Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘cerita’

Here are several books could be used to increase your company performance and your individual perform.

1. Academic books

Cover_Case_I_100714Published: Andi Publisher – Jogjakarta

Author: Prof. Dermawan Wibisono

You can get it at August 2014

 

Cover_jerman_230414Published by: Lambert Academic Publishing, Germany

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it through their web site: http://www.lap-publishing.com

Since it is e-book

 

Skripsi, Thesis, Disertasi

Published by: Andi Publisher

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it on June 2013

 

 

Good reference

Published by: Gramedia

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it January 2013

Published by: Penerbit Erlangga, 2011

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it at the end of June  2011

Published: Penerbit Erlangga, 2006

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get in Gramedia or directly to publisher on line

Published by Gramedia, 2003

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it through Gramedia on line

2. Character Building  novels

Cover_3G_Gramedia

Published by: Gramedia

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it 18 April 2013

Publisher : Inti Medina, Tiga Serangkai Solo, 2010

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it through publisher  or public book shops: funny, romantic, enthutiastic, spirit

Publisher: Mizan, 2009

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it through Mizan publishing on line or book shop: spirit to be the best, ITB novel background, romantic, funny, struggling

Publisher: MQS Publishing, 2008

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it through MQS on line or book shop: heroic, struggle, child appropriateness, motivation

Read Full Post »

Yang membuat Sekolah di Inggris Menyenangkan

1. Minat Baca

Salah satu keungulan metode pendidikan di Negara Barat, UK, khususnya yang saya lihat, adalah dalam hal menumbuhkan minat baca sejak dini. Setiap hari
anak-anak SD diminta membawa ‘Story Bag’, tas sekolah yang tipis – hanya
muat untuk satu dua buku saja, yang biasanya seragam warnanya untuk
masing-masing sekolah. Story bag ini akan diisi buku-buku cerita yang dapat
dibawa pulang ke rumah. Anak disarankan membaca cerita itu di rumah, yang
keesokan harinya (atau dua-tiga hari kemudian) mendapat giliran
membacakannya di depan kelas dan si anak akan ditanya juga tentang
karakter-karakter dalam cerita itu. Tiga sasaran sekaligus tercapai.

Pertama, si anak – yang memang dalam usia gemar pada cerita-cerita,
terpuaskan keingintahuannya. Kedua, skill reading dan komprehension mereka
terlatih. Ketiga, membantu meringankan ortu, karena harga buku tersebut
kalau harus membeli sendiri dan hampir dua hari sekali diganti dapat membuat
ortu kolaps keuangannya. Tampaknya ini berbeda dengan di kita, di mana sejak
SD sampai SMA diceritain kalau datuk Maringgih itu jahat sekali karena
memisahkan Siti Nurbaya dari Letnan Mas, sehingga….letnan Mas nggak pernah
naik pangkat jadi mayor apalagi jenderal….eh …enggak ding. Maksudnya,
kita didongengin kisah Siti Nurbaya tanpa sekalipun membaca dari buku
aslinya…..Memang sering ada perpustakaan sekolah, tetapi biasanya anak malah agak takut pinjam, karena ditakut-takuti: kalau robek harus ganti, kalau hilang
nanti orang tuamu dipanggil kesini, …bapakmu disuruh ngadep sama Bu
Guru…yang paling cantiiik….biar ikutan ndredeg!

Di samping story bag ini, juga ada game bag, yang kadang diberikan seminggu sekali. Game bag ini berisi alat peraga – biasanya permainan sederhana, di mana ortu harus mengajari anak sehingga ortu terlibat juga dalam pemahaman
materi sekolah.

2. Kreativitas

Pelajaran prakarya di Indonesia, yang saya rasakan dulu, biasanya merupakan mata pelajaran yang kurang populer dan menyebalkan. Tapi saya lihat di UK, mereka begitu menikmati hal tersebut. Tampaknya mereka menekankan pada kreativitas, orisinalitas dan kegembiraan dalam proses penciptaannya. Jadi
kalau dulu, sewaktu pak guru mengajar prakarya, satu bikin tempat telor,
semua bikin tempat telor. Satu bikin dari tanah liat semua juga begitu. Dan
rata-rata akan ‘menuruti pakem’ yang sudah digariskan, karena penekannya
pada ‘hasil’. Takut dapat nilai jeblog. Mungkin ini perlu diubah, sehingga
sekolah tidak lagi melahirkan robot-robot. Kreativitas memang awalnya
rumusan dari 3N – Niteni, Nirokke dan Nambahi (memperhatikan, meniru dan
menambahi). Tampaknya di kita banyak yang berhenti pada N yang kedua saja.


3. Rumitisasi.

Yang saya pahami, orang bersekolah tinggi-tinggi adalah salah satunya agar
dapat memberikan pemahaman kepada orang lain suatu masalah yang rumit dengan bahasa yang mudah dipahami. Yang saya amati, kecenderungan itu jadi
terbalik. Kebanyakan orang malah membuat masalah yang sederhana tampak jadi
rumit dan sophisticated. Di antaranya dengan meciptakan istilah-istilah yang
membuat orang jadi ‘terperangah’ semacam quantum leap, metal aritmatika,
parent group association…..ya bagus-bagus saja sih, cuman…ya gimana
gitulah…maaf ya nggak nyindir lho.

 

Read Full Post »