Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘pendidikan’

Revolusi Sunyi
Aku sengaja pulang ke Indonesia, tuk mengambil raport anakku. Seperti biasa dalam setiap pertemuan, aku datang kepagian. Saat aku masuk ruangan, pekerja masih menata kursi dan mengetest sound systems. Sebagian air AC menetes di pojok ruangan, dengan tetesannya ditadahi ember. Tak ada perbaikan sebelumnya seperti layaknya menyambut tamu. Pertemuan itu, seperti penyakit berbagai pertemuan di Indonesia, mundur satu jam dari yang dijadwalkan. Kepala sekolah datang dengan kemeja biru lengan panjang dan dasi merah darah. Dengan bangga beliau mengatakan bahwa sekolah, tempat anakku belajar, memegang rangking tertinggi NEM se Jawa Barat. Bukan main, batinku. Aku tak mengikuti sesi tanya jawab, karena bosan dengan isu yang itu-itu saja. Aku langsung masuk kelas tempat raport anaku akan dibagikan wali kelasnya. Kelas masih kosong. Perlahan kemudian kelas itu terisi, mayoritas oleh ibu-ibu pengambil raport anaknya, yang tampaknya bukan seperti mengambil raport tetapi seperti acara kondangan. Pengambilan raport itupun terlambat satu jam, sehingga total jenderal semua terlambat dua jam. Suara adzan sholat dhuhur sudah terdengar ketika ibu-ibu dengan dandanan yang glamour, gemerlap, full make up, mengambil raport itu satu persatu dengan senyum di kulum. Tiba giliranku, sang wali kelas berpesan:”Pak jangan kaget dan kecewa, jika ternyata NEM yang tinggi-tinggi nanti dicapai oleh anak-anak yang biasanya rankingnya menengah ke bawah. Justru anak-anak yang ranking nya tinggi, biasanya NEM nya rendah..”. Kutatap ibu wali kelas itu pada bola matanya. Sang wali kelas menghindar. Alarm di dadaku berdering, memberi tanda peringatan, entah apa.
Kulihat lembar NEM anakku, tidak terlalu besar. Tapi yang lebih membuatku kaget adalah NEM nya di bawah rata-rata. Dan nilai bahasa Indonesia nya, hanya 7.6. Aku berfikir sejenak, sesulit apakah pelajaran bahasa Indonesia sekarang, sehingga anak-anak susah sekali mendapatkan nilai 8 apalagi 9, seperti pelajaran bahasa Inggris, IPA atau matematika.
Esok harinya, apa yang kurasakan kupendam dalam, agar tak terbaca anakku. Aku dating ke perpisahan sekolahnya. Perpisahaan yang wah untuk usia SMP di banding dengan jamanku 30 tahun yang lalu. Anak-anak lelaki sudah tinggi-tinggi dengan setelan jas yang gagah dan anak-anak perempuan bersolek dengan kebaya modern, bukan lagi tampak seperti siswa SMP, layaknyanya artis papan atas yang suka muncul di infotainment.
Sang penerima tamu berpesan, agar orang tua mengambil tempat duduk yang kursinya dicover dengan selendang warna emas, karena siswa akan duduk di kursi yang dicover biru, merah, pink, kuning dan hijau. Aku menurut saja, mengambil kursi untuk orang tua di samping anak-anak walau kadang sebagian pemandangan tertutup oleh tiang beton yang besar.
Tak beberapa lama datang seorang wanita, berkain warna kuning dan berkebaya warna mrah maroon. Dia dengan mimic serius mengusir kami, agar duduk di balkon, karena tempat duduk itu untuk undangan dari diknas. Ada empat puluh lima kursi di sana, batinku. Ooohh…mungkin sekarang sedang musim mengadakan perpisahan sekolah dengan mengudang 45 orang pegawai Diknas kota. Aku berpindah tempat, tak ingin konfrontasi dan mempertanyakan hal ini yang sudah dipesan oleh sang receptionist tadi.
Kulihat banyak wanita berkain kuning tapi berkebaya dengan tiga warna berbeda: hijau, maroon, dan cokelat. Ooohh ini panitianya rupanya. Banyak sekali. Tak berapa lama dari diknas pun datang, Cuma satu orang, ya Cuma satu orang dan memberi sambutan sekedarnya setelah itu pulang. Dan dengan masygul kutatap kursi tempat aku duduk, diperebutkan oleh ibu-ibu tadi yang berkain kuning, panitia yang sepanjang acara tidak jenak, tidak tumakninah. Berkali-kali acara di depan dipertunjukkan, berkali-kali pula ibu-ibu itu berfoto di barisannya. Rupanya ini ibu-ibu anggota komisi sekolah yang ikut ngributin jadi panitia. Walau tak jelas apa yang diurusnya. Mereka terlalu sibuk untuk selfi, untuk segera diunggah di facebook, instagram atau social media manapun yang diikuti. Berfoto dengan teman satu divisi, dengan kebaya yang sama atau dengan lain divisi. Ibu-ibu di usia pertengahan, lebih heboh dari anak-anaknya yang punya gawe di perpisahan itu.
Kemudian dipanggillah 10 NEM terbaik yang dipegang 20 anak, karena sebagian di antaranya ada skor yang sama. Kulihat tatap mata anaku yang begitu merana. Seolah berkata: akau ingin dipanggil ke sana, agar ayahku bahagia karenanya. Memerah mata anaku tapi tak berdaya. Karena dia sama sekali tidak terdapat di barisan anak-anak berprestasi itu.
Sang ibu-ibu anak yang dipanggil, seolah terkejut, dengan bangga menyertai langkah ke 20 anaknya maju ke depan menyalami kepala sekolah dan guru-guru yang dengan senyum penuh arif bijaksana mengantarkan anak didiknya melepas masa sekolahnya.
Semuanya berlangsung biasa saja, karena sudah sering sekali aku ikut upacara wisuda atau pelepasan kelulusan mahasiswa. Tapi entah alarm yang tadi berdering di dadaku, makin lama-makin kuat, sehingga iseng-iseng ku SMS teman dosen yang tahun lalu mendapat kasus NEM putranya. Putranya mendapatkan NEM 24 point sehingga tak diterima di sekolah manapun, bahkan akan masuk swasta pun justru ejekan yang diterimanya. Sang teman tak habis mengerti, anaknya pandai bahasa Inggris, pernah ikut ke luar negeri semasa beliau ngambil S2, tapi justru bahasa Inggrisnya dapat 2,6. Beliau akhirnya mengurus hal ini ke Diknas propinsi, diknas Kota, Sekolah dan bimbingan test untuk membantu memecahkan soal ini. Ternyata yang terjadi adalah, …..salah kunci. Akhirnya dari NEM 24 anaknya mendapat NEM 35 setelah semua pelajaran discan ulang di Jakarta. Sang teman memberi nomor kontak siapa yang bisa dihubungi dan masih amanah memegang prinsip bahwa pendidikan adalah asset utama bangsa. Selain tentu dia mengalami di ping-pong sana-sini, dan setelah hasilnya jelas, dia dipesan untuk menutup rapat-rapat rahasia ini.
Dengan mengucapkan bismillahirohmanirrohim, aku memberanikan diri menghadap ke Dinas propinsi. Benar kata temanku, bahwa ini adalah salah sedikit orang yang mengemban amanah, di antara para pemain ping-pong yang lain. Kuserahkan kecurigaanku kepada beliau untuk mengurusnya seperti pernah beliau lakukan pada temanku. Sementara itu, aku harus pergi ke Malaysia. Aku tak merasa tenang jika belum mendapatkan permasalahan yang sebenarnya terjadi. Dengan nekad, aku minta no hp Dirjen Dikdasmen kepada Dirjen Dikti, yang kebetulan bekas rector ku dulu. Untung beliau baik, walaupun semasa jadi rector pernah bersitegang denganku di forum rapat pimpinan, karena perbedaan prinsip dan policy yang kami ambil. Barangkali beliau ingat, aku satu-satunya yang menentang keputusannya saat itu, aku yang tidak mau yes man, aku yang selalu mempertanyakan, dibanding dengan 12 dekan lain yang sangat menjunjung tinggi structural. Entahlah, aku tidak bisa menjadi ABS. Kata almarhumah ibuku aku tidak bisa menjadi Yudhistira yang menurut saja atau tidak bisa jadi Bimo yang menyeberang lautan pun dilaluinya, untuk memenuhi kata gurunya, walau tahu bahwa Begawan Durna itu membohonginya. Aku hanya bisa menjadi Antasena, satria yang tak bisa duduk, dan mengatakan yang benar itu benar, atau aku terkontaminasi nama yang diberikan ibuku: Wibisono, Gunawan Wibisono, yang menentang kakaknya, Rahwana karena menculik Dewi Shinta. Pak Dirjen Dikti memberikan nomor Hp dirjen Dikdasmen. Seperti metralyur kuceritakan dalam SMS di sudut bandara, tentang kecurigaanku akan NEM di sekolah terbaik yang kualami. Semua tanpa ada yang kututupi. Bahwa tiga bulan sebelum ujian akhir, datanglah bimbingan test dengan sang kepala sekolah ke setiap kelas dengan promosi bahwa bimbingan testnya menjamin para partisipan mendapatkan NEM > 37, dengan membayar 10 juta rupiah. Jika tidak terwujud, uang akan dikembalikan 20 juta rupiah. Seperti bapaknya, mendengar promosi semacam itu, bukannya didengerin, anakku kabur, dengan hati mengkal. Sesuatu yang tidak masuk di logikanya. Dan benar, dari 20 peraih NEM terbaik, 14 murid itu adalah peserta bimbingan test tersebut, dan dari 85 anak yang terjaring promosi itu, semuanya mendapatkan NEM > 37, walau sehari-hari prestasinya tidak berada di atas teman-temannya selama tiga tahun.
Berita dari mana saja. Akhirnya seorang teman anakku, walau dilarang ayahnya untuk mengambil potret bukti NEM yang sesungguhnya, memginformasikan dalam diam kepada anakku, berapa NEM yang mesti dia capai. Sebagian telah dimanipulasi, dipertukarkan, yang tinggi mendapatkan yang rendah dan sebaliknya. Sehingga dia tahu berapa NEM temannya yang masuk sepuluh besar itu seharusnya. Dia adalah putri anggota komisi yang mengusir tempat dudukku di pertemuan perpisahan lalu itu…dan …..sungguh sayang, adalah pacar teman anakku. Dilemma. Aku tahu persis pertentangan batin yang terjadi: dibuka, pacar ilang, tak dibuka, diri yang rugi.
Berita pertukaran NEM itu telah menyebar. Ibu-ibu yang anaknya telah jatuh bangun belajar, memegang kejujuran, bahkan ikut bimbingan test lebih dari satu, dengan sembab bercerita kepadaku mengapa dunia pendidikan bisa seperti ini. Ketika kuajak untuk melakukan protes dan menbuka semuanya. Tak ada seorangpun yang mau. Biarlah ini jadi takdir yang harus kami alami, katanya, silahkan Bapak kalau mau protes. Tak sadarkah ibu-ibu itu, ini bukan takdir. Ada dua takdir, garis kapur dan garis batu. Apa-apa yang sudah tak dapat diubah, itu berupa garis batu. Tapi segala sesuatu yang masih berupa garis kapur, apalagi jika semuanya masih bias diusahakan, seorang anak manusia wajib berusaha sekeras apapun jua, sampai kepala mentok di dinding besi yang tak mampu dipindahkan lagi. Inilah rupanya yang menyebabkan Indonesia 3,5 abad dijajah Belanda, dan lima belas tahun setelah reformasi, tak beranjak kemana-mana, karena sebagian diisi oleh insane-insan yang mudah menyerah.
Akhirnya, seorang diri aku mengurus semuanya ini. Teringat aku 15 tahun yang lalu kala mengurus beasiswa IDB. Seorang direktur di departemen keuangan menolak mengajukanku sebagai kandidat penerima basiswa karena sudah memiliki calon dari UGM dan UI. Lima jam kami berdebat. Yang pada pokoknya, saya berpegang teguh pada prinsip, silahkan kalau departemen punya calon, saya hanya butuh covering letter sebagai syarat mengirim berkas ke Jedah Arab Saudi agar tidak dianggap liar. Segala sesuatu kalau memang itu kendala yang dihadapi, saya kirim atas copy dan beaya sendiri, walaupun kalau diingat-ingat waktu itu alangkah tebalnya mengirim berkas rangkap 7 ke Arab Saudi. Lillahi ta’ala. Demikian juga yang merasuk ke sanubariku saat itu.
Biarlah anak itu tahu bahwa dia mencapai sesuatu karena usahanya sendiri, setelah semua keringat menetes. Dan biarlah semua proses pengurusan ini terus berjalan, sampai benar-benar tembok barikade itu tak dapat kutembus lagi: gerombolan bimbingan test, para guru yang meng-amini, kepala sekolah, diknas kota madya dan anggota komite sekolah yang putra-putrinya diuntungkan dengan proses yang curang ini. Jika segala sesuatu sudah diusahakan sampai maksimal daya yang bisa diusahakan, tak menyesal kita di kemudian hari akan apa yang kita alami.

Iklan

Read Full Post »

Di depan MIT, Cambridge

Di depan MIT, Cambridge

Revolusi Karakter Bangsa

Oleh
Prof. Dr. Ir. Dermawan Wibisono, M.Eng

Visiting Professor UUM, Kedah, Malaysia

Professor SBM ITB, Bandung, Indonesia

Dalam beberapa hari ini, istilah ‘revolusi mental’ menjadi hit dalam berbagai pemberitaan media masa karena terkait dengan Pemilu yang sebentar lagi akan dilakukan, dan perbedaan sudut pandang akan pengertian kata itu yang masih samar bagi sebagian masyarakat. Kita lihat dalam struktur kebutuhan manusia, telah lama dirumuskan oleh Abraham Maslow (1954) dalam bukunya Motivation and Personally, bahwa kebutuhan manusia terbagi menjadi lima tingkatan: kebutuhan fisik (sandang, pangan, papan), kebutuhan keamanan (safety), kebutuhan sosial (love/ belonging), kebutuhan pencapaian (esteem), dan aktualiasi diri (self actualization). Dalam sebagian masyarakat saat ini, terjadi pemenuhan kebutuhan yang stagnan dan mentok pada pemenuhan kebutuhan level 3 saja dan paling mentok ke tingkat kebutuhan ke empat, yang skalanya makin lama makin membesar, tetapi tidak pernah beranjak ke level lebih tinggi lagi yaitu pemenuhan kebutuhan aktualiasi diri. Sehingga dengan gamblang setiap hari media massa dihiasi dengan kasus-kasus impor sapi, Hambalang, Bank Century, Gubernur Banten, SKK Migas dan sebentar lagi kasus Bupati Bogor. Kasus-kasus yang tampaknya bukan akan berkurang tapi terus bertambah, sehingga seolah-olah menjadi hal yang biasa, melihat para terdakwa masih bisa tersenyum sumringah, melambaikan tangan kepada segenap wartawan dan masyarakat, dan mengenakan baju batik yang bagus di kursi pengadilan. Melihat perubahan perilaku seperti ini, yang tidak lagi merasa sangat malu sebagai tertuduh, datang ke pengadilan dengan menutup mukanya yang sedih tak terkira akan aib yang telah dibuatnya yang telah mencoreng martabat dan harga dirinya, keluarganya, masyarakat pemilihnya dan institusi tempat bernaungnya. Hal semacam inilah yang tampaknya dimaksudkan sebagai perlunya sebuah revolusi mental. Perubahan yang diperlukan besar-besaran dan sangat mendasar dalam sikap mental sebagian masyarakat kita, yang tidak bisa lagi dilakukan perlahan-lahan, dengan evolusi, tapi perlu revolusi yang segera, massive dan dalam berbagai level.

Dari mana kita mulai?

Mengingat Indonesia termasuk dalam masyarakat paternalistik, yaitu masyarkat yang suka mencontoh atasannya atau panutannya, maka dimilikinya pemimpin yang memiliki karaktersitik aktualisasi diri ini diharapkan lebih efektif untuk melakukan perubahan besar ini. Telah hidup dalam keyakinan di masyarakat, bahwa di Indonesia, dipimpin orang yang benar saja belum tentu orang akan mengikutinya dengan benar, apalagi dipimpin orang yang salah dan suka menyelewengkan kekuasan, mereka akan lebih menyeleweng lagi. Karakteristik lain yang dimiliki masyarakat Indonesia adalah bahwa orang Indonesia sebagian besar termasuk dalam orang-orang audio visual, yaitu orang yang lebih mudah belajar dengan melihat. Jadi di sini akan sangat jarang ditemui, orang-orang di stasiun kereta api membawa novel, buku bacaan, atau menggunakan gadgetnya untuk men-download bahan bacaan. Setelah naik kereta, langsung duduk, diam dan membaca, seperti ditemui di masyarakat, Inggris, Jepang dan negara maju lainnya. Mereka cenderung akan ngobrol, download game, chatting, sehingga saat perjalanan kereta dari Jakarta-Surabaya, mereka akan saling kenal satu gerbong bahkan memiliki foto diri (selfie) dari berbagai posisi dan dengan berbagai orang yang begitu tiba sudah diupload ke media massa. Masyarakat kita adalah masyarakat yang suka ngobrol. Membaca bukan merupakan kebutuhan diri, apalagi menulis. Sehingga teks books yang dikarang oleh guru atau dosen pun menjelang pensiun, mungkin cuma 1 buah untuk memenuhi kriteria Depdikbud. Bukan merupakan proses aktualisasi diri, tetapi hanya sekedar memenuhi kewajiban. Jadi tidak heran kalau dalam ujian nasional baru-baru ini, untuk soal yang diujikan pun materinya dicontek dari teks book bahasa asing, tanpa penulisan referensi yang benar.

Oleh karena itu revolusi mental atau lebih tepatnya revolusi karakter ini mesti dimulai dari pendidikan dasar. Karena saat usia dasarlah terbentuk logika dan pengembangan pribadi yang paling pesat terjadi dalam usia seseorang. Saat ini di sekolah sudah terbentuk lingkungan yang sangat transaksional, yang salah satunya dengan dikepungnya sekolah oleh aneka bimbingan belajar. Guru di sekolah, ‘tidak lagi merasa terhina’ kalau muridnya ikut bimbingan belajar. Sekalipun itu terjadi di sekolah favorit di kota itu. Bahkan banyak guru yang berterima kasih karenanya karena tanggung jawabnya sudah diambil oleh bimbingan tes. Bagi mereka, para guru itu, hal seperti ini bukan lagi ‘penghinaan’ karena ketidakmampuan dirinya menerangkan materi dengan jelas di kelas. Bahkan banyak guru yang berperanan menjadi agent. Dengan cara menerangkan dengan tidak enak dan tidak jelas di kelas, jika mau jelas dan mendapatkan soal-soal yang nantinya mirip dengan yang akan diujikan, ikutlah bimbingan test sang guru tersebut. Hal seperti ini yang mungkin jika terjadi di jaman Ki Hajar Dewantoro, sang gurunya sudah dipecat atau minimal di’balang sandal’. Murid-muridnya pun sudah sampai tahap ‘trasaksional’ akut dalam mengerjakan pekerjaan sekolah. Merasa lebih baik ayah atau ibu yang mengerjakannya, atau membeli tugas merangkai janur di pasar, dari pada membikin sendiri. Sudah capai, makan waktu untuk main game, dapat nilai butut lagi. Jadi belajar pun bukan lagi dimaknai sebagai sebuah proses yang akan memperkaya ketrampilan dan pengetahuannya. Di level yang lebih tinggi, mahasiswa banyak yang mengerjakan tugas yang diberikan dengan meng-copy paste tugas kakak kelasnya, mencari jawab atas pertanyaan tahun sebelumnya, bukan lagi mengerjakan sendiri dengan penuh effort dan antusiasme, dengan mencoba memahami materi yang diberikan sebisa mungkin. Dosen atau guru yang memberikan tugas pun banyak yang sudah beranjak dari tujuan semula pendidikan. Memberikan tugas semata-mata untuk membunuh waktu, untuk menggantikan ketidakhariannya karena asyik dengan pekerjaannya di tempat lain, atau sekedar ingin ‘ngerjain’ murid-muridnya. Sehingga saat tugas dikumpulkan, bukan lagi berkeinginan untuk memeriksanya dengan melihat kekurang mengertian siswa pada aspek yang diajarkannya, sehingga mendapatkan rencana perbaikan pada proses pengajarannya, tapi langsung ditumpuk di gudang. Transaksi yang sempurna. Sebuah pertemuan demand dan supply yang klop.

Melihat proses yang terjadi dan sudah meluas di masyarakat, di mana dipercaya bahwa segala sesuatu itu tergantung dari the man behind the gun, maka saat ini diperlukan pengembangan jenis tes yang bisa mengetahui karakteristik orang-orang yang memegang garda depan panduan kemajuan bangsa, sang guru. Karena aspek trasnsaksional ini bisa jadi akan mengeram pada diri seseorang (embedded). Tidak berubah, walau social ekonomi orang yang bersangkutan telah berubah. Saat ini sudah mulai digunakan test garis tangan pada beberapa perusahaan sebagai pelengkap bagi test psikologi untuk penempatan karyawan. Apakah seseorang itu cocok di tempatkan di bagian marketing, produksi, sumber daya manusia, atau di bagian lain. Test ini dilakukan dengan tujuan untuk menghilangkan pemborosan waktu belajar, menempatkan orang yang tepat dan menciptakan keriangan dalam suasana kerja. Seperti kita ketahui, orang-orang yang ‘bakatnya’ adalah introvert tentu tidak akan nyaman jika ditempatkan di bagian pemasaran. Demikian juga orang yang extrovert dan cenderung hiperaktif, sungguh akan tersiksa sekali kalau harus bekerja di atas meja sepanjang hari, karena kebutuhan dasarnya adalah ketemu orang dan bergaul. Untuk kebutuhan tes garis tangan, diperlukan data base yang sangat banyak dan akurasi yang tinggi, sejauh mana hasil test tersebut benar-benar merepresentasikan sosok yang benar. Sehingga bisa mendukung manajemen untuk melaksanakan prinsip the man in the right place on the right time . Dengan melakukan tes jenis ini, jika akurasinya sudah presisi, diharapkan benar-benar dapat dipilih orang yang betul-betul cocok sebagai pendidik seperti di tahun 1950 an. Saat kita mendapati sebagian besar guru-guru kita diseleksi oleh Belanda dengan sistem seleksi amat ketat sehingga guru pun saat itu dipanggil dengan hormat oleh masyarakat sekitarnya sebagi ‘Mantri Guru’. Sebutan guru yang setara dengan dokter atau mantri saat itu. Jiwa pendidik sangat berbeda dengan jiwa pedagang, bahkan ada sebagian kalangan yang menyatakan sangat bertolak belakang. Hasil riset di Australia menyatakan bahwa sangat sedikit usaha yang sukses besar yang ditangani oleh seorang dosen, sekalipun itu dosen entrepreneur. Hal ini disebabkan untuk sukses pada kedua bidang itu, dibutuhkan penanganan yang intens, full time, tidak bisa setengah-setengah dan saling dipertukarkan. Itu riset di Australia, di mana segala sesuatunya sudah mapan pada jalurnya. Dalam system operation procedure yang banyak ‘bolongnya’ seperti di indonesia hampir mustahil kedua kutub itu menyatu pada diri seseorang, kecuali pada orang-orang extra ordinary seperti Pak Iskandar Alisyahbana almarhum.
Jargon guru yang di Jawa merupakan akronim ‘digugu lan ditiru’ (dipatuhi dan dicontoh) kemudian mulai tahun 1970 an bergeser menjadi ‘wagu tur kuru’ (tidak pantas dan kurus kering) karena penghargaan yang minim pada tenaga pendidik saat itu dan mulai bergesernya nilai-nilai di masyarakat yang ditumbuhkan oleh aspek komersialisasi pada segala hal saat itu. Tahun-tahun sekarang lah mulai kita lihat hasil dari proses 30-40 tahun lalu itu. Yaitu timbulnya semangat transaksional, hedonism, tidak respek terhadap pendidik, yang merupakan konsekuensi logis dari perubahan karakter kedua belah pihak yang memang didisain ke arah sana.
Jadi saat ini kita seperti terkaget-kaget melihat sosok pimpinan seperti Ibu Risma-Walikota Surabaya, Pak Nurdin Abdullah-Bupati Bantaeng, Pak Joko Widodo, Pak Basuki Cahaya Purnama, karena seolah-olah kita tiba-tiba melihat makhluk dari planet lain. Sehingga kita merasa they are out of the box. Karena sudah lama kita berada di dalam box yang gelap tersebut. Sehingga muncul gumaman: hari gini walikota pegang sapu lidi..? hari gini gubernur blusukan, itukan pencitraan, dsb. Sebagian masyarakat kita terbelah menjadi dua: yang bersikap skeptis, curigaan, menuduh segala sesuatu ada pamrihnya, pencitraan jelang pemilu, dan sebagainya, karena sebagian masyarakat ini tumbuh dan berkembang dalam susasana seperti itu, negative thingking dan diliputi mental komersialisasi. Sehingga penilain terhadap orang lain selalu diidentikan dengan tata nilai yang dipegang oleh dirinya sendiri. Setengah masyarakat yang lain memahaminya sebagai pengejawantahan teori aktualisasi diri dari Abaraham Maslow tersebut di atas.

Dari sisi kajian akademis, perkembangan teori Servant Leadership (Robert K. Greenleaf, 1970), saat ini mendapatkan contoh nyata seperti saat dulu kita memiliki pemimpin seperti Bung Hatta yang untuk beli sepatu Bally pun tak pernah kesampaian sehingga guntingan koran bergambar sepatu itupun masih beliau simpan sampai sekarang atau Haji Agus Salim yang tak pernah punya rumah yang bagus, atau dalam contoh ektrim seperti Mahatma Gandhi yang hidup dengan dua lembar kain tersampir di badannya dan menggelandang ke sana kemari atau Ibu Theresia di India sana. Jadi teori servant leadership ini yang praktiknya sudah ada sejak Khalifah Umar memimpin masyarakat Arab, yang tersohor ceritanya ketika beliau harus menggendong sekarung gandum, akibat dari ‘blusukannya’ beliau ketemu dengan wanita yag kelaparan, dan beliau tahu persis konsekeunsi bagi pemimpin yang membiarkan rakyatnya kelaparan tersebut, saat ini, seakan menimbulkan gairah dan eforia baru di masyarakat.

Sebagai penutup, teori kepemimpinan servant leadership pada dasarnya adalah pengejawantahaan dari level ke lima kebutuhan Maslow, aktualisasi diri, yang dalam pelaksanaannya di Indonesia saat ini membutuhkan revolusi karakter masyarakat. Revolusi ini harus dimulai dari pucuk pimpian, karena masyarakat Indonesia yang paternalistic, dalam berbagai level. Tidak akan efektif jika hanya seorang diri melakukan revolusi, tetapi diperlukan pemahaman yang sepadan dan pelaksanaan yang riil dari Presiden, Wakil Presiden, Menteri, DPR/ DPRD, Gubernur, Walikota, Bupati, lembaga pengadilan, dan sebagainya. Seperti sering kita pelajari, bahwa tegak tidaknya sebuah Negara akan tergantung dari 3 sokoguru penyusunnya, guru, dokter dan hakim. Oleh karena itu revolusi ini harus dimulai dari tiga soko guru berdirinya sebuah bangsa. Pertama adalah penciptaan guru-guru yang memiliki karaktersitik pendidik tulen karena para beliau ini yang akan menyiapkan kecerdasan intelektual, emotional dan spiritual anak-anak bangsa. Kedua adalah para penegak hukum, yang menjaga kesehatan jiwa masyarakat, di mana di Negara Australia, Eropa maupun Amerika Serikat, orang-orang hukum inilah yang dipersyaratkan memiliki intelektual tertinggi karena diperlukan kecerdasan intelektual dan emotional dalam memutuskan berbagai perkara agar mendapatkan putusan yang adil. Ke tiga adalah perlindungan dan penciptaan profesi dokter yang memiliki spirit melayani bukan lagi transaksional, sebagai penjaga kesehatan fisik bangsa, bukan lagi kepanjangan tangan dari perusahaan farmasi.
Akankah revolusi mental atau revolusi karakter bagi bangsa ini akan berhasil? kita tunggu hasilnya karena ini merupakan pembangunan proses yang melibatkan banyak orang dalam berbagai level dan dalam waktu yang lama. Tahun 2025 diprediksi Indonesia akan menjadi the big four countries karena limpahan usia produktif dalam jumlah besar. Hal ini jika dan hanya jika dapat terjadi, kalau usia produktif yang kita miliki tersebut memiliki karakter yang benar. Jika tidak terdapat karakter yang benar, maka yang terjadi adalah chaos. Karena usia produktif dengan karakter yang benar akan menimbulkan simbisosis mutualisme saling menguatkan untuk membangun kemaslahatan umat dan lingkungannya, tetapi dengan karakter yang tidak benar akan saling memakan dan merusak tatanan kehidupan. Yang ada bukan lagi sky of the limit self actulisation tapi sky of the limit of goods consumerism.

Read Full Post »

…..Segera di toko buku….

————————————————————————–

Active Learning with Case Method

Mempertajam analisis, logikadan daya ingat mahasiswa

Prakata

Sistem belajar aktif (Active Learning Sistems) telah lama diyakini memberi makna yang signifikan, terutama bagi mahasiswa yang sudah dianggap sebagai manusia dewasa dalam proses pembelajaran. Dalam sistem belajar aktif, diakomodir perbedaan setiap individu untuk memiliki pendapat, persepsi maupun langkah-langkah pemecahan masalah yang berbeda antara satu dengan lainnya. Dalam pendidikan sistem konvesional dan tradisional seperti saat ini banyak diterapkan di Indonesia, hal ini tidak mungkin terlaksana karena sistem yang dianut adalah monolog, di mana dosen dianggap sebagai pusat pembelajaran dan pusat keilmuan.

Dalam perkembangan zaman di mana sumber pengetahuan dapat dengan mudah diakses secara on line sistem belajar secara tradisional seharusnya sudah tidak berlaku lagi, terutama bagi sekolah bisnis dan manajemen. Dosen bukan lagi orang yang paling pintar dan dapat bertindak sebagai diktator dalam proses penyerapan pengetahuan dan pengambilan keputusan di segala aspek dalam seluruh organisasi yang berkembang sangat dinamis. Bahkan dalam hal akses terhadap pengetahuan terkini dari sumber terbuka di universitas-universtitas terkemuka di dunia, seringkali mahasiswa lebih lincah, lebih cepat, lebih trampil melakukannya.

Salah satu model pembelajaran yang mengikuti pola belajar aktif adalah sistem pembelajaran dengan menggunakan metoda Kasus (Case Method) yang telah lama diterapkan di Harvard Business School. Dari penerapan metoda pembelajaran ini, Harvard Business School hampir selalu mendapatkan  ranking 1 di dunia dari berbagai cara pemeringkatan seperti Shanghai Jia Tong, Webometrcis, Time Higher Educations, dan sebagainya, karena sistem belajarnya tersebut, tentu di samping mendapatkan mahasiswa terbaik dari seluruh dunia. Ada banyak keunggulan sistem belajar dengan metoda Kasus ini, namun tidak banyak yang menyadarinya, tidak mengetahuinya bahkan masih banyak yang terus menerapkan sistem lama karena terlanjur sukar mengubah kebiasaan lama.

Terdapat perbedaan yang sangat mencolok antara sistem belajar dengan metoda Kasus dengan sistem belajar cara tradisional. Perbedaan ini bukan saja menyangkut pola pikir dan pelaksanaannya, tetapi melibatkan juga fasilitas fisik yang harus dimiliki. Bahkan seringkali dalam buku teks akademis yang digunakan, dicantumkan Kasus dalam lembaran terakhir dari tiap babnya, dan para pengajar serta universitasnya sudah merasa menerapkan sistem belajar dengan metoda Kasus karena itu. Dalam pengertian sistem belajar dengan metoda Kasus yang mengacu pada sistem Harvard, Kasus yang seringkali ada dalam buku tersebut bukanlah Kasus yang sebenarnya, tetapi hanyalah sebuah exercise saja, atau diistilahkan sebagai arcmchair case.  Kasus karangan. Dalam sistem Harvard, Kasus adalah kejadian yang benar-benar terjadi pada masa lalu dan dialami oleh eksekutif dari sebuah organisasi atau perusahaan, di mana Kasus ini dibawa ke kelas untuk pembelajaran, dengan mahasiswa diminta untuk berperan sebagai pengambil keputusan dalam Kasus yang dihadapi. Tentu dalam pembalajaran yang terjadi akan terdapat pertimbangan logika yang berbeda, latar belakang teori yang melandasi keputusan yang diambil juga dapat berbeda, serta berbagai hal lainnya yang bisa jadi berbeda antara mahasiswa satu dengan mahasiswa lainnya dalam pengambilan keputusan atas Kasus tersebut. Di sinilah peranan Kasus sebenarnya yang digunakan sebagai kendaraan dalam pemberian teori maupun pendekatan dalam subjek yang sedang dikaji. Jadi sebelum membahas dan mengambil keputusan dalam Kasus yang didiskusikan, mahasiswa harus membaca Kasus, membaca teks book atau referensi, membaca journal, untuk sampai pada pengambilan keputusan yang terbaik, menurut pikiran dan logika mahasiswa, yang bisa jadi berbeda dengan mahasiswa lainnya. Itulah dinamika penggunaan metoda Kasus dalam studi.

Sejak tahun 2004, MBA ITB di bawah kepemimpinan Prof. Jann Hidajat Tjakraatmadja, telah melakukan revolusi sistem belajarnya dengan mengadopsi sistem Harvard tersebut, melalui pelatihan terhadap dosen-dosennya. Tak kurang para dosen yang pakar di bidang pembelajaran dengan sistem Kasus tersebut mengubah pola pikir dan proses belajar di MBA ITB dengan memberi pelatihan intensif tentang metode studi Kasus tersebut kepada seluruh dosen MBA ITB, di antaranya Prof. Lambros Karavic (Victoria University, Melbourne), Prof. James Erskine (Richard Ivey Business Schoo & Managementl, Kanada), Dr. Hadi Satyagraha, Prof. Ho Den Huan (Nanyang University, Singapore) dan sebagainya. Dari hasil revolusi yang dilakukan, telah didapatkan hasil yang nyata, di antaranya MBA ITB telah dua kali masuk sebagai finalis L’oreal Business Case Competition yang diadakan di Paris bagi mahasiswa seluruh dunia. Di mana dari seluruh Perguruan Tinggi di dunia dibagi menjadi 8 zona dan Indonesia berada di Zona Delapan (Asia Selatan, Asia Tenggara dan Asia Timur) bersama-sama dengan Universitas top seperti berbagai Universitas dari Singapura, Thailand, India, Jepang dan sebagainya. Jumlah peserta dalam sekali business case competition di selenggarakan, melalui tahap online sebelum final di Paris tersebut, tidak kurang dari 220.000 mahasiswa dari 180 perguruan tinggi terbaik di seluruh dunia. Namun nyatanya  MBA ITB berhasil menjadi finalis dua kali yaitu di tahun 2006 dan 2009 di Paris tersebut.

Untuk sharing bagaimana sistem belajar dengan metoda Kasus itu dilaksanakan dengan benar, buku ini disusun agar sekolah bisnis dan manajemen di Indonesia dapat maju bersama-sama membangun bangsa. Buku ini disusun secara simpel dan praktis, dengan pengalaman penulis menjadi peserta pelatihan terbaik dari Prof. James Erskine dan juga mengambil pelajaran bahwa metoda yang diajarkan adalah benar, berdasarkan kemenangan kedua kelompok mahasiswa MBA ITB dalam kompetisi internasional di Paris tersebut, di mana saat itu penulis menjadi Ketua Program studi MBA ITB (2006-2009) serta selama 10 tahun mengajar MBA ITB dengan metode studi Kasus tersebut.

Terima kasih penulis sampaikan kepada Prof. Jann Hidayat dan Prof. Surna Tjahja Djajadiningrat yang mengijinkan penulis untuk mengembangkan segala kreativitas saat menjadi ketua Program Studi MBA ITB, Prof. Utomo Sarjono Putro, kolega yang menyumbangkan ide debat, Drs. Herry Hudrasyah, MA, kolega dosen dan soul mate dalam berbagai ide inovasi yang diterapkan, karena hanya beliau lah yang mengerti dan mampu merepresentasikan ide yang ada menjadi sesuatu yang nyata, dan selalu lebih baik, Dr. Wawan Dhewanto, Dr. Yus Sunitoyo, Pak Efson, Hani, Maya Bob, Amak, dan Ricky.

 Semoga bermanfaat bagi semuanya dan majulah Indonesia.

 Bandung, 2014

 Prof. Dermawan Wibisono

Read Full Post »

MBA-ITB Business Review Vol 6 No. 3 2011

Abundant Mentality

 Dermawan Wibisono

Dalam pembicaraan sehari-hari sering terlontar pertanyaan: bagaimana bangsa Indonesia bisa seperti ini, berebut pada hal yang tak perlu diperebutkan, beramai-ramai memperebutkan jabatan dan setelah didapatkan tidak melakukan apa-apa yang signifikan? Mengapa begitu banyak orang menerapkan filosofi orang yang sedang menaiki tangga, meraih anak tangga di atasnya sambil menginjak anak tangga di bawahnya. Menjilat atasan dan dalam waktu bersamaan melindas bawahan. Panjang diskusi telah dilakukan, seperti menggelar selembar kain untuk mendapatkan tanda-tangan agar masuk guiness book of record. Dari kain panjang itu, secuil di antaranya adalah adanya satu hypothesis yang menarik yaitu karena bangsa Indonesia dihantui oleh scarcity mentality. Mental yang berawal dari serba kekurangan. Mental yang timbul dari sikap yang terancam yang membentuk pola pikir yang hidup sepanjang hayatnya dan akhirnya menentukan perilaku dalam tindak dan keputusan yang diambil. Seorang teman mengamati hal ini pada hewan peliharaannya, seperti Skeener yang mengamati tikus dan Pavlov yang mengamati anjing, pada waktu membuat teori motivasi pada jaman dahulu. Dia memiliki 2 ekor kucing anggora dan seekor kucing kampung yang dipungut dari pinggir jalan. Dua ekor kucing anggora nya setiap hari diberikan susu, makanan, dan dilatih ketrampilan pada jam yang teratur, disuruh duduk manis, dilarang mengganggu saat orang nonton TV dan ke belakang pada saatnya. Kucing anggora yang dipelihara sejak kecil itupun menurut sesuai dengan pakem yang diberikan. Dengan cara yang sama dia lakukan hal itu pada kucing kampung yang didapatnya. Kucing kampung yang dipungut dari pinggir jalan, karena sudah terbiasa dengan survival, sama sekali tidak menurut teori pelatihan dari text book paling eksklusif yang dimiliki. Disela-sela makan, sang kucing malah kabur mengais-ngais sampah. Kukunya di jam-jam tertentu masih menggores-gores sofa, dan tidak kepalang polah-tingkahnya seharian. Tidak menurut aturan sama sekali. Teman saya itu, berpikir keras dan tetap tidak mengetahui jawabnya. Akhirnya dia menyimpulkan berdasarkan filosofi Jawa bahwa terdapat bobot, bibit, dan bebet pada tiap individu kucing yang sudah dari sononya, yang terbawa dalam gen, yang tidak bisa diubah lagi. Teman saya yang lain menolak anggapan itu. Dengan gayanya seperti Aristoteles dia mengatakan bahwa hal tersebut terjadi karena asal-usul dan masa perkembangan yang mempengaruhi sang kucing tersebut. Dia mengatakan bahwa kucing itu biasa survival, mempertahankan hidup dalam lingkungan yang ganas, tidak ada aturan dalam perkembangan usianya, jadilah dia seperti itu. Jadi kesimpulannya adalah pada masa perkembanganya, kucing tersebut sudah kadung terbentuk dengan sikap dan tingkah laku yang kadung telat untuk diubah. Dalam buku psikologi perkembangan yang sempat saya baca dari bukunya dr. Kartono Muhammad, jaman dahulu kala, memang masa kritis perkembangan manusia akan mempengaruhi sikap dan perilakukanya kelak, dia dewasa. Mrs. Hattersley, kepala sekolah anak saya, saat mengambil primary school di Bradford sana, dalam suatu diskusi menyatakan bahwa anak usia 3-10 tahun memiliki kemampuan dua bahasa sekaligus. Artinya anak seusia itu dapat langsung diajari dua bahasa asing dan penguasaannya akan jauh lebih baik dari orang yang berusia lebih tua darinya. Dalam enam bulan, mereka akan sangat fasih mengucapkan bahasa itu, seperti penutur aslinya. Usia 10-17 tahun adalah saat-saat rawan karena memori manusia bekerja dengan maksimal, sehingga apa yang diingat di usia itu, biasanya tak akan terlupakan, dan itulah saat pembentukan karakter akan kuat menancap. Dari analisisnya itu, maka apa yang dialami seorang anak sejak SD sampai SMU, akan berpengaruh pada perilaku dan keputusan yang diambilnya kelak saat dia dewasa. Orang yang terbiasa pada kondisi scarcity, survival, negative competition, iri hati, dengki dan sirik, pada masa perkembangannya, maka seperti itulah yang akan mendasari perilaku dan keputusan yang diambil di usia dewasa kelak. Jadi jangan bayangkan orang-orang seperti ini akan memiliki pikiran jangka panjang, melihat kepentingan banyak orang, emphaty yang hangat, bersuara sama di depan dan di belakang orang yang diajak bicara. Fenomena ini tampaknya yang mendasari, mengapa banyak orang Indonesia memiliki mental scarcity walaupun sudah di level atas suatu komunitas. Mental yang merasa kekurangan, merasa terancam, fokus pada kepentingan dirinya sendiri saja, dan makmimum hanya akan membawa rombongan keluarganya, selain dia akan merekrut orang-orang yang hanya loyal kepadanya sekalipun dari segi kemampuan tidak kualifified. Monolayalitas. Tentu ada sikap dasar yang tidak dapat diubah. Namun salah satu usaha mengeliminir sikap dan perilaku ini adalah dengan mendekatkan anak pada pendidikan agama, seni dan social sciences. Pendidikan agama jelas sangat berpengaruh jika diberikan dengan benar. Orang-orang Eropa Barat yang menjunjung tinggi rasa seni dengan penciptaan bangunan-bangunan yang indah, musik, lukisan, pertunjukan drama yang berkelas, dan sebaginya cukup menjadi bukti mengapa Disney Land di Perancis tidak laku. Hal ini yang mendasari bahwa exited bagi mereka bukanlah berteriak-teriak naik wahana yang menguji mental mereka, yang mereka anggap sebagai rekreasi kelas terendah. Rekreasi bagi mereka adalah bagaimana mereka melihat opera yang halus budi bahasanya dan mengilhami imajinasi mereka ke level yang lebih tinggi. Mengapa setiap orang di stasiun kereta api di Inggris, selalu menenteng buku bacaan yang segera menenggelamkan mereka begitu kereta api berangkat? Mengapa orang Inggris susah payah berpetualang ke Afrika Selatan dan membuat peta-peta pemeliharaan satwa Afrika? Mengapa hanya 3,5 tahun mereka ke Indonesia sudah mampu menemukan bunga Rafflesia Arnoldi yang mendunia? Karena itulah puncak kebahagiaan mereka, mengapresiasi karya yang didasari abundant mentality. Mentalitas dermawan bagi orang lain. Apresiatif terhadap karya orang, tidak banyak melakukan aktivitas seremonial dan perilaku verbal, adalah ujung dari mentalitas dermawan yang dididik sejak mereka kanak-kanak. Rasanya kangen untuk berjalan-jalan kembali ke Buckingham Palace di London, Botanical Garden di Melbourne, dan ke menara Tokyo, untuk bisa merasakan diri sebagai manusia seutuhnya. Manusia yang tidak terforsir oleh hawa nafsu. Ingin menjadi bagian dari dunia dengan abundant mentality yang mengeram di dada dan terekspose dalam sikap dan perilaku. Kapan ya?

Read Full Post »

PR Anak SD di Inggris

 

Kebetulan di meja saya tergeletak satu tugas dari sekolah untuk mengisi
liburan musim panas bagi anak yang akan masuk SD kelas 1. Jadi anak tersebut
sudah mendapatkan treatment serupa di sekolah semasa reception class
(barangkali sama dengan nol besar di Indonesia).
Secara ringkas, tugas tersebut adalah sbb:

Reading:
– Mendorong anak untuk membaca buku-buku, majalah, koran dan leaflet-leaflet
  supermarket
– Mendiskusikan isi buku yang mereka baca, tanyakan pada anak-anak karakter
  dan apa yang terjadi dalam cerita itu dan bagaimana mereka dapat mengubah
  babak akhir cerita itu.

Writing:

– ingatkan mereka untuk menulis kalimat, menggunakan huruf besar dan titik.
– Dorong anak-anak untuk membuat cerita yang dapat mereka ceritakan    

  (mungkin anak dapat cerita secara oral, tapi untuk menuliskannya biasanya  

   kesulitan di awal usia sekolah)
– Dorong anak untuk menggambarkan objek, orang-orang atau sekitarnya. Mulai
  gunakan kata penghubung seperti karena, kemudian, pada akhirnya, dsb.

Spelling:
– Mereka perlu untuk berlatih mengeja setiap minggu (ini yang sering
   kecampur antara mengeja secara ‘Indonesia’ dan ‘English’).

Matematika:

– menghitung sampai 100
– Konsep double, tambah, kurang,
– Konsep puluhan dan satuan
– kali dan bagi dengan 2, 5, dan 10
– Konsep setengah dan seperempat
– Nama bangun 2 dimensi maupun 3 dimensi
– Mengenal uang
– Mengenal ukuran: panjang, berat
– Membaca waktu/ jam

Demikian sementara ini yang bisa saya share dari segi content pelajaran umum
di SD-UK.

Read Full Post »

Sekelumit: SD di Inggris

 

Di England, anak masuk klas 1 SD sudah diwajibkan dapat membaca dan menulis. Padahal anak-anak ini masuk SD sangat dini sekali, umur 5 tahun. Jadi umur 3 tahun sudah masuk Nursery dan 4 tahun masuk tahap Reception. Berbeda dengan pengalaman sewaktu di Australia, dimana masih banyak anak-anak kelas 4 SD yang membaca pun masih megap-megap. Jadi biasanya anak Indonesia yang bersekolah SD di Australia menjadi champion, sekembalinya di Indonesia
menggeh-menggeh dan banyak yang nggeblag….kalau pas jalan di tempat yang licin, maksudnya……..Eh tapi ini bener, cukup banyak sampel anak teman-teman yang bersekolah di Australia mengalami hal ini.

Di England, Nursery hanya belajar dari jam 09.00 – 12.30.Yang Reception sudah ndina muput (itu bahasa inggrisnya, bahasa jawanya fullday: 09.00 – 15.30) dengan break minum juz dan makan siang. Anak yang masuk reception, syarat utamanya sudah harus dapat mengurus diri sendiri: ke toilet, makan dengan sendok, cuci tangan, dst. Di reception ini mulai diajarkan baca, nulis, dan main komputer dengan topik sederhana (nge-print gambarnya dsb).

Beberapa waktu lalu saya membaca berita bahwa sebenarnya kurikulum pendidikan di Indonesia itu disusun dengan mempertimbangkan kurikulum di USA, Jerman dan England. Saya sempat mengamat-amati, tampaknya untuk beberapa hal memang mirip antara yang diterima anak saya di SD dengan yang diajarkan di Indonesia. Kebetulan, ada rekan yang nglungsuri buku panduan Matematika (2A, 2B, 2C dsb), dan Bahasa Indonesia yang dipakai di SD Al Azhar – Jakarta. Sewaktu saya bandingkan dengan pelajaran yang diterima anak saya, tampaknya tingkat kesulitan untuk bidang matematika hampir sama. Kalau yang bahasa Indonesia, pasti lebih sulit yang di Al Azhar itu,..karena anak saya nggak diajari Bahasa Indonesia di Inggris….he..he… guyon aja senengnya.

Secara keseluruhan materi pengajaran tidak banyak, tetapi pemahaman dan penghayatannya bagus sekali. Misalnya untuk materi science, anak-anak disuruh mengamati berbagai macam benda bergerak, ya anaknya di bawa ke taman mainan (ayunan, prosotan, kuda-kudaan, dst). Disuruh nggambar di alam terbuka (jadi gambarnya enggak melulu gunung kembar – sungai dan matahari).Dibawa ke hutan untuk menanam bibit-bibit pohon – agar cinta lingkungan. Sudah diajarkan juga penggunaan komputer dan pengenalan internet.


Ada test nasional yang meliputi English dan Math pada level tertentu: Key Stage 1 (Kelas 2) dan Key Stage 2 (lupa saya, kalau gak salah kelas 6).Yang menarik, di English test, anak ditest materi Reading, Comprehension,Writing, dan Speaking. Jadi semacam IELTS test itu. Ya pantes aja ya…orang Inggris skor IELTS nya tinggi-tinggi, lha sudah latihan duluan sejak kelas 2 SD sih……..Kita mah nunggu beasiswa ada dulu, baru latihan khan….he..he…cari  alesan aja ya, orang Indonesia kalau kalah.

Hal lain lagi yang menarik adalah, jika dalam national test itu anak-anak dapat mencapai skor di atas rata-rata national, maka anak dapat lompat kelas. Jadi dari kelas 2 tidak harus ke kelas 3, langsung ke kelas 4.

Read Full Post »

Inferior Complex, Bagaimana Mengatasinya?

Alhamdulillah saya berkesempatan tinggal di Australia selama 3.5 tahun dan tinggal di Inggris 3.5 tahun juga. Ada banyak berkah dan manfaat yang saya dan keluarga petik selama tinggal di negeri seberang itu. Namun ternyata tanpa kami sadari ada efek negatif yang terjadi pada anak-anak saya. Karena cukup lama (7 tahun) tidak bersosialisasi dengan handai taulan seerat di Indonesia, di mana praktis di sana tidak ada eyang, pak de-bu de, om-tante, sepupu, dan  anak-anak tetangga yang ikut memberi warna bagi tumbuhnya anak-anak kami di bawah usia 10 tahun seperti yang biasa terjadi pada keluarga di Indonesia,  jadi mereka hanya biasa dengan kami berdua saja, bapak ibunya dan terbiasa dengan interaksi yang terbatas waktu dan keterlibatan emosinya dengan lingkungan sekolah, akibatnya sekembali ke Indonesia anak kami mengalami kesulitan bergaul dalam beberapa waktu. Menangis karena tidak bisa bahasa Indonesia, apalagi bahasa Sunda itu sudah sangat biasa dan berlangsung cukup lama, hampir satu tahun. Tidak berani tampil ke depan, tidak berani kontak dengan orang yang tak dikenal (misalnya belanja ke toko sebelah) – karena memang di sana sama sekali tidak diperbolehkan seorang anak kontak dengan orang tak dikenal, merupakan kendala yang kami hadapi.

Apa akal?

Cukup lama kami mencoba mencari cara, dibilangin sudah terlalu sering, diomelin malah bikin suasana tambah runyam, dikasih insentif uang, takut menjerumuskan mereka menjadi orang yang berjiwa transaksional. Tak terduga sebuah event datang: Lomba memasak keluarga.

Sebuah stasiun radio dengan disponsori produsen chicken nuggets mengadakan lomba masak dengan bintang tamu penyanyi Intan Nur Aini dan pemain sinetron Glen Alynski di Ciwalk – Bandung. Sejatinya saya tidak bisa masak, hanya tukang makan saja. Tapi saat pramuka di SD Inpres dulu rasanya kalo cuma bikin Nasi Goreng Kampung yang merah dan pedes, Mie Rebus Jawa yang kuahnya nyemek, oseng-oseng kacang panjang, tempe goreng, sayur asem, nyeplok telor, goreng ayam, bikin bacem kok ya bisalah, walaupun rasa tidak dijamin, yang penting kenyang. Celakanya yang dilombakan adalah memasak Chicken Nuggets yang saya memakanyapun tidak suka. Tapi ya demi mendidik anak, istri saya mengirim resep ke stasiun radio dengan semangat 45 diiringi lagu “Maju Tak Gentar” dan “Hallo-halo Bandung” sekaligus dengan hitungan 3/4 jatuh pada ketukan ke 4, dan alhamdulillah keluarga kami terpilih di antara 15 finalis dari lebih 100 resep yang masuk dan harus praktek masak beneran selama 30 menit di depan umum, ya di Ciwalk itu.

Setelah di komandoi oleh penyiar radio yang sedikit bencong itu (kenapa ya untuk acara gini mesti selalu ada bencongnya?) dan menyanyikan yel-yel yang kami karang seminggu suntuk dengan koreografinya segala, kami show off  bersaing dengan orang-orang yang punya restoran, para koki hotel dan sebagainya.

Alhamdulillahnya kami dapat juara 3 dari 15 kontestan tersebut dan membawa pulang sebuah mesin cuci berkapasitas 7.5 kg. Bukan mesin cucinya itu yang penting, justru anak-anak saya jadi tergugah untuk mulai tampil ke depan.

Tiga bulan kemudian, kami ikut lagi lomba masak di Gasibu, di lapangan depan Gedung Sate itu, dan kali ini, kami juara 1 dan dapat hadiah uang tunai. Walaupun setelah lomba istri saya terkena demam berdarah dan typhus, yang tampaknya digigit nyamuk di Gasibu itu, walhasil uang hadiah lomba malah tekor buat opname selama 5 hari di RS Borromeus. Tampaknya memang banyak ujian mengemban amanah, mendidik empat anak yang ditititipkan olehNya kepada kami itu.

Sejak saat itu, ada perubahan besar pada diri anak-anak saya, mereka tidak lagi menderita inferior complex , rasa rendah diri yang sering tidak ketahuan dari mana ujung pangkalnya itu, dan mulai berani unjuk kebolehan: di antaranya menyabet jura 2 English Story Telling di saat SD dan juara 3 Englis Story Telling sekodya Bandung saat SMP, serta ikut lomba cepat-tepat, pesantren kilat, hafalan asmaul husna, hafalan juz amma.

Buat saya, bukan kemenangan yang menjadi fokus saat mereka ikut lomba. Kalah – menang, buat saya biasa. Yang saya pentingkan adalah mereka melakukan segala aktivitas dengan happy , berkompetisi dengan jujur, semangat perbaikan diri – bukan rivalitas dengan pesaing dan ada ‘api’ di hati mereka untuk to be fair competing and showing their competence. Hanya untuk melatih keberanian dan rasa percaya diri saja sih. Karena suatu saat toh mereka harus hidup mandiri, tak ada lagi orang tua di sisinya yang akan selalu menyuapinya.

Waktu saya tanya, apa yang membuat mereka begitu cepat berubah?

Jawab mereka: Bapaknya yang dosen di ITB saja nggak malu ikut lomba masak di depan umum, yang mungkin bagi banyak orang adalah lomba yang sangat nggak mutu dan kalah gengsi dari lomba robotik atau presentasi paper internasional.

Ini foto lombanya.

 

 

 

Read Full Post »