Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Fiction’ Category

Dear all,

Romantisme kehidupan kampus tak lekang oleh waktu, dipotret dalam novel edisi terbaru 3G: Gading-gading Ganesha, yang diedit ulang sehingga lebih lincah bertutur kata. Diterbitkan oleh Gramedia, dengan bagian lengkap (tanpa potongan dari penerbit) yang akan menemui anda sekalian tanggal 8 April 2013 dengan tata wajah baru.. Selamat bernostalgia, memotret kembali romantisme perjuangan masa lalu dan extrapolasi masa kini dan masa depan…

Wibi
……………………………………….

Sebagian dari isi Bab 12:…………………………………………

Flash film berlanjut dengan snapshot terpilihnya Mahmoud Ahmadinejad sebagai Presiden Iran yang mencengangkan. Dalam kesehariannya, sang presiden dari negara penghasil minyak lima besar di dunia itu dengan ikhlas bersedia tinggal di rumah sangat sederhana yang terletak di gang sempit. Menghibahkan karpet-karpet mewah Persia istana kepresidenan ke masjid-masjid. Hanya menyantap sandwich yang terbuat dari roti murahan yang menjadi bekal dari rumah—buatan istri tercinta—untuk makan siang. Memilih tidur di karpet, bukan di kasur empuk hotel dalam setiap kunjungannya. Yang dengan jujur dan berani menyatakan bahwa memang tampangnya seperti pelayan, karena tugasnya memang melayani. Yang menikahkan putranya di rumahnya yang sederhana dengan sajian buah apel dan air putih saja. Tak ada perancang busana sekelas Cristian Dior atau Anne Avantie, tak ada mobil pengantin Mercedes atau limosin. Tak ada sumbangan dan upeti berupa kunci mobil atau kunci rumah yang siap ditempati sang mempelai seusai pesta, dan tak harus repot melaporkan sumbangan yang diterimanya kepada KPK, karena memang tidak menerima apa-apa kecuali kunjungan dan doa.

Kapankah kita memiliki pemimpin seperti ini? Mengapa engkau masih selalu menumpuk harta untuk diri sendiri, kapankah mulai berpikir dan bertindak untuk mandiri?

Film terus berlanjut dengan menampilkan penggalan surat perpisahan dari Che Guevara kepada presiden Kuba, Fidel Castro, yang melakukan perubahan revolusioner dan tidak pernah mau tunduk kepada keangkuhan dan ketamakan Amerika Serikat. Tak peduli Amerika Serikat hanya terletak selayang pandang di depan mata, sehingga sekali dirudal antarbenua bahkan antarpulau sekalipun, Kuba akan segera luluh lantak, takkan lagi ada dalam peta dan sejarah bangsa-bangsa.
Surat Che Guevara ditayangkan di layar lebar diringi pembacaan yang menggema ke segenap penjuru ruangan. Che memberikan spirit untuk menjadi pemimpin yang berani dan berintegritas. Tak luntur dan tak terbeli kecintaannya terhadap negara, bangsa, dan rakyatnya. Tak tunduk dan tak mudah didikte oleh uang dan kekuatan senjata.
Arsip Che Guevara Archives
Surat Perpisahan Che Kepada Fidel Castro

“Year of Agriculture”
Havana, April 1, 1965

At this moment I remember many things—when I met you in Maria Antonia’s house, when you proposed I come along, all the tensions involved in the preparations. One day they came by and asked who should be notified in case of death, and the real possibility of it struck us all. Later we knew it was true, that in a revolution one wins or dies (if it is a real one). Many comrades fell along the way to victory.
Today everything has a less dramatic tone, because we are more mature, but the event repeats itself. I feel that I have fulfilled the part of my duty that tied me to the Cuban Revolution on its territory, and I say farewell to you, to the comrades, to your people, who now are mine.

Other nations of the world summon my modest efforts of assistance. I can do that which is denied you due to your responsibility at head of Cuba, and the time has come for us to part.
You should know that I do so with a mixture of joy and sorrow. I leave here the purest of my hopes as a builder and the dearest of those I hold dear. And I leave a people who received me as a son. That wounds a part of my spirit. I carry to new battlefronts the faith that you taught me, the revolutionary spirit of my people, the feeling of fulfilling the most sacred of duties: to fight against imperialism wherever one may be. This is a source of strength, and more than heals the deepest of wounds.
. …
I have always been identified with the foreign policy of our revolution, and I continue to be. Wherever I am, I will feel the responsibility of being a Cuban revolutionary, and I shall behave as such. I am not sorry that I leave nothing material to my wife and children; I am happy it is that way. I ask nothing for them, as the state will provide them with enough to live on and receive an education.

Ever onward to victory!
Homeland or Death!
I embrace you with all my revolutionary fervour.

Che

Para hadirin di Aula Barat terdiam dan tercekam. Terangkat emosi dan spiritnya untuk suatu saat bisa menjadi seperti seorang Che.
Flash film berlanjut pada momen terpilihnya Barack Hussein Obama, yang pernah tinggal di Indonesia, menempuh SD-nya pada tahun 1967-1971, dan satu tempat tidur dengan salah seorang dosen ITB dalam masa-masa liburannya di Yogyakarta. Film yang menayangkan Obama menyampaikan pidato kemenangan di Chicago.

Hello, Chicago!
If there is anyone out there who still doubts that America is a place where all things are possible, who still wonders if the dream of our founders is alive in our time, who still questions the power of our democracy, tonight is your answer.
….
It’s the answer spoken by young and old, rich and poor, Democrat and Republican, black, white, Hispanic, Asian, Native American, gay, straight, disabled and not disabled, Americans who sent a message to the world that we have never been just a collection of individuals or a collection of red states and blue states.

It’s been a long time coming, but tonight, because of what we did on this date in this election at this defining moment, change has come to America.

And I would not be standing here tonight without the unyielding support of my best friend for the last 16 years, the rock of our family, the love of my life, the nation’s next first lady Michelle Obama.

But above all, I will never forget who this victory truly belongs to. It belongs to you. It belongs to you.
I was never the likeliest candidate for this office.
We didn’t start with much money or many endorsements.
Our campaign was not hatched in the halls of Washington. It began in the backyards of Des Moines and the living rooms of Concord and the front porches of Charleston.
It was built by working men and women who dug into what little savings they had to give 5 and 10 and 20 to the cause.
It grew strength from the young people who rejected the myth of their generation’s apathy, who left their homes and their families for jobs that offered little pay and less sleep.
It drew strength from the not-so-young people who braved the bitter cold and scorching heat to knock on doors of perfect strangers, and from the millions of Americans who volunteered and organised and proved that more than two centuries later a government of the people, by the people, and for the people has not perished from the Earth.
This is your victory.
You did it because you understand the enormity of the task that lies ahead. For even as we celebrate tonight, we know the challenges that tomorrow will bring are the greatest of our lifetime—two wars, a planet in peril, the worst financial crisis in a century.
The road ahead will be long. Our climb will be steep. We may not get there in one year or even in one term. But, America, I have never been more hopeful than I am tonight that we will get there.
I promise you, we as a people will get there.
….
This victory alone is not the change we seek. It is only the chance for us to make that change. And that cannot happen if we go back to the way things were.
It can’t happen without you, without a new spirit of service, a new spirit of sacrifice.
So let us summon a new spirit of patriotism, of responsibility, where each of us resolves to pitch in and work harder and look after not only ourselves but each other.

As Lincoln said to a nation far more divided than ours, we are not enemies but friends. Though passion may have strained, it must not break our bonds of affection.

This is our time, to put our people back to work and open doors of opportunity for our kids; to restore prosperity and promote the cause of peace; to reklaim the American dream and reaffirm that fundamental truth, that, out of many, we are one; that while we breathe, we hope. And where we are met with cynicism and doubts and those who tell us that we can’t, we will respond with that timeless creed that sums up the spirit of a people: Yes, we can!
Thank you. God bless you. And may God bless the United States of America.

Film berganti dengan tayangan hitam-putih yang agak kabur. Suasana tahun 1966, saat mahasiswa ITB ikut mendemo senior dan panutannya sendiri, Presiden Soekarno. Kultus individu yang kebablasan, demokrasi yang terlecehkan, antrean rakyat mengular untuk sekadar mendapatkan beras dan minyak tanah. Rakyat yang hanya mampu makan bulgur, nasi jagung, dan nasi aking. Penangkapan para pekerja seni dan penyetopan segala macam berita serta informasi dari luar negeri. Mahasiswa ITB menentang segala bentuk tirani, walau itu dilakukan oleh alumninya sendiri.
Sejarah berulang. Film berlanjut dengan suasana tahun 1978, saat kampus ITB diduduki militer. Tentara bersenjata masuk kampus, truk-truk militer menangkapi para aktivis, tentara mengejar mahasiswa, menggebuki saat menangkap, dan menyeretnya. Perlawanan fisik yang tak seimbang. Rumah rektor ITB, almarhum Prof. Iskandar Alisyahbana, ditembaki gentengnya oleh tentara tanpa surat perintah. Dari tahun 1978, film tentang berbagai demonstrasi yang pernah digalang, digagas, dan dipelopori mahasiswa ITB dibeberkan. Kasus Badega, Kaca Piring, penolakan kedatangan Mendagri Rudini, dan berbagai demonstrasi lain yang pada hakekatnya menunjukkan keberpihakan mahasiswa ITB terhadap penindasan rakyat.
Spot film loncat lagi ke masa 1997, yang berisi snapshot terjadinya krisis moneter yang terus berkepanjangan sampai saat ini.

Indonesia mengalami krisis moneter mulai akhir Juli 1997 sampai pertengahan 1999. Saat krisis moneter baru berjalan dua bulan dan nilai rupiah menyentuh Rp. 3.000/US$, bank-bank asing masih percaya kepada perbankan nasional. Namun ketika Presiden Soeharto menandatangani Letter of Intent dengan IMF pada awal November 1997 yang dilanjutkan dengan tindakan BI melikuidasi 16 bank, runtuhlah kepercayaan bank-bank asing terhadap perbankan nasional sekalipun itu BUMN. Terjadi chaos di dunia perbankan nasional. Perusahaan-perusahaan besar dan menengah serta masyarakat golongan atas, secara sadar maupun ikut-ikutan, selama lebih dari setahun menguras rupiahnya dari bank dan memborong dolar untuk diparkir di bank-bank luar negeri. Capital flight ini mengakibatkan kelangkaan dolar di dalam negeri. Dengan dolar yang menipis, bank-bank devisa nasional tidak dapat memenuhi kewajibannya yang jatuh tempo. Mereka terpaksa menunggak pembayaraan L/C (Letter of Credit) impor nasabah dan pinjaman pasar uang dalam dolar. Bank memiliki rupiah dalam jumlah besar akibat suku bunga deposito yang terlalu tinggi (tujuh puluh persen per tahun pada akhir November 1997) tapi ruang gerak mereka untuk membeli dolar terbatas akibat ulah spekulan (fund manager) di Singapura dan Hongkong. Rupiah semakin loyo dan sampai menyentuh Rp. 17.000/ US$ walau hanya berlangsung satu hari pada Januari 2008. Country rating (stabilitas negara) Indonesia turun dari kategori BBB+ (awal Juli 1997) menjadi CCC. Perbankan nasional mengalami “pendarahan” karena digerotori negative spread (hasil bunga yang diterima dari peminjam lebih kecil daripada bunga yang dibayarkan ke deposito). Inilah bukti lemahnya struktur perbankan yang dibangun di atas bunga yang merupakan riba.
Di bulan Ramadhan akhir tahun 1997, beberapa alumni ITB berkumpul di Wisma Sawunggaling, Bandung, dan keluar dengan analisis bahwa secara politis, ekonomi, dan sosial, rapat berpendapat bahwa Presiden Soeharto harus segera diturunkan dari jabatannya. Bila tidak, diperkirakan kondisi nasional akan semakin parah. Bertitik tolak dari pertemuan tersebut, para alumni ITB mulai mengembangkan kelompok. Kelompok-kelompok tersebut melakukan pendekatan termasuk kepada kelompok militer.
Pada tanggal 12 Mei 1998 dilakukan demo besar-besaran di kampus Universitas Trisakti menuju ke gedung DPR/MPR. Para demonstran ditahan petugas seratus meter dari gerbang dan tidak diperkenankan maju lagi karena akan mengganggu lalu lintas. Permintaan untuk lewat jalan tol juga tidak dikabulkan petugas sehingga mereka melakukan aksi duduk. Tak berapa lama terdengar senapan dikokang. Polisi menyerbu kampus dan letusan terus bergema di angkasa. Polisi menembaki mahasiswa dari luar ke dalam kampus. Letusan senapan terdengar tak henti-hentinya bagai petasan di hari lebaran. Saat hari menjelang gelap terdengar sirene ambulans masuk ke kampus. Empat mahasiswa Universitas Trisakti tertembak.
Jakarta memanas dan menjadi lautan api. Kerusuhan terjadi di mana-mana. Tanggal 19 dan 20 Mei 1998 mahasiswa melakukan demo besar-besaran kembali. Presiden Soeharto turun pada tanggal 21 Mei 1998. Sejarah kelam telah tenggelam, sejarah baru akan menyingsing.

Dulu kita pernah peduli. Sekarang, ke mana perginya hati nurani?
Sepatu yang dulu dipakai oleh orang yang kita protes dua puluh sampai tiga puluh tahun yang lalu kini telah berpindah ke kaki kita. Seyogianyalah kita pakai untuk menegakkan keadilan di manapun kita berada.

Sebuah teks kalimat berwarna merah darah terpampang di layar.
Film selesai.
Lampu-lampu di Aula Barat menyala terang. Seorang laki-laki maju ke depan panggung, ”Saudara-saudara, telah kita saksikan betapa penderitaan telah mendera bangsa ini sekian lama, bahkan sebagian di antara saudara-saudara kita belum pernah satu kali pun merasakan bahwa bangsa ini telah merdeka selama 64 tahun, sepanjang usia sebuah generasi. Kita telah menjadi bagian dari proses perjuangan, proses membentuk kemakmuran, dan mungkin sebagian proses kehancuran itu sendiri. Masih belum puaskah dengan segala nikmat yang telah kita kecap? Kapan kita akan berhenti mementingkan diri sementara sisa hidup kita tinggal sebentar lagi. Bahkan kita pun tak tahu apakah esok pagi kita masih dapat melihat matahari. Marilah kita membuat master plan untuk mencapai Indonesia Jaya. Inilah kesempatan yang mungkin takkan pernah datang dua kali dalam hidup kita!” Fuad berorasi penuh wibawa.
“Saudara-saudara sealmamater, saatnya kita merapatkan barisan, membuat perubahan, membaktikan diri kepada kemaslahatan. Tak harus semuanya dari ITB, oleh ITB, untuk ITB! Tetapi kita gandeng semua almamater, semua civitas dari semua universitas tempat kaum muda Indonesia berada: UI, UGM, IPB, Undip, Unhas, Uncen, Unpad, maupun universitas swasta yang ada. Bahkan semua putra-putri terbaik Indonesia yang saat ini sedang menuntut ilmu di mancanegara. Amerika, Inggris, Jepang, Australia, Kanada, Malaysia. Tak ada yang lebih berarti dalam hidup ini kecuali memberi! Mari kita bekerja keras, bekerja cerdas, bekerja tuntas, dan bekerja ikhlas!” Slamet menimpali dari sisi ruang yang lain.
“Kita buat real masterplan, terlalu banyak potensi yang tersia-sia. Terlalu panjang titik jaringan yang tak tersambung. Terlalu banyak waktu yang telah terbuang. Kita bangkit kembali, sekarang atau tidak pernah sama sekali!” Poltak membakar audience yang tersengat, sadar untuk menjadi berarti.
“Inilah saatnya membuat jadwal rinci, rancangan aktivitas dan alokasi personel yang segera akan kita realisasikan!” Gun Gun membagi-bagikan agenda ke seluruh peserta, sambil menginformasikan web yang bisa diakses semua peserta untuk betul-betul membuat action plan yang telah dirancang sedemikian detail dari pemikiran banyak orang dalam mailing list yang dimoderatorinya, yang sudah disarikan sekian lama.
Hadirin tak beranjak dari tempat duduk, masih termangu. Terbakar rasa nasionalismenya dan mengucapkan niat dalam hati untuk berkontribusi secara nyata bagi perbaikan negeri untuk anak cucu mereka sendiri, agar mereka tak hidup terlunta-lunta, agar tak terus menjadi bangsa korup yang paria di mata dunia.
Benny memimpin bandnya, alunan musik bergema di ruangan yang berarsitektur sangat anggun dan agung. Lengkungan kayu penyangga langit-langit ruangan bagai tangan-tangan kokoh kaum muda yang siap menerima tangung jawab, tongkat estafet kepemimpinan.
Tekad di dada terpatri kuat, melekat, tak lekang lagi hanya oleh godaan sesaat. Kini saatnya memberi,
Hadirin berdiri, bernyanyi bersama, bergandengan tangan, saling mengikat untuk membentuk langkah nyata. Bukan saatnya lagi berwacana.
Lagu Kebyar-kebyar dari almarhum Gombloh membahana, membakar jiwa dan sipirit para hadirin untuk segera menuntaskan agenda.Tak sabar menunggu fajar menyingsing.

Indonesia… 
Merah darahku, putih tulangku 
Bersatu dalam semangatmu 

Indonesia… 
Debar jantungku, getar nadiku 
Berbaur dalam angan-anganmu 

Kebyar-kebyar, pelangi jingga 

Biarpun bumi bergoncang 
Kau tetap indonesiaku 
Andaikan matahari terbit dari barat 
Kaupun tetap indonesiaku 
Tak sebilah pedang yang tajam 
Dapat palingkan daku darimu 
Kusingsingkan lengan 
Rawe-rawe rantas 
Malang-malang tuntas 
Denganmu… 

Indonesia… 
Merah darahku, putih tulangku 
Bersatu dalam semangatmu 

Indonesia… 
Debar jantungku, getar nadiku 
Berbaur dalam angan-anganmu 

Kebyar-kebyar, pelangi jingga 

Indonesia… 
Merah darahku, putih tulangku 
Bersatu dalam semangatmu 

Indonesia… 
Nada laguku, simfoniperteguh 
Selaras dengan simfoni

Sejarah besar kembali dimulai, kebangkitan kembali Indonesia untuk yang kesekian kali setelah zaman Sriwijaya, Majapahit, Mataram Islam, Kebangkitan Nasional 1908, Kemerdekaan 1945, dan kini 2009, siap mengantarkan Indonesia menjadi negeri yang gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharjo, baldatun toyyibatun warofun ghofur!
Gading-gading Ganesha menyodet kembali magma yang terpendam, memuntahkan lahar dengan gelora tak tertahankan untuk memberikan manfaat yang lebih nyata bagi setiap jengkal yang dilewati alirannya. Setiap insan yang hadir dalam ruangan keluar dengan kepala tegak dan niat yang tak lagi mudah dibengkokkan: menjadi rahmatan lil alamin. Menjadi rahmat bagi sekalian semesta alam.

ΩΩΩΩΩ

Esok paginya, saat para alumni yang semalam menghadiri acara reuni memulai agenda rutinnya, memencet keyboard komputer masing-masing di kampus, di perusahaan, di departemen, atau di rumah, mereka disambut puisi yang ditulis oleh Baby Ahnan, ITB angkatan ‘77.

Selamat pagi Indonesia
Selamat pagi Indonesia
Kami termasuk 80% rakyatmu
Yang rajin bangun pagi
Yang tidak pernah gentar
Bangun lebih dahulu dari matahari

Selamat pagi Indonesia
Di bumimu kami berdiri
Dengan mengepal segenggam ‘kesungguhan’
Yang kami dekap erat
Tepat di jantung kamu berdetak
Menapaki hari demi hari

Selamat pagi Indonesia
Di bumimu keringat kami jatuh
Kami bekerja keras pantang mengeluh
Tak perlu diajari lagi!
Karena kerja keras adalah napas kami

Selamat pagi Indonesia
Merah-putihmu berkibar di hati
Kerja bagi kami adalah harga diri
Kerja bagi kami
Adalah mengerahkan kekuatan kami sendiri
Karena kami tidak sudi korupsi!

Selamat pagi Indonesia
Kerja adalah kebanggaan kami
Demi sebuah eksistensi

Selamat pagi Indonesia

Puisi itu berbalas dengan analisis yang dikirim oleh Hengky, alumni ITB yang menjadi direktur utama perusahaan milik negara yang mengelola proses pembangunan pabrik yang berani bersaing dengan perusahaan ternama dari luar negeri.

Setelah 25 tahun bekerja, baru saya sadari bahwa keterpurukan bangsa Indonesia disebabkan oleh insinyur-insinyur Indonesia yang kurang berkarya dan memberikan solusi kepada bangsanya. Kesalahan tidak terletak pada para ekonom, politikus, jajaran TNI, Polri, penegak hukum, ataupun jajaran lainnya. Namun kesalahan sepenuhnya terletak pada pundak para insinyur Indonesia. Tidak akan ada insinyur Amerika yang akan memikirkan kemajuan bangsa Indonesia. Tidak akan ada insinyur Jepang yang akan memikirkan kesejahteraan rakyat Indonesia. Yang harus memikirkan kemajuan negara Indonesia dan kesejahteraan rakyatnya hanya insinyur Indonesia.
………………………………………………………..
(berlanjut)

Dear all,

Romantisme kehidupan kampus tak lekang oleh waktu, dipotret dalam novel edisi terbaru 3G: Gading-gading Ganesha, yang diedit ulang sehingga lebih lincah bertutur kata. Diterbitkan oleh Gramedia, dengan bagian lengkap (tanpa potongan dari penerbit) yang akan menemui anda sekalian tanggal 8 April 2013 dengan tata wajah baru.. Selamat bernostalgia, memotret kembali romantisme perjuangan masa lalu dan extrapolasi masa kini dan masa depan...

Wibi
..............................................

Sebagian dari isi Bab 12:................................................

Flash film berlanjut dengan snapshot terpilihnya Mahmoud Ahmadinejad sebagai Presiden Iran yang mencengangkan. Dalam kesehariannya, sang presiden dari negara penghasil minyak lima besar di dunia itu dengan ikhlas bersedia tinggal di rumah sangat sederhana yang terletak di gang sempit. Menghibahkan karpet-karpet mewah Persia istana kepresidenan ke masjid-masjid. Hanya menyantap sandwich yang terbuat dari roti murahan yang menjadi bekal dari rumah---buatan istri tercinta---untuk makan siang. Memilih tidur di karpet, bukan di kasur empuk hotel dalam setiap kunjungannya. Yang dengan jujur dan berani menyatakan bahwa memang tampangnya seperti pelayan, karena tugasnya memang melayani. Yang menikahkan putranya di rumahnya yang sederhana dengan sajian buah apel dan air putih saja. Tak ada perancang busana sekelas Cristian Dior atau Anne Avantie, tak ada mobil pengantin Mercedes atau limosin. Tak ada sumbangan dan upeti berupa kunci mobil atau kunci rumah yang siap ditempati sang mempelai seusai pesta, dan tak harus repot melaporkan sumbangan yang diterimanya kepada KPK, karena memang tidak menerima apa-apa kecuali kunjungan dan doa.

Kapankah kita memiliki pemimpin seperti ini? Mengapa engkau masih selalu menumpuk harta untuk diri sendiri, kapankah mulai berpikir dan bertindak untuk mandiri?

Film terus berlanjut dengan menampilkan penggalan surat perpisahan dari Che Guevara kepada presiden Kuba, Fidel Castro, yang melakukan perubahan revolusioner dan tidak pernah mau tunduk kepada keangkuhan dan ketamakan Amerika Serikat. Tak peduli Amerika Serikat hanya terletak selayang pandang di depan mata, sehingga sekali dirudal antarbenua bahkan antarpulau sekalipun, Kuba akan segera luluh lantak, takkan lagi ada dalam peta dan sejarah bangsa-bangsa.
Surat Che Guevara ditayangkan di layar lebar diringi pembacaan yang menggema ke segenap penjuru ruangan. Che memberikan spirit untuk menjadi pemimpin yang berani dan berintegritas. Tak luntur dan tak terbeli kecintaannya terhadap negara, bangsa, dan rakyatnya. Tak tunduk dan tak mudah didikte oleh uang dan kekuatan senjata.
Arsip Che Guevara Archives
Surat Perpisahan Che Kepada Fidel Castro

"Year of Agriculture"
Havana, April 1, 1965

At this moment I remember many things---when I met you in Maria Antonia's house, when you proposed I come along, all the tensions involved in the preparations. One day they came by and asked who should be notified in case of death, and the real possibility of it struck us all. Later we knew it was true, that in a revolution one wins or dies (if it is a real one). Many comrades fell along the way to victory.
            Today everything has a less dramatic tone, because we are more mature, but the event repeats itself. I feel that I have fulfilled the part of my duty that tied me to the Cuban Revolution on its territory, and I say farewell to you, to the comrades, to your people, who now are mine.
            …
Other nations of the world summon my modest efforts of assistance. I can do that which is denied you due to your responsibility at head of Cuba, and the time has come for us to part.
You should know that I do so with a mixture of joy and sorrow. I leave here the purest of my hopes as a builder and the dearest of those I hold dear. And I leave a people who received me as a son. That wounds a part of my spirit. I carry to new battlefronts the faith that you taught me, the revolutionary spirit of my people, the feeling of fulfilling the most sacred of duties: to fight against imperialism wherever one may be. This is a source of strength, and more than heals the deepest of wounds.
.                       ...
            I have always been identified with the foreign policy of our revolution, and I continue to be. Wherever I am, I will feel the responsibility of being a Cuban revolutionary, and I shall behave as such. I am not sorry that I leave nothing material to my wife and children; I am happy it is that way. I ask nothing for them, as the state will provide them with enough to live on and receive an education.
...
Ever onward to victory!
Homeland or Death!
I embrace you with all my revolutionary fervour.

Che

      Para hadirin di Aula Barat terdiam dan tercekam. Terangkat emosi dan spiritnya untuk suatu saat bisa menjadi seperti seorang Che.
Flash film berlanjut pada momen terpilihnya Barack Hussein Obama, yang pernah tinggal di Indonesia, menempuh SD-nya pada tahun 1967-1971, dan satu tempat tidur dengan salah seorang dosen ITB dalam masa-masa liburannya di Yogyakarta. Film yang menayangkan Obama menyampaikan pidato kemenangan di Chicago.

      Hello, Chicago!
If there is anyone out there who still doubts that America is a place where all things are possible, who still wonders if the dream of our founders is alive in our time, who still questions the power of our democracy, tonight is your answer.
....
It’s the answer spoken by young and old, rich and poor, Democrat and Republican, black, white, Hispanic, Asian, Native American, gay, straight, disabled and not disabled, Americans who sent a message to the world that we have never been just a collection of individuals or a collection of red states and blue states.
...
It’s been a long time coming, but tonight, because of what we did on this date in this election at this defining moment, change has come to America.
...
And I would not be standing here tonight without the unyielding support of my best friend for the last 16 years, the rock of our family, the love of my life, the nation’s next first lady Michelle Obama.
...
But above all, I will never forget who this victory truly belongs to. It belongs to you. It belongs to you.
I was never the likeliest candidate for this office.
We didn’t start with much money or many endorsements.
Our campaign was not hatched in the halls of Washington. It began in the backyards of Des Moines and the living rooms of Concord and the front porches of Charleston.
It was built by working men and women who dug into what little savings they had to give 5 and 10 and 20 to the cause.
It grew strength from the young people who rejected the myth of their generation’s apathy, who left their homes and their families for jobs that offered little pay and less sleep.
It drew strength from the not-so-young people who braved the bitter cold and scorching heat to knock on doors of perfect strangers, and from the millions of Americans who volunteered and organised and proved that more than two centuries later a government of the people, by the people, and for the people has not perished from the Earth.
This is your victory.
You did it because you understand the enormity of the task that lies ahead. For even as we celebrate tonight, we know the challenges that tomorrow will bring are the greatest of our lifetime---two wars, a planet in peril, the worst financial crisis in a century.
The road ahead will be long. Our climb will be steep. We may not get there in one year or even in one term. But, America, I have never been more hopeful than I am tonight that we will get there.
I promise you, we as a people will get there.
....
This victory alone is not the change we seek. It is only the chance for us to make that change. And that cannot happen if we go back to the way things were.
It can’t happen without you, without a new spirit of service, a new spirit of sacrifice.
So let us summon a new spirit of patriotism, of responsibility, where each of us resolves to pitch in and work harder and look after not only ourselves but each other.
...
As Lincoln said to a nation far more divided than ours, we are not enemies but friends. Though passion may have strained, it must not break our bonds of affection.
...
This is our time, to put our people back to work and open doors of opportunity for our kids; to restore prosperity and promote the cause of peace; to reklaim the American dream and reaffirm that fundamental truth, that, out of many, we are one; that while we breathe, we hope. And where we are met with cynicism and doubts and those who tell us that we can’t, we will respond with that timeless creed that sums up the spirit of a people: Yes, we can!
Thank you. God bless you. And may God bless the United States of America.

            Film berganti dengan tayangan hitam-putih yang agak kabur. Suasana tahun 1966, saat mahasiswa ITB ikut mendemo senior dan panutannya sendiri, Presiden Soekarno. Kultus individu yang kebablasan, demokrasi yang terlecehkan, antrean rakyat mengular untuk sekadar mendapatkan beras dan minyak tanah. Rakyat yang hanya mampu makan bulgur, nasi jagung, dan nasi aking. Penangkapan para pekerja seni dan penyetopan segala macam berita serta informasi dari luar negeri. Mahasiswa ITB menentang segala bentuk tirani, walau itu dilakukan oleh alumninya sendiri.
Sejarah berulang. Film berlanjut dengan suasana tahun 1978, saat kampus ITB diduduki militer. Tentara bersenjata masuk kampus, truk-truk militer menangkapi para aktivis, tentara mengejar mahasiswa, menggebuki saat menangkap, dan menyeretnya. Perlawanan fisik yang tak seimbang. Rumah rektor ITB, almarhum Prof. Iskandar Alisyahbana, ditembaki gentengnya oleh tentara tanpa surat perintah. Dari tahun 1978, film tentang berbagai demonstrasi yang pernah digalang, digagas, dan dipelopori mahasiswa ITB dibeberkan. Kasus Badega, Kaca Piring, penolakan kedatangan Mendagri Rudini, dan berbagai demonstrasi lain yang pada hakekatnya menunjukkan keberpihakan mahasiswa ITB terhadap penindasan rakyat.
Spot film loncat lagi ke masa 1997, yang berisi snapshot terjadinya krisis moneter yang terus berkepanjangan sampai saat ini.

Indonesia mengalami krisis moneter mulai akhir Juli 1997 sampai pertengahan 1999. Saat krisis moneter baru berjalan dua bulan dan nilai rupiah menyentuh Rp. 3.000/US$, bank-bank asing masih percaya kepada perbankan nasional. Namun ketika Presiden Soeharto menandatangani Letter of Intent dengan IMF pada awal November 1997 yang dilanjutkan dengan tindakan BI melikuidasi 16 bank, runtuhlah kepercayaan bank-bank asing terhadap perbankan nasional sekalipun itu BUMN. Terjadi chaos di dunia perbankan nasional. Perusahaan-perusahaan besar dan menengah serta masyarakat golongan atas, secara sadar maupun ikut-ikutan, selama lebih dari setahun menguras rupiahnya dari bank dan memborong dolar untuk diparkir di bank-bank luar negeri. Capital flight ini mengakibatkan kelangkaan dolar di dalam negeri. Dengan dolar yang menipis, bank-bank devisa nasional tidak dapat memenuhi kewajibannya yang jatuh tempo. Mereka terpaksa menunggak pembayaraan L/C (Letter of Credit) impor nasabah dan pinjaman pasar uang dalam dolar. Bank memiliki rupiah dalam jumlah besar akibat suku bunga deposito yang terlalu tinggi (tujuh puluh persen per tahun pada akhir November 1997) tapi ruang gerak mereka untuk membeli dolar terbatas akibat ulah spekulan (fund manager) di Singapura dan Hongkong. Rupiah semakin loyo dan sampai menyentuh Rp. 17.000/ US$ walau hanya berlangsung satu hari pada Januari 2008. Country rating (stabilitas negara) Indonesia turun dari kategori BBB+ (awal Juli 1997) menjadi CCC. Perbankan nasional mengalami “pendarahan” karena digerotori negative spread (hasil bunga yang diterima dari peminjam lebih kecil daripada bunga yang dibayarkan ke deposito). Inilah bukti lemahnya struktur perbankan yang dibangun di atas bunga yang merupakan riba.
Di bulan Ramadhan akhir tahun 1997, beberapa alumni ITB berkumpul di Wisma Sawunggaling, Bandung, dan keluar dengan analisis bahwa secara politis, ekonomi, dan sosial, rapat berpendapat bahwa Presiden Soeharto harus segera diturunkan dari jabatannya. Bila tidak, diperkirakan kondisi nasional akan semakin parah. Bertitik tolak dari pertemuan tersebut, para alumni ITB mulai mengembangkan kelompok. Kelompok-kelompok tersebut melakukan pendekatan termasuk kepada kelompok militer.
Pada tanggal 12 Mei 1998 dilakukan demo besar-besaran di kampus Universitas Trisakti menuju ke gedung DPR/MPR. Para demonstran ditahan petugas seratus meter dari gerbang dan tidak diperkenankan maju lagi karena akan mengganggu lalu lintas. Permintaan untuk lewat jalan tol juga tidak dikabulkan petugas sehingga mereka melakukan aksi duduk. Tak berapa lama terdengar senapan dikokang.  Polisi menyerbu kampus dan letusan terus bergema di angkasa. Polisi menembaki mahasiswa dari luar ke dalam kampus. Letusan senapan terdengar tak henti-hentinya bagai petasan di hari lebaran. Saat hari menjelang gelap terdengar sirene ambulans masuk ke kampus. Empat mahasiswa Universitas Trisakti tertembak.
Jakarta memanas dan menjadi lautan api. Kerusuhan terjadi di mana-mana. Tanggal 19 dan 20 Mei 1998 mahasiswa melakukan demo besar-besaran kembali. Presiden Soeharto turun pada tanggal 21 Mei 1998. Sejarah kelam telah tenggelam, sejarah baru akan menyingsing.
…

Dulu kita pernah peduli. Sekarang, ke mana perginya hati nurani?
Sepatu yang dulu dipakai oleh orang yang kita protes dua puluh sampai tiga puluh tahun yang lalu kini telah berpindah ke kaki kita. Seyogianyalah kita pakai untuk menegakkan keadilan di manapun kita berada.

Sebuah teks kalimat berwarna merah darah terpampang di layar.
Film selesai.
Lampu-lampu di Aula Barat menyala terang. Seorang laki-laki maju ke depan panggung, ”Saudara-saudara, telah kita saksikan betapa penderitaan telah mendera bangsa ini sekian lama, bahkan sebagian di antara saudara-saudara kita belum pernah satu kali pun merasakan bahwa bangsa ini telah merdeka selama 64 tahun, sepanjang usia sebuah generasi. Kita telah menjadi bagian dari proses perjuangan, proses membentuk kemakmuran, dan mungkin sebagian proses kehancuran itu sendiri. Masih belum puaskah dengan segala nikmat yang telah kita kecap? Kapan kita akan berhenti mementingkan diri sementara sisa hidup kita tinggal sebentar lagi. Bahkan kita pun tak tahu apakah esok pagi kita masih dapat melihat matahari. Marilah kita membuat master plan untuk mencapai Indonesia Jaya. Inilah kesempatan yang mungkin takkan pernah datang dua kali dalam hidup kita!” Fuad berorasi penuh wibawa.
            “Saudara-saudara sealmamater, saatnya kita merapatkan barisan, membuat perubahan, membaktikan diri kepada kemaslahatan. Tak harus semuanya dari ITB, oleh ITB, untuk ITB! Tetapi kita gandeng semua almamater, semua civitas dari semua universitas tempat kaum muda Indonesia berada: UI, UGM, IPB, Undip, Unhas, Uncen, Unpad, maupun universitas swasta yang ada. Bahkan semua putra-putri terbaik Indonesia yang saat ini sedang menuntut ilmu di mancanegara. Amerika, Inggris, Jepang, Australia, Kanada, Malaysia. Tak ada yang lebih berarti dalam hidup ini kecuali memberi! Mari kita bekerja keras, bekerja cerdas, bekerja tuntas, dan bekerja ikhlas!” Slamet menimpali dari sisi ruang yang lain.
            “Kita buat real masterplan, terlalu banyak potensi yang tersia-sia. Terlalu panjang titik jaringan yang tak tersambung. Terlalu banyak waktu yang telah terbuang. Kita bangkit kembali, sekarang atau tidak pernah sama sekali!” Poltak membakar audience yang tersengat, sadar untuk menjadi berarti.
            “Inilah saatnya membuat jadwal rinci, rancangan aktivitas dan alokasi personel yang segera akan kita realisasikan!” Gun Gun membagi-bagikan agenda ke seluruh peserta, sambil menginformasikan web yang bisa diakses semua peserta untuk betul-betul membuat action plan yang telah dirancang sedemikian detail dari pemikiran banyak orang dalam mailing list yang dimoderatorinya, yang sudah disarikan sekian lama.
            Hadirin tak beranjak dari tempat duduk, masih termangu. Terbakar rasa nasionalismenya dan mengucapkan niat dalam hati untuk berkontribusi secara nyata bagi perbaikan negeri untuk anak cucu mereka sendiri, agar mereka tak hidup terlunta-lunta, agar tak terus menjadi bangsa korup yang paria di mata dunia.
Benny memimpin bandnya, alunan musik bergema di ruangan yang berarsitektur sangat anggun dan agung. Lengkungan kayu penyangga langit-langit ruangan bagai tangan-tangan kokoh kaum muda yang siap menerima tangung jawab, tongkat estafet kepemimpinan.
Tekad  di dada terpatri kuat, melekat, tak lekang lagi hanya oleh godaan sesaat. Kini saatnya memberi,
Hadirin berdiri, bernyanyi bersama, bergandengan tangan, saling mengikat untuk membentuk langkah nyata. Bukan saatnya lagi berwacana.
            Lagu Kebyar-kebyar dari almarhum Gombloh membahana, membakar jiwa dan sipirit para hadirin untuk segera menuntaskan agenda.Tak sabar menunggu fajar menyingsing.

Indonesia... 
Merah darahku, putih tulangku 
Bersatu dalam semangatmu 

Indonesia... 
Debar jantungku, getar nadiku 
Berbaur dalam angan-anganmu 

Kebyar-kebyar, pelangi jingga 

Biarpun bumi bergoncang 
Kau tetap indonesiaku 
Andaikan matahari terbit dari barat 
Kaupun tetap indonesiaku 
Tak sebilah pedang yang tajam 
Dapat palingkan daku darimu 
Kusingsingkan lengan 
Rawe-rawe rantas 
Malang-malang tuntas 
Denganmu... 

Indonesia... 
Merah darahku, putih tulangku 
Bersatu dalam semangatmu 

Indonesia... 
Debar jantungku, getar nadiku 
Berbaur dalam angan-anganmu 

Kebyar-kebyar, pelangi jingga 

Indonesia... 
Merah darahku, putih tulangku 
Bersatu dalam semangatmu 

Indonesia... 
Nada laguku, simfoniperteguh 
Selaras dengan simfoni

            Sejarah besar kembali dimulai, kebangkitan kembali Indonesia untuk yang kesekian kali setelah zaman Sriwijaya, Majapahit, Mataram Islam, Kebangkitan Nasional 1908, Kemerdekaan 1945, dan kini 2009, siap mengantarkan Indonesia menjadi negeri yang gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharjo, baldatun toyyibatun warofun ghofur!
            Gading-gading Ganesha menyodet kembali magma yang terpendam, memuntahkan lahar dengan gelora tak tertahankan untuk memberikan manfaat yang lebih nyata bagi setiap jengkal yang dilewati alirannya. Setiap insan yang hadir dalam ruangan keluar dengan kepala tegak dan niat yang tak lagi mudah dibengkokkan: menjadi rahmatan lil alamin. Menjadi rahmat bagi sekalian semesta alam.

ΩΩΩΩΩ

            Esok paginya, saat para alumni yang semalam menghadiri acara reuni memulai agenda rutinnya, memencet keyboard komputer masing-masing di kampus, di perusahaan, di departemen, atau di rumah, mereka disambut puisi yang ditulis oleh  Baby Ahnan, ITB angkatan ‘77.

Selamat pagi Indonesia
Selamat pagi Indonesia
Kami termasuk 80% rakyatmu
Yang rajin bangun pagi
Yang tidak pernah gentar
Bangun lebih dahulu dari matahari

Selamat pagi Indonesia
Di bumimu kami berdiri
  Dengan mengepal segenggam ‘kesungguhan’
Yang kami dekap erat
Tepat di jantung kamu berdetak
Menapaki hari demi hari

Selamat pagi Indonesia
Di bumimu keringat kami jatuh
Kami bekerja keras pantang mengeluh
Tak perlu diajari lagi!
Karena kerja keras adalah napas kami

Selamat pagi Indonesia
Merah-putihmu berkibar di hati
Kerja bagi kami adalah harga diri
Kerja bagi kami
Adalah mengerahkan kekuatan kami sendiri
Karena kami tidak sudi korupsi!

Selamat pagi Indonesia
Kerja adalah kebanggaan kami
Demi sebuah eksistensi

Selamat pagi Indonesia

Puisi itu berbalas dengan analisis yang dikirim oleh Hengky, alumni ITB yang menjadi direktur utama perusahaan milik negara yang mengelola proses pembangunan pabrik yang berani bersaing dengan perusahaan ternama dari luar negeri.

Setelah 25 tahun bekerja, baru saya sadari bahwa keterpurukan bangsa Indonesia disebabkan oleh insinyur-insinyur Indonesia yang kurang berkarya dan memberikan solusi kepada bangsanya. Kesalahan tidak terletak pada para ekonom, politikus, jajaran TNI, Polri, penegak hukum, ataupun jajaran lainnya. Namun kesalahan sepenuhnya terletak pada pundak para insinyur Indonesia. Tidak akan ada insinyur Amerika yang akan memikirkan kemajuan bangsa Indonesia. Tidak akan ada insinyur Jepang yang akan memikirkan kesejahteraan rakyat Indonesia. Yang harus memikirkan kemajuan negara Indonesia dan kesejahteraan rakyatnya hanya insinyur Indonesia. 
.................................................................
(berlanjut)

Like ·  · Unfol
Iklan

Read Full Post »

Cover_3G_Gramedia

Read Full Post »

Here are several books could be used to increase your company performance and your individual perform.

1. Academic books

Cover_Case_I_100714Published: Andi Publisher – Jogjakarta

Author: Prof. Dermawan Wibisono

You can get it at August 2014

 

Cover_jerman_230414Published by: Lambert Academic Publishing, Germany

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it through their web site: http://www.lap-publishing.com

Since it is e-book

 

Skripsi, Thesis, Disertasi

Published by: Andi Publisher

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it on June 2013

 

 

Good reference

Published by: Gramedia

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it January 2013

Published by: Penerbit Erlangga, 2011

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it at the end of June  2011

Published: Penerbit Erlangga, 2006

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get in Gramedia or directly to publisher on line

Published by Gramedia, 2003

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it through Gramedia on line

2. Character Building  novels

Cover_3G_Gramedia

Published by: Gramedia

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it 18 April 2013

Publisher : Inti Medina, Tiga Serangkai Solo, 2010

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it through publisher  or public book shops: funny, romantic, enthutiastic, spirit

Publisher: Mizan, 2009

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it through Mizan publishing on line or book shop: spirit to be the best, ITB novel background, romantic, funny, struggling

Publisher: MQS Publishing, 2008

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it through MQS on line or book shop: heroic, struggle, child appropriateness, motivation

Read Full Post »

STOP PRESS :

Segera terbit novel keluarga berjudul ‘Menggapai Matahari’ oleh penerbit Intan Medina dan dicetak oleh PT. Tiga Serangkai Solo.  September 2010…coming soon

Novel Keluarga - Realigi

…………………………………………………

Saat dekapan ibu terenggut dari jiwaku

Langit dunia  rubuh, pilar-pilarnya runtuh

 memporakporandakan hati dan masa depanku

Aku berjalan tak tentu arah

Tanpa pegangan, tiada sandaran

Lorong kehidupan yang kulalui

Sunyi, sepi, hampa, tak berarti

Tekad menggumpal di dada

Membalas dendam

atas prahara yang ditimpakan peramal kehidupan

Yang mendahului takdir-Nya

 ………………………………………….

Daftar Isi

  1.  Kamikaze …………………………………………………………………….       
  2. Di Antara Dua Kaki Sapi    ………………. ………………………………       
  3.  Gladiator Kampung   ……………………………………………………..    
  4.  Gadis Kecil Berkepang Dua   ……………………………………………
  5. Mbah Ronggo: Tukang Bikin Perut Busung   ……………………
  6.  Guruku Sayang, Guruku Malang   ……………………………………..
  7. Pernikahan Dini   ……………………………………………………………
  8. Ketika Harus Memilih………………………………………………………
  9. Tukang Cap Buku   ………………………………………………………..
  10.  Prahara Sang Peramal    …………………………………………………..
  11. Mentari Senja di Masa Kecil  
  12. Sang Harimau Pemangsa  
  13. Mengejar Layang-layang 
  14. Selamat Jalan Koko
  15. Lady Chatterley’s Lover  
  16. Inferior Complex   …………………………………………………
  17. Perkenalan Pertama  
  18. Lumut Lereng Gunung Ungaran  
  19.  Men Sana In Corpore Sano
  20.  Fashion Show  
  21. Dari Balik Jendela Challenger  
  22. Ketika Musim Ujian Tiba  
  23. Sayonara … Selamat Tinggal Kekasih Hatiku  
  24. Kristal Hati yang Retak
  25. Reinkarnasi  
  26. Surat-surat dari London 
  27.  Surat Berperangko Terbalik
  28.  Bintangpun Ikut Berpijar  
  29.  Syurga di Bawah Telapak Kaki Ibu  ……………………………  
  30. Tinggal Landas  ………………………………………………….. 456  

Read Full Post »

Stop press !!!

DVD dan VCD film ‘3G-Gading-Gading Ganesha: Bahwa Cinta itu Ada’ sudah selesai diproduksi dan akan beredar di pasaran mulai Sabtu, 3 Juli 2010. DVD dan VCD tersebut dapat dibeli di gerai-gerai penjualan DVD dan VCD di seluruh Indonesia atau di kantor P2FTV (Bu Budiyati Abiyoga), Jl. Utan Kayu Raya no. 20A, Jakarta Timur. Atau jika ke Bandung mampir ke Jl. Gelap Nyawang No. 1 Bandung (Mbak Ninuk).

Film yang disutradarai Ki Sujiwo Tejo – alumni ITB angkatan 81 dengan konsep penyutradaraan baru yang menyatukan konsep pedalangan dalam sinematografi tsb, meraih 3 nomonasi dalam Festival Film Bandung.

Dengan bintang-bintang pendukung: Widyawati, Marini Sardi, Slamet Raharjo, Eva Asmarani, Ariyo Wahab, Ricky Hanggo, Restu Sinaga, Prof. Suhono Haro Supangkat, dan banyak pendukung bintang film masa kini lainnya itu serta diproduseri oleh Budiyati Abiyoga tersebut mengambil setting cerita di ITB, pertambangan Batu Bara Sawah Lunto, Jakarta, sangat layak untuk ditonton dan dikoleksi. No pornografi at all. This is character and education film.

Read Full Post »

STOP PSTOP PRESS:

After waiting for 4 months in processing of publication, Novel 3 G: Gading-Gading Ganesha, Bahwa Cinta Itu Ada‘ is now available at Ganesha Creative Industry Incorporation.

You can have it by contacting Mrs. Indri at (022) 250 1006 at Pusat Inkubator Bisnis ITB, Jl. Ganesha 15 F Bandung or buy it online at http://www.tokoganesha.com or email to pib@inkubator.itb.ac.id in the blogspot: 3gcinta.blogspot.com.

Check it out which characters in the novel are closest or represent you mostly. This is a drama-comedy with background of ITB from 1970-2009 and Australia.

Novel & Film3G

Novel & Film3G

Sinopsis:

Novel 3G merupakan mozaik perjalanan hidup enam anak manusia berlatar belakang etnik yang beragam: Slamet (Trenggalek), Fuad (Surabaya), Poltak (Siantar), Gun Gun (Ciamis), Ria (Padang) dan Benny (Jakarta) yang dipersatukan saat keenamnya masuk ITB. Kisah dimulai dengan keberangkatan masing-masing tokoh dari daerah asalnya dengan berbagai moda. Banyak kejadian lucu yang dialami dan berbagai tempaan fisik dan mental yang dijalani. Aktivitas akademis, seni dan politik praktis membentuk sosok lulusan yang semula culun menjadi teruji dan percaya diri. Dalam satu masa semuanya menggapai apa yang diinginkan sesuai dengan kadar usahanya setelah jatuh bangun dalam berbagai perjuangan: drop out dari kuliah, tak punya cukup uang untuk sekedar makan, kandas menjadi seorang pengusaha, gagal dalam percintaan, menikah di usia yang tak lagi muda, ditinggal mati orang yang dicintai, sakit saat jauh dari orang tua, konflik batin saat harus mengambil keputusan penting dalam hidup dam karir, dan berbagai godaan dan cobaan saat harus teguh memegang etika dan martabat diri dan institusi. Tak ada hero yang suci di dunia, semua pernah mengalami putaran roda kehidupan, ada kalanya di atas, seringkali di bawah, bahkan ada saatnya harus tergilas roda itu sekalian. Bertemu lagi bertahun kemudian, mereka menghitung kembali bahwa sudah terlalu banyak nikmat diserap, melewati titik nol atau bahkan minus saat mereka masuk ITB, banyak waktu tersia-siakan oleh kesibukan yang self interest dan ternyata tidak banyak karya nyata dan kontribusi mereka berikan ke masyarakat dan kepada bangsa yang telah mensubsidi sekolah mereka. Timbul kesadaran untuk membangun negeri dengan menjadi pelopor membangun jaringan seluruh alumni dan orang-orang yang sepaham dari berbagai universitas untuk membuat karya nyata, menanggalkan primordialisme baju alumni, dengan satu tekad: kelas menengah adalah agen perubahan di manapun di dunia ini. Perubahan kepemimpinan dunia kepada tokoh-tokoh yang berkarakter semacam Ahmad Dinejad, Barack Obama, Che Guevara, dan kesuksesan Muhammad Yunus dengan Grameen Banknya memberikan inspirasi untuk meretas jalan membangun pengabdian kepada bangsa. Hidup tak dapat diputar ulang, sekali berarti sesudah itu mati!

Apa kata mereka:

“…. seru banget ceritanya! Gak secara langsung ngedikte tapi tetep dapet pelajaran hidup yangg ngena banget… Jadi pengen juga bikin novel yang bisa jadi inspirasi buat mahasiswa ya..he…he…he…“ (Priscilia Audy, mahasiswi FE UNPAD 2007)

 “Kala sebagai Rektor ITB saya beranjangsana ke Pesantren Rancabango, Garut dan dalam kata sambutannya Sang Kiyai, pemimpin PonPes menyampaikan kalimat singkat yang mengandung pesan dan sindiran halus yaitu ‘Hendaknya warga kampus dan alumninya itu senantiasa menjunjung dua nilai luhur yaitu kahartos lan karaos bagi masyarakat’. Pesan singkat agar dimengerti dan bermanfaat ini sejatinya adalah manifesto dari tridarma ITB. Saya bahagia menyambut terbitnya Novel Mas Dermawan Wibisono berjudul 3G — Gading Gading Ganesha ini yang jelas sejalan dengan pesan Sang Kiyai pada kita semua. Kain batik hadiah Ibunda tercinta kini bermetafor menjadi sebuah novel 3G. The best is yet to come.” (Kusmayanto Kadiman, Rektor ITB 2001 – 2004, Menteri Riset dan Teknologi, 2004-2009)

”Inovasi dan inspirasi adalah dua hal yang saling berpautan satu sama lain. Tiada inovasi tanpa inspirasi, dan inovasi yang tercipta seharusnya menjadi sumber inspirasi bagi orang-orang cerdas untuk memicu inovasi yang baru. Novel Gading-Gading Ganesha sarat dengan inspirasi yang akan memantik beragam inovasi kreatif yang akan menghadirkan gelora hidup penuh makna bagi siapa saja yang membacanya. Memang tidak gampang untuk merepresentasikan sosok mahasiswa dan alumni ITB. Mereka adalah pribadi-pribadi yang datang dari berbagai latar belakang sosial budaya maupun kehidupan ekonomi. Namun percayalah, satu kesamaan yang mereka miliki adalah bahwa mereka manusia yang kritis dan mandiri, penuh percaya diri (acapkali sangat tinggi), cinta almamater, bangsa dan negara. Semoga kita dapat bercermin dari apa yang ditampilkan dalam Gading-Gading Ganesha.” (Ir.Hatta Radjasa, Ketua Ikatan Alumni ITB 2008 – 2013, Menteri Perhubungan 2004-2006, Menteri Sekretaris Negara 2006-2009)

Novel yang bagus sekali, menyentuh, dengan message yang kuat. Penulis mengangkat periode waktu kehidupan di kampus yang dialaminya, yang walaupun berbeda dengan era sebelum dan sesudahnya, dapat menjadi representasi dari sikap kepekaan/ kepedulian mahasiswa terhadap kondisi nasional maupun global di setiap zamannya. Untuk kekinian dan visi ke depan, merupakan penggalian yang serasa satu irama dengan napas anak bangsa (Budiyati Abiyoga, Produser Film).

Membaca 3G ini seperti merefleksikan perjalanan hidup kita di ITB dengan segala dinamikanya yang membentuk kepribadian alumnus ITB dalam berkiprah di masyarakat. Harapan kita adalah agar karya DR. Dermawan Wibisono ini dapat memberi inspirasi bagi kemajuan civitas academica ITB dalam memajukan ITB dan Republik tercinta (Rinaldi Firmansyah, Direktur Utama PT. Telekomunikasi Indonesia, tbk.)

“Novel 3G mengandung unsur pembelajaran berupa bagaimana toleransi antar budaya yaitu antara suku Batak, Sunda, Jawa, dan budaya kota besar (Jakarta) harus dijalankan pada saat kuliah di ITB. Pendidikan karakter juga tercermin di dalamnya di mana mahasiswa ITB dididik untuk bermartabat, bersaudara, berbeda pendapat, bersaing…..termasuk bersaing untuk mendapatkan seorang wanita. Satu hal yang perlu diangkat dari novel 3G bahwa tidak semua lulusan ITB sukses, kegagalan mungkin terjadi pada siapapun tak terkecuali juga lulusan ITB, namun lulusan ITB tetap tegar dalam menghadapi kegagalan”. Prof. Ir. Sofia W. Alisjahbana, M.Sc., Ph.D. (Wakil Rektor Bidang Akademik, Universitas Tarumanagara)

 Novel yang menggelitik dari segi humanis & semoga memberikan inspirasi bagi insan ITB bahwa mereka juga manusia biasa yang dapat mengalami pasang surut dalam mengarungi kehidupan & tidak terus terbuai, hidup dalam dunia “awang-awang” pribadi karena ke-ITBannya (Tuning Hendrastuti, alumni UGM & PPM, praktisi SDM)

Read Full Post »

Stop Press!

cover_novel_3g1

Segera terbit Novel baru berjudul 3G (Gading-Gading Ganesha) dengan genre drama komedi mengambil setting ITB yang memotret pergulatan kehidupan para pelakunya yang berlatar belakang etnik beragam dari 5 suku bangsa Indonesia (Jawa, Sunda, Batak, Padang, Betawi).

Novel yang juga segera akan difilmkan ini insya Allah akan siap edar paling lambat awal Juli 2009, dengan jumlah halaman 424. Dicetak oleh Mizan dan diterbitkan oleh Ganesha Creative Indonesia.

Selain sebagai sarana ikut membangun karakter bangsa juga ikut memberikan sumbang saran bagi pemecahan krisis multi dimensi yang dihadapi bangsa.

Novel ini bukan propaganda atau penokohan pada figur tertentu juga bukan merupakan biografi, tetapi fiksi semiasosiatif . Dengan setting kejadian Bandung, Jakarta, Trenggalek, Siantar, Padang, Melbourne, Surabaya.

No pornografi

Novel mengambil periode kejadian 1980 an – 2009. Ditulis oleh Dermawan Wibisono, yang akan ditransfer dalam skenario film oleh Arya Gunawan (Eks ketua Dewan Juri FFI, BBC, Unesco) dan disutradarai oleh Ki Sujiwo Tejo.  Film rencananya akan dilaunch ke publik November 2009, dengan produser Budiyati Abiyoga, sebagai persembahan alumni ITB kepada almamaternya, ITB yang berulang tahun ke 50 dan persembahan kepada masyarakat Indonesia.

Daftar Isi

 

1.      Berlian Masa Depan

2.      ITB! ITB! ITB!

3.      Indonesia Furniture Incorporated

4.      Eforia

5.      Demonstrasi di Segala Cuaca

6.      Riak-riak di Perjalanan

7.      Bunga Cinta Lestari

8.      Dilema

9.      Ijazah  untuk  Orang Tua

10.  Kereta Kehidupan

11.  Di Melbourne Cintaku Berlabuh

12.  Good Bye My Love

13.  Survival

14.  What friends are for

15.  Pelangi Kehidupan

16.  Saatnya Memberi

Read Full Post »

Older Posts »