Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘mental’

Revolusi Sunyi
Aku sengaja pulang ke Indonesia, tuk mengambil raport anakku. Seperti biasa dalam setiap pertemuan, aku datang kepagian. Saat aku masuk ruangan, pekerja masih menata kursi dan mengetest sound systems. Sebagian air AC menetes di pojok ruangan, dengan tetesannya ditadahi ember. Tak ada perbaikan sebelumnya seperti layaknya menyambut tamu. Pertemuan itu, seperti penyakit berbagai pertemuan di Indonesia, mundur satu jam dari yang dijadwalkan. Kepala sekolah datang dengan kemeja biru lengan panjang dan dasi merah darah. Dengan bangga beliau mengatakan bahwa sekolah, tempat anakku belajar, memegang rangking tertinggi NEM se Jawa Barat. Bukan main, batinku. Aku tak mengikuti sesi tanya jawab, karena bosan dengan isu yang itu-itu saja. Aku langsung masuk kelas tempat raport anaku akan dibagikan wali kelasnya. Kelas masih kosong. Perlahan kemudian kelas itu terisi, mayoritas oleh ibu-ibu pengambil raport anaknya, yang tampaknya bukan seperti mengambil raport tetapi seperti acara kondangan. Pengambilan raport itupun terlambat satu jam, sehingga total jenderal semua terlambat dua jam. Suara adzan sholat dhuhur sudah terdengar ketika ibu-ibu dengan dandanan yang glamour, gemerlap, full make up, mengambil raport itu satu persatu dengan senyum di kulum. Tiba giliranku, sang wali kelas berpesan:”Pak jangan kaget dan kecewa, jika ternyata NEM yang tinggi-tinggi nanti dicapai oleh anak-anak yang biasanya rankingnya menengah ke bawah. Justru anak-anak yang ranking nya tinggi, biasanya NEM nya rendah..”. Kutatap ibu wali kelas itu pada bola matanya. Sang wali kelas menghindar. Alarm di dadaku berdering, memberi tanda peringatan, entah apa.
Kulihat lembar NEM anakku, tidak terlalu besar. Tapi yang lebih membuatku kaget adalah NEM nya di bawah rata-rata. Dan nilai bahasa Indonesia nya, hanya 7.6. Aku berfikir sejenak, sesulit apakah pelajaran bahasa Indonesia sekarang, sehingga anak-anak susah sekali mendapatkan nilai 8 apalagi 9, seperti pelajaran bahasa Inggris, IPA atau matematika.
Esok harinya, apa yang kurasakan kupendam dalam, agar tak terbaca anakku. Aku dating ke perpisahan sekolahnya. Perpisahaan yang wah untuk usia SMP di banding dengan jamanku 30 tahun yang lalu. Anak-anak lelaki sudah tinggi-tinggi dengan setelan jas yang gagah dan anak-anak perempuan bersolek dengan kebaya modern, bukan lagi tampak seperti siswa SMP, layaknyanya artis papan atas yang suka muncul di infotainment.
Sang penerima tamu berpesan, agar orang tua mengambil tempat duduk yang kursinya dicover dengan selendang warna emas, karena siswa akan duduk di kursi yang dicover biru, merah, pink, kuning dan hijau. Aku menurut saja, mengambil kursi untuk orang tua di samping anak-anak walau kadang sebagian pemandangan tertutup oleh tiang beton yang besar.
Tak beberapa lama datang seorang wanita, berkain warna kuning dan berkebaya warna mrah maroon. Dia dengan mimic serius mengusir kami, agar duduk di balkon, karena tempat duduk itu untuk undangan dari diknas. Ada empat puluh lima kursi di sana, batinku. Ooohh…mungkin sekarang sedang musim mengadakan perpisahan sekolah dengan mengudang 45 orang pegawai Diknas kota. Aku berpindah tempat, tak ingin konfrontasi dan mempertanyakan hal ini yang sudah dipesan oleh sang receptionist tadi.
Kulihat banyak wanita berkain kuning tapi berkebaya dengan tiga warna berbeda: hijau, maroon, dan cokelat. Ooohh ini panitianya rupanya. Banyak sekali. Tak berapa lama dari diknas pun datang, Cuma satu orang, ya Cuma satu orang dan memberi sambutan sekedarnya setelah itu pulang. Dan dengan masygul kutatap kursi tempat aku duduk, diperebutkan oleh ibu-ibu tadi yang berkain kuning, panitia yang sepanjang acara tidak jenak, tidak tumakninah. Berkali-kali acara di depan dipertunjukkan, berkali-kali pula ibu-ibu itu berfoto di barisannya. Rupanya ini ibu-ibu anggota komisi sekolah yang ikut ngributin jadi panitia. Walau tak jelas apa yang diurusnya. Mereka terlalu sibuk untuk selfi, untuk segera diunggah di facebook, instagram atau social media manapun yang diikuti. Berfoto dengan teman satu divisi, dengan kebaya yang sama atau dengan lain divisi. Ibu-ibu di usia pertengahan, lebih heboh dari anak-anaknya yang punya gawe di perpisahan itu.
Kemudian dipanggillah 10 NEM terbaik yang dipegang 20 anak, karena sebagian di antaranya ada skor yang sama. Kulihat tatap mata anaku yang begitu merana. Seolah berkata: akau ingin dipanggil ke sana, agar ayahku bahagia karenanya. Memerah mata anaku tapi tak berdaya. Karena dia sama sekali tidak terdapat di barisan anak-anak berprestasi itu.
Sang ibu-ibu anak yang dipanggil, seolah terkejut, dengan bangga menyertai langkah ke 20 anaknya maju ke depan menyalami kepala sekolah dan guru-guru yang dengan senyum penuh arif bijaksana mengantarkan anak didiknya melepas masa sekolahnya.
Semuanya berlangsung biasa saja, karena sudah sering sekali aku ikut upacara wisuda atau pelepasan kelulusan mahasiswa. Tapi entah alarm yang tadi berdering di dadaku, makin lama-makin kuat, sehingga iseng-iseng ku SMS teman dosen yang tahun lalu mendapat kasus NEM putranya. Putranya mendapatkan NEM 24 point sehingga tak diterima di sekolah manapun, bahkan akan masuk swasta pun justru ejekan yang diterimanya. Sang teman tak habis mengerti, anaknya pandai bahasa Inggris, pernah ikut ke luar negeri semasa beliau ngambil S2, tapi justru bahasa Inggrisnya dapat 2,6. Beliau akhirnya mengurus hal ini ke Diknas propinsi, diknas Kota, Sekolah dan bimbingan test untuk membantu memecahkan soal ini. Ternyata yang terjadi adalah, …..salah kunci. Akhirnya dari NEM 24 anaknya mendapat NEM 35 setelah semua pelajaran discan ulang di Jakarta. Sang teman memberi nomor kontak siapa yang bisa dihubungi dan masih amanah memegang prinsip bahwa pendidikan adalah asset utama bangsa. Selain tentu dia mengalami di ping-pong sana-sini, dan setelah hasilnya jelas, dia dipesan untuk menutup rapat-rapat rahasia ini.
Dengan mengucapkan bismillahirohmanirrohim, aku memberanikan diri menghadap ke Dinas propinsi. Benar kata temanku, bahwa ini adalah salah sedikit orang yang mengemban amanah, di antara para pemain ping-pong yang lain. Kuserahkan kecurigaanku kepada beliau untuk mengurusnya seperti pernah beliau lakukan pada temanku. Sementara itu, aku harus pergi ke Malaysia. Aku tak merasa tenang jika belum mendapatkan permasalahan yang sebenarnya terjadi. Dengan nekad, aku minta no hp Dirjen Dikdasmen kepada Dirjen Dikti, yang kebetulan bekas rector ku dulu. Untung beliau baik, walaupun semasa jadi rector pernah bersitegang denganku di forum rapat pimpinan, karena perbedaan prinsip dan policy yang kami ambil. Barangkali beliau ingat, aku satu-satunya yang menentang keputusannya saat itu, aku yang tidak mau yes man, aku yang selalu mempertanyakan, dibanding dengan 12 dekan lain yang sangat menjunjung tinggi structural. Entahlah, aku tidak bisa menjadi ABS. Kata almarhumah ibuku aku tidak bisa menjadi Yudhistira yang menurut saja atau tidak bisa jadi Bimo yang menyeberang lautan pun dilaluinya, untuk memenuhi kata gurunya, walau tahu bahwa Begawan Durna itu membohonginya. Aku hanya bisa menjadi Antasena, satria yang tak bisa duduk, dan mengatakan yang benar itu benar, atau aku terkontaminasi nama yang diberikan ibuku: Wibisono, Gunawan Wibisono, yang menentang kakaknya, Rahwana karena menculik Dewi Shinta. Pak Dirjen Dikti memberikan nomor Hp dirjen Dikdasmen. Seperti metralyur kuceritakan dalam SMS di sudut bandara, tentang kecurigaanku akan NEM di sekolah terbaik yang kualami. Semua tanpa ada yang kututupi. Bahwa tiga bulan sebelum ujian akhir, datanglah bimbingan test dengan sang kepala sekolah ke setiap kelas dengan promosi bahwa bimbingan testnya menjamin para partisipan mendapatkan NEM > 37, dengan membayar 10 juta rupiah. Jika tidak terwujud, uang akan dikembalikan 20 juta rupiah. Seperti bapaknya, mendengar promosi semacam itu, bukannya didengerin, anakku kabur, dengan hati mengkal. Sesuatu yang tidak masuk di logikanya. Dan benar, dari 20 peraih NEM terbaik, 14 murid itu adalah peserta bimbingan test tersebut, dan dari 85 anak yang terjaring promosi itu, semuanya mendapatkan NEM > 37, walau sehari-hari prestasinya tidak berada di atas teman-temannya selama tiga tahun.
Berita dari mana saja. Akhirnya seorang teman anakku, walau dilarang ayahnya untuk mengambil potret bukti NEM yang sesungguhnya, memginformasikan dalam diam kepada anakku, berapa NEM yang mesti dia capai. Sebagian telah dimanipulasi, dipertukarkan, yang tinggi mendapatkan yang rendah dan sebaliknya. Sehingga dia tahu berapa NEM temannya yang masuk sepuluh besar itu seharusnya. Dia adalah putri anggota komisi yang mengusir tempat dudukku di pertemuan perpisahan lalu itu…dan …..sungguh sayang, adalah pacar teman anakku. Dilemma. Aku tahu persis pertentangan batin yang terjadi: dibuka, pacar ilang, tak dibuka, diri yang rugi.
Berita pertukaran NEM itu telah menyebar. Ibu-ibu yang anaknya telah jatuh bangun belajar, memegang kejujuran, bahkan ikut bimbingan test lebih dari satu, dengan sembab bercerita kepadaku mengapa dunia pendidikan bisa seperti ini. Ketika kuajak untuk melakukan protes dan menbuka semuanya. Tak ada seorangpun yang mau. Biarlah ini jadi takdir yang harus kami alami, katanya, silahkan Bapak kalau mau protes. Tak sadarkah ibu-ibu itu, ini bukan takdir. Ada dua takdir, garis kapur dan garis batu. Apa-apa yang sudah tak dapat diubah, itu berupa garis batu. Tapi segala sesuatu yang masih berupa garis kapur, apalagi jika semuanya masih bias diusahakan, seorang anak manusia wajib berusaha sekeras apapun jua, sampai kepala mentok di dinding besi yang tak mampu dipindahkan lagi. Inilah rupanya yang menyebabkan Indonesia 3,5 abad dijajah Belanda, dan lima belas tahun setelah reformasi, tak beranjak kemana-mana, karena sebagian diisi oleh insane-insan yang mudah menyerah.
Akhirnya, seorang diri aku mengurus semuanya ini. Teringat aku 15 tahun yang lalu kala mengurus beasiswa IDB. Seorang direktur di departemen keuangan menolak mengajukanku sebagai kandidat penerima basiswa karena sudah memiliki calon dari UGM dan UI. Lima jam kami berdebat. Yang pada pokoknya, saya berpegang teguh pada prinsip, silahkan kalau departemen punya calon, saya hanya butuh covering letter sebagai syarat mengirim berkas ke Jedah Arab Saudi agar tidak dianggap liar. Segala sesuatu kalau memang itu kendala yang dihadapi, saya kirim atas copy dan beaya sendiri, walaupun kalau diingat-ingat waktu itu alangkah tebalnya mengirim berkas rangkap 7 ke Arab Saudi. Lillahi ta’ala. Demikian juga yang merasuk ke sanubariku saat itu.
Biarlah anak itu tahu bahwa dia mencapai sesuatu karena usahanya sendiri, setelah semua keringat menetes. Dan biarlah semua proses pengurusan ini terus berjalan, sampai benar-benar tembok barikade itu tak dapat kutembus lagi: gerombolan bimbingan test, para guru yang meng-amini, kepala sekolah, diknas kota madya dan anggota komite sekolah yang putra-putrinya diuntungkan dengan proses yang curang ini. Jika segala sesuatu sudah diusahakan sampai maksimal daya yang bisa diusahakan, tak menyesal kita di kemudian hari akan apa yang kita alami.

Read Full Post »

MBA-ITB Business Review Vol 6 No. 3 2011

Abundant Mentality

 Dermawan Wibisono

Dalam pembicaraan sehari-hari sering terlontar pertanyaan: bagaimana bangsa Indonesia bisa seperti ini, berebut pada hal yang tak perlu diperebutkan, beramai-ramai memperebutkan jabatan dan setelah didapatkan tidak melakukan apa-apa yang signifikan? Mengapa begitu banyak orang menerapkan filosofi orang yang sedang menaiki tangga, meraih anak tangga di atasnya sambil menginjak anak tangga di bawahnya. Menjilat atasan dan dalam waktu bersamaan melindas bawahan. Panjang diskusi telah dilakukan, seperti menggelar selembar kain untuk mendapatkan tanda-tangan agar masuk guiness book of record. Dari kain panjang itu, secuil di antaranya adalah adanya satu hypothesis yang menarik yaitu karena bangsa Indonesia dihantui oleh scarcity mentality. Mental yang berawal dari serba kekurangan. Mental yang timbul dari sikap yang terancam yang membentuk pola pikir yang hidup sepanjang hayatnya dan akhirnya menentukan perilaku dalam tindak dan keputusan yang diambil. Seorang teman mengamati hal ini pada hewan peliharaannya, seperti Skeener yang mengamati tikus dan Pavlov yang mengamati anjing, pada waktu membuat teori motivasi pada jaman dahulu. Dia memiliki 2 ekor kucing anggora dan seekor kucing kampung yang dipungut dari pinggir jalan. Dua ekor kucing anggora nya setiap hari diberikan susu, makanan, dan dilatih ketrampilan pada jam yang teratur, disuruh duduk manis, dilarang mengganggu saat orang nonton TV dan ke belakang pada saatnya. Kucing anggora yang dipelihara sejak kecil itupun menurut sesuai dengan pakem yang diberikan. Dengan cara yang sama dia lakukan hal itu pada kucing kampung yang didapatnya. Kucing kampung yang dipungut dari pinggir jalan, karena sudah terbiasa dengan survival, sama sekali tidak menurut teori pelatihan dari text book paling eksklusif yang dimiliki. Disela-sela makan, sang kucing malah kabur mengais-ngais sampah. Kukunya di jam-jam tertentu masih menggores-gores sofa, dan tidak kepalang polah-tingkahnya seharian. Tidak menurut aturan sama sekali. Teman saya itu, berpikir keras dan tetap tidak mengetahui jawabnya. Akhirnya dia menyimpulkan berdasarkan filosofi Jawa bahwa terdapat bobot, bibit, dan bebet pada tiap individu kucing yang sudah dari sononya, yang terbawa dalam gen, yang tidak bisa diubah lagi. Teman saya yang lain menolak anggapan itu. Dengan gayanya seperti Aristoteles dia mengatakan bahwa hal tersebut terjadi karena asal-usul dan masa perkembangan yang mempengaruhi sang kucing tersebut. Dia mengatakan bahwa kucing itu biasa survival, mempertahankan hidup dalam lingkungan yang ganas, tidak ada aturan dalam perkembangan usianya, jadilah dia seperti itu. Jadi kesimpulannya adalah pada masa perkembanganya, kucing tersebut sudah kadung terbentuk dengan sikap dan tingkah laku yang kadung telat untuk diubah. Dalam buku psikologi perkembangan yang sempat saya baca dari bukunya dr. Kartono Muhammad, jaman dahulu kala, memang masa kritis perkembangan manusia akan mempengaruhi sikap dan perilakukanya kelak, dia dewasa. Mrs. Hattersley, kepala sekolah anak saya, saat mengambil primary school di Bradford sana, dalam suatu diskusi menyatakan bahwa anak usia 3-10 tahun memiliki kemampuan dua bahasa sekaligus. Artinya anak seusia itu dapat langsung diajari dua bahasa asing dan penguasaannya akan jauh lebih baik dari orang yang berusia lebih tua darinya. Dalam enam bulan, mereka akan sangat fasih mengucapkan bahasa itu, seperti penutur aslinya. Usia 10-17 tahun adalah saat-saat rawan karena memori manusia bekerja dengan maksimal, sehingga apa yang diingat di usia itu, biasanya tak akan terlupakan, dan itulah saat pembentukan karakter akan kuat menancap. Dari analisisnya itu, maka apa yang dialami seorang anak sejak SD sampai SMU, akan berpengaruh pada perilaku dan keputusan yang diambilnya kelak saat dia dewasa. Orang yang terbiasa pada kondisi scarcity, survival, negative competition, iri hati, dengki dan sirik, pada masa perkembangannya, maka seperti itulah yang akan mendasari perilaku dan keputusan yang diambil di usia dewasa kelak. Jadi jangan bayangkan orang-orang seperti ini akan memiliki pikiran jangka panjang, melihat kepentingan banyak orang, emphaty yang hangat, bersuara sama di depan dan di belakang orang yang diajak bicara. Fenomena ini tampaknya yang mendasari, mengapa banyak orang Indonesia memiliki mental scarcity walaupun sudah di level atas suatu komunitas. Mental yang merasa kekurangan, merasa terancam, fokus pada kepentingan dirinya sendiri saja, dan makmimum hanya akan membawa rombongan keluarganya, selain dia akan merekrut orang-orang yang hanya loyal kepadanya sekalipun dari segi kemampuan tidak kualifified. Monolayalitas. Tentu ada sikap dasar yang tidak dapat diubah. Namun salah satu usaha mengeliminir sikap dan perilaku ini adalah dengan mendekatkan anak pada pendidikan agama, seni dan social sciences. Pendidikan agama jelas sangat berpengaruh jika diberikan dengan benar. Orang-orang Eropa Barat yang menjunjung tinggi rasa seni dengan penciptaan bangunan-bangunan yang indah, musik, lukisan, pertunjukan drama yang berkelas, dan sebaginya cukup menjadi bukti mengapa Disney Land di Perancis tidak laku. Hal ini yang mendasari bahwa exited bagi mereka bukanlah berteriak-teriak naik wahana yang menguji mental mereka, yang mereka anggap sebagai rekreasi kelas terendah. Rekreasi bagi mereka adalah bagaimana mereka melihat opera yang halus budi bahasanya dan mengilhami imajinasi mereka ke level yang lebih tinggi. Mengapa setiap orang di stasiun kereta api di Inggris, selalu menenteng buku bacaan yang segera menenggelamkan mereka begitu kereta api berangkat? Mengapa orang Inggris susah payah berpetualang ke Afrika Selatan dan membuat peta-peta pemeliharaan satwa Afrika? Mengapa hanya 3,5 tahun mereka ke Indonesia sudah mampu menemukan bunga Rafflesia Arnoldi yang mendunia? Karena itulah puncak kebahagiaan mereka, mengapresiasi karya yang didasari abundant mentality. Mentalitas dermawan bagi orang lain. Apresiatif terhadap karya orang, tidak banyak melakukan aktivitas seremonial dan perilaku verbal, adalah ujung dari mentalitas dermawan yang dididik sejak mereka kanak-kanak. Rasanya kangen untuk berjalan-jalan kembali ke Buckingham Palace di London, Botanical Garden di Melbourne, dan ke menara Tokyo, untuk bisa merasakan diri sebagai manusia seutuhnya. Manusia yang tidak terforsir oleh hawa nafsu. Ingin menjadi bagian dari dunia dengan abundant mentality yang mengeram di dada dan terekspose dalam sikap dan perilaku. Kapan ya?

Read Full Post »