mangkuk dan cangkir terbuat dari seng. Berdebu, berkarat dan tak terawat. “Ini dulu dipakai para tahanan,” kata Wens Katukdoan, penjaga situs bersejarah itu.

Ada pula enam sel isolasi yang hanya bisa diisi satu orang. Sel itu berukuran 2×2,5 m. Hampir kedap. Bahkan atapnya pun dari beton dengan lubang-lubang ventilasi sekecil biji kelereng. “Bung Hatta pernah mendekam di situ,” kata Wens sambil menunjuk sel pertama.

Tapi, saya kurang percaya. Bung Hatta tak pernah menyebut sel seperti itu dalam memoar maupun buku dan artikelnya. Penjara Digoel, yang dimaksudkan untuk mengasingkan tahanan pembangkang, pada dasarnya adalah penjara dalam penjara.

Delapan dasawarsa lalu, Boven Digoel secara keseluruhan adalah penjara itu sendiri. Penjara alam tak bertepi. Kawat berduri yang mengelilingi penjara, barak militer, dan dapur umum, justru dibuat untuk melindungi serdadu dan aparatur Hindia Belanda dari orang buangan.

Para tahanan politik yang diasingkan di Boven Digoel, termasuk Bung Hatta dan Sjahrir, tinggal di rumah-rumah sederhana berdinding kayu yang tersebar di dataran gersang tak jauh dari dermaga. Saya tak bisa lagi menemukan bekas rumah mereka.

Bagaimanapun, Boven Digoel atau Tanah Merah lebih dari sekadar cerita tentang Hatta-Sjahrir. Mereka hanya setahun diasingkan di situ (1935-36), sementara Digoel punya rentang sejarah lebih panjang, melibatkan penderitaan, tragedi dan kepahlawanan banyak tokoh lain pergerakan pada masa itu.

Tanah Merah dibuka pada 1927 dan baru ditutup limabelas tahun kemudian, menjelang kekalahan Sekutu dari Jepang dalam Perang Pasifik. Chalid Salim, adik kandung tokoh pergerakan Haji Agus Salim dan sepupu Sutan Sjahrir, adalah salah satu yang paling lama mendekam di Digoel, dari awal hingga akhir. Kelak dia menulis detil kehidupan di sana dalam buku “Lima Belas Tahun Digul: Kamp Konsentrasi di Nieuw Guinea”.

Mas Marco Kartodikromo, seorang pionir jurnalis Indonesia, tak selamat dari neraka Digoel. Dia meninggal di sana. Marco sempat menulis artikel yang kemudian dibukukan: “Pergaulan Orang
Buangan di Boven Digoel”. Dialah tokoh yang kental saya bayangkan ketika saya merebahkan badan di lantai kayu gubug Tanah Tinggi, 50 km dari Tanah Merah ke arah hulu Sungai Digoel.

Beberapa orang buangan lain menulis laporan pandangan mata dan cerita pendek, yang kelak dibukukan dan disunting oleh Pamoedya Ananta Toer dalam “Cerita dari Digul”. Ironis bahwa setelah merdeka Pemerintah Orde Baru meniru kolonial Belanda membangun neraka mirip Digoel di Pulau Buru, bagi orang-orang seperti Pram.

Boven Digoel dimaksudkan sebagai tempat pengasingan para aktivis politik agar tidak menularkan virus kebencian dan pemberontakan kepada Pemerintah Hindia Belanda. Tempat itu sangat terpencil bahkan untuk ukuran sekarang. Apalagi 80 tahun lalu.

Satu-satunya jalan keluar-masuk ke situ adalah Dermaga Digoel, 450 km dari mulut sungai besar yang berkelok-kelok. Satu-satunya sarana komunikasi keluar adalah kapal Belanda yang sebulan sekali berlabuh di situ. Kota administratif Hindia Belanda terdekat adalah Ambon, Maluku.

Koloni Digoel, dengan radius 25 kilometer, seperti Australia kecil bagi kolonial Inggris. Atau seperti Guyana kecil bagi Prancis.

Pemerintah Inggris dulu menjadikan Australia tempat buangan para kriminal. Seperti Inggris dan Prancis, Belanda membangun permukiman yang seolah-olah normal di koloni pengasingan. Di samping rumah, Belanda membangun fasilitas rumah sakit, bioskop, gedung kecil pertunjukan seni, bahkan sekolah, gereja, dan masjid.

Para tahanan diperbolehkan membawa istri dan keluarga. Mereka boleh hidup bebas, termasuk membentuk klub sepakbola, kelompok kesenian gamelan atau ketoprak, bahkan kelompok musik jazz. Semua tahanan mendapat santunan 72 sen plus ransum makanan. Tapi, yang mau bekerja untuk pemerintah memperoleh tambahan 40 sen, dengan kemungkinan bebas lebih awal.

Chalid Salim memilih bekerja untuk pemerintah. Setiap hari dia berkeliling dari rumah ke rumah untuk memastikan tak ada genangan air yang bisa dihidupi nyamuk. Begitulah limabelas tahun dia menyibukkan diri untuk menghindari kesepian dan kegilaan.

Bung Hatta memilih menolak bekerja sama. Tapi, seperti Salim, dia tetap harus menyibukkan diri pula. Meski kelak perkiraannya keliru, Hatta sudah siap untuk tinggal lama di Digoel. Dia membawa serta 16 peti bukunya dari Batavia dan menyibukkan dirinya dengan membaca buku serta menulis.

“Jika orang lain mempersempit dunia kita, kita sendiri bisa membangun dunia dalam pikiran kita,” kata Hatta.

Hatta secara teratur menulis artikel untuk koran Pemandangan. Dia juga mengajar para tahanan ilmu ekonomi, sejarah, dan filsafat. Kumpulan bahan pelajaran itu di kemudian hari dibukukan: “Pengantar ke Jalan llmu dan Pengetahuan” dan “Alam Pikiran Yunani.”

Kelak, setelah Indonesia merdeka, buku terakhir itu menjadi mahar perkawinan Hatta dengan Rachmi.

Tapi, kehidupan hanya seolah-olah saja normal di Digoel. Delapan puluh tahun lalu, Digoel tak hanya dipagari sungai yang banyak berisi buaya. Dia juga dikepung rawa dengan nyamuk malaria yang mematikan, serta hutan belantara dengan suku-suku asli Papua yang kadang bisa dibujuk Belanda untuk bersikap keras kepada pendatang.

Berbeda dari kamp konsentrasi Nazi Jerman, Digoel tak mengenal kekejaman fisik. Tapi, siksaan mentalnya luar biasa. Para tahanan sama sekali tak tahu apakah mereka bisa pulang. Dan seandainya pun bisa, mereka tak tahu kapan. Masa depannya gelap dan kabur. Banyak orang remuk mentalnya karena putus asa.

Takashi Shiraishi, sejarawan asal Jepang yang merangkum sejarah Digoel dalam “The Panthom World of Digoel”, menulis:

Pada tahun-tahun pertama, ratusan orang meninggal karena kelaparan dan sakit. Depresi Ekonomi di Eropa membuat Belanda mengurangi anggaran dan memangkas fasilitas bagi orang buangan. Penderitaan itu menyebabkan banyak orang buangan mencoba melarikan diri ke Australia. Mereka menggunakan perahu-perahu kecil buatan sendiri, tetapi sedikit saja yang berhasil. Sebagian terpaksa kembali, lainnya mati tenggelam.

Menyurusi Sungai Digoel, saya percaya miris membayangkan situasi 80 tahun lalu itu.

Menyusul rombongan pertama pada 1927, jumlah orang buangan Digoel mencapai puncaknya dua tahun kemudian, yakni 2.100 orang, namun berangsur menyusut karean dibebaskan.

Rombongan pertama adalah para aktivis ISDV (cikal bakal Partai Komunis Indonesia) menyusul pemberontakan gagal mereka melawan Belanda. Hingga kini, saya curiga, adalah karena alasan “komunis” itulah pelajaran sejarah Indonesia kurang bersimpati kepada kaum Digoelis dan makna penting perjuangan mereka.

Padahal pemberontakan 1927 tidak bisa disamakan dengan Pemberontakan PKI 1965. Lebih dari itu, tidak hanya komunis yang pernah diasingkan ke neraka Digoel. Ada banyak nasionalis, seperti Hatta dan Sjahrir. Ada pula ulama Perhimpoenan Moeslimin Indonesia dan Partai Serikat Islam Indonesia seperti Ilyas Yakub dari Minangkabau.

Keragaman penghuni Digoel kini masih bisa dilihat pada monumen dekat Taman Makam Pahlawan di pinggiran hutan. Ada 42 nisan di situ. Berikut daftar nama yang dimakamkan.

Kita bisa membaca keragaman latarbelakang suku dan kota asal para “Perintis Kemerdekaan” ini: Banten, Padang, Bandung, Solo, Madiun, Ternate, Manado, Pekalongan.

Ada tiga nama yang menarik perhatian saya: Karto (Mas Marco Kartodikromo), Ali Archam dan Nahjoan (Thomas Najoan). Mereka dikenal sebagai Marxist garis keras yang tak mau kompromi. Bagi Belanda tak cukup mereka dibuang ke Tanah Merah. Mereka diasingkan ke Tanah Tinggi, Sungai Digoel lebih ke hulu lagi, dengan alam yang lebih brutal. Mereka tewas karena tuberculosis atau malaria.

***

Tanah Tinggi yang saya kunjungi hampir sama persis dengan gambaran 80 tahun lalu yang saya baca. Minus bangunan-bangunan yang kini tiada. Yang tersisa hanya batu bekas fondasi sebuah bangunan lama, tak terawat ditumbuhi lumut dan rumput setinggi pinggang, di atas dataran seluas lapangan basket.

Selebihnya adalah semak belukar yang dikeliling jurang dan hutan lebat. Dari satu sudut bukit itu kita bisa melihat kelokan Sungai Digoel di kejauhan, satu-satunya jendela kebebasan bagi orang-orang buangan dulu. Itupun tak bisa dijamin.

“Tak ada yang bisa lolos dari tempat seperti ini delapan puluh tahun lalu,” kata Adrianus Sandap, pemuda Papua yang menemani saya ke situ.

Pada puncak kebrutalannya, Tanah Tinggi pernah dihuni oleh 70 orang buangan dan 45 anggota keluarganya. Mereka tinggal di 40 rumah yang terpisah satu sama lain, di dalam hutan, di kelilingi kebun sayuran. Semua itu tak ada bekasnya lagi sekarang.

Untuk sampai ke Tanah Tinggi, saya menyewa speed-boat yang dua jam mesinnya menderu dari Tanah Merah ke arah hulu. Tak ada jalan darat menuju Tanah Tinggi sampai sekarang. Dulu diperlukan waktu lima jam perjalanan sungai untuk mencapai Tanah Tinggi. Bahkan sampai kini, hanya hutan dan rawa yang ditemukan sepanjang perjalanan. Saya tak melihat satu pun perkampungan, kecuali satu dua rumah tradisional Suku Mandobo.

Di Tanah Tinggi, gubug kayu tempat saya berteduh itu baru dibangun belakangan, lengkap dengan panel surya yang tak lagi berfungsi, namun tak bisa menepis kesan betapa primitif, sunyi dan sangar tempat ini bahkan sampai sekarang.

Alam benar-benar berkuasa di sini. Udara lebih lembab di sini dibanding di Tanah Merah, karena lebatnya hutan sekeliling. Curah hujan lebih tinggi. Musuh orang buangan di sini adalah asma dan tuberculosis, disamping malaria. Dan dengan fasilitas kesehatan yang jauh lebih minim dari Tanah Merah.

Agak sulit saya membayangkan bagaimana Mas Marco Kartodikromo bisa bertahan empat tahun di situ sebelum TBC memagut nyawanya pada 1932. Tak hanya itu. Dia masih setia menulis, dengan tangannya, sebelum kertasnya diselundupkan ke Jawa dan Sumatra. Harian “Pewarta Deli” memuat 50 seri tulisannya antara 10 Oktober hingga 9 Desember 1931, beberapa bulan sebelum dia meninggal.

Mas Marco tokoh pergerakan pribumi dan jurnalis yang melampaui zamannya. Lahir di Cepu, Jawa Tengah, dia memulai karir sebagai jurutulis jawatan kereta api di Semarang, sebelum bergabung dengan koran terbitan Bandung, “Medan Prijaji”, milik Tirto Adhi Soeryo. Tulisannya tajam menantang pemerintahan kolonial. Marco juga mendirikan organisasi jurnalis pribumi pertama, Inlandsche Journalistenbond (IJB) di Semarang pada 1914, dan menerbitkan korannya sendiri: “Doenia Bergerak”.

Aktivisme politik mengantarkannya masuk organisasi sempalan “Sarekat Islam Merah” yang belakangan melebur dalam Partai Komunis Indonesia. Itu pula yang belakangan menyeretnya ke Boven Digoel.

Protagonis lain di Tanah Tinggi yang saya kagumi adalah Thomas Najoan. Asal Manado, dia Ketua Pengurus Besar Sarekat Buruh Percetakan di Surabaya yang berafiliasi dengan PKI ketika pemberontakan pecah pada 1927. Tak mau mati kesepian di Tanah Tinggi atau gila karena konflik antar orang buangan, Najoan berkali-kali mencoba melarikan diri.

Sejarawan John Ingleson dalam “Jalan Ke Pengasingan” menulis Najoan tiga kali mencoba kabur, tiga kali pula dia gagal. Dalam pelariannya yang kedua, Najoan sukses menembus hutan, menyeberangi sungai-sungai kecil Muyu dan Mandobo, sebelum menyeberang ke Papua Nugini menuju wilayah Australia. Tapi, Australia punya perjanjian ekstradisi dengan Belanda. Najoan ditangkap dan dikapalkan kembali ke Tanah Tinggi.

Najoan mengingatkan saya pada penulis otobiografi Henri Charrière atau Papillon, terdakwa kasus pembunuhan Prancis yang dikirim ke pulau terpencil di Guyana, Amerika Latin. Mengatakan tuduhan pada dirinya palsu, Papillon berkali-kali kabur. Dan berkali-kali pula, ketika dia merasa sudah bebas, dia ditangkap dan dikembalikan ke Guyana.

Menurut Chalid Salim, ada 16 usaha pelarian dari Digoel, melibatkan 60 orang, 40 di antaranya dari Tanah Tinggi. Namun hanya sepertiga yang bisa mencapai wilayah Papua Nugini dan bahkan mencapai Pulau Thursday di atas Semenanjung York, Australia. Tapi, bahkan merekapun akhirnya dikembalikan ke Digoel. Najoan, menurut Salim, sempat melakukan usaha kabur keempat kali pada 1942, setahun sebelum Digoel ditutup, hanya untuk hilang dalam rimba.

Saya tak tahu persis cerita terakhir Salim itu. Tapi, satu nisan di Pemakaman Tanah Merah menyebutkan namanya. Apakah dia ditemukan meninggal di hutan? Atau kembali ke Digoel setelah kamp konsentrasi ditutup dan meninggal di situ? Entahlah.

Bagaimanapun, kisah manusia Tanah Tinggi seperti Najoan mengingatkan saya pada terkutuknya kebijakan kamp konsentrasi Boven Digoel. Memang, Belanda tidak membunuh. Mereka hanya membiarkan orang buangan mati, diterkam kuasa alam ganas, atau gila. Belanda menjadikan orang buangan zombie, manusia hidup tapi tercerabut jiwanya.

Di sisi lain, Boven Digoel mengingatkan saya pada herorisme orang-orang seperti Mas Marco dan Najoan dan Hatta yang menolak untuk menyerah. Yang melawan ketidakadilan dengan lantang namun berjuang dalam sunyi, melawan musuh tak terlihat: kesepian dan ketidakwarasan.

***

Masih gerimis dan hari hampir gelap ketika saya turun meninggalkan Tanah Tinggi. Suara mesin speedboat meraung memantul tepian Sungai Digoel, tanda jemputan telah datang. Dengan kaki telanjang saya menyusuri jalan setapak yang lembab dan basah. Berkali-kali terpeleset sebelum akhirnya mencapai tepi sungai tempat speedboat menunggu.

Semua kesulitan sepanjang perjalanan saya menuju Digoel dan Tanah Tinggi tak ada artinya dibanding hidup dan perjuangan orang-orang yang penah dibuang ke sini, para bapak dan ibu pendiri bangsa kita, yang lama sirna dari ingatan sejarah kita.

***

(Farid Gaban | Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa)

Read Full Post »

Dari milist alumni ITB:

“Eko Tjahjo P.” <limau_field@yahoo.com> wrote:

RAMALAN JOYOBOYO

Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran (Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda).
Tanah Jawa kalungan wesi (Tanah Jawa berkalung besi).
Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang. (Perahu berlayar di ruang angkasa.)
Kali ilang kedhunge.(Sungai kehilangan lubuk).
Pasar ilang kumandhang.( Pasar kehilangan suara).
Iku tandha yen tekane jaman Jayabaya wis cedhak (Itulah pertanda jaman Jayabaya telah mendekat).
Bumi saya suwe saya mengkeret.(Bumi semakin lama semakin mengerut.)
Sekilan bumi dipajeki.(Sejengkal tanah dikenai pajak).
Jaran doyan mangan sambel.(Kuda suka makan sambal).
Wong wadon nganggo pakeyan lanang.(Orang perempuan berpakaian lelaki.)
Iku tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking jaman.
(Itu pertanda orang akan mengalami jaman berbolak-balik. )
Akeh janji ora ditetepi.(Banyak janji tidak ditepati.)
Akeh wong wani nglanggar sumpahe dhewe.(Banyak orang berani melanggar sumpah. sendiri
Manungsa padha seneng nyalah.(Orang- orang saling lempar kesalahan)
Ora ngendahake hukum Allah.(Tak peduli akan hukum Allah.)
Barang jahat diangkat-angkat. (Yang jahat dijunjung-junjung.
Barang suci dibenci (Yang suci, justru dibenci).
Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit.(Banyak orang hanya mementingkan uang.)
Lali kamanungsan. (Lupa jati kemanusiaan) .
Lali kabecikan (Lupa hikmah kebaikan).
Lali sanak lali kadang.(Lupa sanak lupa saudara.)
Akeh bapa lali anak.(Banyak ayah lupa anak).
Akeh anak wani nglawan ibu.(Banyak anak berani melawan ibu).
Nantang bapa.(Menantang ayah).
Sedulur padha cidra.(Saudara dan saudara saling khianat).
Kulawarga padha curiga (Keluarga saling curiga).
Kanca dadi mungsuh.(Kawan menjadi lawan).
Akeh manungsa lali asale.(Banyak orang lupa asal-usul)
Ukuman Ratu ora adil.(Hukuman Raja tidak adil)
Akeh pangkat sing jahat lan ganjil.(Banyak pembesar jahat dan ganjil)
Akeh kelakuan sing ganjil (Banyak ulah-tabiat ganjil)
Wong apik-apik padha kapencil.(orang yang baik justru tersisih.)
Akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin.(Banyak orang kerja halal justru malu)
Luwih utama ngapusi.(Lebih mengutamakan menipu)
Wegah nyambut gawe.(Malas menunaikan kerja.)
Kepingin urip mewah.(Inginnya hidup mewah)
Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka.(Melepas nafsu angkara murka, memupuk durhaka).
Wong bener thenger-thenger. (Si benar termangu-mangu) .
Wong salah bungah.(Si salah gembira ria.)

Read Full Post »

Bung Karno, Dengan 6 Sahabat Pemimpin Dunia.

6 Pemimpin Dunia Sahabat dekat Bung Karno. Soekarno, Presiden RI pertama kita diakui sebagai salah satu Kepala Negara yang berpengaruh di dunia. Soekarno yang akrab dipanggil Bung Karno ini, dikenal mudah bergaul akrab dengan para pemimpin dunia lainnya. Beliau selalu percaya diri dan optimis walau menghadapi para pemimpin dari negara lainnya yang jauh lebih maju. Soekarno selain dikenal sebagai pemimpin yang kharismatik, supel dan penuh canda.

Dia juga dikenal sangat menghormati wanita. Tak heran, banyak wanita terpesona sikapnya yang gentleman. Teman akrab Soekarno tak hanya dari negara berkembang. Dia pun akrab dengan Presiden Amerika Serikat dan Uni Soviet. Walau lebih condong pada negara-negara sosialis, Soekarno dan Presiden AS John F Kennedy nyatanya bersahabat dekat.

Soekarno tak pernah pilih-pilih teman dalam pergaulan di dunia internasional. Jika membantu Indonesia dan menghargai revolusi, pasti cocok dengan Soekarno. Berikut para pemimpin dunia yang menjadi sahabat Soekarno dikutip dari merdeka.com :

1. Nikita Kruschev

Persahabatan Presiden Soekarno dan pemimpin Uni Soviet Nikita Kruschev mungkin lebih didasari latar belakang politik. Periode 1960an, Soekarno memaki-maki Amerika Serikat yang dianggap mendikte Indonesia. Bantuan dari AS dinilai tidak tulus karena AS banyak maunya. Maka saat Uni Soviet dan negara-negara Blok Timur menawarkan bantuan, Soekarno langsung menyambutnya.
Walau berlatar belakang politik, hubungan keduanya cukup akrab. Soekarno menggambarkan saat itu Kruschev begitu menghargainya. Di suatu hari yang sangat dingin di Rusia, Kruschev menjemput Soekarno. Tanpa banyak bicara dia mengajak Soekarno dan memberikan pinjaman tanpa bunga untuk Indonesia.
Dari Soviet pula Indonesia mendapat aneka persenjataan canggih untuk operasi militer merebut Irian Barat. Mulai dari pesawat tempur, pesawat pembom, kapal selam, kapal patroli hingga rudal anti serangan udara. Indonesia sempat menjadi negara paling kuat di Asia tahun 1960an.

2.Che Guevara

Fidel Castro dan Che Guevara baru memenangkan revolusi di Kuba. Pada Bulan Juni 1959, Castro mengutus Che melawat ke negara-negara Asia. Ada 14 negara yang dikunjungi Che, sebagian besar negara peserta Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955. Tentu Indonesia sebagai tuan rumah konferensi Asia Afrika, mendapat lawatan khusus Che.
Dia menemui Presiden Soekarno di Jakarta. Keduanya berdiskusi panjang lebar soal revolusi di masing-masing negara. Keduanya cocok karena sama-sama anti imperialis. Selain berdiskusi, Che juga menjalin kerjasama di bidang ekonomi antara Indonesia dan Kuba. Che juga sempat berwisata ke Candi Borobudur.
Che yang terkesan dengan Soekarno kemudian mengundang Soekarno untuk ganti berkunjung ke Kuba. Di sana Soekarno bertemu Fidel Castro. Fidel dan Soekarno langsung cocok dan menjadi sahabat. Apalagi saat itu Indonesia dan Kuba sama-sama kesal dengan Amerika Serikat (AS) yang mau ikut campur urusan dalam negeri kedua negara.

3.Josep Broz Tito

Presiden Yugoslavia Josep Broz Tito tak bisa dipisahkan dari deretan sahabat kental Soekarno. Pada tahun 1950an, mereka dikenal sebagai Kelompok Lima Netral. Kelompok lima ini beranggotakan Presiden RI Soekarno, Perdana Menteri India Nehru, Presiden Ghana Kwame Nkrumah, Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser, dan Presiden Yugoslavia Josep Broz Tito.
Bayangkan pada usia belia dulu, Indonesia bisa ikut menentukan langkah politik dunia yang terbagi atas Blok Barat dan Blok Timur. Kelompok Lima Netral ini tak mau memilih salah satu blok. Mereka memilih menggalang kekuatan di kalangan negara-negara dunia ketiga. Karena keperluan Nonblok itu pula Soekarno sering menemui Josep Broz.
Jika Soekarno datang, Josep Broz akan mengajak Soekarno ke night club paling mewah di Beogard. Mereka akan berdiskusi santai soal peta geopolitik dunia sampai pagi. Hebatnya, walau di night club, Soekarno tak mau menenggak alkohol setetes pun. Dia selalu minta air jeruk saat mau toast. Broz Tito pun tahu kebiasaan sahabatnya itu.

4.Jawaharlal Nehru

Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru adalah salah satu orang yang paling berjasa di awal kemerdekaan Indonesia. Saat Belanda memblokade wilayah Indonesia dari luar, India membantu mengirimkan obat-obatan dan berbagai bantuan lain untuk perjuangan Indonesia. Soekarno dan Nehru berteman baik. Keduanya sama-sama founding father atau bapak bangsa bagi negaranya masing-masing.
Nehru dan Soekarno sama-sama ingin menciptakan Asia yang bebas dari kolonialisme. Saat perayaan kemerdekaan India yang pertama, tanggal 26 Januari 1950, Soekarno hadir sebagai tamu kehormatan. Pada Nehru dan rakyat India, Soekarno mengucapkan terimakasih dan salam persaudaraan dari seluruh rakyat Indonesia. Tahun 1955 saat konferensi Asia Afrika, keduanya berdiri dalam satu mobil yang sama dan melambai pada rakyat Indonesia.
Soekarno pernah menulis surat pada Nehru yang sangat isinya mengharukan. “India dan rakyatnya terikat erat pada kami dengan darah dan kebudayaan. Hubungan ini telah terjalin dari awal tercatatnya sejarah. Kata India juga akan selalu ada dalam hidup kami. Sebagian kata itu merupakan rangkaian huruf pertama yang kami pilih untuk menamai bangsa dan negara ini,” kata Soekarno.

5.Gamal Abdul Nasser

Mesir adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser dan Soekarno pun berteman akrab. Keduanya adalah tokoh gerakan Nonblok yang sama-sama punya mimpi mewujudkan negara-negara Asia dan Afrika agar tidak terus dijajah bangsa Eropa dan Amerika. Soekarno berkali-kali mengunjungi Mesir.
Karena Nasser pula masyarakat Mesir sangat menghormati Soekarno. Karena itu ada kebun mangga Soekarno di Ismailia. Bibit mangga itu konon merupakan hadiah Soekarno untuk rakyat Mesir. Ada pula istilah kopiah Soekarno untuk menyebut peci hitam yang mirip dengan kopiah Soekarno.
Bahkan ada jalan Ahmed Soekarno di Kairo. Soekarno dan Nasser pernah sama-sama khusyuk berdoa di Masjid Al Azhar, Kairo. Hingga kini, ribuan mahasiswa Indonesia mendapat beasiswa di universitas Islam tertua itu.

6.John Fitzgerald Kennedy

Hanya satu Presiden Amerika Serikat (AS) yang berteman dengan Soekarno. Dialah Presiden John Fitzgerald Kennedy. Sebelumnya Soekarno sempat dongkol pada Presiden terdahulu AS Eisenhower karena membantu pemberontakan PRRI/Permesta di Sumatera dan Sulawesi. Soekarno mengunjungi Kennedy bulan April tahun 1961.
Keduanya langsung cocok. Secara pribadi Kennedy memberikan sebuah helikopter kepresidenan untuk Soekarno. Lewat lobi itu, AS pun setuju menjual pesawat angkut C-130 Hercules untuk merebut Irian Barat dari Belanda. John F Kennedy kemudian mengutus adiknya, Jaksa Agung AS Bob Kennedy ke Indonesia dan Belanda. Bob banyak menekan Belanda untuk mau duduk di meja perundingan menyelesaikan sengketa Irian Barat.
John Kennedy sudah berjani akan mengadakan kunjungan balasan ke Indonesia. Soekarno pun membangun sebuah paviliun istimewa di istana negara untuk sahabatnya itu. Sayangnya John F Kennedy keburu tewas ditembak sebelum sempat mencoba paviliun istimewa itu.

Read Full Post »

Ada kisah menarik dari Steve Jobs yang dimuat di website ITB, berikut ini saya kopi kan

Pidato Steve Jobs di Acara Wisuda Stanford University: “Stay Hungry. Stay Foolish”

Saya merasa bangga di tengah-tengah Anda sekarang, yang akan segera lulus dari salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah selesai kuliah.
Sejujurnya, baru saat inilah saya merasakan suasana wisuda.
Hari ini saya akan menyampaikan tiga cerita pengalaman hidup saya.
Ya, tidak perlu banyak. Cukup tiga.

Cerita Pertama: Menghubungkan Titik-Titik

Saya drop out (DO) dari Reed College setelah semester pertama, namun saya tetap berkutat di situ sampai 18 bulan kemudian, sebelum betul-betul putus kuliah. Mengapa saya DO? Kisahnya dimulai sebelum saya lahir. Ibu kandung saya adalah mahasiswi belia yang hamil karena “kecelakaan” dan memberikan saya kepada seseorang untuk diadopsi.
Dia bertekad bahwa saya harus diadopsi oleh keluarga sarjana, maka saya pun diperjanjikan untuk dipungut anak semenjak lahir oleh seorang pengacara dan istrinya. Sialnya, begitu saya lahir, tiba-tiba mereka berubah pikiran bayi perempuan karena ingin. Maka orang tua saya sekarang, yang ada di daftar urut berikutnya, mendapatkan telepon larut malam dari seseorang: “kami punya bayi laki-laki yang batal dipungut; apakah Anda berminat? Mereka menjawab: “Tentu saja.”
Ibu kandung saya lalu mengetahui bahwa ibu angkat saya tidak pernah lulus kuliah dan ayah angkat saya bahkan tidak tamat SMA. Dia menolak menandatangani perjanjian adopsi. Sikapnya baru melunak beberapa bulan kemudian, setelah orang tua saya berjanji akan menyekolahkan saya sampai perguruan tinggi.

Dan, 17 tahun kemudian saya betul-betul kuliah. Namun, dengan naifnya saya memilih universitas yang hampir sama mahalnya dengan Stanford, sehingga seluruh tabungan orang tua saya- yang hanya pegawai rendahan-habis untuk biaya kuliah. Setelah enam bulan, saya tidak melihat manfaatnya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dalam hidup saya dan bagaimana kuliah akan membantu saya menemukannya. Saya sudah menghabiskan seluruh tabungan yang dikumpulkan orang tua saya seumur hidup mereka. Maka, saya pun memutuskan berhenti kuliah, yakin bahwa itu yang terbaik. Saat itu rasanya menakutkan, namun sekarang saya menganggapnya sebagai keputusan terbaik yang pernah saya ambil.
Begitu DO, saya langsung berhenti mengambil kelas wajib yang tidak saya minati dan mulai mengikuti perkuliahan yang saya sukai. Masa-masa itu tidak selalu menyenangkan. Saya tidak punya kamar kos sehingga nebeng tidur di lantai kamar teman-teman saya. Saya mengembalikan botol Coca-Cola agar dapat pengembalian 5 sen untuk membeli makanan. Saya berjalan 7 mil melintasi kota setiap Minggu malam untuk mendapat makanan enak di biara Hare Krishna. Saya menikmatinya. Dan banyak yang saya temui saat itu karena mengikuti rasa ingin tahu dan intuisi, ternyata kemudian sangat berharga.

Saya beri Anda satu contoh:
Reed College mungkin waktu itu adalah yang terbaik di AS dalam hal kaligrafi. Di seluruh penjuru kampus, setiap poster, label, dan petunjuk ditulis tangan dengan sangat indahnya. Karena sudah DO, saya tidak harus mengikuti perkuliahan normal. Saya memutuskan mengikuti kelas kaligrafi guna mempelajarinya. Saya belajar jenis-jenis huruf serif dan san serif, membuat variasi spasi antar kombinasi kata dan kiat membuat tipografi yang hebat. Semua itu merupakan kombinasi cita rasa keindahan, sejarah dan seni yang tidak dapat ditangkap melalui sains. Sangat menakjubkan.

Saat itu sama sekali tidak terlihat manfaat kaligrafi bagi kehidupan saya. Namun sepuluh tahun kemudian, ketika kami mendisain komputer Macintosh yang pertama, ilmu itu sangat bermanfaat. Mac adalah komputer pertama yang bertipografi cantik. Seandainya saya tidak DO dan mengambil kelas kaligrafi, Mac tidak akan memiliki sedemikian banyak huruf yang beragam bentuk dan proporsinya. Dan karena Windows menjiplak Mac, maka tidak ada PC yang seperti itu. Andaikata saya tidak DO, saya tidak berkesempatan mengambil kelas kaligrafi, dan PC tidak memiliki tipografi yang indah. Tentu saja, tidak mungkin merangkai cerita seperti itu sewaktu saya masih kuliah. Namun, sepuluh tahun kemudian segala sesuatunya menjadi gamblang.
Sekali lagi, Anda tidak akan dapat merangkai titik dengan melihat ke depan; Anda hanya bisa melakukannya dengan merenung ke belakang.
Jadi, Anda harus percaya bahwa titik-titik Anda bagaimana pun akan terangkai di masa mendatang. Anda harus percaya dengan intuisi, takdir, jalan hidup, karma Anda, atau istilah apa pun lainnya.
Pendekatan ini efektif dan membuat banyak perbedaan dalam kehidupan saya.

Cerita Kedua Saya: Cinta dan Kehilangan.

Saya beruntung karena tahu apa yang saya sukai sejak masih muda. Woz dan saya mengawali Apple di garasi orang tua saya ketika saya berumur 20 tahun.
Kami bekerja keras dan dalam 10 tahun Apple berkembang dari hanya kami berdua menjadi perusahaan 2 milyar dolar dengan 4000 karyawan.
Kami baru meluncurkan produk terbaik kami-Macintosh- satu tahun sebelumnya, dan saya baru menginjak usia 30. Dan saya dipecat.
Bagaimana mungkin Anda dipecat oleh perusahaan yang Anda dirikan? Yah, itulah yang terjadi.
Seiring pertumbuhan Apple, kami merekrut orang yang saya pikir sangat berkompeten untuk menjalankan perusahaan bersama saya. Dalam satu tahun pertama,semua berjalan lancar. Namun, kemudian muncul perbedaan dalam visi kami mengenai masa depan dan kami sulit disatukan. Komisaris ternyata berpihak padanya. Demikianlah, di usia 30 saya tertendang.

Beritanya ada di mana-mana. Apa yang menjadi fokus sepanjang masa dewasa saya, tiba-tiba sirna. Sungguh menyakitkan. Dalam beberapa bulan kemudian, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya merasa telah mengecewakan banyak wirausahawan generasi sebelumnya -saya gagal mengambil kesempatan. Saya bertemu dengan David Packard dan Bob Noyce dan meminta maaf atas keterpurukan saya. Saya menjadi tokoh publik yang gagal, dan bahkan berpikir untuk lari dari Silicon Valley. Namun, sedikit demi sedikit semangat timbul kembali- saya masih menyukai pekerjaan saya. Apa yang terjadi di Apple sedikit pun tidak mengubah saya. Saya telah ditolak, namun saya tetap cinta. Maka, saya putuskan untuk mulai lagi dari awal. Waktu itu saya tidak melihatnya, namun belakangan baru saya sadari bahwa dipecat dari Apple adalah kejadian terbaik yang menimpa saya. Beban berat sebagai orang sukses tergantikan oleh keleluasaan sebagai pemula, segala sesuatunya lebih tidak jelas.
Hal itu mengantarkan saya pada periode paling kreatif dalam hidup saya.

Dalam lima tahun berikutnya, saya mendirikan perusahaan bernama NeXT, lalu Pixar, dan jatuh cinta dengan wanita istimewa yang kemudian menjadi istri saya. Pixar bertumbuh menjadi perusahaan yang menciptakan film animasi komputer pertama, Toy Story, dan sekarang merupakan studio animasi paling sukses di dunia. Melalui rangkaian peristiwa yang menakjubkan, Apple membeli NeXT, dan saya kembali lagi ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi jantung bagi kebangkitan kembali Apple. Dan, Laurene dan saya memiliki keluarga yang luar biasa. Saya yakin takdir di atas tidak terjadi bila saya tidak dipecat dari Apple. Obatnya memang pahit, namun sebagai pasien saya memerlukannya. Kadangkala kehidupan menimpakan batu ke kepala Anda. Jangan kehilangan kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus berusaha adalah karena saya menyukai apa yang saya lakukan. Anda harus menemukan apa yang Anda sukai. Itu berlaku baik untuk pekerjaan maupun pasangan hidup Anda. Pekerjaan Anda akan menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan kepuasan sejati hanya dapat diraih dengan mengerjakan sesuatu yang hebat. Dan Anda hanya bisa hebat bila mengerjakan apa yang Anda sukai. Bila Anda belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan menyerah. Hati Anda akan mengatakan bila Anda telah menemukannya. Sebagaimana halnya dengan hubungan hebat lainnya, semakin lama-semakin mesra Anda dengannya. Jadi, teruslah mencari sampai ketemu. Jangan berhenti.

Cerita Ketiga Saya: Kematian

Ketika saya berumur 17, saya membaca ungkapan yang kurang lebih berbunyi: “Bila kamu menjalani hidup seolah-olah hari itu adalah hari terakhirmu, maka suatu hari kamu akan benar.” Ungkapan itu membekas dalam diri saya, dan semenjak saat itu, selama 33 tahun terakhir, saya selalu melihat ke cermin setiap pagi dan bertanya kepada diri sendiri: “Bila ini adalah hari terakhir saya, apakah saya tetap melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?” Bila jawabannya selalu “tidak” dalam beberapa hari berturut-turut, saya tahu saya harus berubah. Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah kiat penting yang saya temukan untuk membantu membuat keputusan besar. Karena hampir segala sesuatu-semua harapan eksternal, kebanggaan, takut malu atau gagal-tidak lagi bermanfaat saat menghadapi kematian. Hanya yang hakiki yang tetap ada. Mengingat kematian adalah cara terbaik yang saya tahu untuk menghindari jebakan berpikir bahwa Anda akan kehilangan sesuatu. Anda tidak memiliki apa-apa. Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda.
Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosis mengidap kanker. Saya menjalani scan pukul 7:30 pagi dan hasilnya jelas menunjukkan saya memiliki tumor pankreas. Saya bahkan tidak tahu apa itu pankreas. Para dokter mengatakan kepada saya bahwa hampir pasti jenisnya adalah yang tidak dapat diobati. Harapan hidup saya tidak lebih dari 3-6 bulan. Dokter menyarankan saya pulang ke rumah dan membereskan segala sesuatunya, yang merupakan sinyal dokter agar saya bersiap mati. Artinya, Anda harus menyampaikan kepada anak Anda dalam beberapa menit segala hal yang Anda rencanakan dalam sepuluh tahun mendatang. Artinya, memastikan bahwa segalanya diatur agar mudah bagi keluarga Anda. Artinya, Anda harus mengucapkan selamat tinggal. Sepanjang hari itu saya menjalani hidup berdasarkan diagnosis tersebut. Malam harinya, mereka memasukkan endoskopi ke tenggorokan, lalu ke perut dan lambung, memasukkan jarum ke pankreas saya dan mengambil beberapa sel tumor. Saya dibius, namun istri saya, yang ada di sana, mengatakan bahwa ketika melihat selnya di bawah mikroskop, para dokter menangis mengetahui bahwa jenisnya adalah kanker pankreas yang sangat jarang, namun bisa diatasi dengan operasi. Saya dioperasi dan sehat sampai sekarang. Itu adalah rekor terdekat saya dengan kematian dan berharap terus begitu hingga beberapa dekade lagi.
Setelah melalui pengalaman tersebut, sekarang saya bisa katakan dengan yakin kepada Anda bahwa menurut konsep pikiran, kematian adalah hal yang berguna:Tidak ada orang yang ingin mati. Bahkan orang yang ingin masuk surga pun tidak ingin mati dulu untuk mencapainya. Namun, kematian pasti menghampiri kita. Tidak ada yang bisa mengelak. Dan, memang harus demikian, karena kematian adalah buah terbaik dari kehidupan. Kematian membuat hidup berputar. Dengannya maka yang tua menyingkir untuk digantikan yang muda. Maaf bila terlalu dramatis menyampaikannya, namun memang begitu.
Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan menjalani hidup orang lain. Jangan terperangkap dengan dogma-yaitu hidup bersandar pada hasil pemikiran orang lain. Jangan biarkan omongan orang menulikan Anda sehingga tidak mendengar kata hati Anda. Dan yang terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi Anda, maka Anda pun akan sampai pada apa yang Anda inginkan. Semua hal lainnya hanya nomor dua.

Ketika saya masih muda, ada satu penerbitan hebat yang bernama “The Whole Earth Catalog“, yang menjadi salah satu buku pintar generasi saya. Buku itu diciptakan oleh seorang bernama Stewart Brand yang tinggal tidak jauh dari sini di Menlo Park, dan dia membuatnya sedemikian menarik dengan sentuhan puitisnya. Waktu itu akhir 1960-an, sebelum era komputer dan desktop publishing, jadi semuanya dibuat dengan mesin tik, gunting, dan kamera polaroid. Mungkin seperti Google dalam bentuk kertas, 35 tahun sebelum kelahiran Google: isinya padat dengan tips-tips ideal dan ungkapan-ungkapan hebat. Stewart dan timnya sempat menerbitkan beberapa edisi “The Whole Earth Catalog”, dan ketika mencapai titik ajalnya, mereka membuat edisi terakhir.
Saat itu pertengahan 1970-an dan saya masih seusia Anda. Di sampul belakang edisi terakhir itu ada satu foto jalan pedesaan di pagi hari, jenis yang mungkin Anda lalui jika suka bertualang.
Di bawahnya ada kata-kata: “Stay Hungry. Stay Foolish.” (Jangan Pernah Puas. Selalu Merasa Bodoh).

Itulah pesan perpisahan yang dibubuhi tanda tangan mereka. Stay Hungry. Stay Foolish.
Saya selalu mengharapkan diri saya begitu.
Dan sekarang, karena Anda akan lulus untuk memulai kehidupan baru, saya harapkan Anda juga begitu.
Stay Hungry. Stay Foolish.

Read Full Post »