Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘fiksi’

Here are several books could be used to increase your company performance and your individual perform.

1. Academic books

Cover_Case_I_100714Published: Andi Publisher – Jogjakarta

Author: Prof. Dermawan Wibisono

You can get it at August 2014

 

Cover_jerman_230414Published by: Lambert Academic Publishing, Germany

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it through their web site: http://www.lap-publishing.com

Since it is e-book

 

Skripsi, Thesis, Disertasi

Published by: Andi Publisher

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it on June 2013

 

 

Good reference

Published by: Gramedia

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it January 2013

Published by: Penerbit Erlangga, 2011

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it at the end of June  2011

Published: Penerbit Erlangga, 2006

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get in Gramedia or directly to publisher on line

Published by Gramedia, 2003

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it through Gramedia on line

2. Character Building  novels

Cover_3G_Gramedia

Published by: Gramedia

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it 18 April 2013

Publisher : Inti Medina, Tiga Serangkai Solo, 2010

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it through publisher  or public book shops: funny, romantic, enthutiastic, spirit

Publisher: Mizan, 2009

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it through Mizan publishing on line or book shop: spirit to be the best, ITB novel background, romantic, funny, struggling

Publisher: MQS Publishing, 2008

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it through MQS on line or book shop: heroic, struggle, child appropriateness, motivation

Iklan

Read Full Post »

STOP PRESS :

Segera terbit novel keluarga berjudul ‘Menggapai Matahari’ oleh penerbit Intan Medina dan dicetak oleh PT. Tiga Serangkai Solo.  September 2010…coming soon

Novel Keluarga - Realigi

…………………………………………………

Saat dekapan ibu terenggut dari jiwaku

Langit dunia  rubuh, pilar-pilarnya runtuh

 memporakporandakan hati dan masa depanku

Aku berjalan tak tentu arah

Tanpa pegangan, tiada sandaran

Lorong kehidupan yang kulalui

Sunyi, sepi, hampa, tak berarti

Tekad menggumpal di dada

Membalas dendam

atas prahara yang ditimpakan peramal kehidupan

Yang mendahului takdir-Nya

 ………………………………………….

Daftar Isi

  1.  Kamikaze …………………………………………………………………….       
  2. Di Antara Dua Kaki Sapi    ………………. ………………………………       
  3.  Gladiator Kampung   ……………………………………………………..    
  4.  Gadis Kecil Berkepang Dua   ……………………………………………
  5. Mbah Ronggo: Tukang Bikin Perut Busung   ……………………
  6.  Guruku Sayang, Guruku Malang   ……………………………………..
  7. Pernikahan Dini   ……………………………………………………………
  8. Ketika Harus Memilih………………………………………………………
  9. Tukang Cap Buku   ………………………………………………………..
  10.  Prahara Sang Peramal    …………………………………………………..
  11. Mentari Senja di Masa Kecil  
  12. Sang Harimau Pemangsa  
  13. Mengejar Layang-layang 
  14. Selamat Jalan Koko
  15. Lady Chatterley’s Lover  
  16. Inferior Complex   …………………………………………………
  17. Perkenalan Pertama  
  18. Lumut Lereng Gunung Ungaran  
  19.  Men Sana In Corpore Sano
  20.  Fashion Show  
  21. Dari Balik Jendela Challenger  
  22. Ketika Musim Ujian Tiba  
  23. Sayonara … Selamat Tinggal Kekasih Hatiku  
  24. Kristal Hati yang Retak
  25. Reinkarnasi  
  26. Surat-surat dari London 
  27.  Surat Berperangko Terbalik
  28.  Bintangpun Ikut Berpijar  
  29.  Syurga di Bawah Telapak Kaki Ibu  ……………………………  
  30. Tinggal Landas  ………………………………………………….. 456  

Read Full Post »

1. Buku Akademis

 

Riset Bisnis

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2003)

Pengarang: Dr. Dermawan Wibisono

Cocok bagi: Mahasiswa Ekonomi, Manajemen, Bisnis, Teknik Industri dan Praktisi

Manajemen Kinerja: Konsep, Desain dan Teknik Meningkatkan Daya Saing Perusahaan

Penerbit: Erlangga (2006)

Pengarang: Dr.Dermawan Wibisono

Cocok bagi: Praktisi (direktur & manajer) & akademisi (S1,S2,S3, di bidang Manajemen, Bisnis, Ekonomi, Teknik Industri)

2. Fiksi

Sang Juara: Teka-teki Hilangnya Shirley

Penerbit: Zip Book (MQ group) – 2008

Pengarang: Dr. Dermawan Wibisono

Cocok bagi: anak-anak SD, SMP dan orang tua.

Genre: Drama-petualangan

Setting cerita: Inggris

Gading-gading Ganesha (3G): Bahwa Cinta Itu Ada

Penerbit: Ganesha Creative Industri & Mizan (2009)

Cocok bagi: SMU, Mahasiswa, pekerja, ibu rumah tangga

Genre: Drama-Komedi-kejuangan-ketokohan-religi

Setting cerita: Trenggalek, Siantar, Bandung, ITB, Jakarta, Padang, Surabaya, Melbourne

Menggapai Matahari

Menggapai Matahari

Penerbit: Sedang dalam proses evaluasi penerbit untuk terbit 2010

Pengarang: Dr. Dermawan Wibisono

Genre: drama-kejuangan-persahabatan-ketokohan-cinta

Cocok bagi: anak SD,SMP, SMU, Universitas, Pekerja, ibu rumah tangga

Setting: Semarang, London, Surabaya

Read Full Post »

Kompas, Kamis, 3/9/2009 KOMPAS/DAHONO FITRIANTOJAKARTA,

KOMPAS.com – Dari nama belakangnya saja, orang pasti sudah mafhum bahwa aktor Restu Sinaga, adalah pria berdarah Batak. Tapi, jangan sekali-sekali mengajaknya berbincang dalam bahasa Batak. Dijamin, Restu bakal dibuat tak berdaya. Restu mengamini hal itu. Katanya, sejak kecil ia sangat jarang berbicara menggunakan bahasa tanah leluhurnya. “Ibu saya orang Thailand, jadi kalau ngobrol di rumah ya pakai bahasa Inggris. Jadi jarang sekali bicara pake bahasa Batak,” kenangnya ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, baru-baru ini. Makanya, ketika tawaran untuk memerankan pria Batak–tentunya dengan logatnya yang khas–datang kepadanya, jebolan Sarjana Ilmu Bisnis dan Administrasi Universitas Oregon, Amerika Serikat itu, justru merasa tertantang. “Secara gue enggak bisa bahasa Batak, nah sekarang gue justru dituntut untuk bisa ngomong Batak, minimal logat-logatnya lah,” katanya. Kemampuan Restu akan dijajal lewat film terbarunya, Bahwa Cinta Itu Ada, yang akan disutradarai musisi, aktor dan pedalang Sujiwo Tejo. Restu dipercaya memerankan satu dari enam tokoh utamanya. “Gue akan memerankan karakter Poltak, mahasiswa dari Pematang Siantar. Pas banget, karena bokap gue juga dari Pematang Siantar,” ujar penyuka sushi, yang pernah membintangi sejumlah film seperti I Love You Om, Cinta Silver dan pertunjukan drama Nyai Ontosoroh itu. Selain Restu, di film yang diangkat berdasarkan novel Gading-Gading Ganesha karya Dermawan Wibisono itu, juga melibatkan aktris senior Nurul Arifin, Dennis Adiswara, Alena, dan Rizky Hanggono. Ahad (6/9) besok, rencananya shooting perdana akan mengambil lokasi di Sawahlunto,

http://www.21cineplex.com/slowmotion/ariyo-wahab-syuting-film-ketujuh,930.htm Share |

Ariyo Wahab, yang awalnya dikenal sebagai penyanyi, tampaknya akan makin sibuk terjun ke dunia akting. Setelah film terakhirnya King ditahun ini bisa dibilang sukses, Rio kembali bermain di film terbaru arahan sutradara Sujiwo Tejo, 3G (Gading-Gading Ganesha) Bahwa Cinta Itu Ada. Pertama kali terjun ke dunia akting lewat Biarkan Bintang Menari sebagai pemeran utama, Rio ketagihan dan hingga kini sudah 7 film ia bintangi. Namun bukan berarti ia melupakan musik, saat ini Rio memiliki band baru bersama Nugie, Pongki Jikustik dan Baim yang mereka beri nama The Dance Company. Di band ini dirinya kembali menjadi seorang vokalis. Di film terbarunya ini Rio akan bermain sebagai Slamet Kartono seorang anak desa yang berhasil kuliah di salah satu kampus terkemuka di Indonesia. Awalnya Rio akan memerankan tokoh Gun-gun, namun kemudian peran ini jatuh kepada Denis Adhiswara yang dikenal lewat peran Mamet di film Ada Apa Dengan Cinta. Tokoh slamet di film ini sangat menantang, hal ini dikarenakan sangat berbeda dengan karakter kesehariannya. Ditambah lagi, film yang berlatar belakang tentang kampus ITB dan kehidupan didalamnya ini, Rio yang lulusan fakultas hukum universitas Atmajaya akan berperan sebagai mahasiswa jurusan tekhnik industri. Dia juga menambahkan ingin mendapatkan karakter yang berbeda dengan dirinya karena bisa memperkaya dirinya. Sebelumnya Rio sudah banyak mendapat tawaran untuk main film layar lebar. Namun ia mengaku, termasuk aktor yang pilih-pilih peran. “Salah satu alasan aku mau bermain di film ini dikarenakan ceritanya sangat bagus dan sangat inspiratif, selain itu film ini disutradarai oleh Sujiwo Tejo yang menurut aku sangat ‘’gila’’ gila dalam artian bagus dengan cara penyampaiannya ke kita sangat enak dan lebih mengena apa yang diinginkannya, selain itu kita tahu dia juga adalah salah satu budayawan yang terkenal di Indonesia” ujarnya di syukuran film 3 G di Jakarta 01/09. Film yang diambil dari novel karya alumni ITB Dermawan Wibisono ini rencanaya akan mulai syuting tanggal 7 September ini dan akan mengambil lokasi di Sawahlunto, Sumatera Barat dan tentunya, Bandung. Di film ini juga hadir aktris senior seperti Nurul Arifin. Selain itu ada juga Alex Abbad, Denis Adhiswara, Restu Sinaga, dan Rizky Hanggono dan 3 pendatang baru yaitu Eva Asmarani, Alena dan Reyna.(deri) Salam, Berikut dikenalkan beberapa pemeran film 3G Gading Gading Ganesha, Bahwa Cinta itu ada yg diambil dari beberapa pers hasil pers conference minggu lalu di kantor ikatan alumni ITB JKT. Diharapkan karakter ini bisa menggambarkan berbagai angkatan. Mudah-mudahan karakter kepeloporan, kejuangan, kecintaan ditambah kebersamaan akan menjadi karakter kebanggaan ITB. 6 tokoh dari berbagai etnik diharapkan menggambarkan sebagian mahasiswa ITB.

Pikiran Rakyat, 6 September 09

Eva Asmarani Nurbaya, Peran Utama di Layar Lebar (pemeran RIA) DUNIA akting bukan hal baru bagi Eva Asmarani Nurbaya. Namanya sudah beredar cukup mapan di panggung sinema elektronik (sinetron) dan iklan. Namun demikian, mojang Kuningan yang numpang lahir di Ciamis, 9 Oktober 1984 itu belum pernah menjajal kemampuan aktingnya di layar lebar. Oleh karena itu, ketika mendapat kesempatan casting film berjudul “Bahwa Cinta Itu Ada”, targetnya sederhana, cukup sebagai peran pembantu. Rupanya, level ekspektasi yang dipatok Eva terlalu rendah. Bukannya peran pembantu, dalam film yang ber-setting Kampus ITB dan diangkat dari novel karya Dr. Dermawan Wibisono berjudul 3G, Gading Gading Ganehsa itu, Eva malah dipercaya jadi pemeran utama. Eva harus memerankan karakter Ria, yang menjadi sentral dalam film arahan sutradara H. Sujiwo Tejo tersebut. “Tujuan saya ikut casting sebenarnya cuma kepingin jadi peran pembantu. Walau hanya tiga scene, tapi itu sudah saya syukuri. Akan tetapi, apa boleh buat, saya malah diterima sebagai pemeran utama. Tentu saja saya sangat senang, main pertama kali di film layar lebar langsung dapat peran utama,” kata Eva saat ditemui di Kantor Ganesha Creative Industry di Taman Patra Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (1/9). Memerankan karakter Ria yang tomboi, saklek, dan tegas, menuntut Eva bekerja ekstrakeras. Hal itu disebabkan karakter Ria sangat berbeda jauh dengan keseharian Eva. “Sungguh, ini tantangan yang sangat berat, tapi aku harus bisa menjalaninya sebaik mungkin. Aku setiap hari melakukan reading, dan alhamdulillah akhirnya bisa juga,” kata Eva. Dalam film tersebut, Eva mendapat lawan main aktor-aktor yang sudah mapan, seperti Aryo Wahab, Restu Sinaga, Denis Adiswara, Rizky Hanggono, dan Alex Abad. Sementara itu, jajaran aktrisnya juga tak kalah hebat karena terdapat nama-nama yang sudah beken dan tak diragukan lagi kapasitas aktingnya, seperti Nurul Arifin, Niniek L. Karim, dan Ine Febrianti. Kisahnya sendiri ber-setting dunia kampus di ITB pada tahun 1980-an. Tokoh sentralnya adalah Ria, seorang mahasiswi ITB yang berpenampilan tomboi, slengekan, dan tegas. Ia harus terlibat cinta segitiga dengan dua laki-laki, yakni Slamet (Aryo Wahab) dan Benny (Rizky Hanggono). Namun, cinta Ria selalu dipendam, bahkan hingga dua puluh tahun kemudian, saat ia lulus dari kampus, Ria tetap menjalani hari-harinya sebagai perawan tua. Bahkan, ketika ia harus bertemu kembali dengan Slamet. “Menurutku, cerita film ini sangat menarik, terutama jalinan kisah cinta segitiga antara Ria, Slamet, dan Benny. Di dalamnya ada proses pembangunan karakter yang bertumpu pada nuansa romantika cinta,” kata Eva. Pemeran sinetron “Lupus Milenia” yang lulusan Diploma Tiga Pendidikan Universitas Pakuan Bogor ini mengaku, mendapatkan peran utama dalam film layar ibarat mimpi. “Saya tidak menyangka bisa mendapatkan posisi sebagai pemeran utama,” katanya dengan wajah bersinar. Eva sendiri secara jujur belum mengetahui secara persis bagaimana karakter sutradara, H. Sujiwo Tejo. Namun, hal itu bukan persoalan mendasar karena sebagai pemain tugasnya hanya berakting sebaik mungkin. “Tentunya kalau ada yang kurang, aku harus banyak bertanya kepada beliau karena beliau adalah sutradara film yang saya bintangi,” ujarnya. Rencananya, shooting film tersebut akan mengambil lokasi di sejumlah tempat yang berbeda. Tanggal 6 September, Eva harus berangkat ke Sawalunto, Padang, Sumatra Barat. Di sana ia harus shooting selama empat hari. Kemudian pindah ke Jakarta, lalu Bandung. “Shooting di daerah orang enggak jadi masalah, apalagi aku mendapat dukungan penuh dari mama,” ujar Eva. Kini, setelah berkiprah di panggung sinetron, FTV, dan iklan selama sepuluh tahun, Eva mulai menapaki langkahnya di layar lebar. Tentu saja, untuk mencapai itu semua Eva tak mendapatkannya dengan cara mudah. Butuh kerja keras, kesabaran, dan sedikit peruntungan. “Tentu saja, selain tetap bekerja keras dan berusaha, kita juga harus mendapat dukungan dan restu orang tua. Tanpa dukungan orang tua, kesuksesan yang kita raih tidak akan banyak manfaatnya,” ujar anak pasangan Aa Sudirman dan Een Nur ini mantap. Kita tunggu saja kiprah sang mojang Kuningan ini. (Munady)***Penulis: Back Nurul Arifin Rindu Dunia Akting (Pemeran Dosen ITB) SELAMA satu dekade terakhir, nama Nurul Arifin seolah hilang dari dunia hiburan tanah air. Maklum saja, sejak terlibat aktif dalam dunia politik, artis yang pernah tampil seksi dalam film “Hati Yang Perawan” (1984) itu, praktis meninggalkan ingar bingarnya layar lebar. Oleh karena itu, kembalinya artis yang sempat mendapat julukan salah satu bomb sex perfilman Indonesia itu, akan menjadi pengobat atas kerinduan banyak fansnya. Nurul akan kembali mempertontonkan kemampuan aktingnya dalam film drama terbaru arahan sutradara H. Sujiwo Tejo, “Bahwa Cinta Itu Ada” yang baru mengawali proses pengambilan gambar di Padang, Sumatra Barat, pada 6 September ini. Tentu saja, penampilan Nurul tak seseksi dulu, karena ia harus berperan sebagai seorang dosen dan ibu rumah tangga. “Sebenarnya tawaran untuk bermain film atau sinetron itu banyak. Tetapi, saya selalu menolak. Nah, kalau tawaran dari film ini saya nilai cukup menantang, makanya saya mau kembali ke dunia akting, hitung-hitung melepas kerinduan tampil di depan kamera,” kata Nurul saat ditemui di Taman Patra Kuningan Jakarta Selatan, Selasa (1/9). Apalagi, menurut perempuan kelahiran Bandung 18 Juli 1966 ini, produser film tersebut, Budiyati Abiyoga, sudah cukup dikenalnya. Demikian pula dengan sutradara Sujiwo Tejo, yang merupakan teman dekat Nurul. “Aku merasa lebih nyaman tampil bareng dengan orang-orang yang sudah aku kenal. Kebetulan Bu Abiyoga dan Mas Tejo sudah kukenal dengan baik. Kalau bekerja dengan orang lain, bisa-bisa aku teralienasi karena sekarang sudah bukan generasiku lagi,” ujar istri dari Mayong Suryolaksono ini. Film “Bahwa Cinta itu Ada” diangkat dari novel 3G, Gading Gading Ganesha karya Dr. Dermawan Wibisono. Skenarionya ditulis Arya Gunawan dan Tayalika. “Jujur saja, aku sibuk dengan urusan politik dan ingin full di politik. Akting sudah bukan duniaku lagi. Tetapi, tawaran Bu Abiyoga sangat menarik dan aku sulit menolaknya,” ujar Nurul. (Munady)***

Ariyo Wahab Lebih Banyak Main Film (pemeran Slamet dari trenggalek) MENSEJAJARKAN dua profesi memang tidak mudah, yang ada kemudian adalah harus menjalani satu-satu atau kombinasi keduanya. Ariyo Wahab melakukan hal itu. Ayah dari tiga anak ini tengah mencoba menjalani antara main film atau sinetron dan dunia menyanyi. “Kalau mau jujur, sekarang ini justru lebih banyak tawaran main film daripada nyanyi,” kata salah seorang personel grup The Dance Company yang melesat lewat lagu “Papa Rock N Roll” ini saat ditemui di Taman Patra Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (1/9). Pemeran “Biarkan Bintang Menari” ini mengatakan, dua profesi yang disandangnya sebagai pemain film dan penyanyi memiliki kepuasan masing-masing. “Memang sih, dua bidang itu kalau mau milih, aku ambil akting. Entah kenapa lingkungan film dan musik sangat berbeda. Meski sama-sama menyukai seni, tetapi atmosfernya yang membuat kita betah berada di lingkungan film,” ujar ayah dari Kyra Wahab (7), Jaimie Wahab (3), dan Sabine Wahab (2). Belakangan, pria yang menyukai akting ini ikut tergabung dengan rekan-rekan lainnya, seperti Nugie, Baim, dan Ponky. “Kesebersamaan di The Dance Company membawa saya pada kesibukan musik grup band, kalau sebelumnya saya penyanyi solo.

Read Full Post »

STOP PSTOP PRESS:

After waiting for 4 months in processing of publication, Novel 3 G: Gading-Gading Ganesha, Bahwa Cinta Itu Ada‘ is now available at Ganesha Creative Industry Incorporation.

You can have it by contacting Mrs. Indri at (022) 250 1006 at Pusat Inkubator Bisnis ITB, Jl. Ganesha 15 F Bandung or buy it online at http://www.tokoganesha.com or email to pib@inkubator.itb.ac.id in the blogspot: 3gcinta.blogspot.com.

Check it out which characters in the novel are closest or represent you mostly. This is a drama-comedy with background of ITB from 1970-2009 and Australia.

Novel & Film3G

Novel & Film3G

Sinopsis:

Novel 3G merupakan mozaik perjalanan hidup enam anak manusia berlatar belakang etnik yang beragam: Slamet (Trenggalek), Fuad (Surabaya), Poltak (Siantar), Gun Gun (Ciamis), Ria (Padang) dan Benny (Jakarta) yang dipersatukan saat keenamnya masuk ITB. Kisah dimulai dengan keberangkatan masing-masing tokoh dari daerah asalnya dengan berbagai moda. Banyak kejadian lucu yang dialami dan berbagai tempaan fisik dan mental yang dijalani. Aktivitas akademis, seni dan politik praktis membentuk sosok lulusan yang semula culun menjadi teruji dan percaya diri. Dalam satu masa semuanya menggapai apa yang diinginkan sesuai dengan kadar usahanya setelah jatuh bangun dalam berbagai perjuangan: drop out dari kuliah, tak punya cukup uang untuk sekedar makan, kandas menjadi seorang pengusaha, gagal dalam percintaan, menikah di usia yang tak lagi muda, ditinggal mati orang yang dicintai, sakit saat jauh dari orang tua, konflik batin saat harus mengambil keputusan penting dalam hidup dam karir, dan berbagai godaan dan cobaan saat harus teguh memegang etika dan martabat diri dan institusi. Tak ada hero yang suci di dunia, semua pernah mengalami putaran roda kehidupan, ada kalanya di atas, seringkali di bawah, bahkan ada saatnya harus tergilas roda itu sekalian. Bertemu lagi bertahun kemudian, mereka menghitung kembali bahwa sudah terlalu banyak nikmat diserap, melewati titik nol atau bahkan minus saat mereka masuk ITB, banyak waktu tersia-siakan oleh kesibukan yang self interest dan ternyata tidak banyak karya nyata dan kontribusi mereka berikan ke masyarakat dan kepada bangsa yang telah mensubsidi sekolah mereka. Timbul kesadaran untuk membangun negeri dengan menjadi pelopor membangun jaringan seluruh alumni dan orang-orang yang sepaham dari berbagai universitas untuk membuat karya nyata, menanggalkan primordialisme baju alumni, dengan satu tekad: kelas menengah adalah agen perubahan di manapun di dunia ini. Perubahan kepemimpinan dunia kepada tokoh-tokoh yang berkarakter semacam Ahmad Dinejad, Barack Obama, Che Guevara, dan kesuksesan Muhammad Yunus dengan Grameen Banknya memberikan inspirasi untuk meretas jalan membangun pengabdian kepada bangsa. Hidup tak dapat diputar ulang, sekali berarti sesudah itu mati!

Apa kata mereka:

“…. seru banget ceritanya! Gak secara langsung ngedikte tapi tetep dapet pelajaran hidup yangg ngena banget… Jadi pengen juga bikin novel yang bisa jadi inspirasi buat mahasiswa ya..he…he…he…“ (Priscilia Audy, mahasiswi FE UNPAD 2007)

 “Kala sebagai Rektor ITB saya beranjangsana ke Pesantren Rancabango, Garut dan dalam kata sambutannya Sang Kiyai, pemimpin PonPes menyampaikan kalimat singkat yang mengandung pesan dan sindiran halus yaitu ‘Hendaknya warga kampus dan alumninya itu senantiasa menjunjung dua nilai luhur yaitu kahartos lan karaos bagi masyarakat’. Pesan singkat agar dimengerti dan bermanfaat ini sejatinya adalah manifesto dari tridarma ITB. Saya bahagia menyambut terbitnya Novel Mas Dermawan Wibisono berjudul 3G — Gading Gading Ganesha ini yang jelas sejalan dengan pesan Sang Kiyai pada kita semua. Kain batik hadiah Ibunda tercinta kini bermetafor menjadi sebuah novel 3G. The best is yet to come.” (Kusmayanto Kadiman, Rektor ITB 2001 – 2004, Menteri Riset dan Teknologi, 2004-2009)

”Inovasi dan inspirasi adalah dua hal yang saling berpautan satu sama lain. Tiada inovasi tanpa inspirasi, dan inovasi yang tercipta seharusnya menjadi sumber inspirasi bagi orang-orang cerdas untuk memicu inovasi yang baru. Novel Gading-Gading Ganesha sarat dengan inspirasi yang akan memantik beragam inovasi kreatif yang akan menghadirkan gelora hidup penuh makna bagi siapa saja yang membacanya. Memang tidak gampang untuk merepresentasikan sosok mahasiswa dan alumni ITB. Mereka adalah pribadi-pribadi yang datang dari berbagai latar belakang sosial budaya maupun kehidupan ekonomi. Namun percayalah, satu kesamaan yang mereka miliki adalah bahwa mereka manusia yang kritis dan mandiri, penuh percaya diri (acapkali sangat tinggi), cinta almamater, bangsa dan negara. Semoga kita dapat bercermin dari apa yang ditampilkan dalam Gading-Gading Ganesha.” (Ir.Hatta Radjasa, Ketua Ikatan Alumni ITB 2008 – 2013, Menteri Perhubungan 2004-2006, Menteri Sekretaris Negara 2006-2009)

Novel yang bagus sekali, menyentuh, dengan message yang kuat. Penulis mengangkat periode waktu kehidupan di kampus yang dialaminya, yang walaupun berbeda dengan era sebelum dan sesudahnya, dapat menjadi representasi dari sikap kepekaan/ kepedulian mahasiswa terhadap kondisi nasional maupun global di setiap zamannya. Untuk kekinian dan visi ke depan, merupakan penggalian yang serasa satu irama dengan napas anak bangsa (Budiyati Abiyoga, Produser Film).

Membaca 3G ini seperti merefleksikan perjalanan hidup kita di ITB dengan segala dinamikanya yang membentuk kepribadian alumnus ITB dalam berkiprah di masyarakat. Harapan kita adalah agar karya DR. Dermawan Wibisono ini dapat memberi inspirasi bagi kemajuan civitas academica ITB dalam memajukan ITB dan Republik tercinta (Rinaldi Firmansyah, Direktur Utama PT. Telekomunikasi Indonesia, tbk.)

“Novel 3G mengandung unsur pembelajaran berupa bagaimana toleransi antar budaya yaitu antara suku Batak, Sunda, Jawa, dan budaya kota besar (Jakarta) harus dijalankan pada saat kuliah di ITB. Pendidikan karakter juga tercermin di dalamnya di mana mahasiswa ITB dididik untuk bermartabat, bersaudara, berbeda pendapat, bersaing…..termasuk bersaing untuk mendapatkan seorang wanita. Satu hal yang perlu diangkat dari novel 3G bahwa tidak semua lulusan ITB sukses, kegagalan mungkin terjadi pada siapapun tak terkecuali juga lulusan ITB, namun lulusan ITB tetap tegar dalam menghadapi kegagalan”. Prof. Ir. Sofia W. Alisjahbana, M.Sc., Ph.D. (Wakil Rektor Bidang Akademik, Universitas Tarumanagara)

 Novel yang menggelitik dari segi humanis & semoga memberikan inspirasi bagi insan ITB bahwa mereka juga manusia biasa yang dapat mengalami pasang surut dalam mengarungi kehidupan & tidak terus terbuai, hidup dalam dunia “awang-awang” pribadi karena ke-ITBannya (Tuning Hendrastuti, alumni UGM & PPM, praktisi SDM)

Read Full Post »

  1. Judul Novel: Sang Juara, Teka-teki Hilangnya Shirley

    Penulis: Dermawan Wibisono

    Penerbit MQS Publishing

    Tebal buku: v + 141 hlm

    Terbit Juni 2008

     

     

    Sang Juara mengisi kehausan akan fiksi yang penuh imajinasi, menguatkan tekad dan bermuatan pembangunan budi pekerti yang saat ini langka ditemukan. Mengambil setting kota Bradford – West Yorkshire, Inggris, Sang Juara bercerita tentang kiprah seorang anak Indonesia, Fira namanya, yang bersekolah di Inggris karena mengikuti orang tuanya tugas belajar di sana, yang mendapatkan perlakuan rasis dan di ujungnya diinterogasi polisi karena diduga menjadi saksi hilangnya Shirley, teman sekelas sekaligus saingan terberat Fira dalam hal prestasi akademis. Shirley diculik dan dibunuh oleh Rebecca Shutcliff, seorang psikopat yang masih bertalian darah dengan Peter Shutcliff, legenda pembunuh berdarah dingin yang amat tersohor di Inggris pada tahun 1980 an yang membunuh korban-korbannya secara sadis menggunakan obeng dan palu. Sebuah drama yang mencekam dan menarik pembaca untuk terlibat secara emosi, bagaimana seorang anak Indonesia, si juara kelas ini menyingkap tabir misteri. Shirley hilang dengan mengenakan kaos merah kesebelasan Inggris bernomor punggung 7, dengan nama David Beckham di punggungnya. Kenyataan ini mengundang David Beckham, sang pemain bola idola insan sejagat untuk ikut terlibat dalam menghimbau dan pembiayaan finansial bagi diketemukannya Shirley, seorang gadis cemerlang, harapan Inggris di masa depan.

    Perjalanan dan klimaks cerita tidak berhenti sampai di sini saja, Saat orang tua Fira terjepit kebutuhan ekonomi karena kehabisan beasiswa untuk menyelesaikan sekolahnya, Fira, sang tokoh utama cerita menjadi penyelamat kelangsungan hidup keluarga dengan memenangkan lomba lari menyambut terpilihnya kota Bradford sebagai kota multicultural. Lomba lari yang penuh intrik dan saling jegal antar pesaing dimenangi Fira dengan jatuh bangun dan babak belur. Kasih kepada orang tua dan keinginan kuat untuk berkontribusi bagi keluarga menjadi motor penggerak yang luar biasa. Sebuah bukti nyata dari bakti seorang anak kepada keluarga. Dituturkan dengan gaya bahasa yang runtut, puitis, memikat dan kadang menghentak garang, Sang Juara mengingatkan pada gaya penulis terkenal Inggris, Enid Blyton dalam kisah-kisahnya seperti Lima Sekawan, Musim Panas di St. Claire dan sebagainya. Kebetulan Enid Blyton juga berlatar belakang seorang guru, sama dengan latar belakang penulis Sang Juara yang seorang dosen. Agaknya kesamaan profesi sedikit banyak membentuk gaya penceritaan, logika cerita, penggambaran setting dan karakter pelaku dari sudut pandang yang mirip, sudut pandang seorang pendidik. Apalagi dengan beberapa dialog yang ditulis dalam bahasa Inggris tanpa diterjemahkan, tampaknya sang penulis berusaha menyisipkan aspek how to speak English appropriately kepada para pemabaca yang disasar, yang ada pada usia kelas 6 SD sampai dengan kelas 3 SMP. Walaupun ditulis dalam bahasa Inggris, dialog tersebut adalah dialog sehari-hari yang mudah dimengerti. Bahkan kita juga dapat melihat bagaimana isi dan bentuk raport anak SD di Inggris sana? yang ternyata merupakan laporan deskriptif per individu, yang mungkin hampir sama dengan raport anak di beberapa TK terpadu di Indonesia, dan dibinding dalam bentuk buku yang sederhana, tidak ekslufis apalagi mewah.

     

          Novel ini tampaknya bukan saja ingin menggugah semangat untuk berkompetisi dan menumbuhkan percaya diri bagi anak-anak Indonesia bahwa potensi mereka tidak kalah dengan orang bule sekalipun, tapi beberapa kejadian merupakan pengalaman nyata keluarga sang pelaku di Inggris sana. Sebuah pendekatan penulisan fiksi yang mirip dilakukan oleh Pramoedya Ananta Tur dalam novel-novel semi biografinya, sehingga di setiap paragrafnya kita akan selalu dibayangi pertanyaan: benar-benar nyatakah kejadian ini ataukah hanya sebuah imajinasi? Setting tempat, kondisi dan beberapa kejadian memang nyata dan benar-benar terjadi dan ada. Rangkaian di antara berbagai kejadian dan pelaku itu yang digambarkan sedemikian riil dan logis membuat kita terus terdorong untuk mengikuti cerita sampai akhir. Sayang buku ini terlalu tipis (tentu bagi orang tua) atau memang sudah diperhitungkan bahwa anak-anak sekarang tidak terlalu kuat berlama-lama membaca, mereka lebih suka bermain play station atau membaca komik dengan visualisasi di sepanjang cerita? Sejujurnya, novel ini masih meninggalkan kehausan yang belum tertuntaskan. Akankah ada seri berikutnya? Novel ini dilengkapi beberapa ilustrasi berbentuk karikatur yang lucu dan cute, serta  beberapa foto setting tempat untuk memberikan gambaran nyata kondisi di Inggris sana. Akan sangat indah jika foto-foto itu berwarna sehingga semakin memperkaya anak-anak kita akan pengetahuan tentang manca negara.  

 

Dra. Dina Amalia

Penikmat Sastra &

Alunmus Fakultas Sastra Undip

 

 

 

 

 

Read Full Post »