Feeds:
Pos
Komentar

Ini saya copas dari diskusi di milist ITB tentang kriteria Presiden RI. Ada banyak sekali, yang menjadi masalah adalah adakah yang memenuhi kriteria tsb, karena kita sedang mencari ‘superman’ agaknya.

1. Monogami : Berpasangan (isteri/suami)  tidak lebih dari satu (mbak Laras)

 

2. Anti Korupsi : Tidak KKN dan secara aktif membangun sistem dan SDM untuk membuat institusi yang dipimpinnya selama ini bersih dari korupsi (Betti)

 

3. Bisa memakmurkan Negara (Yudanto)

 

4. Berwibawa : Presiden berikutnya adalah yang benar benar pemimpin, tidak suka mengeluh atau curhat, dipuji tidak terbang, dicaci tidak tumbang (Susilo)5. Bisa Menggerakkan : Persoalan Indonesia tidak bisa diselesaikan oleh satu orang, tapi harus diselesaikan bersama-sama oleh kita semua. Makanya Presiden ke depan harus yang bisa menggerakkan kita semua untuk ikut turun tangan.(Susilo)

 

6. Cerdas & Berani : “Mengerti untuk menangkal akal2an dari para pihak yang ingin tetap memecah belah persatuan bangsa dan akal2an ekonomi untuk menguntungkan kelompoknya sendiri sambil menyengsarakan rakyat yang lebih banyak”. (Ridwan Gani)

 

7. Semangat rekonsiliasi : agar bisa menyatukan seluruh potensi masyarakat indonesia. Kalo tidak, bangsa indonesia akan terus saling mencari salah dan menyalahkan. Kapan majunya? Lebih baik mencari yg benar daripada mencari siapa yg salah ( Feby)

 

8. Bernyali : Bernyali untuk perang, memindahkan ibukota, dan duduk bersama OPM. (Jadid)

 

9. Berpikir Jangka Panjang : Pemimpin harus bisa berpikir paanjang kedepan.. ,salah satunya dalam penguatan SDM, Pendidikan, Keragaman Budaya dan keunikan anak Indonesia yang luar biasa. (Unie)

 

10.Tidak membangun dinasti kekuasaan : TIDAK MEMBANGUN DINASTI KELUARGA, untuk konteks bernegara (A. Hadi)

 

11. Membangun Kabinet yang Kompetendan Solid : Perlu juga punya keberanian membangun teamnya sendiri (baca menteri2 dan pembantu presiden yg lain) tanpa direcokin partai2 lain dan tentu aja oleh partainya sendiri juga. Pemerintahan akan berhasil kalau teamnya solid.

 

12. Berintegritas : – Jujur;– Ucapannya dapat dipegang;– Amanah (dapat dipercaya). (Widodo.sw)

 

13. Bebas Intervensi Asing :Bebas intervensi asing. Karena Pemilu 2014 ini sudah mulai bisa terlihat menjadi pertarungan pengaruh negara adidaya (Amerika), calon negara adidaya (China) dan juga sedikit pengaruh dari Timur Tengah. Pertanyaannya, apakah Indonesia bisa mempunyai sikap sendiri, atau akan tunduk terhadap kemauan Amerika atau kemauan China. (Satria)

 

14. Tidak Gaptek : Jangan sampai presiden berikutnya bisa dimainkan oleh hal-hal seperti “blue energy/banyu geni”, “supertoy”, dll. (Satria)

 

15. Pendengar yang Baik : Presiden yang mau untuk mendengar dan menggunakan “common sense”-nya. Mendengar di sini dalam artian “listening” bukan “hearing”. Terutama mau mendengar masukan dari kaum intelektual (baik dari akademisi dan praktisi) yang dimiliki negara ini. (Satria)

 

16. Kuat dalam Diplomasi International : Bisa menunjukkan kekuatan “muscle” diplomatik Indonesia di kancah dunia baik di G20 dan di PBB, maupun di hal-hal yang bersifat bilateral lainnya. Terutama, bisa menunjukkan dan membuktikan bahwa leader de-facto nya ASEAN adalah Indonesia. Lalu, Indonesia berani berkata tegas terhadap Australia, dan juga berani berkata tegas terhadap China mengenai klaimnya di Laut China Selatan yang memotong ZEE Indonesia di Natuna. Tegas di sini bukan hanya sebatas kata, tapi juga tindakan. Artinya presiden harus bisa mengkomunikasikan tindak tanduknya secara jelas, baik terhadap rakyatnya maupun terhadap masyarakat dunia yang lain. Serta mau untuk memperjuangkan freedom of movement rakyat Indonesia (kita kemana-mana masih butuh visa kan). Kata kunci minimum: kemampuan bahasa.(Satria)

 

17. Punya Visi Kemandirian IPTEK : Memiliki visi pengembangan kemampuan IPTEK bangsa yang jelas. Mungkin konkritnya, berani untuk mengejar R&D expenditure hingga 2-3% GDP selama masa pemerintahannya. (Satria)

 

18. Merakyat : pemimpin bukan sebgai boz tapi lebih sbg pelayan rakyat. Mau mendengar keluhan,  Tidak alergi kritikan, gaya hidup sederhana (Sjaiful Hadi)

..Panglima Soedirman

Catatan sejarah yang tidak pernah kita ketahui, dari Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto:

Sudirman pernah mimpin langsung pasukan, dua pasukan ia pegang yaitu: pasukan eks Batalyon Surjosumpeno, k/l 500 orang bersenjata lengkap dan eks pasukan Letkol Isdiman, 800 tentara bersenjata lengkap. Ceritanya begini, pada September 1945, Sudirman di telgram kawat oleh Amir Sjarifoeddin diangkat jadi Komandan Divisi V Banjumas, dibawah Pak Dirman saat itu ada : Letkol Sarbini yang pegang pasukan di Semarang dan Letkol Isdiman yang pegang pasukan di Magelang. Pak Dirman membangun pertahanan di divisi Banyumas dengan sistem “kaki kepiting” dimana Semarang dan Magelang dijadikan “dua kaki kepiting” pertahanan di Djawa Tengah. Pada Bulan Oktober 1945, Brigjen Berthell, Komandan Pasukan Sekutu membebaskan tawanan perang militer Belanda, namun Brigjen Berthell memerintahkan operasi intelijen penyerahan senjata ke eks tentara Belanda, ada sekitar 4500 senjata yang dikirim langsung dari Australia diserahkan ke tentara Belanda yang diinternir itu, aksi ini bisa disebut sebagai langkah pembuka gerakan Van Der Plas dalam pembentukan NICA, operasi intelijen Berthell ini dibaca oleh intel Indonesia bernama Suradi, yang melaporkan langsung ke Mayor Darsono, dari Mayor Darsono laporan ini dibawa ke Letkol Isdiman. Setelah laporan diterima, Isdiman memerintahkan Mayor Suryosumpeno memimpin pasukan menghadang gerakan pasukan sekutu di Magelang dan Ambarawa, lalu terjadilah perang Ambarawa, dimana Isdiman kena granat pasukan sekutu. Gugurnya Isdiman, membuat Kolonel Sudirman marah besar, lewat Kapten Islam Salim, Sudirman minta semua pasukan di divisi Djawa Tengah di mobilisasi dan bergerak ke arah ambarawa, Pak Dirman menenteng sendiri karaben kaliber 120, dan pestol mauser. Dirman membawa sekitar 200 pasukan dari Purwokerto dengan menumpan beberapa buah truk menuju Ambarawa. Jalan Ambarawa-Semarang ditutup, selama 14-15 Desember 1945, Pasukan Inggris terjebak di seluruh lini Ambarawa, mereka dihujani peluru pasukan Indonesia dibawah Sudirman, yang patut dicatat disini adalah kemampuan Sudirman melakukan koordinasi seluruh TKR di Djawa Tengah, untuk mengepung Ambarawa, laporan perang Ambarawa dan kemampuannya melakukan koordinasi sistematik ala Sudirman membuat perhatian pemerintahan pusat di Djakarta, sehingga Sukarno sendiri berkomentra : “Dia seorang Ike Eisenhower dalam wajah yang lain”. Sementara Bung Karno juga megutip surat kabar Inggris yang membuat laporan soal perang Ambarawa : “The battle of Ambarawa had been a fierce struggle between Indonesian troops and Pemuda and, on the other hand, Indian soldiers, assisted by a Japanese company….The British had bombed Ungaran intensively to open the road and strafed Ambarawa from air repeatedly. Air raids too had taken place upon Solo and Yogya, to destroy the local radio stations, from where the fighting spirit was sustained…

10 SMA Terbaik di Indonesia

 

 

Sebenarnya sangat banyak sekali SMA terbaik di Indonesia ini, kesemuanya itu merupakan sekolah favorit dan pilihan para siswa. SMA-SMA ini menghasilkan siswa-siswi yang cerdas secara intelektual, emosional dan juga spiritual. Tidak sedikit para alumninya merupakan orang terpandang dinegeri ini seperti pejabat, birokrat, dan juga pengusaha. Dan inilah 10 SMA terbaik di Indonesia

 

 

SMA 3 Bandung1 10 SMA Terbaik di IndonesiaSource : http://www.flickr.com/photos/seveners/5319539508/

 

 

1. SMA Taruna Nusantara, Magelang

 

SMA Taruna Nusantara merupakan salah satu sekolah menengah atas unggulan di Indonesia yang diakui memiliki kedisiplinan yang sangat tinggi, sehingga tidak sedikit masyarakat yang mencap kampus ini sebagai sekolah semi-militer. SMA yang berlokasi di Kota Magelang ini menerapkan sistem asrama, dimana SMA ini merupakan salah satu pelopor sekolah berasrama yang saat ini sedang menjamur.

 

2. SMA Negeri 8 Jakarta

 

Tak diragukan lagi SMA 8 Jakarta merupakan Sekolah Menengah Atas No 1 di ibukota, alumninya mendominasi kampus-kampus terkemuka negeri ini seperti Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung. Sekolah ini memiliki prestasi segudang baik nasional maupun internasional, tidak jarang peserta olimpiade internasional adalah siswa-siswi yang berasal dari SMA ini.

 

3. SMA Negeri 3 Bandung

 

SMA 3 Bandung merupakan Sekolah Menengah Atas yang sangat terpandang di Kota Bandung, sekolah ini dicap sebagai sekolah terbaik di kota kembang. Ada anekdot yang menyatakan bahwa SMA 3 Bandung merupakan sekolahnya ITB, artinya sebagian besar alumni SMA 3 Bandung mendominasi bangku perkuliahan di ITB. Prestasi yang diraih siswa-siswi SMA 3 Bandung tidak hanya mencakup nasional saja melainkan juga internasional.

 

4. MAN Insan Cendikia, Tangerang

 

MAN Insan Cendekia adalah lembaga pendidikan setingkat SMA yang sangat diperhitungkan dinegeri ini meskipun cukup terbilang baru. Sekolah yang akrab disapa IC ini sangat mengedepankan IPTEK yang dilandasi dengan IMTAK kepada setiap siswa-siswinya. Sekolah ini merupakan ide brillian dari Presiden Republik Indonesia ke-3, Bapak BJ Habibie.

 

5. SMA Negeri 3 Semarang

 

SMA Negeri 3 Semarang merupakan salah satu Sekolah Menengah Atas terbaik di Indonesia, bahkan Depdiknas menobatkan sekolah ini sebagai SMA terbaik di Indonesia. Sekolah yang beralamat di Jalan Pemuda No. 149 Kota Semarang ini memiliki prestasi yang sangat luar biasa, baik akademik maupun non akademik. Sekolah ini juga merupakan salah satu sekolah pelopor untuk sekolah bertaraf internasional.

 

6. SMA 1 Teladan, Yogyakarta

 

Sebenarnya nama akademiknya adalah SMA Negeri 1 Yogyakarta, akan tetapi masyarakat Jogja akrab menyebutnya dengan SMA 1 Teladan. SMA ini merupakan Sekolah Menengah Atas unggulan di Provinsi Yogyakarta dengan prestasi yang segudang sejak dulu kala. SMA ini sangat legendaris, karena sudah ada sejak jaman penjajahan kolonial Belanda dan sampai sekarang masih berdiri kokoh.

 

7. SMA Negeri 5 Surabaya

 

Smalabaya merupakan sapaan akrab untuk SMA Negeri 5 Surabaya, salah satu sekolah unggulan yang berada di Kota Surabaya, Jawa Timur. Alumninya mendominasi perkuliahan dikampus-kampus terkemuka negeri ini khusunya diwilayah Jawa Timur seperti Institut Teknologi 10 November, Universitas Airlangga, dan Universitas Brawijaya. Tidaklah mengherankan jika sekolah ini mendapatkan prosentasi tertinggi dalam penerimaan SMNPTN.

 

8. SMA Negeri 4 Denpasar

 

Salah satu Sekolah Mengenah Atas unggulan dan favorit dipulau dewata adalah SMA Negeri 4 Denpasar. Sekolah ini sangat unik dengan arsitektur yang bernuasa Bali, diakui sebagai sekolah yang sangat menjunjung tinggi budaya lokal. SMA yang beralamat di Jalan Rinjani, Kota Denpasar ini memiliki fasilitas yang memadai untuk membantu proses belajar para siswa-siswinya disekolah.

 

9. SMA Negeri Plus Riau

 

Meskipun terbilang sekolah baru, SMA Negeri Plus Riau jangan dilihat sebelah mata. SMA ini merupakan Sekolah Menengah Atas unggulan di Provinsi Riau, sekaligus menjadi sekolah acuan untuk SMA-SMA yang berada di Riau. SMA ini sangat didukung oleh fasilitas pendidikan, mulai dari sarana prasarana yang sangat mendukung hingga tenaga pengajar yang minimal strata 2.

 

10. SMAK 1 BPK Penabur, Jakarta

 

SMAK 1 BPK Penabur merupakan sekolah swasta jempolan diibukota dengan prestasi yang luar biasa. Sekolah ini sering sekali mengirimkan siswa-siswi pilihannya untuk berkompetisi dilevel nasional dan juga internasional, dan bahkan menjadi juaranya. Masyarakat ibukota mencap sekolah ini sebagai Sekolah Menengah Atas Swasta paling bergensi di Jakarta.

Pahlawan dari Salatiga, Adisutjipto

 

  Adisutjipto        Kalau Adisutjipto tidak nekat menerbangkan pesawat bobrok peninggalan Jepang, entah apa nasib Angkatan Udara Republik Indonesia. Adisutjipto adalah orang yang merintis penerbangan AURI, membangun sekolah penerbang dan melakukan berbagai misi kemanusiaan lewat udara di tengah serangan Belanda. Hidupnya dihabiskan membangun kekuatan udara RI tanpa lelah. Di langit pula kesatria udara ini mengakhiri hidupnya. Adisutjipto lahir tanggal 4 Juli 1916 di Salatiga, Jawa Tengah. Otaknya encer dan prestasinya di sekolah sangat memuaskan. Lulus dari Algemene Middelbare School (AMS) Semarang tahun 1936, dia ingin melanjutkan masuk Akademi Militer Belanda di Breda. Namun sang ayah menyarankan Adisutjipto masuk Geneeskundige Hooge Shool (Sekolah Tinggi Kedokteran) di Jakarta. Tjipto diam-diam mengikuti tes dan diterima di Militaire Luchtvaart Opleidings School atau Sekolah Penerbangan Militer di Kalijati Subang. Tjipto lulus lebih cepat dan mendapat nilai yang sangat baik. Dia berhak menyandang pangkat letnan muda udara. Tjipto juga mendapat brevet penerbang kelas atas. Konon dialah satu-satunya orang Indonesia yang saat itu mempunyai brevet penerbang kelas atas. Dalam buku Bakti TNI Angkatan Udara 1946-2003 ditulis Tjipto kemudian mendapat tugas di Skadron Pengintai di Jawa.

penerbang indonesia

Saat Jepang mengalahkan Belanda, seluruh penerbang Belanda dibebastugaskan.  Adisutjipto kembali ke Salatiga. “Dia bekerja di sebuah perusahaan bus,” ujar Sudaryono.  Di kota ini pula Tjipto menyunting seorang gadis bernama Rahayu. Dilanjutkan Sudaryono, sekitar akhir Agustus seseorang bernama Tarsono Rud-jito (bekas BKR Oedara Yogya) datang mencari Adisutjipto. Karena mendapat informasi Adisutjipto di Salatiga, ia segera menyusul untuk menemui Adisutjipto. Singkat cerita, kedua orang ini saling bertemu dan bersepakat untuk kembali ke Yogyakarta. Kondisi angkatan udara saat itu sangat memprihatinkan. Tidak ada pilot, tidak ada mekanik pesawat, tidak ada dana, hanya ada beberapa pesawat tua peninggalan Jepang. Di tempat lain, Suryadarma memerintahkan seorang teknisi bernama Basir Surya untuk untuk segera ke Yogyakarta. Ketiga orang ini bertemu di Yogyakarta. Mereka kemudian memutuskan untuk menghidupkan sebuah Churen dan nanti akan diterbangkan oleh Adisutjipto. Basir surya bekerja cepat dan cermat. Sementara Adisutjipto berusaha memahami Churen, pesawat buatan Jepang yang sama sekali dia belum pernah menyentuhnya tanpa selembar pun manual book. Dengan bermodalkan keyakinan, kerja keras itu berbuah manis. Adisutjipto berhasil menerbangkan sebuah Churen yang sudah diberi marking Merah Putih di atas Yogyakarta pada 27 Oktober 1945. Inilah penerbangan bersejarah dalam dunia penerbangan Indonesia, ketika untuk pertama kali penerbang Indonesia menerbangkan pesawat di alam kemerdekaan. “Pak Cip sempat nyambar-nyambar di Alun-alun,” kata Sudaryono yang bergabung dengan TKR Oedara pada November 1945 setelah berjuang di Front Semarang. Aksi solo flypast yang dilakukan Adisutjipto ini dilakukan pada peringatan hari Sumpah Pemuda 28 Oktober di Yogyakarta.  Bukan tanpa maksud Tjipto melakukan itu. Hal ini dilakukannya untuk memompa semangat perjuangan rakyat. Tanggal 1 Desember 1945, Adisutjipto dan Surjadi Suryadarma mendirikan sekolah penerbang. Lagi-lagi dalam situasi serba kekurangan. Tjipto menjadi instruktur, sementara Surjadi mengurus administrasi. Angkatan pertama, ada 31 siswa yang mengikuti sekolah penerbangan itu. Hanya bermodal pesawat tua tidak menyurutkan langkah para perintis TNI AU ini untuk belajar.

siswa sekolah penerbangan

Dengan dibukanya sekolah penerbang ini, pemuda-pemuda yang semula mengorganisir diri di Malang, digabungkan ke Yogyakarta. Sekolah ini menerima para siswa yang berasal dari bekas siswa Aspirant Officer Kortvervand yang telah mengantogi klein brevet, bekas siswa vrijwillige vlieger corps, serta pemuda-pemu­da yang sama sekali belum pemah menerima pendidikan penerbang. Nall, Sudaryono dan 15 pemuda lainnya masuk ke dalam kelompok terakhir. Namun Adisutjipto tidak ge­gabah. Sadar seorang diri, is tidak lantas langsung menerima siswa dan mendidiknya. Pertama-tama, Adisutjipto mencetak sejumlah penerbang untuk menjadi instruk­tur. Menurut Sudaryono, angkatan pertama instruktur yang dididik Adisutjipto adalah Iswahjudi dan Imam Suwongso Wirjosaputro. Iswahjudi sendiri bekas siswa Aspirant Officier Leerling Vlieger namun belum sempat memper­oleh brevet, sedangkan Wirjosapu­tro bekas siswa Vrijwiliger Vlieger Corps. Angkatan kedua instruktur terdiri dan Abdulrahman Saleh dan Hubertus Sujono. Barulah setelah keempat penerbang ini dipandang Adisutjipto layak menyandang jabatan instruktur, sekolah penerbang pun mulai diaktifkan. “Instruktur utama adalah Iswahjudi dan Wirjos­aputro, saya sendiri dilatih oleh Iswahjudi,” papar Sudaryono. “Kalian menerbangkan peti mati,” ujar para penerbang Kerajaan Inggris yang mengunjungi Lanud Maguwo Yogyakarta tahun 1945. Para penerbang itu geleng-geleng melihat deretan pesawat Cureng buatan Jepang yang jumlahnya tidak seberapa di landasan pacu. Pesawat Cureng itu buatan tahun 1933, beberapa kondisinya jauh dari layak. Karena itu tidak salah jika pilot Inggris menyebutnya peti mati terbang. Tapi Kepala Sekolah Penerbang Maguwo, Komodor Adisutjipto, cuek saja mendengar ucapan tentara Inggris itu. Kadet-kadet sekolah penerbang itu mencatat prestasi membanggakan. Bukan hanya mencatat zero accident, Suharnoko, Harbani, Soetardjo Sigit dan Moeljono berhasil mengebom tangsi-tangsi Belanda di Salatiga, Ambarawa dan Semarang.

Tahun 1947, Adisutjipto dan rekan-rekannya ditugasi pemerintah RI untuk mencari bantuan obat-obatan bagi Palang Merah Indonesia. Bantuan didapat dari Palang merah Malaya, sementara pesawat angkut Dakota VT-CLA merupakan bantuan dari saudagar di India. Penerbangan dilakukan secara terbuka. Misi kemanusiaan ini telah mendapat persetujuan dari Belanda dan Inggris. Namun tanggal 29 Juli 1947, saat pesawat hendak mendarat di Maguwo, tiba-tiba dua pesawat pemburu Kitty Hawk milik Belanda muncul. Pesawat pemburu tersebut langsung menembaki Dakota yang ditumpangi Tjipto dan rekan-rekannya. Pesawat jatuh dan terbakar, Tjipto dan tujuh rekannya gugur. Hanya satu yang berhasil selamat. Entah apa maksud Belanda melanggar kesepakatan, namun diduga karena ingin membalas serangan kadet-kadet Indonesia yang mengebom tangsi Belanda. Untuk mengenang peristiwa tersebut di dirikan Monumen Ngoto yang terletak di Ngoto, bantul, Yogyakarta yang menjadi monumen perjuangan TNI AU.

Monumen Ngoto Yogyakarta

Beliau dimakamkan di pekaman umum Kuncen I dan II, dan kemudian pada tanggal 14 Juli 2000 dipindahkan ke Monumen Perjuangan di Desa Ngoto, Bantul, Yogyakarta. Adisutjipto baru berumur 31 tahun saat gugur. Keberanian dan semangatnya terus diceritakan dari generasi ke generasi. Memotivasi para penerbang TNI AU untuk melakukan hal serupa. Atas jasa-jasanya pemerintah memberikan gelar Bapak Penerbang Republik Indonesia pada Adisutjipto. Lapangan Udara Maguwo pun diubah namanya menjadi Lanud Adisutjipto.

Lapangan Pancasila Salatiga

Di Salatiga sendiri, sosok Adisutjipto di abadikan pada monumen tugu Pancasila, bersama dua pahlawan lainnya ( Brigjen Sudiarto dan Laksamana Madya Yosaphat Soedarso) yang juga berasal dari Salatiga.

Sumber : Kampoeng Salatiga

…..Segera di toko buku….

————————————————————————–

Active Learning with Case Method

Mempertajam analisis, logikadan daya ingat mahasiswa

Prakata

Sistem belajar aktif (Active Learning Sistems) telah lama diyakini memberi makna yang signifikan, terutama bagi mahasiswa yang sudah dianggap sebagai manusia dewasa dalam proses pembelajaran. Dalam sistem belajar aktif, diakomodir perbedaan setiap individu untuk memiliki pendapat, persepsi maupun langkah-langkah pemecahan masalah yang berbeda antara satu dengan lainnya. Dalam pendidikan sistem konvesional dan tradisional seperti saat ini banyak diterapkan di Indonesia, hal ini tidak mungkin terlaksana karena sistem yang dianut adalah monolog, di mana dosen dianggap sebagai pusat pembelajaran dan pusat keilmuan.

Dalam perkembangan zaman di mana sumber pengetahuan dapat dengan mudah diakses secara on line sistem belajar secara tradisional seharusnya sudah tidak berlaku lagi, terutama bagi sekolah bisnis dan manajemen. Dosen bukan lagi orang yang paling pintar dan dapat bertindak sebagai diktator dalam proses penyerapan pengetahuan dan pengambilan keputusan di segala aspek dalam seluruh organisasi yang berkembang sangat dinamis. Bahkan dalam hal akses terhadap pengetahuan terkini dari sumber terbuka di universitas-universtitas terkemuka di dunia, seringkali mahasiswa lebih lincah, lebih cepat, lebih trampil melakukannya.

Salah satu model pembelajaran yang mengikuti pola belajar aktif adalah sistem pembelajaran dengan menggunakan metoda Kasus (Case Method) yang telah lama diterapkan di Harvard Business School. Dari penerapan metoda pembelajaran ini, Harvard Business School hampir selalu mendapatkan  ranking 1 di dunia dari berbagai cara pemeringkatan seperti Shanghai Jia Tong, Webometrcis, Time Higher Educations, dan sebagainya, karena sistem belajarnya tersebut, tentu di samping mendapatkan mahasiswa terbaik dari seluruh dunia. Ada banyak keunggulan sistem belajar dengan metoda Kasus ini, namun tidak banyak yang menyadarinya, tidak mengetahuinya bahkan masih banyak yang terus menerapkan sistem lama karena terlanjur sukar mengubah kebiasaan lama.

Terdapat perbedaan yang sangat mencolok antara sistem belajar dengan metoda Kasus dengan sistem belajar cara tradisional. Perbedaan ini bukan saja menyangkut pola pikir dan pelaksanaannya, tetapi melibatkan juga fasilitas fisik yang harus dimiliki. Bahkan seringkali dalam buku teks akademis yang digunakan, dicantumkan Kasus dalam lembaran terakhir dari tiap babnya, dan para pengajar serta universitasnya sudah merasa menerapkan sistem belajar dengan metoda Kasus karena itu. Dalam pengertian sistem belajar dengan metoda Kasus yang mengacu pada sistem Harvard, Kasus yang seringkali ada dalam buku tersebut bukanlah Kasus yang sebenarnya, tetapi hanyalah sebuah exercise saja, atau diistilahkan sebagai arcmchair case.  Kasus karangan. Dalam sistem Harvard, Kasus adalah kejadian yang benar-benar terjadi pada masa lalu dan dialami oleh eksekutif dari sebuah organisasi atau perusahaan, di mana Kasus ini dibawa ke kelas untuk pembelajaran, dengan mahasiswa diminta untuk berperan sebagai pengambil keputusan dalam Kasus yang dihadapi. Tentu dalam pembalajaran yang terjadi akan terdapat pertimbangan logika yang berbeda, latar belakang teori yang melandasi keputusan yang diambil juga dapat berbeda, serta berbagai hal lainnya yang bisa jadi berbeda antara mahasiswa satu dengan mahasiswa lainnya dalam pengambilan keputusan atas Kasus tersebut. Di sinilah peranan Kasus sebenarnya yang digunakan sebagai kendaraan dalam pemberian teori maupun pendekatan dalam subjek yang sedang dikaji. Jadi sebelum membahas dan mengambil keputusan dalam Kasus yang didiskusikan, mahasiswa harus membaca Kasus, membaca teks book atau referensi, membaca journal, untuk sampai pada pengambilan keputusan yang terbaik, menurut pikiran dan logika mahasiswa, yang bisa jadi berbeda dengan mahasiswa lainnya. Itulah dinamika penggunaan metoda Kasus dalam studi.

Sejak tahun 2004, MBA ITB di bawah kepemimpinan Prof. Jann Hidajat Tjakraatmadja, telah melakukan revolusi sistem belajarnya dengan mengadopsi sistem Harvard tersebut, melalui pelatihan terhadap dosen-dosennya. Tak kurang para dosen yang pakar di bidang pembelajaran dengan sistem Kasus tersebut mengubah pola pikir dan proses belajar di MBA ITB dengan memberi pelatihan intensif tentang metode studi Kasus tersebut kepada seluruh dosen MBA ITB, di antaranya Prof. Lambros Karavic (Victoria University, Melbourne), Prof. James Erskine (Richard Ivey Business Schoo & Managementl, Kanada), Dr. Hadi Satyagraha, Prof. Ho Den Huan (Nanyang University, Singapore) dan sebagainya. Dari hasil revolusi yang dilakukan, telah didapatkan hasil yang nyata, di antaranya MBA ITB telah dua kali masuk sebagai finalis L’oreal Business Case Competition yang diadakan di Paris bagi mahasiswa seluruh dunia. Di mana dari seluruh Perguruan Tinggi di dunia dibagi menjadi 8 zona dan Indonesia berada di Zona Delapan (Asia Selatan, Asia Tenggara dan Asia Timur) bersama-sama dengan Universitas top seperti berbagai Universitas dari Singapura, Thailand, India, Jepang dan sebagainya. Jumlah peserta dalam sekali business case competition di selenggarakan, melalui tahap online sebelum final di Paris tersebut, tidak kurang dari 220.000 mahasiswa dari 180 perguruan tinggi terbaik di seluruh dunia. Namun nyatanya  MBA ITB berhasil menjadi finalis dua kali yaitu di tahun 2006 dan 2009 di Paris tersebut.

Untuk sharing bagaimana sistem belajar dengan metoda Kasus itu dilaksanakan dengan benar, buku ini disusun agar sekolah bisnis dan manajemen di Indonesia dapat maju bersama-sama membangun bangsa. Buku ini disusun secara simpel dan praktis, dengan pengalaman penulis menjadi peserta pelatihan terbaik dari Prof. James Erskine dan juga mengambil pelajaran bahwa metoda yang diajarkan adalah benar, berdasarkan kemenangan kedua kelompok mahasiswa MBA ITB dalam kompetisi internasional di Paris tersebut, di mana saat itu penulis menjadi Ketua Program studi MBA ITB (2006-2009) serta selama 10 tahun mengajar MBA ITB dengan metode studi Kasus tersebut.

Terima kasih penulis sampaikan kepada Prof. Jann Hidayat dan Prof. Surna Tjahja Djajadiningrat yang mengijinkan penulis untuk mengembangkan segala kreativitas saat menjadi ketua Program Studi MBA ITB, Prof. Utomo Sarjono Putro, kolega yang menyumbangkan ide debat, Drs. Herry Hudrasyah, MA, kolega dosen dan soul mate dalam berbagai ide inovasi yang diterapkan, karena hanya beliau lah yang mengerti dan mampu merepresentasikan ide yang ada menjadi sesuatu yang nyata, dan selalu lebih baik, Dr. Wawan Dhewanto, Dr. Yus Sunitoyo, Pak Efson, Hani, Maya Bob, Amak, dan Ricky.

 Semoga bermanfaat bagi semuanya dan majulah Indonesia.

 Bandung, 2014

 Prof. Dermawan Wibisono

..Negarawan ….

Dear all, very nice article and examples for us

Regards,

Prof. Dermawan Wibisono
_____________

Sejawat Guru Besar ITB yang sangat sangat banggakan. Berikut adalah email
yang saya terima dari mailing list Alumni Fisika ITB. Isinya sangat
relevan saat kita membicarakan mengenai institusi dan bangsa kita ke
depan.

Prof. Satria Bijaksana
=====================

Leiden is lijden, memimpin adalah menderita, sebuah pepatah kuno
belanda yang disampaikan oleh Mr. Kasman Singodimedjo untuk menggambarkan kesulitan ekonomi yang dialami oleh pimpinan perjuangan saat itu. Mohammad Roem dalam Karangan berjudul “Haji Agus Salim, Memimpin adalah Menderita  (Prisma No 8, Agustus 1977) mengisahkan keteladanan Agus
Salim sebagai pemimpin yang mau menderita.

Kasman dan Roem melihat H. Agus Salim hidup dengan keadaan yang sangat
sederhana, penuh kekurangan dan terbatas secara materi. Padahal H Agus
Salim adalah tokoh dan pimpinan perjuangan kala itu yang juga memimpin
Syarekat Islam yang sangat berpengaruh dalam pergerakan bangsa ketika itu.

H Agus Salim menjalankan prinsip leiden is lijden, memimpin adalah
menderita. Boro-boro minta naik gaji, berpikir soal gaji pun tidak pernah
ada dalam benak H Agus Salim.

Sungguh memprihatinkan ketika sejumlah kepala daerah melapor ke Presiden
SBY telah mengemban tugas yang tidak ringan, namun pendapatan yang mereka
terima masih kecil. Mereka meminta kepada presiden, agar gaji mereka dapat
disesuaikan dengan tugas yang mereka jalani.

“Terus terang, waktu saya mengadakan pertemuan dengan kepala daerah,
mereka dengan terus terang dan niat baik berkata pada saya. Pak presiden,
kami (kepala daerah) ini mengemban tugas yang tidak ringan, tapi gaji kami
kecil,” ujar SBY di Istana Negara, Jakarta, Rabu kemarin.

Menurut SBY, para kepala daerah ini mulai dari tingkat Gubernur, Walikota
dan Bupati meminta adanya penyesuaian.

Tidakkah para pejabat daerah ini berkaca pada apa yang sudah ditunjukkan
pahlawan nasional Haji Agus Salim. Dia lahir dengan nama Mashudul Haq atau
pembela kebenaran. Dalam pemerintahan RI, dia beberapa kali duduk dalam
kabinet, sebagai menteri muda luar negeri Kabinet Sjahrir II (1946), dan
kabinet Sjahrir III (1947), menteri luar negeri kabinet Amir (1947),
menteri luar negeri kabinet Hatta (1948-1949).

Menurut catatan harian Prof Schermerhorn, pemimpin delegasi Belanda dalam
perundingan Linggajati, Agus Salim adalah orang yang sangat pandai.
Seorang jenius dalam bidang bahasa. Mampu bicara dan menulis dengan
sempurna sedikitnya dalam sembilan bahasa. Hanya satu kelemahan dari Haji
Agus Salim, yaitu hidup melarat.

Dalam catatan M Roem, kehidupan Haji Agus tidak hanya sederhana, bahkan
mendekati miskin. Keluarga Haji Agus Salim pernah tinggal di Gang Lontar
Satu di Jakarta. Kalau menuju ke Gang Lontar Satu, harus masuk dulu ke
Gang Kernolong, kemudian masuk lagi ke gang kecil. Bisa dibayangkan, mana
ada pejabat sekarang yang tinggal di “cucu” gang.

Haji Agus Salim tidak pernah berpikir soal rumah mewah dan megah layaknya
pejabat sekarang. Dulu setiap enam bulan sekali dia punya kebiasaan,
mengubah letak meja kursi, lemari sampai tempat tidur. Kadang-kadang kamar
makan ditukarnya dengan kamar tidur.

Haji Agus Salim berpendapat dengan berbuat demikian, dia mengubah
lingkungan, yang manusia sewaktu-waktu perlukan tanpa pindah tempat atau
rumah. Apalagi pergi istirahat ke lain kota atau negeri. Tidak ada dalam
pikiran Haji Agus Salim, punya vila seperti para pejabat sekarang.

Mendengar cerita tentang Haji Agus Salim itu, tidakkah para pejabat yang
minta naik gaji malu. Haji Agus Salim, salah satu pendiri republik ini,
betul-betul menerapkan istilah yang disampaikan Kasman Singodimedjo saat
bertamu ke rumahnya, leiden is lijden, memimpin itu menderita. Artinya,
memimpin itu tidak untuk foya-foya.

Potret memimpin adalah menderita juga terlihat begitu jelas pada sosok
Bung hatta. Proklamator ini juga menjalani hidup yang sederhana. Bung
Hatta pernah mengalami kesulitan untuk membayar tagihan listrik, telpon
dan air karena gaji pensiunnya tak cukup untuk membayar semua tagihan itu,
sehingga Ibu Rahmi Hatta harus mengirim surat pada Bung Karno yang pada
saat itu masih menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Bahkan,
hingga ajal menjemput, Bung Hatta tidak kesampaian memiliki sepatu merk
Bally yang begitu diidam-idamkannya.

Begitulah, Seorang pemimpin yang memahami hakikat leiden is lijden adalah
manusia yang siap hidup untuk memberikan pengabdian penuhnya kepada negara
atau komunitas yang dipimpinnya. Seorang pemimpin yang memahami hakikat
leiden is lijden adalah manusia yang mampu bertindak benar diantara
kesulitan-kesulitan dan masalah berat yang terhidang diatas meja
pengabdiannya.

Pemimpin yang memahami hakikat Leiden is lijden adalah manusia yang
ditakdirkan untuk memimpin, terlahir untuk memimpin karena muncul dari
rahim persada yang dialiri darah kebaikan dan tumbuh dalam ruang lingkup
moral budaya yang agung.

Pemimpin negarawan

Kepemimpinan yang ditunjukkan oleh H. Agus Salim dan Bung Hatta diatas
adalah kepemimpinan yang dijalani oleh negarawan sejati. Tokoh tersebut
menjadi pemimpin adalah berawal dari keterpanggilan untuk memimpin bangsa
dan bukan karena panggilan profesi. Sehingga kekuasaan bagi mereka adalah
sarana untuk mendatangkan kesejahteraan, kemakmuran dan kedamaian bagi
rakyat.

Dalam kondisi berbangsa dan bernegara saat ini, faktor keterpanggilan
karena profesi lebih kuat merasuki calon pemimpin bangsa ini. Mungkin pada
awalnya pemimpin kita bertujuan mulia untuk memberikan perubahan kearah
yang lebih baik. Namun, sejalan dengan apa yang dikatakan Lord Acton
kekuasaan yang mutlak rentan disalahgunakan (power tend to corrupt,
absolute power corrupt absolutely). Godaan materi dan kekuasaan yang kuat
serta diperburuk oleh moral yang buruk membuat pemimpin berbagai tingkatan
tergoda menyalahgunakan kekuasaannya untuk korupsi dan tindakan yang
merugikan negara lainnya. Mereka meraih dan mempertahankan kekuasaan
dengan segala cara dengan mengorbankan manusia lainnya.

Kita akui, menjadi pemimpin negara sebesar Indonesia memang tidaklah
mudah. Lao Tzu (500 SM)mengatakan “memerintah negara besar adalah mirip
dengan menggoreng ikan kecil†, apabila sering dibolak balik ikannya akan
hancur menjadi bubuk. Berbeda dengan menggoreng ikan besar yang meskipun
dibolak balik ikannya tetap utuh untuk menggambarkan memerintah negara
yang kecil.

Untuk mampu memeirntah dinegara sebesar Indonesia ini memang dibutuhkan
negarawan yang mampu memaknai bahwa memimpin adalah menderita. Indonesia
adalah negara yang majemuk yang terdiri dari berbagai macam kepentingan.
Pemimpin seperti itu adalah pemimpin yang rela mengorbankan waktu dan
pikirannya demi bangsa dan negaranya. Pemimpin yang tidak memandang latar
belakang politik dan agamanya. Pemimpin yang memberlakukan adagium “
ketika tugas negara dimulai, maka kepentingan politik berakhir†. Artinya
seorang pemimpin atau pejabat negara harus berkonsentrasi untuk mengurus
negara dan mampu menentukan prioritas antara kepentingan negara dengan
kepentingan golongan dan pribadi.

Kepemimpinan inilah yang telah diperlihatkan oleh H. Agus Salim, Bung
Hatta dan lainnya. mereka siap menderita demi kepentingan bangsa dan
negara. Lalu, apakah calon pemimpin yang saat ini berlomba-lomba untuk
memenangkan kursi sebagai penguasa dengan mengiklankan diri secara gencar
di media massa memahami hakikat memimpin adalah menderita ?

Sudah selayaknya sifat-sifat kenegarawanan para pemimpin kita terdahulu
perlu diinternalisasikan ke dalam tiap diri calon-calon pemimpin kita saat
ini. Bangsa ini butuh keteladanan dan sikap-sikap kenegarawanan yang lain.
Mudah-mudahan kita selalu mampu mengambil hikmah dari para
pemimpin-pemimpin kita di masa lalu, dan menjadi inspirasi bagi masa depan
bangsa.

Anda mungkin belum melihat pemimpin seperti ini, tapi percayalah pemimpin
seperti ini terus ada, terlahir disetiap generasi hanya saja untuk
menemukannya saya dan anda harus bersikap dewasa dan objektif dalam
melihat dan menilai seseorang. Jangan melihat seseorang seperti melihat
dari lubang pintu, memicingkan sebelah mata. Tapi mundurlah selangkah dan
buka kedua mata, maka saya dan anda akan melihat dunia seluas samudera.

Memahami Jokowi dengan kaca mata Servant-Leadership

Dermawan Wibisono

Jokowi tiba-tiba menyeruak di antara kejenuhan politik dan kerinduan akan datangnya satrio piningit yang dinanti sejak 1998. Publik bertanya-tanya terhadap gaya kepemimpinanya. Apakah ini faktor kebetulan atau ketidaksengajaan yang dia temukan saat memimpin kota Solo, yang diteruskan ke Jakarta. Ataukah ini implementasi dari pengendapan pengalaman masa kecil sampai saat mahasiswa, yang berangkat dari serba kekurangan dan dapat dia refleksikan saat menjadi pemimpin (kacang yang tak lupa pada asal-usulnya). Atau justru inilah representasi teori kepemimpinan baru yang mulai populer di dunia akademis saat ini, servant-leadership.

Walaupun tergolong baru di jagad perkuliahan, servant-leadership, sebenarnya dimulai spiritnya sejak jaman Rasulullah. Prinsip melayani dari seorang pemimpin, sudah diciptakan oleh Rasul pada tahun 500 an Masehi. Sudah 1.500 tahun yang lalu. Namun prinsip servant-leadership ini kemudian terkubur dengan timbulnya dinansti-dinasti kerajaan Romawi, Perancis, Belanda Inggris, Jepang, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, dan hampir seluruh dunia, yang mengenal pemimpin mereka adalah raja. Jadi mulai saat itu, keadaan berbalik. Raja adalah orang yang harus dilayani, bukan lagi yang harus melayani. Oleh perkembangan ilmu manajemen, kemudian timbullah apa yang dinamakan servant-leadership oleh Robert K. Greenleaf pada tahun 1960 an. Terminology servant- leadership diperkenalkannya pada tahun 1970 dalam publikasinya yang berjudul The Servant as Leader.  Dia mendefinisikan the servant-leader sebagai is servant first…it begins with natural feeling that ones wants to serve, to serve first. Then conscious choice brings one to aspire to lead. That person is sharply different from who is leader first, perhap because of the need the assuage an unusual power drive or to acquire material possessions….The leader-first and the servant first are two extreme types. Between them there are shadings and blends that are part of infinite variaety of human nature.

Jadi mengamati perlikaku dan gaya kepemimpinan Jokowi, ini tampaknya adalah praktik rill jaman sekarang tentang servant–leadership yang selama ini hanya dipahami sebatas konsep, teori dan contoh-contoh abtract yang ada di dunia. Dilihat dari gaya bicaranya yang tak formal yang tak membuat jarak antara masyarakat dan dirinya, pakaian yang ‘asal nempel’ (tak harus model safari yang banyak kantongnya-yang dulu amat populer, sehingga orang menyindir bahwa harus banyak kantongnya untuk menaruh upeti dari yang dikunjunginya), gaya non protokoler yang blusak-blusuk ke tempat permasalahan timbul – seperti dicontohkan oleh Khalifah Umar yang harus memanggul beras di waktu malam ketika mengetahui salah satu rakyatnya kelaparan, tidak silau oleh kenyamanan dengan inspeksi menggunakan mobil mewah seperti biasa dilakukan para pemerhati dan pengamat-menuliskan penderitaan rakyat dari balik hotel bintang lima, dan sebagainya.

Servant leadership fokus utamanya pada pertumbuhan dan kesejahteraan masyarakat dan komunitas di mana dia berada. Sedangkan traditional-leadership biasanya melibatkan pada akumulasi dan penggunaan kekuatan oleh seseorang pemegang kekuasaaan pada puncak piramid. Servant- leadership sangat berbeda dalam konsep dan pelaksanaanya di lapangan, karena titik beratnya lebih pada sharing kekuasaan dan kekuatan bukan mengkooptasinya dan memusatkan pada dirinya semata. Meletakkan kepentingan orang lain sebagai prioritas pertama dan keinginan untuk membantu orang untuk mengembangkan dan berkinerja setinggi mungkin.

Stephen Covey menyatakan bahwa servant- leadership akan tumbuh lebih cepat dari periode sebelumnya, dan salah satu cara yang bisa anda lakukan adalah dengan memberdayakan orang yang anda pimpin. Berbeda dengan jenis leadership yang lain, yang mulai dengan mengendalikan atau merangkai kekuasaan, servant- leadership pertama, bekerja dengan membangun foundation atau dasar-dasarnya dengan mendengarkan dengan lebih seksama suara masyarakat untuk mengetahui kebutuhan dan konsern orang lain. Oleh karena itu tidak heran Jokowi sampai mengadakan pertemuan lebih dari 50 kali sebelum memindahkan pedagang kaki lima di Solo dan mengadakan pertemuan lebih dari 30 kali sebelum memindahkan pedagang Tanah Abang, yang sebelumnya meruapakan kekuatan non formal, sehingga dianggap mitos mampu membenahi kesemrawutan yang sudah turun temurun. Kedua, servant-leadership bekerja dengan penuh pengertian untuk membantu  membangun konsensus dalam masyarakat. Fokus dari servant- leadership adalah sharing informasi, membangun visi bersama, self manajemen, ketidaktergantungan pada tingkat yang lebih tinggi, belajar dari kesalahan, encouraging input kreatif dari tiap anggota organisasi atau masyarakat dan selalu bertanya terhadap asumsi yang diambil.

Lebih lanjut, menurut Larry Spears, servant-leadership  adalah menyediakan framework di mana orang akan saling membantu untuk meningkatkan dan memperbaiki tatanan serta bagaimana kita memperlakukan mereka. Servant-leadership merupakan harapan baru dan panduan terkini untuk pengembangan manusia dalam era baru untuk menghasilkan organisasi yang lebih peduli dan lebih baik. Pada akhirnyadimilikinya spirit dari servant-leadership di level individu, organisasi maupun masyarakat lah yang akan membentuk harapan lebih baik bagi masa depan kemanusiaan.

Menurut Ken Keith, CEO dari the Greenleaf Center for Servant Leadership di Asia, servant-leadership adalah etical, practical dan meaningful. Disebut etical karena menyangkut tentang pelayanan kepada sesama bukan pemanfaatan atau ekspoitasi terhadap manusia lain.  Practical karena menyangkut aspek praktis yang dapat diterapkan dalam mengidentifikasi dan menemukan kebutuhan orang, pelanggan atau masyarakat. Meaningful karena servant-leadership membantu kolega, organisasi atau masyarakat untuk tumbuh, memperkaya pelayanan mereka terhadap pihak lain dan berkontribusi pada penciptaan nilai tambah bukan yang pada jangka panjang merupakan representatif terhadap kepedulian untuk mencapai kemakmuran dan dunia yang sustainable.

Jadi kembali kepada pertanyaan di paragraf awal, dapat ditarik hipothesis bahwa gaya, model, cara kerja, sistem yang dilakukan oleh Jokowi saat ini adalah perpaduan antara pengalaman masa lalunya sebagai orang di pihak kurang beruntung dan penerapan model kepemimpinan servant-leadership, yang sudah diwariskan sejak jaman Rasul, namun sebagian dari kita hanya menyadarinya sebatas bacaan saja, tanpa pernah menerapkanya dalam kehidupan riil. Jika hypothesis ini benar, maka akan sulit bagi pihak lain untuk menirunya. Karena banyak orang yang memiliki pengalaman pahit sejak masa kecil, namun tidak pandai menarik pelajaran darinya. Bahkan seringkali orang sukses yang berangkat dari masa susah, justru ingin mengubur masa lalunya sedalam-dalamnya. Atau justru menarik keuntungan sebanyak-banyaknya, agar sanak keturunannya tidak mengalami pengalaman sepahit yang dia rasakan. Apalagi orang sukses yang berangkat dari keluarga sukses sebelumnya. Biasanya tidak ada ‘penjiwaan’ yang tulus terhadap penderitaan yang tak pernah dirasakannya. Saya memiliki seorang senior yang dengan jujur pernah berkata kepada saya, dan selalu saya ingat kalimat beliau:” ..Terus terang, jujur saya katakan, saya tidak pernah merasakan susah, tidak tahu rasanya orang susah, dan tidak tahu bagaimana pedihnya tidak punya uang, karena pengalaman saya sejak kecil tidak pernah berkaitan dengan hal tersebut.” Sebuah pengakuan yang jujur dan benar, bagi banyak pemimpin yang ada di Indonesia saat ini.

Akan halnya hypothesis kedua, bahwa penerapan servant-leadership ala Jokowi, bukanlah semata-mata copy paste terhadap sebuah metodology akademis ke alam praktis. Ini perlu penerapan dengan hati dan perlu ‘bakat’ besar dan dalam untuk berlaku sebagai servant-leader. Karena servant-leadership hampir mengubah segalanya, sejak dari positioning yang diambil sampai tahap implementasi menyeluruh. Telunjuk tangan tak lagi aktif, suruh sana, suruh sini. Membuka lebar-lebar telinga terhadap suara masyarakat. Tidak mendahulukan, apa yang saya terima dari aktivitas ini, sehingga Jokowi tidak mengambil gaji agar mentalnya tak teracuni dengan aspek finansial semata, dan menempatkan dirinya duduk sama rendah berdiri sama tinggi dengan masyarakat, dengan misalnya tidak lagi membuka open house, di mana masyarakat sungkem dan pejabat serta pengusaha setor muka kepadanya.

Sebagai penutup, bergembiralah para pengajar sekolah bisnis dan manajemen, bahwa kini tak lagi terpaksa memberi contoh abstrak atas teori yang dipelajari, tapi semuanya nyata di depan mata. Inilah titik tolak dan contoh dari proses penerapan servant-leadership yang masih akan terpajang setidaknya sampai tahun 2014. Bahkan mungkin akan makin banyak contoh dan aktor lain akan berperilaku serupa. Setidaknya, masyarakat akan makin beruntung dengan timbulnya fenomena ini dan optimisme masyarakat menuju negara ke 4 terbesar di dunia pada tahun 2025 makin menggelora.

 

Penulis saat ini sedang menjadi visiting professor di Universitas Utara Malaysia

Profesor SBM-ITB