Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Desember, 2013

Pahlawan dari Salatiga, Adisutjipto

 

  Adisutjipto        Kalau Adisutjipto tidak nekat menerbangkan pesawat bobrok peninggalan Jepang, entah apa nasib Angkatan Udara Republik Indonesia. Adisutjipto adalah orang yang merintis penerbangan AURI, membangun sekolah penerbang dan melakukan berbagai misi kemanusiaan lewat udara di tengah serangan Belanda. Hidupnya dihabiskan membangun kekuatan udara RI tanpa lelah. Di langit pula kesatria udara ini mengakhiri hidupnya. Adisutjipto lahir tanggal 4 Juli 1916 di Salatiga, Jawa Tengah. Otaknya encer dan prestasinya di sekolah sangat memuaskan. Lulus dari Algemene Middelbare School (AMS) Semarang tahun 1936, dia ingin melanjutkan masuk Akademi Militer Belanda di Breda. Namun sang ayah menyarankan Adisutjipto masuk Geneeskundige Hooge Shool (Sekolah Tinggi Kedokteran) di Jakarta. Tjipto diam-diam mengikuti tes dan diterima di Militaire Luchtvaart Opleidings School atau Sekolah Penerbangan Militer di Kalijati Subang. Tjipto lulus lebih cepat dan mendapat nilai yang sangat baik. Dia berhak menyandang pangkat letnan muda udara. Tjipto juga mendapat brevet penerbang kelas atas. Konon dialah satu-satunya orang Indonesia yang saat itu mempunyai brevet penerbang kelas atas. Dalam buku Bakti TNI Angkatan Udara 1946-2003 ditulis Tjipto kemudian mendapat tugas di Skadron Pengintai di Jawa.

penerbang indonesia

Saat Jepang mengalahkan Belanda, seluruh penerbang Belanda dibebastugaskan.  Adisutjipto kembali ke Salatiga. “Dia bekerja di sebuah perusahaan bus,” ujar Sudaryono.  Di kota ini pula Tjipto menyunting seorang gadis bernama Rahayu. Dilanjutkan Sudaryono, sekitar akhir Agustus seseorang bernama Tarsono Rud-jito (bekas BKR Oedara Yogya) datang mencari Adisutjipto. Karena mendapat informasi Adisutjipto di Salatiga, ia segera menyusul untuk menemui Adisutjipto. Singkat cerita, kedua orang ini saling bertemu dan bersepakat untuk kembali ke Yogyakarta. Kondisi angkatan udara saat itu sangat memprihatinkan. Tidak ada pilot, tidak ada mekanik pesawat, tidak ada dana, hanya ada beberapa pesawat tua peninggalan Jepang. Di tempat lain, Suryadarma memerintahkan seorang teknisi bernama Basir Surya untuk untuk segera ke Yogyakarta. Ketiga orang ini bertemu di Yogyakarta. Mereka kemudian memutuskan untuk menghidupkan sebuah Churen dan nanti akan diterbangkan oleh Adisutjipto. Basir surya bekerja cepat dan cermat. Sementara Adisutjipto berusaha memahami Churen, pesawat buatan Jepang yang sama sekali dia belum pernah menyentuhnya tanpa selembar pun manual book. Dengan bermodalkan keyakinan, kerja keras itu berbuah manis. Adisutjipto berhasil menerbangkan sebuah Churen yang sudah diberi marking Merah Putih di atas Yogyakarta pada 27 Oktober 1945. Inilah penerbangan bersejarah dalam dunia penerbangan Indonesia, ketika untuk pertama kali penerbang Indonesia menerbangkan pesawat di alam kemerdekaan. “Pak Cip sempat nyambar-nyambar di Alun-alun,” kata Sudaryono yang bergabung dengan TKR Oedara pada November 1945 setelah berjuang di Front Semarang. Aksi solo flypast yang dilakukan Adisutjipto ini dilakukan pada peringatan hari Sumpah Pemuda 28 Oktober di Yogyakarta.  Bukan tanpa maksud Tjipto melakukan itu. Hal ini dilakukannya untuk memompa semangat perjuangan rakyat. Tanggal 1 Desember 1945, Adisutjipto dan Surjadi Suryadarma mendirikan sekolah penerbang. Lagi-lagi dalam situasi serba kekurangan. Tjipto menjadi instruktur, sementara Surjadi mengurus administrasi. Angkatan pertama, ada 31 siswa yang mengikuti sekolah penerbangan itu. Hanya bermodal pesawat tua tidak menyurutkan langkah para perintis TNI AU ini untuk belajar.

siswa sekolah penerbangan

Dengan dibukanya sekolah penerbang ini, pemuda-pemuda yang semula mengorganisir diri di Malang, digabungkan ke Yogyakarta. Sekolah ini menerima para siswa yang berasal dari bekas siswa Aspirant Officer Kortvervand yang telah mengantogi klein brevet, bekas siswa vrijwillige vlieger corps, serta pemuda-pemu­da yang sama sekali belum pemah menerima pendidikan penerbang. Nall, Sudaryono dan 15 pemuda lainnya masuk ke dalam kelompok terakhir. Namun Adisutjipto tidak ge­gabah. Sadar seorang diri, is tidak lantas langsung menerima siswa dan mendidiknya. Pertama-tama, Adisutjipto mencetak sejumlah penerbang untuk menjadi instruk­tur. Menurut Sudaryono, angkatan pertama instruktur yang dididik Adisutjipto adalah Iswahjudi dan Imam Suwongso Wirjosaputro. Iswahjudi sendiri bekas siswa Aspirant Officier Leerling Vlieger namun belum sempat memper­oleh brevet, sedangkan Wirjosapu­tro bekas siswa Vrijwiliger Vlieger Corps. Angkatan kedua instruktur terdiri dan Abdulrahman Saleh dan Hubertus Sujono. Barulah setelah keempat penerbang ini dipandang Adisutjipto layak menyandang jabatan instruktur, sekolah penerbang pun mulai diaktifkan. “Instruktur utama adalah Iswahjudi dan Wirjos­aputro, saya sendiri dilatih oleh Iswahjudi,” papar Sudaryono. “Kalian menerbangkan peti mati,” ujar para penerbang Kerajaan Inggris yang mengunjungi Lanud Maguwo Yogyakarta tahun 1945. Para penerbang itu geleng-geleng melihat deretan pesawat Cureng buatan Jepang yang jumlahnya tidak seberapa di landasan pacu. Pesawat Cureng itu buatan tahun 1933, beberapa kondisinya jauh dari layak. Karena itu tidak salah jika pilot Inggris menyebutnya peti mati terbang. Tapi Kepala Sekolah Penerbang Maguwo, Komodor Adisutjipto, cuek saja mendengar ucapan tentara Inggris itu. Kadet-kadet sekolah penerbang itu mencatat prestasi membanggakan. Bukan hanya mencatat zero accident, Suharnoko, Harbani, Soetardjo Sigit dan Moeljono berhasil mengebom tangsi-tangsi Belanda di Salatiga, Ambarawa dan Semarang.

Tahun 1947, Adisutjipto dan rekan-rekannya ditugasi pemerintah RI untuk mencari bantuan obat-obatan bagi Palang Merah Indonesia. Bantuan didapat dari Palang merah Malaya, sementara pesawat angkut Dakota VT-CLA merupakan bantuan dari saudagar di India. Penerbangan dilakukan secara terbuka. Misi kemanusiaan ini telah mendapat persetujuan dari Belanda dan Inggris. Namun tanggal 29 Juli 1947, saat pesawat hendak mendarat di Maguwo, tiba-tiba dua pesawat pemburu Kitty Hawk milik Belanda muncul. Pesawat pemburu tersebut langsung menembaki Dakota yang ditumpangi Tjipto dan rekan-rekannya. Pesawat jatuh dan terbakar, Tjipto dan tujuh rekannya gugur. Hanya satu yang berhasil selamat. Entah apa maksud Belanda melanggar kesepakatan, namun diduga karena ingin membalas serangan kadet-kadet Indonesia yang mengebom tangsi Belanda. Untuk mengenang peristiwa tersebut di dirikan Monumen Ngoto yang terletak di Ngoto, bantul, Yogyakarta yang menjadi monumen perjuangan TNI AU.

Monumen Ngoto Yogyakarta

Beliau dimakamkan di pekaman umum Kuncen I dan II, dan kemudian pada tanggal 14 Juli 2000 dipindahkan ke Monumen Perjuangan di Desa Ngoto, Bantul, Yogyakarta. Adisutjipto baru berumur 31 tahun saat gugur. Keberanian dan semangatnya terus diceritakan dari generasi ke generasi. Memotivasi para penerbang TNI AU untuk melakukan hal serupa. Atas jasa-jasanya pemerintah memberikan gelar Bapak Penerbang Republik Indonesia pada Adisutjipto. Lapangan Udara Maguwo pun diubah namanya menjadi Lanud Adisutjipto.

Lapangan Pancasila Salatiga

Di Salatiga sendiri, sosok Adisutjipto di abadikan pada monumen tugu Pancasila, bersama dua pahlawan lainnya ( Brigjen Sudiarto dan Laksamana Madya Yosaphat Soedarso) yang juga berasal dari Salatiga.

Sumber : Kampoeng Salatiga

Read Full Post »