Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘remaja’

Here are several books could be used to increase your company performance and your individual perform.

1. Academic books

Cover_Case_I_100714Published: Andi Publisher – Jogjakarta

Author: Prof. Dermawan Wibisono

You can get it at August 2014

 

Cover_jerman_230414Published by: Lambert Academic Publishing, Germany

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it through their web site: http://www.lap-publishing.com

Since it is e-book

 

Skripsi, Thesis, Disertasi

Published by: Andi Publisher

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it on June 2013

 

 

Good reference

Published by: Gramedia

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it January 2013

Published by: Penerbit Erlangga, 2011

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it at the end of June  2011

Published: Penerbit Erlangga, 2006

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get in Gramedia or directly to publisher on line

Published by Gramedia, 2003

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it through Gramedia on line

2. Character Building  novels

Cover_3G_Gramedia

Published by: Gramedia

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it 18 April 2013

Publisher : Inti Medina, Tiga Serangkai Solo, 2010

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it through publisher  or public book shops: funny, romantic, enthutiastic, spirit

Publisher: Mizan, 2009

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it through Mizan publishing on line or book shop: spirit to be the best, ITB novel background, romantic, funny, struggling

Publisher: MQS Publishing, 2008

Author: Prof. Dr. Dermawan Wibisono

You can get it through MQS on line or book shop: heroic, struggle, child appropriateness, motivation

Read Full Post »

Dua Hati

Oleh: Fira Bestari

Lima belas tahun sudah bahtera rumah tangga kami kayuh dengan susah payah. Bangunan rumah tangga yang kami dirikan di atas fondasi cinta yang rapuh. Pernikahan yang berlangsung dengan satu pertanyaan yang tak pernah dapat aku temukan jawabnya: akukah bagian dari tulang rusuk lelaki yang saat ini menjadi suamiku itu? Sungguh berat menjadi wanita di negeri ini. Wanita yang tak berhak memilih. Wanita yang tak dapat menentukan siapa calon suami yang kelak akan mewarnai gelaran panjang sisa hidupnya. Wanita yang hanya dapat menjawab ya atau tidak bagi laki-laki yang datang menghampiri. Dan yang selalu mengunjungiku mengapa bukan lelaki yang sebenarnya aku maui?

Wanita dipaksa berubah ketika usia merambat senja. Cinta bukan lagi kebutuhan hati yang harus dituruti. Pengertian dan logika lah yang lebih dominan menentukan, sambil terus berharap bahwa cinta akan timbul di hilir perjalanan biduk rumah tangga. Waktu terus melaju, memburuku untuk menetapkan pilihan: menjadi perawan tua atau menikah dengan laki-laki yang tidak aku cintai?

Setelah berkali-kali kandas dalam membina pengertian dan berusaha merajut cinta sekuat tenaga, akhirnya aku melangsungkan pernikahan ini. Itupun setelah aku ketahui bahwa pria yang aku ingini telah tertambat di dermaga hati wanita lain. Pria yang senantiasa di hati, mencengkeram, mengeram, bagai peluru yang bersarang di dasar hatiku yang terdalam tak akan pernah aku miliki.

Dia telah melangsungkan pernikahannya sembilan bulan lalu. Pernikahan yang hanya aku ketahui dari seorang teman dekat wanitaku, yang aku tahu diapun menaruh hati pada laki-laki itu. Kami bersahabat karib sejak SMU sekaligus bersaing dalam dua hal: prestasi sekolah dan prestasi merebut hati lelaki itu. Kami berdua sama-sama gagal. Sama-sama kalap.

Aku kalap, bagai orang tenggelam di pusaran sungai garang. Menggapai-gapai apa saja yang dapat kuraih untuk menyelamatkan jiwaku. Merengkuh siapa saja yang bersedia menjadi shelter, tempat aku berteduh. Menerima simpati setiap lelaki yang menawarkan sebidang hati dan janji. Berganti-ganti, tapi tak ada seorangpun yang sanggup menggantikan pesona dan karismanya di hatiku.

Waktu terus berpacu, sampai kemudian kuterima lamaran lelaki yang kini jadi suamiku ini tanpa berfikir panjang. Kuterima lamaran lelaki ini setelah kandas dalam pertunangan dengan lelaki sebelumnya. Pertunangan yang meninggalkan jiwa dan hati yang hampa. Hati wanita yang kosong, amat mudah dimasuki dan dirasuki bisikan dan bujuk rayu lelaki yang menawarkan segunung harapan. Di hati yang hampa itulah, lelaki yang saat ini jadi suamiku itu mendaratkan diri.

“Hati-hati Mas selama di luar negeri…” kataku datar, ada kegelisahan di hati, yang aku tak tahu apa penyebabnya.

“Mama ingin oleh-oleh apa?” tanya suamiku hangat. Kehangatan yang tak lagi bermakna bagiku setelah kudapati dia menduakan hatiku dengan teman sekantornya dua tahun yang lalu. Sebuah episod yang amat menyayat hatiku. Sebuah pergulatan batin yang panjang. Sebuah pengkhianatan wanita atas kesetiaan wanita lain bagi lelaki yang telah sah menjadi suaminya. Wanita yang merebut separo dari bilik dan serambi jantung-hati suamiku. Perebutan tahta yang bermula dari tugas kantor keluar negeri semacam ini. Hatiku yang tak terbekali cinta yang cukup dalam kepadanya semakin membeku, manakala aku harus melepasnya di air port, seperti dua tahun yang lalu. Bagiku, air port adalah asal mula setiap prahara.

“Kok melamun, ayolah jangan menangis, Papa kan cuma 1 bulan. Sebulan nggak lama kan?…takut kangen ya?”  gurau suamiku sambil mengusap buliran bening air mata yang mulai menetes satu-satu dari kedua bola mataku. Air mata yang jatuh tanpa kuketahui apa sebabnya. Air mata yang menetes tanpa kuketahui untuk apa.

Semuanya terbayang kembali. Kejadian dua tahun lalu itu bagai film flash back menjejali memori hati dan pikiranku. Membiaskan bayang yang teramat jelas di kedua pelupuk mataku. Menari-nari tanpa henti. Mengaduk-aduk dadaku yang semakin sesak. Semuanya  bermula dari airport ini.

 

Ah, betapa waktu, karir dan materi selalu berhasil mengubah seorang lelaki.  Semenjak bekerja di lembaga bentukan pemerintah untuk mengatasi krisis ekonomi ini, kehidupan kami mendadak sontak berubah. Segala peluh dan kesah yang tiap hari harus kami gulati di ganasnya kehidupan Jakarta tak lagi tersisa. Segalanya menjadi mudah, segalanya menjadi murah. Dan aku yang bersusah payah beriring bersamanya sejak menempati rumah kontrakan kami yang bocor dan sering tergenang banjir, sungguh sakit mendapati adanya wanita lain yang dengan mudahnya mendarat empuk di pangkuannya ketika sofa kami tak lagi tergenang air dan rumah kami tak lagi harus melewati gang berliku itu.

“Apakah Mas mencintainya?!!” sergapku dengan nada tinggi

“Ma’afkan aku Ma, aku khilaf”jawabnya tanpa menoleh ke arahku sedikitpun .Ingin aku menatap bola matanya. Ingin aku lihat mata kejujuran tepat di pupilnya. Namun selalu saja dia melengos, menunduk, memandang kejauhan atau bahkan memejamkan kedua matanya. Mata sang jendela jiwa. Mata tak akan pernah berdusta. Agaknya tahu benar suamiku akan hal itu, sehingga dia tak sekalipun mau beradu pandang denganku.

“Betapa mudahnya permintaan maaf itu keluar dari mulutmu Mas, betapa teganya …..” tak kuat aku menahan tangis hatiku. Kupaksa kaki tetap tegak berdiri. Hanya satu jawaban yang ingin aku ketahui dari mulutnya

“Apakah Mas mencintainya?!”

“Apakah Mas mencintainya?!”

“Apakah Mas mencintainya?!”

desakku dengan histeris yang tak tertahankan.

“Iya….” jawab suamiku enteng sambil membalikkan badannya, merebahkan diri di atas kasur dan tak lama kemudian tidur mendengkur.

Walau lirih terucap, jawaban itu bagai halilintar di siang bolong. Geledeg  menyambar gendang telingaku. Petir membakar hangus, memporakporandakan hatiku. Hancur lebur, remuk redam, hatiku berserakan, yang tak akan pernah lagi bisa menyatu.Tak ada seorang wanita pun di dunia ini yang ikhlas berbagi hati suaminya dengan wanita lain. Tak juga wanita pencari suargaloka. Tak juga aku.

 

*****

Aku termenung di kantin sekolah sambil menunggu anakku pulang sekolah. Tak kusadari sepasang mata telah lama mengawasiku. Perlahan aku menoleh. Getaran yang pernah menggelorakan hatiku di masa remaja kembali menerpa. Lututku lemas, keringat mengucur dari sekujur tubuhku.

Diakah? Sejak kapan dia ada di sini? Bukankah dia kerja di Negara B. Negara tempat pelariannya ketika mengetahui bahwa aku telah bertunangan. Pertunangan yang terpaksa aku lakukan karena lelah menunggu ketidakpastian.

 “Iya, ini aku” katanya kalem, masih seperti dulu. Bahkan kini dengan wibawa yang makin memancar di mata dan setiap gerakannya.

Itulah pertemuanku kembali dengan lelaki yang telah 15 tahun berpisah denganku. Pertemuan kembali dengan pria yang telah mencengkeram singgasana hatiku. Cengkeraman yang tak tergantikan.

“Kubiarkan relung hatiku ini tetap kosong, karena itu adalah tahta untukmu. Hanya untukmu” pengakuannya dalam pertemuan kami yang kedua di Taman Mini.

”Kamu tak pernah mengemukakan hal itu kepadaku.” kataku memendam kecewa, kecewa yang amat dalam menyadari bahwa dia ternyata mencintaiku.

”Itu tak mungkin aku lakukan.” katanya datar dan kelu.

”Mengapa, bukankah engkau lelaki. Lelaki berhak memilih apa yang dimaui dan diinginkan?” kataku tak mengerti.

”Aku tak memiliki keyakinan akan mampu membahagiakanmu.”

”Dari mana kamu bisa berpendapat seperti itu. Bagi wanita, menikah dengan lelaki yang dicintainya adalah bahagia di atas segala-galanya.”

”Itu yang tak kuketahui sejak dulu. Aku pikir, perbedaan sosio ekonomi kita terlalu besar”

”Uuuuhhhh itu kuno, itu hanya ada dalam kisah-kisah sastra klasik dan romantis semacam Romeo and Yulliet atau Kisah Siti Nurbaya.” sergahku

”Iya, itulah pemahaman lelaki. Lelaki yang mengalami inferior komplek seperti aku ini.”

”Lantas kenapa Mas menikah dengan perempuan yang sekarang jadi istrimu itu? Tentu perempuan itu amat sangat Mas cintai kan?” tanyaku mulai terbakar api cemburu dan dendam teramat dalam.

”Aku menikah setelah kuketahui ada cincin melingkar di jari manismu. Pertunanganmu dengan  kakak kelas kuliahku itu.”

”Pertunangan hanyalah sebentuk cincin …”

”Ya, tapi itu tanda ikatan sakral saling kepemilikan yang tak boleh diganggu orang lain.”

”Buktinya aku kan tidak menikah dengan tunanganku itu.”

”Itu yang tak aku ketahui kelanjutannya. Karena setelah itu aku bersusah payah mengungsikan hatiku ke negara lain, agar tak melihatmu bersanding di pelaminan yang megah laksana milik Siti Nurhaliza, tersenyum bahagia dengan lelaki lain di sampingmu. Aku tak akan kuat melihatnya,” sambungnya,”Kamu pasti bahagia bersanding dengannya, kalian telah memiliki segalanya.”

“Mas, adakah yang lebih membuat hati wanita tersiksa, selain berada di antara lelaki yang dicintainya dan lelaki yang memilikinya?”

“Tapi tahukah kamu, apa yang lebih membuat hati lelaki nelangsa, selain tak pernah bisa bersanding dengan wanita pujaan hatinya?”

”Mengapa Mas tak pernah mengatakannya, saat belum ada pagar pembatas yang tak mungkin kita daki lagi ini terpampang di depan kita”

“Aku ini apalah, memandangmu dalam kejauhan pun telah membuat hatiku bahagia. Saat aku tak mampu memilikimu, justru itulah puncak tertinggi kebahagiaanku. Saat cinta sudah dinyatakan, seringkali bahkan menghilangkan maknanya. Bagi lelaki, cinta seringkali merupakan penaklukan. Saat semuanya sudah didapatkan, cinta itu seringkali ikut surut bersamanya. Dan itu yang paling aku takutkan. Aku ingin cintaku padamu tak pernah luntur se miligram pun”.

“Mas, wanita butuh pengakuan, kepastian dan ketegasan. Walaupun kadang sinyal itu bisa ditangkap dari perilaku, namun wanita seringkali tak akan mampu menanggung  kekecewaan. Tak akan sanggup menanggung beban bahwa harapan hati yang selalu disemai dan disiraminya akan terbentur dengan kata ’tidak’ seorang lelaki yang didambakannya ”

”Ooohhh begitukah?” tanyanya dengan sesal yang menggumpal di dada.

”Kusangka,” sambungnya, ”diammu membuat aku harus mengerti bahwa aku harus tahu diri. Aku bukanlah untukmu”

”Mas, aku adalah wanita Jawa. Apalagi yang harus aku lakukan untuk menunjukkan rasa hatiku kepada Mas. Satu kali Mas menolak ajakanku untuk nonton bareng dulu itu, cukup untuk membuat aku harus menarik dan berdiam diri. Mas tak berminat kepadaku.”

”Bukannya aku tak mau diajak nonton bareng waktu itu. Tapi aku berfikir, dengan apa aku membayarnya, pakaian apa yang pantas kukenakan, naik apa kita mesti berangkat bareng, bagaimana aku harus minta ijin kepada orang tua dan kakak laki-lakimu yang jelas-jelas memandang sebelah mata kepadaku?”

”Mas terlalu banyak berfikir dan menghalangi diri sendiri dengan bayangan-bayangan yang belum tentu akan terjadi.”

”Aku realistis saja waktu itu.”

”Bukankah Mas pun memiliki masa depan yang cemerlang, sebagai seorang juara di kelas kita dulu.”

”Masa depan adalah sesuatu yang belum pasti. Apalagi, masa depan tak cukup dijalani dengan kepandaian. Butuh biaya yang waktu itu tak terbayangkan olehku dari mana bisa kudapat sebelum akhirnya ada yang menolongku, sehingga menjadi seperti saat ini. Bahkan sampai saat ini, akupun tak pernah tahu, siapakah penolong yang dermawan itu, karena aku hanya menerima kiriman dari seorang yang menamakan dirinya hamba Allah. Seorang budiman yang tak pernah mau mempublikasikan namanya. Tak pernah berniat unjuk muka di media masa seperti yang biasa dilakukan orang-orang saat ini.”

Pertemuan demi pertemuan akhirnya kami lalui secara sembunyi-sembunyi.

Dunia bagai kembali berbunga.

Gairah yang hampir padam kembali tersulut bagai pemantik api menemukan sejerigen bensin. Membakar kami berdua. Menyalakan masa lalu indah yang tak sempat kami reguk bersama dulu. Teknologi informasi membuat kami mudah membuat janji, mengungkapkan perasaan hati dan melampiaskan dahaga penantian lima belas tahun tanpa basa-basi.

Namun ada satu sisi yang aku lupakan. Rumah tangga membuat dua hati makin lama makin saling mengerti dan mampu mendeteksi setiap perubahan yang terjadi pada pasangannya. Perubahan suasana hati, perubahan perilaku, perubahan kebiasaan, perubahan selera makan, perubahan cara pakaian, dan perubahan jadwal kehidupan sehari-hari. Aku yang tak biasa bersandiwara tak kuasa menutupi perubahan yang terjadi pada diriku, tanpa kusadari. Senyum yang telah lama hilang dari wajahku, hampir saban hari menghiasi kembali bibirku sejak pertemuanku itu. Baju putih dan kelam yang kukenakan sehari-hari berganti dengan rock penuh bunga warna-warni dan celana jeans masa kini. Lagu-lagu sendu mendayu berganti dengan irama klasik dan pop cinta progresif yang optimistik. Hand phone yang dulu lebih sering teronggok diam di sudut meja kamarku, kini bergetar hampir setiap waktu, mengirim SMS yang penuh cinta dan harapan. Namun tak ada awal yang tak berakhir. Tak ada rahasia abadi yang tak tersembul di suatu hari.

Pagi itu awan hitam pekat bergemulung bagai bola bowling menggelinding di angkasa raya. Kilat menyambar-nyambar pertanda hujan deras akan mengguyur Jakarta. Hari yang sendu itu tak menyurutkan keriangan hatiku. Berlama-lama aku berendam di bak mandi sambil bersenandung menyongsong pertemuan yang akan kami lakukan ke sekian kali. Tak kusadari suamiku membaca SMS yang terkirim kemarin sore yang lupa aku hapus. Lelaki memang egois. Seribu kali lelaki boleh berpaling ke hati wanita lain, seribu kali pula dia meminta pasangannya menerimanya kembali, tanpa cela. Tapi satu kali wanita tak memegang janji setianya, akan dianggap sebagai pengkhianatan terbesar yang tak termaafkan dengan seribu bakti dan pengorbannan sesudahnya. Suamiku telah mengetahui siapa lelaki pengirim SMS itu!

Dengan cucuran airmata kukatakan kepadanya bahwa tak mungkin lagi pertemuan ini terjadi tanpa rasa was-was di hati. Aku kenal betul perangai suamiku. Tak akan pernah menyerah sebelum kemauannya terpuaskan. Aku diultimatum untuk tidak keluar rumah selama satu bulan ini. Bergidik aku melihat rahang suamiku menggeretak dan melangkah tergesa di pagi itu. Tak terbayangkan apa yang akan dilakukannya.

Mobil di garasi dipacunya dengan kencang, menderum, memecah kesunyian di pagi buta perumahan kami. Tak tahu apa yang harus kulakukan, seharian aku mondar-mandir di dalam rumah, tak tentu arah. Akhirnya dengan malas kunyalakan monitor komputer di kamarku. Haaaahhh….?! Ada 1 pesan elektronik masuk ke box emailku.

”……selamat jalan wahai belahan jiwaku, maafkan aku yang hanya mampu membuatmu kecewa, luka dan kecewa lagi. Biarlah akau kembali ke sudutku. Sunyi….”

Aku tak mengerti makna dari kalimat itu.

******

Aku berjalan di Tanah Kusir dengan gontai.

Dunia serasa runtuh, rubuh menimpa seluruh sendi-sendi kehidupanku.

Baru sekejap kebahagiaan itu kami nikmati. Kini semuanya telah direnggut kembali. Direnggut dari pelukan dan anganku, selamanya.

Tanah merah terakhir baru saja ditimbunkan ke lobang tempat lelaki itu terbaring. Lelaki yang telah merenggut hatiku. Lelaki yang tak mungkin tergantikan dalam sisa hidupku. Air mata tak henti-hentinya membanjiri kedua belah pipiku.

Satu per satu para pelayat pulang. Meninggalkan makam yang kembali beku dan sendu. Lunglai seluruh lutut dan persendianku. Kurengkuh pusara itu, kupeluk dalam kedamaian dan kubisikan kata cinta dan kesetiaanku hanya untuknya. Kukira semua telah pergi, kutengadahkan wajahku. Kulihat di ujung makam seorang perempuan bersimpuh. Perempuan yang telah menyingkirkan kesempatanku untuk mendampingi lelaki yang sekarang terbujur kaku ini, mendampingi sepanjang hidupnya dalam kebahagiaan.

“Ayo pulang “ kudengar suara yang amat sangat kukenal. Suara yang amat dekat.

Mas Rudy! apa yang dilakukan kakak laki-lakiku di pemakaman ini? Serta merta aku berdiri menyambut kedatangan kakakku satu-satunya itu. Namun, aku salah menduga. Sama sekali salah. Mas Rudy melewatiku, terus melangkah dan meraih pundak perempuan yang masih bersimpuh di ujung makam itu. Mas Rudy mengajak pulang perempuan yang masih bersimpuh di ujung makam lelaki yang telah 15 tahun tertambat di hatiku, tak pernah mau lepas dan berlabuh ke tempat lain ini. Membimbingnya berdiri dan menggandengnya beranjak pergi. Sepintas kulihat kedua tangan mereka yang erat bergandengan. Di pergelangan keduanya, melingkar jam tangan dengan merk yang sama, yang tampaknya memang sengaja dibeli berpasangan. Aku bingung.

Di masa arsenic dengan mudah dicampurkan dalam makanan tanpa ketahuan, di negara yang semuanya serba bisa diatur ini, urutan subjek atau objek sering tak terdefinisikan. Siapakah pelaku yang telah mengubur cintaku ini? Pergi bersamanya dalam keabadian, pergi tak akan pernah kembali.

Bandung, Oktober 2006

Read Full Post »