Feeds:
Tulisan
Komentar

STOP PSTOP PRESS:

After waiting for 4 months in processing of publication, Novel 3 G: Gading-Gading Ganesha, Bahwa Cinta Itu Ada‘ is now available at Ganesha Creative Industry Incorporation.

You can have it by contacting Mrs. Indri at (022) 250 1006 at Pusat Inkubator Bisnis ITB, Jl. Ganesha 15 F Bandung or buy it online at www.tokoganesha.com or email to pib@inkubator.itb.ac.id in the blogspot: 3gcinta.blogspot.com.

Check it out which characters in the novel are closest or represent you mostly. This is a drama-comedy with background of ITB from 1970-2009 and Australia.

Novel & Film3G

Novel & Film3G

Sinopsis:

Novel 3G merupakan mozaik perjalanan hidup enam anak manusia berlatar belakang etnik yang beragam: Slamet (Trenggalek), Fuad (Surabaya), Poltak (Siantar), Gun Gun (Ciamis), Ria (Padang) dan Benny (Jakarta) yang dipersatukan saat keenamnya masuk ITB. Kisah dimulai dengan keberangkatan masing-masing tokoh dari daerah asalnya dengan berbagai moda. Banyak kejadian lucu yang dialami dan berbagai tempaan fisik dan mental yang dijalani. Aktivitas akademis, seni dan politik praktis membentuk sosok lulusan yang semula culun menjadi teruji dan percaya diri. Dalam satu masa semuanya menggapai apa yang diinginkan sesuai dengan kadar usahanya setelah jatuh bangun dalam berbagai perjuangan: drop out dari kuliah, tak punya cukup uang untuk sekedar makan, kandas menjadi seorang pengusaha, gagal dalam percintaan, menikah di usia yang tak lagi muda, ditinggal mati orang yang dicintai, sakit saat jauh dari orang tua, konflik batin saat harus mengambil keputusan penting dalam hidup dam karir, dan berbagai godaan dan cobaan saat harus teguh memegang etika dan martabat diri dan institusi. Tak ada hero yang suci di dunia, semua pernah mengalami putaran roda kehidupan, ada kalanya di atas, seringkali di bawah, bahkan ada saatnya harus tergilas roda itu sekalian. Bertemu lagi bertahun kemudian, mereka menghitung kembali bahwa sudah terlalu banyak nikmat diserap, melewati titik nol atau bahkan minus saat mereka masuk ITB, banyak waktu tersia-siakan oleh kesibukan yang self interest dan ternyata tidak banyak karya nyata dan kontribusi mereka berikan ke masyarakat dan kepada bangsa yang telah mensubsidi sekolah mereka. Timbul kesadaran untuk membangun negeri dengan menjadi pelopor membangun jaringan seluruh alumni dan orang-orang yang sepaham dari berbagai universitas untuk membuat karya nyata, menanggalkan primordialisme baju alumni, dengan satu tekad: kelas menengah adalah agen perubahan di manapun di dunia ini. Perubahan kepemimpinan dunia kepada tokoh-tokoh yang berkarakter semacam Ahmad Dinejad, Barack Obama, Che Guevara, dan kesuksesan Muhammad Yunus dengan Grameen Banknya memberikan inspirasi untuk meretas jalan membangun pengabdian kepada bangsa. Hidup tak dapat diputar ulang, sekali berarti sesudah itu mati!

Apa kata mereka:

“…. seru banget ceritanya! Gak secara langsung ngedikte tapi tetep dapet pelajaran hidup yangg ngena banget… Jadi pengen juga bikin novel yang bisa jadi inspirasi buat mahasiswa ya..he…he…he…“ (Priscilia Audy, mahasiswi FE UNPAD 2007)

 “Kala sebagai Rektor ITB saya beranjangsana ke Pesantren Rancabango, Garut dan dalam kata sambutannya Sang Kiyai, pemimpin PonPes menyampaikan kalimat singkat yang mengandung pesan dan sindiran halus yaitu ‘Hendaknya warga kampus dan alumninya itu senantiasa menjunjung dua nilai luhur yaitu kahartos lan karaos bagi masyarakat’. Pesan singkat agar dimengerti dan bermanfaat ini sejatinya adalah manifesto dari tridarma ITB. Saya bahagia menyambut terbitnya Novel Mas Dermawan Wibisono berjudul 3G — Gading Gading Ganesha ini yang jelas sejalan dengan pesan Sang Kiyai pada kita semua. Kain batik hadiah Ibunda tercinta kini bermetafor menjadi sebuah novel 3G. The best is yet to come.” (Kusmayanto Kadiman, Rektor ITB 2001 – 2004, Menteri Riset dan Teknologi, 2004-2009)

”Inovasi dan inspirasi adalah dua hal yang saling berpautan satu sama lain. Tiada inovasi tanpa inspirasi, dan inovasi yang tercipta seharusnya menjadi sumber inspirasi bagi orang-orang cerdas untuk memicu inovasi yang baru. Novel Gading-Gading Ganesha sarat dengan inspirasi yang akan memantik beragam inovasi kreatif yang akan menghadirkan gelora hidup penuh makna bagi siapa saja yang membacanya. Memang tidak gampang untuk merepresentasikan sosok mahasiswa dan alumni ITB. Mereka adalah pribadi-pribadi yang datang dari berbagai latar belakang sosial budaya maupun kehidupan ekonomi. Namun percayalah, satu kesamaan yang mereka miliki adalah bahwa mereka manusia yang kritis dan mandiri, penuh percaya diri (acapkali sangat tinggi), cinta almamater, bangsa dan negara. Semoga kita dapat bercermin dari apa yang ditampilkan dalam Gading-Gading Ganesha.” (Ir.Hatta Radjasa, Ketua Ikatan Alumni ITB 2008 – 2013, Menteri Perhubungan 2004-2006, Menteri Sekretaris Negara 2006-2009)

Novel yang bagus sekali, menyentuh, dengan message yang kuat. Penulis mengangkat periode waktu kehidupan di kampus yang dialaminya, yang walaupun berbeda dengan era sebelum dan sesudahnya, dapat menjadi representasi dari sikap kepekaan/ kepedulian mahasiswa terhadap kondisi nasional maupun global di setiap zamannya. Untuk kekinian dan visi ke depan, merupakan penggalian yang serasa satu irama dengan napas anak bangsa (Budiyati Abiyoga, Produser Film).

Membaca 3G ini seperti merefleksikan perjalanan hidup kita di ITB dengan segala dinamikanya yang membentuk kepribadian alumnus ITB dalam berkiprah di masyarakat. Harapan kita adalah agar karya DR. Dermawan Wibisono ini dapat memberi inspirasi bagi kemajuan civitas academica ITB dalam memajukan ITB dan Republik tercinta (Rinaldi Firmansyah, Direktur Utama PT. Telekomunikasi Indonesia, tbk.)

“Novel 3G mengandung unsur pembelajaran berupa bagaimana toleransi antar budaya yaitu antara suku Batak, Sunda, Jawa, dan budaya kota besar (Jakarta) harus dijalankan pada saat kuliah di ITB. Pendidikan karakter juga tercermin di dalamnya di mana mahasiswa ITB dididik untuk bermartabat, bersaudara, berbeda pendapat, bersaing…..termasuk bersaing untuk mendapatkan seorang wanita. Satu hal yang perlu diangkat dari novel 3G bahwa tidak semua lulusan ITB sukses, kegagalan mungkin terjadi pada siapapun tak terkecuali juga lulusan ITB, namun lulusan ITB tetap tegar dalam menghadapi kegagalan”. Prof. Ir. Sofia W. Alisjahbana, M.Sc., Ph.D. (Wakil Rektor Bidang Akademik, Universitas Tarumanagara)

 Novel yang menggelitik dari segi humanis & semoga memberikan inspirasi bagi insan ITB bahwa mereka juga manusia biasa yang dapat mengalami pasang surut dalam mengarungi kehidupan & tidak terus terbuai, hidup dalam dunia “awang-awang” pribadi karena ke-ITBannya (Tuning Hendrastuti, alumni UGM & PPM, praktisi SDM)

Pendiri SBM ITB

Pendiri SBM ITB

 

 

 

Para Pendiri SBM ITB, pada suatu hari, di bulan Desember 2003.

dari kiri ke kanan: Prof. Jann Hidajat, Prof. Surna Tjahja Djajadiningrat, Dr. Kuntoro Mangkusubroto,  Ir. Nurhayati, MTM, MT (Almarhumah), Dr. Dermawan Wibisono, Ir. Budi Permadi Iskandar, MPK, Aurik, ST,MT, Dr. Utomo Sarjono Putro, Dr. Sudarso Kaderi Wiryono

Tanggal 31 Desember 2003, merupakan hari yang bersejarah bagi School of Business and Management, Institut Teknologi Bandung. Pada hari itulah secara resmi program S1 di bidang Manajemen diresmikan keberadaannya di ITB untuk melengkapi ranah ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang sudah ada.

Tonggak keberadaan program S1 di bidang manajemen tak lepas dari peranan Prof. Matthias Aroef, pendiri jurusan Teknik Industri pada tahun 1971 dan Magister Manajemen pada tahun 1990. Adanya program Magister Manajemen ini menjadi sebuah sistem penarik bagi pembentukan program S1 di bidang bisnis dan manajemen dengan sistem pembelajaran yang berbeda dari program studi yang pernah ada di Indonesia.

Ramuan dari berbagai pendekatan mutakhir di dunia plus komitmen dari 10 orang pendirinya untuk menjadi full time faculty yang ready setiap saat ditemui mahasiswanya, proses pembelajaran dalam bahasa Inggris dan berbagai rancangan unik lainnya menjadikan program S1 – SBM ITB dalam waktu cepat, melesat menjadi program studi favorit dan menghasilkan entreprenerial leaders yang dapat mengisi kekosongan dunia industri dan kewirausahaan yang akhir-akhir ini dirasakan merupakan kebutuhan utama bangsa Indonesia.

Coming soon

Novel & Film 3G

Novel & Film 3G

 

Novel 3G will be coming soon: 20 May 2009. Check it out!

(Erna Mardiana – detik Bandung )

Tim AstaLaVista Bandung – Institut Teknologi Bandung (ITB) melanjutkan tradisi juara di kompetisi international bergengsi, L’Oreal E-Strat Challenge 2009. AstaLaVista Team dari MBA School of Business and Management ITB berhasil meraih juara ketiga bersama dengan tim Prancis dari INSEAD, Fontainebleau. Juara pertama dan runner-up jatuh pada tim Cina (University of International Business and Economics) dan Turki (Bilkent University). Finalis MBA lainnya berasal dari Denmark (Copenhagen Business School), Amerika Serikat (University of Chicago), Italia, and Argentina. Tim AstaLaVista yang beranggotakan tiga mahasiswa MBA SBM ITB, yaitu Adhi Yudho Wibowo, Indri Damayanti, dan Yayang Aditya, mendapat penghargaan pada Rabu (22/4/2009) waktu setempat. Dalam rilisnya yang diterima detikbandung, kesuksesan tim ITB di final internasional L’Oreal E-Strat Challenge ini sudah menjadi semacam tradisi, yang diawali oleh tim MBA ITB yang menjadi finalis 2006. Tahun 2007, tim S-1 ITB (Rajawali) mencetak sukses dan berhasil meraih 2 penghargaan yaitu Best SPI dan Juara 3 Internasional. Tahun lalu, ITB bahkan mencetak rekor dunia dengan mengirimkan 2 wakil ke final internasional dan meraih 4 penghargaan sekaligus. Tim PowerUp dari MSM SBM ITB memenangkan Best SPI dan Juara 2, sementara tim Malaikat dari S-1 ITB memenangkan Best SPI dan Juara 3. Sebelumnya, AstaLaVista menjadi tim terbaik di Zona 8 (Asia Selatan, Asia Tengah, dan Asia Tenggara) untuk kategori MBA dengan melibas tim-tim dari Singapura, India, dan universitas lain di Indonesia. Dalam persiapannya, AstaLaVista dibantu oleh tim pembimbing FDV Wulansari, Agung Yoga Sembada, Benny S. Gunawan, dan Yafis Afi. “AstaLaVista berhasil memberikan kesan mendalam pada tim juri dengan presentasi mereka yang sangat baik terutama dari segi strategi,” ujar pembimbing tim MBA ITB, FDV Wulansari, yang tahun lalu tergabung di tim PowerUp yang memenangkan 2 penghargaan di final internasional L’Oreal E-Strat. Adanya dukungan penuh dari Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB, beserta sponsorship dari Teddy P Rachmat (alumni ITB), Daya Adira, Ikatan Alumni ITB, dan Pemerintah Kota Kendari, memungkinkan tim AstaLaVista berkonsentrasi pada persiapan final hingga akhirnya meraih juara ketiga. Selain AstaLaVista, Indonesia juga diwakili oleh tim VOC dari FE UI untuk kategori Undergraduate. Pemenang internasional kategori ini adalah tim dari Kanada, Finlandia, dan Israel. Dalam delapan tahun gelaran sebelumnya, L’Oreal E-strat telah diikuti oleh 221.000 mahasiswa dari 2.200 universitas yang mewakili 128 negara. Para peserta berkompetisi setelah mengunduh sebuah software yang kemudian digunakan sebagai interface yang terhubung dengan server pusat e-Strat untuk memasukkan keputusan-keputusan bisnis perusahaan virtual mereka seperti anggaran marketing, jumlah produksi, inisiasi program CSR. Desain seperti ini membuat para mahasiswa di Indonesia dapat beradu secara head to head secara global melawan tim-tim dari 128 negara yang berpartisipasi. Dari puluhan ribu peserta tersebut, hanya delapan tim terbaik dari kategori undergraduate dan delapan dari kategori MBA di seluruh dunia yang akan berhak diundang ke Paris untuk mempresentasikan konsep bisnis mereka di hadapan jajaran eksekutif L’Oreal, untuk diuji profitabilitas dan feasibilitasnya. Loreal Estrat Business Challenge adalah suatu kompetisi bisnis internasional berbasis internet untuk mahasiswa yang diadakan oleh L’Oreal Paris, diikuti oleh lebih dari 128 negara dan 45.000 peserta dari seluruh dunia. Kompetisi ini dimulai sejak tanggal 17 Januari 2009 dan puncak final akan diadakan di Paris tanggal 22 April 2009. Tim AstaLaVista MBA-ITB (Adhi Yudho Wibowo, Indri Damayanti, Yayang Aditya) sebagai satu-satunya perwakilan dari INDONESIA yang berhasil mencapai peringkat 1 di Zone 8 , lolos ke babak final Paris mewakili Asia Selatan, Asia Tengah dan Asia Pasific.

Klasifikasi Akhir Pada  Zone 8 (Asia Selatan, Tengah dan Asia Pasific) Untuk Kategori Program Study MBA/ MM

loreal1

Score Finalist Di Paris dari para Juara di tiap Zona sebelum Presentasi di Paris di depan Dewan Juri

loreal2

Candle Light, MBA ITB Business Review Vol. 4 No. 1 2009

You are not Your Thought

Hingar bingar kampanye calon legislatif telah berlalu. Baliho dan spanduk yang memenuhi sudut-sudut kota telah digulung, dikilo, menjadi alas tempat duduk,  tenda-tenda pedagang lesehan, sarung bantal, sprei, korden atau teronggok di  tempat sampah.Tulisan pada baliho dan spanduk yang hampir seragam: bersih, anti korupsi, berpihak kepada rakyat, tak lagi memberi makna. Bahkan menurut sementara orang, tulisan itu sudah tidak bermakna sama sekali sejak baliho itu dipasang berdampingan dengan foto diri tergagah atau tercantik yang dimiliki. Apa yang keliru di negeri ini, sehingga sulit sekali orang mempercayai omongan orang lain, walaupun setiap Hari Jum’at sudah diingatkan: janganlah kamu melihat kepada siapa yang bicara tapi lihatlah isi pembicaraanya. Nasihat setiap jum’at itu agaknya terlalu agung dan tak tergapai pikiran di jaman yang serba pragmatis, logis, linier dan selalu mendasarkan diri pada hukum sebab akibat.

Seorang kawan berpesan singkat: sakit-sehatnya diri kita, hanya diri kita yang tahu. Orang lain tak akan tahu jika tidak kita beritahu. Namun baik buruknya diri kita, bukan dari klaim sepihak kita, tetapi justru dari sudut pandang penilaian orang lainlah mestinya kita bercermin. Jadi klaim bahwa para caleg tadi bersih, anti korupsi, berpihak kepada rakyat adalah sebuah klaim yang sia-sia. Seperti halnya kita menyatakan bahwa saya ikhlas, saya demokratis, saya bekerja untuk ibadah, adalah sebuah niatan yang semestinya tidak perlu dinyatakan. Karena begitu dilontarkan justru pihak yang mendengarnya akan dengan serta merta mempertanyakan ‘kemurnian’ pernyataan itu, walau sekedar di dalam hati. Biarlah orang lain yang menilainya. You are not your thought. Anda bukanlah seperti yang anda kira, yang anda pikirkan dan yang anda klaim kepada pihak lain.

Selain tidak satunya kata dengan perbuatan yang mendasari rendahnya budaya trust di Indonesia seperti dijelaskan dalam paragraf di atas, ada satu lagi ‘misteri’ yang banyak melingkupi insan cendekia di negeri ini. ‘Fenomena dokter gigi’ hampir terjadi di banyak segi kehidupan. Dokter gigi tidak bisa melakukan treatment sendiri  pada giginya yang sakit, keropos, perlu dicabut atau dioperasi. Harus orang lain yang melakukannya. Demikian pula agaknya kecenderungan para pengampu ilmu di negeri ini. Para ahli di bidang humanis seringkali kesulitan mempraktekkan ilmu yang dikuasainya itu dalam perilaku dan kehidupan sehari-hari-hari, bahkan seringkali bersikap lebih sinis dan mahal akan pujian dibandingkan dengan orang yang tidak mempelajari secara rinci ilmu humanisme itu. Para ahli transportasi dan struktur sulit menerapkan kepakarannya justru di jantung tempat para beliau tinggal. Kota begitu semrawutnya dengan struktur bangunan yang tidak merepresentasikan bahwa di dalam kota, berpuluh ahli di bidang itu setiap hari mengais rizki. Para pengajar sekolah bisnis justru seringkali  tidak cukup berhasil dalam real business yang dilakukannya, terlalu banyak menimbang, khawatir dan tidak melakukan apa-apa. Atau ahli Risk Management justru karena paham berbagai metode dan perhitungan risiko itu, sering malah menjadi seorang safety player nomor wahid dalam praktek kehidupannya.

Jadi, ketika lidah tidak terejawantahkan dalam langkah, dan keahlian tidak terwujudkan dalam kehidupan, masihkah kita cukup nyali untuk terus berpromosi dan melakukan agitasi?

 

Dermawan Wibisono

MBA ITB test schedule:  5 & 6 Juni 2009 at MBA ITB Campus, jl. Gelap Nyawang No. 1 Bandung

Don’t miss this golden opportunity.

Joint into the winning team.

MBA ITB is the only one MM/MBA program in Indonesia dominating International L’oreal Estrate Business Game in the last 3 years. Next April, one team of MBA ITB program will represent Zone 8 again (South & South East Asia Business School Region) go through Final will be conducted in Paris, France, compete with 7 delegations from INSEAD – France, Milano-Italiy, Copenhagen-Denmark, Turkey, Argentina, University of Chicago-USA, and China

With the number of participants around 25.000-35.000 of MBA students from over the world and becoming champion in the region ( consist of 3 students in each team) is the evidence that MBA ITB is your truly and right choice to reach your bright future.

If you can be the best, why settle for less?

 

You are great diamond

You are great diamond

MBA ITB Business Review Vol. 3 No. 4 2009

 

Candle Light:

 

It is time to act not to talk!

Pada kejuaran sepak bola Piala Eropa tahun 2008 yang lalu, terdapat sebuah fenomena menarik bahwa kesebalasan Belanda yang sangat superior dengan mengalahkan Italia dan Perancis di babak penyisihan ternyata justru takluk di babak knock out oleh kesebelasan Rusia yang tidak diperhitungkan sebelumnya. Para analisis sepak bola percaya bahwa hal ini karena faktor tangan dingin pelatih Guus Hidink yang menangani Rusia saat itu, yang berkebangsaan Belanda, yang lebih senior dari Marco van Basten, pelatih Belanda, yang justru pernah dilatih Guus Hidink. Kalah strategi dan kalah pengalaman. Namun Johan Cruyff, sang Maestro dari Belanda memiliki pendapat berbeda. Hal ini tidak ada kaitannya dengan strategi dan senioritas. Tidak selalu strategi hebat menunjukkan hasil yang hebat, karena strategi tetap membutuhkan aktor pelaksana di lapangan. Senioritas, biasanya hanya menang di angan-angan sang senior itu sendiri karena sudah terlalu banyak bukti bahwa agent of change di banyak bidang justru adalah orang-orang muda. Yang menjadi faktor penentu kemenangan Rusia, menurut sang Maestro, adalah kegembiraan hati. Pemain Rusia bermain dengan hati gembira seperti anak-anak yang sedang mengalami eforia bermain bola, sedangkan pemain Belanda bermain seperti pekerja kantoran yang hanya menjalankan job description sambil menunggu gajian awal bulan.

                Ilustrasi di atas ada baiknya kita lengkapi dengan apa yang diungkapkan oleh Tiger Wood, seorang pegolf andal: Doing what you love and get paid doing it! Sungguh menyenangkan jika kita semua dapat memaknai ungkapan itu dalam kehidupan dan rutinitas kerja sehari-hari. Karena jika tidak, organisai tempat kita berada akan mengalami fatique, kelelahan luar biasa dan tidak akan beranjak kemana-mana. Kata kuncinya adalah action with happiness!  Ya, action may not always bring happiness, but there is no happiness without action (Benyamin Disraeli).

Agar semakin menghayati pentingnya action dibandingkan dengan terlalu banyaknya meeting, silang pendapat, adu argumentasi, perang konsep dan sebagainya yang biasanya menjangkiti berbagai organisasi sehingga timbul akronim nakal semisal ASTRA – Asal Senggang Terus Rapat, berikut saya kutipkan berbagai wisdom dari para pakar.

Alfred North Whitehead: We cannot think first and act afterward. From the moment of birth we are immersed in action, and can only fitfully guide it by taking thought.

Margaret Thatcher: If you want anything said, ask a man. If you want something done, ask a woman.

Danilo Dolci: It’s important to know that words don’t move mountains. Work, exacting work moves mountains.

Edmund Burke: All that is necessary for evil to succeed is that good men do nothing.

Elbert Hubbard: To avoid criticism, do nothing, say nothing, be nothing.

Eleanor Roosevelt: You must do the things you think you cannot do.

Georges Bernanos: A thought which does not result in an action is nothing much,and an action which does not proceed from a thought is nothing at all.

Goethe: Knowing is not enough; we must apply!

John Wesley: Do all the good you can, by all the means you can, in all the ways you can, in all the places you can, at all the times you can, to all the people you can, as long as ever you can.

Kahlil Gibran: A little knowledge that acts is worth infinitely more than much knowledge that is idle.

Laurence J. Peter: There are two kinds of failures: those who thought and never did, and those who did and never thought.

Leo Tolstoy: Everyone thinks of changing the world, but no one thinks of changing himself.

Lin Yutang: Besides the noble art of getting things done, there is the noble art of leaving things undone. The wisdom of life consists in the elimination of non-essentials.

Lloyd Jones: Those who try to do something and fail are infinitely better than those who try nothing and succeed.

Mark Twain: There are basically two types of people. People who accomplish things, and people who claim to have accomplished things. The first group is less crowded.

Moliere: It is not only for what we do that we are held responsible, but also for what we do not do.

Noam Chomsky: The most effective way to restrict democracy is to transfer decision-making from the public arena to unaccountable institutions: kings and princes, priestly castes, military juntas, party dictatorships, or modern corporations.

Pearl S. Buck: The young do not know enough to be prudent, and therefore they attempt the impossible — and achieve it, generation after generation.

Ralph Waldo Emerson: Good thoughts are no better than good dreams, unless they be executed.

Robert Frost: The world is filled with willing people; some willing to work, the rest willing to let them.

Thomas Alva Edison: Being busy does not always mean real work. The object of all work is production or accomplishment and to either of these ends there must be forethought, system, planning, intelligence, and honest purpose, as well as perspiration. Seeming to do is not doing.

 

 

Dermawan Wibisono

The Willingness to Change
 
 
 When I was young & free
  and my imagination had no limits
  I dreamed of changing the WORLD
  
  As I grew older & wiser,
  I discovered the world would not chane,
  so I shortened my sights somewhat
  and decided to change only MY COUNTRY
  
  But it seemed immovable.
  
  As I grew into my twilight years,
  in one las desperate attempt,
  I settled for changing only MY FAMILY,
  those closest to me, but alas,
  they would have none of it.
  
  And now as I lay on my deathbed
  I suddently realised:
  ......................
  "If I had only changed MYSELF first,
  then by example I might have changed MY FAMILY.
  From their inspoiration and encouragement,
  I would then have been able to better MY COUNTRY,
  and who knows, I may have even change THE WORLD".
  ..............................................
  (From house of ideas, 1997)

Apa arti sebuah nama

Ada yang iseng dan kretif mengirim email ini sekian tahun yang lalu. Rileks buat refreshing:

——————————————

Dibalik nama-nama pria Jawa sesungguhnya terungkap harapan tertentu dari orang tuanya, agar si anak kelak menjadi seperti yang diharapkan.

Contoh:

Agar anak pandai menanam bunga, diberi nama Rosman.
Agar anak pandai memperbaiki mobil, diberi nama Karman.
Agar pandai main golf, Parman.
Agar pandai dalam korespondensi, Suratman.
Agar gagah perkasa, Suparman.
Agar kuat dalam berjalan, Wakiman.
Agar berani bertanya, Asman.
Agar ahli membuat kue, Paiman.
Agar pandai berdagang, Saliman.
Agar pandai melukis, Saniman.
Agar jadi orang kaya, Sugiman,
Agar pandai cari muka nantinya, Yasman.
Agar suka begituan, Pakman.
Agar suka makan toge goreng, Togiman.
Agar selalu ketagihan, Tuman.
Agar suka telanjang, Nudiman.
Agar selalu sibuk terus, Bisiman.
Biar pinter main game, Giman.
Biar bisa sering cuti, Sutiman.
Biar bisa jadi juragan sate, Satiman.
Biar bisa jadi juragan trasi, Tarsiman.
Biar pinter memecahkan problem, Sukarman.
Biar kalau ujian ndak usah mengulang, Herman.
Biar pinter bikin jus, Yusman.
Biar jadi orang berwibawa, Jaiman.
Biar jadi pemain musik, Basman.
Biar awet muda, Boiman.
Biar pinter berperang, Warman.
Biar jadi orang Bali, Nyoman.
Biar jadi orang Sunda, Maman.
Biar lincah seperti monyet, Hanoman.
Biar jadi orang Belanda, Kuman.
Biar tetep tinggal di Yogya, Sleman.
Biar jadi tukang sepatu handal, Soleman.
Biar tetep bisa jalan walau ndak pake mesin, Delman.

MIT vs Harvard

Di depan MIT, Cambridge

Di depan MIT, Cambridge

 

Di dalam ruang kelas MIT, Cambridge

Di dalam ruang kelas MIT, Cambridge

John Harvard,Pendiri University of Harvard,Cambridge, USA

John Harvard,Pendiri University of Harvard,Cambridge, USA

KOmpleks Kampus Harvard University

KOmpleks Kampus Harvard University

Tulisan Sebelumnya »