Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘dermawan wibisono’

Doktor pertama dari SBM ITB

Read Full Post »

Dua Menguak Takdir

Perjalanan untuk mencapai suatu prestasi dan posisi tertentu pastinya melalui suatu proses yang cukup panjang, tidak mungkin bisa dicapai dengan cara instant. Hal ini dialami pula oleh Prof. Utomo Sarjono Putro dan Prof. Dermawan Wibisono yang berhasil mendapatkan gelar Guru Besar di awal tahun 2013.

Proses pengurusan untuk mendapatkan gelar Guru Besar ini tidaklah mudah, dengan menjadi pengajar tetap di SBM ITB diuntungkan dengan bisa dengan mudah mengatur waktu untuk mempersiapkan ini, karena bisa konsisten mengajar, konsisten riset dan konsisten untuk mengurus proses pencapaian Guru Besar, Prof. Utomo dan Prof. Dermawan mempunyai cerita tersendiri dalam proses pencapaiannya.

Prof. Utomo merupakan Alumni S1 Teknik Industri ITB dan melanjutkan S2 dan S3 di Tokyo Institute of Technology Jepang, mendalami Decision Sciencedengan topik bagaimana suatu decision maker itu bisa belajar dalam situasi yang kompleks , melibatkan ketidakpastian akibat perbedaan persepsi diantara partisipan yang terlibat.
Saat ini menjadi beliau adalah Chair pada kelompok keahlian Decision Making di SBM ITB, Menjadi seorang Akademik leader adalah salah satu tugas dari seorang Guru Besar selain harus berkontribusi dalam perkembangan keilmuan dan pengabdian baik itu tingkat Nasional maupun Internasional melalui berbagai karya tulis ilmiah yang disusun dalam sebuah buku atau pun jurnal jurnal ilmiah yang di publish di tingkat Nasional maupun Internasional. Dalam waktu dekat akan terbit buku dengan judul “Agent Based Modeling and Simulation”, target kedepannya meluncurkan buku minimal 2 tahun sekali.

Salah satu kontribusi beliau di tingkat Nasional dengan aktif di Unit Kerja Presiden Bidang Pengendalian dan Pembangunan (UKP4) di tim Pemodelan, workshop dan pengembangan kebijakan. Mengenalkan pendekatan dalam pemodelan untuk dipakai dalam pengembangan kebijakan dengan membuat suatu network antara decision makers di government dengan akademisi dimana akademisi berbicara mengenai research tetapi belum difahami oleh para praktisi di government, yang mempunyai hambatan dalam pemahaman dari bahasa dalam reaserch itu sendiri, terkadang diperlukan workshop untuk menterjemahkan reasearch dari akademisi untuk digunakan oleh praktisi, semua ini di fasilitasi oleh UKP4.

Di tingkat Internasional beliau aktif di NMO (National Member Organization) Representative Indonesia di International Institute for Applied System Analysis (IASA), Luxemburg – Austria sebagai Secretary. Bagaimana keanggotaan Indonesia di IASA bisa memberi manfaat untuk organisasi itu, dalam hal ini kedudukan beliau sebagai secretary memberi peluang untuk membangun hubungan baik untuk mengkomunikasinya reaserch global yang bisa di terapkan di Indonesia.

Pesan Prof. Utomo “jadilah sesorang yang mempunyai keunggulan di bidangnya masing-masing”.

Sedikit berbeda dengan perjalanan yang dialami oleh Prof. Utomo, Prof. Dermawan Wibisono sebelum menjadi dosen di Teknik Industri ITB, memulai karier sebagai praktisi di perusahaan multinasional ASTRA Grup selama 2 tahun sebelum kembali ke ITB untuk menjadi Dosen pada tahun 1991. Beliau lulusan Teknik Industri ITB tahun 1989, Master by Research di Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT) Australia, tahun 1998 dan menyelesaikan Program Doktor di School of Engineering Design & Technology, University of Bradford di Inggris tahun 2003. Di University of Bradford tersebut, beliau mendalami bidang Performance Management Systems, dengan topik disertasi A Knowledge Based Design of Performance Management Systems in Manufacturing Sector.

Beliau termasuk salah satu dari 10 dosen pendiri SBM ITB bersama dengan Prof. Utomo pada Desember 2003. Pada tahun 2004-2005, beliau bertanggung jawab menangani Quality Assurance (QA), tahun 2006 – 2009 menjadi direktur MBA dan mengantarkan MBA sebagai Best Graduates Business School versi Majalah SWA tahun 2009, dan tahun 2009-2010 menjadi Dekan SBM ITB.

Sejak kepulangan dari studi Doktorat di Inggris tahun 2003, sampai saat ini beliau telah menghasilkan 4 buku teks akademis yang jadi acuan dalam pengajaran yang dilakukan, yaitu How to Create a Wolrd Class Company: Panduan Bagi Manajer dan Direktur (Gramedia, 2013), Panduan Penentuan Indikator (Erlangga, 2011), Konsep, Desain dan Teknik Meningkatkan Daya Saing Perusahaan (Erlangga, 2006), Riset Bisnis (Gramedia (2003), dan saat ini menunggu setting dari Andi Offset, sebuah penerbit di Jogjakarta untuk buku barunya berjudul Panduan Penulisan Skripsi, Tesis dan Disertasi. Pengalaman beliau menulis buku akademis membutuhkan paling tidak 6 bulan penyusunan, 4 bulan evaluasi oleh penerbit, 1 bulan untuk koreksi akhir dan 1 bulan untuk setting dan pencetakan akhir. Yang menarik, beliau juga telah menyelesaikan 3 buah novel pembangunan karakter, di mana novel Gading-gading Ganesha (Mizan, 2009) telah difilmkan tahun 2010 dan saat ini akan diterbitkan ulang oleh Gramedia. Bersama-sama dengan novel nya berjudul Menggapai Matahari (Tiga Serangkai, 2010) telah menjadi koleksi Australian Nasional Library Canberra, serta Sydney dan Perth Libary.

Proses yang dilalui dalam pengajuan Guru Besarnya terbilang lancar karena dari pengajuan bulan Juli 2012 oleh ITB, pada tanggal 1 Desember 2012 sudah keluar Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang pengangkatan beliau sebagai Guru Besar. Beliau merupakan Guru Besar pertama di angkatan 1984 ITB yang jadi dosen, dan juga merupakan yang pertama di angkatan 84 dari SMA 3 Semarang.

Tantangan yang dihadapi sebagai seorang Guru Besar di antaranya adalah memenuhi ekspektasi mahasiswa yang semakin meningkat seiring dengan bertambah besarnya institusi SBM ITB yang memerlukan seorang Profesor khususnya bagi peningkatan kualitas di tingkat Master dan Program Doktor.

Harapan beliau di antaranya adalah, rekan-rekan muda bisa lebih cepat berkembang untuk bersama- sama memajukan SBM ITB dan bagi para senior dapat lebih mengembangkan networking untuk membantu institusi agar cita-cita mewujudkan SBM ITB sebagai World Class Business School dapat segera tercapai.

Satu hal lagi yang beliau sampaikan berkaitan dengan master plan ITB yang ingin menjadi Universitas Research, di mana pemahaman tentang hal ini masih berbeda-beda antara dosen satu dengan dosen lainnya. Beliau menyatakan bahwa, pada dasarnya Universitas Research adalah apa yang diajarkan kepada mahasiswa di dalam kelas berasal dari research kita. Oleh karena itu seorang dosen seharusnya memiliki frame work sendiri, pendekatan sendiri terhadap suatu permasalahan dan mempunyai pengalaman langsung dalam penerapan pendekatanya di lapangan. Sehingga apa yang diajarkan lebih aplikatif, bukan hanya sekedar mentransfer teori yang ada di buku tetapi harus disesuaikan dengan kasus di lapangan dengan justifikasi ilmiah. Beliau selalu mengingat pesan dari supervisornya semasa menempuh studi di Inggris bahwa: “Professorship is not a status or achievement, it is a responsibility and your mental have to be ready to meet community expectations”.

Read Full Post »

Nantikan segera, di toko Buku Akhir Mei 2011:

Manajemen KInerja Korporasi dan Organisasi: Panduan Penentuan Indikator, oleh Dr. Dermawan Wibisono, penerbit Erlangga.

Read Full Post »

 

Foto    

KOMPAS ENTERTAINMENT/EKO HENDRAWAN

Minggu, 7 Februari 2010 | 18:34 WIB

Sujiwo Tejo: Dalang Layar Lebar

BANDUNG, KOMPAS.com — Keinginan besar seniman Sujiwo Tejo untuk menghasilkan sebuah karya film, mulai mendekati kenyataan. Film pertamanya, Gading-Gading Ganesha (Bahwa Cinta Itu Ada) akan segera dirilis di bioskop pada 4 Maret mendatang. 

“Sekarang lagi proses gradasi warna di Bangkok, setelah selesai ya langsung dirilis,” katanya saat ditemui di sela promo film tersebut di acara ITB Fair, di Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), Sabtu (6/2/2010) malam. 

Bahwa Cinta Itu Ada diangkat berdasarkan karya novel alumni ITB Dr.Dermawan Wibisono, yang saat ini juga sebagai Dekan SBM ITB. Dalam film yang skenarionya dipercayakan kepada Arya Gunawan itu, dikisahkan tentang persahabatan, cinta dan juga pencarian identitas di antara enam mahasiswa ITB di era tahun 80-an, yang datang dari berbeda latar belakang suku dan karakter. 

Keenam mahasiswa itu, yakni Slamet Hartono (diperankan Ariyo Wahab) asal Trenggalek yang keturunan Empu Sendok; Poltak Saut Hutabarat (Restu Sinaga) dari Pemantang Siantar; Benny (Rizky Hanggono) asal Jakarta; Gun Gun (Dennis Adiswara), Ciamis; Fuad (Alex Abad), Surabaya dan Ria (Eva Asmarani), Padang. 

Ada warna tradisi yang coba dihadirkan Sujiwo, pedalang, musisi yang juga aktor itu, dalam film pertama garapannya tersebut. “Saya akan menjadi dalang di film ini. Film ini dibuat seperti pada pementasan wayang. Kisahnya akan diantar oleh dalang dan nantinya pun ditutup oleh dalang,” jelasnya. 

Warna tradisi tersebut juga kian diperkuat dengan sentuhan original soundtrack dan music scoring yang dipercayakan kepada musisi Vicky Sianipar. “Konsep musiknya lebih ke dongeng, mirip musik-musik film Walt Disney, tentunya ditambah karaker lokal. Saya mencoba memadukan musik gamelan dengan orkestra. Ini yang membuat berbeda. Buat saya ini sebuah tantangan,” kata Vicky. (EH)

Read Full Post »

Widyawati dalam Film BCIA-3G

 untuk link yg lebih lengkap tentang siapa berperan sebagai apa, para crew, thriller film, dan sebagainya, silahkan klik: http://www.3g-cinta.com

Eva Asmarani sebagai Ria saat sukses dalam karir namun bukan dalam cinta

Read Full Post »