Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Inspirational’ Category

Ahmad_Tohari_310314

Iklan

Read Full Post »

Catatan sejarah yang tidak pernah kita ketahui, dari Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto:

Sudirman pernah mimpin langsung pasukan, dua pasukan ia pegang yaitu: pasukan eks Batalyon Surjosumpeno, k/l 500 orang bersenjata lengkap dan eks pasukan Letkol Isdiman, 800 tentara bersenjata lengkap. Ceritanya begini, pada September 1945, Sudirman di telgram kawat oleh Amir Sjarifoeddin diangkat jadi Komandan Divisi V Banjumas, dibawah Pak Dirman saat itu ada : Letkol Sarbini yang pegang pasukan di Semarang dan Letkol Isdiman yang pegang pasukan di Magelang. Pak Dirman membangun pertahanan di divisi Banyumas dengan sistem “kaki kepiting” dimana Semarang dan Magelang dijadikan “dua kaki kepiting” pertahanan di Djawa Tengah. Pada Bulan Oktober 1945, Brigjen Berthell, Komandan Pasukan Sekutu membebaskan tawanan perang militer Belanda, namun Brigjen Berthell memerintahkan operasi intelijen penyerahan senjata ke eks tentara Belanda, ada sekitar 4500 senjata yang dikirim langsung dari Australia diserahkan ke tentara Belanda yang diinternir itu, aksi ini bisa disebut sebagai langkah pembuka gerakan Van Der Plas dalam pembentukan NICA, operasi intelijen Berthell ini dibaca oleh intel Indonesia bernama Suradi, yang melaporkan langsung ke Mayor Darsono, dari Mayor Darsono laporan ini dibawa ke Letkol Isdiman. Setelah laporan diterima, Isdiman memerintahkan Mayor Suryosumpeno memimpin pasukan menghadang gerakan pasukan sekutu di Magelang dan Ambarawa, lalu terjadilah perang Ambarawa, dimana Isdiman kena granat pasukan sekutu. Gugurnya Isdiman, membuat Kolonel Sudirman marah besar, lewat Kapten Islam Salim, Sudirman minta semua pasukan di divisi Djawa Tengah di mobilisasi dan bergerak ke arah ambarawa, Pak Dirman menenteng sendiri karaben kaliber 120, dan pestol mauser. Dirman membawa sekitar 200 pasukan dari Purwokerto dengan menumpan beberapa buah truk menuju Ambarawa. Jalan Ambarawa-Semarang ditutup, selama 14-15 Desember 1945, Pasukan Inggris terjebak di seluruh lini Ambarawa, mereka dihujani peluru pasukan Indonesia dibawah Sudirman, yang patut dicatat disini adalah kemampuan Sudirman melakukan koordinasi seluruh TKR di Djawa Tengah, untuk mengepung Ambarawa, laporan perang Ambarawa dan kemampuannya melakukan koordinasi sistematik ala Sudirman membuat perhatian pemerintahan pusat di Djakarta, sehingga Sukarno sendiri berkomentra : “Dia seorang Ike Eisenhower dalam wajah yang lain”. Sementara Bung Karno juga megutip surat kabar Inggris yang membuat laporan soal perang Ambarawa : “The battle of Ambarawa had been a fierce struggle between Indonesian troops and Pemuda and, on the other hand, Indian soldiers, assisted by a Japanese company….The British had bombed Ungaran intensively to open the road and strafed Ambarawa from air repeatedly. Air raids too had taken place upon Solo and Yogya, to destroy the local radio stations, from where the fighting spirit was sustained…

Read Full Post »

Pahlawan dari Salatiga, Adisutjipto

 

  Adisutjipto        Kalau Adisutjipto tidak nekat menerbangkan pesawat bobrok peninggalan Jepang, entah apa nasib Angkatan Udara Republik Indonesia. Adisutjipto adalah orang yang merintis penerbangan AURI, membangun sekolah penerbang dan melakukan berbagai misi kemanusiaan lewat udara di tengah serangan Belanda. Hidupnya dihabiskan membangun kekuatan udara RI tanpa lelah. Di langit pula kesatria udara ini mengakhiri hidupnya. Adisutjipto lahir tanggal 4 Juli 1916 di Salatiga, Jawa Tengah. Otaknya encer dan prestasinya di sekolah sangat memuaskan. Lulus dari Algemene Middelbare School (AMS) Semarang tahun 1936, dia ingin melanjutkan masuk Akademi Militer Belanda di Breda. Namun sang ayah menyarankan Adisutjipto masuk Geneeskundige Hooge Shool (Sekolah Tinggi Kedokteran) di Jakarta. Tjipto diam-diam mengikuti tes dan diterima di Militaire Luchtvaart Opleidings School atau Sekolah Penerbangan Militer di Kalijati Subang. Tjipto lulus lebih cepat dan mendapat nilai yang sangat baik. Dia berhak menyandang pangkat letnan muda udara. Tjipto juga mendapat brevet penerbang kelas atas. Konon dialah satu-satunya orang Indonesia yang saat itu mempunyai brevet penerbang kelas atas. Dalam buku Bakti TNI Angkatan Udara 1946-2003 ditulis Tjipto kemudian mendapat tugas di Skadron Pengintai di Jawa.

penerbang indonesia

Saat Jepang mengalahkan Belanda, seluruh penerbang Belanda dibebastugaskan.  Adisutjipto kembali ke Salatiga. “Dia bekerja di sebuah perusahaan bus,” ujar Sudaryono.  Di kota ini pula Tjipto menyunting seorang gadis bernama Rahayu. Dilanjutkan Sudaryono, sekitar akhir Agustus seseorang bernama Tarsono Rud-jito (bekas BKR Oedara Yogya) datang mencari Adisutjipto. Karena mendapat informasi Adisutjipto di Salatiga, ia segera menyusul untuk menemui Adisutjipto. Singkat cerita, kedua orang ini saling bertemu dan bersepakat untuk kembali ke Yogyakarta. Kondisi angkatan udara saat itu sangat memprihatinkan. Tidak ada pilot, tidak ada mekanik pesawat, tidak ada dana, hanya ada beberapa pesawat tua peninggalan Jepang. Di tempat lain, Suryadarma memerintahkan seorang teknisi bernama Basir Surya untuk untuk segera ke Yogyakarta. Ketiga orang ini bertemu di Yogyakarta. Mereka kemudian memutuskan untuk menghidupkan sebuah Churen dan nanti akan diterbangkan oleh Adisutjipto. Basir surya bekerja cepat dan cermat. Sementara Adisutjipto berusaha memahami Churen, pesawat buatan Jepang yang sama sekali dia belum pernah menyentuhnya tanpa selembar pun manual book. Dengan bermodalkan keyakinan, kerja keras itu berbuah manis. Adisutjipto berhasil menerbangkan sebuah Churen yang sudah diberi marking Merah Putih di atas Yogyakarta pada 27 Oktober 1945. Inilah penerbangan bersejarah dalam dunia penerbangan Indonesia, ketika untuk pertama kali penerbang Indonesia menerbangkan pesawat di alam kemerdekaan. “Pak Cip sempat nyambar-nyambar di Alun-alun,” kata Sudaryono yang bergabung dengan TKR Oedara pada November 1945 setelah berjuang di Front Semarang. Aksi solo flypast yang dilakukan Adisutjipto ini dilakukan pada peringatan hari Sumpah Pemuda 28 Oktober di Yogyakarta.  Bukan tanpa maksud Tjipto melakukan itu. Hal ini dilakukannya untuk memompa semangat perjuangan rakyat. Tanggal 1 Desember 1945, Adisutjipto dan Surjadi Suryadarma mendirikan sekolah penerbang. Lagi-lagi dalam situasi serba kekurangan. Tjipto menjadi instruktur, sementara Surjadi mengurus administrasi. Angkatan pertama, ada 31 siswa yang mengikuti sekolah penerbangan itu. Hanya bermodal pesawat tua tidak menyurutkan langkah para perintis TNI AU ini untuk belajar.

siswa sekolah penerbangan

Dengan dibukanya sekolah penerbang ini, pemuda-pemuda yang semula mengorganisir diri di Malang, digabungkan ke Yogyakarta. Sekolah ini menerima para siswa yang berasal dari bekas siswa Aspirant Officer Kortvervand yang telah mengantogi klein brevet, bekas siswa vrijwillige vlieger corps, serta pemuda-pemu­da yang sama sekali belum pemah menerima pendidikan penerbang. Nall, Sudaryono dan 15 pemuda lainnya masuk ke dalam kelompok terakhir. Namun Adisutjipto tidak ge­gabah. Sadar seorang diri, is tidak lantas langsung menerima siswa dan mendidiknya. Pertama-tama, Adisutjipto mencetak sejumlah penerbang untuk menjadi instruk­tur. Menurut Sudaryono, angkatan pertama instruktur yang dididik Adisutjipto adalah Iswahjudi dan Imam Suwongso Wirjosaputro. Iswahjudi sendiri bekas siswa Aspirant Officier Leerling Vlieger namun belum sempat memper­oleh brevet, sedangkan Wirjosapu­tro bekas siswa Vrijwiliger Vlieger Corps. Angkatan kedua instruktur terdiri dan Abdulrahman Saleh dan Hubertus Sujono. Barulah setelah keempat penerbang ini dipandang Adisutjipto layak menyandang jabatan instruktur, sekolah penerbang pun mulai diaktifkan. “Instruktur utama adalah Iswahjudi dan Wirjos­aputro, saya sendiri dilatih oleh Iswahjudi,” papar Sudaryono. “Kalian menerbangkan peti mati,” ujar para penerbang Kerajaan Inggris yang mengunjungi Lanud Maguwo Yogyakarta tahun 1945. Para penerbang itu geleng-geleng melihat deretan pesawat Cureng buatan Jepang yang jumlahnya tidak seberapa di landasan pacu. Pesawat Cureng itu buatan tahun 1933, beberapa kondisinya jauh dari layak. Karena itu tidak salah jika pilot Inggris menyebutnya peti mati terbang. Tapi Kepala Sekolah Penerbang Maguwo, Komodor Adisutjipto, cuek saja mendengar ucapan tentara Inggris itu. Kadet-kadet sekolah penerbang itu mencatat prestasi membanggakan. Bukan hanya mencatat zero accident, Suharnoko, Harbani, Soetardjo Sigit dan Moeljono berhasil mengebom tangsi-tangsi Belanda di Salatiga, Ambarawa dan Semarang.

Tahun 1947, Adisutjipto dan rekan-rekannya ditugasi pemerintah RI untuk mencari bantuan obat-obatan bagi Palang Merah Indonesia. Bantuan didapat dari Palang merah Malaya, sementara pesawat angkut Dakota VT-CLA merupakan bantuan dari saudagar di India. Penerbangan dilakukan secara terbuka. Misi kemanusiaan ini telah mendapat persetujuan dari Belanda dan Inggris. Namun tanggal 29 Juli 1947, saat pesawat hendak mendarat di Maguwo, tiba-tiba dua pesawat pemburu Kitty Hawk milik Belanda muncul. Pesawat pemburu tersebut langsung menembaki Dakota yang ditumpangi Tjipto dan rekan-rekannya. Pesawat jatuh dan terbakar, Tjipto dan tujuh rekannya gugur. Hanya satu yang berhasil selamat. Entah apa maksud Belanda melanggar kesepakatan, namun diduga karena ingin membalas serangan kadet-kadet Indonesia yang mengebom tangsi Belanda. Untuk mengenang peristiwa tersebut di dirikan Monumen Ngoto yang terletak di Ngoto, bantul, Yogyakarta yang menjadi monumen perjuangan TNI AU.

Monumen Ngoto Yogyakarta

Beliau dimakamkan di pekaman umum Kuncen I dan II, dan kemudian pada tanggal 14 Juli 2000 dipindahkan ke Monumen Perjuangan di Desa Ngoto, Bantul, Yogyakarta. Adisutjipto baru berumur 31 tahun saat gugur. Keberanian dan semangatnya terus diceritakan dari generasi ke generasi. Memotivasi para penerbang TNI AU untuk melakukan hal serupa. Atas jasa-jasanya pemerintah memberikan gelar Bapak Penerbang Republik Indonesia pada Adisutjipto. Lapangan Udara Maguwo pun diubah namanya menjadi Lanud Adisutjipto.

Lapangan Pancasila Salatiga

Di Salatiga sendiri, sosok Adisutjipto di abadikan pada monumen tugu Pancasila, bersama dua pahlawan lainnya ( Brigjen Sudiarto dan Laksamana Madya Yosaphat Soedarso) yang juga berasal dari Salatiga.

Sumber : Kampoeng Salatiga

Read Full Post »

Dear all, very nice article and examples for us

Regards,

Prof. Dermawan Wibisono
_____________

Sejawat Guru Besar ITB yang sangat sangat banggakan. Berikut adalah email
yang saya terima dari mailing list Alumni Fisika ITB. Isinya sangat
relevan saat kita membicarakan mengenai institusi dan bangsa kita ke
depan.

Prof. Satria Bijaksana
=====================

Leiden is lijden, memimpin adalah menderita, sebuah pepatah kuno
belanda yang disampaikan oleh Mr. Kasman Singodimedjo untuk menggambarkan kesulitan ekonomi yang dialami oleh pimpinan perjuangan saat itu. Mohammad Roem dalam Karangan berjudul “Haji Agus Salim, Memimpin adalah Menderita  (Prisma No 8, Agustus 1977) mengisahkan keteladanan Agus
Salim sebagai pemimpin yang mau menderita.

Kasman dan Roem melihat H. Agus Salim hidup dengan keadaan yang sangat
sederhana, penuh kekurangan dan terbatas secara materi. Padahal H Agus
Salim adalah tokoh dan pimpinan perjuangan kala itu yang juga memimpin
Syarekat Islam yang sangat berpengaruh dalam pergerakan bangsa ketika itu.

H Agus Salim menjalankan prinsip leiden is lijden, memimpin adalah
menderita. Boro-boro minta naik gaji, berpikir soal gaji pun tidak pernah
ada dalam benak H Agus Salim.

Sungguh memprihatinkan ketika sejumlah kepala daerah melapor ke Presiden
SBY telah mengemban tugas yang tidak ringan, namun pendapatan yang mereka
terima masih kecil. Mereka meminta kepada presiden, agar gaji mereka dapat
disesuaikan dengan tugas yang mereka jalani.

“Terus terang, waktu saya mengadakan pertemuan dengan kepala daerah,
mereka dengan terus terang dan niat baik berkata pada saya. Pak presiden,
kami (kepala daerah) ini mengemban tugas yang tidak ringan, tapi gaji kami
kecil,” ujar SBY di Istana Negara, Jakarta, Rabu kemarin.

Menurut SBY, para kepala daerah ini mulai dari tingkat Gubernur, Walikota
dan Bupati meminta adanya penyesuaian.

Tidakkah para pejabat daerah ini berkaca pada apa yang sudah ditunjukkan
pahlawan nasional Haji Agus Salim. Dia lahir dengan nama Mashudul Haq atau
pembela kebenaran. Dalam pemerintahan RI, dia beberapa kali duduk dalam
kabinet, sebagai menteri muda luar negeri Kabinet Sjahrir II (1946), dan
kabinet Sjahrir III (1947), menteri luar negeri kabinet Amir (1947),
menteri luar negeri kabinet Hatta (1948-1949).

Menurut catatan harian Prof Schermerhorn, pemimpin delegasi Belanda dalam
perundingan Linggajati, Agus Salim adalah orang yang sangat pandai.
Seorang jenius dalam bidang bahasa. Mampu bicara dan menulis dengan
sempurna sedikitnya dalam sembilan bahasa. Hanya satu kelemahan dari Haji
Agus Salim, yaitu hidup melarat.

Dalam catatan M Roem, kehidupan Haji Agus tidak hanya sederhana, bahkan
mendekati miskin. Keluarga Haji Agus Salim pernah tinggal di Gang Lontar
Satu di Jakarta. Kalau menuju ke Gang Lontar Satu, harus masuk dulu ke
Gang Kernolong, kemudian masuk lagi ke gang kecil. Bisa dibayangkan, mana
ada pejabat sekarang yang tinggal di “cucu” gang.

Haji Agus Salim tidak pernah berpikir soal rumah mewah dan megah layaknya
pejabat sekarang. Dulu setiap enam bulan sekali dia punya kebiasaan,
mengubah letak meja kursi, lemari sampai tempat tidur. Kadang-kadang kamar
makan ditukarnya dengan kamar tidur.

Haji Agus Salim berpendapat dengan berbuat demikian, dia mengubah
lingkungan, yang manusia sewaktu-waktu perlukan tanpa pindah tempat atau
rumah. Apalagi pergi istirahat ke lain kota atau negeri. Tidak ada dalam
pikiran Haji Agus Salim, punya vila seperti para pejabat sekarang.

Mendengar cerita tentang Haji Agus Salim itu, tidakkah para pejabat yang
minta naik gaji malu. Haji Agus Salim, salah satu pendiri republik ini,
betul-betul menerapkan istilah yang disampaikan Kasman Singodimedjo saat
bertamu ke rumahnya, leiden is lijden, memimpin itu menderita. Artinya,
memimpin itu tidak untuk foya-foya.

Potret memimpin adalah menderita juga terlihat begitu jelas pada sosok
Bung hatta. Proklamator ini juga menjalani hidup yang sederhana. Bung
Hatta pernah mengalami kesulitan untuk membayar tagihan listrik, telpon
dan air karena gaji pensiunnya tak cukup untuk membayar semua tagihan itu,
sehingga Ibu Rahmi Hatta harus mengirim surat pada Bung Karno yang pada
saat itu masih menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Bahkan,
hingga ajal menjemput, Bung Hatta tidak kesampaian memiliki sepatu merk
Bally yang begitu diidam-idamkannya.

Begitulah, Seorang pemimpin yang memahami hakikat leiden is lijden adalah
manusia yang siap hidup untuk memberikan pengabdian penuhnya kepada negara
atau komunitas yang dipimpinnya. Seorang pemimpin yang memahami hakikat
leiden is lijden adalah manusia yang mampu bertindak benar diantara
kesulitan-kesulitan dan masalah berat yang terhidang diatas meja
pengabdiannya.

Pemimpin yang memahami hakikat Leiden is lijden adalah manusia yang
ditakdirkan untuk memimpin, terlahir untuk memimpin karena muncul dari
rahim persada yang dialiri darah kebaikan dan tumbuh dalam ruang lingkup
moral budaya yang agung.

Pemimpin negarawan

Kepemimpinan yang ditunjukkan oleh H. Agus Salim dan Bung Hatta diatas
adalah kepemimpinan yang dijalani oleh negarawan sejati. Tokoh tersebut
menjadi pemimpin adalah berawal dari keterpanggilan untuk memimpin bangsa
dan bukan karena panggilan profesi. Sehingga kekuasaan bagi mereka adalah
sarana untuk mendatangkan kesejahteraan, kemakmuran dan kedamaian bagi
rakyat.

Dalam kondisi berbangsa dan bernegara saat ini, faktor keterpanggilan
karena profesi lebih kuat merasuki calon pemimpin bangsa ini. Mungkin pada
awalnya pemimpin kita bertujuan mulia untuk memberikan perubahan kearah
yang lebih baik. Namun, sejalan dengan apa yang dikatakan Lord Acton
kekuasaan yang mutlak rentan disalahgunakan (power tend to corrupt,
absolute power corrupt absolutely). Godaan materi dan kekuasaan yang kuat
serta diperburuk oleh moral yang buruk membuat pemimpin berbagai tingkatan
tergoda menyalahgunakan kekuasaannya untuk korupsi dan tindakan yang
merugikan negara lainnya. Mereka meraih dan mempertahankan kekuasaan
dengan segala cara dengan mengorbankan manusia lainnya.

Kita akui, menjadi pemimpin negara sebesar Indonesia memang tidaklah
mudah. Lao Tzu (500 SM)mengatakan “memerintah negara besar adalah mirip
dengan menggoreng ikan kecil†, apabila sering dibolak balik ikannya akan
hancur menjadi bubuk. Berbeda dengan menggoreng ikan besar yang meskipun
dibolak balik ikannya tetap utuh untuk menggambarkan memerintah negara
yang kecil.

Untuk mampu memeirntah dinegara sebesar Indonesia ini memang dibutuhkan
negarawan yang mampu memaknai bahwa memimpin adalah menderita. Indonesia
adalah negara yang majemuk yang terdiri dari berbagai macam kepentingan.
Pemimpin seperti itu adalah pemimpin yang rela mengorbankan waktu dan
pikirannya demi bangsa dan negaranya. Pemimpin yang tidak memandang latar
belakang politik dan agamanya. Pemimpin yang memberlakukan adagium “
ketika tugas negara dimulai, maka kepentingan politik berakhir†. Artinya
seorang pemimpin atau pejabat negara harus berkonsentrasi untuk mengurus
negara dan mampu menentukan prioritas antara kepentingan negara dengan
kepentingan golongan dan pribadi.

Kepemimpinan inilah yang telah diperlihatkan oleh H. Agus Salim, Bung
Hatta dan lainnya. mereka siap menderita demi kepentingan bangsa dan
negara. Lalu, apakah calon pemimpin yang saat ini berlomba-lomba untuk
memenangkan kursi sebagai penguasa dengan mengiklankan diri secara gencar
di media massa memahami hakikat memimpin adalah menderita ?

Sudah selayaknya sifat-sifat kenegarawanan para pemimpin kita terdahulu
perlu diinternalisasikan ke dalam tiap diri calon-calon pemimpin kita saat
ini. Bangsa ini butuh keteladanan dan sikap-sikap kenegarawanan yang lain.
Mudah-mudahan kita selalu mampu mengambil hikmah dari para
pemimpin-pemimpin kita di masa lalu, dan menjadi inspirasi bagi masa depan
bangsa.

Anda mungkin belum melihat pemimpin seperti ini, tapi percayalah pemimpin
seperti ini terus ada, terlahir disetiap generasi hanya saja untuk
menemukannya saya dan anda harus bersikap dewasa dan objektif dalam
melihat dan menilai seseorang. Jangan melihat seseorang seperti melihat
dari lubang pintu, memicingkan sebelah mata. Tapi mundurlah selangkah dan
buka kedua mata, maka saya dan anda akan melihat dunia seluas samudera.

Read Full Post »

Indonesia Mencari Pemimpin

Dermawan Wibisono

Apa yang dibayangkan seorang Profesor Malaysia tentang Indonesia terkait dengan kualitas hidup? Dalam salah satu presentasinya, dalam mata kuliah Quality, dia menggambarkan hasil potretannya dalam Power Point presentasinya tentang seorang anak yang mengemis di jalanan Jakarta, dengan karung besar di pundaknya, kaos lusuh compang-camping. Tak ada sinar kehidupan dalam tatapan matanya. Dalam slide berikutnya, dia gambarkan seorang ibu-ibu pengemis menggendong bayi dalam panas udara yang penuh polusi kendaraan mewah yang mengurungnya yang berimpitan dengan bus centang perenang dan mikrolet yang berjubel. Kondisi transportasi yang sama kumuhnya dalam presentasi  Dr. Kim ketua Korean Transportasi Institute (KOTI)  dengan suasana di Seoul pada tahun 1952. Betapa Indonesia telah tertinggal 60 tahun dengan Korea Selatan, dan kini mulai tertinggal 15 tahun dengan Malaysia dalam hal kualitas hidup warga negaranya di kota besar. Kecepatan kereta api di Korea Selatan kini sudah 431 km/ jam, jalan-jalan kota diubah jadi taman yang indah, semuanya merasa nyaman dengan publik transport, walau Korea produsen otomotif yang telah masuk persaingan dunia, tapi di negaranya, kemacetan tak ada. Anak-anak muda Indonesia gandrung dengan acara TV Korea. Mode, gaya rambut, fashion, nyanyi, wisata, bedah plastik, semua maju. Pendidikan di Korea Selatan, kini diakui telah masuk level dunia, bahkan pendidikan dasarnya sampai dengan level S1 nya menjadi yang terbaik di dunia bersama-sama dengan Finlandia. Tak heran jika industri elektronik Jepangpun sudah mulai kepayahan menghadapi industri elektronik Korea Selatan.

Masih dalam slide sang Profesor, dengan kontras dia tayangkan kehidupan yang penuh warna, orang yang berjubel, antri dengan tertib, di rumah makan Malaysia. Wajah pengantri yang ceria berpadu dengan harmonisnya wajah pelayan yang penuh senyuman. Di slide berikutnya, tampak para pelajar SD yang bersekolah dengan gembira, berebut tunjuk jari menggambarkan sistem pendidikan yang tidak membebani siswanya dengan beban yang tidak semestinya. Tidak khawatir tulang belakangnya  bengkok karena setiap hari membawa materi ajar yang alangkah beratnya, seperti di Indonesia. Suasana sekolah dengan lapangan olar raga yang luas terbentang, bukan lagi sekedar sekolah di sebuah kontrakan tanpa tempat bermain yang semestinya. Tayangan berikutnya tentang perguruan tinggi yang sibuk berbenah. Salah satunya Universitas Utara Malaysia, di Kedah, tempat Dr. Mahatir Mohammad dilahirkan. Dalam 30 tahun telah menjelma menjadi internasional university yang sangat asri. Dengan internasional student dari Timur tengah karena program Finansial Syariahnya menggunakan pengantar bahasa Inggris, telah berjubel peminatnya. Mahasiswa dari Kamboja, Thailand, Vietnam, dan negara-negar tetangga, dengan singkat menyulap kawasan hutan 20 km dari Thailand yang dulunya menjadi sarang komunis, menjadi tempat mula kemajuan, dengan cita-cita ingin menjadi Harvard Business School nya kawasan Asia Tenggara. Rangkaian slide itu ditutup dengan pernyataan: quality of leadership. Kualitas kepemimpinan.

Kepemimpinan dalam segala sisi kehidupan yang dalam hari-hari ini terus saja bergema di seantero media kita, menunggu 2014, di samping ditingkahi dengan pemilihan kepala daerah di mana-mana.

Jokowi dengan perlahan namun pasti telah merangsek, masuk dalam hati setiap insan dengan harap-harap cemas. Indonesia berharap, tak lagi menjadi bahan ledekan dari negara tetangga yang dulu berguru kepada kita. Diperlukan satu patron untuk menata sederet kepemimpinan di segala bidang: pendidikan, keuangan, bisnis, kesehatan dan sebagainya dalam segala level, setelah sekian lama kita terpukau dengan seremonial belaka. Tak ada ide kreatif muncul dari pimpinan di level bawahnya, sehingga serasa mandeg dan segalanya mesti mengacu pada satu orang: sabda pandito ratu.

Menurut Stephen M R Covey (Putra sulung Stephen R Covey yang memperkenalkan 7 habits agar menjadi orang yang efektif), yang diperlukan bagi seorang pemimpin, termasuk Indonesia saat ini adalah membangun kepercayaan dari orang-orang yang dipimpinnya. Setelah dua belas tahun kepercayaan itu tergerus. Sejak 1998 banyak orang merasa seperti njagakke endoge si blorok, mengharapkan tetesan nikmat dari rejeki reformasi yang tak kunjung sampai. Era transaksional sudah mentok, sudah jenuh orang-orang dengan berbagai transkasi yang terjadi. Pemimpin yang memberikan janji, namun mengambil lebih banyak lagi tanpa rasa emphaty. Kepercayaan orang saat ini terhadap para pemimpinnya lebih rendah dari generasi sebelumnya. Riset di Amerika Serikat dalam level organisasi mikro membuktikan bahwa hanya 49% bawahan percaya kepada atasannya dan hanya 28% yang percaya bahwa CEO merupakan sumber informasi terpercaya saat ini, seperti yang dikemukakan oleh Covey junior. Berdasarkan risetnya pada tahun 2004, di Amerika Serikat, diperkirakan akibat kurangnya kepercayaan kepada atasanya ini akan menelan biaya $ 1,1 trilyun. Jumlah amat besar yang merupakan lebih dari 10%  pendapatan kotor negeri itu. Penjelasananya adalah demikian, jika kepercayaan rendah maka dalam sebuah oranisasi akan diperlukan biaya pada setiap transaksi yang menyangkut setiap komunikasi yang dilakukan, setiap interaksi yang terjadi, setiap strategi yang dibuat, setiap keputusan yang diambil, keputusan yang terjadi lebih lambat dari jadwal yang diperkirakan dan ongkos yang meningkat karenanya. Pengalaman beliau menunjukkan bahwa ketidakpercayaan akan memakan biaya dua kali lipat biaya dalam bisnis dan membutuhkan waktu tiga kali lipat untuk terealisasinya suatu program.  Dan bisnis telah didefiniskan lebih meluas saat ini, yaitu ‘every activities that creates value added’ (Zikmund, 1997). Jadi pergantian kepala daerah, pemilihan presiden adalah bisnis. Berapa ongkos yang diperlukan dalam skala ketidakpercayaan kepada pemimpin dalam level ini?

Sebaliknya, setiap individu dan organisasi yang mendapatkan kepercayaan tinggi akan mendapatkan manfaat berlipat, dengan komunikasi antar anggota yang sukses, interaksi yang lancar, pengambilan keputusan yang smooth dan program dapat bergerak dengan cepat. Penelitian dari Watson Wyatt menunjukkan bahwa perusahan dengan kepercayaan yang tinggi memiliki kinerja 300% lebih tinggi dari pada perusahaan yang mendapatkan kepercayaan yang lebih rendah. Padahal penelitian ini di level perusahaan, level mikro yang struktural dan semua sistem bergantung pada alur keputusan pemimpinnya.  Apalagi di level pemerintahan dan kemasyarakatan yang seringkali ada efek tak terduka, multiplier efek,  yang bisa melipatgandakan hasilnya. Oleh karena itu, mendapatkan tingkat kepercayaan yang tinggi merupakan hal yang urgent dibutuhkan saat ini. Kebutuhan yang lebih tinggi dari pada kompetensi di bidang lain. Artinya, persentase yang didapatkan dalam pilkada dan pilpres, yang langsung dipilih oleh masyarakat, terkait erat dengan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap dirinya dalam memimpin daerah atau negara pada akhirnya.

Kepercayaan lahir dari dua dimensi: karakter dan kompetensi. Karakter menyangkut integritas dan motive. Kompetensi menyangkut kemampuan, skill, hasil dan rekam jejak. Kedua dimensi tersebut adalah vital untuk dipenuhi seorang pemimpin. Dengan meningkatnya fokus terhadap kepedulian etika saat ini, sisi karakter yang berkaitan dengan tingkat kepercayaan menjadi sangat cepat berkembang dan merupakan harga yang harus dibayar untuk masuk ekonomi global, jika ingin membawa daerah dan negara yang dipimpinya maju dan diakui internasional. Walaupun demikian, sisi lain dari tingkat kepercayaan yaitu kompetensi diri, memegang peran yang sangat esensial pula.

Mungkin anda pikir seseorang itu sangat ikhlas, sangat jujur, tetapi kepercayaan terhadapnya tidak bisa sepenuhnya diberikan jika ternyata dia tidak memberikan hasil pada periode kepemimpinannya, atau track recordnya tidak menunjukkan hal tersebut. Hal itu juga berlaku sebaliknya, seseorang mungkin memiliki kemampuan yang tinggi, bakat yang top dan trak record yang bagus, tetapi jika dia tidak jujur, anda tidak akan mempercayainya. Hasil yang dicapai selama ini bisa jadi dia dapatkan dari segala cara yang tidak benar, atau dia seorang Machiavelist. Seseorang yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.

Dasar dari tingkat kepercayaan orang adalah kredibilitas pribadinya, yang bisa bervariasi antar individu. Reputasi seseorang merupakan cerminan langsung dari kredibilitasnya sehingga dapat mempercepat kearah perbaikan organisasi yang dipimpinya dan menurunkan ongkos untuk mencapai hal tersebut.

Ada empat sumber inti dari kredibiltas yaitu: integritas, intensitas, kemampuan dan hasil kerja. Beberapa contoh perilaku pemimpin level dunia yang sudah dirumuskan oleh Covey yang harus ada pada diri seorang pemimpin, antara lain, bicara langsung dan tepat pada sasaran alias tidak suka ngalor ngidul  nggak karuan, mendemontstrasikan respek kepada pihak lain atau tidak suka melecehkan orang lain atas nama apapun, mengkreate transparansi dalam sistem yang diamanahkan kepadanya, memperlihatkan loyalitas yang tinggi pada organisasi, memperlihatkan hasil nyata bukan sekedar jargon-jargon tanpa makna, mendapatkan hasil lebih baik dari periode sebelumnya, mengklarifikasi ekspektasi dari banyak orang yang diembankan kepadanya, terjaga akuntabilitas diri dan pemerinttahannya, pendengar yang baik-bukan hanya pandai menceramahi orang saja atau jarkoni: iso ujar ora iso nglakoni-bisa ngomong nggak bisa mengimplementasikan, menjaga komitmen, dan meningkatkan kepercayaan dari seluruh korps.

Dalam artikel Ten Signs of an Incompetent Leader, Chris Ortiz mengemukakan opininya akan 10 tanda-tanda pemimpin yang tidak kompeten. Menurut Ortiz, pemimpin yang buruk adalah pemimpin yang fokus pada kepentingannya sendiri tidak pada kebutuhan profesional yang dibutuhkan oleh level bawahnya. Biasanya pemimpin yang buruk ini mendapatkan kesulitan untuk mengembangkan organisasi karena mereka kurang memiliki kemampuan teknis manajerial untuk hal tersebut. Pemimpin adalah orang yang anda ikuti dan anda tahu akan kemana organisasi menuju. Jadi kepemimpinan adalah tentang aksi bukan sekedar status symbol atau batu loncatan untuk menggapai hal lain lebih tinggi. Masalahnya adalah bagaimana kita tahu bahwa kita sedang menghadapai individu yang merupakan oknum penunggang jabatan, free rider. Karena seringkali orang seperti ini tampak kelihatan begitu sibuk dalam organisasi dan tampak dibutuhkan di mana-mana serta pandai memoles dirinya sehingga membuat banyak orang jatuh cinta kepadanya.Petunjuk singkat dari Chris Otiz untuk mengenalinya dikupas dalam alinea berikut.

Pertama, seorang pemimpin yang tidak kompeten akan mendelegasikan pekerjaan daripada menyeimbangkannya.  Artinya semua bawahan langsungnya akan diberikan predikat ‘jenderal’.Dalam arti pekerjaan harus diselesaikan oleh bawahannya, tidak ada panduan, arahan, tapi jika terjadi kesalahan maka bawahan itulah yang harus menanggung akibatnya dengan menerima kemarahan dan konsekuensi pahit lainnya. Seorang pemimpin yang baik adalah orang yang memperhatikan kemampuan dan kompetensi orang yang bekerja di bawahnya dan menempatkan orang sesuai dengan keahliannya sambil memperkaya potensi setiap orang untuk lebih produktif. Dengan model kepemimpinan yang gagal semacam ini maka kompetensi tidak dilihat, penempatan dilakukan secara acak, bahkan seringkali dipilih orang yang dekat dengannya, atau yang dalam kalkulasi politis membawa keuntungan posisinya, detail tidak diperhatikan karena yang menjadi fokus adalah bagi habis pekerjaan kepada orang-orang dibawahnya. Filosofinya adalah all duties for your, rewards for me. Biasanya hal ini diikuti dengan pembentukan komisi dan tim ahli yang berjubel, sampai tidak tahu lagi apa fungsi dan manfaat tim ini dibentuk.

Kedua, cenderung menjawab persoalan menjadi jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’ dari pada mencoba mencari sebab dan menerangkannya lebih jauh. Dalam kondisi krisis, pemimpin semacam ini tidak mampu berfikir jauh ke depan kecuali hanya beberapa jengkal saja. Oleh karena itu, seringkali pemimpin semacam ini memiliki jawaban yang berbeda saat berada di dalam dan di luar ruangan rapat, tergantung mood dan kepentingan sesaat yang dibawanya. Karena pada dasarnya dia tidak memiliki set of argument yang kuat untuk menjelaskan issue yang sedang dihadapi.

Ketiga, tidak memisahkan masalah personal dari masalah profesional yang dihadapi. Mereka cenderung membawa persoalan pribadi ke tempat kerja. Bekerja dengan pemimpin semacam ini bisa menjadi sangat dramatis. Seringkali akan tercampur penggunaan fasilitas dinas untuk   keperluan pribadi dengan keperluan institusi.Istri/ suaminya akan turut menjadi atasan bagi bawahannya saat ini yang boleh ikut memerintahkan untuk memenuhi keperluan yang tidak ada hubungannya dengan keperluan organisasi. Mereka tidak mampu memisahkan ketidakseimbangan emosi saat memimpin. Mereka tidak akan memberikan perhatian dan arahan bagi bawahan untuk berhasil. Fokus dari pemimpin semacam ini adalah asal kepentingan pribadinya tidak terganggu.

Keempat, jika organisasi dalam masa krisis, maka selamat tinggal pada inovasi dan kemajuan jika memiliki pemimpin semacam ini. Inovasi dan kemajuan ini harus diartikan secara benar, karena konsep yang berubah dengan cepat dan berkali-kali, bisa diartikan pemimpin tidak memiliki konsep sama sekali dan pemimpin tidak punya pendirian yang kuat. Perubahan yang terlalu sering dalam jangka waktu yang pendek akan mudah tersapu karena tidak dapat diimplementasikan secara solid. Pemimpin yang berorientasi pada aspek inovatif dan kreatif, punya karakter, di antaranya dengan senang hati memiliki bawahan yang lebih pandai yang mau berdebat dan diskusi atas berbagai ide dan konsep. Bukan pemimpin yang senang dengan kualifikasi bawahan yang jauh di bawahnya sehingga mudah disuruh-suruh dan mengikuti saja apa maunya sang pemimpin.

Kelima, tidak berdiri di belakang bawahan jika gagal. Orientasi pemimpin yang baik adalah tidak hanya menghukum kesalahan karena kegagalan bawahan dan hanya mengambil moment untuk tampil dan dilihat banyak orang saja. Biasanya pemimpin gagal semacam ini akan puas dengan melihat anak buahnya berdiri membuat pengakuan kegagalanya ditonton banyak orang dalam sebuah forum, tidak peduli betapa malunya anak buah tersebut dan pemimpin semacam ini akan dengan serta merta berdiri di depan menyematkan tanda penghargaan ketika media masa meliput momen yang dirasanya akan mengangkat nama dan dirinya ke jaringan publikasi.

Setelah leadership, hal berikutnya yang perlu dicermati adalah penciptaan budaya. Di Indonesia selama ini tidak dikenal budaya gentlemant. Dengan sportif mengakui kemenangan pihak lawan dan bersama-sama membantu program berikutnya untuk kemaslahatan masyarakat. Team work kita sebatas hanya berhenti pada tim sukses. Jadi biasa terjadi pihak yang kalah dalam pilkada akan mengajukan gugatan, walaupun sudah yakin bahwa gap yang harus diisi gugatannya terlalu besar untuk menjadi pemenangnya. Kita memiliki pengalaman selalu melakukan aksi compete forever between you and me on any situations and conditions. Ada baiknya kita belajar dari angsa yang terbang di langit. Apabila anda melihat angsa terbang menuju ke arah selatan pada musim dingin, mereka terbang membentuk formasi ‘V”. Secara ilmiah didapati bahwa saat setiap angsa mengepakkan sayapnya, akan menghasilkan tekanan daya angkat kepada angsa yang berada di belakangnya. Dengan cara ini, kumpulan angsa dapat terbang 71% lebih jauh dari pada terbang sendirian.Jika burung di depan merasa lelah, ia akan berputar ke belakang dan burung yang lain akan mengganti posisinya di depan. Ini adalah tanggung jawab bersama dan saling berbagi beban untuk memimpin.Akhirnya, jika salah satu burung tersebut semakin lelah atau terbawa angin dan jatuh dari formasi, dua burung yang lain akan ikut keluar dan mengikuti burung yang jatuh tersebut turun untuk membantu dan melindunginya. Kedua burung tinggal bersama burung yang jatuh sampai burung tersebut mampu terbang kembali atau mati.  Kemudian kedua burung itu akan kembali men set up dirinya dengan formasi yang lain atau kembali dalam kelompok mereka. Sebuah gambaran kerja bersama yang indah dan berhasil guna. Apabila manusia bersatu dan bergabunguntuk mencapai tujuan dalam kebaikan, kemungkinan besar dapat dicapai lebih mudah, Insya Allah.Pepatah mengatakan coming together is the BEGINNING, keeping together is PROGRESS, and working together is SUCCES.  Satu pesan kepada yang terpilih nantinya: life always gives you back you give out. Your life is not a coincidence, but a mirror of your own doings.  Jadi, who is a leader? A leader is one who, knows the way, shows the way and goes the way. Tapi hidup memang pilihan, apakah anda ingin menjadi seorang great leader atau menjadi free rider. Sejarah akan mencatat.Perjalanan masih akan panjang, dengan hasil-hasil dari polling pendapat, kerja keras tim sukses dan segala hingar bingar yang menyertainya. Namun di hati rakyat semua sudah meresapi, apa yang baik bagi dirinya. Mayoritas hati masyarakat telah rindu, kapan lagi kita menjadi acuan bagi bangsa Asia Afrika sepeti tahun 1955, menjadi panutan dalam sistem pendidikan di Asia Tenggara tahun 1970 an. Taruhlah peta dunia di atas meja. Benar, Indonesia terletak di tengah-tengah pusat dunia secara geografis. Semoga impian tahun 2025 Indonesia menjadi pusat kemajuan dunia, negara ke 4 terbesar performansinya, dan bukan di tengah-tengah untuk menjadi bancakan negara-negara sedunia, karena potensi yang dikandungnya. Indonesia saatnya mencari pemimpin negarawan.

Bandung, 17 September 2013

Visiting Profesor di Universitas Utara Malaysia

Profesor SBM ITB

Read Full Post »

From: “Djoko Luknanto” <Luknanto@ugm.ac.id>b

Tautan tentang sejarah Indonesia, saya kumpulkan sedikit demi sedikit.
Sekedar hobi:-), sambil mengajar, saya tambah selalu. Enjoy!

1. Tempo Doeloe

http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/ Indonesia Tempo Doeloe:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/http://luk.staff.ugm.ac.id/itd:

2. Mataram

http://luk.tsipil.ugm.ac.id/Medang> Kerajaan Medang (Mataram
Kuno):  <http://luk.staff.ugm.ac.id/Medang>
http://luk.staff.ugm.ac.id/Medang

3. Borobudur

http://luk.tsipil.ugm.ac.id/Borobudur/> Candi Boroboedoer:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/Borobudur/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/Borobudur

4. Candi Lain

http://luk.tsipil.ugm.ac.id/candi/> Candi Lain:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/candi/http://luk.staff.ugm.ac.id/candi

5. Wayang

http://luk.tsipil.ugm.ac.id/wayang/> Wayang:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/wayang/http://luk.staff.ugm.ac.id/wayang

..         Sosok Indonesia:  <http://luk.staff.ugm.ac.id/sosok/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/sosok (rencana)

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/tembakau/> Bisnis Tembakau:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/tembakau/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/tembakau

_____

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Bali/> Bali:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Bali/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Bali

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Borneo/> Borneo:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Borneo/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Borneo

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Celebes/> Celebes:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Celebes/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Celebes

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Jawa/> Jawa:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Jawa/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Jawa

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Maluku/> Maloekoe:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Maluku/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Maluku

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/NT/> Noesa Tenggara:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/NT/http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/NT

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Papua/> Papoewah:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Papua/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Papua

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Sumatera/> Soematra:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Sumatera/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Sumatera

_____

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Bandung/> Bandung:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Bandung/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Bandung

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Banten/> Banten:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Banten/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Banten

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Batavia/> Batavia:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Batavia/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Batavia

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Bogor/> Buitenzorg:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Bogor/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Bogor

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Malang/> Malang:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Malang/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Malang

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Yogyakarta/> Ngayogyakarta:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Yogyakarta/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Yogyakarta

_____

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/alam/> Alam Indonesia:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/alam/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/alam

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/bangunan/> Bangoenan Tempo
Doeloe:  <http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/bangunan/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/bangunan

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/lf/> Loekisan vs Foto:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/lf/http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/lf

_____

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Salm/> Abraham Salm:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Salm/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Salm

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Pers/> Auguste Van Pers:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Pers/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Pers

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Hoola/> Berthe Hoola Van
Nooten:  <http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Hoola/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Hoola

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Bock/> Carl Bock:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Bock/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Bock

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/Junghuhn/> Franz W. Junghuhn:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/Junghuhn/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/Junghuhn

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Rosenberg/> Hermann von
Rosenberg:  <http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Rosenberg/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Rosenberg

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/Rappard/> Josias Cornelis
Rappard:  <http://luk.staff.ugm.ac.id/Rappard/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/Rappard

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/RadenSaleh/> Raden Saleh:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/RadenSaleh/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/RadenSaleh

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Kerkhoff/> van den Kerkhoff:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Kerkhoff/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Kerkhoff

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/pelukis/> Peloekis Lain:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/pelukis/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/pelukis

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/lukisan/> Loekisan:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/lukisan/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/lukisan

<http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/buku/> Karya Sastra Tempo Doeloe:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/buku/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/buku:

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/pustaka/> Koleksi Langka UGM:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/pustaka/http://luk.staff.ugm.ac.id/pustaka

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/bmr/> Bakda Mawi Rampog:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/bmr/http://luk.staff.ugm.ac.id/bmr

..         Menyusul yang lainnya

Howgh!

—                        Djoko Luknanto,  <http://luk.staff.ugm.ac.id/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/

<http://luk.tsipil.ugm.ac.id/>
http://luk.tsipil.ugm.ac.id – Cangkir yang tak penuh

Read Full Post »

From: “Farid Gaban” <faridgaban@yahoo.com>
Sender: sinergi-ia-itb@yahoogroups.com
Date: Sun, 23 Jun 2013 02:01:39 -0000
To: <sinergi-ia-itb@yahoogroups.com>
ReplyTo: sinergi-ia-itb@yahoogroups.com
Subject: [sinergi-ia-itb] Berziarah ke Digoel, Penjara tak Bertepi

 

Air hujan yang mengucur dari atap seng seperti tirai menyelimuti gubug itu. Bikin hangat lantai kayu tempat saya merebahkan badan. Tapi saya tak bisa tidur. Berkecamuk pikiran antara masa kini dan lampau.

“Lama tada orang ke sini,” kata Adrianus Sandap, pemuda Papua dari Suku Wambon yang menemani saya.

Laba-laba menganyam jaring di beberapa sudut langit-langit gubug. Tengkorak kepala babi tergantung di dinding. Kering tak lagi berbau. Sementara abu kayu bakar di tungku sudah mengeras bersanding dengan piring dan cawan besi berkarat.

Gubug itu berdiri rapuh di atas bukit pada tepian hulu Sungai Digoel, pedalaman Papua bagian selatan, dekat perbatasan Papua Nugini. Dia dikelilingi belukar dan hutan berpohon tinggi. Tak ada dermaga di sungai, bahkan dari kayu pun. Apalagi papan nama. Jalan mendaki menuju bukit tak lagi jelas. Dari tepi sungai saya harus menembus lantai hutan yang ditumbuhi tanaman perdu dan lumut. Lembab oleh humus yang basah. Penuh lintah dan nyamuk.

Siapa pula mau datang ke situ?

Tanah Tinggi begitu terpencil. Saya pun takkan pernah ke situ jika bukan tergoda oleh makna sejarahnya yang sangat penting bagi kemerdekaan Indonesia. Tanah Tinggi adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah Tanah Merah, atau Boven Digoel. Inilah kamp konsentrasi Hindia Belanda pada 1920-an, tempat banyak tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia diasingkan dan tewas.

***

Boven Digoel menjadi kabupaten tersendiri sejak 2002. Dia bisa dicapai dari Merauke, pojok paling timur Indonesia, dengan tiga cara. Pertama, pesawat kecil Express Air sepekan sekali. Kedua, jalan darat 450 km yang kondisinya sangat buruk. Atau ketiga, naik kapal motor memutar ke Laut Arafura sebelum masuk mulut Sungai Digoel sejauh 500 km ke arah hulu, dua pekan sekali.

Boven Digoel adalah Bahasa Belanda untuk Digoel Udik (hulu).

Masih miris saya mendengar peristiwa 2005 ketika sebuah kapal Merauke-Digoel tenggelam di Laut Arafura, menewaskan 200 lebih penumpangnya. Saya memilih jalan darat. Tapi, meski hanya setara jarak Jakarta-Semarang, perjalanan darat Merauke-Digoel makan waktu dua hari dua malam. Dan sungguh melelahkan.

Perjalanan ke Digoel merupakan bagian dari Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa 2009-2010, petualangan saya keliling Indonesia bersepeda motor. Tapi, saya diingatkan untuk tidak memakai sepeda motor menuju Digoel. Dan beruntung saya mematuhi peringatan itu. Motor bisa terbenam dalam lumpur yang kondisinya lebih ganas dari sekadar ajang olahraga off-road gagah-gagahan.

Ada angkutan umum dari Merauke ke Digoel. Angkutan umum istimewa. Rute ini hanya dilayani oleh jeep-jeep tahan banting, umumnya Daihatsu Hiline dengan four-wheel drive, bergardan ganda serta dilengkapi derek. Mobil-mobil Hiline bekas dari Jawa, nampak dari nomor polisinya, dibawa ke sini untuk menaklukkan medan yang berat.

Satu mobil biasanya diisi delapan penumpang plus sopir. Tarifnya Rp 700 ribu per penumpang. Mahal? Tadinya saya berpikir begitu. Tapi, belakangan saya tahu, itu harga yang pantas, bahkan murah.

Perjalanan keluar dari Merauke lumayan menyenangkan. Mobil kami melintasi jalan aspal bagus sekitar 60 km, melewati Taman Nasional Wasur, salah satu khasanah ekosistem unik yang lebih mirip Australia ketimbang bagian lain Indonesia.

Saya menikmati hutan mangrove dengan rawa-rawa yang ditumbuhi bunga teratai. Banyak pula rumah rayap atau semut, mumasu, yang menjulang di kanan-kiri jalan. Tapi, saya tak beruntung menemukan kanguru liar yang sudah mulai punah.

Hanya sekitar satu jam setelah itu perjuangan berat dimulai. Jalan mulai bercampur tanah lalu lumpur. Mobil harus melintasi banyak kubangan, kadang setinggi atapnya, serta melewati sungai-sungai kecil tanpa jembatan.

Tiap sopir dibantu dua kernet, yang tak pernah masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan mereka bekerja keras mengeringkan kubangan air, memasang patok derek, mendorong mobil, serta menebang pohon untuk membuat anyaman kayu di atas lumpur agar bisa dilalui. Mereka melakukan semua itu bukan untuk kesenangan, melainkan mencari nafkah.

“Saya berhenti sekolah setelah SD,” kata Ben Barnabas, salah satu kernet. Usianya baru belasan. Wajah dan kaosnya belepotan lumpur setelah memasang potongan kayu. Dia mendapatkan Rp 300 ribu untuk satu kali jalan. “Makan dan tidur ditanggung.” Tapi, tidur adalah kemewahan.

Beberapa mobil biasa berjalan beriringan, agar bisa saling membantu dan menderek. Dengan itupun kadang diperlukan waktu berjam-jam untuk keluar dari kubangan lumpur. Ada puluhan kubangan berat hanya untuk mencapai Munting, desa terdekat, pertengahan antara Merauke-Digoel.

Jika gelap terlebih dulu menyergap, sementara mobil tak bisa lepas dari jebakan lumpur, para penumpang, termasuk perempuan dan anak-anak, akan tidur di mobil. Hutan di kedua sisi jalan terlalu berisiko untuk tempat istirahat.

Beruntung kami bisa mencapai Munting meski di tengah malam. Kota kecamatan kecil itu sangat menolong. Ada beberapa warung makan di situ, juga penginapan sangat sederhana: kamar berdipan tanpa kasur dengan tarif Rp 20 ribu. Tapi, itu cukup melegakan mengingat esok harinya masih banyak kubangan lumpur harus dilalui sebelum mencapai Asiki.

Solidaritas antar sopir sangat diuji di sini. Jika satu mobil terjebak kubangan, mobil dari belakang maupun depan seringkali tak bisa lewat. Pada musim penghujan seperti ketika saya lewat, konvoi truk-truk pengangkut barang dan bahan makanan memilih berhenti sama sekali sampai kubangan cukup kering. Sopir dan kernetnya siap dengan tenda serta alat masak untuk persediaan satu atau dua pekan lamanya.

Asiki adalah persinggahan kami kedua. Dia lebih besar dari Munting. Ada kilang pengolahan kayu di situ, dan kebun kelapa sawit, sehingga kota kecil ini cukup ramai oleh pendatang. Tapi, baru tengah malam hari mencapai Asiki, kami hanya menemukan satu penginapan kecil, tanpa air karena pompa listrik rusak. Tak masalah, pikir saya, karena penderitaan segera berakhir.

Esok paginya mobil kami meluncur melintasi jalan yang lumayan bagus untuk mencapai Tanah Merah, ibukota Kabupaten Boven Digoel, sebelum tengah hari.

***

Tanah Merah kota kecil yang sekarat. Satu-satunya pusat keramaian di siang hari adalah pasar tradisional dekat dermaga Sungai Digoel. Para pedagang menjual hasil kebun: sayuran, pepaya, singkong, cabe dan pinang. Ada pula penjual ikan sungai dan lele. Di tenda-tenda darurat, pedagang menawarkan pakaian, alat elektronik, peralatan dapur serta kebutuhan pokok sehari-hari.

Harga kebutuhan pokok, termasuk makanan, relatif mahal karena buruknya transportasi. Ongkos angkutan umum pun mahal, dengan tarif jauh-dekat Rp 5 ribu untuk kota sekecil itu.
Listrik sudah dua hari mati ketika saya datang. Beruntung saya bisa menemukan penginapan yang punya generator sendiri, sekadar untuk bisa mengisi batere telpon seluler dan kamera.

Bahkan es termasuk barang mewah. Masyarakat mengandalkan generator milik pemerintah daerah, yang birokrasinya ruwet dan bupatinya ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi di Jakarta karena terlibat manipulasi anggaran. PLN setempat punya generator, tapi tak lagi berfungsi. Itu generator warisan kolonial Belanda buatan 1930-an.

Kondisi Boven Digoel belum banyak berubah dari 80 tahun lalu, yang kisahnya saya baca dari buku-buku sejarah.

***

Dekat Bandar Udara Boven Digoel patung Bung Hatta itu berdiri tegak dengan telunjuk tangan kanannya menuding tanah. Dia seperti ingin mengatakan: “Saya pernah di sini!” Patung itu membelakangi kompleks bangunan lama yang kini menjadi tangsi polisi, sebelah menyebelah dengan bekas Penjara Digoel.

Penjara itu cukup bersih dan terawat rapi, dikelilingi tembok kawat berduri. Ada dua blok tahanan di situ yang bisa diisi puluhan orang. Tahanan tidur bersama di atas papan kayu. Atap ruangan dialiri setrum listrik. Di pojok ruang ada sekat kecil untuk jamban. Satu WC untuk puluhan orang.

Di satu ruang yang dulu nampaknya gudang, saya melihat sebuah almari reyot berisi piring, mangkuk dan cangkir terbuat dari seng. Berdebu, berkarat dan tak terawat. “Ini dulu dipakai para tahanan,” kata Wens Katukdoan, penjaga situs bersejarah itu.

Ada pula enam sel isolasi yang hanya bisa diisi satu orang. Sel itu berukuran 2×2,5 m. Hampir kedap. Bahkan atapnya pun dari beton dengan lubang-lubang ventilasi sekecil biji kelereng. “Bung Hatta pernah mendekam di situ,” kata Wens sambil menunjuk sel pertama.

Tapi, saya kurang percaya. Bung Hatta tak pernah menyebut sel seperti itu dalam memoar maupun buku dan artikelnya. Penjara Digoel, yang dimaksudkan untuk mengasingkan tahanan pembangkang, pada dasarnya adalah penjara dalam penjara.

Delapan dasawarsa lalu, Boven Digoel secara keseluruhan adalah penjara itu sendiri. Penjara alam tak bertepi. Kawat berduri yang mengelilingi penjara, barak militer, dan dapur umum, justru dibuat untuk melindungi serdadu dan aparatur Hindia Belanda dari orang buangan.

Para tahanan politik yang diasingkan di Boven Digoel, termasuk Bung Hatta dan Sjahrir, tinggal di rumah-rumah sederhana berdinding kayu yang tersebar di dataran gersang tak jauh dari dermaga. Saya tak bisa lagi menemukan bekas rumah mereka.

Bagaimanapun, Boven Digoel atau Tanah Merah lebih dari sekadar cerita tentang Hatta-Sjahrir. Mereka hanya setahun diasingkan di situ (1935-36), sementara Digoel punya rentang sejarah lebih panjang, melibatkan penderitaan, tragedi dan kepahlawanan banyak tokoh lain pergerakan pada masa itu.

Tanah Merah dibuka pada 1927 dan baru ditutup limabelas tahun kemudian, menjelang kekalahan Sekutu dari Jepang dalam Perang Pasifik. Chalid Salim, adik kandung tokoh pergerakan Haji Agus Salim dan sepupu Sutan Sjahrir, adalah salah satu yang paling lama mendekam di Digoel, dari awal hingga akhir. Kelak dia menulis detil kehidupan di sana dalam buku “Lima Belas Tahun Digul: Kamp Konsentrasi di Nieuw Guinea”.

Mas Marco Kartodikromo, seorang pionir jurnalis Indonesia, tak selamat dari neraka Digoel. Dia meninggal di sana. Marco sempat menulis artikel yang kemudian dibukukan: “Pergaulan Orang
Buangan di Boven Digoel”. Dialah tokoh yang kental saya bayangkan ketika saya merebahkan badan di lantai kayu gubug Tanah Tinggi, 50 km dari Tanah Merah ke arah hulu Sungai Digoel.

Beberapa orang buangan lain menulis laporan pandangan mata dan cerita pendek, yang kelak dibukukan dan disunting oleh Pamoedya Ananta Toer dalam “Cerita dari Digul”. Ironis bahwa setelah merdeka Pemerintah Orde Baru meniru kolonial Belanda membangun neraka mirip Digoel di Pulau Buru, bagi orang-orang seperti Pram.

Boven Digoel dimaksudkan sebagai tempat pengasingan para aktivis politik agar tidak menularkan virus kebencian dan pemberontakan kepada Pemerintah Hindia Belanda. Tempat itu sangat terpencil bahkan untuk ukuran sekarang. Apalagi 80 tahun lalu.

Satu-satunya jalan keluar-masuk ke situ adalah Dermaga Digoel, 450 km dari mulut sungai besar yang berkelok-kelok. Satu-satunya sarana komunikasi keluar adalah kapal Belanda yang sebulan sekali berlabuh di situ. Kota administratif Hindia Belanda terdekat adalah Ambon, Maluku.

Koloni Digoel, dengan radius 25 kilometer, seperti Australia kecil bagi kolonial Inggris. Atau seperti Guyana kecil bagi Prancis.

Pemerintah Inggris dulu menjadikan Australia tempat buangan para kriminal. Seperti Inggris dan Prancis, Belanda membangun permukiman yang seolah-olah normal di koloni pengasingan. Di samping rumah, Belanda membangun fasilitas rumah sakit, bioskop, gedung kecil pertunjukan seni, bahkan sekolah, gereja, dan masjid.

Para tahanan diperbolehkan membawa istri dan keluarga. Mereka boleh hidup bebas, termasuk membentuk klub sepakbola, kelompok kesenian gamelan atau ketoprak, bahkan kelompok musik jazz. Semua tahanan mendapat santunan 72 sen plus ransum makanan. Tapi, yang mau bekerja untuk pemerintah memperoleh tambahan 40 sen, dengan kemungkinan bebas lebih awal.

Chalid Salim memilih bekerja untuk pemerintah. Setiap hari dia berkeliling dari rumah ke rumah untuk memastikan tak ada genangan air yang bisa dihidupi nyamuk. Begitulah limabelas tahun dia menyibukkan diri untuk menghindari kesepian dan kegilaan.

Bung Hatta memilih menolak bekerja sama. Tapi, seperti Salim, dia tetap harus menyibukkan diri pula. Meski kelak perkiraannya keliru, Hatta sudah siap untuk tinggal lama di Digoel. Dia membawa serta 16 peti bukunya dari Batavia dan menyibukkan dirinya dengan membaca buku serta menulis.

“Jika orang lain mempersempit dunia kita, kita sendiri bisa membangun dunia dalam pikiran kita,” kata Hatta.

Hatta secara teratur menulis artikel untuk koran Pemandangan. Dia juga mengajar para tahanan ilmu ekonomi, sejarah, dan filsafat. Kumpulan bahan pelajaran itu di kemudian hari dibukukan: “Pengantar ke Jalan llmu dan Pengetahuan” dan “Alam Pikiran Yunani.”

Kelak, setelah Indonesia merdeka, buku terakhir itu menjadi mahar perkawinan Hatta dengan Rachmi.

Tapi, kehidupan hanya seolah-olah saja normal di Digoel. Delapan puluh tahun lalu, Digoel tak hanya dipagari sungai yang banyak berisi buaya. Dia juga dikepung rawa dengan nyamuk malaria yang mematikan, serta hutan belantara dengan suku-suku asli Papua yang kadang bisa dibujuk Belanda untuk bersikap keras kepada pendatang.

Berbeda dari kamp konsentrasi Nazi Jerman, Digoel tak mengenal kekejaman fisik. Tapi, siksaan mentalnya luar biasa. Para tahanan sama sekali tak tahu apakah mereka bisa pulang. Dan seandainya pun bisa, mereka tak tahu kapan. Masa depannya gelap dan kabur. Banyak orang remuk mentalnya karena putus asa.

Takashi Shiraishi, sejarawan asal Jepang yang merangkum sejarah Digoel dalam “The Panthom World of Digoel”, menulis:

Pada tahun-tahun pertama, ratusan orang meninggal karena kelaparan dan sakit. Depresi Ekonomi di Eropa membuat Belanda mengurangi anggaran dan memangkas fasilitas bagi orang buangan. Penderitaan itu menyebabkan banyak orang buangan mencoba melarikan diri ke Australia. Mereka menggunakan perahu-perahu kecil buatan sendiri, tetapi sedikit saja yang berhasil. Sebagian terpaksa kembali, lainnya mati tenggelam.

Menyurusi Sungai Digoel, saya percaya miris membayangkan situasi 80 tahun lalu itu.

Menyusul rombongan pertama pada 1927, jumlah orang buangan Digoel mencapai puncaknya dua tahun kemudian, yakni 2.100 orang, namun berangsur menyusut karean dibebaskan.

Rombongan pertama adalah para aktivis ISDV (cikal bakal Partai Komunis Indonesia) menyusul pemberontakan gagal mereka melawan Belanda. Hingga kini, saya curiga, adalah karena alasan “komunis” itulah pelajaran sejarah Indonesia kurang bersimpati kepada kaum Digoelis dan makna penting perjuangan mereka.

Padahal pemberontakan 1927 tidak bisa disamakan dengan Pemberontakan PKI 1965. Lebih dari itu, tidak hanya komunis yang pernah diasingkan ke neraka Digoel. Ada banyak nasionalis, seperti Hatta dan Sjahrir. Ada pula ulama Perhimpoenan Moeslimin Indonesia dan Partai Serikat Islam Indonesia seperti Ilyas Yakub dari Minangkabau.

Keragaman penghuni Digoel kini masih bisa dilihat pada monumen dekat Taman Makam Pahlawan di pinggiran hutan. Ada 42 nisan di situ. Berikut daftar nama yang dimakamkan.

Kita bisa membaca keragaman latarbelakang suku dan kota asal para “Perintis Kemerdekaan” ini: Banten, Padang, Bandung, Solo, Madiun, Ternate, Manado, Pekalongan.

Ada tiga nama yang menarik perhatian saya: Karto (Mas Marco Kartodikromo), Ali Archam dan Nahjoan (Thomas Najoan). Mereka dikenal sebagai Marxist garis keras yang tak mau kompromi. Bagi Belanda tak cukup mereka dibuang ke Tanah Merah. Mereka diasingkan ke Tanah Tinggi, Sungai Digoel lebih ke hulu lagi, dengan alam yang lebih brutal. Mereka tewas karena tuberculosis atau malaria.

***

Tanah Tinggi yang saya kunjungi hampir sama persis dengan gambaran 80 tahun lalu yang saya baca. Minus bangunan-bangunan yang kini tiada. Yang tersisa hanya batu bekas fondasi sebuah bangunan lama, tak terawat ditumbuhi lumut dan rumput setinggi pinggang, di atas dataran seluas lapangan basket.

Selebihnya adalah semak belukar yang dikeliling jurang dan hutan lebat. Dari satu sudut bukit itu kita bisa melihat kelokan Sungai Digoel di kejauhan, satu-satunya jendela kebebasan bagi orang-orang buangan dulu. Itupun tak bisa dijamin.

“Tak ada yang bisa lolos dari tempat seperti ini delapan puluh tahun lalu,” kata Adrianus Sandap, pemuda Papua yang menemani saya ke situ.

Pada puncak kebrutalannya, Tanah Tinggi pernah dihuni oleh 70 orang buangan dan 45 anggota keluarganya. Mereka tinggal di 40 rumah yang terpisah satu sama lain, di dalam hutan, di kelilingi kebun sayuran. Semua itu tak ada bekasnya lagi sekarang.

Untuk sampai ke Tanah Tinggi, saya menyewa speed-boat yang dua jam mesinnya menderu dari Tanah Merah ke arah hulu. Tak ada jalan darat menuju Tanah Tinggi sampai sekarang. Dulu diperlukan waktu lima jam perjalanan sungai untuk mencapai Tanah Tinggi. Bahkan sampai kini, hanya hutan dan rawa yang ditemukan sepanjang perjalanan. Saya tak melihat satu pun perkampungan, kecuali satu dua rumah tradisional Suku Mandobo.

Di Tanah Tinggi, gubug kayu tempat saya berteduh itu baru dibangun belakangan, lengkap dengan panel surya yang tak lagi berfungsi, namun tak bisa menepis kesan betapa primitif, sunyi dan sangar tempat ini bahkan sampai sekarang.

Alam benar-benar berkuasa di sini. Udara lebih lembab di sini dibanding di Tanah Merah, karena lebatnya hutan sekeliling. Curah hujan lebih tinggi. Musuh orang buangan di sini adalah asma dan tuberculosis, disamping malaria. Dan dengan fasilitas kesehatan yang jauh lebih minim dari Tanah Merah.

Agak sulit saya membayangkan bagaimana Mas Marco Kartodikromo bisa bertahan empat tahun di situ sebelum TBC memagut nyawanya pada 1932. Tak hanya itu. Dia masih setia menulis, dengan tangannya, sebelum kertasnya diselundupkan ke Jawa dan Sumatra. Harian “Pewarta Deli” memuat 50 seri tulisannya antara 10 Oktober hingga 9 Desember 1931, beberapa bulan sebelum dia meninggal.

Mas Marco tokoh pergerakan pribumi dan jurnalis yang melampaui zamannya. Lahir di Cepu, Jawa Tengah, dia memulai karir sebagai jurutulis jawatan kereta api di Semarang, sebelum bergabung dengan koran terbitan Bandung, “Medan Prijaji”, milik Tirto Adhi Soeryo. Tulisannya tajam menantang pemerintahan kolonial. Marco juga mendirikan organisasi jurnalis pribumi pertama, Inlandsche Journalistenbond (IJB) di Semarang pada 1914, dan menerbitkan korannya sendiri: “Doenia Bergerak”.

Aktivisme politik mengantarkannya masuk organisasi sempalan “Sarekat Islam Merah” yang belakangan melebur dalam Partai Komunis Indonesia. Itu pula yang belakangan menyeretnya ke Boven Digoel.

Protagonis lain di Tanah Tinggi yang saya kagumi adalah Thomas Najoan. Asal Manado, dia Ketua Pengurus Besar Sarekat Buruh Percetakan di Surabaya yang berafiliasi dengan PKI ketika pemberontakan pecah pada 1927. Tak mau mati kesepian di Tanah Tinggi atau gila karena konflik antar orang buangan, Najoan berkali-kali mencoba melarikan diri.

Sejarawan John Ingleson dalam “Jalan Ke Pengasingan” menulis Najoan tiga kali mencoba kabur, tiga kali pula dia gagal. Dalam pelariannya yang kedua, Najoan sukses menembus hutan, menyeberangi sungai-sungai kecil Muyu dan Mandobo, sebelum menyeberang ke Papua Nugini menuju wilayah Australia. Tapi, Australia punya perjanjian ekstradisi dengan Belanda. Najoan ditangkap dan dikapalkan kembali ke Tanah Tinggi.

Najoan mengingatkan saya pada penulis otobiografi Henri Charrière atau Papillon, terdakwa kasus pembunuhan Prancis yang dikirim ke pulau terpencil di Guyana, Amerika Latin. Mengatakan tuduhan pada dirinya palsu, Papillon berkali-kali kabur. Dan berkali-kali pula, ketika dia merasa sudah bebas, dia ditangkap dan dikembalikan ke Guyana.

Menurut Chalid Salim, ada 16 usaha pelarian dari Digoel, melibatkan 60 orang, 40 di antaranya dari Tanah Tinggi. Namun hanya sepertiga yang bisa mencapai wilayah Papua Nugini dan bahkan mencapai Pulau Thursday di atas Semenanjung York, Australia. Tapi, bahkan merekapun akhirnya dikembalikan ke Digoel. Najoan, menurut Salim, sempat melakukan usaha kabur keempat kali pada 1942, setahun sebelum Digoel ditutup, hanya untuk hilang dalam rimba.

Saya tak tahu persis cerita terakhir Salim itu. Tapi, satu nisan di Pemakaman Tanah Merah menyebutkan namanya. Apakah dia ditemukan meninggal di hutan? Atau kembali ke Digoel setelah kamp konsentrasi ditutup dan meninggal di situ? Entahlah.

Bagaimanapun, kisah manusia Tanah Tinggi seperti Najoan mengingatkan saya pada terkutuknya kebijakan kamp konsentrasi Boven Digoel. Memang, Belanda tidak membunuh. Mereka hanya membiarkan orang buangan mati, diterkam kuasa alam ganas, atau gila. Belanda menjadikan orang buangan zombie, manusia hidup tapi tercerabut jiwanya.

Di sisi lain, Boven Digoel mengingatkan saya pada herorisme orang-orang seperti Mas Marco dan Najoan dan Hatta yang menolak untuk menyerah. Yang melawan ketidakadilan dengan lantang namun berjuang dalam sunyi, melawan musuh tak terlihat: kesepian dan ketidakwarasan.

***

Masih gerimis dan hari hampir gelap ketika saya turun meninggalkan Tanah Tinggi. Suara mesin speedboat meraung memantul tepian Sungai Digoel, tanda jemputan telah datang. Dengan kaki telanjang saya menyusuri jalan setapak yang lembab dan basah. Berkali-kali terpeleset sebelum akhirnya mencapai tepi sungai tempat speedboat menunggu.

Semua kesulitan sepanjang perjalanan saya menuju Digoel dan Tanah Tinggi tak ada artinya dibanding hidup dan perjuangan orang-orang yang penah dibuang ke sini, para bapak dan ibu pendiri bangsa kita, yang lama sirna dari ingatan sejarah kita.

***

(Farid Gaban | Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa)

Read Full Post »

Older Posts »