Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘mahasiswa’

Berikut ini has peta persaingan mahasiswa untuk masuk ITB, tahun 2012

Fakultas/ Sekolah Peminat Daftar Ratio
FTTM 5721 342 16,72807
SBM 3542 220 16,1
SF 2001 146 13,70548
SAPPK 2896 219 13,22374
STEI 5171 413 12,52058
FTMD 3376 271 12,45756
FTSL 4277 345 12,3971
FSRD 2744 240 11,43333
FITB 3128 281 11,13167
FTI 4288 398 10,77387
FMIPA 3353 359 9,339833
SITH-S 1158 130 8,907692
SITH-R 1454 169 8,60355

 

Read Full Post »

Here are several books could be used to increase your company performance and your individual perform.

1. Academic books

Cover_Case_I_100714Published: Andi Publisher – Jogjakarta

Author: Prof. Dermawan Wibisono

You can get it at August 2014

 

Cover_jerman_230414Published by: Lambert Academic Publishing, Germany

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it through their web site: http://www.lap-publishing.com

Since it is e-book

 

Skripsi, Thesis, Disertasi

Published by: Andi Publisher

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it on June 2013

 

 

Good reference

Published by: Gramedia

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it January 2013

Published by: Penerbit Erlangga, 2011

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it at the end of June  2011

Published: Penerbit Erlangga, 2006

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get in Gramedia or directly to publisher on line

Published by Gramedia, 2003

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it through Gramedia on line

2. Character Building  novels

Cover_3G_Gramedia

Published by: Gramedia

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it 18 April 2013

Publisher : Inti Medina, Tiga Serangkai Solo, 2010

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it through publisher  or public book shops: funny, romantic, enthutiastic, spirit

Publisher: Mizan, 2009

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it through Mizan publishing on line or book shop: spirit to be the best, ITB novel background, romantic, funny, struggling

Publisher: MQS Publishing, 2008

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it through MQS on line or book shop: heroic, struggle, child appropriateness, motivation

Read Full Post »

Over Confidence

Saya tidak tahu persis apa yang membuat Amerika Serikat (AS) berhasil menjadikan warga negaranya begitu percaya diri dan kadang bahkan terkesan  arogan. Jika keberhasilan membuat kepala mendongak itu hanya berlaku bagi warga negaranya sendiri, saya tak akan terlalu ambil peduli. Tetapi keberhasilan itu ditularkan kepada siapa saja yang sempat bermukim, sekolah atau bahkan sekedar mencicipi makanan ala Amerika. Tak kurang dari pegawai di kedubesnya sampai ke level securitynya.

Jika anda akan mencari visa di Kedubes Amerika Serikat,dekat stasun Kereta Api Gambir itu,  sudah pasti anda akan disuruh antri di bawah jembatan layang, lima ratus meter dari gerbang kedubes, padahal trotoar panjang di sisi gedung itu sepi dan nanti juga akan anda lewati sebelum masuk pintu gerbang yang digembok setiap lima orang antrian masuk, dan dibuka lagi saat lima orang berikutnya giliran masuk pula. Saya kasihan melihat security, yang orang Indonesia asli itu, yang terpaksa pasang tampang sangar, padahal kerjanya cuma buka tutup pintu gerbang bercat hitam dengan gulungan kawat berduri di atasnya. Kaya pintu kuil Shaolin. Hitam menyeramkan.

Banyak orang Indonesia yang antri itu menggerutu dengan perlakuan security itu yang bahkan mengundang keheranan seorang ibu-ibu tua dari Filipinayang antri di belakang saya. Mengapa mereka harus kasar dan ketus? kalau terhadap kami yang orang asing tidak masalah, bukankah ini negara anda sendiri. Isin aku, isin tenan….sama orang Filipina itu yang paham benar beda antara tegas dan angkuh.

Orang-orang yang antri itu begitu nelangsa di rumah sendiri, padahal mereka membayar 1,5 juta per orang baik nanti dapat visa atau tidak. Lha orang mau ngasih duit kok ya disengol dan disengaki to ya. Ini di mana letak customer satisfaction yang banyak dibahas di buku teks keluaran Amerika itu. Kalau anda nggak terima dengan perlakuan kurang bersahabat itu, anda boleh juga beradu argumen: “Mas, ngapain kita antri di bawah jembatan, dekat tumpukan sampah, diguyur hujan, kalau toh nanti juga jalan di trotoar sebelah kedubes itu, kenapa nggak di sana saja antrinya. Kayak kedubes Paris yang di London itu lho Mas, yang antriannya begitu panjang  kayak ular sepanjang trotoar yang berbelak-belok..?’

Ditanggung 100% anda akan kalah beradu argumen dengan securitynya itu, karena mereka bawa pistol dan dengan garang mengusir seolah berkata: “jangan dekat-dekat kedubes, wong kamu kudisan gitu kok..!” Dan security itu orang Indonesia asli, yang dari namanya kebanyakan Jawa, yang padahal genetika aslinya mestinya tidak pantas berperilaku begitu kepada sesamanya, sesama orang Indonesia.

Lepas dari security, anda akan masuk ke loket kasir, yang tidak kalah ketus dalam memberi tahu dan memperlakukan orang. Semua digebyah uyah, disamaratakan, dianggap kita semua ini orang pelosok yang tidak berpendidikan, apalagi pernah ke luar negeri. Mereka akan ngasih tahu dengan berteriak-teriak, seolah kuping yang dikasih tahu itu kesumpelan cutton but yang lupa dilepas di pagi hari. “Diisi sejak anda smp, smp nya di mana, sma, sma di mana, namanya apa, jalan apa, kota apa…!” walaaah mau ke LN aja kok ditanya SMP dan SMA nya di mana segala. Apa korelasinya. Lha orang Indonesia itu kalau masih SMP ya kecil-kecil dan nggak punya nyali. Masih kurus kering, itheng thuntheng, kurang gizi kae lho. Beda dengan orang Bule atau Arab yang sudah gagah, sudah berkarakter atau sudah berprinsip: kalau mau jadi teroris ya teroris beneran, kalau mau ngaco ya sembada. Berani bertanggung jawab. Lha anak SMP di Indonesia, sekali dipithing dan dijenggit ujung rambutnya saja sudah teriak-teriak ngadu ke orang tuanya kok. Jadi ya nggak perlu nanya SMP segala. Apalagi kolomnya sempit, kalau sudah diisi S1, S2, S3, Post Doc, pendidikan tambahan, training….wah wis kebak, nyumpel nggak cukup….Untungnya orang Indonesia kebanyakan ya low profile. Wis diterima saja.

Nah ya sudah, itu orang Indonesia yang bekerja di kedubes AS. Lha apalagi yang alumni AS. Wah ya pasti akan lebih nggembelo. Pede abis. Dibanding lulusan Jepang, Australia, atau Inggris sekalipun, lulusan AS ini kebanyakan lho ya, tahu semangkok ya ngomongnya kayak tahu sebakul. Tahu sesendok ya kayak tahu sak dandang. Munjung kae. Tapi bagusnya mereka ini bisa membuat rekan-rekannya optimis, memandang dunia begitu terang, dalam genggaman. Walaupun kenyataannya ya embuh, wong donya bukan punya kita. Punya gusti Allah, ya terserah Gusti Allah saja takdirnya. Nggak perlu sok-sokan akan menentukan arah perputaran dunia. Dan Amerika bangkrut sekarang.

Nah saya sekarang ada di Boston tempat claim universitas terbaik di dunia berada, ada Harvard, ada MIT, ada Babson, ada Boston. Ya banyak.  Kebetulan Harvard mengadakan temu mahasiswa sedunia yang dihadiri 3.000 anak S1 dari seluruh universitas di dunia untuk simulasi sidang umum PBB. Hajatan ini sudah ada sejak 1955 dan sekarang menuai sukses dengan banyaknya peserta itu. Padahal komite pelaksananya ya anak-anak kecil dari Harvard itu yang jumlahnya tak lebih dari 10 orang. Pinter jualan ini memang orang Amerika. Mereka seolah-olah bersidang membicarakan masalah kemiskinan, lingkungan, peburuhan dan segala macam isu yang dialami terutama oleh negara-negara miskin. ‘Bagusnya’ adalah mereka membahas kemiskinan dan kesengsaraan itu dengan dress code formal, jas, dasi, long john, sweater, dan acara akan diakhiri dengan dansa dan minum bir, bagi yang mau. Kontradiksi to?…yo gak apa-apa, lha namanya dagang kok. Dari hajatan semacam ini, anak-anak kecil Harvard itu sudah mendatangkan berapa banyak devisa termasuk menghidupi hotel, toko souvenir dan pedagang fish & chips di sana. Belum lagi bahwa mereka yang hadir ini, merupakan calon-calon diplomat dan pemimpin masa depan negara masing-masing yang secara potensi mumpuni, sehingga dalam mapnya pun serta merta ada penawaran sekolah lanjut ke Harvard. Tentu harus lulus test dan mbayar mahal. Sekali lagi, saluuuut atas kepiawaian dagang dan menjerat bakat-bakat terbaik.

Oleh-olehnya apa dari  Boston?

Boyok pegel, karena harus mengarungi 30 jam perjalanan dan lesson learned, bahwa kemasan seringkali menjadi lebih penting dari produknya, dan kapan ya kita mampu untuk tidak selalu menjadi konsumen saja, tetapi jadi pelakunya. Bagi mahasiswa yang kesana? ya pasti ada.Paling tidak untuk bisa sekedar mengatakan’ ah ternyata kalau kepinteran ya nggak jauh-jauh amat, hanya masalah bahasa dan kepercayaan diri saja sebenarnya’…itu thok, perlu biaya mahal. Dan satu lagi: bagaimana bersikap dewasa, concern pada sesama dan yang utama……tertawa pada timing yang tepat. Selain tentu masalah skill dan knowledge yang harus cepat diupdate, dengan cepat memahami masalah, mendown load hasil riset terkini yang berkaitan dan menyampaikannya sebagai resolusi yang diterima audience, yang walau pura-pura, kalau orang bule serius juga. Maunya semua duduk di depan dan mendahului bicara.

 

 

Read Full Post »