Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘indonesia’

..Gong 2014

Pesta Segera Dimulai

Dermawan Wibisono

Gong baru saja berbunyi……Pesta akan segera dimulai kembali. Denyut nadi kampanye sudah mulai menimbulkan demam. Janji-janji akan segera ditebarkan. Padahal agenda empat  tahun yang lalu dan lima tahun yang lebih lalu lagi masih banyak yang belum terealisir. Masyarakat masih menunggu, dan mungkin akan terus menunggu, akankah yang kelak memegang kendali atas tahta ini mampu mewujudkan harapan yang telah lama dipendam. Harapan yang belum berhasil diwujudkan oleh para presiden terdahulu: Good Governance !

Terminologi good governance dalam sepuluh tahun terakhir ini menjadi issue yang semakin populer karena diproduksi secara masal dan kontinu oleh para politisi dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Dari sisi kepentingan para politisi dan LSM tersebut, issue good governance setiap kali pemerintahan berganti, memang merupakan komoditi yang layak jual. Hal ini disamping untuk mendapatkan simpati dari masyarakat juga sebagai sarana untuk menarik bantuan asing. Seperti diketahui, negara-negara pemberi bantuan maupun lembaga non pemerintah yang menjadi partner di  luar negeri, khususnya dalam lingkungan negara-negara Eropa, menempatkan aspek good governance of all resources sebagai kriteria utama dalam memberikan bantuan. Walaupun menjadi issue yang krusial dan menjadi inti permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat luas, sayangnya para politisi seringkali mendasarkan penilaian good or bad governance terhadap pemerintah yang sedang berkuasa tersebut berdasarkan anekdot-anekdot yang kadang dapat menyesatkan opini masyarakat karena kurang gamblang mengupasnya, tidak jelas tolok ukurnya, kurang lengkap bukti pendukungnya dan cenderung bersifat memihak golongannya. Sedangkan lembaga swadaya masyarakat lebih sering meneriakkan jargon-jargon good governance tersebut secara terpisah-pisah, sendiri-sendiri, spontan dan sporadis sehingga kurang membawa perubahan secara signifikan.

Governance didefinisikan sebagai  praktek dari individu dan institusi yang berkuasa dalam melaksanakan kewajibannya di sebuah negara (Kaufmann dkk, 2000). Syarat pertama dan utama terciptanya good governance adalah transparansi.  Transparansi merupakan wujud dari dijunjung  tingginya amanah rakyat oleh  penyelenggara negara, berdasarkan titik tolak pemikiran bahwa rakyat berhak untuk mengetahui bagaimana keputusan yang menyangkut diri mereka diambil, oleh siapa keputusan tersebut dibuat, di bawah kondisi yang bagaimana; juga menyangkut bagaimana sumber-sumber umum dikelola, oleh siapa dan mengapa.

Lalu apa ciri-ciri dan kriteria yang dapat membantu kita menilai bahwa sebuah pemerintah di suatu negara telah menyelenggarakan good governance dan bagaimana langkah untuk dapat mewujudkan good governance itu sendiri?

Butir-butir berikut ini yang ide dasarnya disarikan dari African Business (2000), mudah-mudahan dapat memperluas cakrawala kita.

 Ciri-Ciri dan Kriteria Good Governance

Terdapat 7 ciri-ciri dan kriteria yang dapat kita gunakan untuk memotret proses penyelenggaraan negara oleh sebuah pemerintah yang sedang berkuasa.

 1.      Pengelolaan sumber-sumber daya alam yang dimiliki oleh negara yang bersangkutan.

 Kualitas pemanfaatan sumber-sumber daya alam yang dimiliki oleh suatu negara merupakan faktor esensial yang dapat menerangkan apakah pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah yang berkuasa tergolong baik atau buruk. Dengan melihat korelasi antara sumber daya alam yang dimiliki dengan kesejahteraan warga negaranya, baik level maupun pemerataannya, dapat diketahui apakah sebuah negara telah mempraktekan good governance atau belum. Jika kita mengelilingi wilayah Indonesia dan membuat sebuah fungsi matematis yang memetakan korelasi antara sumber alam yang dimiliki dengan pemerataan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat di Indonesia, niscaya kita dapat menyimpulkan sendiri bagaimana kualitas pemerintah kita terdahulu dalam mempraktekkan good governance. Hanya ada satu kata yang tepat untuk mengungkapkannya : menyedihkan !

2.      Integritas dari para politisi, penegak hukum dan elit intelektual

 Integritas dan kredibilitas dari para politisi, penegak hukum dan elit intelektual merupakan sampel yang representatif untuk mengungkapkan apakah proses pemerintahan dijalankan secara good, bad or ugly. Ketiga kalangan profesi tersebut harus merupakan merupakan tolok banding (benchmarking) model integritas. Proses money politics yang menyangkut eskekutif maupun legislatif, etika berpolitik yang bar-bar, proses peradilan yang penuh manipulasi dan kaum intelektual yang tidak independen merupakan sebagian kecil dari contoh bad governance.

3.      Pluralisme dalam sistem politik dengan adanya pihak oposisi yang efektif

 Pluralisme dalam sistem politik menggambarkan bahwa individu tidak terkooptasi dalam sistem monoloyalitas yang selain tidak sehat juga menyalahi kodrat. Pluralisme adalah manusiawi mengingat secara  fitrah, manusia dilahirkan dengan berbagai variasi ide, keinginan, kebutuhan, kemampuan, dan level kebahagiaan. Adanya pihak oposisi yang efektif merupakan cerminan bahwa terdapat keinginan bersama untuk saling bersparing partner, mengawasi, mengontrol dan bersaing untuk mengajukan program-program yang lebih baik bagi kemanfaatan seluruh bangsa. Oleh karena itu sungguh lucu jika terdapat partai yang berniat menjadi oposisi, baru setelah kandidatnya tidak masuk dalam susunan pemerintahan. Selain itu pembentukan semacam kabinet pelangi dan pengkapling-kaplingan jabatan tertentu untuk teritorial tertentu merupakan hal lain lagi yang tak kalah lucunya.

 4.      Media masa yang independen

 Terdapatnya banyak media masa yang independen merupakan cerminan dari kemerdekaan dasar manusia. Independensi harus diartikan dari ketiga belah pihak: independen dari kepentingan pemerintah yang berkuasa, independen dari kepentingan pihak yang beroposisi, dan independen dari kepentingan diri pribadi. Kepentingan yang diemban adalah untuk kemaslahatan bersama. Jadi dalam era informasi dan masyarakat yang sudah dewasa ini, fungsi utama media masa adalah menyajikan fakta, informasi dan investigasi. Selanjutnya yang menyangkut tentang kesimpulan, opini dan judgement diserahkan kepada masing-masing  individu pembacanya.

 5.      Independensi lembaga-lembaga peradilan

 Independensi lembaga peradilan merupakan hal yang vital dalam membentuk good governance. Independensi pengadilan – penegakan aturan hukum, lebih penting dari keringanan pajak untuk menarik investasi asing. Independensi di sini terutama menyangkut kewenangan yang dimiliki. Lembaga peradilan harus memiliki kewenangan penuh yang dapat menjangkau seluruh warga negara tanpa kecuali dan tanpa diskriminasi. Salah satu tolok ukur sederhana yang mudah dilihat dalam peran peradilan menegakkan good governance adalah jumlah kasus pelanggaran hukum yang dibawa ke pengadilan, kualifikasi level kasus dan tindak lanjutnya. Jadi kalau penanganan kasus sejak, misalnya, Hambalang, Century: nyaris tak segera terdengar hasilnya, dalam arti tidak segera mendapatkan hasil yang tuntas ..tas…tas..tas.. ya wallahu alam.

 6.    Proses pelayanan publik yang efisien dengan standard profesionalisme yang tinggi dan menjunjung tinggi integritas.

 Sektor publik merupakan jendela mentalitas sebuah negara. Dengan melihat pelayanan publik dapat diketahui sebaik atau seamburadul apa administrasi sebuah negara dijalankan. Indikator yang kasat mata untuk melihatnya mudah ditemukan dalam berbagai aktivitas lembaga yang melibatkan pelayanan, misalnya permohonan paspor di kantor imigrasi, pengurusan impor-ekspor barang di bea cukai, ijin fabrikasi produk spesifikasi baru di departement perindustrian dan perdagangan, pengurusan IMB atau proses HGB dan HM di agraria, dan sebagainya.

 7.      Terdapatnya aturan yang jelas dan lugas yang menyangkut aspek anti korupsi.

 Aturan anti korupsi di sini juga menyangkut tentang pengungkapan kekayaan pejabat yang memegang kekuasaan untuk mengambil keputusan, bukan hanya diterapkan pada eksekutif level tinggi saja, tetapi juga dapat menyangkut anggota legislatif dan badan-badan pelayanan. Jadi bukan hanya presiden, wakil presiden, menteri, gubernur, walikota dan bupati saja yang perlu mengungkapkan kekayaannya. Para anggota DPR/ DPRD pun perlu mengungkapkan seberapa kaya atau seberapa miskinnya mereka sebelum dan setelah duduk di sana. Para pegawai bea cukai, kantor pajak, badan pertanahan, dan sebagainya, di mana seringkali pintu-pintu ‘negosiasi’ alangkah banyaknya terbuka pun perlu untuk mengadakan ‘open house. Fokus utama pengungkapan kekayaan ini tentu bukan hanya sekedar laporan pandangan mata kekayaan yang dimiliki, namun yang lebih utama adalah klarifikasi dari mana dan dengan cara apa kekayaan itu didapatkan. Faktor kedua yang terpenting adalah perbandingan kekayaan antara sebelum dan sesudah memangku jabatan itu. Adalah sia-sia hanya menjajarkan deretan kekayaan dan mengumumkannya ke masyarakat umum. Salah-salah hanya akan menerbitkan rasa iri, dengki, cemburu dan marah jika tanpa disertai klarifikasi yang dapat menyatakan fairness dalam cara mendapatkannya. Adalah sunah untuk menjadi kaya namun terlarang hanya sekedar untuk memamerkannya di tengah-tengah penderitaan sesamanya.

 Tindak Lanjut

 Dengan mengetahui ciri-ciri dan kriteria dari good governance tersebut maka dapat ditetapkan langkah-langkah untuk membentuk good governance di Indonesia. Tentu saja cara termudah adalah dengan memenuhi kriteria-kriteria tersebut di atas maka pembentukan good governace, insya Allah, akan terwujud. Namun demikian, langkah pemenuhan kriteria tersebut merupakan hal yang strategis, bukan saja jika ditinjau dari term waktu untuk pemenuhannya tetapi juga menyangkut lingkup yang dicakup yang sangat luas dan berjenjang-jenjang.

Beberapa hal praktis yang dapat ditempuh, di antaranya adalah sebagai berikut :

 1.      Langkah pertama yang paling esensial adalah mempengaruhi pendapat publik dan pengambil keputusan untuk peduli terhadap efek yang menghancurkan dari penyalahgunaan wewenang dan proses mal-administration melalui debat publik terbuka, konferensi, dan sebagainya. Tentu tidak hanya berhenti dalam proses wacana seperti yang selama ini kita lakukan. Debat sekedar debat dan konferensi untuk popularitas. Perlu tindak lanjut yang riil dari proses tersebut, misalnya dengan dihasilkannya rumusan-rumusan aturan main yang transparan dan disepakati bersama dalam berbagai level pengambilan keputusan di pemerintahan.

 2.      Pemimpin-pemimpin politik harus secara murni menentukan agenda pemberantasan korupsi dalam program kerjanya dan harus menunjukkan penekanan ke arah itu. Good governance, seperti halnya demokrasi tidak boleh hanya menjadi sekedar slogan, sebagai tameng untuk menentramkan pemberi dana. Promosi tentang penyelenggaraan pemerintahan yang baik yang diantaranya menyangkut kampanye melawan korupsi, di mana korupsi merupakan salah satu contoh kongkrit dari praktek administrasi yang keliru (mal-administration) merupakan hal utama untuk menarik bisnisman.  Bagi kalangan bisnis, prinsip utama mereka adalah mengurangi distorsi dari aspek kompetisi yang diakibatkan oleh korupsi yang mengganggu fungsi pasar. Jadi motivasi mereka semata-mata adalah motivasi ekonomi. Ditinjau dari sisi ekonomi produksi, efek dari korupsi sangat banyak. Bukan hanya secara signifikan meningkatkan harga produk dan servis tetapi juga cenderung menurunkan kualitas. Seringkali juga menyebabkan pilihan terhadap teknologi yang diterapkan tidak sesuai dengan kebutuhan riil dan dapat menghambat prioritas pengembangan yang dibutuhkan. Akhirnya korupsi akan merusak moral masyarakat dan membuat investor menjauh serta mengurangi bantuan-bantuan negara asing.

 3.      Semua kekuatan yang memiliki itikad baik harus bekerja bersama. Hal ini harus merupakan satu koalisi segitiga antara pemerintah, sektor swasta dan masyarakat. Pengalaman menunjukkan bahwa tidaklah realistis mengharapkan perubahan hanya dilakukan oleh masyarakat semata. Kritik-kritik dari masyarakat bukanlah gugatan  atau pergerakan sistematis untuk mendongkel pemerintahan tetapi merupakan partner, pemantau menuju proses perubahan dan meningkatkan kualitas konstruktif dari kritik tersebut.

 4.      Pelatihan-pelatihan yang lebih terarah diperlukan bagi organisasi profesi yang secara khusus menghadapi godaan dan bahaya terhadap korupsi (misal bea cukai, pajak, sistem peradilan).

 5.      Menyangkut proses restrukturisasi, tujuan harus diletakkan terhadap proses pelayanan publik yang efisien dengan standard profesionalisme yang tinggi dan integritas. Hal ini mensyaratkan para pegawai yang bertugas melayani publik diberikan pendapatan yang memadai. Sehingga pegawai tersebut tidak berfikir : “Uuhhh…ngapain juga ngitung-ngitung duit segudang tiap hari punya orang, kalau diri sendiri tak ada yang memikirkan besok makan apa !”

 6.      Pengkajian ulang atau revisi terhadap peraturan anti korupsi sangat penting khususnya untuk membawanya dalam kerangka hukum internasional yang berlaku universal.

 7.      Salah satu yang paling berisiko tinggi di mana korupsi menjadi godaan utama  adalah dalam hal pembelian dan kontrak-kontrak. Oleh karena itu prosedur yang ada tentang kedua hal tersebut di semua level harus dikaji transparansi dan efektivitasnya. Terdapat sejumlah aturan dasar yang dapat diacu, misal, jumlah kontrak yang disetujui berdasarkan penunjukan langsung/ direct agreement harus benar-benar ditekan pada angka yang paling minimum.

 8.      Penting untuk mengkaji ulang efektivitas dari pemantauan mekanisme audit finansial. Dasar hukum dan indepensi dari lembaga ini merupakan pra kondisi untuk mencegah korupsi yang efektif. Jadi misalnya setelah BPK atau BPKP menemukan penyimpangan anggaran, harus terus dikejar mau diapakan laporan penyimpangan tersebut, sejauh mana dari jumlah penyimpangan tersebut yang dapat dikembalikan, apakah si pembuat penyimpangan sebaiknya dimasukkan dalam daftar hitam dan sebagainya di mana selama ini hal tersebut merupakan masalah yang gelap bagi masyarakat.

 Penutup

                Ukuran-ukuran yang diperlukan yang tertera dalam ciri-ciri dan kriteria good governance dan tindak lanjut yang dipaparkan di atas merupakan blok untuk membangun sistem integritas nasional. Ukuran-ukuran dan tindak lanjut tersebut tentu saja merupakan masalah utama penyelenggara dan warga negara yang bersangkutan. Tidak ada yang dapat dilakukan oleh pihak luar. Sebagai partner, baik pemerintah maupun lembaga non pemerintah asing hanyalah sebatas memberikan dukungan.

Baik parner pemerintah maupun non pemerintah, khususnya di lingkungan Uni Eropa, menempatkan good governance of all resources sebagai kriteria utama untuk memberikan bantuan. Hal ini membawa pada prinsip yang sederhana: negara yang dapat mengelola sumber-sumbernya sendiri secara benar seharusnya dapat berharap dengan mudah akan mendapat bantuan asing. Sebaliknya negara industri memiliki keengganan yang terus meningkat untuk memberi bantuan jika ternyata bantuan tersebut digunakan sebagai sarana untuk membuat kerusakan. Sebagai salah satu cermin misalnya adalah penurunan standar kehidupan yang sangat drastis di Ukraina. Penurunan standard kehidupan yang dihadapi oleh negara Ukraina selama dekade 90-an disebabkan oleh lemahnya pemerintah dalam membentuk aturan hukum, tidak cukupnya perlindungan terhadap hak cipta, korupsi yang meluas dan merata serta saran-saran gila yang dibuat oleh para pembisik di lingkungan pembuat keputusan yang memiliki kepentingan tertentu. Padahal dalam penelitian yang dilakukan oleh Kaufmann dan kawan-kawan yang menyangkut 155 negara dalam hal kontrol tehadap korupsi, Ukraina dan Indonesia hampir memiliki posisi yang sama. Indonesia ternyata dalam hal kontrol terhadap korupsi tersebut masih jauh di bawah Uganda, Bangladesh, Filipina dan Thailand (Kaufmann dkk, 1999). Padahal korupsi adalah kangker ganas dalam pembentukan good governance. Akankah pemerintah yang baru ini menjadi tonggak sejarah pembentukan good governance yang telah kita rindukan selama 69 tahun sejak kemerdekaan kita capai? Jawabnya berpulang kepada para petinggi yang baru akan mulai melaksanakan pesta. Waktu sungguh sangat mendesak, bukan saatnya lagi banyak bicara dan mengumbar wacana, tetapi kerja, kerja, dan kerja. Biarlah rakyat yang bicara

Iklan

Read Full Post »

Ini saya copas dari diskusi di milist ITB tentang kriteria Presiden RI. Ada banyak sekali, yang menjadi masalah adalah adakah yang memenuhi kriteria tsb, karena kita sedang mencari ‘superman’ agaknya.

1. Monogami : Berpasangan (isteri/suami)  tidak lebih dari satu (mbak Laras)

 

2. Anti Korupsi : Tidak KKN dan secara aktif membangun sistem dan SDM untuk membuat institusi yang dipimpinnya selama ini bersih dari korupsi (Betti)

 

3. Bisa memakmurkan Negara (Yudanto)

 

4. Berwibawa : Presiden berikutnya adalah yang benar benar pemimpin, tidak suka mengeluh atau curhat, dipuji tidak terbang, dicaci tidak tumbang (Susilo)5. Bisa Menggerakkan : Persoalan Indonesia tidak bisa diselesaikan oleh satu orang, tapi harus diselesaikan bersama-sama oleh kita semua. Makanya Presiden ke depan harus yang bisa menggerakkan kita semua untuk ikut turun tangan.(Susilo)

 

6. Cerdas & Berani : “Mengerti untuk menangkal akal2an dari para pihak yang ingin tetap memecah belah persatuan bangsa dan akal2an ekonomi untuk menguntungkan kelompoknya sendiri sambil menyengsarakan rakyat yang lebih banyak”. (Ridwan Gani)

 

7. Semangat rekonsiliasi : agar bisa menyatukan seluruh potensi masyarakat indonesia. Kalo tidak, bangsa indonesia akan terus saling mencari salah dan menyalahkan. Kapan majunya? Lebih baik mencari yg benar daripada mencari siapa yg salah ( Feby)

 

8. Bernyali : Bernyali untuk perang, memindahkan ibukota, dan duduk bersama OPM. (Jadid)

 

9. Berpikir Jangka Panjang : Pemimpin harus bisa berpikir paanjang kedepan.. ,salah satunya dalam penguatan SDM, Pendidikan, Keragaman Budaya dan keunikan anak Indonesia yang luar biasa. (Unie)

 

10.Tidak membangun dinasti kekuasaan : TIDAK MEMBANGUN DINASTI KELUARGA, untuk konteks bernegara (A. Hadi)

 

11. Membangun Kabinet yang Kompetendan Solid : Perlu juga punya keberanian membangun teamnya sendiri (baca menteri2 dan pembantu presiden yg lain) tanpa direcokin partai2 lain dan tentu aja oleh partainya sendiri juga. Pemerintahan akan berhasil kalau teamnya solid.

 

12. Berintegritas : – Jujur;– Ucapannya dapat dipegang;– Amanah (dapat dipercaya). (Widodo.sw)

 

13. Bebas Intervensi Asing :Bebas intervensi asing. Karena Pemilu 2014 ini sudah mulai bisa terlihat menjadi pertarungan pengaruh negara adidaya (Amerika), calon negara adidaya (China) dan juga sedikit pengaruh dari Timur Tengah. Pertanyaannya, apakah Indonesia bisa mempunyai sikap sendiri, atau akan tunduk terhadap kemauan Amerika atau kemauan China. (Satria)

 

14. Tidak Gaptek : Jangan sampai presiden berikutnya bisa dimainkan oleh hal-hal seperti “blue energy/banyu geni”, “supertoy”, dll. (Satria)

 

15. Pendengar yang Baik : Presiden yang mau untuk mendengar dan menggunakan “common sense”-nya. Mendengar di sini dalam artian “listening” bukan “hearing”. Terutama mau mendengar masukan dari kaum intelektual (baik dari akademisi dan praktisi) yang dimiliki negara ini. (Satria)

 

16. Kuat dalam Diplomasi International : Bisa menunjukkan kekuatan “muscle” diplomatik Indonesia di kancah dunia baik di G20 dan di PBB, maupun di hal-hal yang bersifat bilateral lainnya. Terutama, bisa menunjukkan dan membuktikan bahwa leader de-facto nya ASEAN adalah Indonesia. Lalu, Indonesia berani berkata tegas terhadap Australia, dan juga berani berkata tegas terhadap China mengenai klaimnya di Laut China Selatan yang memotong ZEE Indonesia di Natuna. Tegas di sini bukan hanya sebatas kata, tapi juga tindakan. Artinya presiden harus bisa mengkomunikasikan tindak tanduknya secara jelas, baik terhadap rakyatnya maupun terhadap masyarakat dunia yang lain. Serta mau untuk memperjuangkan freedom of movement rakyat Indonesia (kita kemana-mana masih butuh visa kan). Kata kunci minimum: kemampuan bahasa.(Satria)

 

17. Punya Visi Kemandirian IPTEK : Memiliki visi pengembangan kemampuan IPTEK bangsa yang jelas. Mungkin konkritnya, berani untuk mengejar R&D expenditure hingga 2-3% GDP selama masa pemerintahannya. (Satria)

 

18. Merakyat : pemimpin bukan sebgai boz tapi lebih sbg pelayan rakyat. Mau mendengar keluhan,  Tidak alergi kritikan, gaya hidup sederhana (Sjaiful Hadi)

Read Full Post »

10 SMA Terbaik di Indonesia

 

 

Sebenarnya sangat banyak sekali SMA terbaik di Indonesia ini, kesemuanya itu merupakan sekolah favorit dan pilihan para siswa. SMA-SMA ini menghasilkan siswa-siswi yang cerdas secara intelektual, emosional dan juga spiritual. Tidak sedikit para alumninya merupakan orang terpandang dinegeri ini seperti pejabat, birokrat, dan juga pengusaha. Dan inilah 10 SMA terbaik di Indonesia

 

 

SMA 3 Bandung1 10 SMA Terbaik di IndonesiaSource : http://www.flickr.com/photos/seveners/5319539508/

 

 

1. SMA Taruna Nusantara, Magelang

 

SMA Taruna Nusantara merupakan salah satu sekolah menengah atas unggulan di Indonesia yang diakui memiliki kedisiplinan yang sangat tinggi, sehingga tidak sedikit masyarakat yang mencap kampus ini sebagai sekolah semi-militer. SMA yang berlokasi di Kota Magelang ini menerapkan sistem asrama, dimana SMA ini merupakan salah satu pelopor sekolah berasrama yang saat ini sedang menjamur.

 

2. SMA Negeri 8 Jakarta

 

Tak diragukan lagi SMA 8 Jakarta merupakan Sekolah Menengah Atas No 1 di ibukota, alumninya mendominasi kampus-kampus terkemuka negeri ini seperti Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung. Sekolah ini memiliki prestasi segudang baik nasional maupun internasional, tidak jarang peserta olimpiade internasional adalah siswa-siswi yang berasal dari SMA ini.

 

3. SMA Negeri 3 Bandung

 

SMA 3 Bandung merupakan Sekolah Menengah Atas yang sangat terpandang di Kota Bandung, sekolah ini dicap sebagai sekolah terbaik di kota kembang. Ada anekdot yang menyatakan bahwa SMA 3 Bandung merupakan sekolahnya ITB, artinya sebagian besar alumni SMA 3 Bandung mendominasi bangku perkuliahan di ITB. Prestasi yang diraih siswa-siswi SMA 3 Bandung tidak hanya mencakup nasional saja melainkan juga internasional.

 

4. MAN Insan Cendikia, Tangerang

 

MAN Insan Cendekia adalah lembaga pendidikan setingkat SMA yang sangat diperhitungkan dinegeri ini meskipun cukup terbilang baru. Sekolah yang akrab disapa IC ini sangat mengedepankan IPTEK yang dilandasi dengan IMTAK kepada setiap siswa-siswinya. Sekolah ini merupakan ide brillian dari Presiden Republik Indonesia ke-3, Bapak BJ Habibie.

 

5. SMA Negeri 3 Semarang

 

SMA Negeri 3 Semarang merupakan salah satu Sekolah Menengah Atas terbaik di Indonesia, bahkan Depdiknas menobatkan sekolah ini sebagai SMA terbaik di Indonesia. Sekolah yang beralamat di Jalan Pemuda No. 149 Kota Semarang ini memiliki prestasi yang sangat luar biasa, baik akademik maupun non akademik. Sekolah ini juga merupakan salah satu sekolah pelopor untuk sekolah bertaraf internasional.

 

6. SMA 1 Teladan, Yogyakarta

 

Sebenarnya nama akademiknya adalah SMA Negeri 1 Yogyakarta, akan tetapi masyarakat Jogja akrab menyebutnya dengan SMA 1 Teladan. SMA ini merupakan Sekolah Menengah Atas unggulan di Provinsi Yogyakarta dengan prestasi yang segudang sejak dulu kala. SMA ini sangat legendaris, karena sudah ada sejak jaman penjajahan kolonial Belanda dan sampai sekarang masih berdiri kokoh.

 

7. SMA Negeri 5 Surabaya

 

Smalabaya merupakan sapaan akrab untuk SMA Negeri 5 Surabaya, salah satu sekolah unggulan yang berada di Kota Surabaya, Jawa Timur. Alumninya mendominasi perkuliahan dikampus-kampus terkemuka negeri ini khusunya diwilayah Jawa Timur seperti Institut Teknologi 10 November, Universitas Airlangga, dan Universitas Brawijaya. Tidaklah mengherankan jika sekolah ini mendapatkan prosentasi tertinggi dalam penerimaan SMNPTN.

 

8. SMA Negeri 4 Denpasar

 

Salah satu Sekolah Mengenah Atas unggulan dan favorit dipulau dewata adalah SMA Negeri 4 Denpasar. Sekolah ini sangat unik dengan arsitektur yang bernuasa Bali, diakui sebagai sekolah yang sangat menjunjung tinggi budaya lokal. SMA yang beralamat di Jalan Rinjani, Kota Denpasar ini memiliki fasilitas yang memadai untuk membantu proses belajar para siswa-siswinya disekolah.

 

9. SMA Negeri Plus Riau

 

Meskipun terbilang sekolah baru, SMA Negeri Plus Riau jangan dilihat sebelah mata. SMA ini merupakan Sekolah Menengah Atas unggulan di Provinsi Riau, sekaligus menjadi sekolah acuan untuk SMA-SMA yang berada di Riau. SMA ini sangat didukung oleh fasilitas pendidikan, mulai dari sarana prasarana yang sangat mendukung hingga tenaga pengajar yang minimal strata 2.

 

10. SMAK 1 BPK Penabur, Jakarta

 

SMAK 1 BPK Penabur merupakan sekolah swasta jempolan diibukota dengan prestasi yang luar biasa. Sekolah ini sering sekali mengirimkan siswa-siswi pilihannya untuk berkompetisi dilevel nasional dan juga internasional, dan bahkan menjadi juaranya. Masyarakat ibukota mencap sekolah ini sebagai Sekolah Menengah Atas Swasta paling bergensi di Jakarta.

Read Full Post »

Memahami Jokowi dengan kaca mata Servant-Leadership

Dermawan Wibisono

Jokowi tiba-tiba menyeruak di antara kejenuhan politik dan kerinduan akan datangnya satrio piningit yang dinanti sejak 1998. Publik bertanya-tanya terhadap gaya kepemimpinanya. Apakah ini faktor kebetulan atau ketidaksengajaan yang dia temukan saat memimpin kota Solo, yang diteruskan ke Jakarta. Ataukah ini implementasi dari pengendapan pengalaman masa kecil sampai saat mahasiswa, yang berangkat dari serba kekurangan dan dapat dia refleksikan saat menjadi pemimpin (kacang yang tak lupa pada asal-usulnya). Atau justru inilah representasi teori kepemimpinan baru yang mulai populer di dunia akademis saat ini, servant-leadership.

Walaupun tergolong baru di jagad perkuliahan, servant-leadership, sebenarnya dimulai spiritnya sejak jaman Rasulullah. Prinsip melayani dari seorang pemimpin, sudah diciptakan oleh Rasul pada tahun 500 an Masehi. Sudah 1.500 tahun yang lalu. Namun prinsip servant-leadership ini kemudian terkubur dengan timbulnya dinansti-dinasti kerajaan Romawi, Perancis, Belanda Inggris, Jepang, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, dan hampir seluruh dunia, yang mengenal pemimpin mereka adalah raja. Jadi mulai saat itu, keadaan berbalik. Raja adalah orang yang harus dilayani, bukan lagi yang harus melayani. Oleh perkembangan ilmu manajemen, kemudian timbullah apa yang dinamakan servant-leadership oleh Robert K. Greenleaf pada tahun 1960 an. Terminology servant- leadership diperkenalkannya pada tahun 1970 dalam publikasinya yang berjudul The Servant as Leader.  Dia mendefinisikan the servant-leader sebagai is servant first…it begins with natural feeling that ones wants to serve, to serve first. Then conscious choice brings one to aspire to lead. That person is sharply different from who is leader first, perhap because of the need the assuage an unusual power drive or to acquire material possessions….The leader-first and the servant first are two extreme types. Between them there are shadings and blends that are part of infinite variaety of human nature.

Jadi mengamati perlikaku dan gaya kepemimpinan Jokowi, ini tampaknya adalah praktik rill jaman sekarang tentang servant–leadership yang selama ini hanya dipahami sebatas konsep, teori dan contoh-contoh abtract yang ada di dunia. Dilihat dari gaya bicaranya yang tak formal yang tak membuat jarak antara masyarakat dan dirinya, pakaian yang ‘asal nempel’ (tak harus model safari yang banyak kantongnya-yang dulu amat populer, sehingga orang menyindir bahwa harus banyak kantongnya untuk menaruh upeti dari yang dikunjunginya), gaya non protokoler yang blusak-blusuk ke tempat permasalahan timbul – seperti dicontohkan oleh Khalifah Umar yang harus memanggul beras di waktu malam ketika mengetahui salah satu rakyatnya kelaparan, tidak silau oleh kenyamanan dengan inspeksi menggunakan mobil mewah seperti biasa dilakukan para pemerhati dan pengamat-menuliskan penderitaan rakyat dari balik hotel bintang lima, dan sebagainya.

Servant leadership fokus utamanya pada pertumbuhan dan kesejahteraan masyarakat dan komunitas di mana dia berada. Sedangkan traditional-leadership biasanya melibatkan pada akumulasi dan penggunaan kekuatan oleh seseorang pemegang kekuasaaan pada puncak piramid. Servant- leadership sangat berbeda dalam konsep dan pelaksanaanya di lapangan, karena titik beratnya lebih pada sharing kekuasaan dan kekuatan bukan mengkooptasinya dan memusatkan pada dirinya semata. Meletakkan kepentingan orang lain sebagai prioritas pertama dan keinginan untuk membantu orang untuk mengembangkan dan berkinerja setinggi mungkin.

Stephen Covey menyatakan bahwa servant- leadership akan tumbuh lebih cepat dari periode sebelumnya, dan salah satu cara yang bisa anda lakukan adalah dengan memberdayakan orang yang anda pimpin. Berbeda dengan jenis leadership yang lain, yang mulai dengan mengendalikan atau merangkai kekuasaan, servant- leadership pertama, bekerja dengan membangun foundation atau dasar-dasarnya dengan mendengarkan dengan lebih seksama suara masyarakat untuk mengetahui kebutuhan dan konsern orang lain. Oleh karena itu tidak heran Jokowi sampai mengadakan pertemuan lebih dari 50 kali sebelum memindahkan pedagang kaki lima di Solo dan mengadakan pertemuan lebih dari 30 kali sebelum memindahkan pedagang Tanah Abang, yang sebelumnya meruapakan kekuatan non formal, sehingga dianggap mitos mampu membenahi kesemrawutan yang sudah turun temurun. Kedua, servant-leadership bekerja dengan penuh pengertian untuk membantu  membangun konsensus dalam masyarakat. Fokus dari servant- leadership adalah sharing informasi, membangun visi bersama, self manajemen, ketidaktergantungan pada tingkat yang lebih tinggi, belajar dari kesalahan, encouraging input kreatif dari tiap anggota organisasi atau masyarakat dan selalu bertanya terhadap asumsi yang diambil.

Lebih lanjut, menurut Larry Spears, servant-leadership  adalah menyediakan framework di mana orang akan saling membantu untuk meningkatkan dan memperbaiki tatanan serta bagaimana kita memperlakukan mereka. Servant-leadership merupakan harapan baru dan panduan terkini untuk pengembangan manusia dalam era baru untuk menghasilkan organisasi yang lebih peduli dan lebih baik. Pada akhirnyadimilikinya spirit dari servant-leadership di level individu, organisasi maupun masyarakat lah yang akan membentuk harapan lebih baik bagi masa depan kemanusiaan.

Menurut Ken Keith, CEO dari the Greenleaf Center for Servant Leadership di Asia, servant-leadership adalah etical, practical dan meaningful. Disebut etical karena menyangkut tentang pelayanan kepada sesama bukan pemanfaatan atau ekspoitasi terhadap manusia lain.  Practical karena menyangkut aspek praktis yang dapat diterapkan dalam mengidentifikasi dan menemukan kebutuhan orang, pelanggan atau masyarakat. Meaningful karena servant-leadership membantu kolega, organisasi atau masyarakat untuk tumbuh, memperkaya pelayanan mereka terhadap pihak lain dan berkontribusi pada penciptaan nilai tambah bukan yang pada jangka panjang merupakan representatif terhadap kepedulian untuk mencapai kemakmuran dan dunia yang sustainable.

Jadi kembali kepada pertanyaan di paragraf awal, dapat ditarik hipothesis bahwa gaya, model, cara kerja, sistem yang dilakukan oleh Jokowi saat ini adalah perpaduan antara pengalaman masa lalunya sebagai orang di pihak kurang beruntung dan penerapan model kepemimpinan servant-leadership, yang sudah diwariskan sejak jaman Rasul, namun sebagian dari kita hanya menyadarinya sebatas bacaan saja, tanpa pernah menerapkanya dalam kehidupan riil. Jika hypothesis ini benar, maka akan sulit bagi pihak lain untuk menirunya. Karena banyak orang yang memiliki pengalaman pahit sejak masa kecil, namun tidak pandai menarik pelajaran darinya. Bahkan seringkali orang sukses yang berangkat dari masa susah, justru ingin mengubur masa lalunya sedalam-dalamnya. Atau justru menarik keuntungan sebanyak-banyaknya, agar sanak keturunannya tidak mengalami pengalaman sepahit yang dia rasakan. Apalagi orang sukses yang berangkat dari keluarga sukses sebelumnya. Biasanya tidak ada ‘penjiwaan’ yang tulus terhadap penderitaan yang tak pernah dirasakannya. Saya memiliki seorang senior yang dengan jujur pernah berkata kepada saya, dan selalu saya ingat kalimat beliau:” ..Terus terang, jujur saya katakan, saya tidak pernah merasakan susah, tidak tahu rasanya orang susah, dan tidak tahu bagaimana pedihnya tidak punya uang, karena pengalaman saya sejak kecil tidak pernah berkaitan dengan hal tersebut.” Sebuah pengakuan yang jujur dan benar, bagi banyak pemimpin yang ada di Indonesia saat ini.

Akan halnya hypothesis kedua, bahwa penerapan servant-leadership ala Jokowi, bukanlah semata-mata copy paste terhadap sebuah metodology akademis ke alam praktis. Ini perlu penerapan dengan hati dan perlu ‘bakat’ besar dan dalam untuk berlaku sebagai servant-leader. Karena servant-leadership hampir mengubah segalanya, sejak dari positioning yang diambil sampai tahap implementasi menyeluruh. Telunjuk tangan tak lagi aktif, suruh sana, suruh sini. Membuka lebar-lebar telinga terhadap suara masyarakat. Tidak mendahulukan, apa yang saya terima dari aktivitas ini, sehingga Jokowi tidak mengambil gaji agar mentalnya tak teracuni dengan aspek finansial semata, dan menempatkan dirinya duduk sama rendah berdiri sama tinggi dengan masyarakat, dengan misalnya tidak lagi membuka open house, di mana masyarakat sungkem dan pejabat serta pengusaha setor muka kepadanya.

Sebagai penutup, bergembiralah para pengajar sekolah bisnis dan manajemen, bahwa kini tak lagi terpaksa memberi contoh abstrak atas teori yang dipelajari, tapi semuanya nyata di depan mata. Inilah titik tolak dan contoh dari proses penerapan servant-leadership yang masih akan terpajang setidaknya sampai tahun 2014. Bahkan mungkin akan makin banyak contoh dan aktor lain akan berperilaku serupa. Setidaknya, masyarakat akan makin beruntung dengan timbulnya fenomena ini dan optimisme masyarakat menuju negara ke 4 terbesar di dunia pada tahun 2025 makin menggelora.

 

Penulis saat ini sedang menjadi visiting professor di Universitas Utara Malaysia

Profesor SBM-ITB

 

Read Full Post »

Indonesia Mencari Pemimpin

Dermawan Wibisono

Apa yang dibayangkan seorang Profesor Malaysia tentang Indonesia terkait dengan kualitas hidup? Dalam salah satu presentasinya, dalam mata kuliah Quality, dia menggambarkan hasil potretannya dalam Power Point presentasinya tentang seorang anak yang mengemis di jalanan Jakarta, dengan karung besar di pundaknya, kaos lusuh compang-camping. Tak ada sinar kehidupan dalam tatapan matanya. Dalam slide berikutnya, dia gambarkan seorang ibu-ibu pengemis menggendong bayi dalam panas udara yang penuh polusi kendaraan mewah yang mengurungnya yang berimpitan dengan bus centang perenang dan mikrolet yang berjubel. Kondisi transportasi yang sama kumuhnya dalam presentasi  Dr. Kim ketua Korean Transportasi Institute (KOTI)  dengan suasana di Seoul pada tahun 1952. Betapa Indonesia telah tertinggal 60 tahun dengan Korea Selatan, dan kini mulai tertinggal 15 tahun dengan Malaysia dalam hal kualitas hidup warga negaranya di kota besar. Kecepatan kereta api di Korea Selatan kini sudah 431 km/ jam, jalan-jalan kota diubah jadi taman yang indah, semuanya merasa nyaman dengan publik transport, walau Korea produsen otomotif yang telah masuk persaingan dunia, tapi di negaranya, kemacetan tak ada. Anak-anak muda Indonesia gandrung dengan acara TV Korea. Mode, gaya rambut, fashion, nyanyi, wisata, bedah plastik, semua maju. Pendidikan di Korea Selatan, kini diakui telah masuk level dunia, bahkan pendidikan dasarnya sampai dengan level S1 nya menjadi yang terbaik di dunia bersama-sama dengan Finlandia. Tak heran jika industri elektronik Jepangpun sudah mulai kepayahan menghadapi industri elektronik Korea Selatan.

Masih dalam slide sang Profesor, dengan kontras dia tayangkan kehidupan yang penuh warna, orang yang berjubel, antri dengan tertib, di rumah makan Malaysia. Wajah pengantri yang ceria berpadu dengan harmonisnya wajah pelayan yang penuh senyuman. Di slide berikutnya, tampak para pelajar SD yang bersekolah dengan gembira, berebut tunjuk jari menggambarkan sistem pendidikan yang tidak membebani siswanya dengan beban yang tidak semestinya. Tidak khawatir tulang belakangnya  bengkok karena setiap hari membawa materi ajar yang alangkah beratnya, seperti di Indonesia. Suasana sekolah dengan lapangan olar raga yang luas terbentang, bukan lagi sekedar sekolah di sebuah kontrakan tanpa tempat bermain yang semestinya. Tayangan berikutnya tentang perguruan tinggi yang sibuk berbenah. Salah satunya Universitas Utara Malaysia, di Kedah, tempat Dr. Mahatir Mohammad dilahirkan. Dalam 30 tahun telah menjelma menjadi internasional university yang sangat asri. Dengan internasional student dari Timur tengah karena program Finansial Syariahnya menggunakan pengantar bahasa Inggris, telah berjubel peminatnya. Mahasiswa dari Kamboja, Thailand, Vietnam, dan negara-negar tetangga, dengan singkat menyulap kawasan hutan 20 km dari Thailand yang dulunya menjadi sarang komunis, menjadi tempat mula kemajuan, dengan cita-cita ingin menjadi Harvard Business School nya kawasan Asia Tenggara. Rangkaian slide itu ditutup dengan pernyataan: quality of leadership. Kualitas kepemimpinan.

Kepemimpinan dalam segala sisi kehidupan yang dalam hari-hari ini terus saja bergema di seantero media kita, menunggu 2014, di samping ditingkahi dengan pemilihan kepala daerah di mana-mana.

Jokowi dengan perlahan namun pasti telah merangsek, masuk dalam hati setiap insan dengan harap-harap cemas. Indonesia berharap, tak lagi menjadi bahan ledekan dari negara tetangga yang dulu berguru kepada kita. Diperlukan satu patron untuk menata sederet kepemimpinan di segala bidang: pendidikan, keuangan, bisnis, kesehatan dan sebagainya dalam segala level, setelah sekian lama kita terpukau dengan seremonial belaka. Tak ada ide kreatif muncul dari pimpinan di level bawahnya, sehingga serasa mandeg dan segalanya mesti mengacu pada satu orang: sabda pandito ratu.

Menurut Stephen M R Covey (Putra sulung Stephen R Covey yang memperkenalkan 7 habits agar menjadi orang yang efektif), yang diperlukan bagi seorang pemimpin, termasuk Indonesia saat ini adalah membangun kepercayaan dari orang-orang yang dipimpinnya. Setelah dua belas tahun kepercayaan itu tergerus. Sejak 1998 banyak orang merasa seperti njagakke endoge si blorok, mengharapkan tetesan nikmat dari rejeki reformasi yang tak kunjung sampai. Era transaksional sudah mentok, sudah jenuh orang-orang dengan berbagai transkasi yang terjadi. Pemimpin yang memberikan janji, namun mengambil lebih banyak lagi tanpa rasa emphaty. Kepercayaan orang saat ini terhadap para pemimpinnya lebih rendah dari generasi sebelumnya. Riset di Amerika Serikat dalam level organisasi mikro membuktikan bahwa hanya 49% bawahan percaya kepada atasannya dan hanya 28% yang percaya bahwa CEO merupakan sumber informasi terpercaya saat ini, seperti yang dikemukakan oleh Covey junior. Berdasarkan risetnya pada tahun 2004, di Amerika Serikat, diperkirakan akibat kurangnya kepercayaan kepada atasanya ini akan menelan biaya $ 1,1 trilyun. Jumlah amat besar yang merupakan lebih dari 10%  pendapatan kotor negeri itu. Penjelasananya adalah demikian, jika kepercayaan rendah maka dalam sebuah oranisasi akan diperlukan biaya pada setiap transaksi yang menyangkut setiap komunikasi yang dilakukan, setiap interaksi yang terjadi, setiap strategi yang dibuat, setiap keputusan yang diambil, keputusan yang terjadi lebih lambat dari jadwal yang diperkirakan dan ongkos yang meningkat karenanya. Pengalaman beliau menunjukkan bahwa ketidakpercayaan akan memakan biaya dua kali lipat biaya dalam bisnis dan membutuhkan waktu tiga kali lipat untuk terealisasinya suatu program.  Dan bisnis telah didefiniskan lebih meluas saat ini, yaitu ‘every activities that creates value added’ (Zikmund, 1997). Jadi pergantian kepala daerah, pemilihan presiden adalah bisnis. Berapa ongkos yang diperlukan dalam skala ketidakpercayaan kepada pemimpin dalam level ini?

Sebaliknya, setiap individu dan organisasi yang mendapatkan kepercayaan tinggi akan mendapatkan manfaat berlipat, dengan komunikasi antar anggota yang sukses, interaksi yang lancar, pengambilan keputusan yang smooth dan program dapat bergerak dengan cepat. Penelitian dari Watson Wyatt menunjukkan bahwa perusahan dengan kepercayaan yang tinggi memiliki kinerja 300% lebih tinggi dari pada perusahaan yang mendapatkan kepercayaan yang lebih rendah. Padahal penelitian ini di level perusahaan, level mikro yang struktural dan semua sistem bergantung pada alur keputusan pemimpinnya.  Apalagi di level pemerintahan dan kemasyarakatan yang seringkali ada efek tak terduka, multiplier efek,  yang bisa melipatgandakan hasilnya. Oleh karena itu, mendapatkan tingkat kepercayaan yang tinggi merupakan hal yang urgent dibutuhkan saat ini. Kebutuhan yang lebih tinggi dari pada kompetensi di bidang lain. Artinya, persentase yang didapatkan dalam pilkada dan pilpres, yang langsung dipilih oleh masyarakat, terkait erat dengan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap dirinya dalam memimpin daerah atau negara pada akhirnya.

Kepercayaan lahir dari dua dimensi: karakter dan kompetensi. Karakter menyangkut integritas dan motive. Kompetensi menyangkut kemampuan, skill, hasil dan rekam jejak. Kedua dimensi tersebut adalah vital untuk dipenuhi seorang pemimpin. Dengan meningkatnya fokus terhadap kepedulian etika saat ini, sisi karakter yang berkaitan dengan tingkat kepercayaan menjadi sangat cepat berkembang dan merupakan harga yang harus dibayar untuk masuk ekonomi global, jika ingin membawa daerah dan negara yang dipimpinya maju dan diakui internasional. Walaupun demikian, sisi lain dari tingkat kepercayaan yaitu kompetensi diri, memegang peran yang sangat esensial pula.

Mungkin anda pikir seseorang itu sangat ikhlas, sangat jujur, tetapi kepercayaan terhadapnya tidak bisa sepenuhnya diberikan jika ternyata dia tidak memberikan hasil pada periode kepemimpinannya, atau track recordnya tidak menunjukkan hal tersebut. Hal itu juga berlaku sebaliknya, seseorang mungkin memiliki kemampuan yang tinggi, bakat yang top dan trak record yang bagus, tetapi jika dia tidak jujur, anda tidak akan mempercayainya. Hasil yang dicapai selama ini bisa jadi dia dapatkan dari segala cara yang tidak benar, atau dia seorang Machiavelist. Seseorang yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.

Dasar dari tingkat kepercayaan orang adalah kredibilitas pribadinya, yang bisa bervariasi antar individu. Reputasi seseorang merupakan cerminan langsung dari kredibilitasnya sehingga dapat mempercepat kearah perbaikan organisasi yang dipimpinya dan menurunkan ongkos untuk mencapai hal tersebut.

Ada empat sumber inti dari kredibiltas yaitu: integritas, intensitas, kemampuan dan hasil kerja. Beberapa contoh perilaku pemimpin level dunia yang sudah dirumuskan oleh Covey yang harus ada pada diri seorang pemimpin, antara lain, bicara langsung dan tepat pada sasaran alias tidak suka ngalor ngidul  nggak karuan, mendemontstrasikan respek kepada pihak lain atau tidak suka melecehkan orang lain atas nama apapun, mengkreate transparansi dalam sistem yang diamanahkan kepadanya, memperlihatkan loyalitas yang tinggi pada organisasi, memperlihatkan hasil nyata bukan sekedar jargon-jargon tanpa makna, mendapatkan hasil lebih baik dari periode sebelumnya, mengklarifikasi ekspektasi dari banyak orang yang diembankan kepadanya, terjaga akuntabilitas diri dan pemerinttahannya, pendengar yang baik-bukan hanya pandai menceramahi orang saja atau jarkoni: iso ujar ora iso nglakoni-bisa ngomong nggak bisa mengimplementasikan, menjaga komitmen, dan meningkatkan kepercayaan dari seluruh korps.

Dalam artikel Ten Signs of an Incompetent Leader, Chris Ortiz mengemukakan opininya akan 10 tanda-tanda pemimpin yang tidak kompeten. Menurut Ortiz, pemimpin yang buruk adalah pemimpin yang fokus pada kepentingannya sendiri tidak pada kebutuhan profesional yang dibutuhkan oleh level bawahnya. Biasanya pemimpin yang buruk ini mendapatkan kesulitan untuk mengembangkan organisasi karena mereka kurang memiliki kemampuan teknis manajerial untuk hal tersebut. Pemimpin adalah orang yang anda ikuti dan anda tahu akan kemana organisasi menuju. Jadi kepemimpinan adalah tentang aksi bukan sekedar status symbol atau batu loncatan untuk menggapai hal lain lebih tinggi. Masalahnya adalah bagaimana kita tahu bahwa kita sedang menghadapai individu yang merupakan oknum penunggang jabatan, free rider. Karena seringkali orang seperti ini tampak kelihatan begitu sibuk dalam organisasi dan tampak dibutuhkan di mana-mana serta pandai memoles dirinya sehingga membuat banyak orang jatuh cinta kepadanya.Petunjuk singkat dari Chris Otiz untuk mengenalinya dikupas dalam alinea berikut.

Pertama, seorang pemimpin yang tidak kompeten akan mendelegasikan pekerjaan daripada menyeimbangkannya.  Artinya semua bawahan langsungnya akan diberikan predikat ‘jenderal’.Dalam arti pekerjaan harus diselesaikan oleh bawahannya, tidak ada panduan, arahan, tapi jika terjadi kesalahan maka bawahan itulah yang harus menanggung akibatnya dengan menerima kemarahan dan konsekuensi pahit lainnya. Seorang pemimpin yang baik adalah orang yang memperhatikan kemampuan dan kompetensi orang yang bekerja di bawahnya dan menempatkan orang sesuai dengan keahliannya sambil memperkaya potensi setiap orang untuk lebih produktif. Dengan model kepemimpinan yang gagal semacam ini maka kompetensi tidak dilihat, penempatan dilakukan secara acak, bahkan seringkali dipilih orang yang dekat dengannya, atau yang dalam kalkulasi politis membawa keuntungan posisinya, detail tidak diperhatikan karena yang menjadi fokus adalah bagi habis pekerjaan kepada orang-orang dibawahnya. Filosofinya adalah all duties for your, rewards for me. Biasanya hal ini diikuti dengan pembentukan komisi dan tim ahli yang berjubel, sampai tidak tahu lagi apa fungsi dan manfaat tim ini dibentuk.

Kedua, cenderung menjawab persoalan menjadi jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’ dari pada mencoba mencari sebab dan menerangkannya lebih jauh. Dalam kondisi krisis, pemimpin semacam ini tidak mampu berfikir jauh ke depan kecuali hanya beberapa jengkal saja. Oleh karena itu, seringkali pemimpin semacam ini memiliki jawaban yang berbeda saat berada di dalam dan di luar ruangan rapat, tergantung mood dan kepentingan sesaat yang dibawanya. Karena pada dasarnya dia tidak memiliki set of argument yang kuat untuk menjelaskan issue yang sedang dihadapi.

Ketiga, tidak memisahkan masalah personal dari masalah profesional yang dihadapi. Mereka cenderung membawa persoalan pribadi ke tempat kerja. Bekerja dengan pemimpin semacam ini bisa menjadi sangat dramatis. Seringkali akan tercampur penggunaan fasilitas dinas untuk   keperluan pribadi dengan keperluan institusi.Istri/ suaminya akan turut menjadi atasan bagi bawahannya saat ini yang boleh ikut memerintahkan untuk memenuhi keperluan yang tidak ada hubungannya dengan keperluan organisasi. Mereka tidak mampu memisahkan ketidakseimbangan emosi saat memimpin. Mereka tidak akan memberikan perhatian dan arahan bagi bawahan untuk berhasil. Fokus dari pemimpin semacam ini adalah asal kepentingan pribadinya tidak terganggu.

Keempat, jika organisasi dalam masa krisis, maka selamat tinggal pada inovasi dan kemajuan jika memiliki pemimpin semacam ini. Inovasi dan kemajuan ini harus diartikan secara benar, karena konsep yang berubah dengan cepat dan berkali-kali, bisa diartikan pemimpin tidak memiliki konsep sama sekali dan pemimpin tidak punya pendirian yang kuat. Perubahan yang terlalu sering dalam jangka waktu yang pendek akan mudah tersapu karena tidak dapat diimplementasikan secara solid. Pemimpin yang berorientasi pada aspek inovatif dan kreatif, punya karakter, di antaranya dengan senang hati memiliki bawahan yang lebih pandai yang mau berdebat dan diskusi atas berbagai ide dan konsep. Bukan pemimpin yang senang dengan kualifikasi bawahan yang jauh di bawahnya sehingga mudah disuruh-suruh dan mengikuti saja apa maunya sang pemimpin.

Kelima, tidak berdiri di belakang bawahan jika gagal. Orientasi pemimpin yang baik adalah tidak hanya menghukum kesalahan karena kegagalan bawahan dan hanya mengambil moment untuk tampil dan dilihat banyak orang saja. Biasanya pemimpin gagal semacam ini akan puas dengan melihat anak buahnya berdiri membuat pengakuan kegagalanya ditonton banyak orang dalam sebuah forum, tidak peduli betapa malunya anak buah tersebut dan pemimpin semacam ini akan dengan serta merta berdiri di depan menyematkan tanda penghargaan ketika media masa meliput momen yang dirasanya akan mengangkat nama dan dirinya ke jaringan publikasi.

Setelah leadership, hal berikutnya yang perlu dicermati adalah penciptaan budaya. Di Indonesia selama ini tidak dikenal budaya gentlemant. Dengan sportif mengakui kemenangan pihak lawan dan bersama-sama membantu program berikutnya untuk kemaslahatan masyarakat. Team work kita sebatas hanya berhenti pada tim sukses. Jadi biasa terjadi pihak yang kalah dalam pilkada akan mengajukan gugatan, walaupun sudah yakin bahwa gap yang harus diisi gugatannya terlalu besar untuk menjadi pemenangnya. Kita memiliki pengalaman selalu melakukan aksi compete forever between you and me on any situations and conditions. Ada baiknya kita belajar dari angsa yang terbang di langit. Apabila anda melihat angsa terbang menuju ke arah selatan pada musim dingin, mereka terbang membentuk formasi ‘V”. Secara ilmiah didapati bahwa saat setiap angsa mengepakkan sayapnya, akan menghasilkan tekanan daya angkat kepada angsa yang berada di belakangnya. Dengan cara ini, kumpulan angsa dapat terbang 71% lebih jauh dari pada terbang sendirian.Jika burung di depan merasa lelah, ia akan berputar ke belakang dan burung yang lain akan mengganti posisinya di depan. Ini adalah tanggung jawab bersama dan saling berbagi beban untuk memimpin.Akhirnya, jika salah satu burung tersebut semakin lelah atau terbawa angin dan jatuh dari formasi, dua burung yang lain akan ikut keluar dan mengikuti burung yang jatuh tersebut turun untuk membantu dan melindunginya. Kedua burung tinggal bersama burung yang jatuh sampai burung tersebut mampu terbang kembali atau mati.  Kemudian kedua burung itu akan kembali men set up dirinya dengan formasi yang lain atau kembali dalam kelompok mereka. Sebuah gambaran kerja bersama yang indah dan berhasil guna. Apabila manusia bersatu dan bergabunguntuk mencapai tujuan dalam kebaikan, kemungkinan besar dapat dicapai lebih mudah, Insya Allah.Pepatah mengatakan coming together is the BEGINNING, keeping together is PROGRESS, and working together is SUCCES.  Satu pesan kepada yang terpilih nantinya: life always gives you back you give out. Your life is not a coincidence, but a mirror of your own doings.  Jadi, who is a leader? A leader is one who, knows the way, shows the way and goes the way. Tapi hidup memang pilihan, apakah anda ingin menjadi seorang great leader atau menjadi free rider. Sejarah akan mencatat.Perjalanan masih akan panjang, dengan hasil-hasil dari polling pendapat, kerja keras tim sukses dan segala hingar bingar yang menyertainya. Namun di hati rakyat semua sudah meresapi, apa yang baik bagi dirinya. Mayoritas hati masyarakat telah rindu, kapan lagi kita menjadi acuan bagi bangsa Asia Afrika sepeti tahun 1955, menjadi panutan dalam sistem pendidikan di Asia Tenggara tahun 1970 an. Taruhlah peta dunia di atas meja. Benar, Indonesia terletak di tengah-tengah pusat dunia secara geografis. Semoga impian tahun 2025 Indonesia menjadi pusat kemajuan dunia, negara ke 4 terbesar performansinya, dan bukan di tengah-tengah untuk menjadi bancakan negara-negara sedunia, karena potensi yang dikandungnya. Indonesia saatnya mencari pemimpin negarawan.

Bandung, 17 September 2013

Visiting Profesor di Universitas Utara Malaysia

Profesor SBM ITB

Read Full Post »

From: “Djoko Luknanto” <Luknanto@ugm.ac.id>b

Tautan tentang sejarah Indonesia, saya kumpulkan sedikit demi sedikit.
Sekedar hobi:-), sambil mengajar, saya tambah selalu. Enjoy!

1. Tempo Doeloe

http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/ Indonesia Tempo Doeloe:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/http://luk.staff.ugm.ac.id/itd:

2. Mataram

http://luk.tsipil.ugm.ac.id/Medang> Kerajaan Medang (Mataram
Kuno):  <http://luk.staff.ugm.ac.id/Medang>
http://luk.staff.ugm.ac.id/Medang

3. Borobudur

http://luk.tsipil.ugm.ac.id/Borobudur/> Candi Boroboedoer:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/Borobudur/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/Borobudur

4. Candi Lain

http://luk.tsipil.ugm.ac.id/candi/> Candi Lain:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/candi/http://luk.staff.ugm.ac.id/candi

5. Wayang

http://luk.tsipil.ugm.ac.id/wayang/> Wayang:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/wayang/http://luk.staff.ugm.ac.id/wayang

..         Sosok Indonesia:  <http://luk.staff.ugm.ac.id/sosok/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/sosok (rencana)

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/tembakau/> Bisnis Tembakau:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/tembakau/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/tembakau

_____

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Bali/> Bali:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Bali/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Bali

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Borneo/> Borneo:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Borneo/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Borneo

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Celebes/> Celebes:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Celebes/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Celebes

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Jawa/> Jawa:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Jawa/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Jawa

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Maluku/> Maloekoe:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Maluku/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Maluku

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/NT/> Noesa Tenggara:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/NT/http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/NT

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Papua/> Papoewah:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Papua/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Papua

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Sumatera/> Soematra:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Sumatera/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Sumatera

_____

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Bandung/> Bandung:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Bandung/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Bandung

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Banten/> Banten:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Banten/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Banten

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Batavia/> Batavia:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Batavia/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Batavia

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Bogor/> Buitenzorg:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Bogor/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Bogor

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Malang/> Malang:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Malang/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Malang

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Yogyakarta/> Ngayogyakarta:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Yogyakarta/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Yogyakarta

_____

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/alam/> Alam Indonesia:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/alam/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/alam

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/bangunan/> Bangoenan Tempo
Doeloe:  <http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/bangunan/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/bangunan

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/lf/> Loekisan vs Foto:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/lf/http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/lf

_____

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Salm/> Abraham Salm:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Salm/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Salm

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Pers/> Auguste Van Pers:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Pers/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Pers

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Hoola/> Berthe Hoola Van
Nooten:  <http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Hoola/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Hoola

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Bock/> Carl Bock:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Bock/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Bock

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/Junghuhn/> Franz W. Junghuhn:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/Junghuhn/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/Junghuhn

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Rosenberg/> Hermann von
Rosenberg:  <http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Rosenberg/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Rosenberg

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/Rappard/> Josias Cornelis
Rappard:  <http://luk.staff.ugm.ac.id/Rappard/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/Rappard

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/RadenSaleh/> Raden Saleh:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/RadenSaleh/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/RadenSaleh

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/Kerkhoff/> van den Kerkhoff:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Kerkhoff/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Kerkhoff

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/pelukis/> Peloekis Lain:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/pelukis/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/pelukis

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/lukisan/> Loekisan:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/lukisan/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/lukisan

<http://luk.tsipil.ugm.ac.id/itd/buku/> Karya Sastra Tempo Doeloe:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/buku/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/buku:

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/pustaka/> Koleksi Langka UGM:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/pustaka/http://luk.staff.ugm.ac.id/pustaka

..          <http://luk.tsipil.ugm.ac.id/bmr/> Bakda Mawi Rampog:
<http://luk.staff.ugm.ac.id/bmr/http://luk.staff.ugm.ac.id/bmr

..         Menyusul yang lainnya

Howgh!

—                        Djoko Luknanto,  <http://luk.staff.ugm.ac.id/>
http://luk.staff.ugm.ac.id/

<http://luk.tsipil.ugm.ac.id/>
http://luk.tsipil.ugm.ac.id – Cangkir yang tak penuh

Read Full Post »

From: “Farid Gaban” <faridgaban@yahoo.com>
Sender: sinergi-ia-itb@yahoogroups.com
Date: Sun, 23 Jun 2013 02:01:39 -0000
To: <sinergi-ia-itb@yahoogroups.com>
ReplyTo: sinergi-ia-itb@yahoogroups.com
Subject: [sinergi-ia-itb] Berziarah ke Digoel, Penjara tak Bertepi

 

Air hujan yang mengucur dari atap seng seperti tirai menyelimuti gubug itu. Bikin hangat lantai kayu tempat saya merebahkan badan. Tapi saya tak bisa tidur. Berkecamuk pikiran antara masa kini dan lampau.

“Lama tada orang ke sini,” kata Adrianus Sandap, pemuda Papua dari Suku Wambon yang menemani saya.

Laba-laba menganyam jaring di beberapa sudut langit-langit gubug. Tengkorak kepala babi tergantung di dinding. Kering tak lagi berbau. Sementara abu kayu bakar di tungku sudah mengeras bersanding dengan piring dan cawan besi berkarat.

Gubug itu berdiri rapuh di atas bukit pada tepian hulu Sungai Digoel, pedalaman Papua bagian selatan, dekat perbatasan Papua Nugini. Dia dikelilingi belukar dan hutan berpohon tinggi. Tak ada dermaga di sungai, bahkan dari kayu pun. Apalagi papan nama. Jalan mendaki menuju bukit tak lagi jelas. Dari tepi sungai saya harus menembus lantai hutan yang ditumbuhi tanaman perdu dan lumut. Lembab oleh humus yang basah. Penuh lintah dan nyamuk.

Siapa pula mau datang ke situ?

Tanah Tinggi begitu terpencil. Saya pun takkan pernah ke situ jika bukan tergoda oleh makna sejarahnya yang sangat penting bagi kemerdekaan Indonesia. Tanah Tinggi adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah Tanah Merah, atau Boven Digoel. Inilah kamp konsentrasi Hindia Belanda pada 1920-an, tempat banyak tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia diasingkan dan tewas.

***

Boven Digoel menjadi kabupaten tersendiri sejak 2002. Dia bisa dicapai dari Merauke, pojok paling timur Indonesia, dengan tiga cara. Pertama, pesawat kecil Express Air sepekan sekali. Kedua, jalan darat 450 km yang kondisinya sangat buruk. Atau ketiga, naik kapal motor memutar ke Laut Arafura sebelum masuk mulut Sungai Digoel sejauh 500 km ke arah hulu, dua pekan sekali.

Boven Digoel adalah Bahasa Belanda untuk Digoel Udik (hulu).

Masih miris saya mendengar peristiwa 2005 ketika sebuah kapal Merauke-Digoel tenggelam di Laut Arafura, menewaskan 200 lebih penumpangnya. Saya memilih jalan darat. Tapi, meski hanya setara jarak Jakarta-Semarang, perjalanan darat Merauke-Digoel makan waktu dua hari dua malam. Dan sungguh melelahkan.

Perjalanan ke Digoel merupakan bagian dari Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa 2009-2010, petualangan saya keliling Indonesia bersepeda motor. Tapi, saya diingatkan untuk tidak memakai sepeda motor menuju Digoel. Dan beruntung saya mematuhi peringatan itu. Motor bisa terbenam dalam lumpur yang kondisinya lebih ganas dari sekadar ajang olahraga off-road gagah-gagahan.

Ada angkutan umum dari Merauke ke Digoel. Angkutan umum istimewa. Rute ini hanya dilayani oleh jeep-jeep tahan banting, umumnya Daihatsu Hiline dengan four-wheel drive, bergardan ganda serta dilengkapi derek. Mobil-mobil Hiline bekas dari Jawa, nampak dari nomor polisinya, dibawa ke sini untuk menaklukkan medan yang berat.

Satu mobil biasanya diisi delapan penumpang plus sopir. Tarifnya Rp 700 ribu per penumpang. Mahal? Tadinya saya berpikir begitu. Tapi, belakangan saya tahu, itu harga yang pantas, bahkan murah.

Perjalanan keluar dari Merauke lumayan menyenangkan. Mobil kami melintasi jalan aspal bagus sekitar 60 km, melewati Taman Nasional Wasur, salah satu khasanah ekosistem unik yang lebih mirip Australia ketimbang bagian lain Indonesia.

Saya menikmati hutan mangrove dengan rawa-rawa yang ditumbuhi bunga teratai. Banyak pula rumah rayap atau semut, mumasu, yang menjulang di kanan-kiri jalan. Tapi, saya tak beruntung menemukan kanguru liar yang sudah mulai punah.

Hanya sekitar satu jam setelah itu perjuangan berat dimulai. Jalan mulai bercampur tanah lalu lumpur. Mobil harus melintasi banyak kubangan, kadang setinggi atapnya, serta melewati sungai-sungai kecil tanpa jembatan.

Tiap sopir dibantu dua kernet, yang tak pernah masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan mereka bekerja keras mengeringkan kubangan air, memasang patok derek, mendorong mobil, serta menebang pohon untuk membuat anyaman kayu di atas lumpur agar bisa dilalui. Mereka melakukan semua itu bukan untuk kesenangan, melainkan mencari nafkah.

“Saya berhenti sekolah setelah SD,” kata Ben Barnabas, salah satu kernet. Usianya baru belasan. Wajah dan kaosnya belepotan lumpur setelah memasang potongan kayu. Dia mendapatkan Rp 300 ribu untuk satu kali jalan. “Makan dan tidur ditanggung.” Tapi, tidur adalah kemewahan.

Beberapa mobil biasa berjalan beriringan, agar bisa saling membantu dan menderek. Dengan itupun kadang diperlukan waktu berjam-jam untuk keluar dari kubangan lumpur. Ada puluhan kubangan berat hanya untuk mencapai Munting, desa terdekat, pertengahan antara Merauke-Digoel.

Jika gelap terlebih dulu menyergap, sementara mobil tak bisa lepas dari jebakan lumpur, para penumpang, termasuk perempuan dan anak-anak, akan tidur di mobil. Hutan di kedua sisi jalan terlalu berisiko untuk tempat istirahat.

Beruntung kami bisa mencapai Munting meski di tengah malam. Kota kecamatan kecil itu sangat menolong. Ada beberapa warung makan di situ, juga penginapan sangat sederhana: kamar berdipan tanpa kasur dengan tarif Rp 20 ribu. Tapi, itu cukup melegakan mengingat esok harinya masih banyak kubangan lumpur harus dilalui sebelum mencapai Asiki.

Solidaritas antar sopir sangat diuji di sini. Jika satu mobil terjebak kubangan, mobil dari belakang maupun depan seringkali tak bisa lewat. Pada musim penghujan seperti ketika saya lewat, konvoi truk-truk pengangkut barang dan bahan makanan memilih berhenti sama sekali sampai kubangan cukup kering. Sopir dan kernetnya siap dengan tenda serta alat masak untuk persediaan satu atau dua pekan lamanya.

Asiki adalah persinggahan kami kedua. Dia lebih besar dari Munting. Ada kilang pengolahan kayu di situ, dan kebun kelapa sawit, sehingga kota kecil ini cukup ramai oleh pendatang. Tapi, baru tengah malam hari mencapai Asiki, kami hanya menemukan satu penginapan kecil, tanpa air karena pompa listrik rusak. Tak masalah, pikir saya, karena penderitaan segera berakhir.

Esok paginya mobil kami meluncur melintasi jalan yang lumayan bagus untuk mencapai Tanah Merah, ibukota Kabupaten Boven Digoel, sebelum tengah hari.

***

Tanah Merah kota kecil yang sekarat. Satu-satunya pusat keramaian di siang hari adalah pasar tradisional dekat dermaga Sungai Digoel. Para pedagang menjual hasil kebun: sayuran, pepaya, singkong, cabe dan pinang. Ada pula penjual ikan sungai dan lele. Di tenda-tenda darurat, pedagang menawarkan pakaian, alat elektronik, peralatan dapur serta kebutuhan pokok sehari-hari.

Harga kebutuhan pokok, termasuk makanan, relatif mahal karena buruknya transportasi. Ongkos angkutan umum pun mahal, dengan tarif jauh-dekat Rp 5 ribu untuk kota sekecil itu.
Listrik sudah dua hari mati ketika saya datang. Beruntung saya bisa menemukan penginapan yang punya generator sendiri, sekadar untuk bisa mengisi batere telpon seluler dan kamera.

Bahkan es termasuk barang mewah. Masyarakat mengandalkan generator milik pemerintah daerah, yang birokrasinya ruwet dan bupatinya ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi di Jakarta karena terlibat manipulasi anggaran. PLN setempat punya generator, tapi tak lagi berfungsi. Itu generator warisan kolonial Belanda buatan 1930-an.

Kondisi Boven Digoel belum banyak berubah dari 80 tahun lalu, yang kisahnya saya baca dari buku-buku sejarah.

***

Dekat Bandar Udara Boven Digoel patung Bung Hatta itu berdiri tegak dengan telunjuk tangan kanannya menuding tanah. Dia seperti ingin mengatakan: “Saya pernah di sini!” Patung itu membelakangi kompleks bangunan lama yang kini menjadi tangsi polisi, sebelah menyebelah dengan bekas Penjara Digoel.

Penjara itu cukup bersih dan terawat rapi, dikelilingi tembok kawat berduri. Ada dua blok tahanan di situ yang bisa diisi puluhan orang. Tahanan tidur bersama di atas papan kayu. Atap ruangan dialiri setrum listrik. Di pojok ruang ada sekat kecil untuk jamban. Satu WC untuk puluhan orang.

Di satu ruang yang dulu nampaknya gudang, saya melihat sebuah almari reyot berisi piring, mangkuk dan cangkir terbuat dari seng. Berdebu, berkarat dan tak terawat. “Ini dulu dipakai para tahanan,” kata Wens Katukdoan, penjaga situs bersejarah itu.

Ada pula enam sel isolasi yang hanya bisa diisi satu orang. Sel itu berukuran 2×2,5 m. Hampir kedap. Bahkan atapnya pun dari beton dengan lubang-lubang ventilasi sekecil biji kelereng. “Bung Hatta pernah mendekam di situ,” kata Wens sambil menunjuk sel pertama.

Tapi, saya kurang percaya. Bung Hatta tak pernah menyebut sel seperti itu dalam memoar maupun buku dan artikelnya. Penjara Digoel, yang dimaksudkan untuk mengasingkan tahanan pembangkang, pada dasarnya adalah penjara dalam penjara.

Delapan dasawarsa lalu, Boven Digoel secara keseluruhan adalah penjara itu sendiri. Penjara alam tak bertepi. Kawat berduri yang mengelilingi penjara, barak militer, dan dapur umum, justru dibuat untuk melindungi serdadu dan aparatur Hindia Belanda dari orang buangan.

Para tahanan politik yang diasingkan di Boven Digoel, termasuk Bung Hatta dan Sjahrir, tinggal di rumah-rumah sederhana berdinding kayu yang tersebar di dataran gersang tak jauh dari dermaga. Saya tak bisa lagi menemukan bekas rumah mereka.

Bagaimanapun, Boven Digoel atau Tanah Merah lebih dari sekadar cerita tentang Hatta-Sjahrir. Mereka hanya setahun diasingkan di situ (1935-36), sementara Digoel punya rentang sejarah lebih panjang, melibatkan penderitaan, tragedi dan kepahlawanan banyak tokoh lain pergerakan pada masa itu.

Tanah Merah dibuka pada 1927 dan baru ditutup limabelas tahun kemudian, menjelang kekalahan Sekutu dari Jepang dalam Perang Pasifik. Chalid Salim, adik kandung tokoh pergerakan Haji Agus Salim dan sepupu Sutan Sjahrir, adalah salah satu yang paling lama mendekam di Digoel, dari awal hingga akhir. Kelak dia menulis detil kehidupan di sana dalam buku “Lima Belas Tahun Digul: Kamp Konsentrasi di Nieuw Guinea”.

Mas Marco Kartodikromo, seorang pionir jurnalis Indonesia, tak selamat dari neraka Digoel. Dia meninggal di sana. Marco sempat menulis artikel yang kemudian dibukukan: “Pergaulan Orang
Buangan di Boven Digoel”. Dialah tokoh yang kental saya bayangkan ketika saya merebahkan badan di lantai kayu gubug Tanah Tinggi, 50 km dari Tanah Merah ke arah hulu Sungai Digoel.

Beberapa orang buangan lain menulis laporan pandangan mata dan cerita pendek, yang kelak dibukukan dan disunting oleh Pamoedya Ananta Toer dalam “Cerita dari Digul”. Ironis bahwa setelah merdeka Pemerintah Orde Baru meniru kolonial Belanda membangun neraka mirip Digoel di Pulau Buru, bagi orang-orang seperti Pram.

Boven Digoel dimaksudkan sebagai tempat pengasingan para aktivis politik agar tidak menularkan virus kebencian dan pemberontakan kepada Pemerintah Hindia Belanda. Tempat itu sangat terpencil bahkan untuk ukuran sekarang. Apalagi 80 tahun lalu.

Satu-satunya jalan keluar-masuk ke situ adalah Dermaga Digoel, 450 km dari mulut sungai besar yang berkelok-kelok. Satu-satunya sarana komunikasi keluar adalah kapal Belanda yang sebulan sekali berlabuh di situ. Kota administratif Hindia Belanda terdekat adalah Ambon, Maluku.

Koloni Digoel, dengan radius 25 kilometer, seperti Australia kecil bagi kolonial Inggris. Atau seperti Guyana kecil bagi Prancis.

Pemerintah Inggris dulu menjadikan Australia tempat buangan para kriminal. Seperti Inggris dan Prancis, Belanda membangun permukiman yang seolah-olah normal di koloni pengasingan. Di samping rumah, Belanda membangun fasilitas rumah sakit, bioskop, gedung kecil pertunjukan seni, bahkan sekolah, gereja, dan masjid.

Para tahanan diperbolehkan membawa istri dan keluarga. Mereka boleh hidup bebas, termasuk membentuk klub sepakbola, kelompok kesenian gamelan atau ketoprak, bahkan kelompok musik jazz. Semua tahanan mendapat santunan 72 sen plus ransum makanan. Tapi, yang mau bekerja untuk pemerintah memperoleh tambahan 40 sen, dengan kemungkinan bebas lebih awal.

Chalid Salim memilih bekerja untuk pemerintah. Setiap hari dia berkeliling dari rumah ke rumah untuk memastikan tak ada genangan air yang bisa dihidupi nyamuk. Begitulah limabelas tahun dia menyibukkan diri untuk menghindari kesepian dan kegilaan.

Bung Hatta memilih menolak bekerja sama. Tapi, seperti Salim, dia tetap harus menyibukkan diri pula. Meski kelak perkiraannya keliru, Hatta sudah siap untuk tinggal lama di Digoel. Dia membawa serta 16 peti bukunya dari Batavia dan menyibukkan dirinya dengan membaca buku serta menulis.

“Jika orang lain mempersempit dunia kita, kita sendiri bisa membangun dunia dalam pikiran kita,” kata Hatta.

Hatta secara teratur menulis artikel untuk koran Pemandangan. Dia juga mengajar para tahanan ilmu ekonomi, sejarah, dan filsafat. Kumpulan bahan pelajaran itu di kemudian hari dibukukan: “Pengantar ke Jalan llmu dan Pengetahuan” dan “Alam Pikiran Yunani.”

Kelak, setelah Indonesia merdeka, buku terakhir itu menjadi mahar perkawinan Hatta dengan Rachmi.

Tapi, kehidupan hanya seolah-olah saja normal di Digoel. Delapan puluh tahun lalu, Digoel tak hanya dipagari sungai yang banyak berisi buaya. Dia juga dikepung rawa dengan nyamuk malaria yang mematikan, serta hutan belantara dengan suku-suku asli Papua yang kadang bisa dibujuk Belanda untuk bersikap keras kepada pendatang.

Berbeda dari kamp konsentrasi Nazi Jerman, Digoel tak mengenal kekejaman fisik. Tapi, siksaan mentalnya luar biasa. Para tahanan sama sekali tak tahu apakah mereka bisa pulang. Dan seandainya pun bisa, mereka tak tahu kapan. Masa depannya gelap dan kabur. Banyak orang remuk mentalnya karena putus asa.

Takashi Shiraishi, sejarawan asal Jepang yang merangkum sejarah Digoel dalam “The Panthom World of Digoel”, menulis:

Pada tahun-tahun pertama, ratusan orang meninggal karena kelaparan dan sakit. Depresi Ekonomi di Eropa membuat Belanda mengurangi anggaran dan memangkas fasilitas bagi orang buangan. Penderitaan itu menyebabkan banyak orang buangan mencoba melarikan diri ke Australia. Mereka menggunakan perahu-perahu kecil buatan sendiri, tetapi sedikit saja yang berhasil. Sebagian terpaksa kembali, lainnya mati tenggelam.

Menyurusi Sungai Digoel, saya percaya miris membayangkan situasi 80 tahun lalu itu.

Menyusul rombongan pertama pada 1927, jumlah orang buangan Digoel mencapai puncaknya dua tahun kemudian, yakni 2.100 orang, namun berangsur menyusut karean dibebaskan.

Rombongan pertama adalah para aktivis ISDV (cikal bakal Partai Komunis Indonesia) menyusul pemberontakan gagal mereka melawan Belanda. Hingga kini, saya curiga, adalah karena alasan “komunis” itulah pelajaran sejarah Indonesia kurang bersimpati kepada kaum Digoelis dan makna penting perjuangan mereka.

Padahal pemberontakan 1927 tidak bisa disamakan dengan Pemberontakan PKI 1965. Lebih dari itu, tidak hanya komunis yang pernah diasingkan ke neraka Digoel. Ada banyak nasionalis, seperti Hatta dan Sjahrir. Ada pula ulama Perhimpoenan Moeslimin Indonesia dan Partai Serikat Islam Indonesia seperti Ilyas Yakub dari Minangkabau.

Keragaman penghuni Digoel kini masih bisa dilihat pada monumen dekat Taman Makam Pahlawan di pinggiran hutan. Ada 42 nisan di situ. Berikut daftar nama yang dimakamkan.

Kita bisa membaca keragaman latarbelakang suku dan kota asal para “Perintis Kemerdekaan” ini: Banten, Padang, Bandung, Solo, Madiun, Ternate, Manado, Pekalongan.

Ada tiga nama yang menarik perhatian saya: Karto (Mas Marco Kartodikromo), Ali Archam dan Nahjoan (Thomas Najoan). Mereka dikenal sebagai Marxist garis keras yang tak mau kompromi. Bagi Belanda tak cukup mereka dibuang ke Tanah Merah. Mereka diasingkan ke Tanah Tinggi, Sungai Digoel lebih ke hulu lagi, dengan alam yang lebih brutal. Mereka tewas karena tuberculosis atau malaria.

***

Tanah Tinggi yang saya kunjungi hampir sama persis dengan gambaran 80 tahun lalu yang saya baca. Minus bangunan-bangunan yang kini tiada. Yang tersisa hanya batu bekas fondasi sebuah bangunan lama, tak terawat ditumbuhi lumut dan rumput setinggi pinggang, di atas dataran seluas lapangan basket.

Selebihnya adalah semak belukar yang dikeliling jurang dan hutan lebat. Dari satu sudut bukit itu kita bisa melihat kelokan Sungai Digoel di kejauhan, satu-satunya jendela kebebasan bagi orang-orang buangan dulu. Itupun tak bisa dijamin.

“Tak ada yang bisa lolos dari tempat seperti ini delapan puluh tahun lalu,” kata Adrianus Sandap, pemuda Papua yang menemani saya ke situ.

Pada puncak kebrutalannya, Tanah Tinggi pernah dihuni oleh 70 orang buangan dan 45 anggota keluarganya. Mereka tinggal di 40 rumah yang terpisah satu sama lain, di dalam hutan, di kelilingi kebun sayuran. Semua itu tak ada bekasnya lagi sekarang.

Untuk sampai ke Tanah Tinggi, saya menyewa speed-boat yang dua jam mesinnya menderu dari Tanah Merah ke arah hulu. Tak ada jalan darat menuju Tanah Tinggi sampai sekarang. Dulu diperlukan waktu lima jam perjalanan sungai untuk mencapai Tanah Tinggi. Bahkan sampai kini, hanya hutan dan rawa yang ditemukan sepanjang perjalanan. Saya tak melihat satu pun perkampungan, kecuali satu dua rumah tradisional Suku Mandobo.

Di Tanah Tinggi, gubug kayu tempat saya berteduh itu baru dibangun belakangan, lengkap dengan panel surya yang tak lagi berfungsi, namun tak bisa menepis kesan betapa primitif, sunyi dan sangar tempat ini bahkan sampai sekarang.

Alam benar-benar berkuasa di sini. Udara lebih lembab di sini dibanding di Tanah Merah, karena lebatnya hutan sekeliling. Curah hujan lebih tinggi. Musuh orang buangan di sini adalah asma dan tuberculosis, disamping malaria. Dan dengan fasilitas kesehatan yang jauh lebih minim dari Tanah Merah.

Agak sulit saya membayangkan bagaimana Mas Marco Kartodikromo bisa bertahan empat tahun di situ sebelum TBC memagut nyawanya pada 1932. Tak hanya itu. Dia masih setia menulis, dengan tangannya, sebelum kertasnya diselundupkan ke Jawa dan Sumatra. Harian “Pewarta Deli” memuat 50 seri tulisannya antara 10 Oktober hingga 9 Desember 1931, beberapa bulan sebelum dia meninggal.

Mas Marco tokoh pergerakan pribumi dan jurnalis yang melampaui zamannya. Lahir di Cepu, Jawa Tengah, dia memulai karir sebagai jurutulis jawatan kereta api di Semarang, sebelum bergabung dengan koran terbitan Bandung, “Medan Prijaji”, milik Tirto Adhi Soeryo. Tulisannya tajam menantang pemerintahan kolonial. Marco juga mendirikan organisasi jurnalis pribumi pertama, Inlandsche Journalistenbond (IJB) di Semarang pada 1914, dan menerbitkan korannya sendiri: “Doenia Bergerak”.

Aktivisme politik mengantarkannya masuk organisasi sempalan “Sarekat Islam Merah” yang belakangan melebur dalam Partai Komunis Indonesia. Itu pula yang belakangan menyeretnya ke Boven Digoel.

Protagonis lain di Tanah Tinggi yang saya kagumi adalah Thomas Najoan. Asal Manado, dia Ketua Pengurus Besar Sarekat Buruh Percetakan di Surabaya yang berafiliasi dengan PKI ketika pemberontakan pecah pada 1927. Tak mau mati kesepian di Tanah Tinggi atau gila karena konflik antar orang buangan, Najoan berkali-kali mencoba melarikan diri.

Sejarawan John Ingleson dalam “Jalan Ke Pengasingan” menulis Najoan tiga kali mencoba kabur, tiga kali pula dia gagal. Dalam pelariannya yang kedua, Najoan sukses menembus hutan, menyeberangi sungai-sungai kecil Muyu dan Mandobo, sebelum menyeberang ke Papua Nugini menuju wilayah Australia. Tapi, Australia punya perjanjian ekstradisi dengan Belanda. Najoan ditangkap dan dikapalkan kembali ke Tanah Tinggi.

Najoan mengingatkan saya pada penulis otobiografi Henri Charrière atau Papillon, terdakwa kasus pembunuhan Prancis yang dikirim ke pulau terpencil di Guyana, Amerika Latin. Mengatakan tuduhan pada dirinya palsu, Papillon berkali-kali kabur. Dan berkali-kali pula, ketika dia merasa sudah bebas, dia ditangkap dan dikembalikan ke Guyana.

Menurut Chalid Salim, ada 16 usaha pelarian dari Digoel, melibatkan 60 orang, 40 di antaranya dari Tanah Tinggi. Namun hanya sepertiga yang bisa mencapai wilayah Papua Nugini dan bahkan mencapai Pulau Thursday di atas Semenanjung York, Australia. Tapi, bahkan merekapun akhirnya dikembalikan ke Digoel. Najoan, menurut Salim, sempat melakukan usaha kabur keempat kali pada 1942, setahun sebelum Digoel ditutup, hanya untuk hilang dalam rimba.

Saya tak tahu persis cerita terakhir Salim itu. Tapi, satu nisan di Pemakaman Tanah Merah menyebutkan namanya. Apakah dia ditemukan meninggal di hutan? Atau kembali ke Digoel setelah kamp konsentrasi ditutup dan meninggal di situ? Entahlah.

Bagaimanapun, kisah manusia Tanah Tinggi seperti Najoan mengingatkan saya pada terkutuknya kebijakan kamp konsentrasi Boven Digoel. Memang, Belanda tidak membunuh. Mereka hanya membiarkan orang buangan mati, diterkam kuasa alam ganas, atau gila. Belanda menjadikan orang buangan zombie, manusia hidup tapi tercerabut jiwanya.

Di sisi lain, Boven Digoel mengingatkan saya pada herorisme orang-orang seperti Mas Marco dan Najoan dan Hatta yang menolak untuk menyerah. Yang melawan ketidakadilan dengan lantang namun berjuang dalam sunyi, melawan musuh tak terlihat: kesepian dan ketidakwarasan.

***

Masih gerimis dan hari hampir gelap ketika saya turun meninggalkan Tanah Tinggi. Suara mesin speedboat meraung memantul tepian Sungai Digoel, tanda jemputan telah datang. Dengan kaki telanjang saya menyusuri jalan setapak yang lembab dan basah. Berkali-kali terpeleset sebelum akhirnya mencapai tepi sungai tempat speedboat menunggu.

Semua kesulitan sepanjang perjalanan saya menuju Digoel dan Tanah Tinggi tak ada artinya dibanding hidup dan perjuangan orang-orang yang penah dibuang ke sini, para bapak dan ibu pendiri bangsa kita, yang lama sirna dari ingatan sejarah kita.

***

(Farid Gaban | Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa)

Read Full Post »

Older Posts »