Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Jepara’


From: Fnu Brawijaya <brawijaya@gmail.com>
Sender: sinergi-ia-itb@yahoogroups.com
Date: Fri, 19 Jul 2013 11:11:26 +0700
To: <sinergi-ia-itb@yahoogroups.com>
ReplyTo: sinergi-ia-itb@yahoogroups.com
Subject: [sinergi-ia-itb] RA Kartini korban konspirasi?

 

RA Kartini memang dari keluarga yang cerdas. Biasa dikenal sebagai Tiga Saudara dari Jepara, yaitu anak2 perempuan Bupati Jepara: Kartini, Kardinah, dan Rukmini. Ternyata setelah membaca, sebetulnya seharusnya bukan hanya RA Kartini, tetapi ketiga-tiganya yg pantas diberi gelar Pahlawan Untuk Wanita Indonesia. Kata-kata “Untuk” seharusnya selalu disematkan. Soalnya dari tahun ke tahun selalu diributkan kenapa bukan Christina Martha, kenapa bukan Cut Nyak Dien, dlst….. yang kesemuanya adalah pahlawan wanita, bukan pahlawan untuk wanita. 
 
Ketiga putri dari Jepara ini sudah punya rencana membuat eksibisi di Denhaag tahun 1897-1898, yaitu untuk Natinal Exhibition of Woman’s Work. 
 
Kakaknya yaitu Kartono, atau RM Panji Sosrokartono adalah wartawan bangsa Indonesia pertama yg meliput PD I, yaitu bekerja untuk New York Herald tribune. Kartono ini yg meliput perjanjian rahasia Jerman yg kalah dg Perancis yg menang, dan memuat nya di koran tsb, dan sebagai satu-satunya sumber koran. 
 
Setelah itu terlibat di Liga bangsa-bangsa sebagai Kepala Penterjemah. Kartono dikenal sebagai tokoh sastra dan pendidikan yg terlupakan, lulusan Leiden dg predikat Suma Cum Laude. Setelah melanglang buana, kartono ke Bandung mendirikan sekolah dan perpustakaan, dan menjadi Kepsek Taman Siswa bandung. Bakat lahir kartono adalah dia sebagai Poliglot, atau bakat lahir dalam menguasai bahasa, total dapat berbicara dalam 24 bahasa asing dan 10 bahasa etnis nusantara. Kartono tidak mau dipekerjakan Belanda baik sebagai bupati maupun direktur museum di Jakarta, dan memilih menjadi Kepala Sekolah taman Siswa. Di sekolah tersebut presiden Soekarno menjadi salah satu guru. Dalam laporan rahasia oleh Van Der Plas kepada Ratu Wilhemina, Kartono digolongkan sebagai tokoh pergerakan yg tidak dapat dipercaya. 
 
Untuk Kartono, silakan baca tautan ini, lebih seru….. :
 
 
Adiknya yaitu RA Kardinah mendirikan rumah sakit di Tegal:

RSU Kardinah Tegal

Rumah Sakit Umum Kardinah Tegal yang didirikan oleh adik kandung R.A. Kartini yaitu R.A. Kardinah Reksonegoro X pada tahun 1927 dengan biaya pertama f.16.000 dari hasil penjualan buku karya tulisnya (Komentar: ternyata buku-buku karya Kardinah adalah buku tentang membatik dan memasak, tahun segitu sudah bikin buku), karena harsat untuk menolong rakyat miskin khususnya kaum wanita yang waktu itu belum mendapat pelayanan kesehatan secara layak.

Rumah Sakit Umum Kardinah dibangun di atas tanah seluas 50.083 meter persegi dengan luas bangunan 16.347 meter persegi dengan letak yang stategis yaitu di pinggir kota ujung selatan tepatnya Jl. KS. Tubun No. 4 masuk dalam Kelurahan Randugunting dan Kecamatan Tegal Selatan yang menjadikan Rumah Sakit Kardinah sebagai rujukan bagi daerah sekitarnya.

Dari hasil penjualan bukunya, Kardinah juga berhasil membangun rumah penampungan orang miskin di dekat rumah sakit yg didirikannya.

RA kardinah pernah diarak dan hampir dibunuh, dieksekusi oleh Kutil, pemberontak dalam peristiwa Pemberontakan Tiga Daerah (Brebes, Tegal, Pemalang) pada Bulan Oktober 1945, karena status sosialnya sebagai keluarga bangsawan.

Nah, di bawah ini kok ada teori konspirasi tentang kematian RA Kartini. Monggo dibaca sembari ngabuburit.

 

——————–

Kartini adalah pahlawan Nasional SK Presdien RI (Ir. Soekarno) No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964. SK tersebut menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional menunai banyak kontroversi. Banyak latar yang mempertanyakan bahwa nilai kepahlawanannya tidak lepas dari politik etis zaman Belanda. RA kartini merupakan wanita berdarah biru, cerdas, pemberani, dan kurang menyukai hal-hal yang bersifat seremonial. Dia menentang perihal yang bersifat feodalism kerajaan maupun kolonial. Dan sangat memperhatikan nasib bangsa bumipertiwi khususnya kaum wanita dibidang pendidikan. Karena ia berpikir, hanya melalui pendidikan rakyat Indonesia lepas dari perbudakan kolonial penjajahan dan keratonism. Yakni sebuah pemikiran yang jarang dimiliki oleh putra bangsa —apalagi wanita— seperti Kartini. 

 
Sehingga nasehat Hugrogonje, orang seperti kartini harus didekati, karena pola pemikirannya sangat berbahaya bagi sistem kolonial Hindia Belanda. Maka dari itu JH Abendanon, Menteri Pendidikan penjajahan kala itu di zaman Kartini berupaya mendekati Kartini dari sudut pemikiran.
 
Pemikiran-pemikiran Kartini yang sedemikian berani, kritis, sistemik terlihat dari berbagai surat-surat dan artikel yang sudah menyebar di majalah-majalah wanita Eropa harus didampingi oleh orang Belanda agar tidak keluar dari visi penjajahan kerajaan belanda di Hindia Belanda. Khususnya pemikiran tentang gugatan emansipasi di zaman yang sudah mendunia kala itu bahwa pemikiran tentang kewanitaan sangat mengagetkan wanita-wanita Eropa. Penjajahan tidak hanya feodalisme dan kapitalis dunia, akan tetapi diskriminasi terhadap kaum wanita di seluruh dunia bisa dikatakan — bagi kaum wanita— merupakan era penjajahen gender, bahkan untuk negara penjajah sendiri seperti Belanda dan Eropa lainnya, kaum wanita merasa terjajah oleh sistem negerinya sendiri. Dan Kartini ibarat sinar yang mampu menggugah pemikiran wanita-wanita Eropa untuk bangkit menjadi kaum yang mandiri yang tidak hanya takluk oleh kaum pria dan sistem yang melingkupi budaya kewanitaan.
 
Sedemikian jauh dan cerdas, untuk sekian kalinya JH. Abendanon mengawal profil kehidupan dan pemikiran Kartini —-lihat dalam uraian surat-surat Kartini di buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” (door duisternis tot licht) — tidak mampu mengawal letupan-letupan gugatan Kartini terhadap sistem feodal kratonism dan kolonialism. Dalam rekayasa ini sangat terlihat intrik-intrik hitam pada detik-detik Kartini, ketika ada visi untuk menjatuhkan intlektual Kartini.

Artinya, Kartini di zaman itu bukan hanya di era indonesia dan segala kerajaannya, akan tetapi surat-surat dan artikel via pos. Kalau tidak berlebihan dikatakan, “ di zaman itu 1898 – 1902 Kartini menjadi tokoh dunia. Ia menjadi sentral tokoh-tokoh wanita Eropa di dunia.” Dan bagi kolonial Belanda di Indonesia menghabisi peran intlektual Kartini akan menjadi masalah internsional, karena masalah area kolonial atau penjajahan sangat bersaing ketat dengan Inggris.

Dari sini ada upaya “gerakan bawah tanah” untuk menghabisi RA Kartini. Gerakan itu bisa dirasakan dan mulai terlihat jelas ketika RA kartini hendak sekolah ke Luar Negeri, kemudian cita-citanya sekolah di Bandung, semua tumbang ditengah jalan akibat campur tangan JH Abendanon terhadap bapak Kartini. Demikian juga masalah pernikahan, sangat kental sekali upaya JH Abendanon terhadap bapak Kartini dan sistem keraton Jepara. Akhirnya Kartinipun menikah di usia 25 tahun. Kalau sudah menilah —bagi adat Jawa yang sudah dipelajarai penjajah Belanda —- tentu profil wanita Jawa tidak bisa berbuat banyak lagi.
 
Ketika memasuki area pernikahan dan hidup di Rembang bersama suami tercinta, rupanya sang suami sangat mendukung visi, misi, dan tujuan Kartini tentang Pendidikan, menulis buku —bahkan Kartini sudah membuat plot buku yang bertema Babat tanah Jawa, — atas dukungan suami tercinta. Buku itu belum selesai ditulis karena meninggal dunia. Juga ada seorang ulama Kyai Sholeh Darat menulis kitab tafsir untuk Kartini agar bagaimana Kartini memahami Islam, Kyai itupun wafat dengan misterius, sebab umat islam sengaja dijauhkan dari keilmuan agamanya sendiri. Dengan kata lain bahwa Kartini, walaupun sudah berstatus istri masih melakukan aktifitas-aktifitas intlektualnya atas bantuan suami dan orang terdekat dari kalangan pribumi.

“Betapa bahagianya Kartini melihat suaminya mendorong agar tetap bersemangat menulis. Suaminya menyampaikan ide agar menulis buku Babad Tanah Jawa. Diharapkan dari tulisan Kartini kelak masyarakat Jawa bisa melihat dengan jelas sejarah perkembangan tanah Jawa.
 
Dikatakan dalam satu suratnya tanggal 16 Desember.
Suami sangat inginnya melihat saya menulis kitab tentang cerita lama-lama dan babad tanah Jawa. Dia akan mengumpulkannya bagi saya; kami akan bekerja bersama-sama mengarang kitab itu. Senangnya hati mengenangkan yang demikian itu !

Masih banyak lagi hal yang hendak diperbuatnya bersama-sama dengan saya; di atas meja tulis saya telah ada beberapa karangan bekas tangannya. (Armijn Pane 1968, 238)

Hidup di Rembang sebagai permaisuri sekaligus wanita karir (sebutlah seperti di zaman modern ini) Kartini sudah mencapainya dengan baik sejak era 1900-an. Aspek sejarah manapun terbukti bahwa Kartini sudah membuka pintu yang luas untuk diri dan bangsanya. Menjadi kolomnis untuk majalah Eropa dan menjadi penulis buku bukan hal yang mudah di zaman penjajah. Tingkat kecerdasan masyarakat Jawa secara umum masih banyak yang belum bisa baca tulis. Akan tetapi Kartini gadis keraton dengan gaya pendidikan yang ketat (di keraton) tanpa mengalami kesulitan menulis buku atau membaca buku-buku. Ia memperoleh dukungan luar biasa dari suaminya.”

JH Abendanon dan orang-orang Belanda berpikir keras, bagaimana menghentikan gerakan intlektual Kartini terhadap bangsa melalui pemikiran dan wawasan kebangsaan Indonesia. Muncullah “gerakan bawah tanah” melalui dokter persalinan yang mengurusi persalinan RA. Kartini ketika melahirkan Susalit, dan fenomena itu bisa ditafsir ke seribu makna tentang kematian Kartini. Proses persalinan Susalit tidak ada masalah. Badan sehat, tidak ada keluhan, namun pada minggu selanjutnya ketika DR itu datang, tiba-tiba perutnya sakit dan meninggal dunia.

Ada kutipan yang menarik. Sitiosemandari memberikan gambaran kecurigaan yang wajar.

Tanggal; 13 September 1904 bayinya lahir, laki-laki, kemudian diberi nama Raden Mas Soesalit. Tanggal 17 September, dr. Van Ravesteyn datang lagi untuk memeriksa dan dia tidak mengkhawatirkan keadaan Kartini. Bahkan bersama-sama mereka minum anggur untuk keselamatan ibu dan bayi.

Tidak lama setelah Ravesteyn meninggalkan Kabupaten, Kartini tiba-tiba mengeluh sakit dalam perutnya. Ravesteyn, yang sedang berkunjung ke rumah lain, cepat-cepat datang kembali. Perubahan kesehatan Kartini terjadi begitu mendadak, dengan rasa sakit yang sangat di bagian perut.
Setengah jam kemudian, dokter tidak bisa menolong nyawa pemikir wanita Indonesia yang pertama ini. Pembunuhan ? Racun ? Guna-guna ? Tentang hal ini, Soetijoso Tjondronegoro (Sutiyoso Condronegoro) berpendapat: “Bahwa ibu kartini sesudah melahirkan putranya, wafatnya banyak didesas-desuskan, itu mungkin karena intrik Kabupaten. Tetapi desas-desus itu tidak dapat dibuktikan. Dan kami dari pihak keluarga juga tidak mencari-cari ke arah itu, melainkan menerima keadaan sebagaimana faktanya dan sesudah dikehendaki oleh Yang Mahakuasa.” (Imron Rosyadi, 2010)
 

Ada pernyataan dari teman belanda, Jika hewan saya sakitpun, saya tidak percaya terhadap kompetensi dr. Van Ravesteyn.
Ada intrik yang mendalam, yakni permainan dalam sekam agar tidak terlihat upaya pembunuhan terhadap kartini. Orang berpura-pura berbelasungkawa, sesungguhnya dialah yang membawa pedang tikaman. Orang berteriak maling, sesungguhnya dialah malingnya. Akan tetapi keluarga kerajaan mengambil jalan bijak, dan menurut bahasa elit yang terkenal zaman itu, “Laat de doden met rust” (biarkan yang meninggal jangan diganggu – [Efatino Febriana, 2010]). Dan semuanya dianggap bagian dari perjuangan Kartini yang tertunda.


Brawijaya SI8

Iklan

Read Full Post »