Feeds:
Pos
Komentar

Archive for November, 2012

Will be published soon in the end of December 2012

 

Iklan

Read Full Post »

Sherlock Holmes

UNDER THE STARS

Sherlock Holmes and Dr Watson went on a camping trip. After a good
meal and a bottle of wine they were exhausted and went to sleep.

Some hours later, Holmes awoke and nudged his faithful friend.
"Watson, look up at the sky and tell me what you see ?" Watson
replied, "I see millions and millions of stars".

"What does that tell you?"

Watson pondered for a minute.  "Astronomically, it tells
me that there are millions of galaxies and potentially
billions of planets.

Astrologically, I observe that Saturn is in Leo.Timewise, I
deduce that the time is approximately a quarter past three.
Theologically, I can see that The lord is all powerful and
that we are small and insignificant.  Meteorologically, I supect
that we will have, a beautiful day tomorrow.
What does it tell you?"

Holmes was silent for a minute, then spoke.  "Watson, you idiot,
Some nimpkumpoot has stolen our tent"

Read Full Post »

SUDUT PANDANG – 2
      (Indoz-net, Rabu 17 September 1997)

Dermawan Wibisono

      Hari-hari terakhir ini saya merasa lelah. Amat lelah. Agaknya umur
yang semakin merambat tak dapat mengelakkan takdir. Banyak teman-teman
sebayaku yang telah meninggal. Pergi selamanya. Pergi membawa
cita-citanya, pergi membawa amalannya dan tidak membawa barang-barang apalagi
orang-orang yang dicintainya.
Jabatan direktur, pemimpin, ketua atau apalah namanya di
organisasi ini telah aku pegang tak kurang dari lamanya orang merayakan
kawin perak. Banyak kemajuan, tak sedikit pula kekurangan.
Aku mewarisi puing-puing organisasi ini dari pendahuluku.
Siang-malam aku bekerja untuk memperbaikinya. Aku rekrut orang-orang
terbaik yang ada, dan mereka menerapkan segala macam teori yang telah
mereka peroleh bagai memuaskan dahaga di padang safana. Business
Reengineering, Economic Value added, Human Behaviour Approach, Total
Quality Management, Balanced Scorecards, dan semua jenis kosa kata yang
mereka punya.
Dan menguninglah padi yang siap untuk dituai. Buah yang ranum itu
tak ayal membuat banyak pihak saling berebut. Bagai kanak-kanak mengejar
layang-layang putus. Sikut sana-sikut sini, sodok sana-sodok sini.
Di hadapanku semuanya berlangsung baik-baik saja. Mereka
melaporkan aneka kemajuan yang telah, sedang dan akan dicapai.
Lingkungan kerja yang bersih dan indah. Operator-operator produksi yang berseragam,
necis dan ceria dan selalu mengelu-elukan kehadiranku, dan aneka
penghargaan manajemen dari berbagai pihak aku terima. Kurang apa?
Ternyata aku kurang memiliki waktu untuk diriku sendiri maupun
keluargaku. Anak-anak tumbuh begitu cepat. Tak sempat aku merengkuhnya.
Tahu-tahu mereka telah tumbuh menjadi para konglomerat. Mereka memiliki
dunianya sendiri. Nasi telah menjadi bubur. Mereka sudah tidak pantas
lagi untuk dilarang dengan mencubitnya seperti masa kanak-kanak itu. Semuanya
terlalu sibuk dengan obsesinya, dengan caranya sendiri. Agaknya mereka
berbakat dalam dunianya. Berbakat untuk berjualan apa saja: sepatu,
bir, mobil, elektronika, telekomunikasi, konstruksi dan semuanya gagah-gagah
seperti Arjuna. Buktinya para gadis ayu manapun tak ada yang menolak
lambaian tangannya. Lambaian tangan anakku.
Aku telah beranjak 70 tahun. Keadaan bukan semakin ringan. Para
profesional yang sudah susah-susah sekolah mulai kehabisan energi.
Kerjanya minta petunjuk melulu. Para bawahan yang dulu begitu tentram,
mulai menggeliat, bikin onar melulu. Barangkali jagung sudah semakin
sulit didapat sehingga mereka lebih suka membakar-bakar apa saja yang mereka
temui dari pada berdiang membakar jagung. Para manajer yang kena giliran
karena program pemerataan rejekiku mulai banyak bertingkah seperti
pangeran terusir dari istana.
Menghitung hari tidaklah begitu menyiksa jika kita tidak tahu
bahwa kita telah dibohongi.
Ketika para akuntan melaporkan profit perusahaan, ternyata dia
memiliki pembukuan yang berbeda yang berarti sebaliknya.
Ketika para direktur melaporkan perluasan bidang usaha dan
mutually benefit dengan masyarakat di sekitarnya, ternyata mereka
menggembungkan kantongnya sendiri.
Ketika cleaning servise melaporkan kebersihan perusahaan, ternyata
kotoran itu hanyalah disapu dibawah karpet saja dan esok hari akan
muncul lagi jika aku sudah tidak di tempat itu.
Ketika security melaporkan keamanan pabrik, ternyata mereka main
gebuk saja bahkan terhadap anak kecil yang hanya mau menempelkan sticker
di tembok pabrik.
Dan masyarakat mulai menggugatku. Hanya aku seorang.
Kolegaku, bawahanku, saudara-saudaraku, anak-anakku semuanya
berlarian menjauhiku. Tertawa-tawa.
Aku terpenjara di sekeliling singa berbulu domba.

Read Full Post »

Agenda Mobil Nasional Berikutnya

(Harian Kompas, 1997)

Dermawan Wibisono

TAHUN 1997 menjadi tahun penantian yang kesekian kalinya bagi
masyarakat akan hadirnya mobil dengan ‘harga yang terjangkau’.
Penantian panjang sebelumnya, kurang lebih 25 tahun, ‘hanyalah’
menghadirkan Kijang, yang pelan namun pasti harganya merambat naik
dari tahun ke tahun sejak berharga Rp 5 juta sampai saat ini mencapai
di atas Rp 35 juta. Pola yang sama ‘dengan sukses’ diikuti oleh Isuzu
Panther, dengan harga sekitar 20 jutaan pada awal peluncurannya, dalam
waktu kurang dari 5 tahun sudah menjadi 1,5 kali lipat dari harga
semula. Masyarakat berharap-harap cemas, jangan-jangan Timor, Maleo,
Mobil Bakrie atau merek lain yang ‘mengaku sebagai mobil nasional’
akan berperilaku sama.

Lalu apa artinya kebijaksanaan pemerintah dalam industri otomotif
kalau ternyata belum pernah mencapai sasaran yang diinginkan:
menciptakan mobil ‘murah’, sebagai sumber devisa negara dan menjadikan
industri otomotif sebagai lokomotif bagi industri manufaktur lainnya.

Pembenahan industri otomotif melalui berbagai macam peraturan yang
dikeluarkan pemerintah selama ini tampaknya baru sampai pada tahap
diagnosa terhadap gejala dari sebuah penyakit. Tetapi belum menjangkau
akar dari penyakit itu sendiri. Sebelum terjun dalam industri
otomotif, negara-negara seperti Amerika Serikat, Jepang, Jerman,
Swedia, Korea Selatan, Australia dan Kanada telah terlebih dahulu
membenahi industri dasarnya yang merupakan akar ‘penyakit’ dari
industri otomotif, yaitu ketersediaan bahan baku yang andal dan
kemampuan industri penunjangnya. Negara-negara ‘pengekor’ berikutnya
seperti Brasil, Argentina, India, Taiwan, dan Cina pun telah memiliki
industri bahan baku yang kualified sebelum menggeluti bagian yang
‘lebih ringan’ dari industri otomotif, yaitu konsentrasi sebagai
pemasok komponen.

Dua industri bahan baku
terpenting bagi industri otomotif adalah industri kimia dan peleburan
logam sebagai bahan utama komponen kendaraan bermotor. Jika kita
telusur lebih lanjut sampai saat ini, celakanya, Indonesia belum
memiliki struktur yang andal untuk kedua bidang tersebut.

Klaim yang dilontarkan sementara pihak dengan mengatakan bahwa
menghasilkan pesawat terbang yang terdiri dari puluhan ribu komponen
saja dapat kita lakukan, apalah artinya menggabungkan sejumlah kurang
dari 5.000 komponen untuk menjadi sebuah mobil, adalah bagus untuk
membangkitkan motivasi namun terlalu arogan dalam implementasi dan
tindak lanjutnya.

Industri otomotif bukanlah masalah gabung-menggabung komponen.
Produsen mobil seperti Nissan yang mensyaratkan cacat maximum
(defects) untuk part-nya sebesar 7 buah untuk setiap 1 juta produknya,
ternyata masih ‘kecewa’ dengan performansi pemasoknya dari Inggris.
Padahal Inggris merupakan salah satu kiblat industri logam dan kimia.
General Motor, Ford, dan Chrysler saling bekerja sama dengan membuat
panduan QS-9000 untuk pemasok-pemasok mereka dan diperkirakan
sepertiga dari pemasok traditional mereka akan terpental jika tidak
membenahi diri. Padahal para pemasok komponen Amerika tersebut
mendapatkan bahan baku mereka dari industri dalam negeri dengan
standard kualitas yang tinggi pula. Artinya, industri bahan baku
negara-negara maju pun masih menghadapi ‘gugatan’ dalam pasokannya ke
industri otomotif.

Analogi dari gambaran di atas adalah, sudahkah Krakatau Steel,
misalnya, mampu mensuplai bahan baku untuk chassis, cyllinder block,
cyllinder head, exhaust manifoldatau intake manifold? Adakah industri
pengecoran alumunium dalam negeri yang mampu menyediakan pasokan bahan
baku untuk mayoritas komponen yang lain dalam kualitas yang
dipersyaratkan oleh industri otomotif kelas dunia dengan harga yang
bersaing? Siapkah industri kimia kita mendukung penyediaan fiber yang
saat ini banyak dipakai sebagai pengganti kelangkaan logam? Dalam
skala yang ‘tidak terlalu penting’ namun menjangkau ke masa depan,
sudahkah industri cat kita membenahi diri dengan penyediaan cat
berpelarut air, bukan berpelarut minyak, yang mulai dikembangkan
berbagai industri otomotif untuk menciptakan produk ‘bebas’ polusi
(clean production systems)?

Tentu saja kita tidak harus menghasilkan produk tersebut sejak dari
bahan baku menjadi komponen mobil, semuanya sendiri. Tetapi kita perlu
memfokuskan diri pada sektor tertentu yang memiliki nilai tambah
paling besar dan menghindarkan diri dari ketergantungan yang
berkepanjangan. Selalu perlu untuk memulai membangun industri dengan
analisa dasar: membuat atau membeli? Semuanya dengan dasar untuk
kesejahteraan segenap masyarakat.

Penutup

Industri otomotif adalah industri yang sangat sensitif dalam hal
kualitas dan image serta menyedot investasi yang mahal untuk
penelitian dan pengembangannya. Selain itu daur hidup (life cycle)
produk otomotif semakin pendek, yang semula bisa bertahan 10 tahun,
semakin menciut menjadi 5 tahun dan akhirnya banyak yang menetapkan
hanya sebesar 3 tahun saja. Dalam industri otomotif, keuntungan dari
ongkos buruh yang murah tidak lagi menjadi primadona karena keuntungan
dari sektor ini akan dieliminir oleh faktor lain yang lebih penting,
yaitu ketersediaan bahan baku yang murah dan berkualitas.

Jika Indonesia konsisten dengan programnya mewujudkan mobil nasional,
maka pembenahan di bidang industri kimia dan pembentukan logam harus
segera menjadi prioritas garapan berikutnya. Keterlambatan penanganan
pada sektor ini akan mengakibatkan beberapa konsekuensi.

Pertama, ‘mobil nasional’ akan meluncur hanya di tahun-tahun awal
saja. Setelah itu, perilaku yang sama seperti pernah ditempuh Kijang
dan Isuzu Panther seperti dicontohkan dalam ilustrasi di awal tulisan
ini akan kembali terulang. Harga akan merambat naik akibat inefisiensi
produksi komponen (dengan bahan baku lokal, namun kualitasnya belum
andal atau bahan baku impor yang harus menanggung berbagai macam bea
dan depresiasi nilai rupiah).

Kedua, para prinsipal akan tetap sangat ‘jual mahal’ untuk
mempertaruhkan masa depan mereka dengan menyerahkan proses produksinya
kepada negara lain yang belum terbukti keandalannya dalam sektor
tertentu, terutama kualitas bahan baku maupun industri komponennya.
Selain itu, selama masih tetap terikat sebagai ATPM (Agen Tunggal
Pemegang Merek), kerja mewujudkan mobil nasional dalam lingkungan
semacam ini laksana menanti janji “akan memberikan kemerdekaan di
kemudian hari”.

Mewujudkan mobil nasional secara mandiri sejak disain produk awal
maupun rancang bangun pabriknya seperti yang ditempuh Maleo dan Mobil
Bakri adalah alternatif yang lebih ‘terjamin’ walaupun harus
mengerahkan resourcesyang sangat besar. Dengan catatan konsistensi
tetap terus terjaga, tidak berhenti hanya pada clay model, fiber
shape, prototypeyang asal bisa nongol pada perayaan tujuh belas
Agustus di Istana Negara saja. Mendapat applaus dari pengunjung, dan
setelah itu tak terdengar kelanjutannya. Atau jika produksi berlanjut
akan menghadapi kendala yang serupa dengan para pendahulunya. Semoga.

Read Full Post »