Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘bandung’

Alhamdulillah, dalam sidang terbuka, 27 Februari 2014, telah lulus dari program doktor SBM ITB, lulusan yang pertama  Dr. Anton Mulyono Azis, dia adalah bimbinganku yang pertama dan menjadi lulusan pertama dari program SBM ITB setelah menempuh 5 tahun study…Penantian yang lama yang butuh kesabaran, intensitas, kerja keras….(dalam foto dari kiri ke kanan: Dr. Mursyid Hasan Basri, Dr. Anton Mulyono Azis, Prof. Dermawan Wibisono)

Anton_2

Iklan

Read Full Post »

From: “Djoko Luknanto” <Luknanto@ugm.ac.id>b

Tautan tentang sejarah Indonesia, saya kumpulkan sedikit demi sedikit.
Sekedar hobi:-), sambil mengajar, saya tambah selalu. Enjoy!

1. Tempo Doeloe

http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/ Indonesia Tempo Doeloe:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/http://luk.staff.ugm.ac.id/itd:

2. Mataram

http://luk.tsipil.ugm.ac.id/Medang> Kerajaan Medang (Mataram
Kuno):  <http://luk.staff.ugm.ac.id/Medang>
http://luk.staff.ugm.ac.id/Medang

3. Borobudur

http://luk.tsipil.ugm.ac.id/Borobudur/> Candi Boroboedoer:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/Borobudur/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/Borobudur

4. Candi Lain

http://luk.tsipil.ugm.ac.id/candi/> Candi Lain:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/candi/http://luk.staff.ugm.ac.id/candi

5. Wayang

http://luk.tsipil.ugm.ac.id/wayang/> Wayang:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/wayang/http://luk.staff.ugm.ac.id/wayang

..         Sosok Indonesia:  <http://luk.staff.ugm.ac.id/sosok/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/sosok (rencana)

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/tembakau/> Bisnis Tembakau:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/tembakau/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/tembakau

_____

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Bali/> Bali:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Bali/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Bali

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Borneo/> Borneo:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Borneo/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Borneo

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Celebes/> Celebes:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Celebes/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Celebes

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Jawa/> Jawa:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Jawa/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Jawa

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Maluku/> Maloekoe:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Maluku/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Maluku

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/NT/> Noesa Tenggara:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/NT/http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/NT

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Papua/> Papoewah:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Papua/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Papua

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Sumatera/> Soematra:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Sumatera/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Sumatera

_____

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Bandung/> Bandung:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Bandung/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Bandung

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Banten/> Banten:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Banten/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Banten

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Batavia/> Batavia:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Batavia/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Batavia

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Bogor/> Buitenzorg:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Bogor/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Bogor

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Malang/> Malang:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Malang/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Malang

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Yogyakarta/> Ngayogyakarta:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Yogyakarta/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Yogyakarta

_____

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/alam/> Alam Indonesia:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/alam/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/alam

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/bangunan/> Bangoenan Tempo
Doeloe:  <http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/bangunan/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/bangunan

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/lf/> Loekisan vs Foto:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/lf/http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/lf

_____

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Salm/> Abraham Salm:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Salm/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Salm

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Pers/> Auguste Van Pers:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Pers/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Pers

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Hoola/> Berthe Hoola Van
Nooten:  <http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Hoola/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Hoola

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Bock/> Carl Bock:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Bock/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Bock

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/Junghuhn/> Franz W. Junghuhn:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/Junghuhn/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/Junghuhn

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Rosenberg/> Hermann von
Rosenberg:  <http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Rosenberg/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Rosenberg

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/Rappard/> Josias Cornelis
Rappard:  <http://luk.staff.ugm.ac.id/Rappard/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/Rappard

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/RadenSaleh/> Raden Saleh:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/RadenSaleh/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/RadenSaleh

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Kerkhoff/> van den Kerkhoff:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Kerkhoff/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Kerkhoff

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/pelukis/> Peloekis Lain:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/pelukis/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/pelukis

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/lukisan/> Loekisan:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/lukisan/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/lukisan

<http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/buku/> Karya Sastra Tempo Doeloe:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/buku/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/buku:

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/pustaka/> Koleksi Langka UGM:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/pustaka/http://luk.staff.ugm.ac.id/pustaka

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/bmr/> Bakda Mawi Rampog:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/bmr/http://luk.staff.ugm.ac.id/bmr

..         Menyusul yang lainnya

Howgh!

—                        Djoko Luknanto,  <http://luk.staff.ugm.ac.id/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/

<http://luk.tsipil.ugm.ac.id/>
http://luk.tsipil.ugm.ac.id – Cangkir yang tak penuh

Read Full Post »


From: Fnu Brawijaya <brawijaya@gmail.com>
Sender: sinergi-ia-itb@yahoogroups.com
Date: Fri, 19 Jul 2013 11:11:26 +0700
To: <sinergi-ia-itb@yahoogroups.com>
ReplyTo: sinergi-ia-itb@yahoogroups.com
Subject: [sinergi-ia-itb] RA Kartini korban konspirasi?

 

RA Kartini memang dari keluarga yang cerdas. Biasa dikenal sebagai Tiga Saudara dari Jepara, yaitu anak2 perempuan Bupati Jepara: Kartini, Kardinah, dan Rukmini. Ternyata setelah membaca, sebetulnya seharusnya bukan hanya RA Kartini, tetapi ketiga-tiganya yg pantas diberi gelar Pahlawan Untuk Wanita Indonesia. Kata-kata “Untuk” seharusnya selalu disematkan. Soalnya dari tahun ke tahun selalu diributkan kenapa bukan Christina Martha, kenapa bukan Cut Nyak Dien, dlst….. yang kesemuanya adalah pahlawan wanita, bukan pahlawan untuk wanita. 
 
Ketiga putri dari Jepara ini sudah punya rencana membuat eksibisi di Denhaag tahun 1897-1898, yaitu untuk Natinal Exhibition of Woman’s Work. 
 
Kakaknya yaitu Kartono, atau RM Panji Sosrokartono adalah wartawan bangsa Indonesia pertama yg meliput PD I, yaitu bekerja untuk New York Herald tribune. Kartono ini yg meliput perjanjian rahasia Jerman yg kalah dg Perancis yg menang, dan memuat nya di koran tsb, dan sebagai satu-satunya sumber koran. 
 
Setelah itu terlibat di Liga bangsa-bangsa sebagai Kepala Penterjemah. Kartono dikenal sebagai tokoh sastra dan pendidikan yg terlupakan, lulusan Leiden dg predikat Suma Cum Laude. Setelah melanglang buana, kartono ke Bandung mendirikan sekolah dan perpustakaan, dan menjadi Kepsek Taman Siswa bandung. Bakat lahir kartono adalah dia sebagai Poliglot, atau bakat lahir dalam menguasai bahasa, total dapat berbicara dalam 24 bahasa asing dan 10 bahasa etnis nusantara. Kartono tidak mau dipekerjakan Belanda baik sebagai bupati maupun direktur museum di Jakarta, dan memilih menjadi Kepala Sekolah taman Siswa. Di sekolah tersebut presiden Soekarno menjadi salah satu guru. Dalam laporan rahasia oleh Van Der Plas kepada Ratu Wilhemina, Kartono digolongkan sebagai tokoh pergerakan yg tidak dapat dipercaya. 
 
Untuk Kartono, silakan baca tautan ini, lebih seru….. :
 
 
Adiknya yaitu RA Kardinah mendirikan rumah sakit di Tegal:

RSU Kardinah Tegal

Rumah Sakit Umum Kardinah Tegal yang didirikan oleh adik kandung R.A. Kartini yaitu R.A. Kardinah Reksonegoro X pada tahun 1927 dengan biaya pertama f.16.000 dari hasil penjualan buku karya tulisnya (Komentar: ternyata buku-buku karya Kardinah adalah buku tentang membatik dan memasak, tahun segitu sudah bikin buku), karena harsat untuk menolong rakyat miskin khususnya kaum wanita yang waktu itu belum mendapat pelayanan kesehatan secara layak.

Rumah Sakit Umum Kardinah dibangun di atas tanah seluas 50.083 meter persegi dengan luas bangunan 16.347 meter persegi dengan letak yang stategis yaitu di pinggir kota ujung selatan tepatnya Jl. KS. Tubun No. 4 masuk dalam Kelurahan Randugunting dan Kecamatan Tegal Selatan yang menjadikan Rumah Sakit Kardinah sebagai rujukan bagi daerah sekitarnya.

Dari hasil penjualan bukunya, Kardinah juga berhasil membangun rumah penampungan orang miskin di dekat rumah sakit yg didirikannya.

RA kardinah pernah diarak dan hampir dibunuh, dieksekusi oleh Kutil, pemberontak dalam peristiwa Pemberontakan Tiga Daerah (Brebes, Tegal, Pemalang) pada Bulan Oktober 1945, karena status sosialnya sebagai keluarga bangsawan.

Nah, di bawah ini kok ada teori konspirasi tentang kematian RA Kartini. Monggo dibaca sembari ngabuburit.

 

——————–

Kartini adalah pahlawan Nasional SK Presdien RI (Ir. Soekarno) No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964. SK tersebut menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional menunai banyak kontroversi. Banyak latar yang mempertanyakan bahwa nilai kepahlawanannya tidak lepas dari politik etis zaman Belanda. RA kartini merupakan wanita berdarah biru, cerdas, pemberani, dan kurang menyukai hal-hal yang bersifat seremonial. Dia menentang perihal yang bersifat feodalism kerajaan maupun kolonial. Dan sangat memperhatikan nasib bangsa bumipertiwi khususnya kaum wanita dibidang pendidikan. Karena ia berpikir, hanya melalui pendidikan rakyat Indonesia lepas dari perbudakan kolonial penjajahan dan keratonism. Yakni sebuah pemikiran yang jarang dimiliki oleh putra bangsa —apalagi wanita— seperti Kartini. 

 
Sehingga nasehat Hugrogonje, orang seperti kartini harus didekati, karena pola pemikirannya sangat berbahaya bagi sistem kolonial Hindia Belanda. Maka dari itu JH Abendanon, Menteri Pendidikan penjajahan kala itu di zaman Kartini berupaya mendekati Kartini dari sudut pemikiran.
 
Pemikiran-pemikiran Kartini yang sedemikian berani, kritis, sistemik terlihat dari berbagai surat-surat dan artikel yang sudah menyebar di majalah-majalah wanita Eropa harus didampingi oleh orang Belanda agar tidak keluar dari visi penjajahan kerajaan belanda di Hindia Belanda. Khususnya pemikiran tentang gugatan emansipasi di zaman yang sudah mendunia kala itu bahwa pemikiran tentang kewanitaan sangat mengagetkan wanita-wanita Eropa. Penjajahan tidak hanya feodalisme dan kapitalis dunia, akan tetapi diskriminasi terhadap kaum wanita di seluruh dunia bisa dikatakan — bagi kaum wanita— merupakan era penjajahen gender, bahkan untuk negara penjajah sendiri seperti Belanda dan Eropa lainnya, kaum wanita merasa terjajah oleh sistem negerinya sendiri. Dan Kartini ibarat sinar yang mampu menggugah pemikiran wanita-wanita Eropa untuk bangkit menjadi kaum yang mandiri yang tidak hanya takluk oleh kaum pria dan sistem yang melingkupi budaya kewanitaan.
 
Sedemikian jauh dan cerdas, untuk sekian kalinya JH. Abendanon mengawal profil kehidupan dan pemikiran Kartini —-lihat dalam uraian surat-surat Kartini di buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” (door duisternis tot licht) — tidak mampu mengawal letupan-letupan gugatan Kartini terhadap sistem feodal kratonism dan kolonialism. Dalam rekayasa ini sangat terlihat intrik-intrik hitam pada detik-detik Kartini, ketika ada visi untuk menjatuhkan intlektual Kartini.

Artinya, Kartini di zaman itu bukan hanya di era indonesia dan segala kerajaannya, akan tetapi surat-surat dan artikel via pos. Kalau tidak berlebihan dikatakan, “ di zaman itu 1898 – 1902 Kartini menjadi tokoh dunia. Ia menjadi sentral tokoh-tokoh wanita Eropa di dunia.” Dan bagi kolonial Belanda di Indonesia menghabisi peran intlektual Kartini akan menjadi masalah internsional, karena masalah area kolonial atau penjajahan sangat bersaing ketat dengan Inggris.

Dari sini ada upaya “gerakan bawah tanah” untuk menghabisi RA Kartini. Gerakan itu bisa dirasakan dan mulai terlihat jelas ketika RA kartini hendak sekolah ke Luar Negeri, kemudian cita-citanya sekolah di Bandung, semua tumbang ditengah jalan akibat campur tangan JH Abendanon terhadap bapak Kartini. Demikian juga masalah pernikahan, sangat kental sekali upaya JH Abendanon terhadap bapak Kartini dan sistem keraton Jepara. Akhirnya Kartinipun menikah di usia 25 tahun. Kalau sudah menilah —bagi adat Jawa yang sudah dipelajarai penjajah Belanda —- tentu profil wanita Jawa tidak bisa berbuat banyak lagi.
 
Ketika memasuki area pernikahan dan hidup di Rembang bersama suami tercinta, rupanya sang suami sangat mendukung visi, misi, dan tujuan Kartini tentang Pendidikan, menulis buku —bahkan Kartini sudah membuat plot buku yang bertema Babat tanah Jawa, — atas dukungan suami tercinta. Buku itu belum selesai ditulis karena meninggal dunia. Juga ada seorang ulama Kyai Sholeh Darat menulis kitab tafsir untuk Kartini agar bagaimana Kartini memahami Islam, Kyai itupun wafat dengan misterius, sebab umat islam sengaja dijauhkan dari keilmuan agamanya sendiri. Dengan kata lain bahwa Kartini, walaupun sudah berstatus istri masih melakukan aktifitas-aktifitas intlektualnya atas bantuan suami dan orang terdekat dari kalangan pribumi.

“Betapa bahagianya Kartini melihat suaminya mendorong agar tetap bersemangat menulis. Suaminya menyampaikan ide agar menulis buku Babad Tanah Jawa. Diharapkan dari tulisan Kartini kelak masyarakat Jawa bisa melihat dengan jelas sejarah perkembangan tanah Jawa.
 
Dikatakan dalam satu suratnya tanggal 16 Desember.
Suami sangat inginnya melihat saya menulis kitab tentang cerita lama-lama dan babad tanah Jawa. Dia akan mengumpulkannya bagi saya; kami akan bekerja bersama-sama mengarang kitab itu. Senangnya hati mengenangkan yang demikian itu !

Masih banyak lagi hal yang hendak diperbuatnya bersama-sama dengan saya; di atas meja tulis saya telah ada beberapa karangan bekas tangannya. (Armijn Pane 1968, 238)

Hidup di Rembang sebagai permaisuri sekaligus wanita karir (sebutlah seperti di zaman modern ini) Kartini sudah mencapainya dengan baik sejak era 1900-an. Aspek sejarah manapun terbukti bahwa Kartini sudah membuka pintu yang luas untuk diri dan bangsanya. Menjadi kolomnis untuk majalah Eropa dan menjadi penulis buku bukan hal yang mudah di zaman penjajah. Tingkat kecerdasan masyarakat Jawa secara umum masih banyak yang belum bisa baca tulis. Akan tetapi Kartini gadis keraton dengan gaya pendidikan yang ketat (di keraton) tanpa mengalami kesulitan menulis buku atau membaca buku-buku. Ia memperoleh dukungan luar biasa dari suaminya.”

JH Abendanon dan orang-orang Belanda berpikir keras, bagaimana menghentikan gerakan intlektual Kartini terhadap bangsa melalui pemikiran dan wawasan kebangsaan Indonesia. Muncullah “gerakan bawah tanah” melalui dokter persalinan yang mengurusi persalinan RA. Kartini ketika melahirkan Susalit, dan fenomena itu bisa ditafsir ke seribu makna tentang kematian Kartini. Proses persalinan Susalit tidak ada masalah. Badan sehat, tidak ada keluhan, namun pada minggu selanjutnya ketika DR itu datang, tiba-tiba perutnya sakit dan meninggal dunia.

Ada kutipan yang menarik. Sitiosemandari memberikan gambaran kecurigaan yang wajar.

Tanggal; 13 September 1904 bayinya lahir, laki-laki, kemudian diberi nama Raden Mas Soesalit. Tanggal 17 September, dr. Van Ravesteyn datang lagi untuk memeriksa dan dia tidak mengkhawatirkan keadaan Kartini. Bahkan bersama-sama mereka minum anggur untuk keselamatan ibu dan bayi.

Tidak lama setelah Ravesteyn meninggalkan Kabupaten, Kartini tiba-tiba mengeluh sakit dalam perutnya. Ravesteyn, yang sedang berkunjung ke rumah lain, cepat-cepat datang kembali. Perubahan kesehatan Kartini terjadi begitu mendadak, dengan rasa sakit yang sangat di bagian perut.
Setengah jam kemudian, dokter tidak bisa menolong nyawa pemikir wanita Indonesia yang pertama ini. Pembunuhan ? Racun ? Guna-guna ? Tentang hal ini, Soetijoso Tjondronegoro (Sutiyoso Condronegoro) berpendapat: “Bahwa ibu kartini sesudah melahirkan putranya, wafatnya banyak didesas-desuskan, itu mungkin karena intrik Kabupaten. Tetapi desas-desus itu tidak dapat dibuktikan. Dan kami dari pihak keluarga juga tidak mencari-cari ke arah itu, melainkan menerima keadaan sebagaimana faktanya dan sesudah dikehendaki oleh Yang Mahakuasa.” (Imron Rosyadi, 2010)
 

Ada pernyataan dari teman belanda, Jika hewan saya sakitpun, saya tidak percaya terhadap kompetensi dr. Van Ravesteyn.
Ada intrik yang mendalam, yakni permainan dalam sekam agar tidak terlihat upaya pembunuhan terhadap kartini. Orang berpura-pura berbelasungkawa, sesungguhnya dialah yang membawa pedang tikaman. Orang berteriak maling, sesungguhnya dialah malingnya. Akan tetapi keluarga kerajaan mengambil jalan bijak, dan menurut bahasa elit yang terkenal zaman itu, “Laat de doden met rust” (biarkan yang meninggal jangan diganggu – [Efatino Febriana, 2010]). Dan semuanya dianggap bagian dari perjuangan Kartini yang tertunda.


Brawijaya SI8

Read Full Post »

Final_Sewindu_SBM_131212

Read Full Post »

Ada tulisan sejarah yang terlupakan dari sebuah blog  yang sangat menarik untuk dikuti, saya kutipkan di bawah ini:http://serbasejarah.wordpress.com/2011/04/08/abdoel-moeis-penggagas-itb/>

 

Abdoel Moeis ~Penggagas ITB~

Pada tahun 1913 di Hindia Belanda muncul suatu gagasan tentang pembentukan “Indie Weerbaar” (Pertahanan Hindia) yaitu milisi paruh waktu yang terdiri atas orang-orang bumi putera, karena milisi merupakan kekuatan pertahanan yang lebih murah daripada memperbesar pasukan professional. Namun demikian ide tentang pembentukkan “Indie Weerbaar” ditolak oleh pemerintah Belanda. Ketika perang dunia I pecah pada tahun 1914 gagasan “Indie Weerbaar” muncul kembali. Boedi Oetomo yang mempunyai cabang-cabangnya di kalangan orang-orang Jawa yang berdinas pada tentara kolonial, bangkit dari tidurnya dan mulai mengkampayekan pembentukkan milisi semacam itu. Ketika kampanye tentang perlunya suatu milisi pertahanan berlangsung, Sarekat Islam (SI) memunculkan tuntutan yang lain yaitu harus adanya perwakilan bumi putera dalam pemerintahan Hindia Belanda. Pada tahun 1915 Boedi Oetomo mendukung pandangan SI, sehingga dengan demikian kampanye “Indie Weerbaar” dengan cepat berubah menjadi isu perwakilan rakyat atau Volskraad Sebagai kelanjutan kampanye Indie Weerbaar, muncul keputusan agar dikirim delegasi ke Negeri Belanda untuk menyampaikan mosi kepada Ratu Wilhelmina, Menteri Jajahan, dan Parlemen Belanda. Utusan terdiri atas enam anggota yaitu Pangeran Ario Koesoemodiningrat (mewakili Prinsen Bond), Bupati Magelang Raden Tumenggung Danoe Soegondo mewakili Regenten Bond, Mas Ngabehi Dwidjosewojo mewakili Boedi Oetomo, Abdoel Moeis mewakili Sarekat Islam, F Laoh mewakili Perserikatan Minahasa, dan W.V Rhemrev. Selain itu, ada seorang pendamping yaitu Dirk van Hinloopen Labberton, seorang tokoh pendukung Politik Etis Rombongan berangkat ke Negeri Belanda pada bulan Januari 1917 dan tiba di sana pada awal Maret 1917 Sebelum tiba di Negeri Belanda, ketika perjalanan tertunda di Jenewa, Abdoel Moeis bersama Dirk van Hinloopen Labberton sudah menyampaikan gagasan-gagasan mereka dalam berbagai ceramah tentang perlunya percepatan kemandirian Hindia Belanda, meski tetap di bawah pimpinan Negeri Belanda. Untuk itu kemampuan bertahan di bidang militer, intelektual, dan ekonomi sangatlah penting . Ketika datang di Belanda, mereka diterima dengan sedikit aneh: Untuk memimpin rombongan di Belanda, ditunjuk seorang mentor ; polisi juga ditugaskan untuk mengamat-amati mereka. Para anggota delegasi tidak memiliki kebebasan untuk bergerak sendiri-sendiri. Aturan ketat itu tidak berlangsung lama, beberapa anggota delegasi bergerak sendiri tanpa meminta idzin. (Kaoem Moeda, 28 Juli 1917). Meskipun demikian, secara formal mereka disambut secara simpatik oleh Ratu Wilhelmina, Menteri Jajahan, dan Staten Generaal (Parlemen Belanda)(Poeze, 1986: 113). Dalam surat kabar Handelsblad yang terbit di Amsterdam, diberitakan tentang acara pertemuan Delegasi Indie Weerbaar yang diselenggarakan oleh perhimpoenan Koninklijke Nederlandsche Vereeniging ,,Onze Vloot” pada tanggal 1 April 1917 di Gedung Concereige Bouw. Dalam berita yang disarikan dalam surat kabar Oetoesan Hindia itu, disebutkan bahwa hadir dalam pertemuan itu beberapa bekas Menteri Kolonial, bekas Gubernur Jenderal Hindia Belanda J.C. van Heutszt, A.W.F. Idenburg, beberapa anggota parlemen, akademisi,dan para pengusaha. Menjelang kepulangan ke Hindia Belanda, diadakan pesta besar yang diselenggarakan Jenderal Van Heutsz dan dihadiri oleh para tokoh terkemuka dari kalangan pemerintahan dan dunia usaha. Kemudian diselenggarakan pula satu pertemuan, di mana kalangan usahawan menjanjikan dukungan untuk didirikannya sebuah sekolah politeknik di Hindia (Poeze, 1986: 114). Dirk van Hinloopen Labberton juga berpendapat bahwa jika ada perang, bumiputera pertama tama mesti melindungi kepentingannya sendiri. Labberton juga menjelaskan bahwa tidak lama lagi oleh usaha pihak partikulir di Hindia, kira kira di Bandoeng, akan didirikan Technische Hooge School (Kaoem Moeda, 16 Juli 1917). Keinginan untuk mendirikan Sekolah Teknik Tinggi di Hindia Belanda, sebenarnya sudah menjadi pemikiran elite Bumiputera dan sementara pengusaha dan industriawan Belanda di Hindia sebelum 1917. Misalnya dalam Doenia Bergerak No. 18 (1914) sudah muncul tulisan berjudul “Pendapatan hal Techniche Hooge School di Hindia” . Soewardi Soerjaningrat yang ketika itu (1917) masih di Nederland gencar sekali mendukung pendirian Sekolah Tinggi Teknik itu. Akhirnya dengan kedatangan delegasi Indie Weerbaar, khususnya Abdoel Moeis berupaya melakukan negosiasi hingga berhasil dengan disetujuinya pembentukan komisi untuk pendidikan teknik di Hindia oleh Ratu Belanda dan 14 pengusaha Belanda yang memberikan dukungan penuh secara finansial Pada tahun 1920, sekolah yang diimpikan itu berdiri di Kota Bandung dengan nama Technische Hogeschool (THS).(Koloniale Studien 1917-1918, hal. 158). Menurut keterangan puterinya, Dr. Diana Moeis, ayahnya pernah bercerita bahwa lokasi THS yang sekarang disebut sebagai Intitut Teknologi Bandung itu usulan ayahnya. Pembangunan gedung THS, juga mendapat masukan dari Abdoel Moeis, yang menginginkan agar ada unsur pribumi diterapkan dlm bangunan tsb. Jadilah, atap gedung yang disebut Aula Barat itu sekarang, berbentuk seperti atap rumah gadang di Sumatra Barat. Ya, betapapun, Abdul Muis adalah orang Minang…..jadi, tak mungkin mengusulkan atap julang ngapak bergaya Sunda he he… Siapa Abdoel Moeis ? Buat “urang Bandung”, Abdoel Moeis identik dengan terminal Kebon Kelapa. Ada jurusan Abdoel Moeis-Elang, Abdoel Moeis-Cicaheum, Abdul Moeis-Ledeng, Abdoel Moeis-Dago. Memang bila dilacak sejarah kota Bandung, di sekitar Kebon Kalapa itu sempat menjadi tempat diam tokoh perjuangan Abdoel Moeis. Selain itu di sekitar Kebon Kalapa ini terdapat rumah Inggit Garnasih, isteri kedua Bung Karno. Sehingga di sekitar Kebon Kalapa pun terdapat nama jalan Inggit Garnasih, yang kadang disebut jalan Pungkur Ciateul. Abdoel Moeis dilahirkan pada 3 Juli 1883 di Sungai Puar, Bukittinggi, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah dasarnya pada sekolah Belanda tingkat persiapan Sekolah Stovia di Bukittinggi, Abdoel Moeis kemudian menuju Bandung dan tinggal lama di kota ini. Dan atas bantuan Mr. Abendanon dapat bekerja di Departemen Pengajaran dan Keagamaan antara tahun 1903-1905. Kemudian ditempatkan di Bank Rakyat. Kemudian keluar karena melihat kasus pungutan liar yang dilakukan lurah dan kaum priyayi rendahan terhadap orang-orang desa (Deliar Noer, 1995:122-123). Abdoel Moeis mengawali aktivitas dalam dunia pers dengan memasuki Koran berbahasa Belanda, Preanger Bode. Waktu itu Abdoel Moeis berkedudukan sebagai korektor naskah-naskah yang masuk (Soebagidjo IN, 1981; Deliar Noer, 1995). Kemudian bersama Soewardi Soerjaningrat dan A.Widnjadisastra mendirikan Koran Hindia Sarekat, 50% penghasilan dari Koran itu dimasukan untuk kas Sarekat Islam, karena mereka termasuk pimpinan Sarekat Islam (SI) lokal Bandung yang berdiri sejak tahun 1912. Selain itu Abdoel Moeis pun mengelola Koran Kaoem Moeda yang juga menjadi corong perjuangan SI juga terbit di Bandung. Merupakan Koran pertama yang mengenalkan rubrik “Pojok” sejak tahun 1913-an. Abdoel Moeis pun kemudian terlibat dalam Komite Boemi Poetra bersama Douwes Dekker, Cipto Mangunkusumo, Soewardi Soeryaningrat dalam menentang Peringatan 100 Tahun Kemerdekaan Belanda dari penjajahan Spanyol. Karena merayakan kemerdekaan di tanah yang dijajahnya. Ketika pecah Perang Dunia I (1914-1918), tepat tahun 1915 Abdoel Moeis sudah menjadi salah satu pimpinan Central Sarekat Islam sebagai Commisaries (APE Korver, 1985: 220). Nyaris sebagian besar masa mudanya ia baktikan untuk perjuangan, bergerak melalui Sarekat Islam (SI) pimpinan Tjokroaminoto. Bersama Soewardi Soejaningrat atau Ki Hadjar Dewantara, Abdoel Moeis menduduki posisi tinggi di kepengurusan SI Jawa Barat. Dan mulai April 1914 hingga beberapa tahun ke depan, Moeis dipercaya menjadi wakil ketua Central Sarekat Islam (CSI, pengurus pusat SI) mendampingi Tjokroaminoto. Dengan cepat, Moeis menjelma menjadi sosok intelektual yang berpengaruh. Pada Kongres Sarekat Islam diadakan pada 1916, ia menganjurkan agar SI bersiap-siap menempuh cara kekerasan menghadapi Belanda jika cara lunak sudah tidak mempan. Abdoel Moeis terkenal sebagai orang yang selalu membela kepentingan rakyat kecil. Ia sering berkunjung ke daerah-daerah untuk membela rakyat kecil sambil membangkitkan semangat para pemuda agar semakin giat berjuang untuk kemerdekaan bangsa dan tanah air Indonesia. Moeis juga tidak sepakat dengan penamaan Hindia Belanda. Baginya, Hindia Belanda menjelaskan sebuah hubungan dari Belanda atas Hindia yang didasari atas kepemilikan dan dominasi. Tipe hubungan yang sama juga diekspresikan oleh kata “daerah jajahan” yang digunakan bagi Hindia. Moeis kemudian memberi makna politis dalam bentuk Hindia yang harus merdeka. Kemerdekaan bangsa Indonesia memang merupakan impian terbesar Moeis. Pemikiran nasionalismenya ini ia tuangkan di pelbagai kesempatan, termasuk dalam pidato-pidatonya dan tulisan-tulisannya di media massa. Simak nukilan salah satu pemikiran Moeis : “Selama bumiputera tanah Hindia belum memunyai kebangsaan dan tanah air sejati, maka perasaan cinta pada tanah air dan bangsa itu harus dibangunkan dalam kalbu bumiputera itu. Selama bumiputera tanah Hindia belum mendapat kemerdekaan, maka lebih dahulu ia harus memunyai sifat yang tersebut di atas. Segala pergerakan bumiputera haruslah berikhtiar membangunkan perasaan ini, karena dengan alasan itu saja suatu bangsa akan bernafsu memajukan negerinya, mengangkat derajat bangsanya.” Moeis juga berharap orang Indonesia bisa mencontoh Amerika yang kendati bukan merupakan bangsa yang terlahir dari asal-usul yang sama namun mereka dapat berbangga hati dengan benderanya, atau dengan lagu-lagu kerakyatannya. Sedangkan bangsa Indonesia tidak bisa merasakan hal yang sedemikian karena bendera Hindia adalah bendera Belanda, dan kaum pribumi tidaklah punya lagu-lagu kebangsaan. “Jadi patutlah kita mencari jalan lain buat membangunkan percintaan itu kepada bangsa dan tanah air. Salah satu daripada jalan itu, menyertai jalan-jalan yang lain, diturut oleh segala perkumpulan-perkumpulan bumiputera, timbangan saya adalah ilmu,” lanjut Moeis menawarkan solusi bahwa dengan memiliki banyak ilmu dan pengetahuan akan bisa membangun perasaan cinta kepada tanah air dan bangsa. Mengenai gagasan kebangsaan Indonesia sebagai salah satu bentuk penyadaran nasionalisme bumiputera, Abdoel Moeis berkata: “Yang menjadi tujuan daripada perhimpunan kaum pribumi itu adalah memerbaiki nasib kaum bumiputera. Sedangkan bila ia melihat lebih jauh maka tidak dapat tidak akan nampak bahwa perhimpunan-perhimpunan tersebut hanya satu tujuannya, yaitu kemerdekaan Hindia.” Dalam sambutannya pada Kongres Nasional SI Kedua, di Bandung 20-27 Oktober 1917 itu, Abdoel Moeis melanjutkan, “Putera-puteri Hindia tetap mengarahkan pandangannya kepada tujuan yang telah mereka idam-idamkan: melepaskan diri dari belenggu yang mengikat mereka.” “Yang pertama-tama harus kita miliki untuk usaha yang sukar dan berbahaya ini adalah rasa Kebangsaan, yaitu cinta kepada negara dan sesama bangsa kita. Bila kita renungkan betapa buruknya nasib negara dan sesama bangsa kita yang beratus-ratus tahun terbelenggu oleh orang-orang asing, serasa berdebarlah hati kita, berdiri bulu roma, dan kita merasa kasihan kepada negara dan sesama bangsa kita.” Di penghujung orasinya, Moeis kembali menegaskan akan pentingnya menumbuhkan perasaan cinta tanah air serta menekankan akan perlunya merapatkan barisan dan menghemat energi untuk kepentingan-kepentingan di dalam terlebih dahulu, meski juga mesti tak abai terhadap perkembangan-perkembangan global. “Untuk memerbaiki rumah tangga seluruh dunia tidak usah kita terlebih dahulu menjadi kaum internasionalis,” pungkas Moeis. Ketika Perang Dunia I terjadi, bangsa Indonesia pun siap sedia mengatasi kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Untuk itu, pada 1917, Abdoel Moeis diutus ke Negeri Belanda sebagai anggota Komite Indie Weerbaar guna membicarakan masalah pertahanan bagi bangsa Indonesia. Komite Indie Weerbaar adalah barisan pertahanan Hindia atau biasa dikenal dengan sebutan Milisi Indonesia yang merencanakan akan diberlakukannya semacam wajib militer bagi penduduk pribumi. Kendati rencana Milisi Indonesia itu mendapat reaksi keras dari orang-orang SI Semarang, namun Abdoel Moeis tetap berangkat ke Belanda. Menurut Moeis, dengan masuknya rakyat ke dalam angkatan bersenjata akan mendorong terbentuknya laskar perjuangan yang lebih tangguh, juga dapat dibanggakan di dalam sistem hirarki sosial. Dalam perjalanannya di dunia politik, Abdoel Moeis pernah menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat) bersama Tjokroaminoto sebagai wakil dari SI. Di forum Volksraad inilah Moeis dengan gencar mengecam penamaan Hindia Belanda untuk wilayah nusantara. Ia adalah salah satu penggagas lahirnya nama Indonesia. Keterlibatan Moeis dan Tjokroaminoto dalam Volksraad ini juga ditentang oleh Semaoen, Darsono, dan anggota SI Semarang lainnya. Akan tetapi Moeis berpikiran lain, bahwa Volksraad menyediakan arena baru bagi pergerakan untuk menggerakkan harapan-harapan kaum muda. Dengan Volksraad pula, suara bumiputera akan bisa lebih terakomodasi dalam rangka mewujudkan tujuan untuk membentuk pemerintahan sendiri bagi Hindia. Pertentangan di tubuh internal SI sendiri sudah cukup parah. Orang-orang SI Semarang yang digalang oleh Semaoen, Darsono, dan Tan Malaka adalah golongan yang bertipikal radikal. Mereka juga menjadi anggota Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) pimpinan Sneevliet yang merupakan cikal-bakal partai beraliran komunis di Indonesia. Golongan non-komunis, yang dimotori oleh Abdoel Moeis dan Agus Salim, menentang mereka dengan mengajukan kebijakan disiplin partai: anggota SI dilarang keras untuk menjadi anggota perhimpunan lain. Wacana disiplin partai mulai dibahas pada kongres CSI tahun 1920, serta dipertegas dan ditindaklanjuti lebih jauh pada kongres setahun kemudian. Soe Hok Gie di dalam bukunya Di Bawah Lentera Merah (Yayasan Bentang Budaya, 1999), mengungkap tiga point penting yang menjadi pokok pangkal perseteruan keduanya. Yang pertama adalah soal agama. Bagi kelompok Moeis, agar agama Islam diperkembangkan melalui partai. Sementara bagi Semaoen, cukuplah agama Islam itu tidak dibelakangkan dari agama lain di Indonesia. Yang kedua adalah soal nasionalisme. Kelompok Moeis menolak pertuanan (penghambaan-pen) bangsa yang satu oleh bangsa lainnya. Sementara kelompok Semaun menganggap perjuangan melawan kapitalisme adalah yang terpokok. Yang ketiga adalah sikap terhadap kapitalisme. Keduanya sepakat bahwa untuk memeperoleh kemerdekaan diperlukan dana untuk perjuangan. Bagi kelompok Moeis modal boleh dimiliki oleh individu orang Indonesia. Sementara bagi kelompok Semaoen modal harus dikumpulkan pada badan-badan koperasi. Setelah melalui beberapa pertimbangan, maka diputuskan bahwa usulan tentang disiplin partai diterima dan segera dilaksanakan. Keputusan ini sontak membuat beberapa pihak menolak, yaitu dari SI Semarang. Mereka itu di antaranya adalah Semaoen, Darsono, Mas Marco, Muhammad Kasan, Tan Malaka, yang kemudian mendeklarasikan SI Merah di Semarang. SI Merah lantas berubah menjadi Sarekat Rakyat sebelum diubah lagi menjadi Partai Komunis Hindia dan yang terakhir menjadi Partai Komunis Indonesia atau PKI. ****** Sepertinya Abdoel Moeis tidak pernah kehabisan ide untuk melawan Belanda. Pelbagai cara perlawanan pernah dilakukannya termasuk mengajak kaum buruh untuk melakukan mogok. Pada 11 Januari 1922, ia memimpin pemogokan buruh di Yogyakarta akibat adanya pemecatan pekerja pribumi secara sepihak oleh pemerintah. Moeis adalah ketua Perserikatan Pegawai Pegadaian Boemiputera (PPPB). Aksi mogok yang dipimpin Moeis dengan cepat meluas ke luar Yogyakarta. Dalam waktu dua minggu, sekitar 1.000 orang buruh pegadaian di Karesidenan Cirebon, Kedu, Pekalongan, Semarang, Rembang, Kediri, serta Surabaya mengadakan aksi mogok kerja secara massal. Pemogokan besar-besaran ini jelas membuat pemerintah kolonial kelabakan dan mengajak Abdoel Moeis untuk berunding. Moeis menuntut dibatalkannya pemecatan buruh dan meminta pemerintah membentuk suatu komite penyelidik ketidakpuasan para buruh pegadaian. Permintaan ini ternyata tidak digubris pemerintah sehingga membuat Moeis geram dan menggalang pemogokan dengan jumlah massa yang lebih besar. Pemogokan pekerja pribumi menurut Abdoel Moeis adalah sebuah bentuk perjuangan nasional. Akibatnya, pada 8 Februari 1922, Moeis ditangkap dan diasingkan ke Garut. Penangkapan Moeis membuatnya tidak bisa terjun lagi ke arena pergerakan nasional sehingga ia memutuskan untuk banting setir menjadi petani di tempat pembuangannya itu. Selain bergerak di lapangan fisik, Abdoel Moeis juga berjuang melalui tulisan-tulisannya. Namanya mulai dikenal oleh masyarakat ketika artikelnya yang banyak dimuat di harian De Express selalu mengecam tulisan orang-orang kolonialis Belanda. Setelah De Expres dilarang terbit akibat artikel keras Soewardi Soerjaningrat “Als Ik Ees Nederlander was” pada 1912, Moeis bekerja di suratkabar Kaoem Moeda sebagai redaktur serta mengurusi masalah-masalah penerbitan dan pemasaran. Moeis juga masuk ke keredaksian Oetoesan Hindia, organ internal SI, pada 1915 serta tercatat pula sebagai redaktur di majalah Hindia Sarekat. Pengalaman jurnalistik Moeis diperoleh ketika ia bekerja untuk suratkabar berbahasa Belanda, Preangerbode. Pada 8 September 1917, ia bergabung dengan Neratja sebagai pemimpin redaksi. Tulisan-tulisan Moeis menjadi pemantik perlawanan kepada pemerintah kolonial. Komitmennya atas perbaikan nasib pribumi melekat pada karya yang ia tulis. Moeis juga memimpin perusahaan periklanan NV Neratja yang terutama mengiklankan perusahaan-perusahaan gula. Neratja memang merupakan organ dari Suikersindicaat (asosiasi pabrik gula) Hindia Belanda. Hasil usaha Neratja digunakan juga untuk mendirikan perusahaan periklanan dan penerbitan di Sumatera Timur. Di samping terkenal sebagai aktivis pergerakan, pejuang intelektual, juga pegiat pers perjuangan, Abdoel Moeis juga kesohor sebagai sastrawan kenamaan Indonesia. Karya sastra yang berjudul “Salah Asuhan” yang sangat legendaris itu merupakan salah satu dari karyanya yang paling monumental. Salah Asuhan diterbitkan oleh badan penerbitan negara, Balai Pustaka. ***** Republik telah beberapa waktu berdiri. Hingar-bingar kebebasan menggema di mana-mana. Di pelosok di Garut Jawa Barat, seorang petani tua lebih suka berteriak mengusir burung-burung yang menyambangi padinya ketimbang ikut bersorak merayakan kemerdekaan. Ia menyadari bahwa ia sudah renta. Bukan masanya lagi ikut-ikutan berjingkrak selayaknya para pemuda revolusioner. Padahal siapa sangka, orang tua itu adalah salahsatu penyumbang utama pembentukan Indonesia sebelum ia memilih untuk menyepi. Petani tua itu bernama Abdoel Moeis, pejuang intelektual yang cukup kondang kiprahnya di era pergerakan nasional… Tetapi, belum lama Indonesia berdaulat, Belanda balik lagi. Masih menyalanya bara juang di hatinya membuat Moeis akhirnya tergerak juga untuk turun gunung, kembali beraksi meski tidak bisa seofensif dahulu. Maka didirikanlah Persatuan Perjuangan Priangan, suatu persatuan perjuangan untuk memertahankan kemerdekaan. Laskar perjuangan ini ia pimpin dengan segenap hati sebagai pengabdian pamungkasnya terhadap Republik Indonesia hingga akhirnya Moeis menutup mata di Bandung pada 17 Juni 1959. Abdoel Moeis dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung. Referensi : 1.Siapa Penggagas ITB ?, (dari milis itb75), Prof. Dr. Nina H. Lubis 2.Untuk Kemerdekaan Hindia, Iswara N Raditya 3.Abdoel Moeis dan Press Pribumi, Syafaat R Slamet *Gambar dari Belajarsejarah.com

Read Full Post »

CALL FOR PAPER

The 3rd International Conference on Technology and Operations Management 2012
(ICTOM 2012)

The 3rd ICTOM 2012 International Conference on Technology and Operations Management (ICTOM 2012) will be held in Institut Teknologi Bandung, Bandung, West Java, Indonesia during July 4th-6th, 2012.

Theme:
‘Sustaining Competitiveness through Green Technology Management’

Keynote Speakers:
Dr. Ir. Kuntoro Mangkusubroto, MSIE
Head of Unit President for Development Supervision and Control (UKP-PPP, or more familiar called UKP4). Former Minister of Mines and Energy

Prof. Fumio Kodama
Professor Emeritus at The University of Tokyo, and also at Shibaura Institute of Technology (in Tokyo). Visiting Professor at Ritsumeikan University (in Kyoto) and at Kwansei Gakuin
University (in Hyogo).

Prof. Tan Sri Dato’ (Dr) Ir. Jamilus Hussein
Managing Director of KLIA Berhad. Former Chairman of Industrial Building System, Construction Industry Development Board (CIDB) Malaysia.

Important Dates:
Deadline for Abstract Submission: 29th February 2012
Notification of Abstract Acceptance: 21th March 2012
Final Paper Submission: 11th April 2012
Early Birds Registration: 11th April 2012
Correspondence Acceptance: 25th April 2012
Registration Dateline: 1st June 2012
Conference Dates: 4th -6th July 2012

The 3rd ICTOM 2012 conference plans to explore in great depth, the implication of the concept, ‘Sustaining Competitiveness through Green Technology Management’. The topics include are, but not limited to:

·           Technology Assessment
·           Technology Transfer
·           Technology Adoption
·           Technology Innovation
·           Supply Chain Management
·           Operations Management
·           Quality Management
·           Project Management
·           Information and Communication Technology Utilization
·           Process Design and New Product Development
·           Intellectual Property Rights in Management
·           R&D Management
·           Change Management
·           Green Technology
·           Technopreneurship
·           Social and Human Issues
·           Robotics in Manufacturing
·           Business Process Management
·           Advanced Manufacturing Technology

ABSTRACT AND PAPER SUBMISSION:

Website: http://www.sbm.itb.ac.id/ictom
For any inquiries, please email or mail to:
The 3rd ICTOM 2012 CONFERENCE SECRETARIAT
Institut Teknologi Bandung
School of Business and Management
Jl. Ganesha No.10 Bandung 40132
Contact Person: Dr. Akbar AdhiutamaPhone: + 62 22 2531923 ext. 314
Email: ictom@sbm-itb.ac.id
For event’s update please also follow us on:
Twitter: @ICTOM2012
Facebook page: 3rd International Conference on Technology and Operations Management

Call for Paper 3rd ICTOM 2012.pdf
56K   View   Download

Reply Reply to all Forward

Dermawan Wibisono9:17 AM (11 minutes ago)

CALL FOR PAPER The 3rd International Conference on Technology and Operations …

Dermawan Wibisono via sbm-itb.ac.id
9:17 AM (11 minutes ago)

to wibi_bradford

———- Forwarded message ———-
From: Dermawan Wibisono <dwibisono@sbm.itb.ac.id>
Date: Fri, Feb 17, 2012 at 9:17 AM
Subject: Reminder Call for Paper 3rd ICTOM 2012
To: List tertutup Dosen ITB <dosen@itb.ac.id>

CALL FOR PAPER The 3rd International Conference on Technology and Operations Management 2012(ICTOM 2012) The 3rd ICTOM 2012 International Conference on Technology and Operations Management (ICTOM 2012) will be held in Institut Teknologi Bandung, Bandung, West Java, Indonesia during July 4th-6th, 2012. Theme:          ‘Sustaining Competitiveness through Green Technology Management’  Keynote Speakers:
Dr. Ir. Kuntoro Mangkusubroto, MSIE
Head of Unit President for Development Supervision and Control (UKP-PPP, or more familiar called UKP4). Former Minister of Mines and Energy

Prof. Fumio Kodama
Professor Emeritus at The University of Tokyo, and also at Shibaura Institute of Technology (in Tokyo). Visiting Professor at Ritsumeikan University (in Kyoto) and at Kwansei GakuinUniversity (in Hyogo). Prof. Tan Sri Dato’ (Dr) Ir. Jamilus Hussein
Managing Director of KLIA Berhad. Former Chairman of Industrial Building System, Construction Industry Development Board (CIDB) Malaysia.  Important Dates:Deadline for Abstract Submission: 29th February 2012Notification of Abstract Acceptance: 21th March 2012Final Paper Submission: 11th April 2012Early Birds Registration: 11th April 2012Correspondence Acceptance: 25th April 2012Registration Dateline: 1st June 2012Conference Dates: 4th -6th July 2012  The 3rd ICTOM 2012 conference plans to explore in great depth, the implication of the concept, ‘Sustaining Competitiveness through Green Technology Management’. The topics include are, but not limited to:
·           Technology Assessment·           Technology Transfer·           Technology Adoption·           Technology Innovation·           Supply Chain Management·           Operations Management·           Quality Management·           Project Management·           Information and Communication Technology Utilization·           Process Design and New Product Development·           Intellectual Property Rights in Management·           R&D Management·           Change Management·           Green Technology·           Technopreneurship·           Social and Human Issues·           Robotics in Manufacturing·           Business Process Management·           Advanced Manufacturing Technology
ABSTRACT AND PAPER SUBMISSION:

Website: http://www.sbm.itb.ac.id/ictom For any inquiries, please email or mail to:The 3rd ICTOM 2012 CONFERENCE SECRETARIAT
Institut Teknologi Bandung
School of Business and Management
Jl. Ganesha No.10 Bandung 40132
Contact Person: Dr. Akbar AdhiutamaPhone: + 62 22 2531923 ext. 314
Email: ictom@sbm-itb.ac.id For event’s update please also follow us on:Twitter: @ICTOM2012Facebook page: 3rd International Conference on Technology and Operations Management

Call for Paper 3rd ICTOM 2012.pdf
56K   View   Download

Reply Forward

Click here to Reply or Forward
People (4)ICTOM –
ictom@sbm-itb.ac.id

Show details
Ads – Why these ads?
ProductService Innovation
Master’s in sustainable product- service innovation
http://www.bth.se/mspi
128
TeamBuilding in Budapest?
Yes – come to Budapest and have a unique tailor made program.
http://www.underguide.com/teambuilding
128
More about…
Web Conference »

It Conference »

MBA University »

Conference and Meeting »

6% full
Using 1552 MB of your 25600 MB ©2012 Google – Terms of Service – Privacy Policy – Program Policies
Powered by
Last account activity: 7 minutes ago
DetailsLet people know what you’re up to, or share links to photos, videos, and web pages.

Read Full Post »

Kolega ysh, Saya hanya ingin sharing bagi semuanya untuk lebih berhati-hati dengan komplotan penjahat bermotor berdasarkan pengalaman yang saya alami kemarin sore, Rabu, 28 April 2010. ———————————-

Saya pulang dari ITB pukul 17.10 diantar sopir menuju ke rumah di Arcamanik. Saat sampai di traffic light pertigaan Gedung Sate-Gasibu, terdengar suara ‘plethak’ dari ban kiri belakang dan ban langsung kempis begitu cepat tidak lebih dari 50 meter. Kami berhenti di depan museum Geologi untuk mengganti ban. Saya dan sopir keluar dari mobil. Waktu menunjukkan pukul 17.30, jalanan ramai, kondisi masih cukup terang. Rinai gerimis mulai turun. Ada pertentangan di hati: saya naik mobil lagi atau menunggu di luar saja. Saya putuskan menunggu di luar mobil, tak tega membiarkan Pak Mamad, sopir SBM yang setia itu mendongkrak ban dan menggantinya dengan tambahan bobot 85 kg di atas mobil kami. Saat sopir mengganti ban, saya berdiri di samping kiri pintu belakang, menelepon istri bahwa saya akan terlambat mengantar anak kontrol ke dokter yang semula booking jam 18.00 di Padasuka, komplek pertokoan yang baru. Kontrol kedua anak saya setelah keduanya, 7 hari diopname karena DBD. Anak-anak yang baik, cakep, santun dengan lagu kesayangan asmaul husna. Saya masih terus berdiri, mengawasi Pak Mamad mengganti ban. Sesaat kemudian saya lihat sebuah Avanza hitam berhenti beberapa meter di depan mobil kami. Saya perhatikan tak ada seorangpun turun dari mobil itu. Mobil diam beberapa saat. Saya pikir apakah pengemudinya sedang melihat peta atau sedang menelepon. Saya tak begitu perhatian lagi ke mobil hitam itu. Dari arah belakang, datang seorang pengendara sepeda motor berplat D menanyakan jalan Cihampelas. Saya mendekat dan menerangkan ke pengendara sepeda motor sambil dalam hati berkata: dengan potongan seperti anak gaul, badan kekar, berjaket kulit coklat kusam, plat motor D, kok nanya jalan Cihampelas? Aneh ini? Saat menjelaskan jalan Cihampelas itu, badan saya menghadap ke arah Gasibu, membelakangi mobil kami dan avanza hitam itu. Pak Mamat yang masih mengganti roda mendengar sayup-sayup pintu mobil kami ditutup: breg. Dia berdiri, tapi tak tampak apa-apa di dalam mobil. dalam waktu bersamaan, setelah saya terangkan arah ke Cihampelas, sang pengendara motor memacu motornya. Saya terus mengawasinya sampai di ujung jalan. Sepeda motor jalan zig-zag dan ngebut. Saya pikir dia akan memutar di depan RM Sate Sinta jika akan ke Cihampelas. Ternyata tidak. Dia terus melaju dan tak saya sadari Avanza hitam juga telah menghilang. Bu Yuhanna, Kabag kami yang rumahnya di Arcamanik melintas dan berhenti, menawarkan tumpangan, jika saya memang tergesa dan penggantian ban masih lama. Pak Mamatr sudah selesai memasang roda, jadi saya bilang terima kasih, saya dengan Pak Mamat saja. Bu Yuhanna melaju pulang dan kami menyusul di belakangnya. Sesampai di rumah, saat akan menurunkan tas, baru saya sadari bahwa tas saya hilang. Tas kulit-hitam berusia 10 tahun yang penuh kenangan, yang dibeli di carboot Halifax saat ambil PhD di UK itu saying good bye beserta seluruh isinya: laptop, external hard disk, paspor seluruh keluarga yang baru dibikin, koreksian 3 bab draft buku, buku-buku tabungan. Setengah jiwa hilang terbawa laptop & external harddisk itu: bahan-bahan pengajaran, draft buku, soft copy novel terbaru, rancangan paper, rancangan cerita film animasi, ….semuanya…..

Di Jalan Diponegoro Bandung, saat masih terang tanah, jalanan ramai, 2 lelaki di dalam mobil, tak menyurutkan niat jahat yang sudah terpatri di hati.

Innalillahi wa ‘inna ilaihi roji’un.

Read Full Post »

Older Posts »