Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘fiksi semiasosiatif’

Serial: Nostalgia SMA 3 Semarang

SERPIHAN HATI YANG RETAK
(Selasa, 29 Juni 2004)

Sebenarnya ada lebih banyak lagi rahasia hati yang tak
terungkap di masa SMA itu. Sebagian kisah yang kita
tahu selama ini, justru bukan yang sebenarnya terjadi,
atau minimal dimaui. Ada banyak hati yang saling
membidik, meleset dan tak sempat tertuang dalam
ingatan kita.

Setelah kasus “Yani, kamu mengoreksi pekerjaan siapa?”
dalam episode Sepasang Merpati itu, Younsel cukup
jumawa mengetahui ada dawai senar hati bergetar
untuknya.

Hidup serasa semakin bergairah.
Semarang tampak semakin indah.
Tugu muda makin lama makin gagah.
Senyum terlempar ke setiap orang yang ditemui
sepanjang jl. Pemuda menuju Magersari, rumah
kos-kosannya. Terik panas di siang bolong serasa
sesejuk puncak Mount Everest. Mak cless…..gitu….

Namun ada hati yang panas membara.
“Kita sama-sama di kelas ranking, kulit kita sama
putihnya, mata kita sama sipitnya, bahkan aku berkaca
mata, sedangkan Yunsel gagang kaca matanya saja gak
punya, aku naik sepeda, Younsel jalan kaki. Rasanya
tak ada sisi di mana aku patut menerima kekalahan tak
bersyarat ini…” begitu batin hati yang membara itu
tak henti-hentinya menyulut relung hati, sepanjang
hari, dari jam 6.45 saat Pak Timan berteriak-teriak
mengejar para siswa yang terlambat sampai dengan pukul
12.30 saat semua hati kembali merasa sunyi.

Akhirnya hati yang meronta-ronta itu meneguhkan
dirinya untuk minta klarifikasi dan konfirmasi, kalau
perlu minta dilakukan fit and proper test, test
kepatutan dan kepantasan: siapa yang berhak di sisi
Yani Ngaliyan …

si Hati yang panas: ” Yan, tidakkah kau dapat cukup
jernih memandang persoalan dan masa depan kita…”,
wow prolognya sangat diplomatis, mbulet dan
membingungkan. Termasuk buat Yani.
Yani:” Ada apa ini…?” tanya Yani bingung dengan
senyum ala Marrie Currie…ahli nuklir itu (kalau
nanyanya mbulet terus tak bomb atom sisan lho, batin
Yani…yake lho, lha wong aku gak melu kebatinan kok).
Dengan tak sabar si hati yang panas menukas,
“Apalah istimewanya Younsel dibandingkan dengan
aku,….lihatlah dari segala sisi dengan hemat, cermat
dan bersahaja”…(wah kaya Dasa Dharma Pramuka aja
nih, ngrayu cewek kok ngono, ya pantes gak gelem).

Yani bergeming, tak terpengaruh oleh provokasi.
Baginya: biar mereka bicara….telinga kita terkunci,
ya sel….

Gemeretak gigi Younsel, mendengar ada pihak-pihak yang
mencoba membonceng dalam tikungan. Susah payah aku
berusaha mendekatinya, sejak masih tampak lugu dan
wagu. Setelah kuncup menjadi kuntum, kuntum kemudian
mekar dan serbuk sari bertemu dengan kepala putik(lho
malah pelajaran Biologi), kau akan ikut pula
memetiknya. Ho..ho..ho, buta saka ngendi kowe, iki
tatakana pusakaku, sadumuk bathuk-sanyari
bumi,pecahing dada, wutahing rudira. Ora sranta Satrio
Magersari kang nami Younsel Evand Roos, mlajar,
nggeblas, bablas angagem senjata cakra ngadang sak
ngajengipun gerbang tetenger SMA tiga (lho, rak malah
ndalang to, emange Younsel iku wayang kulit).

Tangan Younsel terkepal, muka memerah, hanya ada satu
kata di benaknya yang diapal dari sajak Wiji Thukul :
“Lawan !”.

“Youuuunselllll……jangaaaannnnn..!” teriak Yani
sambil berlari, menyiramkan sebongkah es di atas hati
yag jadi bara itu. Nyesssss….sedikit demi sedikit
emosi itu turun, mereda (atau jangan-jangan ini hanya
gertak sambal saja, karena sak jane Younsel ya gak
wani).

Akhirnya Baratayudha di padang Kurusetra itu dapat
dihindarkan.

Younsel balik badan menyusuri kembali jalan Pemuda
menuju Magersari dengan sesekali masih menengok ke
belakang. Menebarkan pandangan yang mengancam: Kali
ini kau lolos…..lain kali…entahlah….entah aku
masih berani atau tidak, maksudnya.

Sementara itu, ksatria hati yang membara dengan
tersenyum lugu, seolah tak meyadari bahaya yang
mengancam sekujur tubuhnya, mengayuh sepeda berlawanan
arah menuju Jl. Citarum, di mana seekor anjing herder
besar kesayangannya telah menunggu.

Dan kita sama-sama tahu, di antara keduanya, tak ada
yang akhirnya berhasil benar-benar memiliki hati sang
Marrie Currie…..Adakah serpihan hati yang retak itu,
masih berserakan di pelataran SMA kita?
Wallahu alam bisawab.

Iklan

Read Full Post »