Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘ahok’

Di depan MIT, Cambridge

Di depan MIT, Cambridge

Revolusi Karakter Bangsa

Oleh
Prof. Dr. Ir. Dermawan Wibisono, M.Eng

Visiting Professor UUM, Kedah, Malaysia

Professor SBM ITB, Bandung, Indonesia

Dalam beberapa hari ini, istilah ‘revolusi mental’ menjadi hit dalam berbagai pemberitaan media masa karena terkait dengan Pemilu yang sebentar lagi akan dilakukan, dan perbedaan sudut pandang akan pengertian kata itu yang masih samar bagi sebagian masyarakat. Kita lihat dalam struktur kebutuhan manusia, telah lama dirumuskan oleh Abraham Maslow (1954) dalam bukunya Motivation and Personally, bahwa kebutuhan manusia terbagi menjadi lima tingkatan: kebutuhan fisik (sandang, pangan, papan), kebutuhan keamanan (safety), kebutuhan sosial (love/ belonging), kebutuhan pencapaian (esteem), dan aktualiasi diri (self actualization). Dalam sebagian masyarakat saat ini, terjadi pemenuhan kebutuhan yang stagnan dan mentok pada pemenuhan kebutuhan level 3 saja dan paling mentok ke tingkat kebutuhan ke empat, yang skalanya makin lama makin membesar, tetapi tidak pernah beranjak ke level lebih tinggi lagi yaitu pemenuhan kebutuhan aktualiasi diri. Sehingga dengan gamblang setiap hari media massa dihiasi dengan kasus-kasus impor sapi, Hambalang, Bank Century, Gubernur Banten, SKK Migas dan sebentar lagi kasus Bupati Bogor. Kasus-kasus yang tampaknya bukan akan berkurang tapi terus bertambah, sehingga seolah-olah menjadi hal yang biasa, melihat para terdakwa masih bisa tersenyum sumringah, melambaikan tangan kepada segenap wartawan dan masyarakat, dan mengenakan baju batik yang bagus di kursi pengadilan. Melihat perubahan perilaku seperti ini, yang tidak lagi merasa sangat malu sebagai tertuduh, datang ke pengadilan dengan menutup mukanya yang sedih tak terkira akan aib yang telah dibuatnya yang telah mencoreng martabat dan harga dirinya, keluarganya, masyarakat pemilihnya dan institusi tempat bernaungnya. Hal semacam inilah yang tampaknya dimaksudkan sebagai perlunya sebuah revolusi mental. Perubahan yang diperlukan besar-besaran dan sangat mendasar dalam sikap mental sebagian masyarakat kita, yang tidak bisa lagi dilakukan perlahan-lahan, dengan evolusi, tapi perlu revolusi yang segera, massive dan dalam berbagai level.

Dari mana kita mulai?

Mengingat Indonesia termasuk dalam masyarakat paternalistik, yaitu masyarkat yang suka mencontoh atasannya atau panutannya, maka dimilikinya pemimpin yang memiliki karaktersitik aktualisasi diri ini diharapkan lebih efektif untuk melakukan perubahan besar ini. Telah hidup dalam keyakinan di masyarakat, bahwa di Indonesia, dipimpin orang yang benar saja belum tentu orang akan mengikutinya dengan benar, apalagi dipimpin orang yang salah dan suka menyelewengkan kekuasan, mereka akan lebih menyeleweng lagi. Karakteristik lain yang dimiliki masyarakat Indonesia adalah bahwa orang Indonesia sebagian besar termasuk dalam orang-orang audio visual, yaitu orang yang lebih mudah belajar dengan melihat. Jadi di sini akan sangat jarang ditemui, orang-orang di stasiun kereta api membawa novel, buku bacaan, atau menggunakan gadgetnya untuk men-download bahan bacaan. Setelah naik kereta, langsung duduk, diam dan membaca, seperti ditemui di masyarakat, Inggris, Jepang dan negara maju lainnya. Mereka cenderung akan ngobrol, download game, chatting, sehingga saat perjalanan kereta dari Jakarta-Surabaya, mereka akan saling kenal satu gerbong bahkan memiliki foto diri (selfie) dari berbagai posisi dan dengan berbagai orang yang begitu tiba sudah diupload ke media massa. Masyarakat kita adalah masyarakat yang suka ngobrol. Membaca bukan merupakan kebutuhan diri, apalagi menulis. Sehingga teks books yang dikarang oleh guru atau dosen pun menjelang pensiun, mungkin cuma 1 buah untuk memenuhi kriteria Depdikbud. Bukan merupakan proses aktualisasi diri, tetapi hanya sekedar memenuhi kewajiban. Jadi tidak heran kalau dalam ujian nasional baru-baru ini, untuk soal yang diujikan pun materinya dicontek dari teks book bahasa asing, tanpa penulisan referensi yang benar.

Oleh karena itu revolusi mental atau lebih tepatnya revolusi karakter ini mesti dimulai dari pendidikan dasar. Karena saat usia dasarlah terbentuk logika dan pengembangan pribadi yang paling pesat terjadi dalam usia seseorang. Saat ini di sekolah sudah terbentuk lingkungan yang sangat transaksional, yang salah satunya dengan dikepungnya sekolah oleh aneka bimbingan belajar. Guru di sekolah, ‘tidak lagi merasa terhina’ kalau muridnya ikut bimbingan belajar. Sekalipun itu terjadi di sekolah favorit di kota itu. Bahkan banyak guru yang berterima kasih karenanya karena tanggung jawabnya sudah diambil oleh bimbingan tes. Bagi mereka, para guru itu, hal seperti ini bukan lagi ‘penghinaan’ karena ketidakmampuan dirinya menerangkan materi dengan jelas di kelas. Bahkan banyak guru yang berperanan menjadi agent. Dengan cara menerangkan dengan tidak enak dan tidak jelas di kelas, jika mau jelas dan mendapatkan soal-soal yang nantinya mirip dengan yang akan diujikan, ikutlah bimbingan test sang guru tersebut. Hal seperti ini yang mungkin jika terjadi di jaman Ki Hajar Dewantoro, sang gurunya sudah dipecat atau minimal di’balang sandal’. Murid-muridnya pun sudah sampai tahap ‘trasaksional’ akut dalam mengerjakan pekerjaan sekolah. Merasa lebih baik ayah atau ibu yang mengerjakannya, atau membeli tugas merangkai janur di pasar, dari pada membikin sendiri. Sudah capai, makan waktu untuk main game, dapat nilai butut lagi. Jadi belajar pun bukan lagi dimaknai sebagai sebuah proses yang akan memperkaya ketrampilan dan pengetahuannya. Di level yang lebih tinggi, mahasiswa banyak yang mengerjakan tugas yang diberikan dengan meng-copy paste tugas kakak kelasnya, mencari jawab atas pertanyaan tahun sebelumnya, bukan lagi mengerjakan sendiri dengan penuh effort dan antusiasme, dengan mencoba memahami materi yang diberikan sebisa mungkin. Dosen atau guru yang memberikan tugas pun banyak yang sudah beranjak dari tujuan semula pendidikan. Memberikan tugas semata-mata untuk membunuh waktu, untuk menggantikan ketidakhariannya karena asyik dengan pekerjaannya di tempat lain, atau sekedar ingin ‘ngerjain’ murid-muridnya. Sehingga saat tugas dikumpulkan, bukan lagi berkeinginan untuk memeriksanya dengan melihat kekurang mengertian siswa pada aspek yang diajarkannya, sehingga mendapatkan rencana perbaikan pada proses pengajarannya, tapi langsung ditumpuk di gudang. Transaksi yang sempurna. Sebuah pertemuan demand dan supply yang klop.

Melihat proses yang terjadi dan sudah meluas di masyarakat, di mana dipercaya bahwa segala sesuatu itu tergantung dari the man behind the gun, maka saat ini diperlukan pengembangan jenis tes yang bisa mengetahui karakteristik orang-orang yang memegang garda depan panduan kemajuan bangsa, sang guru. Karena aspek trasnsaksional ini bisa jadi akan mengeram pada diri seseorang (embedded). Tidak berubah, walau social ekonomi orang yang bersangkutan telah berubah. Saat ini sudah mulai digunakan test garis tangan pada beberapa perusahaan sebagai pelengkap bagi test psikologi untuk penempatan karyawan. Apakah seseorang itu cocok di tempatkan di bagian marketing, produksi, sumber daya manusia, atau di bagian lain. Test ini dilakukan dengan tujuan untuk menghilangkan pemborosan waktu belajar, menempatkan orang yang tepat dan menciptakan keriangan dalam suasana kerja. Seperti kita ketahui, orang-orang yang ‘bakatnya’ adalah introvert tentu tidak akan nyaman jika ditempatkan di bagian pemasaran. Demikian juga orang yang extrovert dan cenderung hiperaktif, sungguh akan tersiksa sekali kalau harus bekerja di atas meja sepanjang hari, karena kebutuhan dasarnya adalah ketemu orang dan bergaul. Untuk kebutuhan tes garis tangan, diperlukan data base yang sangat banyak dan akurasi yang tinggi, sejauh mana hasil test tersebut benar-benar merepresentasikan sosok yang benar. Sehingga bisa mendukung manajemen untuk melaksanakan prinsip the man in the right place on the right time . Dengan melakukan tes jenis ini, jika akurasinya sudah presisi, diharapkan benar-benar dapat dipilih orang yang betul-betul cocok sebagai pendidik seperti di tahun 1950 an. Saat kita mendapati sebagian besar guru-guru kita diseleksi oleh Belanda dengan sistem seleksi amat ketat sehingga guru pun saat itu dipanggil dengan hormat oleh masyarakat sekitarnya sebagi ‘Mantri Guru’. Sebutan guru yang setara dengan dokter atau mantri saat itu. Jiwa pendidik sangat berbeda dengan jiwa pedagang, bahkan ada sebagian kalangan yang menyatakan sangat bertolak belakang. Hasil riset di Australia menyatakan bahwa sangat sedikit usaha yang sukses besar yang ditangani oleh seorang dosen, sekalipun itu dosen entrepreneur. Hal ini disebabkan untuk sukses pada kedua bidang itu, dibutuhkan penanganan yang intens, full time, tidak bisa setengah-setengah dan saling dipertukarkan. Itu riset di Australia, di mana segala sesuatunya sudah mapan pada jalurnya. Dalam system operation procedure yang banyak ‘bolongnya’ seperti di indonesia hampir mustahil kedua kutub itu menyatu pada diri seseorang, kecuali pada orang-orang extra ordinary seperti Pak Iskandar Alisyahbana almarhum.
Jargon guru yang di Jawa merupakan akronim ‘digugu lan ditiru’ (dipatuhi dan dicontoh) kemudian mulai tahun 1970 an bergeser menjadi ‘wagu tur kuru’ (tidak pantas dan kurus kering) karena penghargaan yang minim pada tenaga pendidik saat itu dan mulai bergesernya nilai-nilai di masyarakat yang ditumbuhkan oleh aspek komersialisasi pada segala hal saat itu. Tahun-tahun sekarang lah mulai kita lihat hasil dari proses 30-40 tahun lalu itu. Yaitu timbulnya semangat transaksional, hedonism, tidak respek terhadap pendidik, yang merupakan konsekuensi logis dari perubahan karakter kedua belah pihak yang memang didisain ke arah sana.
Jadi saat ini kita seperti terkaget-kaget melihat sosok pimpinan seperti Ibu Risma-Walikota Surabaya, Pak Nurdin Abdullah-Bupati Bantaeng, Pak Joko Widodo, Pak Basuki Cahaya Purnama, karena seolah-olah kita tiba-tiba melihat makhluk dari planet lain. Sehingga kita merasa they are out of the box. Karena sudah lama kita berada di dalam box yang gelap tersebut. Sehingga muncul gumaman: hari gini walikota pegang sapu lidi..? hari gini gubernur blusukan, itukan pencitraan, dsb. Sebagian masyarakat kita terbelah menjadi dua: yang bersikap skeptis, curigaan, menuduh segala sesuatu ada pamrihnya, pencitraan jelang pemilu, dan sebagainya, karena sebagian masyarakat ini tumbuh dan berkembang dalam susasana seperti itu, negative thingking dan diliputi mental komersialisasi. Sehingga penilain terhadap orang lain selalu diidentikan dengan tata nilai yang dipegang oleh dirinya sendiri. Setengah masyarakat yang lain memahaminya sebagai pengejawantahan teori aktualisasi diri dari Abaraham Maslow tersebut di atas.

Dari sisi kajian akademis, perkembangan teori Servant Leadership (Robert K. Greenleaf, 1970), saat ini mendapatkan contoh nyata seperti saat dulu kita memiliki pemimpin seperti Bung Hatta yang untuk beli sepatu Bally pun tak pernah kesampaian sehingga guntingan koran bergambar sepatu itupun masih beliau simpan sampai sekarang atau Haji Agus Salim yang tak pernah punya rumah yang bagus, atau dalam contoh ektrim seperti Mahatma Gandhi yang hidup dengan dua lembar kain tersampir di badannya dan menggelandang ke sana kemari atau Ibu Theresia di India sana. Jadi teori servant leadership ini yang praktiknya sudah ada sejak Khalifah Umar memimpin masyarakat Arab, yang tersohor ceritanya ketika beliau harus menggendong sekarung gandum, akibat dari ‘blusukannya’ beliau ketemu dengan wanita yag kelaparan, dan beliau tahu persis konsekeunsi bagi pemimpin yang membiarkan rakyatnya kelaparan tersebut, saat ini, seakan menimbulkan gairah dan eforia baru di masyarakat.

Sebagai penutup, teori kepemimpinan servant leadership pada dasarnya adalah pengejawantahaan dari level ke lima kebutuhan Maslow, aktualisasi diri, yang dalam pelaksanaannya di Indonesia saat ini membutuhkan revolusi karakter masyarakat. Revolusi ini harus dimulai dari pucuk pimpian, karena masyarakat Indonesia yang paternalistic, dalam berbagai level. Tidak akan efektif jika hanya seorang diri melakukan revolusi, tetapi diperlukan pemahaman yang sepadan dan pelaksanaan yang riil dari Presiden, Wakil Presiden, Menteri, DPR/ DPRD, Gubernur, Walikota, Bupati, lembaga pengadilan, dan sebagainya. Seperti sering kita pelajari, bahwa tegak tidaknya sebuah Negara akan tergantung dari 3 sokoguru penyusunnya, guru, dokter dan hakim. Oleh karena itu revolusi ini harus dimulai dari tiga soko guru berdirinya sebuah bangsa. Pertama adalah penciptaan guru-guru yang memiliki karaktersitik pendidik tulen karena para beliau ini yang akan menyiapkan kecerdasan intelektual, emotional dan spiritual anak-anak bangsa. Kedua adalah para penegak hukum, yang menjaga kesehatan jiwa masyarakat, di mana di Negara Australia, Eropa maupun Amerika Serikat, orang-orang hukum inilah yang dipersyaratkan memiliki intelektual tertinggi karena diperlukan kecerdasan intelektual dan emotional dalam memutuskan berbagai perkara agar mendapatkan putusan yang adil. Ke tiga adalah perlindungan dan penciptaan profesi dokter yang memiliki spirit melayani bukan lagi transaksional, sebagai penjaga kesehatan fisik bangsa, bukan lagi kepanjangan tangan dari perusahaan farmasi.
Akankah revolusi mental atau revolusi karakter bagi bangsa ini akan berhasil? kita tunggu hasilnya karena ini merupakan pembangunan proses yang melibatkan banyak orang dalam berbagai level dan dalam waktu yang lama. Tahun 2025 diprediksi Indonesia akan menjadi the big four countries karena limpahan usia produktif dalam jumlah besar. Hal ini jika dan hanya jika dapat terjadi, kalau usia produktif yang kita miliki tersebut memiliki karakter yang benar. Jika tidak terdapat karakter yang benar, maka yang terjadi adalah chaos. Karena usia produktif dengan karakter yang benar akan menimbulkan simbisosis mutualisme saling menguatkan untuk membangun kemaslahatan umat dan lingkungannya, tetapi dengan karakter yang tidak benar akan saling memakan dan merusak tatanan kehidupan. Yang ada bukan lagi sky of the limit self actulisation tapi sky of the limit of goods consumerism.

Iklan

Read Full Post »

Memahami Jokowi dengan kaca mata Servant-Leadership

Dermawan Wibisono

Jokowi tiba-tiba menyeruak di antara kejenuhan politik dan kerinduan akan datangnya satrio piningit yang dinanti sejak 1998. Publik bertanya-tanya terhadap gaya kepemimpinanya. Apakah ini faktor kebetulan atau ketidaksengajaan yang dia temukan saat memimpin kota Solo, yang diteruskan ke Jakarta. Ataukah ini implementasi dari pengendapan pengalaman masa kecil sampai saat mahasiswa, yang berangkat dari serba kekurangan dan dapat dia refleksikan saat menjadi pemimpin (kacang yang tak lupa pada asal-usulnya). Atau justru inilah representasi teori kepemimpinan baru yang mulai populer di dunia akademis saat ini, servant-leadership.

Walaupun tergolong baru di jagad perkuliahan, servant-leadership, sebenarnya dimulai spiritnya sejak jaman Rasulullah. Prinsip melayani dari seorang pemimpin, sudah diciptakan oleh Rasul pada tahun 500 an Masehi. Sudah 1.500 tahun yang lalu. Namun prinsip servant-leadership ini kemudian terkubur dengan timbulnya dinansti-dinasti kerajaan Romawi, Perancis, Belanda Inggris, Jepang, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, dan hampir seluruh dunia, yang mengenal pemimpin mereka adalah raja. Jadi mulai saat itu, keadaan berbalik. Raja adalah orang yang harus dilayani, bukan lagi yang harus melayani. Oleh perkembangan ilmu manajemen, kemudian timbullah apa yang dinamakan servant-leadership oleh Robert K. Greenleaf pada tahun 1960 an. Terminology servant- leadership diperkenalkannya pada tahun 1970 dalam publikasinya yang berjudul The Servant as Leader.  Dia mendefinisikan the servant-leader sebagai is servant first…it begins with natural feeling that ones wants to serve, to serve first. Then conscious choice brings one to aspire to lead. That person is sharply different from who is leader first, perhap because of the need the assuage an unusual power drive or to acquire material possessions….The leader-first and the servant first are two extreme types. Between them there are shadings and blends that are part of infinite variaety of human nature.

Jadi mengamati perlikaku dan gaya kepemimpinan Jokowi, ini tampaknya adalah praktik rill jaman sekarang tentang servant–leadership yang selama ini hanya dipahami sebatas konsep, teori dan contoh-contoh abtract yang ada di dunia. Dilihat dari gaya bicaranya yang tak formal yang tak membuat jarak antara masyarakat dan dirinya, pakaian yang ‘asal nempel’ (tak harus model safari yang banyak kantongnya-yang dulu amat populer, sehingga orang menyindir bahwa harus banyak kantongnya untuk menaruh upeti dari yang dikunjunginya), gaya non protokoler yang blusak-blusuk ke tempat permasalahan timbul – seperti dicontohkan oleh Khalifah Umar yang harus memanggul beras di waktu malam ketika mengetahui salah satu rakyatnya kelaparan, tidak silau oleh kenyamanan dengan inspeksi menggunakan mobil mewah seperti biasa dilakukan para pemerhati dan pengamat-menuliskan penderitaan rakyat dari balik hotel bintang lima, dan sebagainya.

Servant leadership fokus utamanya pada pertumbuhan dan kesejahteraan masyarakat dan komunitas di mana dia berada. Sedangkan traditional-leadership biasanya melibatkan pada akumulasi dan penggunaan kekuatan oleh seseorang pemegang kekuasaaan pada puncak piramid. Servant- leadership sangat berbeda dalam konsep dan pelaksanaanya di lapangan, karena titik beratnya lebih pada sharing kekuasaan dan kekuatan bukan mengkooptasinya dan memusatkan pada dirinya semata. Meletakkan kepentingan orang lain sebagai prioritas pertama dan keinginan untuk membantu orang untuk mengembangkan dan berkinerja setinggi mungkin.

Stephen Covey menyatakan bahwa servant- leadership akan tumbuh lebih cepat dari periode sebelumnya, dan salah satu cara yang bisa anda lakukan adalah dengan memberdayakan orang yang anda pimpin. Berbeda dengan jenis leadership yang lain, yang mulai dengan mengendalikan atau merangkai kekuasaan, servant- leadership pertama, bekerja dengan membangun foundation atau dasar-dasarnya dengan mendengarkan dengan lebih seksama suara masyarakat untuk mengetahui kebutuhan dan konsern orang lain. Oleh karena itu tidak heran Jokowi sampai mengadakan pertemuan lebih dari 50 kali sebelum memindahkan pedagang kaki lima di Solo dan mengadakan pertemuan lebih dari 30 kali sebelum memindahkan pedagang Tanah Abang, yang sebelumnya meruapakan kekuatan non formal, sehingga dianggap mitos mampu membenahi kesemrawutan yang sudah turun temurun. Kedua, servant-leadership bekerja dengan penuh pengertian untuk membantu  membangun konsensus dalam masyarakat. Fokus dari servant- leadership adalah sharing informasi, membangun visi bersama, self manajemen, ketidaktergantungan pada tingkat yang lebih tinggi, belajar dari kesalahan, encouraging input kreatif dari tiap anggota organisasi atau masyarakat dan selalu bertanya terhadap asumsi yang diambil.

Lebih lanjut, menurut Larry Spears, servant-leadership  adalah menyediakan framework di mana orang akan saling membantu untuk meningkatkan dan memperbaiki tatanan serta bagaimana kita memperlakukan mereka. Servant-leadership merupakan harapan baru dan panduan terkini untuk pengembangan manusia dalam era baru untuk menghasilkan organisasi yang lebih peduli dan lebih baik. Pada akhirnyadimilikinya spirit dari servant-leadership di level individu, organisasi maupun masyarakat lah yang akan membentuk harapan lebih baik bagi masa depan kemanusiaan.

Menurut Ken Keith, CEO dari the Greenleaf Center for Servant Leadership di Asia, servant-leadership adalah etical, practical dan meaningful. Disebut etical karena menyangkut tentang pelayanan kepada sesama bukan pemanfaatan atau ekspoitasi terhadap manusia lain.  Practical karena menyangkut aspek praktis yang dapat diterapkan dalam mengidentifikasi dan menemukan kebutuhan orang, pelanggan atau masyarakat. Meaningful karena servant-leadership membantu kolega, organisasi atau masyarakat untuk tumbuh, memperkaya pelayanan mereka terhadap pihak lain dan berkontribusi pada penciptaan nilai tambah bukan yang pada jangka panjang merupakan representatif terhadap kepedulian untuk mencapai kemakmuran dan dunia yang sustainable.

Jadi kembali kepada pertanyaan di paragraf awal, dapat ditarik hipothesis bahwa gaya, model, cara kerja, sistem yang dilakukan oleh Jokowi saat ini adalah perpaduan antara pengalaman masa lalunya sebagai orang di pihak kurang beruntung dan penerapan model kepemimpinan servant-leadership, yang sudah diwariskan sejak jaman Rasul, namun sebagian dari kita hanya menyadarinya sebatas bacaan saja, tanpa pernah menerapkanya dalam kehidupan riil. Jika hypothesis ini benar, maka akan sulit bagi pihak lain untuk menirunya. Karena banyak orang yang memiliki pengalaman pahit sejak masa kecil, namun tidak pandai menarik pelajaran darinya. Bahkan seringkali orang sukses yang berangkat dari masa susah, justru ingin mengubur masa lalunya sedalam-dalamnya. Atau justru menarik keuntungan sebanyak-banyaknya, agar sanak keturunannya tidak mengalami pengalaman sepahit yang dia rasakan. Apalagi orang sukses yang berangkat dari keluarga sukses sebelumnya. Biasanya tidak ada ‘penjiwaan’ yang tulus terhadap penderitaan yang tak pernah dirasakannya. Saya memiliki seorang senior yang dengan jujur pernah berkata kepada saya, dan selalu saya ingat kalimat beliau:” ..Terus terang, jujur saya katakan, saya tidak pernah merasakan susah, tidak tahu rasanya orang susah, dan tidak tahu bagaimana pedihnya tidak punya uang, karena pengalaman saya sejak kecil tidak pernah berkaitan dengan hal tersebut.” Sebuah pengakuan yang jujur dan benar, bagi banyak pemimpin yang ada di Indonesia saat ini.

Akan halnya hypothesis kedua, bahwa penerapan servant-leadership ala Jokowi, bukanlah semata-mata copy paste terhadap sebuah metodology akademis ke alam praktis. Ini perlu penerapan dengan hati dan perlu ‘bakat’ besar dan dalam untuk berlaku sebagai servant-leader. Karena servant-leadership hampir mengubah segalanya, sejak dari positioning yang diambil sampai tahap implementasi menyeluruh. Telunjuk tangan tak lagi aktif, suruh sana, suruh sini. Membuka lebar-lebar telinga terhadap suara masyarakat. Tidak mendahulukan, apa yang saya terima dari aktivitas ini, sehingga Jokowi tidak mengambil gaji agar mentalnya tak teracuni dengan aspek finansial semata, dan menempatkan dirinya duduk sama rendah berdiri sama tinggi dengan masyarakat, dengan misalnya tidak lagi membuka open house, di mana masyarakat sungkem dan pejabat serta pengusaha setor muka kepadanya.

Sebagai penutup, bergembiralah para pengajar sekolah bisnis dan manajemen, bahwa kini tak lagi terpaksa memberi contoh abstrak atas teori yang dipelajari, tapi semuanya nyata di depan mata. Inilah titik tolak dan contoh dari proses penerapan servant-leadership yang masih akan terpajang setidaknya sampai tahun 2014. Bahkan mungkin akan makin banyak contoh dan aktor lain akan berperilaku serupa. Setidaknya, masyarakat akan makin beruntung dengan timbulnya fenomena ini dan optimisme masyarakat menuju negara ke 4 terbesar di dunia pada tahun 2025 makin menggelora.

 

Penulis saat ini sedang menjadi visiting professor di Universitas Utara Malaysia

Profesor SBM-ITB

 

Read Full Post »

Indonesia Mencari Pemimpin

Dermawan Wibisono

Apa yang dibayangkan seorang Profesor Malaysia tentang Indonesia terkait dengan kualitas hidup? Dalam salah satu presentasinya, dalam mata kuliah Quality, dia menggambarkan hasil potretannya dalam Power Point presentasinya tentang seorang anak yang mengemis di jalanan Jakarta, dengan karung besar di pundaknya, kaos lusuh compang-camping. Tak ada sinar kehidupan dalam tatapan matanya. Dalam slide berikutnya, dia gambarkan seorang ibu-ibu pengemis menggendong bayi dalam panas udara yang penuh polusi kendaraan mewah yang mengurungnya yang berimpitan dengan bus centang perenang dan mikrolet yang berjubel. Kondisi transportasi yang sama kumuhnya dalam presentasi  Dr. Kim ketua Korean Transportasi Institute (KOTI)  dengan suasana di Seoul pada tahun 1952. Betapa Indonesia telah tertinggal 60 tahun dengan Korea Selatan, dan kini mulai tertinggal 15 tahun dengan Malaysia dalam hal kualitas hidup warga negaranya di kota besar. Kecepatan kereta api di Korea Selatan kini sudah 431 km/ jam, jalan-jalan kota diubah jadi taman yang indah, semuanya merasa nyaman dengan publik transport, walau Korea produsen otomotif yang telah masuk persaingan dunia, tapi di negaranya, kemacetan tak ada. Anak-anak muda Indonesia gandrung dengan acara TV Korea. Mode, gaya rambut, fashion, nyanyi, wisata, bedah plastik, semua maju. Pendidikan di Korea Selatan, kini diakui telah masuk level dunia, bahkan pendidikan dasarnya sampai dengan level S1 nya menjadi yang terbaik di dunia bersama-sama dengan Finlandia. Tak heran jika industri elektronik Jepangpun sudah mulai kepayahan menghadapi industri elektronik Korea Selatan.

Masih dalam slide sang Profesor, dengan kontras dia tayangkan kehidupan yang penuh warna, orang yang berjubel, antri dengan tertib, di rumah makan Malaysia. Wajah pengantri yang ceria berpadu dengan harmonisnya wajah pelayan yang penuh senyuman. Di slide berikutnya, tampak para pelajar SD yang bersekolah dengan gembira, berebut tunjuk jari menggambarkan sistem pendidikan yang tidak membebani siswanya dengan beban yang tidak semestinya. Tidak khawatir tulang belakangnya  bengkok karena setiap hari membawa materi ajar yang alangkah beratnya, seperti di Indonesia. Suasana sekolah dengan lapangan olar raga yang luas terbentang, bukan lagi sekedar sekolah di sebuah kontrakan tanpa tempat bermain yang semestinya. Tayangan berikutnya tentang perguruan tinggi yang sibuk berbenah. Salah satunya Universitas Utara Malaysia, di Kedah, tempat Dr. Mahatir Mohammad dilahirkan. Dalam 30 tahun telah menjelma menjadi internasional university yang sangat asri. Dengan internasional student dari Timur tengah karena program Finansial Syariahnya menggunakan pengantar bahasa Inggris, telah berjubel peminatnya. Mahasiswa dari Kamboja, Thailand, Vietnam, dan negara-negar tetangga, dengan singkat menyulap kawasan hutan 20 km dari Thailand yang dulunya menjadi sarang komunis, menjadi tempat mula kemajuan, dengan cita-cita ingin menjadi Harvard Business School nya kawasan Asia Tenggara. Rangkaian slide itu ditutup dengan pernyataan: quality of leadership. Kualitas kepemimpinan.

Kepemimpinan dalam segala sisi kehidupan yang dalam hari-hari ini terus saja bergema di seantero media kita, menunggu 2014, di samping ditingkahi dengan pemilihan kepala daerah di mana-mana.

Jokowi dengan perlahan namun pasti telah merangsek, masuk dalam hati setiap insan dengan harap-harap cemas. Indonesia berharap, tak lagi menjadi bahan ledekan dari negara tetangga yang dulu berguru kepada kita. Diperlukan satu patron untuk menata sederet kepemimpinan di segala bidang: pendidikan, keuangan, bisnis, kesehatan dan sebagainya dalam segala level, setelah sekian lama kita terpukau dengan seremonial belaka. Tak ada ide kreatif muncul dari pimpinan di level bawahnya, sehingga serasa mandeg dan segalanya mesti mengacu pada satu orang: sabda pandito ratu.

Menurut Stephen M R Covey (Putra sulung Stephen R Covey yang memperkenalkan 7 habits agar menjadi orang yang efektif), yang diperlukan bagi seorang pemimpin, termasuk Indonesia saat ini adalah membangun kepercayaan dari orang-orang yang dipimpinnya. Setelah dua belas tahun kepercayaan itu tergerus. Sejak 1998 banyak orang merasa seperti njagakke endoge si blorok, mengharapkan tetesan nikmat dari rejeki reformasi yang tak kunjung sampai. Era transaksional sudah mentok, sudah jenuh orang-orang dengan berbagai transkasi yang terjadi. Pemimpin yang memberikan janji, namun mengambil lebih banyak lagi tanpa rasa emphaty. Kepercayaan orang saat ini terhadap para pemimpinnya lebih rendah dari generasi sebelumnya. Riset di Amerika Serikat dalam level organisasi mikro membuktikan bahwa hanya 49% bawahan percaya kepada atasannya dan hanya 28% yang percaya bahwa CEO merupakan sumber informasi terpercaya saat ini, seperti yang dikemukakan oleh Covey junior. Berdasarkan risetnya pada tahun 2004, di Amerika Serikat, diperkirakan akibat kurangnya kepercayaan kepada atasanya ini akan menelan biaya $ 1,1 trilyun. Jumlah amat besar yang merupakan lebih dari 10%  pendapatan kotor negeri itu. Penjelasananya adalah demikian, jika kepercayaan rendah maka dalam sebuah oranisasi akan diperlukan biaya pada setiap transaksi yang menyangkut setiap komunikasi yang dilakukan, setiap interaksi yang terjadi, setiap strategi yang dibuat, setiap keputusan yang diambil, keputusan yang terjadi lebih lambat dari jadwal yang diperkirakan dan ongkos yang meningkat karenanya. Pengalaman beliau menunjukkan bahwa ketidakpercayaan akan memakan biaya dua kali lipat biaya dalam bisnis dan membutuhkan waktu tiga kali lipat untuk terealisasinya suatu program.  Dan bisnis telah didefiniskan lebih meluas saat ini, yaitu ‘every activities that creates value added’ (Zikmund, 1997). Jadi pergantian kepala daerah, pemilihan presiden adalah bisnis. Berapa ongkos yang diperlukan dalam skala ketidakpercayaan kepada pemimpin dalam level ini?

Sebaliknya, setiap individu dan organisasi yang mendapatkan kepercayaan tinggi akan mendapatkan manfaat berlipat, dengan komunikasi antar anggota yang sukses, interaksi yang lancar, pengambilan keputusan yang smooth dan program dapat bergerak dengan cepat. Penelitian dari Watson Wyatt menunjukkan bahwa perusahan dengan kepercayaan yang tinggi memiliki kinerja 300% lebih tinggi dari pada perusahaan yang mendapatkan kepercayaan yang lebih rendah. Padahal penelitian ini di level perusahaan, level mikro yang struktural dan semua sistem bergantung pada alur keputusan pemimpinnya.  Apalagi di level pemerintahan dan kemasyarakatan yang seringkali ada efek tak terduka, multiplier efek,  yang bisa melipatgandakan hasilnya. Oleh karena itu, mendapatkan tingkat kepercayaan yang tinggi merupakan hal yang urgent dibutuhkan saat ini. Kebutuhan yang lebih tinggi dari pada kompetensi di bidang lain. Artinya, persentase yang didapatkan dalam pilkada dan pilpres, yang langsung dipilih oleh masyarakat, terkait erat dengan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap dirinya dalam memimpin daerah atau negara pada akhirnya.

Kepercayaan lahir dari dua dimensi: karakter dan kompetensi. Karakter menyangkut integritas dan motive. Kompetensi menyangkut kemampuan, skill, hasil dan rekam jejak. Kedua dimensi tersebut adalah vital untuk dipenuhi seorang pemimpin. Dengan meningkatnya fokus terhadap kepedulian etika saat ini, sisi karakter yang berkaitan dengan tingkat kepercayaan menjadi sangat cepat berkembang dan merupakan harga yang harus dibayar untuk masuk ekonomi global, jika ingin membawa daerah dan negara yang dipimpinya maju dan diakui internasional. Walaupun demikian, sisi lain dari tingkat kepercayaan yaitu kompetensi diri, memegang peran yang sangat esensial pula.

Mungkin anda pikir seseorang itu sangat ikhlas, sangat jujur, tetapi kepercayaan terhadapnya tidak bisa sepenuhnya diberikan jika ternyata dia tidak memberikan hasil pada periode kepemimpinannya, atau track recordnya tidak menunjukkan hal tersebut. Hal itu juga berlaku sebaliknya, seseorang mungkin memiliki kemampuan yang tinggi, bakat yang top dan trak record yang bagus, tetapi jika dia tidak jujur, anda tidak akan mempercayainya. Hasil yang dicapai selama ini bisa jadi dia dapatkan dari segala cara yang tidak benar, atau dia seorang Machiavelist. Seseorang yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.

Dasar dari tingkat kepercayaan orang adalah kredibilitas pribadinya, yang bisa bervariasi antar individu. Reputasi seseorang merupakan cerminan langsung dari kredibilitasnya sehingga dapat mempercepat kearah perbaikan organisasi yang dipimpinya dan menurunkan ongkos untuk mencapai hal tersebut.

Ada empat sumber inti dari kredibiltas yaitu: integritas, intensitas, kemampuan dan hasil kerja. Beberapa contoh perilaku pemimpin level dunia yang sudah dirumuskan oleh Covey yang harus ada pada diri seorang pemimpin, antara lain, bicara langsung dan tepat pada sasaran alias tidak suka ngalor ngidul  nggak karuan, mendemontstrasikan respek kepada pihak lain atau tidak suka melecehkan orang lain atas nama apapun, mengkreate transparansi dalam sistem yang diamanahkan kepadanya, memperlihatkan loyalitas yang tinggi pada organisasi, memperlihatkan hasil nyata bukan sekedar jargon-jargon tanpa makna, mendapatkan hasil lebih baik dari periode sebelumnya, mengklarifikasi ekspektasi dari banyak orang yang diembankan kepadanya, terjaga akuntabilitas diri dan pemerinttahannya, pendengar yang baik-bukan hanya pandai menceramahi orang saja atau jarkoni: iso ujar ora iso nglakoni-bisa ngomong nggak bisa mengimplementasikan, menjaga komitmen, dan meningkatkan kepercayaan dari seluruh korps.

Dalam artikel Ten Signs of an Incompetent Leader, Chris Ortiz mengemukakan opininya akan 10 tanda-tanda pemimpin yang tidak kompeten. Menurut Ortiz, pemimpin yang buruk adalah pemimpin yang fokus pada kepentingannya sendiri tidak pada kebutuhan profesional yang dibutuhkan oleh level bawahnya. Biasanya pemimpin yang buruk ini mendapatkan kesulitan untuk mengembangkan organisasi karena mereka kurang memiliki kemampuan teknis manajerial untuk hal tersebut. Pemimpin adalah orang yang anda ikuti dan anda tahu akan kemana organisasi menuju. Jadi kepemimpinan adalah tentang aksi bukan sekedar status symbol atau batu loncatan untuk menggapai hal lain lebih tinggi. Masalahnya adalah bagaimana kita tahu bahwa kita sedang menghadapai individu yang merupakan oknum penunggang jabatan, free rider. Karena seringkali orang seperti ini tampak kelihatan begitu sibuk dalam organisasi dan tampak dibutuhkan di mana-mana serta pandai memoles dirinya sehingga membuat banyak orang jatuh cinta kepadanya.Petunjuk singkat dari Chris Otiz untuk mengenalinya dikupas dalam alinea berikut.

Pertama, seorang pemimpin yang tidak kompeten akan mendelegasikan pekerjaan daripada menyeimbangkannya.  Artinya semua bawahan langsungnya akan diberikan predikat ‘jenderal’.Dalam arti pekerjaan harus diselesaikan oleh bawahannya, tidak ada panduan, arahan, tapi jika terjadi kesalahan maka bawahan itulah yang harus menanggung akibatnya dengan menerima kemarahan dan konsekuensi pahit lainnya. Seorang pemimpin yang baik adalah orang yang memperhatikan kemampuan dan kompetensi orang yang bekerja di bawahnya dan menempatkan orang sesuai dengan keahliannya sambil memperkaya potensi setiap orang untuk lebih produktif. Dengan model kepemimpinan yang gagal semacam ini maka kompetensi tidak dilihat, penempatan dilakukan secara acak, bahkan seringkali dipilih orang yang dekat dengannya, atau yang dalam kalkulasi politis membawa keuntungan posisinya, detail tidak diperhatikan karena yang menjadi fokus adalah bagi habis pekerjaan kepada orang-orang dibawahnya. Filosofinya adalah all duties for your, rewards for me. Biasanya hal ini diikuti dengan pembentukan komisi dan tim ahli yang berjubel, sampai tidak tahu lagi apa fungsi dan manfaat tim ini dibentuk.

Kedua, cenderung menjawab persoalan menjadi jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’ dari pada mencoba mencari sebab dan menerangkannya lebih jauh. Dalam kondisi krisis, pemimpin semacam ini tidak mampu berfikir jauh ke depan kecuali hanya beberapa jengkal saja. Oleh karena itu, seringkali pemimpin semacam ini memiliki jawaban yang berbeda saat berada di dalam dan di luar ruangan rapat, tergantung mood dan kepentingan sesaat yang dibawanya. Karena pada dasarnya dia tidak memiliki set of argument yang kuat untuk menjelaskan issue yang sedang dihadapi.

Ketiga, tidak memisahkan masalah personal dari masalah profesional yang dihadapi. Mereka cenderung membawa persoalan pribadi ke tempat kerja. Bekerja dengan pemimpin semacam ini bisa menjadi sangat dramatis. Seringkali akan tercampur penggunaan fasilitas dinas untuk   keperluan pribadi dengan keperluan institusi.Istri/ suaminya akan turut menjadi atasan bagi bawahannya saat ini yang boleh ikut memerintahkan untuk memenuhi keperluan yang tidak ada hubungannya dengan keperluan organisasi. Mereka tidak mampu memisahkan ketidakseimbangan emosi saat memimpin. Mereka tidak akan memberikan perhatian dan arahan bagi bawahan untuk berhasil. Fokus dari pemimpin semacam ini adalah asal kepentingan pribadinya tidak terganggu.

Keempat, jika organisasi dalam masa krisis, maka selamat tinggal pada inovasi dan kemajuan jika memiliki pemimpin semacam ini. Inovasi dan kemajuan ini harus diartikan secara benar, karena konsep yang berubah dengan cepat dan berkali-kali, bisa diartikan pemimpin tidak memiliki konsep sama sekali dan pemimpin tidak punya pendirian yang kuat. Perubahan yang terlalu sering dalam jangka waktu yang pendek akan mudah tersapu karena tidak dapat diimplementasikan secara solid. Pemimpin yang berorientasi pada aspek inovatif dan kreatif, punya karakter, di antaranya dengan senang hati memiliki bawahan yang lebih pandai yang mau berdebat dan diskusi atas berbagai ide dan konsep. Bukan pemimpin yang senang dengan kualifikasi bawahan yang jauh di bawahnya sehingga mudah disuruh-suruh dan mengikuti saja apa maunya sang pemimpin.

Kelima, tidak berdiri di belakang bawahan jika gagal. Orientasi pemimpin yang baik adalah tidak hanya menghukum kesalahan karena kegagalan bawahan dan hanya mengambil moment untuk tampil dan dilihat banyak orang saja. Biasanya pemimpin gagal semacam ini akan puas dengan melihat anak buahnya berdiri membuat pengakuan kegagalanya ditonton banyak orang dalam sebuah forum, tidak peduli betapa malunya anak buah tersebut dan pemimpin semacam ini akan dengan serta merta berdiri di depan menyematkan tanda penghargaan ketika media masa meliput momen yang dirasanya akan mengangkat nama dan dirinya ke jaringan publikasi.

Setelah leadership, hal berikutnya yang perlu dicermati adalah penciptaan budaya. Di Indonesia selama ini tidak dikenal budaya gentlemant. Dengan sportif mengakui kemenangan pihak lawan dan bersama-sama membantu program berikutnya untuk kemaslahatan masyarakat. Team work kita sebatas hanya berhenti pada tim sukses. Jadi biasa terjadi pihak yang kalah dalam pilkada akan mengajukan gugatan, walaupun sudah yakin bahwa gap yang harus diisi gugatannya terlalu besar untuk menjadi pemenangnya. Kita memiliki pengalaman selalu melakukan aksi compete forever between you and me on any situations and conditions. Ada baiknya kita belajar dari angsa yang terbang di langit. Apabila anda melihat angsa terbang menuju ke arah selatan pada musim dingin, mereka terbang membentuk formasi ‘V”. Secara ilmiah didapati bahwa saat setiap angsa mengepakkan sayapnya, akan menghasilkan tekanan daya angkat kepada angsa yang berada di belakangnya. Dengan cara ini, kumpulan angsa dapat terbang 71% lebih jauh dari pada terbang sendirian.Jika burung di depan merasa lelah, ia akan berputar ke belakang dan burung yang lain akan mengganti posisinya di depan. Ini adalah tanggung jawab bersama dan saling berbagi beban untuk memimpin.Akhirnya, jika salah satu burung tersebut semakin lelah atau terbawa angin dan jatuh dari formasi, dua burung yang lain akan ikut keluar dan mengikuti burung yang jatuh tersebut turun untuk membantu dan melindunginya. Kedua burung tinggal bersama burung yang jatuh sampai burung tersebut mampu terbang kembali atau mati.  Kemudian kedua burung itu akan kembali men set up dirinya dengan formasi yang lain atau kembali dalam kelompok mereka. Sebuah gambaran kerja bersama yang indah dan berhasil guna. Apabila manusia bersatu dan bergabunguntuk mencapai tujuan dalam kebaikan, kemungkinan besar dapat dicapai lebih mudah, Insya Allah.Pepatah mengatakan coming together is the BEGINNING, keeping together is PROGRESS, and working together is SUCCES.  Satu pesan kepada yang terpilih nantinya: life always gives you back you give out. Your life is not a coincidence, but a mirror of your own doings.  Jadi, who is a leader? A leader is one who, knows the way, shows the way and goes the way. Tapi hidup memang pilihan, apakah anda ingin menjadi seorang great leader atau menjadi free rider. Sejarah akan mencatat.Perjalanan masih akan panjang, dengan hasil-hasil dari polling pendapat, kerja keras tim sukses dan segala hingar bingar yang menyertainya. Namun di hati rakyat semua sudah meresapi, apa yang baik bagi dirinya. Mayoritas hati masyarakat telah rindu, kapan lagi kita menjadi acuan bagi bangsa Asia Afrika sepeti tahun 1955, menjadi panutan dalam sistem pendidikan di Asia Tenggara tahun 1970 an. Taruhlah peta dunia di atas meja. Benar, Indonesia terletak di tengah-tengah pusat dunia secara geografis. Semoga impian tahun 2025 Indonesia menjadi pusat kemajuan dunia, negara ke 4 terbesar performansinya, dan bukan di tengah-tengah untuk menjadi bancakan negara-negara sedunia, karena potensi yang dikandungnya. Indonesia saatnya mencari pemimpin negarawan.

Bandung, 17 September 2013

Visiting Profesor di Universitas Utara Malaysia

Profesor SBM ITB

Read Full Post »