Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘IQ’

Dikutip dari blognya Dr. Ilma, 16 Januari 2014, jam 4.50 pm waktu Malaysia:

SPIRITUAL INTELLIGENCE

January 16, 2014 at 4:39pm

SPIRITUAL INTELLIGENCE

 

“Spiritual intelligence is the central and most fundamental of all the intelligences, because it becomes the source of guidance for the others.”  SQ menjadi kemampuan paling dasar dari semua kecerdasan yang ada. (Stephen Covey, 2004).

 

Terminologi SQ (Spiritual Quotient) sebagai parameter dari Spiritual Intelligence diperkenalkan pertama kali oleh Danah Zohar pada 1997 dalam bukunya ReWiring the Corporate Brain. Selanjutnya, Cindy Wigglesworth, penulis SQ-21, mendefinisikan SQ sebagai kemampuan untuk bersikap bijak dan sabar, menjaga keseimbangan batiniah dan lahiriah, dan menggunakan kemampuannya itu untuk hidup dan bertahan dalam berbagai situasi.

 

Spiritual intelligence dikonsepkan sebagai suatu evolusi teori kecerdasan terkini, melengkapi IQ (Intelligence Quotient) dan EQ (Emotional Quotient) yang lebih dahulu dikembangkan. Jika IQ adalah parameter kecerdasan logika klasik matematika dan verbal (pemahaman terhadap dunia fisik/material capital), dan EQ adalah parameter kemampuan inter-relasi (social capital); maka SQ didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk mentranspose dua aspek kecerdasan IQ dan EQ menuju kebijaksanaan dan pemahaman yg lebih mendalam hingga dicapai kedamaian dan keseimbangan lahiriah dan batiniah (spiritual capital). Secara singkat, IQ adalah bekal untuk menjawab pertanyaan : “apa yg kupikirkan”, EQ untuk menjawab pertanyaan “apa yang kurasakan?”, sedangkan SQ adalah alat untu menjawab “siapa aku?”

 

Sama dengan Goleman sang perumus EQ, Cindy Wigglesworth merumuskan 21 aspek SQ dan menggolongkannya ke dalam 4 kuadran sebagai berikut :

  1. Ego self Awareness
  2. Universal Awareness
  3. Ego self Mastery
  4. Spiritual Presence

Selanjutnya, David B. King seorang peneliti SQ dari Trent University in Peterborough, Ontario, Canada mendefinisikan SQ sebagai kapasitas mental yg berakar pada aspek non-materi dan transendental dari realita, dlm pernyataannya sbb.:

 

“…contribute to the awareness, integration, and adaptive application of the nonmaterial and transcendent aspects of one’s existence, leading to such outcomes as deep existential reflection, enhancement of meaning, recognition of a transcendent self, and mastery of spiritual states.”

 

Singkatnya, SQ adalah kemampuan sesorang untuk mentranspose segala permasalahan kepada makna dan fungsi yang paling mendasar/hakikat. Dengan bahasa saya sendiri, SQ adalah kemampuan seseorang untuk memahami kesejatian. SQ merupakan ukuran terhadap kemampuan seseorang untuk melampaui fase-fase pemenuhan akan materi, ketrampilan inter-relasi sosial, dan selanjutnya mengarahkan semuanya untuk mencapai “kesejatian”; menggabungkan semua aspek ke muaranya, yaitu pemahaman pada Yang Paling Hakikat, terbang melebihi aspek materi dari relasi, bukan tidak peduli pada kedua hal tersebut, namun melingkupinya.

 

Apakah SQ tumbuh? Bekal SQ yang mendasar diperoleh dari keluarga, sejak jabang bayi ada di dalam kandungan. Secara alamiah sangat logis bahwa kondisi ibu sangat mempengaruhi spiritualitas janin yang dikandungnya. Berbagai neurotransmiter yang dikeluarkan oleh Ibu akan tembus plasenta dan mempengaruhi pertumbuhan neuron dan memori selama janin tumbuh. Dari aspek anatomi fisiologis,  jaringan neuron otak terbentuk hingga 70 persen selama janin dalam kandungan, disempurnakan menjadi 90 persen sampai usia 5 tahun, sisanya hanya 10 persen dilanjutkan hingga awal usia remaja. Dengan demikian, situasi dan lingkungan saat bayi lahir, tumbuh,dan berkembang tentu sangat mempengaruhi kecerdasan, bukan hanya IQ, namun EQ, dan SQ. Pertumbuhan neuron bukan hanya didukung oleh makanan, namun juga oleh impuls-impuls/rangsangan dari luar. Saraf pendengaran dan perasa sudah berfungsi  sejak dini saat janin tumbuh. Dia bisa bergerak, merasa, mendengar, mengikuti suara, tersenyum, juga menangis, selama masih ada di dalam kolam ketuban.

 

Namun demikian, sama dengan IQ dan EQ, apakah SQ bisa ditingkatkan? Kebanyakan psikolog tentu sepakat bahwa SQ bisa dikembangkan. Semua terlahir dengan  bekal dan kesadaran spiritual dari Sang Pencipta. Namun, seorang anak yang terlahir dengan bakat musik tak akan mampu menjadi seorang pemusik hebat jika tdk belajar baik secara teori maupun praktik, demikian juga dgn spiritual intelligence.  Untuk itu, dalam pengembangan SQ, diperlukan pemahaman spiritualitas baik secara teori maupun praktis.  Pendekatan teori bisa diperoleh dari berbagai sumber, bisa dari membaca/belajar sendiri, berdiskusi, mengkaji, mengaji, dsb. Sedangkan untuk aspek praktis bisa dengan berbagai simulasi maupun berhadapan langsung dengan permasalahn riil.  Sebagai catatan, meski pendekatan SQ biasanya dibahas secara universal, terlepas/tidak identik dengan pendekatan agama tertentu, namun mau tidak mau agama yang dianut akan sangat melatari spiritualitas dari seseorang.

 

Pada masa kini, di seluruh dunia bermunculan para “motivator” yang dibayar mahal. Berbagai pelatihan SQ makin hari makin banyak penggemar. Di Indonesia, kita kenal tokoh seperti Mario Teguh dan Ary Ginanjar yang mempromosikan pendekatan SQ dan mendapat atensi sangat luas. Menurut saya, semua itu sah-sah saja dan menjadi fenomena positif. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan untuk belajar sendiri dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari supaya lebih matang dan tidak terasa “artificial” . Untuk itu, saya juga berharap bahwa teori SQ tidak dikembangkan atau digembar-gemborkan sekedar menjadi lahan untuk popularitas dan perolehan materi semata, karena jika itu yang terjadi, ruh dari SQ itu sendiri tdk akan pernah dicapai.

 

IQ,EQ, dan SQ

IQ,EQ, dan SQ

 

Empat kuadran Cindy W.

Empat kuadran Cindy W.

 

Read Full Post »

From: Senyum-ITB@yahoogroups.com [mailto:Senyum-ITB@yahoogroups.com] On Behalf Of handy purnama
Sent: Monday, June 11, 2012 8:43 AM
To: Senyum-ITB@yahoogroups.com
Subject: [Bulk] Re: [Senyum-ITB] Menghasilkan Steve Job

Ada tulisan menarik yang terkait.

http://202.59.162.82/swamajalah/sajian/details.php?cid=1&id=

 

Dan bila ingin lebih jauh dapat membaca di Malcolm Gladwell lewat bukunya, Outliers, The Story of Success

 

Melahirkan Barisan Outlier Idaman

Orang-orang berprestasi luar biasa alias outlier tidak muncul tiba-tiba. Modalnya juga bukan cuma IQ, bakat, ataupun kemampuan pribadi. Untuk menjadi outlier, mereka butuh dukungan lingkungan, keberuntungan, dan kemauan menempa diri. Bagaimana menciptakan sistem dan iklim yang kondusif untuk itu?

Namanya Christopher Langan. Sosok ini di Amerika Serikat lumayan dikenal setelah muncul sebagai bintang tamu di episode kelima tahun 2008 acara One Vs. One Hundred yang dibawakan Bob Saget. Di acara yang mempertaruhkan uang US$ 1 juta ini sang tamu harus cukup cerdas menjawab sebanyak mungkin pertanyaan dibanding pesaingnya yang sebanyak 100 orang itu. Yang membuat orang berdecak kagum adalah IQ-nya yang mencapai 195 (sebagai perbandingan, Albert Einstein “cuma” punya IQ 150). Di panggung ini Langan memang mampu membuktikan kecerdasannya, mengalahkan lawannya yang 100 orang itu dan pulang dengan hadiah US$ 250 ribu.
Dalam 10 tahun terakhir, Langan memang populer di AS karena sorotan media atas kecerdasannya yang luar biasa. Namun, sehari-harinya pria gemuk kekar yang kini berusia 50-an tahun ini tinggal di kawasan peternakan kuda di pinggiran Missouri. Selain mengurus peternakan, seperti halnya orang genius lainnya, ia juga menyukai buku dan keasyikan intelektual lainnya. Selama beberapa tahun terakhir ia mengaku tengah mengerjakan proyek rumit. Sayang, ini diakuinya pula, tak ada satu pun hasil karyanya yang dipublikasi. Salah satu hasil risetnya diberi judul Cognitive Theoretic Model of the Universe. Tanpa memiliki gelar akademis, ia merasa tak pernah bisa menerbitkan jurnal ilmiah. Ya, tampaknya Langan hidup dalam kesepian intelektual. Ia tahu bahwa seharusnya ia bisa hidup lebih baik dari yang sekarang dijalaninya, tetapi ia mengaku tak tahu caranya.
Nasib Langan memang tak seberuntung Bill Gates (pendiri dan pemilik Microsoft) ataupun Bill Joy (pendiri dan pemilik Sun Microsystems), dua nama genius lain yang sebenarnya IQ-nya masih di bawah Langan. Nama kedua Bill itu kini telah melegenda sebagai pakar teknologi sekaligus kampiun bisnis yang berhasil membangun fondasi TI dunia.
Langan tak sempat menyelesaikan pendidikannya di perguruan tinggi. Ia hidup dengan ibu, beberapa saudara tiri, dan ayah tiri yang sering main pukul (yang akhirnya minggat setelah dihajar olehnya). Lalu, karena ibunya lupa mengisi catatan keuangan keluarga, ia kehilangan beasiswanya di Reed College, Oregon. Di kampus lain yang kemudian dia masuki, Montana State University, Langan juga tak bisa hadir mengikuti kuliah pas waktu karena jaraknya yang jauh dengan tempat tinggalnya. Sudah begitu, permintaannya untuk pindah kelas sore – agar bisa mengikuti kuliah – ditolak pihak kampus. Hilanglah kesempatannya meraih gelar akademis. Ya, orang yang seharusnya mudah menggapai gelar Ph.D sekalipun ini, memang tidak cukup beruntung. Orang genius ini terbilang gagal karena tak memperoleh bantuan dari lingkungannya.
Kisah paradoks – antara faktor kegeniusan dan keberhasilan hidup – yang agak ironis ini diungkapkan Malcom Gladwell dalam buku terbarunya, Outliers. Ia menceritakannya sebagai kontras mengenai orang-orang yang mampu mencapai prestasi luar biasa dibanding kebanyakan orang (yang disebutnya outlier). Bill Gates, Bill Joy, The Beatles adalah di antara contoh outlier yang disebutkan Gladwell. Para outlier, Gladwel menyimpulkan, bukan semata berhasil karena bakat atau kemampuan pribadi mereka. Mereka sukses karena adanya bantuan dari lingkungan dan berbagai keberuntungan berupa kesempatan sosial yang mereka peroleh. Disiplin dan persistensi mereka untuk terus mempertajam dan memperdalam keahlian – yang diistilahkannya kaidah tempaan 10 ribu jam – menjadi kunci sukses mereka lainnya. Dari pemaparan Gladwell kita bisa menarik benang merah dan menemukan beberapa faktor kunci mengapa seseorang bisa sukses menjadi outlier di bidangnya (lihat Boks: Faktor Kunci Menjadi Outlier).

Faktor Kunci Menjadi Outlier

1.Memiliki bakat kapasitas individual yang bagus: IQ, bakat kecerdasan lainnya, dan minat.

2.Adanya pendidikan (lebih bagus sejak dini) – baik formal maupun informal – yang bisa mengasah bakat dan memperkuat minat.
3.Adanya bantuan dari lingkungannya – lingkungan keluarga, sekolah, dan lingkungan lainnya – dalam pengembangan kualitas diri.

4.Mampu memanfaatkan keberuntungan berupa kesempatan sosial (istilahnya: lahir di tempat dan pada masa yang tepat).

5.Menjalani tempaan keras (minimum) 10 ribu jam yang bisa mempertajam dan memperdalam keahlian.

6. Sikap disiplin dan persisten untuk terus mengakumulasi keunggulan di atas kebanyakan orang.

Sumber: Disarikan dari pemaparan Malcolm Gladwell lewat bukunya, Outliers, The Story of Success

Read Full Post »