Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘bisnis’

Alhamdulillah, dalam sidang terbuka, 27 Februari 2014, telah lulus dari program doktor SBM ITB, lulusan yang pertama  Dr. Anton Mulyono Azis, dia adalah bimbinganku yang pertama dan menjadi lulusan pertama dari program SBM ITB setelah menempuh 5 tahun study…Penantian yang lama yang butuh kesabaran, intensitas, kerja keras….(dalam foto dari kiri ke kanan: Dr. Mursyid Hasan Basri, Dr. Anton Mulyono Azis, Prof. Dermawan Wibisono)

Anton_2

Iklan

Read Full Post »

…..Segera di toko buku….

————————————————————————–

Active Learning with Case Method

Mempertajam analisis, logikadan daya ingat mahasiswa

Prakata

Sistem belajar aktif (Active Learning Sistems) telah lama diyakini memberi makna yang signifikan, terutama bagi mahasiswa yang sudah dianggap sebagai manusia dewasa dalam proses pembelajaran. Dalam sistem belajar aktif, diakomodir perbedaan setiap individu untuk memiliki pendapat, persepsi maupun langkah-langkah pemecahan masalah yang berbeda antara satu dengan lainnya. Dalam pendidikan sistem konvesional dan tradisional seperti saat ini banyak diterapkan di Indonesia, hal ini tidak mungkin terlaksana karena sistem yang dianut adalah monolog, di mana dosen dianggap sebagai pusat pembelajaran dan pusat keilmuan.

Dalam perkembangan zaman di mana sumber pengetahuan dapat dengan mudah diakses secara on line sistem belajar secara tradisional seharusnya sudah tidak berlaku lagi, terutama bagi sekolah bisnis dan manajemen. Dosen bukan lagi orang yang paling pintar dan dapat bertindak sebagai diktator dalam proses penyerapan pengetahuan dan pengambilan keputusan di segala aspek dalam seluruh organisasi yang berkembang sangat dinamis. Bahkan dalam hal akses terhadap pengetahuan terkini dari sumber terbuka di universitas-universtitas terkemuka di dunia, seringkali mahasiswa lebih lincah, lebih cepat, lebih trampil melakukannya.

Salah satu model pembelajaran yang mengikuti pola belajar aktif adalah sistem pembelajaran dengan menggunakan metoda Kasus (Case Method) yang telah lama diterapkan di Harvard Business School. Dari penerapan metoda pembelajaran ini, Harvard Business School hampir selalu mendapatkan  ranking 1 di dunia dari berbagai cara pemeringkatan seperti Shanghai Jia Tong, Webometrcis, Time Higher Educations, dan sebagainya, karena sistem belajarnya tersebut, tentu di samping mendapatkan mahasiswa terbaik dari seluruh dunia. Ada banyak keunggulan sistem belajar dengan metoda Kasus ini, namun tidak banyak yang menyadarinya, tidak mengetahuinya bahkan masih banyak yang terus menerapkan sistem lama karena terlanjur sukar mengubah kebiasaan lama.

Terdapat perbedaan yang sangat mencolok antara sistem belajar dengan metoda Kasus dengan sistem belajar cara tradisional. Perbedaan ini bukan saja menyangkut pola pikir dan pelaksanaannya, tetapi melibatkan juga fasilitas fisik yang harus dimiliki. Bahkan seringkali dalam buku teks akademis yang digunakan, dicantumkan Kasus dalam lembaran terakhir dari tiap babnya, dan para pengajar serta universitasnya sudah merasa menerapkan sistem belajar dengan metoda Kasus karena itu. Dalam pengertian sistem belajar dengan metoda Kasus yang mengacu pada sistem Harvard, Kasus yang seringkali ada dalam buku tersebut bukanlah Kasus yang sebenarnya, tetapi hanyalah sebuah exercise saja, atau diistilahkan sebagai arcmchair case.  Kasus karangan. Dalam sistem Harvard, Kasus adalah kejadian yang benar-benar terjadi pada masa lalu dan dialami oleh eksekutif dari sebuah organisasi atau perusahaan, di mana Kasus ini dibawa ke kelas untuk pembelajaran, dengan mahasiswa diminta untuk berperan sebagai pengambil keputusan dalam Kasus yang dihadapi. Tentu dalam pembalajaran yang terjadi akan terdapat pertimbangan logika yang berbeda, latar belakang teori yang melandasi keputusan yang diambil juga dapat berbeda, serta berbagai hal lainnya yang bisa jadi berbeda antara mahasiswa satu dengan mahasiswa lainnya dalam pengambilan keputusan atas Kasus tersebut. Di sinilah peranan Kasus sebenarnya yang digunakan sebagai kendaraan dalam pemberian teori maupun pendekatan dalam subjek yang sedang dikaji. Jadi sebelum membahas dan mengambil keputusan dalam Kasus yang didiskusikan, mahasiswa harus membaca Kasus, membaca teks book atau referensi, membaca journal, untuk sampai pada pengambilan keputusan yang terbaik, menurut pikiran dan logika mahasiswa, yang bisa jadi berbeda dengan mahasiswa lainnya. Itulah dinamika penggunaan metoda Kasus dalam studi.

Sejak tahun 2004, MBA ITB di bawah kepemimpinan Prof. Jann Hidajat Tjakraatmadja, telah melakukan revolusi sistem belajarnya dengan mengadopsi sistem Harvard tersebut, melalui pelatihan terhadap dosen-dosennya. Tak kurang para dosen yang pakar di bidang pembelajaran dengan sistem Kasus tersebut mengubah pola pikir dan proses belajar di MBA ITB dengan memberi pelatihan intensif tentang metode studi Kasus tersebut kepada seluruh dosen MBA ITB, di antaranya Prof. Lambros Karavic (Victoria University, Melbourne), Prof. James Erskine (Richard Ivey Business Schoo & Managementl, Kanada), Dr. Hadi Satyagraha, Prof. Ho Den Huan (Nanyang University, Singapore) dan sebagainya. Dari hasil revolusi yang dilakukan, telah didapatkan hasil yang nyata, di antaranya MBA ITB telah dua kali masuk sebagai finalis L’oreal Business Case Competition yang diadakan di Paris bagi mahasiswa seluruh dunia. Di mana dari seluruh Perguruan Tinggi di dunia dibagi menjadi 8 zona dan Indonesia berada di Zona Delapan (Asia Selatan, Asia Tenggara dan Asia Timur) bersama-sama dengan Universitas top seperti berbagai Universitas dari Singapura, Thailand, India, Jepang dan sebagainya. Jumlah peserta dalam sekali business case competition di selenggarakan, melalui tahap online sebelum final di Paris tersebut, tidak kurang dari 220.000 mahasiswa dari 180 perguruan tinggi terbaik di seluruh dunia. Namun nyatanya  MBA ITB berhasil menjadi finalis dua kali yaitu di tahun 2006 dan 2009 di Paris tersebut.

Untuk sharing bagaimana sistem belajar dengan metoda Kasus itu dilaksanakan dengan benar, buku ini disusun agar sekolah bisnis dan manajemen di Indonesia dapat maju bersama-sama membangun bangsa. Buku ini disusun secara simpel dan praktis, dengan pengalaman penulis menjadi peserta pelatihan terbaik dari Prof. James Erskine dan juga mengambil pelajaran bahwa metoda yang diajarkan adalah benar, berdasarkan kemenangan kedua kelompok mahasiswa MBA ITB dalam kompetisi internasional di Paris tersebut, di mana saat itu penulis menjadi Ketua Program studi MBA ITB (2006-2009) serta selama 10 tahun mengajar MBA ITB dengan metode studi Kasus tersebut.

Terima kasih penulis sampaikan kepada Prof. Jann Hidayat dan Prof. Surna Tjahja Djajadiningrat yang mengijinkan penulis untuk mengembangkan segala kreativitas saat menjadi ketua Program Studi MBA ITB, Prof. Utomo Sarjono Putro, kolega yang menyumbangkan ide debat, Drs. Herry Hudrasyah, MA, kolega dosen dan soul mate dalam berbagai ide inovasi yang diterapkan, karena hanya beliau lah yang mengerti dan mampu merepresentasikan ide yang ada menjadi sesuatu yang nyata, dan selalu lebih baik, Dr. Wawan Dhewanto, Dr. Yus Sunitoyo, Pak Efson, Hani, Maya Bob, Amak, dan Ricky.

 Semoga bermanfaat bagi semuanya dan majulah Indonesia.

 Bandung, 2014

 Prof. Dermawan Wibisono

Read Full Post »

Cover_3G_Gramedia

Read Full Post »

Nantikan segera, di toko Buku Akhir Mei 2011:

Manajemen KInerja Korporasi dan Organisasi: Panduan Penentuan Indikator, oleh Dr. Dermawan Wibisono, penerbit Erlangga.

Read Full Post »

1. Buku Akademis

 

Riset Bisnis

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2003)

Pengarang: Dr. Dermawan Wibisono

Cocok bagi: Mahasiswa Ekonomi, Manajemen, Bisnis, Teknik Industri dan Praktisi

Manajemen Kinerja: Konsep, Desain dan Teknik Meningkatkan Daya Saing Perusahaan

Penerbit: Erlangga (2006)

Pengarang: Dr.Dermawan Wibisono

Cocok bagi: Praktisi (direktur & manajer) & akademisi (S1,S2,S3, di bidang Manajemen, Bisnis, Ekonomi, Teknik Industri)

2. Fiksi

Sang Juara: Teka-teki Hilangnya Shirley

Penerbit: Zip Book (MQ group) – 2008

Pengarang: Dr. Dermawan Wibisono

Cocok bagi: anak-anak SD, SMP dan orang tua.

Genre: Drama-petualangan

Setting cerita: Inggris

Gading-gading Ganesha (3G): Bahwa Cinta Itu Ada

Penerbit: Ganesha Creative Industri & Mizan (2009)

Cocok bagi: SMU, Mahasiswa, pekerja, ibu rumah tangga

Genre: Drama-Komedi-kejuangan-ketokohan-religi

Setting cerita: Trenggalek, Siantar, Bandung, ITB, Jakarta, Padang, Surabaya, Melbourne

Menggapai Matahari

Menggapai Matahari

Penerbit: Sedang dalam proses evaluasi penerbit untuk terbit 2010

Pengarang: Dr. Dermawan Wibisono

Genre: drama-kejuangan-persahabatan-ketokohan-cinta

Cocok bagi: anak SD,SMP, SMU, Universitas, Pekerja, ibu rumah tangga

Setting: Semarang, London, Surabaya

Read Full Post »

Pendiri SBM ITB

Pendiri SBM ITB

 

 

 

Para Pendiri SBM ITB, pada suatu hari, di bulan Desember 2003.

dari kiri ke kanan: Prof. Jann Hidajat, Prof. Surna Tjahja Djajadiningrat, Dr. Kuntoro Mangkusubroto,  Ir. Nurhayati, MTM, MT (Almarhumah), Dr. Dermawan Wibisono, Ir. Budi Permadi Iskandar, MPK, Aurik, ST,MT, Dr. Utomo Sarjono Putro, Dr. Sudarso Kaderi Wiryono

Tanggal 31 Desember 2003, merupakan hari yang bersejarah bagi School of Business and Management, Institut Teknologi Bandung. Pada hari itulah secara resmi program S1 di bidang Manajemen diresmikan keberadaannya di ITB untuk melengkapi ranah ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang sudah ada.

Tonggak keberadaan program S1 di bidang manajemen tak lepas dari peranan Prof. Matthias Aroef, pendiri jurusan Teknik Industri pada tahun 1971 dan Magister Manajemen pada tahun 1990. Adanya program Magister Manajemen ini menjadi sebuah sistem penarik bagi pembentukan program S1 di bidang bisnis dan manajemen dengan sistem pembelajaran yang berbeda dari program studi yang pernah ada di Indonesia.

Ramuan dari berbagai pendekatan mutakhir di dunia plus komitmen dari 10 orang pendirinya untuk menjadi full time faculty yang ready setiap saat ditemui mahasiswanya, proses pembelajaran dalam bahasa Inggris dan berbagai rancangan unik lainnya menjadikan program S1 – SBM ITB dalam waktu cepat, melesat menjadi program studi favorit dan menghasilkan entreprenerial leaders yang dapat mengisi kekosongan dunia industri dan kewirausahaan yang akhir-akhir ini dirasakan merupakan kebutuhan utama bangsa Indonesia.

Read Full Post »

Candle Light, MBA ITB Business Review Vol. 4 No. 1 2009

You are not Your Thought

Hingar bingar kampanye calon legislatif telah berlalu. Baliho dan spanduk yang memenuhi sudut-sudut kota telah digulung, dikilo, menjadi alas tempat duduk,  tenda-tenda pedagang lesehan, sarung bantal, sprei, korden atau teronggok di  tempat sampah.Tulisan pada baliho dan spanduk yang hampir seragam: bersih, anti korupsi, berpihak kepada rakyat, tak lagi memberi makna. Bahkan menurut sementara orang, tulisan itu sudah tidak bermakna sama sekali sejak baliho itu dipasang berdampingan dengan foto diri tergagah atau tercantik yang dimiliki. Apa yang keliru di negeri ini, sehingga sulit sekali orang mempercayai omongan orang lain, walaupun setiap Hari Jum’at sudah diingatkan: janganlah kamu melihat kepada siapa yang bicara tapi lihatlah isi pembicaraanya. Nasihat setiap jum’at itu agaknya terlalu agung dan tak tergapai pikiran di jaman yang serba pragmatis, logis, linier dan selalu mendasarkan diri pada hukum sebab akibat.

Seorang kawan berpesan singkat: sakit-sehatnya diri kita, hanya diri kita yang tahu. Orang lain tak akan tahu jika tidak kita beritahu. Namun baik buruknya diri kita, bukan dari klaim sepihak kita, tetapi justru dari sudut pandang penilaian orang lainlah mestinya kita bercermin. Jadi klaim bahwa para caleg tadi bersih, anti korupsi, berpihak kepada rakyat adalah sebuah klaim yang sia-sia. Seperti halnya kita menyatakan bahwa saya ikhlas, saya demokratis, saya bekerja untuk ibadah, adalah sebuah niatan yang semestinya tidak perlu dinyatakan. Karena begitu dilontarkan justru pihak yang mendengarnya akan dengan serta merta mempertanyakan ‘kemurnian’ pernyataan itu, walau sekedar di dalam hati. Biarlah orang lain yang menilainya. You are not your thought. Anda bukanlah seperti yang anda kira, yang anda pikirkan dan yang anda klaim kepada pihak lain.

Selain tidak satunya kata dengan perbuatan yang mendasari rendahnya budaya trust di Indonesia seperti dijelaskan dalam paragraf di atas, ada satu lagi ‘misteri’ yang banyak melingkupi insan cendekia di negeri ini. ‘Fenomena dokter gigi’ hampir terjadi di banyak segi kehidupan. Dokter gigi tidak bisa melakukan treatment sendiri  pada giginya yang sakit, keropos, perlu dicabut atau dioperasi. Harus orang lain yang melakukannya. Demikian pula agaknya kecenderungan para pengampu ilmu di negeri ini. Para ahli di bidang humanis seringkali kesulitan mempraktekkan ilmu yang dikuasainya itu dalam perilaku dan kehidupan sehari-hari-hari, bahkan seringkali bersikap lebih sinis dan mahal akan pujian dibandingkan dengan orang yang tidak mempelajari secara rinci ilmu humanisme itu. Para ahli transportasi dan struktur sulit menerapkan kepakarannya justru di jantung tempat para beliau tinggal. Kota begitu semrawutnya dengan struktur bangunan yang tidak merepresentasikan bahwa di dalam kota, berpuluh ahli di bidang itu setiap hari mengais rizki. Para pengajar sekolah bisnis justru seringkali  tidak cukup berhasil dalam real business yang dilakukannya, terlalu banyak menimbang, khawatir dan tidak melakukan apa-apa. Atau ahli Risk Management justru karena paham berbagai metode dan perhitungan risiko itu, sering malah menjadi seorang safety player nomor wahid dalam praktek kehidupannya.

Jadi, ketika lidah tidak terejawantahkan dalam langkah, dan keahlian tidak terwujudkan dalam kehidupan, masihkah kita cukup nyali untuk terus berpromosi dan melakukan agitasi?

 

Dermawan Wibisono

Read Full Post »

Older Posts »