Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘perjuangan’

From: “Farid Gaban” <faridgaban@yahoo.com>
Sender: sinergi-ia-itb@yahoogroups.com
Date: Sun, 23 Jun 2013 02:01:39 -0000
To: <sinergi-ia-itb@yahoogroups.com>
ReplyTo: sinergi-ia-itb@yahoogroups.com
Subject: [sinergi-ia-itb] Berziarah ke Digoel, Penjara tak Bertepi

 

Air hujan yang mengucur dari atap seng seperti tirai menyelimuti gubug itu. Bikin hangat lantai kayu tempat saya merebahkan badan. Tapi saya tak bisa tidur. Berkecamuk pikiran antara masa kini dan lampau.

“Lama tada orang ke sini,” kata Adrianus Sandap, pemuda Papua dari Suku Wambon yang menemani saya.

Laba-laba menganyam jaring di beberapa sudut langit-langit gubug. Tengkorak kepala babi tergantung di dinding. Kering tak lagi berbau. Sementara abu kayu bakar di tungku sudah mengeras bersanding dengan piring dan cawan besi berkarat.

Gubug itu berdiri rapuh di atas bukit pada tepian hulu Sungai Digoel, pedalaman Papua bagian selatan, dekat perbatasan Papua Nugini. Dia dikelilingi belukar dan hutan berpohon tinggi. Tak ada dermaga di sungai, bahkan dari kayu pun. Apalagi papan nama. Jalan mendaki menuju bukit tak lagi jelas. Dari tepi sungai saya harus menembus lantai hutan yang ditumbuhi tanaman perdu dan lumut. Lembab oleh humus yang basah. Penuh lintah dan nyamuk.

Siapa pula mau datang ke situ?

Tanah Tinggi begitu terpencil. Saya pun takkan pernah ke situ jika bukan tergoda oleh makna sejarahnya yang sangat penting bagi kemerdekaan Indonesia. Tanah Tinggi adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah Tanah Merah, atau Boven Digoel. Inilah kamp konsentrasi Hindia Belanda pada 1920-an, tempat banyak tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia diasingkan dan tewas.

***

Boven Digoel menjadi kabupaten tersendiri sejak 2002. Dia bisa dicapai dari Merauke, pojok paling timur Indonesia, dengan tiga cara. Pertama, pesawat kecil Express Air sepekan sekali. Kedua, jalan darat 450 km yang kondisinya sangat buruk. Atau ketiga, naik kapal motor memutar ke Laut Arafura sebelum masuk mulut Sungai Digoel sejauh 500 km ke arah hulu, dua pekan sekali.

Boven Digoel adalah Bahasa Belanda untuk Digoel Udik (hulu).

Masih miris saya mendengar peristiwa 2005 ketika sebuah kapal Merauke-Digoel tenggelam di Laut Arafura, menewaskan 200 lebih penumpangnya. Saya memilih jalan darat. Tapi, meski hanya setara jarak Jakarta-Semarang, perjalanan darat Merauke-Digoel makan waktu dua hari dua malam. Dan sungguh melelahkan.

Perjalanan ke Digoel merupakan bagian dari Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa 2009-2010, petualangan saya keliling Indonesia bersepeda motor. Tapi, saya diingatkan untuk tidak memakai sepeda motor menuju Digoel. Dan beruntung saya mematuhi peringatan itu. Motor bisa terbenam dalam lumpur yang kondisinya lebih ganas dari sekadar ajang olahraga off-road gagah-gagahan.

Ada angkutan umum dari Merauke ke Digoel. Angkutan umum istimewa. Rute ini hanya dilayani oleh jeep-jeep tahan banting, umumnya Daihatsu Hiline dengan four-wheel drive, bergardan ganda serta dilengkapi derek. Mobil-mobil Hiline bekas dari Jawa, nampak dari nomor polisinya, dibawa ke sini untuk menaklukkan medan yang berat.

Satu mobil biasanya diisi delapan penumpang plus sopir. Tarifnya Rp 700 ribu per penumpang. Mahal? Tadinya saya berpikir begitu. Tapi, belakangan saya tahu, itu harga yang pantas, bahkan murah.

Perjalanan keluar dari Merauke lumayan menyenangkan. Mobil kami melintasi jalan aspal bagus sekitar 60 km, melewati Taman Nasional Wasur, salah satu khasanah ekosistem unik yang lebih mirip Australia ketimbang bagian lain Indonesia.

Saya menikmati hutan mangrove dengan rawa-rawa yang ditumbuhi bunga teratai. Banyak pula rumah rayap atau semut, mumasu, yang menjulang di kanan-kiri jalan. Tapi, saya tak beruntung menemukan kanguru liar yang sudah mulai punah.

Hanya sekitar satu jam setelah itu perjuangan berat dimulai. Jalan mulai bercampur tanah lalu lumpur. Mobil harus melintasi banyak kubangan, kadang setinggi atapnya, serta melewati sungai-sungai kecil tanpa jembatan.

Tiap sopir dibantu dua kernet, yang tak pernah masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan mereka bekerja keras mengeringkan kubangan air, memasang patok derek, mendorong mobil, serta menebang pohon untuk membuat anyaman kayu di atas lumpur agar bisa dilalui. Mereka melakukan semua itu bukan untuk kesenangan, melainkan mencari nafkah.

“Saya berhenti sekolah setelah SD,” kata Ben Barnabas, salah satu kernet. Usianya baru belasan. Wajah dan kaosnya belepotan lumpur setelah memasang potongan kayu. Dia mendapatkan Rp 300 ribu untuk satu kali jalan. “Makan dan tidur ditanggung.” Tapi, tidur adalah kemewahan.

Beberapa mobil biasa berjalan beriringan, agar bisa saling membantu dan menderek. Dengan itupun kadang diperlukan waktu berjam-jam untuk keluar dari kubangan lumpur. Ada puluhan kubangan berat hanya untuk mencapai Munting, desa terdekat, pertengahan antara Merauke-Digoel.

Jika gelap terlebih dulu menyergap, sementara mobil tak bisa lepas dari jebakan lumpur, para penumpang, termasuk perempuan dan anak-anak, akan tidur di mobil. Hutan di kedua sisi jalan terlalu berisiko untuk tempat istirahat.

Beruntung kami bisa mencapai Munting meski di tengah malam. Kota kecamatan kecil itu sangat menolong. Ada beberapa warung makan di situ, juga penginapan sangat sederhana: kamar berdipan tanpa kasur dengan tarif Rp 20 ribu. Tapi, itu cukup melegakan mengingat esok harinya masih banyak kubangan lumpur harus dilalui sebelum mencapai Asiki.

Solidaritas antar sopir sangat diuji di sini. Jika satu mobil terjebak kubangan, mobil dari belakang maupun depan seringkali tak bisa lewat. Pada musim penghujan seperti ketika saya lewat, konvoi truk-truk pengangkut barang dan bahan makanan memilih berhenti sama sekali sampai kubangan cukup kering. Sopir dan kernetnya siap dengan tenda serta alat masak untuk persediaan satu atau dua pekan lamanya.

Asiki adalah persinggahan kami kedua. Dia lebih besar dari Munting. Ada kilang pengolahan kayu di situ, dan kebun kelapa sawit, sehingga kota kecil ini cukup ramai oleh pendatang. Tapi, baru tengah malam hari mencapai Asiki, kami hanya menemukan satu penginapan kecil, tanpa air karena pompa listrik rusak. Tak masalah, pikir saya, karena penderitaan segera berakhir.

Esok paginya mobil kami meluncur melintasi jalan yang lumayan bagus untuk mencapai Tanah Merah, ibukota Kabupaten Boven Digoel, sebelum tengah hari.

***

Tanah Merah kota kecil yang sekarat. Satu-satunya pusat keramaian di siang hari adalah pasar tradisional dekat dermaga Sungai Digoel. Para pedagang menjual hasil kebun: sayuran, pepaya, singkong, cabe dan pinang. Ada pula penjual ikan sungai dan lele. Di tenda-tenda darurat, pedagang menawarkan pakaian, alat elektronik, peralatan dapur serta kebutuhan pokok sehari-hari.

Harga kebutuhan pokok, termasuk makanan, relatif mahal karena buruknya transportasi. Ongkos angkutan umum pun mahal, dengan tarif jauh-dekat Rp 5 ribu untuk kota sekecil itu.
Listrik sudah dua hari mati ketika saya datang. Beruntung saya bisa menemukan penginapan yang punya generator sendiri, sekadar untuk bisa mengisi batere telpon seluler dan kamera.

Bahkan es termasuk barang mewah. Masyarakat mengandalkan generator milik pemerintah daerah, yang birokrasinya ruwet dan bupatinya ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi di Jakarta karena terlibat manipulasi anggaran. PLN setempat punya generator, tapi tak lagi berfungsi. Itu generator warisan kolonial Belanda buatan 1930-an.

Kondisi Boven Digoel belum banyak berubah dari 80 tahun lalu, yang kisahnya saya baca dari buku-buku sejarah.

***

Dekat Bandar Udara Boven Digoel patung Bung Hatta itu berdiri tegak dengan telunjuk tangan kanannya menuding tanah. Dia seperti ingin mengatakan: “Saya pernah di sini!” Patung itu membelakangi kompleks bangunan lama yang kini menjadi tangsi polisi, sebelah menyebelah dengan bekas Penjara Digoel.

Penjara itu cukup bersih dan terawat rapi, dikelilingi tembok kawat berduri. Ada dua blok tahanan di situ yang bisa diisi puluhan orang. Tahanan tidur bersama di atas papan kayu. Atap ruangan dialiri setrum listrik. Di pojok ruang ada sekat kecil untuk jamban. Satu WC untuk puluhan orang.

Di satu ruang yang dulu nampaknya gudang, saya melihat sebuah almari reyot berisi piring, mangkuk dan cangkir terbuat dari seng. Berdebu, berkarat dan tak terawat. “Ini dulu dipakai para tahanan,” kata Wens Katukdoan, penjaga situs bersejarah itu.

Ada pula enam sel isolasi yang hanya bisa diisi satu orang. Sel itu berukuran 2×2,5 m. Hampir kedap. Bahkan atapnya pun dari beton dengan lubang-lubang ventilasi sekecil biji kelereng. “Bung Hatta pernah mendekam di situ,” kata Wens sambil menunjuk sel pertama.

Tapi, saya kurang percaya. Bung Hatta tak pernah menyebut sel seperti itu dalam memoar maupun buku dan artikelnya. Penjara Digoel, yang dimaksudkan untuk mengasingkan tahanan pembangkang, pada dasarnya adalah penjara dalam penjara.

Delapan dasawarsa lalu, Boven Digoel secara keseluruhan adalah penjara itu sendiri. Penjara alam tak bertepi. Kawat berduri yang mengelilingi penjara, barak militer, dan dapur umum, justru dibuat untuk melindungi serdadu dan aparatur Hindia Belanda dari orang buangan.

Para tahanan politik yang diasingkan di Boven Digoel, termasuk Bung Hatta dan Sjahrir, tinggal di rumah-rumah sederhana berdinding kayu yang tersebar di dataran gersang tak jauh dari dermaga. Saya tak bisa lagi menemukan bekas rumah mereka.

Bagaimanapun, Boven Digoel atau Tanah Merah lebih dari sekadar cerita tentang Hatta-Sjahrir. Mereka hanya setahun diasingkan di situ (1935-36), sementara Digoel punya rentang sejarah lebih panjang, melibatkan penderitaan, tragedi dan kepahlawanan banyak tokoh lain pergerakan pada masa itu.

Tanah Merah dibuka pada 1927 dan baru ditutup limabelas tahun kemudian, menjelang kekalahan Sekutu dari Jepang dalam Perang Pasifik. Chalid Salim, adik kandung tokoh pergerakan Haji Agus Salim dan sepupu Sutan Sjahrir, adalah salah satu yang paling lama mendekam di Digoel, dari awal hingga akhir. Kelak dia menulis detil kehidupan di sana dalam buku “Lima Belas Tahun Digul: Kamp Konsentrasi di Nieuw Guinea”.

Mas Marco Kartodikromo, seorang pionir jurnalis Indonesia, tak selamat dari neraka Digoel. Dia meninggal di sana. Marco sempat menulis artikel yang kemudian dibukukan: “Pergaulan Orang
Buangan di Boven Digoel”. Dialah tokoh yang kental saya bayangkan ketika saya merebahkan badan di lantai kayu gubug Tanah Tinggi, 50 km dari Tanah Merah ke arah hulu Sungai Digoel.

Beberapa orang buangan lain menulis laporan pandangan mata dan cerita pendek, yang kelak dibukukan dan disunting oleh Pamoedya Ananta Toer dalam “Cerita dari Digul”. Ironis bahwa setelah merdeka Pemerintah Orde Baru meniru kolonial Belanda membangun neraka mirip Digoel di Pulau Buru, bagi orang-orang seperti Pram.

Boven Digoel dimaksudkan sebagai tempat pengasingan para aktivis politik agar tidak menularkan virus kebencian dan pemberontakan kepada Pemerintah Hindia Belanda. Tempat itu sangat terpencil bahkan untuk ukuran sekarang. Apalagi 80 tahun lalu.

Satu-satunya jalan keluar-masuk ke situ adalah Dermaga Digoel, 450 km dari mulut sungai besar yang berkelok-kelok. Satu-satunya sarana komunikasi keluar adalah kapal Belanda yang sebulan sekali berlabuh di situ. Kota administratif Hindia Belanda terdekat adalah Ambon, Maluku.

Koloni Digoel, dengan radius 25 kilometer, seperti Australia kecil bagi kolonial Inggris. Atau seperti Guyana kecil bagi Prancis.

Pemerintah Inggris dulu menjadikan Australia tempat buangan para kriminal. Seperti Inggris dan Prancis, Belanda membangun permukiman yang seolah-olah normal di koloni pengasingan. Di samping rumah, Belanda membangun fasilitas rumah sakit, bioskop, gedung kecil pertunjukan seni, bahkan sekolah, gereja, dan masjid.

Para tahanan diperbolehkan membawa istri dan keluarga. Mereka boleh hidup bebas, termasuk membentuk klub sepakbola, kelompok kesenian gamelan atau ketoprak, bahkan kelompok musik jazz. Semua tahanan mendapat santunan 72 sen plus ransum makanan. Tapi, yang mau bekerja untuk pemerintah memperoleh tambahan 40 sen, dengan kemungkinan bebas lebih awal.

Chalid Salim memilih bekerja untuk pemerintah. Setiap hari dia berkeliling dari rumah ke rumah untuk memastikan tak ada genangan air yang bisa dihidupi nyamuk. Begitulah limabelas tahun dia menyibukkan diri untuk menghindari kesepian dan kegilaan.

Bung Hatta memilih menolak bekerja sama. Tapi, seperti Salim, dia tetap harus menyibukkan diri pula. Meski kelak perkiraannya keliru, Hatta sudah siap untuk tinggal lama di Digoel. Dia membawa serta 16 peti bukunya dari Batavia dan menyibukkan dirinya dengan membaca buku serta menulis.

“Jika orang lain mempersempit dunia kita, kita sendiri bisa membangun dunia dalam pikiran kita,” kata Hatta.

Hatta secara teratur menulis artikel untuk koran Pemandangan. Dia juga mengajar para tahanan ilmu ekonomi, sejarah, dan filsafat. Kumpulan bahan pelajaran itu di kemudian hari dibukukan: “Pengantar ke Jalan llmu dan Pengetahuan” dan “Alam Pikiran Yunani.”

Kelak, setelah Indonesia merdeka, buku terakhir itu menjadi mahar perkawinan Hatta dengan Rachmi.

Tapi, kehidupan hanya seolah-olah saja normal di Digoel. Delapan puluh tahun lalu, Digoel tak hanya dipagari sungai yang banyak berisi buaya. Dia juga dikepung rawa dengan nyamuk malaria yang mematikan, serta hutan belantara dengan suku-suku asli Papua yang kadang bisa dibujuk Belanda untuk bersikap keras kepada pendatang.

Berbeda dari kamp konsentrasi Nazi Jerman, Digoel tak mengenal kekejaman fisik. Tapi, siksaan mentalnya luar biasa. Para tahanan sama sekali tak tahu apakah mereka bisa pulang. Dan seandainya pun bisa, mereka tak tahu kapan. Masa depannya gelap dan kabur. Banyak orang remuk mentalnya karena putus asa.

Takashi Shiraishi, sejarawan asal Jepang yang merangkum sejarah Digoel dalam “The Panthom World of Digoel”, menulis:

Pada tahun-tahun pertama, ratusan orang meninggal karena kelaparan dan sakit. Depresi Ekonomi di Eropa membuat Belanda mengurangi anggaran dan memangkas fasilitas bagi orang buangan. Penderitaan itu menyebabkan banyak orang buangan mencoba melarikan diri ke Australia. Mereka menggunakan perahu-perahu kecil buatan sendiri, tetapi sedikit saja yang berhasil. Sebagian terpaksa kembali, lainnya mati tenggelam.

Menyurusi Sungai Digoel, saya percaya miris membayangkan situasi 80 tahun lalu itu.

Menyusul rombongan pertama pada 1927, jumlah orang buangan Digoel mencapai puncaknya dua tahun kemudian, yakni 2.100 orang, namun berangsur menyusut karean dibebaskan.

Rombongan pertama adalah para aktivis ISDV (cikal bakal Partai Komunis Indonesia) menyusul pemberontakan gagal mereka melawan Belanda. Hingga kini, saya curiga, adalah karena alasan “komunis” itulah pelajaran sejarah Indonesia kurang bersimpati kepada kaum Digoelis dan makna penting perjuangan mereka.

Padahal pemberontakan 1927 tidak bisa disamakan dengan Pemberontakan PKI 1965. Lebih dari itu, tidak hanya komunis yang pernah diasingkan ke neraka Digoel. Ada banyak nasionalis, seperti Hatta dan Sjahrir. Ada pula ulama Perhimpoenan Moeslimin Indonesia dan Partai Serikat Islam Indonesia seperti Ilyas Yakub dari Minangkabau.

Keragaman penghuni Digoel kini masih bisa dilihat pada monumen dekat Taman Makam Pahlawan di pinggiran hutan. Ada 42 nisan di situ. Berikut daftar nama yang dimakamkan.

Kita bisa membaca keragaman latarbelakang suku dan kota asal para “Perintis Kemerdekaan” ini: Banten, Padang, Bandung, Solo, Madiun, Ternate, Manado, Pekalongan.

Ada tiga nama yang menarik perhatian saya: Karto (Mas Marco Kartodikromo), Ali Archam dan Nahjoan (Thomas Najoan). Mereka dikenal sebagai Marxist garis keras yang tak mau kompromi. Bagi Belanda tak cukup mereka dibuang ke Tanah Merah. Mereka diasingkan ke Tanah Tinggi, Sungai Digoel lebih ke hulu lagi, dengan alam yang lebih brutal. Mereka tewas karena tuberculosis atau malaria.

***

Tanah Tinggi yang saya kunjungi hampir sama persis dengan gambaran 80 tahun lalu yang saya baca. Minus bangunan-bangunan yang kini tiada. Yang tersisa hanya batu bekas fondasi sebuah bangunan lama, tak terawat ditumbuhi lumut dan rumput setinggi pinggang, di atas dataran seluas lapangan basket.

Selebihnya adalah semak belukar yang dikeliling jurang dan hutan lebat. Dari satu sudut bukit itu kita bisa melihat kelokan Sungai Digoel di kejauhan, satu-satunya jendela kebebasan bagi orang-orang buangan dulu. Itupun tak bisa dijamin.

“Tak ada yang bisa lolos dari tempat seperti ini delapan puluh tahun lalu,” kata Adrianus Sandap, pemuda Papua yang menemani saya ke situ.

Pada puncak kebrutalannya, Tanah Tinggi pernah dihuni oleh 70 orang buangan dan 45 anggota keluarganya. Mereka tinggal di 40 rumah yang terpisah satu sama lain, di dalam hutan, di kelilingi kebun sayuran. Semua itu tak ada bekasnya lagi sekarang.

Untuk sampai ke Tanah Tinggi, saya menyewa speed-boat yang dua jam mesinnya menderu dari Tanah Merah ke arah hulu. Tak ada jalan darat menuju Tanah Tinggi sampai sekarang. Dulu diperlukan waktu lima jam perjalanan sungai untuk mencapai Tanah Tinggi. Bahkan sampai kini, hanya hutan dan rawa yang ditemukan sepanjang perjalanan. Saya tak melihat satu pun perkampungan, kecuali satu dua rumah tradisional Suku Mandobo.

Di Tanah Tinggi, gubug kayu tempat saya berteduh itu baru dibangun belakangan, lengkap dengan panel surya yang tak lagi berfungsi, namun tak bisa menepis kesan betapa primitif, sunyi dan sangar tempat ini bahkan sampai sekarang.

Alam benar-benar berkuasa di sini. Udara lebih lembab di sini dibanding di Tanah Merah, karena lebatnya hutan sekeliling. Curah hujan lebih tinggi. Musuh orang buangan di sini adalah asma dan tuberculosis, disamping malaria. Dan dengan fasilitas kesehatan yang jauh lebih minim dari Tanah Merah.

Agak sulit saya membayangkan bagaimana Mas Marco Kartodikromo bisa bertahan empat tahun di situ sebelum TBC memagut nyawanya pada 1932. Tak hanya itu. Dia masih setia menulis, dengan tangannya, sebelum kertasnya diselundupkan ke Jawa dan Sumatra. Harian “Pewarta Deli” memuat 50 seri tulisannya antara 10 Oktober hingga 9 Desember 1931, beberapa bulan sebelum dia meninggal.

Mas Marco tokoh pergerakan pribumi dan jurnalis yang melampaui zamannya. Lahir di Cepu, Jawa Tengah, dia memulai karir sebagai jurutulis jawatan kereta api di Semarang, sebelum bergabung dengan koran terbitan Bandung, “Medan Prijaji”, milik Tirto Adhi Soeryo. Tulisannya tajam menantang pemerintahan kolonial. Marco juga mendirikan organisasi jurnalis pribumi pertama, Inlandsche Journalistenbond (IJB) di Semarang pada 1914, dan menerbitkan korannya sendiri: “Doenia Bergerak”.

Aktivisme politik mengantarkannya masuk organisasi sempalan “Sarekat Islam Merah” yang belakangan melebur dalam Partai Komunis Indonesia. Itu pula yang belakangan menyeretnya ke Boven Digoel.

Protagonis lain di Tanah Tinggi yang saya kagumi adalah Thomas Najoan. Asal Manado, dia Ketua Pengurus Besar Sarekat Buruh Percetakan di Surabaya yang berafiliasi dengan PKI ketika pemberontakan pecah pada 1927. Tak mau mati kesepian di Tanah Tinggi atau gila karena konflik antar orang buangan, Najoan berkali-kali mencoba melarikan diri.

Sejarawan John Ingleson dalam “Jalan Ke Pengasingan” menulis Najoan tiga kali mencoba kabur, tiga kali pula dia gagal. Dalam pelariannya yang kedua, Najoan sukses menembus hutan, menyeberangi sungai-sungai kecil Muyu dan Mandobo, sebelum menyeberang ke Papua Nugini menuju wilayah Australia. Tapi, Australia punya perjanjian ekstradisi dengan Belanda. Najoan ditangkap dan dikapalkan kembali ke Tanah Tinggi.

Najoan mengingatkan saya pada penulis otobiografi Henri Charrière atau Papillon, terdakwa kasus pembunuhan Prancis yang dikirim ke pulau terpencil di Guyana, Amerika Latin. Mengatakan tuduhan pada dirinya palsu, Papillon berkali-kali kabur. Dan berkali-kali pula, ketika dia merasa sudah bebas, dia ditangkap dan dikembalikan ke Guyana.

Menurut Chalid Salim, ada 16 usaha pelarian dari Digoel, melibatkan 60 orang, 40 di antaranya dari Tanah Tinggi. Namun hanya sepertiga yang bisa mencapai wilayah Papua Nugini dan bahkan mencapai Pulau Thursday di atas Semenanjung York, Australia. Tapi, bahkan merekapun akhirnya dikembalikan ke Digoel. Najoan, menurut Salim, sempat melakukan usaha kabur keempat kali pada 1942, setahun sebelum Digoel ditutup, hanya untuk hilang dalam rimba.

Saya tak tahu persis cerita terakhir Salim itu. Tapi, satu nisan di Pemakaman Tanah Merah menyebutkan namanya. Apakah dia ditemukan meninggal di hutan? Atau kembali ke Digoel setelah kamp konsentrasi ditutup dan meninggal di situ? Entahlah.

Bagaimanapun, kisah manusia Tanah Tinggi seperti Najoan mengingatkan saya pada terkutuknya kebijakan kamp konsentrasi Boven Digoel. Memang, Belanda tidak membunuh. Mereka hanya membiarkan orang buangan mati, diterkam kuasa alam ganas, atau gila. Belanda menjadikan orang buangan zombie, manusia hidup tapi tercerabut jiwanya.

Di sisi lain, Boven Digoel mengingatkan saya pada herorisme orang-orang seperti Mas Marco dan Najoan dan Hatta yang menolak untuk menyerah. Yang melawan ketidakadilan dengan lantang namun berjuang dalam sunyi, melawan musuh tak terlihat: kesepian dan ketidakwarasan.

***

Masih gerimis dan hari hampir gelap ketika saya turun meninggalkan Tanah Tinggi. Suara mesin speedboat meraung memantul tepian Sungai Digoel, tanda jemputan telah datang. Dengan kaki telanjang saya menyusuri jalan setapak yang lembab dan basah. Berkali-kali terpeleset sebelum akhirnya mencapai tepi sungai tempat speedboat menunggu.

Semua kesulitan sepanjang perjalanan saya menuju Digoel dan Tanah Tinggi tak ada artinya dibanding hidup dan perjuangan orang-orang yang penah dibuang ke sini, para bapak dan ibu pendiri bangsa kita, yang lama sirna dari ingatan sejarah kita.

***

(Farid Gaban | Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa)

Read Full Post »

Dear all,

Romantisme kehidupan kampus tak lekang oleh waktu, dipotret dalam novel edisi terbaru 3G: Gading-gading Ganesha, yang diedit ulang sehingga lebih lincah bertutur kata. Diterbitkan oleh Gramedia, dengan bagian lengkap (tanpa potongan dari penerbit) yang akan menemui anda sekalian tanggal 8 April 2013 dengan tata wajah baru.. Selamat bernostalgia, memotret kembali romantisme perjuangan masa lalu dan extrapolasi masa kini dan masa depan…

Wibi
……………………………………….

Sebagian dari isi Bab 12:…………………………………………

Flash film berlanjut dengan snapshot terpilihnya Mahmoud Ahmadinejad sebagai Presiden Iran yang mencengangkan. Dalam kesehariannya, sang presiden dari negara penghasil minyak lima besar di dunia itu dengan ikhlas bersedia tinggal di rumah sangat sederhana yang terletak di gang sempit. Menghibahkan karpet-karpet mewah Persia istana kepresidenan ke masjid-masjid. Hanya menyantap sandwich yang terbuat dari roti murahan yang menjadi bekal dari rumah—buatan istri tercinta—untuk makan siang. Memilih tidur di karpet, bukan di kasur empuk hotel dalam setiap kunjungannya. Yang dengan jujur dan berani menyatakan bahwa memang tampangnya seperti pelayan, karena tugasnya memang melayani. Yang menikahkan putranya di rumahnya yang sederhana dengan sajian buah apel dan air putih saja. Tak ada perancang busana sekelas Cristian Dior atau Anne Avantie, tak ada mobil pengantin Mercedes atau limosin. Tak ada sumbangan dan upeti berupa kunci mobil atau kunci rumah yang siap ditempati sang mempelai seusai pesta, dan tak harus repot melaporkan sumbangan yang diterimanya kepada KPK, karena memang tidak menerima apa-apa kecuali kunjungan dan doa.

Kapankah kita memiliki pemimpin seperti ini? Mengapa engkau masih selalu menumpuk harta untuk diri sendiri, kapankah mulai berpikir dan bertindak untuk mandiri?

Film terus berlanjut dengan menampilkan penggalan surat perpisahan dari Che Guevara kepada presiden Kuba, Fidel Castro, yang melakukan perubahan revolusioner dan tidak pernah mau tunduk kepada keangkuhan dan ketamakan Amerika Serikat. Tak peduli Amerika Serikat hanya terletak selayang pandang di depan mata, sehingga sekali dirudal antarbenua bahkan antarpulau sekalipun, Kuba akan segera luluh lantak, takkan lagi ada dalam peta dan sejarah bangsa-bangsa.
Surat Che Guevara ditayangkan di layar lebar diringi pembacaan yang menggema ke segenap penjuru ruangan. Che memberikan spirit untuk menjadi pemimpin yang berani dan berintegritas. Tak luntur dan tak terbeli kecintaannya terhadap negara, bangsa, dan rakyatnya. Tak tunduk dan tak mudah didikte oleh uang dan kekuatan senjata.
Arsip Che Guevara Archives
Surat Perpisahan Che Kepada Fidel Castro

“Year of Agriculture”
Havana, April 1, 1965

At this moment I remember many things—when I met you in Maria Antonia’s house, when you proposed I come along, all the tensions involved in the preparations. One day they came by and asked who should be notified in case of death, and the real possibility of it struck us all. Later we knew it was true, that in a revolution one wins or dies (if it is a real one). Many comrades fell along the way to victory.
Today everything has a less dramatic tone, because we are more mature, but the event repeats itself. I feel that I have fulfilled the part of my duty that tied me to the Cuban Revolution on its territory, and I say farewell to you, to the comrades, to your people, who now are mine.

Other nations of the world summon my modest efforts of assistance. I can do that which is denied you due to your responsibility at head of Cuba, and the time has come for us to part.
You should know that I do so with a mixture of joy and sorrow. I leave here the purest of my hopes as a builder and the dearest of those I hold dear. And I leave a people who received me as a son. That wounds a part of my spirit. I carry to new battlefronts the faith that you taught me, the revolutionary spirit of my people, the feeling of fulfilling the most sacred of duties: to fight against imperialism wherever one may be. This is a source of strength, and more than heals the deepest of wounds.
. …
I have always been identified with the foreign policy of our revolution, and I continue to be. Wherever I am, I will feel the responsibility of being a Cuban revolutionary, and I shall behave as such. I am not sorry that I leave nothing material to my wife and children; I am happy it is that way. I ask nothing for them, as the state will provide them with enough to live on and receive an education.

Ever onward to victory!
Homeland or Death!
I embrace you with all my revolutionary fervour.

Che

Para hadirin di Aula Barat terdiam dan tercekam. Terangkat emosi dan spiritnya untuk suatu saat bisa menjadi seperti seorang Che.
Flash film berlanjut pada momen terpilihnya Barack Hussein Obama, yang pernah tinggal di Indonesia, menempuh SD-nya pada tahun 1967-1971, dan satu tempat tidur dengan salah seorang dosen ITB dalam masa-masa liburannya di Yogyakarta. Film yang menayangkan Obama menyampaikan pidato kemenangan di Chicago.

Hello, Chicago!
If there is anyone out there who still doubts that America is a place where all things are possible, who still wonders if the dream of our founders is alive in our time, who still questions the power of our democracy, tonight is your answer.
….
It’s the answer spoken by young and old, rich and poor, Democrat and Republican, black, white, Hispanic, Asian, Native American, gay, straight, disabled and not disabled, Americans who sent a message to the world that we have never been just a collection of individuals or a collection of red states and blue states.

It’s been a long time coming, but tonight, because of what we did on this date in this election at this defining moment, change has come to America.

And I would not be standing here tonight without the unyielding support of my best friend for the last 16 years, the rock of our family, the love of my life, the nation’s next first lady Michelle Obama.

But above all, I will never forget who this victory truly belongs to. It belongs to you. It belongs to you.
I was never the likeliest candidate for this office.
We didn’t start with much money or many endorsements.
Our campaign was not hatched in the halls of Washington. It began in the backyards of Des Moines and the living rooms of Concord and the front porches of Charleston.
It was built by working men and women who dug into what little savings they had to give 5 and 10 and 20 to the cause.
It grew strength from the young people who rejected the myth of their generation’s apathy, who left their homes and their families for jobs that offered little pay and less sleep.
It drew strength from the not-so-young people who braved the bitter cold and scorching heat to knock on doors of perfect strangers, and from the millions of Americans who volunteered and organised and proved that more than two centuries later a government of the people, by the people, and for the people has not perished from the Earth.
This is your victory.
You did it because you understand the enormity of the task that lies ahead. For even as we celebrate tonight, we know the challenges that tomorrow will bring are the greatest of our lifetime—two wars, a planet in peril, the worst financial crisis in a century.
The road ahead will be long. Our climb will be steep. We may not get there in one year or even in one term. But, America, I have never been more hopeful than I am tonight that we will get there.
I promise you, we as a people will get there.
….
This victory alone is not the change we seek. It is only the chance for us to make that change. And that cannot happen if we go back to the way things were.
It can’t happen without you, without a new spirit of service, a new spirit of sacrifice.
So let us summon a new spirit of patriotism, of responsibility, where each of us resolves to pitch in and work harder and look after not only ourselves but each other.

As Lincoln said to a nation far more divided than ours, we are not enemies but friends. Though passion may have strained, it must not break our bonds of affection.

This is our time, to put our people back to work and open doors of opportunity for our kids; to restore prosperity and promote the cause of peace; to reklaim the American dream and reaffirm that fundamental truth, that, out of many, we are one; that while we breathe, we hope. And where we are met with cynicism and doubts and those who tell us that we can’t, we will respond with that timeless creed that sums up the spirit of a people: Yes, we can!
Thank you. God bless you. And may God bless the United States of America.

Film berganti dengan tayangan hitam-putih yang agak kabur. Suasana tahun 1966, saat mahasiswa ITB ikut mendemo senior dan panutannya sendiri, Presiden Soekarno. Kultus individu yang kebablasan, demokrasi yang terlecehkan, antrean rakyat mengular untuk sekadar mendapatkan beras dan minyak tanah. Rakyat yang hanya mampu makan bulgur, nasi jagung, dan nasi aking. Penangkapan para pekerja seni dan penyetopan segala macam berita serta informasi dari luar negeri. Mahasiswa ITB menentang segala bentuk tirani, walau itu dilakukan oleh alumninya sendiri.
Sejarah berulang. Film berlanjut dengan suasana tahun 1978, saat kampus ITB diduduki militer. Tentara bersenjata masuk kampus, truk-truk militer menangkapi para aktivis, tentara mengejar mahasiswa, menggebuki saat menangkap, dan menyeretnya. Perlawanan fisik yang tak seimbang. Rumah rektor ITB, almarhum Prof. Iskandar Alisyahbana, ditembaki gentengnya oleh tentara tanpa surat perintah. Dari tahun 1978, film tentang berbagai demonstrasi yang pernah digalang, digagas, dan dipelopori mahasiswa ITB dibeberkan. Kasus Badega, Kaca Piring, penolakan kedatangan Mendagri Rudini, dan berbagai demonstrasi lain yang pada hakekatnya menunjukkan keberpihakan mahasiswa ITB terhadap penindasan rakyat.
Spot film loncat lagi ke masa 1997, yang berisi snapshot terjadinya krisis moneter yang terus berkepanjangan sampai saat ini.

Indonesia mengalami krisis moneter mulai akhir Juli 1997 sampai pertengahan 1999. Saat krisis moneter baru berjalan dua bulan dan nilai rupiah menyentuh Rp. 3.000/US$, bank-bank asing masih percaya kepada perbankan nasional. Namun ketika Presiden Soeharto menandatangani Letter of Intent dengan IMF pada awal November 1997 yang dilanjutkan dengan tindakan BI melikuidasi 16 bank, runtuhlah kepercayaan bank-bank asing terhadap perbankan nasional sekalipun itu BUMN. Terjadi chaos di dunia perbankan nasional. Perusahaan-perusahaan besar dan menengah serta masyarakat golongan atas, secara sadar maupun ikut-ikutan, selama lebih dari setahun menguras rupiahnya dari bank dan memborong dolar untuk diparkir di bank-bank luar negeri. Capital flight ini mengakibatkan kelangkaan dolar di dalam negeri. Dengan dolar yang menipis, bank-bank devisa nasional tidak dapat memenuhi kewajibannya yang jatuh tempo. Mereka terpaksa menunggak pembayaraan L/C (Letter of Credit) impor nasabah dan pinjaman pasar uang dalam dolar. Bank memiliki rupiah dalam jumlah besar akibat suku bunga deposito yang terlalu tinggi (tujuh puluh persen per tahun pada akhir November 1997) tapi ruang gerak mereka untuk membeli dolar terbatas akibat ulah spekulan (fund manager) di Singapura dan Hongkong. Rupiah semakin loyo dan sampai menyentuh Rp. 17.000/ US$ walau hanya berlangsung satu hari pada Januari 2008. Country rating (stabilitas negara) Indonesia turun dari kategori BBB+ (awal Juli 1997) menjadi CCC. Perbankan nasional mengalami “pendarahan” karena digerotori negative spread (hasil bunga yang diterima dari peminjam lebih kecil daripada bunga yang dibayarkan ke deposito). Inilah bukti lemahnya struktur perbankan yang dibangun di atas bunga yang merupakan riba.
Di bulan Ramadhan akhir tahun 1997, beberapa alumni ITB berkumpul di Wisma Sawunggaling, Bandung, dan keluar dengan analisis bahwa secara politis, ekonomi, dan sosial, rapat berpendapat bahwa Presiden Soeharto harus segera diturunkan dari jabatannya. Bila tidak, diperkirakan kondisi nasional akan semakin parah. Bertitik tolak dari pertemuan tersebut, para alumni ITB mulai mengembangkan kelompok. Kelompok-kelompok tersebut melakukan pendekatan termasuk kepada kelompok militer.
Pada tanggal 12 Mei 1998 dilakukan demo besar-besaran di kampus Universitas Trisakti menuju ke gedung DPR/MPR. Para demonstran ditahan petugas seratus meter dari gerbang dan tidak diperkenankan maju lagi karena akan mengganggu lalu lintas. Permintaan untuk lewat jalan tol juga tidak dikabulkan petugas sehingga mereka melakukan aksi duduk. Tak berapa lama terdengar senapan dikokang. Polisi menyerbu kampus dan letusan terus bergema di angkasa. Polisi menembaki mahasiswa dari luar ke dalam kampus. Letusan senapan terdengar tak henti-hentinya bagai petasan di hari lebaran. Saat hari menjelang gelap terdengar sirene ambulans masuk ke kampus. Empat mahasiswa Universitas Trisakti tertembak.
Jakarta memanas dan menjadi lautan api. Kerusuhan terjadi di mana-mana. Tanggal 19 dan 20 Mei 1998 mahasiswa melakukan demo besar-besaran kembali. Presiden Soeharto turun pada tanggal 21 Mei 1998. Sejarah kelam telah tenggelam, sejarah baru akan menyingsing.

Dulu kita pernah peduli. Sekarang, ke mana perginya hati nurani?
Sepatu yang dulu dipakai oleh orang yang kita protes dua puluh sampai tiga puluh tahun yang lalu kini telah berpindah ke kaki kita. Seyogianyalah kita pakai untuk menegakkan keadilan di manapun kita berada.

Sebuah teks kalimat berwarna merah darah terpampang di layar.
Film selesai.
Lampu-lampu di Aula Barat menyala terang. Seorang laki-laki maju ke depan panggung, ”Saudara-saudara, telah kita saksikan betapa penderitaan telah mendera bangsa ini sekian lama, bahkan sebagian di antara saudara-saudara kita belum pernah satu kali pun merasakan bahwa bangsa ini telah merdeka selama 64 tahun, sepanjang usia sebuah generasi. Kita telah menjadi bagian dari proses perjuangan, proses membentuk kemakmuran, dan mungkin sebagian proses kehancuran itu sendiri. Masih belum puaskah dengan segala nikmat yang telah kita kecap? Kapan kita akan berhenti mementingkan diri sementara sisa hidup kita tinggal sebentar lagi. Bahkan kita pun tak tahu apakah esok pagi kita masih dapat melihat matahari. Marilah kita membuat master plan untuk mencapai Indonesia Jaya. Inilah kesempatan yang mungkin takkan pernah datang dua kali dalam hidup kita!” Fuad berorasi penuh wibawa.
“Saudara-saudara sealmamater, saatnya kita merapatkan barisan, membuat perubahan, membaktikan diri kepada kemaslahatan. Tak harus semuanya dari ITB, oleh ITB, untuk ITB! Tetapi kita gandeng semua almamater, semua civitas dari semua universitas tempat kaum muda Indonesia berada: UI, UGM, IPB, Undip, Unhas, Uncen, Unpad, maupun universitas swasta yang ada. Bahkan semua putra-putri terbaik Indonesia yang saat ini sedang menuntut ilmu di mancanegara. Amerika, Inggris, Jepang, Australia, Kanada, Malaysia. Tak ada yang lebih berarti dalam hidup ini kecuali memberi! Mari kita bekerja keras, bekerja cerdas, bekerja tuntas, dan bekerja ikhlas!” Slamet menimpali dari sisi ruang yang lain.
“Kita buat real masterplan, terlalu banyak potensi yang tersia-sia. Terlalu panjang titik jaringan yang tak tersambung. Terlalu banyak waktu yang telah terbuang. Kita bangkit kembali, sekarang atau tidak pernah sama sekali!” Poltak membakar audience yang tersengat, sadar untuk menjadi berarti.
“Inilah saatnya membuat jadwal rinci, rancangan aktivitas dan alokasi personel yang segera akan kita realisasikan!” Gun Gun membagi-bagikan agenda ke seluruh peserta, sambil menginformasikan web yang bisa diakses semua peserta untuk betul-betul membuat action plan yang telah dirancang sedemikian detail dari pemikiran banyak orang dalam mailing list yang dimoderatorinya, yang sudah disarikan sekian lama.
Hadirin tak beranjak dari tempat duduk, masih termangu. Terbakar rasa nasionalismenya dan mengucapkan niat dalam hati untuk berkontribusi secara nyata bagi perbaikan negeri untuk anak cucu mereka sendiri, agar mereka tak hidup terlunta-lunta, agar tak terus menjadi bangsa korup yang paria di mata dunia.
Benny memimpin bandnya, alunan musik bergema di ruangan yang berarsitektur sangat anggun dan agung. Lengkungan kayu penyangga langit-langit ruangan bagai tangan-tangan kokoh kaum muda yang siap menerima tangung jawab, tongkat estafet kepemimpinan.
Tekad di dada terpatri kuat, melekat, tak lekang lagi hanya oleh godaan sesaat. Kini saatnya memberi,
Hadirin berdiri, bernyanyi bersama, bergandengan tangan, saling mengikat untuk membentuk langkah nyata. Bukan saatnya lagi berwacana.
Lagu Kebyar-kebyar dari almarhum Gombloh membahana, membakar jiwa dan sipirit para hadirin untuk segera menuntaskan agenda.Tak sabar menunggu fajar menyingsing.

Indonesia… 
Merah darahku, putih tulangku 
Bersatu dalam semangatmu 

Indonesia… 
Debar jantungku, getar nadiku 
Berbaur dalam angan-anganmu 

Kebyar-kebyar, pelangi jingga 

Biarpun bumi bergoncang 
Kau tetap indonesiaku 
Andaikan matahari terbit dari barat 
Kaupun tetap indonesiaku 
Tak sebilah pedang yang tajam 
Dapat palingkan daku darimu 
Kusingsingkan lengan 
Rawe-rawe rantas 
Malang-malang tuntas 
Denganmu… 

Indonesia… 
Merah darahku, putih tulangku 
Bersatu dalam semangatmu 

Indonesia… 
Debar jantungku, getar nadiku 
Berbaur dalam angan-anganmu 

Kebyar-kebyar, pelangi jingga 

Indonesia… 
Merah darahku, putih tulangku 
Bersatu dalam semangatmu 

Indonesia… 
Nada laguku, simfoniperteguh 
Selaras dengan simfoni

Sejarah besar kembali dimulai, kebangkitan kembali Indonesia untuk yang kesekian kali setelah zaman Sriwijaya, Majapahit, Mataram Islam, Kebangkitan Nasional 1908, Kemerdekaan 1945, dan kini 2009, siap mengantarkan Indonesia menjadi negeri yang gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharjo, baldatun toyyibatun warofun ghofur!
Gading-gading Ganesha menyodet kembali magma yang terpendam, memuntahkan lahar dengan gelora tak tertahankan untuk memberikan manfaat yang lebih nyata bagi setiap jengkal yang dilewati alirannya. Setiap insan yang hadir dalam ruangan keluar dengan kepala tegak dan niat yang tak lagi mudah dibengkokkan: menjadi rahmatan lil alamin. Menjadi rahmat bagi sekalian semesta alam.

ΩΩΩΩΩ

Esok paginya, saat para alumni yang semalam menghadiri acara reuni memulai agenda rutinnya, memencet keyboard komputer masing-masing di kampus, di perusahaan, di departemen, atau di rumah, mereka disambut puisi yang ditulis oleh Baby Ahnan, ITB angkatan ‘77.

Selamat pagi Indonesia
Selamat pagi Indonesia
Kami termasuk 80% rakyatmu
Yang rajin bangun pagi
Yang tidak pernah gentar
Bangun lebih dahulu dari matahari

Selamat pagi Indonesia
Di bumimu kami berdiri
Dengan mengepal segenggam ‘kesungguhan’
Yang kami dekap erat
Tepat di jantung kamu berdetak
Menapaki hari demi hari

Selamat pagi Indonesia
Di bumimu keringat kami jatuh
Kami bekerja keras pantang mengeluh
Tak perlu diajari lagi!
Karena kerja keras adalah napas kami

Selamat pagi Indonesia
Merah-putihmu berkibar di hati
Kerja bagi kami adalah harga diri
Kerja bagi kami
Adalah mengerahkan kekuatan kami sendiri
Karena kami tidak sudi korupsi!

Selamat pagi Indonesia
Kerja adalah kebanggaan kami
Demi sebuah eksistensi

Selamat pagi Indonesia

Puisi itu berbalas dengan analisis yang dikirim oleh Hengky, alumni ITB yang menjadi direktur utama perusahaan milik negara yang mengelola proses pembangunan pabrik yang berani bersaing dengan perusahaan ternama dari luar negeri.

Setelah 25 tahun bekerja, baru saya sadari bahwa keterpurukan bangsa Indonesia disebabkan oleh insinyur-insinyur Indonesia yang kurang berkarya dan memberikan solusi kepada bangsanya. Kesalahan tidak terletak pada para ekonom, politikus, jajaran TNI, Polri, penegak hukum, ataupun jajaran lainnya. Namun kesalahan sepenuhnya terletak pada pundak para insinyur Indonesia. Tidak akan ada insinyur Amerika yang akan memikirkan kemajuan bangsa Indonesia. Tidak akan ada insinyur Jepang yang akan memikirkan kesejahteraan rakyat Indonesia. Yang harus memikirkan kemajuan negara Indonesia dan kesejahteraan rakyatnya hanya insinyur Indonesia.
………………………………………………………..
(berlanjut)

Dear all,

Romantisme kehidupan kampus tak lekang oleh waktu, dipotret dalam novel edisi terbaru 3G: Gading-gading Ganesha, yang diedit ulang sehingga lebih lincah bertutur kata. Diterbitkan oleh Gramedia, dengan bagian lengkap (tanpa potongan dari penerbit) yang akan menemui anda sekalian tanggal 8 April 2013 dengan tata wajah baru.. Selamat bernostalgia, memotret kembali romantisme perjuangan masa lalu dan extrapolasi masa kini dan masa depan...

Wibi
..............................................

Sebagian dari isi Bab 12:................................................

Flash film berlanjut dengan snapshot terpilihnya Mahmoud Ahmadinejad sebagai Presiden Iran yang mencengangkan. Dalam kesehariannya, sang presiden dari negara penghasil minyak lima besar di dunia itu dengan ikhlas bersedia tinggal di rumah sangat sederhana yang terletak di gang sempit. Menghibahkan karpet-karpet mewah Persia istana kepresidenan ke masjid-masjid. Hanya menyantap sandwich yang terbuat dari roti murahan yang menjadi bekal dari rumah---buatan istri tercinta---untuk makan siang. Memilih tidur di karpet, bukan di kasur empuk hotel dalam setiap kunjungannya. Yang dengan jujur dan berani menyatakan bahwa memang tampangnya seperti pelayan, karena tugasnya memang melayani. Yang menikahkan putranya di rumahnya yang sederhana dengan sajian buah apel dan air putih saja. Tak ada perancang busana sekelas Cristian Dior atau Anne Avantie, tak ada mobil pengantin Mercedes atau limosin. Tak ada sumbangan dan upeti berupa kunci mobil atau kunci rumah yang siap ditempati sang mempelai seusai pesta, dan tak harus repot melaporkan sumbangan yang diterimanya kepada KPK, karena memang tidak menerima apa-apa kecuali kunjungan dan doa.

Kapankah kita memiliki pemimpin seperti ini? Mengapa engkau masih selalu menumpuk harta untuk diri sendiri, kapankah mulai berpikir dan bertindak untuk mandiri?

Film terus berlanjut dengan menampilkan penggalan surat perpisahan dari Che Guevara kepada presiden Kuba, Fidel Castro, yang melakukan perubahan revolusioner dan tidak pernah mau tunduk kepada keangkuhan dan ketamakan Amerika Serikat. Tak peduli Amerika Serikat hanya terletak selayang pandang di depan mata, sehingga sekali dirudal antarbenua bahkan antarpulau sekalipun, Kuba akan segera luluh lantak, takkan lagi ada dalam peta dan sejarah bangsa-bangsa.
Surat Che Guevara ditayangkan di layar lebar diringi pembacaan yang menggema ke segenap penjuru ruangan. Che memberikan spirit untuk menjadi pemimpin yang berani dan berintegritas. Tak luntur dan tak terbeli kecintaannya terhadap negara, bangsa, dan rakyatnya. Tak tunduk dan tak mudah didikte oleh uang dan kekuatan senjata.
Arsip Che Guevara Archives
Surat Perpisahan Che Kepada Fidel Castro

"Year of Agriculture"
Havana, April 1, 1965

At this moment I remember many things---when I met you in Maria Antonia's house, when you proposed I come along, all the tensions involved in the preparations. One day they came by and asked who should be notified in case of death, and the real possibility of it struck us all. Later we knew it was true, that in a revolution one wins or dies (if it is a real one). Many comrades fell along the way to victory.
            Today everything has a less dramatic tone, because we are more mature, but the event repeats itself. I feel that I have fulfilled the part of my duty that tied me to the Cuban Revolution on its territory, and I say farewell to you, to the comrades, to your people, who now are mine.
            …
Other nations of the world summon my modest efforts of assistance. I can do that which is denied you due to your responsibility at head of Cuba, and the time has come for us to part.
You should know that I do so with a mixture of joy and sorrow. I leave here the purest of my hopes as a builder and the dearest of those I hold dear. And I leave a people who received me as a son. That wounds a part of my spirit. I carry to new battlefronts the faith that you taught me, the revolutionary spirit of my people, the feeling of fulfilling the most sacred of duties: to fight against imperialism wherever one may be. This is a source of strength, and more than heals the deepest of wounds.
.                       ...
            I have always been identified with the foreign policy of our revolution, and I continue to be. Wherever I am, I will feel the responsibility of being a Cuban revolutionary, and I shall behave as such. I am not sorry that I leave nothing material to my wife and children; I am happy it is that way. I ask nothing for them, as the state will provide them with enough to live on and receive an education.
...
Ever onward to victory!
Homeland or Death!
I embrace you with all my revolutionary fervour.

Che

      Para hadirin di Aula Barat terdiam dan tercekam. Terangkat emosi dan spiritnya untuk suatu saat bisa menjadi seperti seorang Che.
Flash film berlanjut pada momen terpilihnya Barack Hussein Obama, yang pernah tinggal di Indonesia, menempuh SD-nya pada tahun 1967-1971, dan satu tempat tidur dengan salah seorang dosen ITB dalam masa-masa liburannya di Yogyakarta. Film yang menayangkan Obama menyampaikan pidato kemenangan di Chicago.

      Hello, Chicago!
If there is anyone out there who still doubts that America is a place where all things are possible, who still wonders if the dream of our founders is alive in our time, who still questions the power of our democracy, tonight is your answer.
....
It’s the answer spoken by young and old, rich and poor, Democrat and Republican, black, white, Hispanic, Asian, Native American, gay, straight, disabled and not disabled, Americans who sent a message to the world that we have never been just a collection of individuals or a collection of red states and blue states.
...
It’s been a long time coming, but tonight, because of what we did on this date in this election at this defining moment, change has come to America.
...
And I would not be standing here tonight without the unyielding support of my best friend for the last 16 years, the rock of our family, the love of my life, the nation’s next first lady Michelle Obama.
...
But above all, I will never forget who this victory truly belongs to. It belongs to you. It belongs to you.
I was never the likeliest candidate for this office.
We didn’t start with much money or many endorsements.
Our campaign was not hatched in the halls of Washington. It began in the backyards of Des Moines and the living rooms of Concord and the front porches of Charleston.
It was built by working men and women who dug into what little savings they had to give 5 and 10 and 20 to the cause.
It grew strength from the young people who rejected the myth of their generation’s apathy, who left their homes and their families for jobs that offered little pay and less sleep.
It drew strength from the not-so-young people who braved the bitter cold and scorching heat to knock on doors of perfect strangers, and from the millions of Americans who volunteered and organised and proved that more than two centuries later a government of the people, by the people, and for the people has not perished from the Earth.
This is your victory.
You did it because you understand the enormity of the task that lies ahead. For even as we celebrate tonight, we know the challenges that tomorrow will bring are the greatest of our lifetime---two wars, a planet in peril, the worst financial crisis in a century.
The road ahead will be long. Our climb will be steep. We may not get there in one year or even in one term. But, America, I have never been more hopeful than I am tonight that we will get there.
I promise you, we as a people will get there.
....
This victory alone is not the change we seek. It is only the chance for us to make that change. And that cannot happen if we go back to the way things were.
It can’t happen without you, without a new spirit of service, a new spirit of sacrifice.
So let us summon a new spirit of patriotism, of responsibility, where each of us resolves to pitch in and work harder and look after not only ourselves but each other.
...
As Lincoln said to a nation far more divided than ours, we are not enemies but friends. Though passion may have strained, it must not break our bonds of affection.
...
This is our time, to put our people back to work and open doors of opportunity for our kids; to restore prosperity and promote the cause of peace; to reklaim the American dream and reaffirm that fundamental truth, that, out of many, we are one; that while we breathe, we hope. And where we are met with cynicism and doubts and those who tell us that we can’t, we will respond with that timeless creed that sums up the spirit of a people: Yes, we can!
Thank you. God bless you. And may God bless the United States of America.

            Film berganti dengan tayangan hitam-putih yang agak kabur. Suasana tahun 1966, saat mahasiswa ITB ikut mendemo senior dan panutannya sendiri, Presiden Soekarno. Kultus individu yang kebablasan, demokrasi yang terlecehkan, antrean rakyat mengular untuk sekadar mendapatkan beras dan minyak tanah. Rakyat yang hanya mampu makan bulgur, nasi jagung, dan nasi aking. Penangkapan para pekerja seni dan penyetopan segala macam berita serta informasi dari luar negeri. Mahasiswa ITB menentang segala bentuk tirani, walau itu dilakukan oleh alumninya sendiri.
Sejarah berulang. Film berlanjut dengan suasana tahun 1978, saat kampus ITB diduduki militer. Tentara bersenjata masuk kampus, truk-truk militer menangkapi para aktivis, tentara mengejar mahasiswa, menggebuki saat menangkap, dan menyeretnya. Perlawanan fisik yang tak seimbang. Rumah rektor ITB, almarhum Prof. Iskandar Alisyahbana, ditembaki gentengnya oleh tentara tanpa surat perintah. Dari tahun 1978, film tentang berbagai demonstrasi yang pernah digalang, digagas, dan dipelopori mahasiswa ITB dibeberkan. Kasus Badega, Kaca Piring, penolakan kedatangan Mendagri Rudini, dan berbagai demonstrasi lain yang pada hakekatnya menunjukkan keberpihakan mahasiswa ITB terhadap penindasan rakyat.
Spot film loncat lagi ke masa 1997, yang berisi snapshot terjadinya krisis moneter yang terus berkepanjangan sampai saat ini.

Indonesia mengalami krisis moneter mulai akhir Juli 1997 sampai pertengahan 1999. Saat krisis moneter baru berjalan dua bulan dan nilai rupiah menyentuh Rp. 3.000/US$, bank-bank asing masih percaya kepada perbankan nasional. Namun ketika Presiden Soeharto menandatangani Letter of Intent dengan IMF pada awal November 1997 yang dilanjutkan dengan tindakan BI melikuidasi 16 bank, runtuhlah kepercayaan bank-bank asing terhadap perbankan nasional sekalipun itu BUMN. Terjadi chaos di dunia perbankan nasional. Perusahaan-perusahaan besar dan menengah serta masyarakat golongan atas, secara sadar maupun ikut-ikutan, selama lebih dari setahun menguras rupiahnya dari bank dan memborong dolar untuk diparkir di bank-bank luar negeri. Capital flight ini mengakibatkan kelangkaan dolar di dalam negeri. Dengan dolar yang menipis, bank-bank devisa nasional tidak dapat memenuhi kewajibannya yang jatuh tempo. Mereka terpaksa menunggak pembayaraan L/C (Letter of Credit) impor nasabah dan pinjaman pasar uang dalam dolar. Bank memiliki rupiah dalam jumlah besar akibat suku bunga deposito yang terlalu tinggi (tujuh puluh persen per tahun pada akhir November 1997) tapi ruang gerak mereka untuk membeli dolar terbatas akibat ulah spekulan (fund manager) di Singapura dan Hongkong. Rupiah semakin loyo dan sampai menyentuh Rp. 17.000/ US$ walau hanya berlangsung satu hari pada Januari 2008. Country rating (stabilitas negara) Indonesia turun dari kategori BBB+ (awal Juli 1997) menjadi CCC. Perbankan nasional mengalami “pendarahan” karena digerotori negative spread (hasil bunga yang diterima dari peminjam lebih kecil daripada bunga yang dibayarkan ke deposito). Inilah bukti lemahnya struktur perbankan yang dibangun di atas bunga yang merupakan riba.
Di bulan Ramadhan akhir tahun 1997, beberapa alumni ITB berkumpul di Wisma Sawunggaling, Bandung, dan keluar dengan analisis bahwa secara politis, ekonomi, dan sosial, rapat berpendapat bahwa Presiden Soeharto harus segera diturunkan dari jabatannya. Bila tidak, diperkirakan kondisi nasional akan semakin parah. Bertitik tolak dari pertemuan tersebut, para alumni ITB mulai mengembangkan kelompok. Kelompok-kelompok tersebut melakukan pendekatan termasuk kepada kelompok militer.
Pada tanggal 12 Mei 1998 dilakukan demo besar-besaran di kampus Universitas Trisakti menuju ke gedung DPR/MPR. Para demonstran ditahan petugas seratus meter dari gerbang dan tidak diperkenankan maju lagi karena akan mengganggu lalu lintas. Permintaan untuk lewat jalan tol juga tidak dikabulkan petugas sehingga mereka melakukan aksi duduk. Tak berapa lama terdengar senapan dikokang.  Polisi menyerbu kampus dan letusan terus bergema di angkasa. Polisi menembaki mahasiswa dari luar ke dalam kampus. Letusan senapan terdengar tak henti-hentinya bagai petasan di hari lebaran. Saat hari menjelang gelap terdengar sirene ambulans masuk ke kampus. Empat mahasiswa Universitas Trisakti tertembak.
Jakarta memanas dan menjadi lautan api. Kerusuhan terjadi di mana-mana. Tanggal 19 dan 20 Mei 1998 mahasiswa melakukan demo besar-besaran kembali. Presiden Soeharto turun pada tanggal 21 Mei 1998. Sejarah kelam telah tenggelam, sejarah baru akan menyingsing.
…

Dulu kita pernah peduli. Sekarang, ke mana perginya hati nurani?
Sepatu yang dulu dipakai oleh orang yang kita protes dua puluh sampai tiga puluh tahun yang lalu kini telah berpindah ke kaki kita. Seyogianyalah kita pakai untuk menegakkan keadilan di manapun kita berada.

Sebuah teks kalimat berwarna merah darah terpampang di layar.
Film selesai.
Lampu-lampu di Aula Barat menyala terang. Seorang laki-laki maju ke depan panggung, ”Saudara-saudara, telah kita saksikan betapa penderitaan telah mendera bangsa ini sekian lama, bahkan sebagian di antara saudara-saudara kita belum pernah satu kali pun merasakan bahwa bangsa ini telah merdeka selama 64 tahun, sepanjang usia sebuah generasi. Kita telah menjadi bagian dari proses perjuangan, proses membentuk kemakmuran, dan mungkin sebagian proses kehancuran itu sendiri. Masih belum puaskah dengan segala nikmat yang telah kita kecap? Kapan kita akan berhenti mementingkan diri sementara sisa hidup kita tinggal sebentar lagi. Bahkan kita pun tak tahu apakah esok pagi kita masih dapat melihat matahari. Marilah kita membuat master plan untuk mencapai Indonesia Jaya. Inilah kesempatan yang mungkin takkan pernah datang dua kali dalam hidup kita!” Fuad berorasi penuh wibawa.
            “Saudara-saudara sealmamater, saatnya kita merapatkan barisan, membuat perubahan, membaktikan diri kepada kemaslahatan. Tak harus semuanya dari ITB, oleh ITB, untuk ITB! Tetapi kita gandeng semua almamater, semua civitas dari semua universitas tempat kaum muda Indonesia berada: UI, UGM, IPB, Undip, Unhas, Uncen, Unpad, maupun universitas swasta yang ada. Bahkan semua putra-putri terbaik Indonesia yang saat ini sedang menuntut ilmu di mancanegara. Amerika, Inggris, Jepang, Australia, Kanada, Malaysia. Tak ada yang lebih berarti dalam hidup ini kecuali memberi! Mari kita bekerja keras, bekerja cerdas, bekerja tuntas, dan bekerja ikhlas!” Slamet menimpali dari sisi ruang yang lain.
            “Kita buat real masterplan, terlalu banyak potensi yang tersia-sia. Terlalu panjang titik jaringan yang tak tersambung. Terlalu banyak waktu yang telah terbuang. Kita bangkit kembali, sekarang atau tidak pernah sama sekali!” Poltak membakar audience yang tersengat, sadar untuk menjadi berarti.
            “Inilah saatnya membuat jadwal rinci, rancangan aktivitas dan alokasi personel yang segera akan kita realisasikan!” Gun Gun membagi-bagikan agenda ke seluruh peserta, sambil menginformasikan web yang bisa diakses semua peserta untuk betul-betul membuat action plan yang telah dirancang sedemikian detail dari pemikiran banyak orang dalam mailing list yang dimoderatorinya, yang sudah disarikan sekian lama.
            Hadirin tak beranjak dari tempat duduk, masih termangu. Terbakar rasa nasionalismenya dan mengucapkan niat dalam hati untuk berkontribusi secara nyata bagi perbaikan negeri untuk anak cucu mereka sendiri, agar mereka tak hidup terlunta-lunta, agar tak terus menjadi bangsa korup yang paria di mata dunia.
Benny memimpin bandnya, alunan musik bergema di ruangan yang berarsitektur sangat anggun dan agung. Lengkungan kayu penyangga langit-langit ruangan bagai tangan-tangan kokoh kaum muda yang siap menerima tangung jawab, tongkat estafet kepemimpinan.
Tekad  di dada terpatri kuat, melekat, tak lekang lagi hanya oleh godaan sesaat. Kini saatnya memberi,
Hadirin berdiri, bernyanyi bersama, bergandengan tangan, saling mengikat untuk membentuk langkah nyata. Bukan saatnya lagi berwacana.
            Lagu Kebyar-kebyar dari almarhum Gombloh membahana, membakar jiwa dan sipirit para hadirin untuk segera menuntaskan agenda.Tak sabar menunggu fajar menyingsing.

Indonesia... 
Merah darahku, putih tulangku 
Bersatu dalam semangatmu 

Indonesia... 
Debar jantungku, getar nadiku 
Berbaur dalam angan-anganmu 

Kebyar-kebyar, pelangi jingga 

Biarpun bumi bergoncang 
Kau tetap indonesiaku 
Andaikan matahari terbit dari barat 
Kaupun tetap indonesiaku 
Tak sebilah pedang yang tajam 
Dapat palingkan daku darimu 
Kusingsingkan lengan 
Rawe-rawe rantas 
Malang-malang tuntas 
Denganmu... 

Indonesia... 
Merah darahku, putih tulangku 
Bersatu dalam semangatmu 

Indonesia... 
Debar jantungku, getar nadiku 
Berbaur dalam angan-anganmu 

Kebyar-kebyar, pelangi jingga 

Indonesia... 
Merah darahku, putih tulangku 
Bersatu dalam semangatmu 

Indonesia... 
Nada laguku, simfoniperteguh 
Selaras dengan simfoni

            Sejarah besar kembali dimulai, kebangkitan kembali Indonesia untuk yang kesekian kali setelah zaman Sriwijaya, Majapahit, Mataram Islam, Kebangkitan Nasional 1908, Kemerdekaan 1945, dan kini 2009, siap mengantarkan Indonesia menjadi negeri yang gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharjo, baldatun toyyibatun warofun ghofur!
            Gading-gading Ganesha menyodet kembali magma yang terpendam, memuntahkan lahar dengan gelora tak tertahankan untuk memberikan manfaat yang lebih nyata bagi setiap jengkal yang dilewati alirannya. Setiap insan yang hadir dalam ruangan keluar dengan kepala tegak dan niat yang tak lagi mudah dibengkokkan: menjadi rahmatan lil alamin. Menjadi rahmat bagi sekalian semesta alam.

ΩΩΩΩΩ

            Esok paginya, saat para alumni yang semalam menghadiri acara reuni memulai agenda rutinnya, memencet keyboard komputer masing-masing di kampus, di perusahaan, di departemen, atau di rumah, mereka disambut puisi yang ditulis oleh  Baby Ahnan, ITB angkatan ‘77.

Selamat pagi Indonesia
Selamat pagi Indonesia
Kami termasuk 80% rakyatmu
Yang rajin bangun pagi
Yang tidak pernah gentar
Bangun lebih dahulu dari matahari

Selamat pagi Indonesia
Di bumimu kami berdiri
  Dengan mengepal segenggam ‘kesungguhan’
Yang kami dekap erat
Tepat di jantung kamu berdetak
Menapaki hari demi hari

Selamat pagi Indonesia
Di bumimu keringat kami jatuh
Kami bekerja keras pantang mengeluh
Tak perlu diajari lagi!
Karena kerja keras adalah napas kami

Selamat pagi Indonesia
Merah-putihmu berkibar di hati
Kerja bagi kami adalah harga diri
Kerja bagi kami
Adalah mengerahkan kekuatan kami sendiri
Karena kami tidak sudi korupsi!

Selamat pagi Indonesia
Kerja adalah kebanggaan kami
Demi sebuah eksistensi

Selamat pagi Indonesia

Puisi itu berbalas dengan analisis yang dikirim oleh Hengky, alumni ITB yang menjadi direktur utama perusahaan milik negara yang mengelola proses pembangunan pabrik yang berani bersaing dengan perusahaan ternama dari luar negeri.

Setelah 25 tahun bekerja, baru saya sadari bahwa keterpurukan bangsa Indonesia disebabkan oleh insinyur-insinyur Indonesia yang kurang berkarya dan memberikan solusi kepada bangsanya. Kesalahan tidak terletak pada para ekonom, politikus, jajaran TNI, Polri, penegak hukum, ataupun jajaran lainnya. Namun kesalahan sepenuhnya terletak pada pundak para insinyur Indonesia. Tidak akan ada insinyur Amerika yang akan memikirkan kemajuan bangsa Indonesia. Tidak akan ada insinyur Jepang yang akan memikirkan kesejahteraan rakyat Indonesia. Yang harus memikirkan kemajuan negara Indonesia dan kesejahteraan rakyatnya hanya insinyur Indonesia. 
.................................................................
(berlanjut)

Like ·  · Unfol

Read Full Post »

Cover_3G_Gramedia

Read Full Post »

Here are several books could be used to increase your company performance and your individual perform.

1. Academic books

Cover_Case_I_100714Published: Andi Publisher – Jogjakarta

Author: Prof. Dermawan Wibisono

You can get it at August 2014

 

Cover_jerman_230414Published by: Lambert Academic Publishing, Germany

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it through their web site: http://www.lap-publishing.com

Since it is e-book

 

Skripsi, Thesis, Disertasi

Published by: Andi Publisher

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it on June 2013

 

 

Good reference

Published by: Gramedia

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it January 2013

Published by: Penerbit Erlangga, 2011

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it at the end of June  2011

Published: Penerbit Erlangga, 2006

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get in Gramedia or directly to publisher on line

Published by Gramedia, 2003

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it through Gramedia on line

2. Character Building  novels

Cover_3G_Gramedia

Published by: Gramedia

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it 18 April 2013

Publisher : Inti Medina, Tiga Serangkai Solo, 2010

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it through publisher  or public book shops: funny, romantic, enthutiastic, spirit

Publisher: Mizan, 2009

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it through Mizan publishing on line or book shop: spirit to be the best, ITB novel background, romantic, funny, struggling

Publisher: MQS Publishing, 2008

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it through MQS on line or book shop: heroic, struggle, child appropriateness, motivation

Read Full Post »