Feeds:
Pos
Komentar

Archive for November, 2013

…..Segera di toko buku….

————————————————————————–

Active Learning with Case Method

Mempertajam analisis, logikadan daya ingat mahasiswa

Prakata

Sistem belajar aktif (Active Learning Sistems) telah lama diyakini memberi makna yang signifikan, terutama bagi mahasiswa yang sudah dianggap sebagai manusia dewasa dalam proses pembelajaran. Dalam sistem belajar aktif, diakomodir perbedaan setiap individu untuk memiliki pendapat, persepsi maupun langkah-langkah pemecahan masalah yang berbeda antara satu dengan lainnya. Dalam pendidikan sistem konvesional dan tradisional seperti saat ini banyak diterapkan di Indonesia, hal ini tidak mungkin terlaksana karena sistem yang dianut adalah monolog, di mana dosen dianggap sebagai pusat pembelajaran dan pusat keilmuan.

Dalam perkembangan zaman di mana sumber pengetahuan dapat dengan mudah diakses secara on line sistem belajar secara tradisional seharusnya sudah tidak berlaku lagi, terutama bagi sekolah bisnis dan manajemen. Dosen bukan lagi orang yang paling pintar dan dapat bertindak sebagai diktator dalam proses penyerapan pengetahuan dan pengambilan keputusan di segala aspek dalam seluruh organisasi yang berkembang sangat dinamis. Bahkan dalam hal akses terhadap pengetahuan terkini dari sumber terbuka di universitas-universtitas terkemuka di dunia, seringkali mahasiswa lebih lincah, lebih cepat, lebih trampil melakukannya.

Salah satu model pembelajaran yang mengikuti pola belajar aktif adalah sistem pembelajaran dengan menggunakan metoda Kasus (Case Method) yang telah lama diterapkan di Harvard Business School. Dari penerapan metoda pembelajaran ini, Harvard Business School hampir selalu mendapatkan  ranking 1 di dunia dari berbagai cara pemeringkatan seperti Shanghai Jia Tong, Webometrcis, Time Higher Educations, dan sebagainya, karena sistem belajarnya tersebut, tentu di samping mendapatkan mahasiswa terbaik dari seluruh dunia. Ada banyak keunggulan sistem belajar dengan metoda Kasus ini, namun tidak banyak yang menyadarinya, tidak mengetahuinya bahkan masih banyak yang terus menerapkan sistem lama karena terlanjur sukar mengubah kebiasaan lama.

Terdapat perbedaan yang sangat mencolok antara sistem belajar dengan metoda Kasus dengan sistem belajar cara tradisional. Perbedaan ini bukan saja menyangkut pola pikir dan pelaksanaannya, tetapi melibatkan juga fasilitas fisik yang harus dimiliki. Bahkan seringkali dalam buku teks akademis yang digunakan, dicantumkan Kasus dalam lembaran terakhir dari tiap babnya, dan para pengajar serta universitasnya sudah merasa menerapkan sistem belajar dengan metoda Kasus karena itu. Dalam pengertian sistem belajar dengan metoda Kasus yang mengacu pada sistem Harvard, Kasus yang seringkali ada dalam buku tersebut bukanlah Kasus yang sebenarnya, tetapi hanyalah sebuah exercise saja, atau diistilahkan sebagai arcmchair case.  Kasus karangan. Dalam sistem Harvard, Kasus adalah kejadian yang benar-benar terjadi pada masa lalu dan dialami oleh eksekutif dari sebuah organisasi atau perusahaan, di mana Kasus ini dibawa ke kelas untuk pembelajaran, dengan mahasiswa diminta untuk berperan sebagai pengambil keputusan dalam Kasus yang dihadapi. Tentu dalam pembalajaran yang terjadi akan terdapat pertimbangan logika yang berbeda, latar belakang teori yang melandasi keputusan yang diambil juga dapat berbeda, serta berbagai hal lainnya yang bisa jadi berbeda antara mahasiswa satu dengan mahasiswa lainnya dalam pengambilan keputusan atas Kasus tersebut. Di sinilah peranan Kasus sebenarnya yang digunakan sebagai kendaraan dalam pemberian teori maupun pendekatan dalam subjek yang sedang dikaji. Jadi sebelum membahas dan mengambil keputusan dalam Kasus yang didiskusikan, mahasiswa harus membaca Kasus, membaca teks book atau referensi, membaca journal, untuk sampai pada pengambilan keputusan yang terbaik, menurut pikiran dan logika mahasiswa, yang bisa jadi berbeda dengan mahasiswa lainnya. Itulah dinamika penggunaan metoda Kasus dalam studi.

Sejak tahun 2004, MBA ITB di bawah kepemimpinan Prof. Jann Hidajat Tjakraatmadja, telah melakukan revolusi sistem belajarnya dengan mengadopsi sistem Harvard tersebut, melalui pelatihan terhadap dosen-dosennya. Tak kurang para dosen yang pakar di bidang pembelajaran dengan sistem Kasus tersebut mengubah pola pikir dan proses belajar di MBA ITB dengan memberi pelatihan intensif tentang metode studi Kasus tersebut kepada seluruh dosen MBA ITB, di antaranya Prof. Lambros Karavic (Victoria University, Melbourne), Prof. James Erskine (Richard Ivey Business Schoo & Managementl, Kanada), Dr. Hadi Satyagraha, Prof. Ho Den Huan (Nanyang University, Singapore) dan sebagainya. Dari hasil revolusi yang dilakukan, telah didapatkan hasil yang nyata, di antaranya MBA ITB telah dua kali masuk sebagai finalis L’oreal Business Case Competition yang diadakan di Paris bagi mahasiswa seluruh dunia. Di mana dari seluruh Perguruan Tinggi di dunia dibagi menjadi 8 zona dan Indonesia berada di Zona Delapan (Asia Selatan, Asia Tenggara dan Asia Timur) bersama-sama dengan Universitas top seperti berbagai Universitas dari Singapura, Thailand, India, Jepang dan sebagainya. Jumlah peserta dalam sekali business case competition di selenggarakan, melalui tahap online sebelum final di Paris tersebut, tidak kurang dari 220.000 mahasiswa dari 180 perguruan tinggi terbaik di seluruh dunia. Namun nyatanya  MBA ITB berhasil menjadi finalis dua kali yaitu di tahun 2006 dan 2009 di Paris tersebut.

Untuk sharing bagaimana sistem belajar dengan metoda Kasus itu dilaksanakan dengan benar, buku ini disusun agar sekolah bisnis dan manajemen di Indonesia dapat maju bersama-sama membangun bangsa. Buku ini disusun secara simpel dan praktis, dengan pengalaman penulis menjadi peserta pelatihan terbaik dari Prof. James Erskine dan juga mengambil pelajaran bahwa metoda yang diajarkan adalah benar, berdasarkan kemenangan kedua kelompok mahasiswa MBA ITB dalam kompetisi internasional di Paris tersebut, di mana saat itu penulis menjadi Ketua Program studi MBA ITB (2006-2009) serta selama 10 tahun mengajar MBA ITB dengan metode studi Kasus tersebut.

Terima kasih penulis sampaikan kepada Prof. Jann Hidayat dan Prof. Surna Tjahja Djajadiningrat yang mengijinkan penulis untuk mengembangkan segala kreativitas saat menjadi ketua Program Studi MBA ITB, Prof. Utomo Sarjono Putro, kolega yang menyumbangkan ide debat, Drs. Herry Hudrasyah, MA, kolega dosen dan soul mate dalam berbagai ide inovasi yang diterapkan, karena hanya beliau lah yang mengerti dan mampu merepresentasikan ide yang ada menjadi sesuatu yang nyata, dan selalu lebih baik, Dr. Wawan Dhewanto, Dr. Yus Sunitoyo, Pak Efson, Hani, Maya Bob, Amak, dan Ricky.

 Semoga bermanfaat bagi semuanya dan majulah Indonesia.

 Bandung, 2014

 Prof. Dermawan Wibisono

Read Full Post »

Dear all, very nice article and examples for us

Regards,

Prof. Dermawan Wibisono
_____________

Sejawat Guru Besar ITB yang sangat sangat banggakan. Berikut adalah email
yang saya terima dari mailing list Alumni Fisika ITB. Isinya sangat
relevan saat kita membicarakan mengenai institusi dan bangsa kita ke
depan.

Prof. Satria Bijaksana
=====================

Leiden is lijden, memimpin adalah menderita, sebuah pepatah kuno
belanda yang disampaikan oleh Mr. Kasman Singodimedjo untuk menggambarkan kesulitan ekonomi yang dialami oleh pimpinan perjuangan saat itu. Mohammad Roem dalam Karangan berjudul “Haji Agus Salim, Memimpin adalah Menderita  (Prisma No 8, Agustus 1977) mengisahkan keteladanan Agus
Salim sebagai pemimpin yang mau menderita.

Kasman dan Roem melihat H. Agus Salim hidup dengan keadaan yang sangat
sederhana, penuh kekurangan dan terbatas secara materi. Padahal H Agus
Salim adalah tokoh dan pimpinan perjuangan kala itu yang juga memimpin
Syarekat Islam yang sangat berpengaruh dalam pergerakan bangsa ketika itu.

H Agus Salim menjalankan prinsip leiden is lijden, memimpin adalah
menderita. Boro-boro minta naik gaji, berpikir soal gaji pun tidak pernah
ada dalam benak H Agus Salim.

Sungguh memprihatinkan ketika sejumlah kepala daerah melapor ke Presiden
SBY telah mengemban tugas yang tidak ringan, namun pendapatan yang mereka
terima masih kecil. Mereka meminta kepada presiden, agar gaji mereka dapat
disesuaikan dengan tugas yang mereka jalani.

“Terus terang, waktu saya mengadakan pertemuan dengan kepala daerah,
mereka dengan terus terang dan niat baik berkata pada saya. Pak presiden,
kami (kepala daerah) ini mengemban tugas yang tidak ringan, tapi gaji kami
kecil,” ujar SBY di Istana Negara, Jakarta, Rabu kemarin.

Menurut SBY, para kepala daerah ini mulai dari tingkat Gubernur, Walikota
dan Bupati meminta adanya penyesuaian.

Tidakkah para pejabat daerah ini berkaca pada apa yang sudah ditunjukkan
pahlawan nasional Haji Agus Salim. Dia lahir dengan nama Mashudul Haq atau
pembela kebenaran. Dalam pemerintahan RI, dia beberapa kali duduk dalam
kabinet, sebagai menteri muda luar negeri Kabinet Sjahrir II (1946), dan
kabinet Sjahrir III (1947), menteri luar negeri kabinet Amir (1947),
menteri luar negeri kabinet Hatta (1948-1949).

Menurut catatan harian Prof Schermerhorn, pemimpin delegasi Belanda dalam
perundingan Linggajati, Agus Salim adalah orang yang sangat pandai.
Seorang jenius dalam bidang bahasa. Mampu bicara dan menulis dengan
sempurna sedikitnya dalam sembilan bahasa. Hanya satu kelemahan dari Haji
Agus Salim, yaitu hidup melarat.

Dalam catatan M Roem, kehidupan Haji Agus tidak hanya sederhana, bahkan
mendekati miskin. Keluarga Haji Agus Salim pernah tinggal di Gang Lontar
Satu di Jakarta. Kalau menuju ke Gang Lontar Satu, harus masuk dulu ke
Gang Kernolong, kemudian masuk lagi ke gang kecil. Bisa dibayangkan, mana
ada pejabat sekarang yang tinggal di “cucu” gang.

Haji Agus Salim tidak pernah berpikir soal rumah mewah dan megah layaknya
pejabat sekarang. Dulu setiap enam bulan sekali dia punya kebiasaan,
mengubah letak meja kursi, lemari sampai tempat tidur. Kadang-kadang kamar
makan ditukarnya dengan kamar tidur.

Haji Agus Salim berpendapat dengan berbuat demikian, dia mengubah
lingkungan, yang manusia sewaktu-waktu perlukan tanpa pindah tempat atau
rumah. Apalagi pergi istirahat ke lain kota atau negeri. Tidak ada dalam
pikiran Haji Agus Salim, punya vila seperti para pejabat sekarang.

Mendengar cerita tentang Haji Agus Salim itu, tidakkah para pejabat yang
minta naik gaji malu. Haji Agus Salim, salah satu pendiri republik ini,
betul-betul menerapkan istilah yang disampaikan Kasman Singodimedjo saat
bertamu ke rumahnya, leiden is lijden, memimpin itu menderita. Artinya,
memimpin itu tidak untuk foya-foya.

Potret memimpin adalah menderita juga terlihat begitu jelas pada sosok
Bung hatta. Proklamator ini juga menjalani hidup yang sederhana. Bung
Hatta pernah mengalami kesulitan untuk membayar tagihan listrik, telpon
dan air karena gaji pensiunnya tak cukup untuk membayar semua tagihan itu,
sehingga Ibu Rahmi Hatta harus mengirim surat pada Bung Karno yang pada
saat itu masih menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Bahkan,
hingga ajal menjemput, Bung Hatta tidak kesampaian memiliki sepatu merk
Bally yang begitu diidam-idamkannya.

Begitulah, Seorang pemimpin yang memahami hakikat leiden is lijden adalah
manusia yang siap hidup untuk memberikan pengabdian penuhnya kepada negara
atau komunitas yang dipimpinnya. Seorang pemimpin yang memahami hakikat
leiden is lijden adalah manusia yang mampu bertindak benar diantara
kesulitan-kesulitan dan masalah berat yang terhidang diatas meja
pengabdiannya.

Pemimpin yang memahami hakikat Leiden is lijden adalah manusia yang
ditakdirkan untuk memimpin, terlahir untuk memimpin karena muncul dari
rahim persada yang dialiri darah kebaikan dan tumbuh dalam ruang lingkup
moral budaya yang agung.

Pemimpin negarawan

Kepemimpinan yang ditunjukkan oleh H. Agus Salim dan Bung Hatta diatas
adalah kepemimpinan yang dijalani oleh negarawan sejati. Tokoh tersebut
menjadi pemimpin adalah berawal dari keterpanggilan untuk memimpin bangsa
dan bukan karena panggilan profesi. Sehingga kekuasaan bagi mereka adalah
sarana untuk mendatangkan kesejahteraan, kemakmuran dan kedamaian bagi
rakyat.

Dalam kondisi berbangsa dan bernegara saat ini, faktor keterpanggilan
karena profesi lebih kuat merasuki calon pemimpin bangsa ini. Mungkin pada
awalnya pemimpin kita bertujuan mulia untuk memberikan perubahan kearah
yang lebih baik. Namun, sejalan dengan apa yang dikatakan Lord Acton
kekuasaan yang mutlak rentan disalahgunakan (power tend to corrupt,
absolute power corrupt absolutely). Godaan materi dan kekuasaan yang kuat
serta diperburuk oleh moral yang buruk membuat pemimpin berbagai tingkatan
tergoda menyalahgunakan kekuasaannya untuk korupsi dan tindakan yang
merugikan negara lainnya. Mereka meraih dan mempertahankan kekuasaan
dengan segala cara dengan mengorbankan manusia lainnya.

Kita akui, menjadi pemimpin negara sebesar Indonesia memang tidaklah
mudah. Lao Tzu (500 SM)mengatakan “memerintah negara besar adalah mirip
dengan menggoreng ikan kecil†, apabila sering dibolak balik ikannya akan
hancur menjadi bubuk. Berbeda dengan menggoreng ikan besar yang meskipun
dibolak balik ikannya tetap utuh untuk menggambarkan memerintah negara
yang kecil.

Untuk mampu memeirntah dinegara sebesar Indonesia ini memang dibutuhkan
negarawan yang mampu memaknai bahwa memimpin adalah menderita. Indonesia
adalah negara yang majemuk yang terdiri dari berbagai macam kepentingan.
Pemimpin seperti itu adalah pemimpin yang rela mengorbankan waktu dan
pikirannya demi bangsa dan negaranya. Pemimpin yang tidak memandang latar
belakang politik dan agamanya. Pemimpin yang memberlakukan adagium “
ketika tugas negara dimulai, maka kepentingan politik berakhir†. Artinya
seorang pemimpin atau pejabat negara harus berkonsentrasi untuk mengurus
negara dan mampu menentukan prioritas antara kepentingan negara dengan
kepentingan golongan dan pribadi.

Kepemimpinan inilah yang telah diperlihatkan oleh H. Agus Salim, Bung
Hatta dan lainnya. mereka siap menderita demi kepentingan bangsa dan
negara. Lalu, apakah calon pemimpin yang saat ini berlomba-lomba untuk
memenangkan kursi sebagai penguasa dengan mengiklankan diri secara gencar
di media massa memahami hakikat memimpin adalah menderita ?

Sudah selayaknya sifat-sifat kenegarawanan para pemimpin kita terdahulu
perlu diinternalisasikan ke dalam tiap diri calon-calon pemimpin kita saat
ini. Bangsa ini butuh keteladanan dan sikap-sikap kenegarawanan yang lain.
Mudah-mudahan kita selalu mampu mengambil hikmah dari para
pemimpin-pemimpin kita di masa lalu, dan menjadi inspirasi bagi masa depan
bangsa.

Anda mungkin belum melihat pemimpin seperti ini, tapi percayalah pemimpin
seperti ini terus ada, terlahir disetiap generasi hanya saja untuk
menemukannya saya dan anda harus bersikap dewasa dan objektif dalam
melihat dan menilai seseorang. Jangan melihat seseorang seperti melihat
dari lubang pintu, memicingkan sebelah mata. Tapi mundurlah selangkah dan
buka kedua mata, maka saya dan anda akan melihat dunia seluas samudera.

Read Full Post »