Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Education’ Category

Revolusi Sunyi
Aku sengaja pulang ke Indonesia, tuk mengambil raport anakku. Seperti biasa dalam setiap pertemuan, aku datang kepagian. Saat aku masuk ruangan, pekerja masih menata kursi dan mengetest sound systems. Sebagian air AC menetes di pojok ruangan, dengan tetesannya ditadahi ember. Tak ada perbaikan sebelumnya seperti layaknya menyambut tamu. Pertemuan itu, seperti penyakit berbagai pertemuan di Indonesia, mundur satu jam dari yang dijadwalkan. Kepala sekolah datang dengan kemeja biru lengan panjang dan dasi merah darah. Dengan bangga beliau mengatakan bahwa sekolah, tempat anakku belajar, memegang rangking tertinggi NEM se Jawa Barat. Bukan main, batinku. Aku tak mengikuti sesi tanya jawab, karena bosan dengan isu yang itu-itu saja. Aku langsung masuk kelas tempat raport anaku akan dibagikan wali kelasnya. Kelas masih kosong. Perlahan kemudian kelas itu terisi, mayoritas oleh ibu-ibu pengambil raport anaknya, yang tampaknya bukan seperti mengambil raport tetapi seperti acara kondangan. Pengambilan raport itupun terlambat satu jam, sehingga total jenderal semua terlambat dua jam. Suara adzan sholat dhuhur sudah terdengar ketika ibu-ibu dengan dandanan yang glamour, gemerlap, full make up, mengambil raport itu satu persatu dengan senyum di kulum. Tiba giliranku, sang wali kelas berpesan:”Pak jangan kaget dan kecewa, jika ternyata NEM yang tinggi-tinggi nanti dicapai oleh anak-anak yang biasanya rankingnya menengah ke bawah. Justru anak-anak yang ranking nya tinggi, biasanya NEM nya rendah..”. Kutatap ibu wali kelas itu pada bola matanya. Sang wali kelas menghindar. Alarm di dadaku berdering, memberi tanda peringatan, entah apa.
Kulihat lembar NEM anakku, tidak terlalu besar. Tapi yang lebih membuatku kaget adalah NEM nya di bawah rata-rata. Dan nilai bahasa Indonesia nya, hanya 7.6. Aku berfikir sejenak, sesulit apakah pelajaran bahasa Indonesia sekarang, sehingga anak-anak susah sekali mendapatkan nilai 8 apalagi 9, seperti pelajaran bahasa Inggris, IPA atau matematika.
Esok harinya, apa yang kurasakan kupendam dalam, agar tak terbaca anakku. Aku dating ke perpisahan sekolahnya. Perpisahaan yang wah untuk usia SMP di banding dengan jamanku 30 tahun yang lalu. Anak-anak lelaki sudah tinggi-tinggi dengan setelan jas yang gagah dan anak-anak perempuan bersolek dengan kebaya modern, bukan lagi tampak seperti siswa SMP, layaknyanya artis papan atas yang suka muncul di infotainment.
Sang penerima tamu berpesan, agar orang tua mengambil tempat duduk yang kursinya dicover dengan selendang warna emas, karena siswa akan duduk di kursi yang dicover biru, merah, pink, kuning dan hijau. Aku menurut saja, mengambil kursi untuk orang tua di samping anak-anak walau kadang sebagian pemandangan tertutup oleh tiang beton yang besar.
Tak beberapa lama datang seorang wanita, berkain warna kuning dan berkebaya warna mrah maroon. Dia dengan mimic serius mengusir kami, agar duduk di balkon, karena tempat duduk itu untuk undangan dari diknas. Ada empat puluh lima kursi di sana, batinku. Ooohh…mungkin sekarang sedang musim mengadakan perpisahan sekolah dengan mengudang 45 orang pegawai Diknas kota. Aku berpindah tempat, tak ingin konfrontasi dan mempertanyakan hal ini yang sudah dipesan oleh sang receptionist tadi.
Kulihat banyak wanita berkain kuning tapi berkebaya dengan tiga warna berbeda: hijau, maroon, dan cokelat. Ooohh ini panitianya rupanya. Banyak sekali. Tak berapa lama dari diknas pun datang, Cuma satu orang, ya Cuma satu orang dan memberi sambutan sekedarnya setelah itu pulang. Dan dengan masygul kutatap kursi tempat aku duduk, diperebutkan oleh ibu-ibu tadi yang berkain kuning, panitia yang sepanjang acara tidak jenak, tidak tumakninah. Berkali-kali acara di depan dipertunjukkan, berkali-kali pula ibu-ibu itu berfoto di barisannya. Rupanya ini ibu-ibu anggota komisi sekolah yang ikut ngributin jadi panitia. Walau tak jelas apa yang diurusnya. Mereka terlalu sibuk untuk selfi, untuk segera diunggah di facebook, instagram atau social media manapun yang diikuti. Berfoto dengan teman satu divisi, dengan kebaya yang sama atau dengan lain divisi. Ibu-ibu di usia pertengahan, lebih heboh dari anak-anaknya yang punya gawe di perpisahan itu.
Kemudian dipanggillah 10 NEM terbaik yang dipegang 20 anak, karena sebagian di antaranya ada skor yang sama. Kulihat tatap mata anaku yang begitu merana. Seolah berkata: akau ingin dipanggil ke sana, agar ayahku bahagia karenanya. Memerah mata anaku tapi tak berdaya. Karena dia sama sekali tidak terdapat di barisan anak-anak berprestasi itu.
Sang ibu-ibu anak yang dipanggil, seolah terkejut, dengan bangga menyertai langkah ke 20 anaknya maju ke depan menyalami kepala sekolah dan guru-guru yang dengan senyum penuh arif bijaksana mengantarkan anak didiknya melepas masa sekolahnya.
Semuanya berlangsung biasa saja, karena sudah sering sekali aku ikut upacara wisuda atau pelepasan kelulusan mahasiswa. Tapi entah alarm yang tadi berdering di dadaku, makin lama-makin kuat, sehingga iseng-iseng ku SMS teman dosen yang tahun lalu mendapat kasus NEM putranya. Putranya mendapatkan NEM 24 point sehingga tak diterima di sekolah manapun, bahkan akan masuk swasta pun justru ejekan yang diterimanya. Sang teman tak habis mengerti, anaknya pandai bahasa Inggris, pernah ikut ke luar negeri semasa beliau ngambil S2, tapi justru bahasa Inggrisnya dapat 2,6. Beliau akhirnya mengurus hal ini ke Diknas propinsi, diknas Kota, Sekolah dan bimbingan test untuk membantu memecahkan soal ini. Ternyata yang terjadi adalah, …..salah kunci. Akhirnya dari NEM 24 anaknya mendapat NEM 35 setelah semua pelajaran discan ulang di Jakarta. Sang teman memberi nomor kontak siapa yang bisa dihubungi dan masih amanah memegang prinsip bahwa pendidikan adalah asset utama bangsa. Selain tentu dia mengalami di ping-pong sana-sini, dan setelah hasilnya jelas, dia dipesan untuk menutup rapat-rapat rahasia ini.
Dengan mengucapkan bismillahirohmanirrohim, aku memberanikan diri menghadap ke Dinas propinsi. Benar kata temanku, bahwa ini adalah salah sedikit orang yang mengemban amanah, di antara para pemain ping-pong yang lain. Kuserahkan kecurigaanku kepada beliau untuk mengurusnya seperti pernah beliau lakukan pada temanku. Sementara itu, aku harus pergi ke Malaysia. Aku tak merasa tenang jika belum mendapatkan permasalahan yang sebenarnya terjadi. Dengan nekad, aku minta no hp Dirjen Dikdasmen kepada Dirjen Dikti, yang kebetulan bekas rector ku dulu. Untung beliau baik, walaupun semasa jadi rector pernah bersitegang denganku di forum rapat pimpinan, karena perbedaan prinsip dan policy yang kami ambil. Barangkali beliau ingat, aku satu-satunya yang menentang keputusannya saat itu, aku yang tidak mau yes man, aku yang selalu mempertanyakan, dibanding dengan 12 dekan lain yang sangat menjunjung tinggi structural. Entahlah, aku tidak bisa menjadi ABS. Kata almarhumah ibuku aku tidak bisa menjadi Yudhistira yang menurut saja atau tidak bisa jadi Bimo yang menyeberang lautan pun dilaluinya, untuk memenuhi kata gurunya, walau tahu bahwa Begawan Durna itu membohonginya. Aku hanya bisa menjadi Antasena, satria yang tak bisa duduk, dan mengatakan yang benar itu benar, atau aku terkontaminasi nama yang diberikan ibuku: Wibisono, Gunawan Wibisono, yang menentang kakaknya, Rahwana karena menculik Dewi Shinta. Pak Dirjen Dikti memberikan nomor Hp dirjen Dikdasmen. Seperti metralyur kuceritakan dalam SMS di sudut bandara, tentang kecurigaanku akan NEM di sekolah terbaik yang kualami. Semua tanpa ada yang kututupi. Bahwa tiga bulan sebelum ujian akhir, datanglah bimbingan test dengan sang kepala sekolah ke setiap kelas dengan promosi bahwa bimbingan testnya menjamin para partisipan mendapatkan NEM > 37, dengan membayar 10 juta rupiah. Jika tidak terwujud, uang akan dikembalikan 20 juta rupiah. Seperti bapaknya, mendengar promosi semacam itu, bukannya didengerin, anakku kabur, dengan hati mengkal. Sesuatu yang tidak masuk di logikanya. Dan benar, dari 20 peraih NEM terbaik, 14 murid itu adalah peserta bimbingan test tersebut, dan dari 85 anak yang terjaring promosi itu, semuanya mendapatkan NEM > 37, walau sehari-hari prestasinya tidak berada di atas teman-temannya selama tiga tahun.
Berita dari mana saja. Akhirnya seorang teman anakku, walau dilarang ayahnya untuk mengambil potret bukti NEM yang sesungguhnya, memginformasikan dalam diam kepada anakku, berapa NEM yang mesti dia capai. Sebagian telah dimanipulasi, dipertukarkan, yang tinggi mendapatkan yang rendah dan sebaliknya. Sehingga dia tahu berapa NEM temannya yang masuk sepuluh besar itu seharusnya. Dia adalah putri anggota komisi yang mengusir tempat dudukku di pertemuan perpisahan lalu itu…dan …..sungguh sayang, adalah pacar teman anakku. Dilemma. Aku tahu persis pertentangan batin yang terjadi: dibuka, pacar ilang, tak dibuka, diri yang rugi.
Berita pertukaran NEM itu telah menyebar. Ibu-ibu yang anaknya telah jatuh bangun belajar, memegang kejujuran, bahkan ikut bimbingan test lebih dari satu, dengan sembab bercerita kepadaku mengapa dunia pendidikan bisa seperti ini. Ketika kuajak untuk melakukan protes dan menbuka semuanya. Tak ada seorangpun yang mau. Biarlah ini jadi takdir yang harus kami alami, katanya, silahkan Bapak kalau mau protes. Tak sadarkah ibu-ibu itu, ini bukan takdir. Ada dua takdir, garis kapur dan garis batu. Apa-apa yang sudah tak dapat diubah, itu berupa garis batu. Tapi segala sesuatu yang masih berupa garis kapur, apalagi jika semuanya masih bias diusahakan, seorang anak manusia wajib berusaha sekeras apapun jua, sampai kepala mentok di dinding besi yang tak mampu dipindahkan lagi. Inilah rupanya yang menyebabkan Indonesia 3,5 abad dijajah Belanda, dan lima belas tahun setelah reformasi, tak beranjak kemana-mana, karena sebagian diisi oleh insane-insan yang mudah menyerah.
Akhirnya, seorang diri aku mengurus semuanya ini. Teringat aku 15 tahun yang lalu kala mengurus beasiswa IDB. Seorang direktur di departemen keuangan menolak mengajukanku sebagai kandidat penerima basiswa karena sudah memiliki calon dari UGM dan UI. Lima jam kami berdebat. Yang pada pokoknya, saya berpegang teguh pada prinsip, silahkan kalau departemen punya calon, saya hanya butuh covering letter sebagai syarat mengirim berkas ke Jedah Arab Saudi agar tidak dianggap liar. Segala sesuatu kalau memang itu kendala yang dihadapi, saya kirim atas copy dan beaya sendiri, walaupun kalau diingat-ingat waktu itu alangkah tebalnya mengirim berkas rangkap 7 ke Arab Saudi. Lillahi ta’ala. Demikian juga yang merasuk ke sanubariku saat itu.
Biarlah anak itu tahu bahwa dia mencapai sesuatu karena usahanya sendiri, setelah semua keringat menetes. Dan biarlah semua proses pengurusan ini terus berjalan, sampai benar-benar tembok barikade itu tak dapat kutembus lagi: gerombolan bimbingan test, para guru yang meng-amini, kepala sekolah, diknas kota madya dan anggota komite sekolah yang putra-putrinya diuntungkan dengan proses yang curang ini. Jika segala sesuatu sudah diusahakan sampai maksimal daya yang bisa diusahakan, tak menyesal kita di kemudian hari akan apa yang kita alami.

Read Full Post »

Alhamdulillah, dalam sidang terbuka, 27 Februari 2014, telah lulus dari program doktor SBM ITB, lulusan yang pertama  Dr. Anton Mulyono Azis, dia adalah bimbinganku yang pertama dan menjadi lulusan pertama dari program SBM ITB setelah menempuh 5 tahun study…Penantian yang lama yang butuh kesabaran, intensitas, kerja keras….(dalam foto dari kiri ke kanan: Dr. Mursyid Hasan Basri, Dr. Anton Mulyono Azis, Prof. Dermawan Wibisono)

Anton_2

Read Full Post »

Doktor pertama dari SBM ITB

Read Full Post »

Dikutip dari blognya Dr. Ilma, 16 Januari 2014, jam 4.50 pm waktu Malaysia:

SPIRITUAL INTELLIGENCE

January 16, 2014 at 4:39pm

SPIRITUAL INTELLIGENCE

 

“Spiritual intelligence is the central and most fundamental of all the intelligences, because it becomes the source of guidance for the others.”  SQ menjadi kemampuan paling dasar dari semua kecerdasan yang ada. (Stephen Covey, 2004).

 

Terminologi SQ (Spiritual Quotient) sebagai parameter dari Spiritual Intelligence diperkenalkan pertama kali oleh Danah Zohar pada 1997 dalam bukunya ReWiring the Corporate Brain. Selanjutnya, Cindy Wigglesworth, penulis SQ-21, mendefinisikan SQ sebagai kemampuan untuk bersikap bijak dan sabar, menjaga keseimbangan batiniah dan lahiriah, dan menggunakan kemampuannya itu untuk hidup dan bertahan dalam berbagai situasi.

 

Spiritual intelligence dikonsepkan sebagai suatu evolusi teori kecerdasan terkini, melengkapi IQ (Intelligence Quotient) dan EQ (Emotional Quotient) yang lebih dahulu dikembangkan. Jika IQ adalah parameter kecerdasan logika klasik matematika dan verbal (pemahaman terhadap dunia fisik/material capital), dan EQ adalah parameter kemampuan inter-relasi (social capital); maka SQ didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk mentranspose dua aspek kecerdasan IQ dan EQ menuju kebijaksanaan dan pemahaman yg lebih mendalam hingga dicapai kedamaian dan keseimbangan lahiriah dan batiniah (spiritual capital). Secara singkat, IQ adalah bekal untuk menjawab pertanyaan : “apa yg kupikirkan”, EQ untuk menjawab pertanyaan “apa yang kurasakan?”, sedangkan SQ adalah alat untu menjawab “siapa aku?”

 

Sama dengan Goleman sang perumus EQ, Cindy Wigglesworth merumuskan 21 aspek SQ dan menggolongkannya ke dalam 4 kuadran sebagai berikut :

  1. Ego self Awareness
  2. Universal Awareness
  3. Ego self Mastery
  4. Spiritual Presence

Selanjutnya, David B. King seorang peneliti SQ dari Trent University in Peterborough, Ontario, Canada mendefinisikan SQ sebagai kapasitas mental yg berakar pada aspek non-materi dan transendental dari realita, dlm pernyataannya sbb.:

 

“…contribute to the awareness, integration, and adaptive application of the nonmaterial and transcendent aspects of one’s existence, leading to such outcomes as deep existential reflection, enhancement of meaning, recognition of a transcendent self, and mastery of spiritual states.”

 

Singkatnya, SQ adalah kemampuan sesorang untuk mentranspose segala permasalahan kepada makna dan fungsi yang paling mendasar/hakikat. Dengan bahasa saya sendiri, SQ adalah kemampuan seseorang untuk memahami kesejatian. SQ merupakan ukuran terhadap kemampuan seseorang untuk melampaui fase-fase pemenuhan akan materi, ketrampilan inter-relasi sosial, dan selanjutnya mengarahkan semuanya untuk mencapai “kesejatian”; menggabungkan semua aspek ke muaranya, yaitu pemahaman pada Yang Paling Hakikat, terbang melebihi aspek materi dari relasi, bukan tidak peduli pada kedua hal tersebut, namun melingkupinya.

 

Apakah SQ tumbuh? Bekal SQ yang mendasar diperoleh dari keluarga, sejak jabang bayi ada di dalam kandungan. Secara alamiah sangat logis bahwa kondisi ibu sangat mempengaruhi spiritualitas janin yang dikandungnya. Berbagai neurotransmiter yang dikeluarkan oleh Ibu akan tembus plasenta dan mempengaruhi pertumbuhan neuron dan memori selama janin tumbuh. Dari aspek anatomi fisiologis,  jaringan neuron otak terbentuk hingga 70 persen selama janin dalam kandungan, disempurnakan menjadi 90 persen sampai usia 5 tahun, sisanya hanya 10 persen dilanjutkan hingga awal usia remaja. Dengan demikian, situasi dan lingkungan saat bayi lahir, tumbuh,dan berkembang tentu sangat mempengaruhi kecerdasan, bukan hanya IQ, namun EQ, dan SQ. Pertumbuhan neuron bukan hanya didukung oleh makanan, namun juga oleh impuls-impuls/rangsangan dari luar. Saraf pendengaran dan perasa sudah berfungsi  sejak dini saat janin tumbuh. Dia bisa bergerak, merasa, mendengar, mengikuti suara, tersenyum, juga menangis, selama masih ada di dalam kolam ketuban.

 

Namun demikian, sama dengan IQ dan EQ, apakah SQ bisa ditingkatkan? Kebanyakan psikolog tentu sepakat bahwa SQ bisa dikembangkan. Semua terlahir dengan  bekal dan kesadaran spiritual dari Sang Pencipta. Namun, seorang anak yang terlahir dengan bakat musik tak akan mampu menjadi seorang pemusik hebat jika tdk belajar baik secara teori maupun praktik, demikian juga dgn spiritual intelligence.  Untuk itu, dalam pengembangan SQ, diperlukan pemahaman spiritualitas baik secara teori maupun praktis.  Pendekatan teori bisa diperoleh dari berbagai sumber, bisa dari membaca/belajar sendiri, berdiskusi, mengkaji, mengaji, dsb. Sedangkan untuk aspek praktis bisa dengan berbagai simulasi maupun berhadapan langsung dengan permasalahn riil.  Sebagai catatan, meski pendekatan SQ biasanya dibahas secara universal, terlepas/tidak identik dengan pendekatan agama tertentu, namun mau tidak mau agama yang dianut akan sangat melatari spiritualitas dari seseorang.

 

Pada masa kini, di seluruh dunia bermunculan para “motivator” yang dibayar mahal. Berbagai pelatihan SQ makin hari makin banyak penggemar. Di Indonesia, kita kenal tokoh seperti Mario Teguh dan Ary Ginanjar yang mempromosikan pendekatan SQ dan mendapat atensi sangat luas. Menurut saya, semua itu sah-sah saja dan menjadi fenomena positif. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan untuk belajar sendiri dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari supaya lebih matang dan tidak terasa “artificial” . Untuk itu, saya juga berharap bahwa teori SQ tidak dikembangkan atau digembar-gemborkan sekedar menjadi lahan untuk popularitas dan perolehan materi semata, karena jika itu yang terjadi, ruh dari SQ itu sendiri tdk akan pernah dicapai.

 

IQ,EQ, dan SQ

IQ,EQ, dan SQ

 

Empat kuadran Cindy W.

Empat kuadran Cindy W.

 

Read Full Post »

10 SMA Terbaik di Indonesia

 

 

Sebenarnya sangat banyak sekali SMA terbaik di Indonesia ini, kesemuanya itu merupakan sekolah favorit dan pilihan para siswa. SMA-SMA ini menghasilkan siswa-siswi yang cerdas secara intelektual, emosional dan juga spiritual. Tidak sedikit para alumninya merupakan orang terpandang dinegeri ini seperti pejabat, birokrat, dan juga pengusaha. Dan inilah 10 SMA terbaik di Indonesia

 

 

SMA 3 Bandung1 10 SMA Terbaik di IndonesiaSource : http://www.flickr.com/photos/seveners/5319539508/

 

 

1. SMA Taruna Nusantara, Magelang

 

SMA Taruna Nusantara merupakan salah satu sekolah menengah atas unggulan di Indonesia yang diakui memiliki kedisiplinan yang sangat tinggi, sehingga tidak sedikit masyarakat yang mencap kampus ini sebagai sekolah semi-militer. SMA yang berlokasi di Kota Magelang ini menerapkan sistem asrama, dimana SMA ini merupakan salah satu pelopor sekolah berasrama yang saat ini sedang menjamur.

 

2. SMA Negeri 8 Jakarta

 

Tak diragukan lagi SMA 8 Jakarta merupakan Sekolah Menengah Atas No 1 di ibukota, alumninya mendominasi kampus-kampus terkemuka negeri ini seperti Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung. Sekolah ini memiliki prestasi segudang baik nasional maupun internasional, tidak jarang peserta olimpiade internasional adalah siswa-siswi yang berasal dari SMA ini.

 

3. SMA Negeri 3 Bandung

 

SMA 3 Bandung merupakan Sekolah Menengah Atas yang sangat terpandang di Kota Bandung, sekolah ini dicap sebagai sekolah terbaik di kota kembang. Ada anekdot yang menyatakan bahwa SMA 3 Bandung merupakan sekolahnya ITB, artinya sebagian besar alumni SMA 3 Bandung mendominasi bangku perkuliahan di ITB. Prestasi yang diraih siswa-siswi SMA 3 Bandung tidak hanya mencakup nasional saja melainkan juga internasional.

 

4. MAN Insan Cendikia, Tangerang

 

MAN Insan Cendekia adalah lembaga pendidikan setingkat SMA yang sangat diperhitungkan dinegeri ini meskipun cukup terbilang baru. Sekolah yang akrab disapa IC ini sangat mengedepankan IPTEK yang dilandasi dengan IMTAK kepada setiap siswa-siswinya. Sekolah ini merupakan ide brillian dari Presiden Republik Indonesia ke-3, Bapak BJ Habibie.

 

5. SMA Negeri 3 Semarang

 

SMA Negeri 3 Semarang merupakan salah satu Sekolah Menengah Atas terbaik di Indonesia, bahkan Depdiknas menobatkan sekolah ini sebagai SMA terbaik di Indonesia. Sekolah yang beralamat di Jalan Pemuda No. 149 Kota Semarang ini memiliki prestasi yang sangat luar biasa, baik akademik maupun non akademik. Sekolah ini juga merupakan salah satu sekolah pelopor untuk sekolah bertaraf internasional.

 

6. SMA 1 Teladan, Yogyakarta

 

Sebenarnya nama akademiknya adalah SMA Negeri 1 Yogyakarta, akan tetapi masyarakat Jogja akrab menyebutnya dengan SMA 1 Teladan. SMA ini merupakan Sekolah Menengah Atas unggulan di Provinsi Yogyakarta dengan prestasi yang segudang sejak dulu kala. SMA ini sangat legendaris, karena sudah ada sejak jaman penjajahan kolonial Belanda dan sampai sekarang masih berdiri kokoh.

 

7. SMA Negeri 5 Surabaya

 

Smalabaya merupakan sapaan akrab untuk SMA Negeri 5 Surabaya, salah satu sekolah unggulan yang berada di Kota Surabaya, Jawa Timur. Alumninya mendominasi perkuliahan dikampus-kampus terkemuka negeri ini khusunya diwilayah Jawa Timur seperti Institut Teknologi 10 November, Universitas Airlangga, dan Universitas Brawijaya. Tidaklah mengherankan jika sekolah ini mendapatkan prosentasi tertinggi dalam penerimaan SMNPTN.

 

8. SMA Negeri 4 Denpasar

 

Salah satu Sekolah Mengenah Atas unggulan dan favorit dipulau dewata adalah SMA Negeri 4 Denpasar. Sekolah ini sangat unik dengan arsitektur yang bernuasa Bali, diakui sebagai sekolah yang sangat menjunjung tinggi budaya lokal. SMA yang beralamat di Jalan Rinjani, Kota Denpasar ini memiliki fasilitas yang memadai untuk membantu proses belajar para siswa-siswinya disekolah.

 

9. SMA Negeri Plus Riau

 

Meskipun terbilang sekolah baru, SMA Negeri Plus Riau jangan dilihat sebelah mata. SMA ini merupakan Sekolah Menengah Atas unggulan di Provinsi Riau, sekaligus menjadi sekolah acuan untuk SMA-SMA yang berada di Riau. SMA ini sangat didukung oleh fasilitas pendidikan, mulai dari sarana prasarana yang sangat mendukung hingga tenaga pengajar yang minimal strata 2.

 

10. SMAK 1 BPK Penabur, Jakarta

 

SMAK 1 BPK Penabur merupakan sekolah swasta jempolan diibukota dengan prestasi yang luar biasa. Sekolah ini sering sekali mengirimkan siswa-siswi pilihannya untuk berkompetisi dilevel nasional dan juga internasional, dan bahkan menjadi juaranya. Masyarakat ibukota mencap sekolah ini sebagai Sekolah Menengah Atas Swasta paling bergensi di Jakarta.

Read Full Post »

…..Segera di toko buku….

————————————————————————–

Active Learning with Case Method

Mempertajam analisis, logikadan daya ingat mahasiswa

Prakata

Sistem belajar aktif (Active Learning Sistems) telah lama diyakini memberi makna yang signifikan, terutama bagi mahasiswa yang sudah dianggap sebagai manusia dewasa dalam proses pembelajaran. Dalam sistem belajar aktif, diakomodir perbedaan setiap individu untuk memiliki pendapat, persepsi maupun langkah-langkah pemecahan masalah yang berbeda antara satu dengan lainnya. Dalam pendidikan sistem konvesional dan tradisional seperti saat ini banyak diterapkan di Indonesia, hal ini tidak mungkin terlaksana karena sistem yang dianut adalah monolog, di mana dosen dianggap sebagai pusat pembelajaran dan pusat keilmuan.

Dalam perkembangan zaman di mana sumber pengetahuan dapat dengan mudah diakses secara on line sistem belajar secara tradisional seharusnya sudah tidak berlaku lagi, terutama bagi sekolah bisnis dan manajemen. Dosen bukan lagi orang yang paling pintar dan dapat bertindak sebagai diktator dalam proses penyerapan pengetahuan dan pengambilan keputusan di segala aspek dalam seluruh organisasi yang berkembang sangat dinamis. Bahkan dalam hal akses terhadap pengetahuan terkini dari sumber terbuka di universitas-universtitas terkemuka di dunia, seringkali mahasiswa lebih lincah, lebih cepat, lebih trampil melakukannya.

Salah satu model pembelajaran yang mengikuti pola belajar aktif adalah sistem pembelajaran dengan menggunakan metoda Kasus (Case Method) yang telah lama diterapkan di Harvard Business School. Dari penerapan metoda pembelajaran ini, Harvard Business School hampir selalu mendapatkan  ranking 1 di dunia dari berbagai cara pemeringkatan seperti Shanghai Jia Tong, Webometrcis, Time Higher Educations, dan sebagainya, karena sistem belajarnya tersebut, tentu di samping mendapatkan mahasiswa terbaik dari seluruh dunia. Ada banyak keunggulan sistem belajar dengan metoda Kasus ini, namun tidak banyak yang menyadarinya, tidak mengetahuinya bahkan masih banyak yang terus menerapkan sistem lama karena terlanjur sukar mengubah kebiasaan lama.

Terdapat perbedaan yang sangat mencolok antara sistem belajar dengan metoda Kasus dengan sistem belajar cara tradisional. Perbedaan ini bukan saja menyangkut pola pikir dan pelaksanaannya, tetapi melibatkan juga fasilitas fisik yang harus dimiliki. Bahkan seringkali dalam buku teks akademis yang digunakan, dicantumkan Kasus dalam lembaran terakhir dari tiap babnya, dan para pengajar serta universitasnya sudah merasa menerapkan sistem belajar dengan metoda Kasus karena itu. Dalam pengertian sistem belajar dengan metoda Kasus yang mengacu pada sistem Harvard, Kasus yang seringkali ada dalam buku tersebut bukanlah Kasus yang sebenarnya, tetapi hanyalah sebuah exercise saja, atau diistilahkan sebagai arcmchair case.  Kasus karangan. Dalam sistem Harvard, Kasus adalah kejadian yang benar-benar terjadi pada masa lalu dan dialami oleh eksekutif dari sebuah organisasi atau perusahaan, di mana Kasus ini dibawa ke kelas untuk pembelajaran, dengan mahasiswa diminta untuk berperan sebagai pengambil keputusan dalam Kasus yang dihadapi. Tentu dalam pembalajaran yang terjadi akan terdapat pertimbangan logika yang berbeda, latar belakang teori yang melandasi keputusan yang diambil juga dapat berbeda, serta berbagai hal lainnya yang bisa jadi berbeda antara mahasiswa satu dengan mahasiswa lainnya dalam pengambilan keputusan atas Kasus tersebut. Di sinilah peranan Kasus sebenarnya yang digunakan sebagai kendaraan dalam pemberian teori maupun pendekatan dalam subjek yang sedang dikaji. Jadi sebelum membahas dan mengambil keputusan dalam Kasus yang didiskusikan, mahasiswa harus membaca Kasus, membaca teks book atau referensi, membaca journal, untuk sampai pada pengambilan keputusan yang terbaik, menurut pikiran dan logika mahasiswa, yang bisa jadi berbeda dengan mahasiswa lainnya. Itulah dinamika penggunaan metoda Kasus dalam studi.

Sejak tahun 2004, MBA ITB di bawah kepemimpinan Prof. Jann Hidajat Tjakraatmadja, telah melakukan revolusi sistem belajarnya dengan mengadopsi sistem Harvard tersebut, melalui pelatihan terhadap dosen-dosennya. Tak kurang para dosen yang pakar di bidang pembelajaran dengan sistem Kasus tersebut mengubah pola pikir dan proses belajar di MBA ITB dengan memberi pelatihan intensif tentang metode studi Kasus tersebut kepada seluruh dosen MBA ITB, di antaranya Prof. Lambros Karavic (Victoria University, Melbourne), Prof. James Erskine (Richard Ivey Business Schoo & Managementl, Kanada), Dr. Hadi Satyagraha, Prof. Ho Den Huan (Nanyang University, Singapore) dan sebagainya. Dari hasil revolusi yang dilakukan, telah didapatkan hasil yang nyata, di antaranya MBA ITB telah dua kali masuk sebagai finalis L’oreal Business Case Competition yang diadakan di Paris bagi mahasiswa seluruh dunia. Di mana dari seluruh Perguruan Tinggi di dunia dibagi menjadi 8 zona dan Indonesia berada di Zona Delapan (Asia Selatan, Asia Tenggara dan Asia Timur) bersama-sama dengan Universitas top seperti berbagai Universitas dari Singapura, Thailand, India, Jepang dan sebagainya. Jumlah peserta dalam sekali business case competition di selenggarakan, melalui tahap online sebelum final di Paris tersebut, tidak kurang dari 220.000 mahasiswa dari 180 perguruan tinggi terbaik di seluruh dunia. Namun nyatanya  MBA ITB berhasil menjadi finalis dua kali yaitu di tahun 2006 dan 2009 di Paris tersebut.

Untuk sharing bagaimana sistem belajar dengan metoda Kasus itu dilaksanakan dengan benar, buku ini disusun agar sekolah bisnis dan manajemen di Indonesia dapat maju bersama-sama membangun bangsa. Buku ini disusun secara simpel dan praktis, dengan pengalaman penulis menjadi peserta pelatihan terbaik dari Prof. James Erskine dan juga mengambil pelajaran bahwa metoda yang diajarkan adalah benar, berdasarkan kemenangan kedua kelompok mahasiswa MBA ITB dalam kompetisi internasional di Paris tersebut, di mana saat itu penulis menjadi Ketua Program studi MBA ITB (2006-2009) serta selama 10 tahun mengajar MBA ITB dengan metode studi Kasus tersebut.

Terima kasih penulis sampaikan kepada Prof. Jann Hidayat dan Prof. Surna Tjahja Djajadiningrat yang mengijinkan penulis untuk mengembangkan segala kreativitas saat menjadi ketua Program Studi MBA ITB, Prof. Utomo Sarjono Putro, kolega yang menyumbangkan ide debat, Drs. Herry Hudrasyah, MA, kolega dosen dan soul mate dalam berbagai ide inovasi yang diterapkan, karena hanya beliau lah yang mengerti dan mampu merepresentasikan ide yang ada menjadi sesuatu yang nyata, dan selalu lebih baik, Dr. Wawan Dhewanto, Dr. Yus Sunitoyo, Pak Efson, Hani, Maya Bob, Amak, dan Ricky.

 Semoga bermanfaat bagi semuanya dan majulah Indonesia.

 Bandung, 2014

 Prof. Dermawan Wibisono

Read Full Post »

Dear all, very nice article and examples for us

Regards,

Prof. Dermawan Wibisono
_____________

Sejawat Guru Besar ITB yang sangat sangat banggakan. Berikut adalah email
yang saya terima dari mailing list Alumni Fisika ITB. Isinya sangat
relevan saat kita membicarakan mengenai institusi dan bangsa kita ke
depan.

Prof. Satria Bijaksana
=====================

Leiden is lijden, memimpin adalah menderita, sebuah pepatah kuno
belanda yang disampaikan oleh Mr. Kasman Singodimedjo untuk menggambarkan kesulitan ekonomi yang dialami oleh pimpinan perjuangan saat itu. Mohammad Roem dalam Karangan berjudul “Haji Agus Salim, Memimpin adalah Menderita  (Prisma No 8, Agustus 1977) mengisahkan keteladanan Agus
Salim sebagai pemimpin yang mau menderita.

Kasman dan Roem melihat H. Agus Salim hidup dengan keadaan yang sangat
sederhana, penuh kekurangan dan terbatas secara materi. Padahal H Agus
Salim adalah tokoh dan pimpinan perjuangan kala itu yang juga memimpin
Syarekat Islam yang sangat berpengaruh dalam pergerakan bangsa ketika itu.

H Agus Salim menjalankan prinsip leiden is lijden, memimpin adalah
menderita. Boro-boro minta naik gaji, berpikir soal gaji pun tidak pernah
ada dalam benak H Agus Salim.

Sungguh memprihatinkan ketika sejumlah kepala daerah melapor ke Presiden
SBY telah mengemban tugas yang tidak ringan, namun pendapatan yang mereka
terima masih kecil. Mereka meminta kepada presiden, agar gaji mereka dapat
disesuaikan dengan tugas yang mereka jalani.

“Terus terang, waktu saya mengadakan pertemuan dengan kepala daerah,
mereka dengan terus terang dan niat baik berkata pada saya. Pak presiden,
kami (kepala daerah) ini mengemban tugas yang tidak ringan, tapi gaji kami
kecil,” ujar SBY di Istana Negara, Jakarta, Rabu kemarin.

Menurut SBY, para kepala daerah ini mulai dari tingkat Gubernur, Walikota
dan Bupati meminta adanya penyesuaian.

Tidakkah para pejabat daerah ini berkaca pada apa yang sudah ditunjukkan
pahlawan nasional Haji Agus Salim. Dia lahir dengan nama Mashudul Haq atau
pembela kebenaran. Dalam pemerintahan RI, dia beberapa kali duduk dalam
kabinet, sebagai menteri muda luar negeri Kabinet Sjahrir II (1946), dan
kabinet Sjahrir III (1947), menteri luar negeri kabinet Amir (1947),
menteri luar negeri kabinet Hatta (1948-1949).

Menurut catatan harian Prof Schermerhorn, pemimpin delegasi Belanda dalam
perundingan Linggajati, Agus Salim adalah orang yang sangat pandai.
Seorang jenius dalam bidang bahasa. Mampu bicara dan menulis dengan
sempurna sedikitnya dalam sembilan bahasa. Hanya satu kelemahan dari Haji
Agus Salim, yaitu hidup melarat.

Dalam catatan M Roem, kehidupan Haji Agus tidak hanya sederhana, bahkan
mendekati miskin. Keluarga Haji Agus Salim pernah tinggal di Gang Lontar
Satu di Jakarta. Kalau menuju ke Gang Lontar Satu, harus masuk dulu ke
Gang Kernolong, kemudian masuk lagi ke gang kecil. Bisa dibayangkan, mana
ada pejabat sekarang yang tinggal di “cucu” gang.

Haji Agus Salim tidak pernah berpikir soal rumah mewah dan megah layaknya
pejabat sekarang. Dulu setiap enam bulan sekali dia punya kebiasaan,
mengubah letak meja kursi, lemari sampai tempat tidur. Kadang-kadang kamar
makan ditukarnya dengan kamar tidur.

Haji Agus Salim berpendapat dengan berbuat demikian, dia mengubah
lingkungan, yang manusia sewaktu-waktu perlukan tanpa pindah tempat atau
rumah. Apalagi pergi istirahat ke lain kota atau negeri. Tidak ada dalam
pikiran Haji Agus Salim, punya vila seperti para pejabat sekarang.

Mendengar cerita tentang Haji Agus Salim itu, tidakkah para pejabat yang
minta naik gaji malu. Haji Agus Salim, salah satu pendiri republik ini,
betul-betul menerapkan istilah yang disampaikan Kasman Singodimedjo saat
bertamu ke rumahnya, leiden is lijden, memimpin itu menderita. Artinya,
memimpin itu tidak untuk foya-foya.

Potret memimpin adalah menderita juga terlihat begitu jelas pada sosok
Bung hatta. Proklamator ini juga menjalani hidup yang sederhana. Bung
Hatta pernah mengalami kesulitan untuk membayar tagihan listrik, telpon
dan air karena gaji pensiunnya tak cukup untuk membayar semua tagihan itu,
sehingga Ibu Rahmi Hatta harus mengirim surat pada Bung Karno yang pada
saat itu masih menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Bahkan,
hingga ajal menjemput, Bung Hatta tidak kesampaian memiliki sepatu merk
Bally yang begitu diidam-idamkannya.

Begitulah, Seorang pemimpin yang memahami hakikat leiden is lijden adalah
manusia yang siap hidup untuk memberikan pengabdian penuhnya kepada negara
atau komunitas yang dipimpinnya. Seorang pemimpin yang memahami hakikat
leiden is lijden adalah manusia yang mampu bertindak benar diantara
kesulitan-kesulitan dan masalah berat yang terhidang diatas meja
pengabdiannya.

Pemimpin yang memahami hakikat Leiden is lijden adalah manusia yang
ditakdirkan untuk memimpin, terlahir untuk memimpin karena muncul dari
rahim persada yang dialiri darah kebaikan dan tumbuh dalam ruang lingkup
moral budaya yang agung.

Pemimpin negarawan

Kepemimpinan yang ditunjukkan oleh H. Agus Salim dan Bung Hatta diatas
adalah kepemimpinan yang dijalani oleh negarawan sejati. Tokoh tersebut
menjadi pemimpin adalah berawal dari keterpanggilan untuk memimpin bangsa
dan bukan karena panggilan profesi. Sehingga kekuasaan bagi mereka adalah
sarana untuk mendatangkan kesejahteraan, kemakmuran dan kedamaian bagi
rakyat.

Dalam kondisi berbangsa dan bernegara saat ini, faktor keterpanggilan
karena profesi lebih kuat merasuki calon pemimpin bangsa ini. Mungkin pada
awalnya pemimpin kita bertujuan mulia untuk memberikan perubahan kearah
yang lebih baik. Namun, sejalan dengan apa yang dikatakan Lord Acton
kekuasaan yang mutlak rentan disalahgunakan (power tend to corrupt,
absolute power corrupt absolutely). Godaan materi dan kekuasaan yang kuat
serta diperburuk oleh moral yang buruk membuat pemimpin berbagai tingkatan
tergoda menyalahgunakan kekuasaannya untuk korupsi dan tindakan yang
merugikan negara lainnya. Mereka meraih dan mempertahankan kekuasaan
dengan segala cara dengan mengorbankan manusia lainnya.

Kita akui, menjadi pemimpin negara sebesar Indonesia memang tidaklah
mudah. Lao Tzu (500 SM)mengatakan “memerintah negara besar adalah mirip
dengan menggoreng ikan kecil†, apabila sering dibolak balik ikannya akan
hancur menjadi bubuk. Berbeda dengan menggoreng ikan besar yang meskipun
dibolak balik ikannya tetap utuh untuk menggambarkan memerintah negara
yang kecil.

Untuk mampu memeirntah dinegara sebesar Indonesia ini memang dibutuhkan
negarawan yang mampu memaknai bahwa memimpin adalah menderita. Indonesia
adalah negara yang majemuk yang terdiri dari berbagai macam kepentingan.
Pemimpin seperti itu adalah pemimpin yang rela mengorbankan waktu dan
pikirannya demi bangsa dan negaranya. Pemimpin yang tidak memandang latar
belakang politik dan agamanya. Pemimpin yang memberlakukan adagium “
ketika tugas negara dimulai, maka kepentingan politik berakhir†. Artinya
seorang pemimpin atau pejabat negara harus berkonsentrasi untuk mengurus
negara dan mampu menentukan prioritas antara kepentingan negara dengan
kepentingan golongan dan pribadi.

Kepemimpinan inilah yang telah diperlihatkan oleh H. Agus Salim, Bung
Hatta dan lainnya. mereka siap menderita demi kepentingan bangsa dan
negara. Lalu, apakah calon pemimpin yang saat ini berlomba-lomba untuk
memenangkan kursi sebagai penguasa dengan mengiklankan diri secara gencar
di media massa memahami hakikat memimpin adalah menderita ?

Sudah selayaknya sifat-sifat kenegarawanan para pemimpin kita terdahulu
perlu diinternalisasikan ke dalam tiap diri calon-calon pemimpin kita saat
ini. Bangsa ini butuh keteladanan dan sikap-sikap kenegarawanan yang lain.
Mudah-mudahan kita selalu mampu mengambil hikmah dari para
pemimpin-pemimpin kita di masa lalu, dan menjadi inspirasi bagi masa depan
bangsa.

Anda mungkin belum melihat pemimpin seperti ini, tapi percayalah pemimpin
seperti ini terus ada, terlahir disetiap generasi hanya saja untuk
menemukannya saya dan anda harus bersikap dewasa dan objektif dalam
melihat dan menilai seseorang. Jangan melihat seseorang seperti melihat
dari lubang pintu, memicingkan sebelah mata. Tapi mundurlah selangkah dan
buka kedua mata, maka saya dan anda akan melihat dunia seluas samudera.

Read Full Post »

Older Posts »