Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Serial’ Category

Serial: Nostalgia SMA 3 Semarang

SERPIHAN HATI YANG RETAK
(Selasa, 29 Juni 2004)

Sebenarnya ada lebih banyak lagi rahasia hati yang tak
terungkap di masa SMA itu. Sebagian kisah yang kita
tahu selama ini, justru bukan yang sebenarnya terjadi,
atau minimal dimaui. Ada banyak hati yang saling
membidik, meleset dan tak sempat tertuang dalam
ingatan kita.

Setelah kasus “Yani, kamu mengoreksi pekerjaan siapa?”
dalam episode Sepasang Merpati itu, Younsel cukup
jumawa mengetahui ada dawai senar hati bergetar
untuknya.

Hidup serasa semakin bergairah.
Semarang tampak semakin indah.
Tugu muda makin lama makin gagah.
Senyum terlempar ke setiap orang yang ditemui
sepanjang jl. Pemuda menuju Magersari, rumah
kos-kosannya. Terik panas di siang bolong serasa
sesejuk puncak Mount Everest. Mak cless…..gitu….

Namun ada hati yang panas membara.
“Kita sama-sama di kelas ranking, kulit kita sama
putihnya, mata kita sama sipitnya, bahkan aku berkaca
mata, sedangkan Yunsel gagang kaca matanya saja gak
punya, aku naik sepeda, Younsel jalan kaki. Rasanya
tak ada sisi di mana aku patut menerima kekalahan tak
bersyarat ini…” begitu batin hati yang membara itu
tak henti-hentinya menyulut relung hati, sepanjang
hari, dari jam 6.45 saat Pak Timan berteriak-teriak
mengejar para siswa yang terlambat sampai dengan pukul
12.30 saat semua hati kembali merasa sunyi.

Akhirnya hati yang meronta-ronta itu meneguhkan
dirinya untuk minta klarifikasi dan konfirmasi, kalau
perlu minta dilakukan fit and proper test, test
kepatutan dan kepantasan: siapa yang berhak di sisi
Yani Ngaliyan …

si Hati yang panas: ” Yan, tidakkah kau dapat cukup
jernih memandang persoalan dan masa depan kita…”,
wow prolognya sangat diplomatis, mbulet dan
membingungkan. Termasuk buat Yani.
Yani:” Ada apa ini…?” tanya Yani bingung dengan
senyum ala Marrie Currie…ahli nuklir itu (kalau
nanyanya mbulet terus tak bomb atom sisan lho, batin
Yani…yake lho, lha wong aku gak melu kebatinan kok).
Dengan tak sabar si hati yang panas menukas,
“Apalah istimewanya Younsel dibandingkan dengan
aku,….lihatlah dari segala sisi dengan hemat, cermat
dan bersahaja”…(wah kaya Dasa Dharma Pramuka aja
nih, ngrayu cewek kok ngono, ya pantes gak gelem).

Yani bergeming, tak terpengaruh oleh provokasi.
Baginya: biar mereka bicara….telinga kita terkunci,
ya sel….

Gemeretak gigi Younsel, mendengar ada pihak-pihak yang
mencoba membonceng dalam tikungan. Susah payah aku
berusaha mendekatinya, sejak masih tampak lugu dan
wagu. Setelah kuncup menjadi kuntum, kuntum kemudian
mekar dan serbuk sari bertemu dengan kepala putik(lho
malah pelajaran Biologi), kau akan ikut pula
memetiknya. Ho..ho..ho, buta saka ngendi kowe, iki
tatakana pusakaku, sadumuk bathuk-sanyari
bumi,pecahing dada, wutahing rudira. Ora sranta Satrio
Magersari kang nami Younsel Evand Roos, mlajar,
nggeblas, bablas angagem senjata cakra ngadang sak
ngajengipun gerbang tetenger SMA tiga (lho, rak malah
ndalang to, emange Younsel iku wayang kulit).

Tangan Younsel terkepal, muka memerah, hanya ada satu
kata di benaknya yang diapal dari sajak Wiji Thukul :
“Lawan !”.

“Youuuunselllll……jangaaaannnnn..!” teriak Yani
sambil berlari, menyiramkan sebongkah es di atas hati
yag jadi bara itu. Nyesssss….sedikit demi sedikit
emosi itu turun, mereda (atau jangan-jangan ini hanya
gertak sambal saja, karena sak jane Younsel ya gak
wani).

Akhirnya Baratayudha di padang Kurusetra itu dapat
dihindarkan.

Younsel balik badan menyusuri kembali jalan Pemuda
menuju Magersari dengan sesekali masih menengok ke
belakang. Menebarkan pandangan yang mengancam: Kali
ini kau lolos…..lain kali…entahlah….entah aku
masih berani atau tidak, maksudnya.

Sementara itu, ksatria hati yang membara dengan
tersenyum lugu, seolah tak meyadari bahaya yang
mengancam sekujur tubuhnya, mengayuh sepeda berlawanan
arah menuju Jl. Citarum, di mana seekor anjing herder
besar kesayangannya telah menunggu.

Dan kita sama-sama tahu, di antara keduanya, tak ada
yang akhirnya berhasil benar-benar memiliki hati sang
Marrie Currie…..Adakah serpihan hati yang retak itu,
masih berserakan di pelataran SMA kita?
Wallahu alam bisawab.

Iklan

Read Full Post »

(8) Lampung Membawa Berkah

Saat di Madinah selama 8 hari, di mana sebagian besar jamaah haji Indonesia mengejar Arba’in, sholat berjamah 5 waktu tanpa putus di Masjid Nabawi Madinah selama 8 hari berturut-turut sehingga genap 40 waktu sholat, merupakan saat yang sedikit lebih rileks dan enjoyble. Selain  kota Madinah yang lebih tertata, bersih, teratur, dibandingkan dengan kota Mekah, iklim saat itu juga sangat mendukung, Madinah lebih sejuk dengan penduduk yang tampaknya lebih berpendidikan dan ‘tidak tampak sangar dan garang’.

Mesjid Nabawi yang indah dikelilingi hotel berbintang dengan supermarket, toko, dan mall yang lebih wah dengan kualitas barang yang lebih bagus serta harga yang bersaing dengan harga barang di pasar traditional Mekah, Pasar Seng yang legendaris, yang saat tulisan ini dibuat, kabarnya sudah digusur dan tinggal kenangan.

Empat barang yang dijajakan sambil berbisik-bisik adalah: kadal Mesir, batu hajar jahanam, tongkat Ali dan Madu Yaman, yang keempat-empatnya dijadikan simbol kejantanan ‘kelas’ Arab.

Satu yang mengagetkan adalah ada sahabat yang berpesan bahwa, walaupun kita lelaki, kita tetap wajib berhati-hati untuk jalan seorang diri di tengah kerumunan orang Arab. Karena, demikian pesannya, lelaki Arab bukan saja suka dengan wanita non Arab tetapi juga suka dengan lelaki non Arab (walaupun tentu ini mestinya hanyalah oknum). Ini tampaknya kenapa dulu Allah pernah menghancurkan kota dalam kisah Sodom & Gomoroh, di jaman Nabi Luth dulu. Karena begitu banyaknya perilaku sexual menyimpang saat itu. Homo bertebaran di segenap penjuru kota di jaman itu. Jadi lebih baik jaga jarak, sisakan space saat kita tawar menawar atau sedang melihat barang dengan para penjual Arab itu. Karena seringkali, bukan hanya rangkulan yang begitu erat, menjepit leher, tarikan tangan setengah memaksa dengan pipi dilekatkan ke pipi kita dalam waktu lama dan tekanan yang intens (dari samping, bukan dari depan berhadapan seperti saat penerimaan tamu dari negara Arab itu lho) akan menjadi ucapan selamat datang yang mungkin biasa bagi mereka, tapi sungguh risi buat orang seperti saya ini yang tidak terbiasa dengan ritual semacam itu.

Di jeda waktu antar sholat Subuh ke Dzuhur atau Dzuhur ke Ashar, mayoritas jamaah Indonesia biasanya sight seeing ke berbagai mall tersebut. Ada yang betul-betul memborong barang, terutama emas Arab yang kadar kemurniannya 24 karat, ada yang sekedar jalan-jalan, seperti saya ini, yang bersyukur bahwa emas dan sutera diharamkan dalam Islam bagi laki-laki sehingga saya terhibur, karena memang tidak cukup punya uang untuk membeli kedua barang itu. Emas Arab dan sutera Thailand menjadi komoditi primadona para jamaah, terutama dari Indonesia.

Saya sedang mengamati sebuah miniatur pohon kurma berlapis emas yang tingginya tidak lebih dari 30 cm dengan bola-bola kristal sebagai hiasan buahnya, alangkah cantik dan luksnya hiasan itu, ketika seorang ibu,jamaah dari Lampung-Indonesia (terbaca dari badge di jasnya) sendirian,  tampaknya kebingungan akan membayar emas yang akan diborongnya, padahal sang penjual tidak mau pakai credit card.

“Ibu mau cari ATM?” tanya saya, mengerti benar bahwa perempuan sebaiknya tidak pergi sendirian apalagi ke ATM dan sebangsanya di Arab ini.

“Ya, Bapak juga mau ke sana?” tanyanya.

“Bareng saya Bu, ” kata saya sambil menuju ke lantai dasar mall itu bersama istri saya.

“Silahkan Bu,” kata saya mempersilahkan beliau ke ATM yang tak berpenutup itu

“Saya tidak mengerti bahasa Inggris dan tulisan Arab”, kata beliau.

“Mari saya bantu, tapi ibu ketik saja nomor PIN nya dulu”

” Bapak saja yang melakukannya,”

“Nanti saya jadi tahu nomor PIN ibu dan transaksi yang akan ibu lakukan” kata saya

“Tidak apa-apa, saya percaya Bapak” katanya yakin.

Akhirnya saya bantu beliau mengambil uang yang menurut saya, buuuanyak banget, untuk memborong emas di Medinah itu.

“Sekarang silahkan Bapak,” katanya mempersilahkan saya pakai ATM itu.

“Enggak Bu, saya enggak mau ambil uang kok.”

“Jadi Bapak tadi turun dari lantai 3 dan jalan jauh-jauh ke sini cuma mau nganter saya?’

Saya mengangguk, karena memang di account saya nggak ada yang bisa diambil kok. Andalannya ya cuma credit card itu….ngisin-isini memang. Tapi ya saya tetep mencoba tersenyum….karena memang nggak ada gunanya njenggureng atau mrengut di tanah suci ini.  Senyum kan ibadah.

“Terima kasih,” kata ibu itu sambil meninggalkan saya dan istri yang tak sadar mengelus-elus pergelangan tangannya yang sebiji gelangpun tak melingkar di sana. Kecuali gelang batu yang dibeli 5 real dari pedagang Afrika yang bertebaran di emperan.

“Gelang emas itu nanti akan bikin tanganmu panas dan mungkin gosong karena udara panas di Arab ini, jadinya ada flek hitam di tangan Mama. Kalau gelang batu ini, misal kepepet pager, bisa buat nyambit kirik atau anak anjing bandel yang suka ngganggu kita saat lari pagi di Arcamanik, Bandung nanti….’ kata saya menentramkan hati istri dan terutama hati saya sendiri. Haji minimalis….banget-banget.

Singkat cerita kami kembali ke Indonesia dengan selamat dan mudah-mudahan mabrur. Tiga bulan setelah kondisi fisik beradaptasi kembali dengan alam Bandung yang sejuk permai ini, seorang bekas mahasiswa saya calling di hampir tengah malam. Minta saya memberikan briefing ke jajaran manajemen perihal Malcolm Baldrige yang bagi sebagian besar mereka itu masih misterius, semisterius kadal Mesir dan batu hajar jahanam yang, terbersit juga niat untuk membelinya, jika tidak ingat bahwa tanpa sugesti dan berbagai ramuan itu, anak saya juga sudah empat orang.

Saya menjadi sangat kaget, ketika mendapati bahwa alumni kami yang menjadi lantaran rezki dari Allah itu berada di Lampung, daerah tempat jamaah wanita dulu minta di antar ke ATM. Padahal seumur-umur saya tidak pernah ke Lampung dan tidak pernah terbayang akan pergi ke Lampung karena area jelajah selama ini paling ya Bandung, Semarang, Medan, Balikpapan, Jogjakarta, Padang, dan Jakarta. Karena sejatinya saya ini orang rumahan yang tidak begitu suka jajah praja milang kori, pergi-pergi ke banyak tempat. Entah kebetulan entah tidak, kok ya bisa ngepasi. Jadi ya sudah, alhamdulillah 

Read Full Post »

(6) Sandal Yang Hilang

 

 

Tawaf merupakan ritual haji dengan mengelilingi Ka’bah berlawanan arah dengan jarum jam sebanyak tujuh kali. Saat saya harus melakukannya pertama kali, ada berbagai perasaan bercampur aduk: haru, bahagia, exiting, gempita, nelangsa, cemas dan was-was. Saya memulai tawaf dengan perasaan pasrah dan sikap yang awalnya ingin mengalah. Saya mengambil deretan lingkaran terluar dengan kuda-kuda dan tenaga seadanya, karena kami baru 3 jam lalu tiba di Mekah. Gelombang lautan jamaah dengan do’a membahana bergema ke segenap penjuru angin. Jamaah-jamaah bertubuh besar mulai unjuk gigi dan percaya diri dengan menabrak jamah-jamah kecil, untuk mendekat ke lingkaran dalam menuju jarak terdekat hajar aswad. Saya tak hendak melawan, dorongan arus yang kadang membabi buta sambil tergumam dari bibir mereka do’a dan mengatasnamakan panggilan-Nya. Badan saya yang terdorong ke sana kemari, dengan kepala bergoyang ke kiri dan ke kanan, saya ikuti saja, seperti jurus pendekar mabuk. Badan saya lemaskan, bagai penari gambyong, agar tenaga saya tak tersedot karena melawan otot-otot gempal, hitam dan keras.

 

Brett…. Tas punggung tempat sandal, sajadah dan air minum saya terseret dari punggung, sobek dan memuntahkan semua isinya. Sandal hitam kesayangan yang saya beli dari Toko Ada di Semarang dan sudah 3 tahun tak berganti itu, lenyap. Saya tak hendak mengambilnya, kecuali akan terinjak-injak di tengah jamaah dan bisa jadi akan pulang ke Indonesia tinggal nama.

 

Selesai tawaf, saya shalat sunah di depan Maqom Ibrahim, dan khusuk berdo’a di daerah garis lurus area Multazam, area antara pintu Ka’bah dan sudut Ka’bah. Saya pejamkan mata dan di akhir do’a, saya membayangkan sambil bermohon dalam hati:” Ya Allah, jika memang benar ini adalah Multazam, tempat terkabulnya segala do’a, aku ingin pembuktiannya ya Allah. Sandal kesayanganku hilang, aku ingin sandal itu kembali tanpa aku harus mencarinya, atau gantilah dengan yang lebih baik. Kemarin saya melihat sandal yang bagus sekali di toko Arab yang kami lewati, sandal yang berwarna putih bersih dan begitu nyaman jika dipakai…….” Sejujurnya saya geli saat mengucapkan do’a itu, dan merasa saya ini orang yang pelit dan tidak ikhlas, sandal yang sudah 3 tahun saja kok masih diratapi kehilangannya, minta ganti lagi…….dasar anak bandel, katrok dan celelekan…..

 

Perlahan saya buka mata, dan…….sungguh ajaib: …..

Sepasang sandal putih seperti yang saya bayangkan ada di depan saya, di depan tempat saya bersimpuh, sementara para jamaah sudah agak sepi berlalu lalang. Sandal siapakah ini? Bolehkah saya mengambilnya? Tidakkah termasuk mencuri mengambil barang yang bukan miliknya? Jauh-jauh terbang dari Indonesia ke Mekah, hanya mencuri sandal, betapa ruginya?

 

Saya menoleh ke kiri-ke kanan berkali-kali. Terjadi perang batin: mengambil-tidak-mengambil-tidak-mengambil-tidak. Inikah jawaban Allah atas do’a yang kupanjatkan ataukah aku sedang diuji? Luar biasa takutnya saya, jika ternyata ini hanyalah sebuah ujian. Saya tinggalkan sandal putih itu tanpa menoleh lagi, saya berjalan pulang tanpa alas kaki. Menuju ke Mahtab, penginapan, untuk segera menemui istri yang terbaring sakit flue Arab. Hanya onta yang terhindar dari flue dan batuk di Arab Saudi, konon kabarnya.

 

Di lorong jalan tempat saya mesti menuju ke Mahtab, terjadi pertemuan arus, antara orang yang pulang dan yang akan menuju ke kabah. Lorong jalan yang tidak lebih dari 10 meter lebarnya dengan sisi kiri kanannya penuh dengan toko kaki lima itu penuh sesak, saling dorong. Semrawut tak karuan. Kaki terinjak-injak, baju sobek-sobek saling bergayut, sandal-sandal saling terinjak, bedat dan bertebaran. Jalanan hitam membuat celana, dan baju-baju putih penuh berlumuran debu yang menghitam: campuran debu, oli jalan dan asap kendaraan bermotor.

 

Saya sampai di Mahtab dalam lelah dan banjir keringat. Beberapa kawan jamaah saya temui terduduk di tangga Mahtab dengan celana menghitam sebatas lutut, beberapa baju sobek dan hampir semuanya tak memakai sandal. Mereka memandang saya dengan pandang mata heran: celana putih murahan yang saya beli dari Pasar Baru Bandung dengan baju koko putih dari kain blacu yang saya kenakan, tampak bersih tak terkena noda sedikitpun, kaki sayapun tak sekotor mereka. Tak ada bekas terinjak, kecuali telapak kaki saya saja yang tak terlalu kotor. Tak ada oli menghitam di sana, tak ada Lumpur tanah yang melekat.

 

Saya bersimpuh dalam haru, takjub dan bahagia.

Saya tidak ingin ditunjukkan apa-apa, tak ingin menguji keberadaan-Nya (seperti yang sering dilontarkan sebagian teman-teman saat di Arab Saudi itu) dan tak ingin menantang-Nya. Sudah terlalu sering dan terlalu banyak saya mendapatkan kemudahan dan rahmatNya.

Read Full Post »

(5) Mudzdalifah

Setelah semua do’a habis dipanjatkan dan diulang-ulang beribu kali di Padang Arafah, yang kadang-kadang aku berfikir: bukankah Allah itu maha pandai, jangan-jangan saat aku mengulang doa-doaku, Dzat yang Maha Tinggi membatin: tadi do’a itu kan sudah kamu panjatkan wahai haji minimalis.. .yang kreatif dong, diulang-ulang saja, kalimat yang itu-itu saja. Aku kan dah dengar, wah payah kamu, bacaan kok nggak mundhak-mundhak dari dulu to Mr. Qulhu……. Lha wong kamu nggak bilang aja Aku sudah tahu isi hati dan fikiranmu kok, eee…ini ngulang-ngulangnya monoton lagi…bosan dong. Sana belajar lagi yang khusyuk, belajar ngaji yang bener tartil dan tajwidnya, pakai lagu-lagu yang bagus gitu lho..waaahh ngisin-isini tenan kamu itu. Ngisin-isinke guru agamamu di SD Inpres sana. Ah….ya, sejatinya aku memang malu, malu sekali dengan keterbatasan pengetahuan dan kemampuanku ini.

Maghrib menjelang, kami sholat jamak.  Bis menjemput dan kami antri dalam antrian yang panjang. Saat antrian panjang terjadi, persis di depanku antrian dipecah jadi dua sehingga aku menjadi yang terdepan di antrian baru dan langsung menuju bis.
Saking bungahnya dan memang sedikit ugal-ugalan, dengan jumawa kita ngeledek teman yang semula persis di depanku tapi jadinya dapat bis belakagan:”… he…he.. . kita duluan ya, sorry nih rejeki tak lari kemana. Emang sih semua tergantung amalnya.” “Awas ya…” sahut teman itu dengan cemburu dan jengkel.

Bis kami melaju dengan kecepatan tinggi menuju Padang Mudzdalifah. Sebuah area padang pasir yang luas, tempat jamaah harus menginap semalam beratap langit
dengan temaram sinar bintang di langit.

Apa yang terjadi?

Bis kami salah mengambil jalur, sehingga berputar kembali ke arah Padang Arafah, jalanan macet total. Dan kami tiba di Padang Mudzdalifah sebagai kontingen terakhir. Astaghfirullah al ‘azim. Kami istighfar, telah berlaku sombong dan melecehkan yang lain.
Balasan tidak menunggu di akhirat kelak. Langsung kontan saat itu juga harus dibayar lunas.

Aku lemas. Pukul 00.00 baru tiba di Padang Mudzdalifah, saat semua orang sudah menghamparkan tikar-tikarnya dan sebagian lain sudah mendengkur.

Pesan teman yang tahun lalu pergi haji bahwa di Mudzdalifah hampir mustahil dapat tidur. Apalagi sekarang musim dingin, suhu kira-kira 5-10 derajad celcius. Kita tidak boleh pakai kaos kaki, selimut, dan penutup kepala. Hanya mengenakan dua lembar kain putih, itupun di dalamnya tak mengenakan apa-apa. Jika kamu tidak menggigil, itu adalah  sebuah keajaiban. Ustadz pun berpesan: lepas bagian atas ihram dan gunakan sebagai selimut yang menutupi dari kaki sampai leher. Jangan menutup kepala agar tidak  membayar denda. Kedua pesan itu tak lagi dapat kudengar dan kuingat serta tak berlaku buatku. Aku terkapar dalam kelelahan yang amat sangat dan tertidur amat sangat nyenyak. Bahkan suara teman-teman yang bangun pukul 2 dinihari untuk mengambil wudhu dan sholat tahajud tak aku dengar.

 

Inikah keajaiban?

Wallahu’alam. Yang aku rasakan inilah hukuman bagi kami yang mengejek orang
lain. Untungkah aku dengan tidur nyenyak sementara berjuta orang lain tak dapat tidur? Wallahu alam. Yang jelas aku tak sempat sholat tahajud ketika serta merta kudengar suara hiruk pikuk orang berteriak bercampur dengan derum bis.

“Bangun-bangun, bis terakhir segera berangkat menuju Minna…!”

Aku tergeragap, mengemasi ransel dan alas tidur berlari ke bis dan menjadi orang terakhir yang terangkut ke Minna.

Perjalanan masih panjang, jagalah lidah, perkataan danperbuatan selama di tanah suci.

Read Full Post »

(4) Manusia Mubah

Dari seluruh rangkaian ibadah haji, hanya saat di Padang Arafahlah yang settingnya masih sama dengan jaman Rasulullah. Yang lain, sejak dari Miqat (berniat di perbatasan masuk tanah suci), tanazul di Minna, bermalam di mudzdalifah, tawaf, sa’i, melempar jumrah sampai dengan arba’in di Madinah semuanya sudah berubah. Diubah menjadi lebih baik, lebih mudah, lebih nyaman, dan lebih relax. Walaupun begitu, semua kemudahan itu masih tetap saja menyisakan kemalasan dan pencerminan sesuai dengan perangai masing-masing saat di tanah air.

Saat sebelum berangkat, rata-rata jamaah diperingatkan dan setengah ditakut-takuti oleh cerita dari buku maupun orang yang telah berangkat lebih dahulu, bahwa di tanah suci semua orang akan ‘diwelehkan’ …. bahasa indonesianya di’welehna‘ ki apa ta? bahwa yang biasa bertengkar akan bertengkar di sana, yang biasa thengil akan dithengili orang, yang biasa marah akan dimarahi orang, yang biasa pelit biasanya akan kehilangan barang di sana, yang biasanya sombong akan banyak mendapat ujian dan kecelakaan di sana. Tampaknya sebagian hal di atas berupa mitos saja, kecuali yang tentang kesombongan.

Menurutku, karena di sana panas begitu teriknya, dingin begitu menggigitnya, semua harus antri dan berdesak-desakkan, makan seadanya, dan ritual benar-benar menguras fisik dan mental (bagi yang haji plus tentunya…maksudnya haji plus….jalan kaki jauh dari penginapan, plus haus dan lapar, plus untel-untelan di penginapan, dsb) maka sudah galibnya orang itu akan keluar sifat aslinya. Coba check ke para pendaki gunung: kalau naik gunung bareng teman-teman, pasti akan keluar sifat asli anggota tim pendaki gunung itu yang egois, individualis, galak, nylekit, mau menang sendiri, atau penolong, perayu, oportunis, melankolis.

Nah sebelum semua sifat asli tersebut keluar dalam ritual 40 hari haji itu, di Padang Arafah inilah semuanya terkubur dalam kepasrahan yang dalam.Sejak sebelum dzuhur sampai dengan maghrib, semuanya tafakur, khusyuk dalam dzikir bersimbah airmata. Karena hakekat haji adalah di Padang Arafah ini. Semua ritual bisa dijalani, tetapi terlambat masuk ke Padang Arafah (misal masuk di Padang Arafah setelah Dzuhur)
maka batal lah hajinya itu dan percumalah semua rangkaian ibadah.

Jadi di Padang Arafah ini, semuanya tercampur antara haru, pasrah, exited, bahagia dan penuh harapan. Harapan akan terkabul seluruh do’a dan dimaafkan seluruh dosanya. Dalam dzikir yang diselingi kutbah singkat, kita tata kembali posisi diri dan kehidupan di masa depan yang membentang jauh sampai ke akhirat. Pak Ustadz bilang bahwa pada dasarnya ibadah kita sangat-sangat tidak cukup untuk mengantar kita masuk syurga bagaimanapun kita khusyuknya sholat wajib dan sunah. Timbangan masih tekor banyak jika kita masih fokus kepada diri kita sendiri saja, sibuk dengan perasaan dan keinginan kita yang belum terpenuhi, sibuk menyalahkan orang lain dan membenarkan diri sendiri, sibuk merasakan diri kita sebagai korban, belum memberikan manfaat bagi komunitas kita, dan tidak berkontribusi apa-apa bagi kebaikan seluruh alam. Belum menjadi rahmatan lil alamin…..maka kita masih menjadi makhluk sia-sia.

Dan aku tersentak, ingat obrolan Emha yang mengklasifikasikan manusia atas manusia wajib, mubah dan haram.

Wajib jika kehadiran kita diingini, dikangeni, diharapkan oleh komunitas dan teman-teman kita.

Mubah jika kehadiran kita tidak memberikan arti apa-apa, ada atau nggak ada, tidak ada pengaruhnya.

Dan haram jika kehadiran kita tidak diinginkan, dibenci, tak termaafkan bahkan dihindari oleh orang-orang di sekitar kita, anak buah kita, sahabat-sahabat kita dan orang-orang yang kita sayangi….Paling tidak mereka akan tersenym manis dan basa-basi menyapa kita dan saat kita berlalu, mereka akan mencibir, menggibah dan merasakan kemerdekaan tiada tara melebihi saat proklamasi 1945.

Aku menangis, jangan-jangan aku masih termasuk dalam golongan yang terakhir  ini. Tak pernah termaafkan, tak pernah diingini, tak memberikan kontribusi apapun atau bahkan kehadiran kita justru menguak luka hati dan dendam yang berkepanjangan..

Perlahan aku buka catatan yang terselip di sabuk putih, titipan do’a dari keluarga dan teman-teman:  Dendy, Arttini, Didit, Setiyadi, Umi, Army, Bhanu, Pak Herry, Pak Deddy, Pak Reza, Pak Gatot dan semua teman yang aku minta maaf dan mohon pamit itu. Karena di Padang Arafah ini, langit dibuka oleh sang Khalik untuk membiarkan malaikat turun ke bumi menjemput do’a-do’a yang dipanjatkan 4 juta umat di padang pasir nan gersang yang sesekali ditimpali semeribit angin dari pohon-pohon Soekarno. Pohon yang ditanam atas usul dan sumbangan Presiden Soekarno 40 tahun yang lalu….

Aku berdo’a khusus pula: semoga bisa menjadi orang yang lebih bermakna, dan jika kehadiranku ini hanya menyusahkan dan menambah luka saja… hapuskanlah aku dari memori dan rasa sayangmu itu. Namun jika Allah menunjukkan kebesaran-Nya dengan membukakan pintu maaf di hatimu, terimalah itu sebagai rahmat terbesar dan jangan engkau pungkiri dan tutupi dengan egomu lagi. Kita jalani garis batu takdir yang telah tertulis di langit lazuardi itu. Semuanya telah menjadi ketetapan-Nya. Mungkin kita protes bahwa kita tak mendapatkan apa yang kita mau, tapi itu pasti yang terbaik bagi kita semua. Masa depan ini tidak bisa kita lalui dengan bingkai masa lalu….Maafkan kesalahanku, kebodohanku, ketidakmengertianku, keterbatasanku, kerendahdirianku, kekonyolanku, kenaifanku, kenorakanku, keluguanku, keraguanku, kenakalanku. …dan dosa-dosaku. Aku takut menjadi manusia mubah.

 

(Bersambung)

Read Full Post »

3. Haji TAMATU

Sudah banyak orang yang membahas ritual haji dan klasifikasinya menjadi haji Tamatu, Qiran dan Ifrad. Mayoritas haji dari Indonesia melakukan Haji Tamatu karena pertimbangan kondisi, jarak dan afdolnya. Haji Tamatu, kata para pembimbing haji dan buku-buku haji diartikan secara harfiah sebagai: ‘..Bersantai Ria…’artinya melakukan umrah terlebih dahulu, menunggu saat haji tiba, dan melaksanakan hajinya.

Nah ternyata, definisi haji Tamatu yang katanya dari Arab Saudi itu, menurutku, ternyata berasal dari singkatan Bahasa Jawa. TA-MA-TU (TAngi – MAngan -TUru). Betul karena umrah bisa diselesaikan dalam hitungan jam karena hanya Tawaf, Sa’i dan Tahlul.

Setelah itu mesti menunggu lama sebelum tibanya tanggal 8 Dzulhijjah untuk menuju Arafah. Dan haji itu pada hakekatnya ya yang di Arafah ini…Maka saat menunggu itulah, ritual Tangi-Mangan-Turu itu dilaksanakan: jadi emang kegiatannya cuma tidur, makan, ke mesjid, tidur lagi, rebutan cari shaf sholat yang dekat dengan Ka’bah, tawaf setiap selesai dan sebelum shalat Fardu sambil pasang kuda-kuda jika ada arus ganas dari jamaah Afrika, Asia Selatan (India, Bangladesh, Pakistan, Nepal) dan Turki. Nah kontingen yang bertenaga dan menerapkan asas rawe-rawe rantas malang-malang puntung, serang terjang dari Indonesia biasanya dari Makasar dan Jawa Timur. Kontingen dari Bandung biasanya yang justru santun-santun……dan ……sedikit penakut sebetulnya.

 

 

Read Full Post »

2) Air Mata yang Kering

Selepas SMA aku sudah jarang menangis, padahal seingatku aku termasuk anak yang cengeng di SD dulu. Saat perpisahaan di masa SMA yang sangat mengharu biru penuh dengan derai airmata selepas lagu ‘Sayonara’-nya Grace Simon itu dinyanyikan, aku juga tidak menangis. Karena waktu itu aku yakin perpisahan ini hanyalah masalah jarak geografis bukan tentang hati dan psikologis. “…….Hatiku Hanya untuk Hatimu…”, begitu kan syair lagu itu dinyanyikan sambil bergandengan tangan di bawah temaram lampu gantung gaya mataraman. Tatapan mata guru-guru dan orang tua tuan rumah jadi saksinya.

Terakhir kali aku menangis, seingatku adalah di tahun 2003 saat ibundaku meninggal dunia. Aku belum melakukan sesuatu yang berarti buat kebahagiaan beliau. Sehingga aku merasa seperti seorang yang ketinggalam kereta saat itu. Kereta yang berangkat menuju keabadian sehinga tak mungkin kembali lagi dan tak mungkin aku kejar dengan kereta berikutnya.

Beberapa kali kuikuti pelatihan dengan model peningkatan Emotional dan Spritual Quotient. Saat-saat pelatihan itu, kulihat semuanya menangis, bahkan ada yang meraung-raung. Mahasiswa baruku, para kolega dosen, karyawan, semuanya bercucuran air mata. Tapi aku tidak.

Aku khawatir betul jika ternyata hatiku memang telah membatu Oleh karena itu sesaat sebelum pesawat Saudi Air tinggal landas, terbersit dalam hatiku tuk memohon: Ya Allah, benarkah hatiku telah beku dan membatu? Benarkah aku tak memiliki air mata lagi? Ya Allah, kata psikolog, buruk akibatnya jika seseorang sudah tidak dapat menangis lagi. Amat buruk bagi kesehatan jiwanya. Saat itu aku bermohon untuk dapat menangis, setidaknya dua kali: saat melihat Ka’bah dan saat berpisah meninggalkan Ka’bah nantinya.

Namun ternyata do’a yang kupanjatkan dalam hati itu dikabulkan lebih cepat dari yang kuduga. Saat pramugari mengumumkan bahwa jamaah dipersilahkan mengucapkan niat, karena pesawat sedang melewati miqat dan seisi pesawat dengan gemuruh mengumandangkan talbiyah…. .La Baik……baru dua kata itu aku ucapkan, aku menangis sejadi-jadinya. Tangisan yang belum pernah aku alami sebelumnya, tak bisa dihentikan. Tak bisa dibendung air mata ini deras mengalir. Tangis penyesalan bahwa telah banyak dosa dan kesalahan aku lakukan. Terbayang semua kekeliruan itu satu persatu. Semuanya tergambar jelas di mata, bagai runtutan film yang diputar perlahan. Aku bertobat, minta ampun kepadaNya dengan hati yang rapuh. Serasa runtuh dunia ini menimpa. Karena boleh saja kita bertobat kepada-Nya, tapi adakah yang pernah kita sakiti telah memaafkan kita dengan tulus ikhlas? Sudahkah mereka dengan legawa menerima permohonan ma’af yang telah seribukali kita ucapkan, jika kita belum pernah mendengar kata ‘maaf’ itu keluar dari bibirnya?

Ya Allah, banyak benar aku telah mengecewakan hati dan harapan. Jika begini berat beban yang harus aku tanggung ya Allah, hapuslah rasa sayang dan harapan di hati dan pikiran mereka ini terhadapku. Aku tak mampu memenuhinya. No Me Ames…..

Aku mengarungi perjalanan udara dan mendarat di Jeddah dalam diam dan kepasrahan. Airport Jeddah dengan Canopi yang bisa dibuka dan ditutup secara otomatis itu, tak menarik perhatianku. Tiga jam menunggu bis penjemput untuk ke Mekah aku lalui dengan hati dan pikiran yang aku tidak bisa memaknainya. Adakah Allah mengampuni dan memaafkan dosaku, jika yang pernah aku sakiti pun belum melakukannya kepadaku? Saat itu kurasakan ketakutan yang amat sangat. Apa yang bisa aku lakukan untuk membalut luka semuanya itu? Aku kembali menangis, menangis dan menangis…. ..Tanpa air mata. Air mataku telah kering.

(Bersambung)

Read Full Post »

Older Posts »